- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#83
SAYEMBARA
Spoiler for :
Suatu ketika,di suatu kerajaan. Hiduplah seorang pemalas yang namanya tak dikenal. Sehari-hari yang dilakukannya hanya tidur-tiduran di atas tumpukan rumput kering dekat kandang kudanya. Tak terkecuali hari itu, isang ketika iring-iringan orang-orang berkuda lewat di hadapannya. Di belakang kuda-kuda itu berbaris para prajurit bertombak yang sudah tidak kelihatan gagah perkasa lagi. Pakaian mereka robek-robek, tubuh penuh pembalut dan beberapa ada yang meringis kesakitan.
Pemalas itu membuka matanya. Ini menarik, pikirnya dalam hati. Semakin menarik lagi ketika seorang prajurit berwajah biru lebam-lebam turun dari pelana dan mendekatinya.
“Kisanak, siapa namamu.”
“Jaka Turangga.”
Jaka berarti pemuda danturangga berarti kuda, nama julukan yang sesuai dengan pekerjaannya sebagai penjual kuda.
“Aku mau beli kudamu.”
“Yang warnanya coklat itu 100 keping emas, yang hitam itu agak mahal sedikit 100 keping emas dan 50 keping perak.”
“Aku mau yang paling cepat.”
“Kalau begitu Tuan beli saja yang putih. Ambil saja sendiri di kandang, aku malas melakukannya.”
“Selain cepat, apakah kuda itu juga mudah dikendalikan?”
“Untuk prajurit kotaraja seperti Tuan, tentu sangat mudah dikendalikan.”
“Tetapi yang akan menaiki kuda itu bukan seorang prajurit.”
Saat itulah dari belakang iring-iringan seseorang turun dari balik sebuah tandu dan mendekati prajurit setengah tua yang berkumis itu. Jaka Turangga terbelalak ketika matanya melihat ternyata yang turun dari tandu itu bukan orang, tetapi bidadari
“Paman Truna!”
“Tuan Putri, mengapa turun kemari?”
“Aku tidak setuju, kalau kalian semua mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan satu orang sepertiku.”
“Itu tugas kami, Tuan Putri.”
“Memangnya ada apa?”
Tanya Jaka Turangga dengan mata yang masih setengah terpejam.
“Ketika melintasi alas (hutan) Randu wetan, rombongan kami disergap oleh orang sakti.”
Jaka Turangga memandang sekali lagi orang-orang yang terluka itu dengan seksama.
“Berapa puluh orang?”
“Satu, namanya Sabrang Geni.”
Jawab Putri berwajah bidadari itu. Sepasukan prajurit dikalahkan oleh satu orang, tentu orang itu bukan pendekar sembarangan.
“Celakanya lagi dia mengejar kemari. Tetapi untunglah orang itu berjalan kaki. Kalau berkuda mungkin kami semua akan mati hari ini.”
Sambung senopati bernama Truna itu.
“Meliat besarnya rombongan, tentu tidak sulit melacak rombongan Tuan Putri sampai ke tempat ini.”
“Oh ya Kisanak.”
“Jaka.”
“Jaka, apa nama desa ini?”
“Waru Putih.”
“Waru putih? Sepertinya aku pernah dengar. Bukankah di lereng gunung di belakang desa ini terdapat air terjun yang biasa digunakan para pendekar untuk berlatih ilmu kanuragan.”
“Benar.”
“Apakah sekarang Pendekar-pendekar itu masih ada?”
“Banyak.”
“Baik kalau begitu. Paman Truna, batalkan niatmu membeli kuda. Kita tidak perlu lari seperti pengecut.”
“Apa rencana Tuan Putri.”
“Kisanak, sampaikan ke orang-orang di desamu, siapa yang sanggup mengalahkan Sabrang Geni akan aku beri hadiah emas dan permata sejumlah 13 peti.”
“Aku masih ngantuk. Bahaya, bisa kecelakaan kalau naik kuda keliling desa.”
“Kalau aku beri stau kantong emas, apa amsih malas juga?”
“Tentu tidak.”
Kata Jaka Turangga sambil menaiki kudanya dan berkeliling ke penjuru desa lalu kembali lagi.
“Kalau hadiahnya hanya harta benda mereka tidak mau?”
“Lalu apa yang mereka inginkan.”
“Tuan Putri.”
Putri itu terdiam, siapapun yang menikahinya pasti akan menjadi keluarga kerajaan. Dengan begitu mereka akan mendapat kekayaan dan kedudukan yang jauh lebih besar daripada hanya sekedar 13 peti emas. Putri itu terdiam sejenak lalu berkata
“Baiklah, umumkan sekali lagi. Para peserta sayembara yang sanggup mengalahkan Sabrang Geni akan menikah denganku.”
“Tetapi Tuan Putri!”
Pamannya protes, tetapi putri itu tak mau diprotes.
“Hanya ini yang bisa kulakukan untuk negeri ini, tidak sebanding dengan Paman dan prajurit lain yang mengorbankan nyawanya.”
“Tapi Tuan Putri.”
“Jaka, jangan dengarkan pamanku ini, cepat bawa kudamu dan sampaikan ke orang-orang di lereng gunung itu.”
Kata Putri sambil melemparkan sekantong penuh uang emas kepada Jaka Turangga. Tak lama kemudian para pendekar sudah berkumpul di tapal batas desa, berkerumun untuk menghadang tokoh hitam bernama Ki Sabrang Geni yang sebentar lagi akan datang.
Benar saja sore harinya tokoh sakti bertubuh tinggi besar itu trelihat berjalan mendekati gapura sambil menyantap ular sanca bakar. Ketika menyadari banyak orang menghadangnya ia berhenti smabil berkacak pinggang dan mmebuka mulut lebar-lebar sambil tertawa.
“Hahaha. ramai sekali.”
“Sabrang Geni! Nyalimu besar juga.”
“Beda dengan nyali kalian yang kecil. Melawan satu orang saja butuh sebanyak ini? Memalukan.”
“Kau salah. Sore ini kami akan berperang tanding denganmu satu lawan satu.”
“Oh ya? Hahaha”
“Bersiaplah. Aku yang akan maju lebih dulu.”
“Biasanya dalam cerita-cerita yang aku baca, yang maju duluan pasti kalah.”
“Ayo lawan aku!”
Kata pemuda tampan yang membawa pedang tipis di tangan kanannya.
“Siapa namamu Kisanak?”
“Bayu, julukanku Pedang Kilat.”
“Ilmu pedang cepat? Membosankan.”
“Kau gila, tak ada seorangpun yang mampu menghindar dari ujung pedang kilatku ini. Sekali terhunus lawan langsung mati.”
“Itu kan orang lain, aku tentu berbeda.”
“Apa bedanya?”
“Aku punya ilmu untuk mengalahkan pedang cepatmu.”
“Ilmu apa?”
“Pedang lambat Hahaha.”
“Daripada membicarakan hal yang aneh-aneh, lebih baik kau mati saja Sabrang geni!”
Kata anak muda itu sambil menusukkan pedang tipisnya.Sabrang geni tidak menghindar, ujung senjata lawannya menyentuh perut tetapi tidak tembus. Pedang tipis itu melengkung lalu patah. Bayu Si Pedang Kilat kaget luar biasa. Lebih kaget lagi ketika Sabrang geni mengeluarkan pedangnya yang sangat besar dan menyerangnya.
“Argh” Pedang kilat mati seketika.
“Ayo siapa lagi?”
Sebagian besar pendekar yang menghadang lari. Sisanya mencoba keberuntungan dengan tetap maju melawan orang sakti berilmu kebal itu. Tidak lagi satu lawan satu tapi keroyokan 30 lawan satu. Di pinggir arena, Tuan Putri berbincang-bincang dengan Jaka Turangga yang terlalu malas untuk ikut serta dalam sayembara itu.
“Apakah yang digunakannya itu ilmu kebal?”
“Ya, olah pernafasan Sabrang Geni sudah mendekati kesempurnaan, dia bisa menggunakan ilmu pernafasan tenaga dalamnya untuk mengeraskan kulit dan membelokkan getaran dari tenaga serangan lawan menyebar ke permukaan seperti jala yang mampu menahan bola. Akibatnya senjata apapun akan kehilangan kekuatan dan tak mampu menembusnya.”
“Oh jadi begitu.”
“Ya. Bagaimana dengan kau sendiri? apa pernah belajar ilmu kanuragan?”
“Tentu saja tidak, aku malas melakukannya.”
“Gawat.”
Kata Putri yang menyadari betapa gentingnya keadaan.
“Tetapi kalau hanya sekedar mengalahkan Sabrang geni, aku bisa.”
Kata Jaka yang kemudian meraba lehernya lalu mengambil satu buah sawo yang menggantung di ranting pohon. Saat itu di arena semua lawan Sabrang Geni sudah mati semua. Monster itu itu kembali berkacak pinggang dan tertawa lebar-lebar.
“Hahaha ugh...uhuk...uhuk.”
Katanya sambil memegangi leher yang kesakitan tak mampu bernafas. Rupanya, ketika ia membuka mulut lebar-lebar untuk mengeluarkan suara tawanya yang menggelegar itu, Jaka Turangga melemparkan buah sawo . Lemparan itu kena telak, buah sawo meluncur masuk ke mulut lalu menyangkut di kerongkongan Sabrang geni dan menghalangi udara yang masuk ke tenggorokannya.
“Kau..kkkkkrkkkk...setan alas...”
Sabrang geni roboh mati tercekik. Selain itu ilmu kebalnya yang bertumpu pada olah pernafasan juga tak lagi mampu digunakan.
“Kau akan menepati janjimu Tuan Putri.”
Tentu.”
Kata Putri sambil menaiki kudanya.
“Paman Truna ayo jalan.”
“Tetapi, apa Tuan Putri tidak sebaiknya membicarakan rencana pernikahan ini terlebih dahulu dengan Jaka Turangga.”
“Pernikahan? Pernikahan apa Paman?”
“Bukannya Putri sendiri yang bilang akan menikahi peserta sayembara yang sanggup mengalahkan Sabrang geni?”
“Jaka Turangga kan bukan peserta sayembara, selain itu aku juga malas kalau disuruh menikahinya.”
Pemalas itu membuka matanya. Ini menarik, pikirnya dalam hati. Semakin menarik lagi ketika seorang prajurit berwajah biru lebam-lebam turun dari pelana dan mendekatinya.
“Kisanak, siapa namamu.”
“Jaka Turangga.”
Jaka berarti pemuda danturangga berarti kuda, nama julukan yang sesuai dengan pekerjaannya sebagai penjual kuda.
“Aku mau beli kudamu.”
“Yang warnanya coklat itu 100 keping emas, yang hitam itu agak mahal sedikit 100 keping emas dan 50 keping perak.”
“Aku mau yang paling cepat.”
“Kalau begitu Tuan beli saja yang putih. Ambil saja sendiri di kandang, aku malas melakukannya.”
“Selain cepat, apakah kuda itu juga mudah dikendalikan?”
“Untuk prajurit kotaraja seperti Tuan, tentu sangat mudah dikendalikan.”
“Tetapi yang akan menaiki kuda itu bukan seorang prajurit.”
Saat itulah dari belakang iring-iringan seseorang turun dari balik sebuah tandu dan mendekati prajurit setengah tua yang berkumis itu. Jaka Turangga terbelalak ketika matanya melihat ternyata yang turun dari tandu itu bukan orang, tetapi bidadari
“Paman Truna!”
“Tuan Putri, mengapa turun kemari?”
“Aku tidak setuju, kalau kalian semua mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan satu orang sepertiku.”
“Itu tugas kami, Tuan Putri.”
“Memangnya ada apa?”
Tanya Jaka Turangga dengan mata yang masih setengah terpejam.
“Ketika melintasi alas (hutan) Randu wetan, rombongan kami disergap oleh orang sakti.”
Jaka Turangga memandang sekali lagi orang-orang yang terluka itu dengan seksama.
“Berapa puluh orang?”
“Satu, namanya Sabrang Geni.”
Jawab Putri berwajah bidadari itu. Sepasukan prajurit dikalahkan oleh satu orang, tentu orang itu bukan pendekar sembarangan.
“Celakanya lagi dia mengejar kemari. Tetapi untunglah orang itu berjalan kaki. Kalau berkuda mungkin kami semua akan mati hari ini.”
Sambung senopati bernama Truna itu.
“Meliat besarnya rombongan, tentu tidak sulit melacak rombongan Tuan Putri sampai ke tempat ini.”
“Oh ya Kisanak.”
“Jaka.”
“Jaka, apa nama desa ini?”
“Waru Putih.”
“Waru putih? Sepertinya aku pernah dengar. Bukankah di lereng gunung di belakang desa ini terdapat air terjun yang biasa digunakan para pendekar untuk berlatih ilmu kanuragan.”
“Benar.”
“Apakah sekarang Pendekar-pendekar itu masih ada?”
“Banyak.”
“Baik kalau begitu. Paman Truna, batalkan niatmu membeli kuda. Kita tidak perlu lari seperti pengecut.”
“Apa rencana Tuan Putri.”
“Kisanak, sampaikan ke orang-orang di desamu, siapa yang sanggup mengalahkan Sabrang Geni akan aku beri hadiah emas dan permata sejumlah 13 peti.”
“Aku masih ngantuk. Bahaya, bisa kecelakaan kalau naik kuda keliling desa.”
“Kalau aku beri stau kantong emas, apa amsih malas juga?”
“Tentu tidak.”
Kata Jaka Turangga sambil menaiki kudanya dan berkeliling ke penjuru desa lalu kembali lagi.
“Kalau hadiahnya hanya harta benda mereka tidak mau?”
“Lalu apa yang mereka inginkan.”
“Tuan Putri.”
Putri itu terdiam, siapapun yang menikahinya pasti akan menjadi keluarga kerajaan. Dengan begitu mereka akan mendapat kekayaan dan kedudukan yang jauh lebih besar daripada hanya sekedar 13 peti emas. Putri itu terdiam sejenak lalu berkata
“Baiklah, umumkan sekali lagi. Para peserta sayembara yang sanggup mengalahkan Sabrang Geni akan menikah denganku.”
“Tetapi Tuan Putri!”
Pamannya protes, tetapi putri itu tak mau diprotes.
“Hanya ini yang bisa kulakukan untuk negeri ini, tidak sebanding dengan Paman dan prajurit lain yang mengorbankan nyawanya.”
“Tapi Tuan Putri.”
“Jaka, jangan dengarkan pamanku ini, cepat bawa kudamu dan sampaikan ke orang-orang di lereng gunung itu.”
Kata Putri sambil melemparkan sekantong penuh uang emas kepada Jaka Turangga. Tak lama kemudian para pendekar sudah berkumpul di tapal batas desa, berkerumun untuk menghadang tokoh hitam bernama Ki Sabrang Geni yang sebentar lagi akan datang.
Benar saja sore harinya tokoh sakti bertubuh tinggi besar itu trelihat berjalan mendekati gapura sambil menyantap ular sanca bakar. Ketika menyadari banyak orang menghadangnya ia berhenti smabil berkacak pinggang dan mmebuka mulut lebar-lebar sambil tertawa.
“Hahaha. ramai sekali.”
“Sabrang Geni! Nyalimu besar juga.”
“Beda dengan nyali kalian yang kecil. Melawan satu orang saja butuh sebanyak ini? Memalukan.”
“Kau salah. Sore ini kami akan berperang tanding denganmu satu lawan satu.”
“Oh ya? Hahaha”
“Bersiaplah. Aku yang akan maju lebih dulu.”
“Biasanya dalam cerita-cerita yang aku baca, yang maju duluan pasti kalah.”
“Ayo lawan aku!”
Kata pemuda tampan yang membawa pedang tipis di tangan kanannya.
“Siapa namamu Kisanak?”
“Bayu, julukanku Pedang Kilat.”
“Ilmu pedang cepat? Membosankan.”
“Kau gila, tak ada seorangpun yang mampu menghindar dari ujung pedang kilatku ini. Sekali terhunus lawan langsung mati.”
“Itu kan orang lain, aku tentu berbeda.”
“Apa bedanya?”
“Aku punya ilmu untuk mengalahkan pedang cepatmu.”
“Ilmu apa?”
“Pedang lambat Hahaha.”
“Daripada membicarakan hal yang aneh-aneh, lebih baik kau mati saja Sabrang geni!”
Kata anak muda itu sambil menusukkan pedang tipisnya.Sabrang geni tidak menghindar, ujung senjata lawannya menyentuh perut tetapi tidak tembus. Pedang tipis itu melengkung lalu patah. Bayu Si Pedang Kilat kaget luar biasa. Lebih kaget lagi ketika Sabrang geni mengeluarkan pedangnya yang sangat besar dan menyerangnya.
“Argh” Pedang kilat mati seketika.
“Ayo siapa lagi?”
Sebagian besar pendekar yang menghadang lari. Sisanya mencoba keberuntungan dengan tetap maju melawan orang sakti berilmu kebal itu. Tidak lagi satu lawan satu tapi keroyokan 30 lawan satu. Di pinggir arena, Tuan Putri berbincang-bincang dengan Jaka Turangga yang terlalu malas untuk ikut serta dalam sayembara itu.
“Apakah yang digunakannya itu ilmu kebal?”
“Ya, olah pernafasan Sabrang Geni sudah mendekati kesempurnaan, dia bisa menggunakan ilmu pernafasan tenaga dalamnya untuk mengeraskan kulit dan membelokkan getaran dari tenaga serangan lawan menyebar ke permukaan seperti jala yang mampu menahan bola. Akibatnya senjata apapun akan kehilangan kekuatan dan tak mampu menembusnya.”
“Oh jadi begitu.”
“Ya. Bagaimana dengan kau sendiri? apa pernah belajar ilmu kanuragan?”
“Tentu saja tidak, aku malas melakukannya.”
“Gawat.”
Kata Putri yang menyadari betapa gentingnya keadaan.
“Tetapi kalau hanya sekedar mengalahkan Sabrang geni, aku bisa.”
Kata Jaka yang kemudian meraba lehernya lalu mengambil satu buah sawo yang menggantung di ranting pohon. Saat itu di arena semua lawan Sabrang Geni sudah mati semua. Monster itu itu kembali berkacak pinggang dan tertawa lebar-lebar.
“Hahaha ugh...uhuk...uhuk.”
Katanya sambil memegangi leher yang kesakitan tak mampu bernafas. Rupanya, ketika ia membuka mulut lebar-lebar untuk mengeluarkan suara tawanya yang menggelegar itu, Jaka Turangga melemparkan buah sawo . Lemparan itu kena telak, buah sawo meluncur masuk ke mulut lalu menyangkut di kerongkongan Sabrang geni dan menghalangi udara yang masuk ke tenggorokannya.
“Kau..kkkkkrkkkk...setan alas...”
Sabrang geni roboh mati tercekik. Selain itu ilmu kebalnya yang bertumpu pada olah pernafasan juga tak lagi mampu digunakan.
“Kau akan menepati janjimu Tuan Putri.”
Tentu.”
Kata Putri sambil menaiki kudanya.
“Paman Truna ayo jalan.”
“Tetapi, apa Tuan Putri tidak sebaiknya membicarakan rencana pernikahan ini terlebih dahulu dengan Jaka Turangga.”
“Pernikahan? Pernikahan apa Paman?”
“Bukannya Putri sendiri yang bilang akan menikahi peserta sayembara yang sanggup mengalahkan Sabrang geni?”
“Jaka Turangga kan bukan peserta sayembara, selain itu aku juga malas kalau disuruh menikahinya.”
THE END
Diubah oleh reloaded0101 18-06-2014 04:48
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas