- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191.1K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#77
THE FASTEST
Spoiler for :
Musik techno dan hip metal berdentum keras dari bagasi-bagasi belakang yang dibuka. Wanita-wanita muda berpenampilan seksi tampak lalu lalang di antara mobil-mobil balap modifikasi yang diparkir di tempat terbuka itu. Sedangkan kaum prianya sibuk dengan laptop dan mesinnya masing-masing.
Sebuah mobil berwarna biru diketuk kacanya dari luar. Steel yang duduk di kursi pengemudi sebelah kiri menurunkan kacanya.
“Steel ada yang nyariin tuh.”
“Siapa?”
“Nggaktahu tapi penampilannya alay banget.”
Sambil meraba-raba kepalanya yang gundul, pria tinggi besar ini keluar juga dari kendaraannya. Ia mengikuti temannya yang memakai setelan jaket kulit itu. Setelah berjalan beberapa puluh langkah mereka berhenti di depan sebuah kontainer kosong.
“Oh jadi lo pacarnya Risa?”
Tanya seorang anak muda berponi miring yang berdiri dengan sebelah kaki dinaikkan ke atas tong sampah.
“Gue tunangannya.”
Jawab Steel dengan santai. Anak muda dihadapannya menurunkan sebelah kakinya lalu maju dengan langkah mantap sambil menyibakkan poni miringnya ke belakang.
“Mantan tunangan. Kenalin nih gue Jukri, cowoknya Risa yang baru.”
“Maksud lo apa sih? Setahuku Risa nggak punya kenalan namanya Jukri, jadi jangan ngaku-ngaku sembarangan”
“Sudah jelas kan. Kalau lo menang dan itu mustahil, lo boleh kimpoi-kimpoiin Risa semau lo. Tapi kalau gue yang menang, Risa jadi milik gue.”
“Oh nantang racing? Bilang dong dari tadi. Ngomong-ngomong Mobil lo yang mana?”
“Gue ngasih kesempatan lo berlatih satu minggu. Tujuh hari lagi temui gue di sini, kita buktikan siapa yang tercepat.”
Jukri membalikkan badan dengan penuh percaya dari dan meninggalkan Steel yang masih terbengong-bengong dalam kebingungan. Steel adalah pembalap jalanan terbaik di pulau Jawa. Gelar nomor satu masih tersandang erat di namanya dan sepanjang karirnya belum pernah ada yang berhasil mengalahkan pria gundul ini. Tiba-tiba saja ada orang tak dikenal di lingkungan street racer yang menantangnya balapan dengan tunangannya sebagai taruhan?
Tujuh pagi kemudian, Jukri bangun tidur dengan semangat membara. Seperti biasa, sebelum mulai beraktivitas ia memandangi sejenak foto Risa yang diguntingnya dari majalah. Ketika keluar ke halaman rumah, Jono, seorang temannya menghadang.
“Juk, pikir pakai logika. Nantang Steel balapan? Yang benar saja. Mana mungkin bisa menang?”
“Lo sih pakainya logika. Logika itu produk otak kiri, kalau gue pakainya otak kanan. Asal bertekad kuat,percaya diri,optimis pasti menang dalam kondisi apapun. Tidak ada yang tidak mungkin.Nggak perlu itu rasio-rasio yang cuma jadi penghambat.”
“Tapi Juk, Steel itu pembalap profesional,juara lagi. Sedangkan lo siapa?”
“Gue orang optimis sedangkan lo pesimis, sudahlah Jon jangan ikut campur.”
“Tapi Juk...Jukri. Mau ke mana?”
“Beli nitro.”
Jukri menyusuri aspal dengan berjalan kaki. Para tetangga yang sudah mengetahui taruhan lewat balapan itu hampir semuanya memandang ke arah Jukri, meksipun hanya dengan sebelah mata.
“Juk, sebaiknya lo pertimbangkan kembali deh. Lo nggak mungkin menang lawan Steel.”
Kata pemilik bengkel tempat Jukri gambil pesanan nitro.
'Huh, dasar orang-orang pesimis yang kecanduan zona nyaman. Bagaimana bisa maju kalau terus-terusan pakai akal sehat? Sekali-sekali percaya diri dong jangan kebanyakan mikir dan pertimbangan. Langsung [i]action dong kayak gue.”
Katanya sambil menepuk dada mantap tanpa keraguan.
“Terserah lo aja deh Juk.”
Kata orang itu akhirnya.
“Ya memang terserah gue, inikan hidup gue”
Kata Jukri sambil berbalik meninggalkan bengkel itu. Ia kembali ke rumahnya lalu memasuki halaman samping dan melakuakn persiapan menjelang balapan termasuk memasang 2 buah nos itu di kendaraannya. Setelah malam tiba, Jukri mengeluarkan becak terbengkalai warisan ayahnya dan mengayuh kendaraan tanpa mesin itu menuju tempat balapan street car. Malam ini hanya ada dua kemungkinan, seri atau dirinya yang menang. Bagi orang optimis, kalah itu suatu hal yang mustahil. Demikian teriak Jukri dalam hati.
Sebuah mobil berwarna biru diketuk kacanya dari luar. Steel yang duduk di kursi pengemudi sebelah kiri menurunkan kacanya.
“Steel ada yang nyariin tuh.”
“Siapa?”
“Nggaktahu tapi penampilannya alay banget.”
Sambil meraba-raba kepalanya yang gundul, pria tinggi besar ini keluar juga dari kendaraannya. Ia mengikuti temannya yang memakai setelan jaket kulit itu. Setelah berjalan beberapa puluh langkah mereka berhenti di depan sebuah kontainer kosong.
“Oh jadi lo pacarnya Risa?”
Tanya seorang anak muda berponi miring yang berdiri dengan sebelah kaki dinaikkan ke atas tong sampah.
“Gue tunangannya.”
Jawab Steel dengan santai. Anak muda dihadapannya menurunkan sebelah kakinya lalu maju dengan langkah mantap sambil menyibakkan poni miringnya ke belakang.
“Mantan tunangan. Kenalin nih gue Jukri, cowoknya Risa yang baru.”
“Maksud lo apa sih? Setahuku Risa nggak punya kenalan namanya Jukri, jadi jangan ngaku-ngaku sembarangan”
“Sudah jelas kan. Kalau lo menang dan itu mustahil, lo boleh kimpoi-kimpoiin Risa semau lo. Tapi kalau gue yang menang, Risa jadi milik gue.”
“Oh nantang racing? Bilang dong dari tadi. Ngomong-ngomong Mobil lo yang mana?”
“Gue ngasih kesempatan lo berlatih satu minggu. Tujuh hari lagi temui gue di sini, kita buktikan siapa yang tercepat.”
Jukri membalikkan badan dengan penuh percaya dari dan meninggalkan Steel yang masih terbengong-bengong dalam kebingungan. Steel adalah pembalap jalanan terbaik di pulau Jawa. Gelar nomor satu masih tersandang erat di namanya dan sepanjang karirnya belum pernah ada yang berhasil mengalahkan pria gundul ini. Tiba-tiba saja ada orang tak dikenal di lingkungan street racer yang menantangnya balapan dengan tunangannya sebagai taruhan?
Tujuh pagi kemudian, Jukri bangun tidur dengan semangat membara. Seperti biasa, sebelum mulai beraktivitas ia memandangi sejenak foto Risa yang diguntingnya dari majalah. Ketika keluar ke halaman rumah, Jono, seorang temannya menghadang.
“Juk, pikir pakai logika. Nantang Steel balapan? Yang benar saja. Mana mungkin bisa menang?”
“Lo sih pakainya logika. Logika itu produk otak kiri, kalau gue pakainya otak kanan. Asal bertekad kuat,percaya diri,optimis pasti menang dalam kondisi apapun. Tidak ada yang tidak mungkin.Nggak perlu itu rasio-rasio yang cuma jadi penghambat.”
“Tapi Juk, Steel itu pembalap profesional,juara lagi. Sedangkan lo siapa?”
“Gue orang optimis sedangkan lo pesimis, sudahlah Jon jangan ikut campur.”
“Tapi Juk...Jukri. Mau ke mana?”
“Beli nitro.”
Jukri menyusuri aspal dengan berjalan kaki. Para tetangga yang sudah mengetahui taruhan lewat balapan itu hampir semuanya memandang ke arah Jukri, meksipun hanya dengan sebelah mata.
“Juk, sebaiknya lo pertimbangkan kembali deh. Lo nggak mungkin menang lawan Steel.”
Kata pemilik bengkel tempat Jukri gambil pesanan nitro.
'Huh, dasar orang-orang pesimis yang kecanduan zona nyaman. Bagaimana bisa maju kalau terus-terusan pakai akal sehat? Sekali-sekali percaya diri dong jangan kebanyakan mikir dan pertimbangan. Langsung [i]action dong kayak gue.”
Katanya sambil menepuk dada mantap tanpa keraguan.
“Terserah lo aja deh Juk.”
Kata orang itu akhirnya.
“Ya memang terserah gue, inikan hidup gue”
Kata Jukri sambil berbalik meninggalkan bengkel itu. Ia kembali ke rumahnya lalu memasuki halaman samping dan melakuakn persiapan menjelang balapan termasuk memasang 2 buah nos itu di kendaraannya. Setelah malam tiba, Jukri mengeluarkan becak terbengkalai warisan ayahnya dan mengayuh kendaraan tanpa mesin itu menuju tempat balapan street car. Malam ini hanya ada dua kemungkinan, seri atau dirinya yang menang. Bagi orang optimis, kalah itu suatu hal yang mustahil. Demikian teriak Jukri dalam hati.
THE END
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas