- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#33
Spoiler for PART XI.a:
TANDA
3 bulan berlalu, semenjak insiden Giesta di usir dari kantornya Gray, kemudian disusul dengan
keluarnya Augray dan Sabu dari kantor tersebut. Suasana sudah tenang. Mereka pun sering
bertemu berempat. Suasananya sudah lebih akrab dari yang sudah-sudah. Mereka sudah merasa
memiliki keluarga baru. Usahanya Sabu pun semakin ramai dikunjungi pelanggan. Tempat
makan yang dia bangun sudah banyak perbaikan. Mulai dari meja, bangku, dan piring. Augray
pun senantiasa membantu Sabu dalam menjalankan usahanya itu, tidak jarang juga Shaulia dan
Giesta datang untuk membantu.
Sabu dan Giesta sudah semakin akrab. Sabu sudah mulai membuka perasaannya untuk Giesta.
Akan tetapi dia tidak mau menjalani hubungan yang namanya pacaran dengan Giesta. Meskipun
dia sayang Giesta, dia tahan perasaannya itu. Tidak terlalu di umbar meskipun kini Giesta
menyadari bahwa Sabu sudah berubah, lebih baik terhadap dirinya. Begitu juga dengan Augray
dan Shaulia, mereka pun menyadari perubahan Sabu. Sabu berpikir bahwa dia akan melamar
Giesta dan menuntunnya kemudian agar dia mengenakan hijab seperti Shaulia. Bukan hal yang
sulit baginya. Ah Shaulia, kenapa saya harus selalu membandingkan Giesta dengan Shaulia
meskipun saya sudah menyayangi Giesta. Pikir Sabu. Akan tetapi dibuangnya pikiran itu jauh-
jauh. Dia harus fokus ke arah Giesta. Bingung, itulah yang dia dapatkan dari perasannya. Sabu
sebenarnya memang menyukai Giesta dan menyayanginya. Akan tetapi dia tidak yakin, apakah
ini rasa sayang cinta ataukah rasa sayang berlandaskan kasihan karena masa lalu Giesta dan
semua yang telah Giesta perbuat untuknya. Dia terlalu pusing untuk memikirkan cinta. Terlalu
rumit. Dia masih tidak bisa membedakan mana sayang dan kasihan.
Shaulia dan Augray pun sebenarnya sudah semakin dekat. Augray pun sudah
sempat "menembak" Shaulia, akan tetapi di tolak. Shaulia merasa tidak siap. Bukan tidak sayang
dengan Augray, dia hanya tidak siap. Sedangkan Augray menjadi bingung, di saat dia ingin
mematangkan perasaannya terhadap Shaulia, Shaulia malah menolaknya. Ada apa sebenarnya?
Kenapa dia menghindar? Tanya Augray dalam hati.
Shauila dan Augray masih akrab semenjak Augray mengajak Shaulia untuk memiliki hubungan
yang lebih lengkap, akan tetapi tidak seakrab sebelum Augray menyatakan perasaannya kepada
Shaulia.
Melihat Sabu yang semakin dekat dengan Giesta, Shaulia merasa iri. Diperhatikannya Sabu
sambil bertanya dalam hati, apakah Sabu tahu masa lalu Giesta? Sudah sejauh mana mereka
saling mengenal? Apakah Sabu menerima keadaan Giesta? Itulah yang dia tanyakan. Giesta
sangat beruntung apabila Sabu mengetahui masa lalunya dan masih mau menerimanya.
Begitu juga dengan Augray, semakin akrab dilihatnya Giesta dengan Sabu, semakin panas
dirinya. Kenapa Shaulia tampak begitu mempesona ketika dia sedang bersama Sabu? Kenapa
Shaulia tidak terlihat sebahagia itu ketika sama gue? Kenapa gue gak bisa berhenti memikirkan
Giesta padahal ada Shaulia di samping gue?
***
Giesta tampak kaget dan senang. Dia mendapatkan email dari Ren yang memberitahunya bahwa
dia akan ke Indonesia besok pagi. Segera dia sampaikan kabar tersebut kepada Shaulia. Shaulia
pun turut senang.
"Pasti dia sudah lulus S2nya ya Sha?" Kata Giesta kepada Shaulia. Shaulia tersenyum.
Kenapa Shaulia tersenyum? Ya, Shaulia adalah wanita yang dijual oleh ibu tirinya sendiri.
Shaulia adalah Ace, akan tetapi Shaulia yang sekarang bukan lah Shaulia yang dulu. Dia telah
memutuskan untuk memakai hijab. Dengan hijab ini, dia merasa bahwa dia dapat lebih damai,
lebih dekat dengan Allah SWT. Dia juga ingin menghilangkan imagenya yang dulu sebagai
pramuria. Dia ingin menjadi Shaulia yang baru.
"Mau kita bawakan apa dia untuk menyambutnya di bandara?" Tanya Shaulia kepada
Giesta. "JKT 48?" Tambahnya bercanda sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita memakai baju seperti yang Ren suka pakai? Gayanya saja kita samakan,
kita pakai wig juga!" Kata Giesta semangat. "Nanti kita bawa kertas juga bertuliskan 'Indoneshia
e youkoso, Mr. Ren.' bagaimana?" Tambahnya. Dengan tertawaan, Shaulia pun setuju dengan
susulan Giesta.
Keesokan harinya mereka pun datang ke Bandara Soe-Hat untuk menjemput Ren. Jam 11.30
WIB. Mereka datang tepat waktu. Akan tetapi Ren belum juga muncul. Merasa bosan setelah 15
menit menunggu, akhirnya mereka pun tertunduk sambil mengistirahatkan kepala mereka yang
sedari tadi melihat ke sekililing dalam bandara. Mencari Ren. Setelah mengistirahatkan kepala
mereka sejenak, mereka kembali melihat ke sekililing dan kemudian langsung mendapatkan
sosok Ren dari jauh. Ren jauh sudah lebih terlihat dewasa dan berwibawa.
Pada saat Ren melangkah ke pintu keluar bandara, Shaulia dan Giesta pun berteriak "Indoneshia
e youkoso, Mr. Ren!" sambil menunjukkan poster yang sudah mereka buat. Ren terlihat tampak
bingung, terutama karena mereka mengenakan pakaian laki-laki. Setelah disadarinya bahwa itu
adalah Giesta dan Shaulia, dia pun tertawa.
"Kalian, kawaii!" Kata Ren gemas sambil menepuk kepala Shaulia dan Giesta. "Yuk, ke rumah
kalian." Kata Ren kemudian.
"Mau langsung kerumah? Makan siang dulu saja yuk." Ajak Giesta.
Kemudian mereka pun pergi menuju tempat makannya Sabu. Memang itu tujuan mereka,
mengenalkan Sabu dan Augray kepada Ren. Mereka pasti senang bertemu Ren, pikir Giesta dan
Shaulia.
Pada saat di perjalanan, Ren bertanya kepada Shaulia perihal mengapa dia menggunakan hijab.
Shaulia pun memberikan alasannya, menurut Shaulia, hijab itu bukan hanya kewajiban bagi umat
muslim, ada banyak alasan yang menguntungkan baginya jika dia mengenakan hijab. Ren pun
setuju. Kemudian mereka banyak bercerita mengenai usaha mereka, dan tempat makan yang
akan mereka tuju beserta dua orang pengelolanya. Setelah itu di sambung oleh Ren bercerita
mengenai kuliahnya dan usaha ibunya, Ibu dan ayahnya juga menitipkan salam untuk Shaulia
dan Giesta.
Sesampainya di tempat makan, Shaulia dan Giesta mengenalkan Ren kepada Sabu dan Augray.
Sabu dan Augray tampak senang dengan kedatangan Ren. Mereka pun menjamunya dengan
menu spesial di tempat makan Sabu tersebut. Kemudian mereka berbincang, panjang lebar.
Hingga akhirnya Ren harus pamit karena membawa banyak barang bawaan. Dia, Giesta, dan
Shaulia pun kembali kerumah Giesta. Kedatangan Ren pun membuat Shaulia harus menginap di
tempat Giesta untuk beberapa hari sampai Ren kembali ke Jepang.
***
"Jadi lo tinggal disini buat liburan?" Tanya Augray kepada Ren. Ya, Augray dan Sabu lalu pergi
kerumah Giesta keesokan harinya. Giesta yang meminta mereka untuk datang, untuk mengajak
Ren keliling Jakarta. Giesta ingin mereka mengenal Ren seperi dia dan Shaulia mengenal Ren.
"Iya, disini hanya seminggu. Ada sesuatu yang penting makanya saya ke Indonesia." Jawab Ren.
"Pasti bisnis?" Sambung Sabu. Kemudian Ren tersenyum.
"Bukan. Ini urusan..." Belum selesai Ren menjawab, tiba-tiba Shaulia datang.
"Hey, maaf ya kita lama." Katanya. Kemudian datanglah Giesta yang menyusul tak berapa lama
kemudian.
"Jadi kita mau kemana dulu nih?" Kata Giesta kepada teman-temannya itu.
"Kita ke monas dulu aja gimana?" Jawab Sabu. "Setuju? Biar kamu tau simbol Indonesia dari
dekat Ren." Tambahnya.
"Ok. Boleh, habis itu saya mau belanja di Jakarta, terus saya mau makan makanan khas
Indonesia. Yang mana saja, mau mahal atau murah mau saya coba semua." Kata Ren yang
disambut senyuman dan anggukan oleh semuanya.
Kemudian mereka berangkat sesuai dengan permintaan Ren. Untuk makan sih mereka bisa, tapi
sepertinya kurang bisa apabila ingin ke banyak tempat. Jakarta terlalu macet untuk melakukan
hal itu. Akan tetapi mereka cukup senang, atau bagi Ren sangat senang. Dia merasa bahwa dia
sangat di terima oleh mereka. Pertemanan yang hangat, selalu banyak canda dan tawa. Ya, dia
senang.
Sesampainya kembali di rumah Giesta, Sabu dan Augray tak langsung pulang. Mereka ingin
berbicara terlebih dahulu bersama Ren, sedangkan Giesta dan Shaulia sudah merasa lelah dan
memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sabu dan Augray memang masih penasaran
dengan percakapan mereka tadi siang yang sempat terputus karena kedatangan Shaulia.
"Tadi sempet keputus Ren pas kita lagi ngobrol. Jadi lo kesini ada urusan bisnis atau gimana?
Kalau bisnis bisa lah kita berbagi pengalaman, gue sama Sabu pebisnis juga kan." Kata Augray
kepada Ren.
"Oh, kalian penasaran sama jawaban saya tadi? Saya ke Indonesia ada urusan hati." Jawab Ren
kemudian tertawa ringan. "Biasalah, cinta. Sudah jangan di lanjutkan, saya malu." Tambahnya.
Sabu dan Augray kemudian menepuk pundaknya Ren sambil tersenyum. "Hey, jangan malu.
Cinta memang harus diperjuangkan kok." Kata Sabu. "Jadi, siapa yang kamu mau perjuangkan
itu? Sangat beruntung." Tambahnya.
"Cantik? Tinggal dimana? Gimana personalitynya?" Tambah Augray kemudian. Sabu dan
Augray sangat penasaran. Mereka terkejut, dia memperjuangkan wanita tersebut sampai datang
ke negeri wanita yang dia inginkan. Pasti bukan wanita biasa, pikir mereka.
Ren tersenyum, dia tertunduk lalu tertawa malu. Kemudian di angkatnya lagi kepalanya, masih
tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "You're not gonna believe this, guys. I don't
know how to answer your questions. I am too shy about it. One point..." Kata Ren yang membuat
mereka semakin penasaran.
"Okay, one point. What?" Tanya Augray tidak sabar.
"Kalian kenal dia." Jawab Ren.
"Oh? Ok. Tapi wanita yang memang kita berdua kenal itu hanya Shaulia dan Giesta. Kita tidak
tahu wanita lain." Kata Sabu kebingungan. "Apa mungkin kamu salah orang?" Tambahnya lagi
dengan wajah kebingungan. Augray pun juga tampak bingung.
"Sahabat kalian." Kata Ren. "Di antara mereka berdua yang tadi kalian sebutkan." Lanjutnya.
Oh, tunggu. Augray dan Shaulia meskipun dekat akan tetapi mereka tidak melakukan kontak
fisik sehingga kalau pun mereka saling berbuat baik, mereka terlihat seperti sahabat. Begitu juga
dengan Sabu dan Giesta. Ini lah yang di tangkap oleh Ren mengenai hubungan mereka.
Augray kemudian langsung membalikkan tubuhnya, memandang ke arah langit malam yang
saat itu hanya sedikit bintang yang terlihat. Dia tampak sangat bingung dengan jawaban
Ren. Complicated, this can't be true. Pikirnya.
Sabu hanya bisa menghela nafas, kemudian memandangi Augray yang tak berapa lama
kemudian pandangan tersebut di sambut oleh Augray. Pandangan penuh pertanyaan dan
kebingungan, kemudian mereka pun kembali melihat ke arah Ren.
"Okay, okay. Easy. Kenapa kalian terlihat gelisah ketika saya mengatakan bahwa wanita itu
adalah salah satu sahabat kalian?" Tanyanya. Sabu dan Augray masih terdiam. Kemudian dia
meneruskan pertanyaannya. "Oh, okay. I got it. Wanita yang saya suka sudah punya calon
suami? Atau dia sudah punya kekasih?" Tanyanya lagi.
Augray dan Sabu tidak ingin menyakiti perasaan Ren. Ini masalah hati. Mereka tidak bisa
menyalahkan Ren atas siapa yang dia sukai. Dia memiliki hak untuk menyukai siapa saja. Hanya
saja, kenapa harus di antara mereka berdua? Pikir Sabu dan Augray. Mereka hanya bisa terdiam.
Menenangkan emosi dan pikiran mereka. Mereka bingung atas apa yang harus mereka katakan
kepada Ren.
"Kalian terlihat bingung mengira-ngira siapa ya? Yaudah saya beritahu kalian, dia..." Kata Ren
yang kemudian disela oleh Sabu dengan menjulurkan tangannya yang terbuka ke hadapan Ren.
"Eh, sudah jangan di lanjutkan. Kita lebih baik tidak tahu." Cegah Sabu. Ini adalah cara yang
terbaik menurut Sabu, tidak mengetahui siapa yang disukai olehnya agar dia dan Augray tidak
memiliki gap dengan Ren. Jadi, lebih baik tidak tahu daripada mengetahui. Memang langkah
pengecut, akan tetapi dengan pikiran dan emosi yang tidak stabil seperti ini, ini lah jalan keluar
satu-satunya. Jawaban Ren akan mereka dengarkan lain kali.
"Lebih baik lo sekarang balik kerumah, gue sama Sabu juga. Kita istirahat. Nanti kita bicarakan
lagi hal ini ya." Kata Augray kepada Ren. Sekarang gantian Ren yang merasa bingung, akan
tetapi dia tetap mengikuti saran Augray untuk kembali kerumah dan beristirahat.
***
Keesokan harinya...
"Ta, kamu ke tempat makan aku yuk. Kita makan siang bersama aja disini. Gimana?" Ajak Sabu
kepada Giesta melalui telepon. Dia merasa khawatir dengan kedatangan Ren yang masih belum
diketahuinya siapa kah yang Ren sebenarnya sukai. Sebagai antisipasi, dia pun mengajak Giesta
ke rumah makannya.
"Tapi aku kayaknya nggak bisa deh, Sab. Aku, Shaulia, dan Ren pergi ke Taman Safari. Ini
lagi di jalan. Mau jalan-jalan ke Bogor juga." Jawab Giesta, kemudian dia berhenti sejenak
seperti sedang berpikir. "Hmm, gimana kalau besok saja kalian ikut kita ke Bandung? Aku mau
ke Bandung dan menginap disana. Kan di Bandung suka banyak makanan yang enak, yang di
Jakarta nggak ada." Tambahnya.
Sabu bingung. Jika dia teringat akan Ren, dia pasti akan langsung bertingkah aneh. Akan tetapi
tidak ada jalan lain, dia hanya bisa setuju. "Yaudah, besok berangkat jam berapa? Biar aku sama
Augray siap-siap." Katanya.
"Jam 8, bisa?" Jawab Giesta di telepon. Kemudian Sabu menyanggupi dan menyudahi
pembicaraannya dengan Giesta melalui ponselnya.
Sabu pun langsung pergi ke kamar dan membangunkan Augray yang masih tertidur karena
setelah pergi semalam dia langsung bekerja, ya... DJ thing. Augray pun bangun setelah Sabu
agak meneriakinya untuk bangun.
"Kenapa sih, Sab?" Tanyanya dengan mata yang setengah meram sambil mencoba untuk duduk.
"Besok di ajakin ke Bandung sama Giesta dan Shaulia. Mereka ke Bandung sama Ren besok."
Jawab Sabu. "Kamu dengar saya kan, Gray? Hari ini mereka sudah duluan berangkat ke Taman
Safari." Tambahnya.
Augray langsung segar. Ya, dia terlalu khawatir dengan hubungannya ketimbang memikirkan
kantuknya saat ini. "Lalu?" Tanyanya.
"Lalu yaudah sih. Aku cuma kasih tau aja. Mereka ngapain ya kira-kira pas lagi jalan-jalan gitu.
Saya resah. Seperti akan kehilangan. Membuat saya penuh curiga. Perasaan tidak enak terus
semenjak semalam, Gray." Jawab Sabu. Sabu memang resah dari semalam, tidurnya pun tak
nyenyak.
Augray pun bangun dan melewati Sabu, dia pergi ke dapur sambil mengambil minum dan
berkata, "Kenapa perasaan gue tenang-tenang aja ya, Sab? Lo terlalu banyak mikir nih."
Katanya.
Sabu langsung mengangkat tangannya memberi tanda bahwa dia sendiri pun tidak tahu kenapa
dia bisa seperti itu.
"Yaudah mandi, kita masih harus mengurusi usaha lo kan?" Kata Augray.
Sabu pun bangkit, mengambil handuk, dan mandi. Begitupun dengan Augray setelahnya.
Kemudian mereka pergi ke tempat makan milik Sabu.
***
"Mas, ini tempat makan baru ya?" Tanya seorang ibu yang sudah duduk di meja makan kepada
Sabu. Ibu tersebut terlihat sangat glamor, dengan dandanan yang super nyentrik. Dia datang
bersama dua wanita cantik dengan pakaian yang terbuka, amat seksi. Sabu merasa iba melihat
dua wanita cantik tersebut. Mutiara, emas, berlian, perak, dan perhiasan lainnya saja di
dapatkan dengan cara yang susah. Mereka ditutupi oleh lapisan yang sangat keras, dan mutiara
di temukan di lautan yang dalam. Tapi kenapa dengan wanita? Belakangan ini, memperlihatkan
hal berharga mereka segampang itu? Membuat mereka terkesan murah, seharusnya mahal.
Kasihan. Pikir Sabu dalam hati.
"Iya bu, tempat makan baru." Jawab Sabu. "Ibu sudah siap pesan?" Tanyanya. Kemudian ibu
tersebut memesan beberapa makanan dan minuman. Makanan yang di pesan makanan yang
harganya paling mahal, begitu juga dengan minuman, hidangan pembuka, dan hidangan penutup.
"Jangan lama-lama ya, mas. Sudah lapar sekali nih." Kata Ibu tersebut kepada Sabu dengan nada
centil yang kemudian diikuti dengan tertawa centil dua wanita yang datang bersamanya. Seram.
Itulah yang Sabu rasakan, akan tetapi dia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Kemudian
bergegas pergi dengan cepat.
Hari itu Sabu dan Augray sangat sibuk dengan pelanggan yang datang. Lebih ramai dari hari
kemarin. Sudah satu jam setengah berlalu semenjak Ibu nyentrik yang datang tadi memesan,
kemudian tiba-tiba dia memanggil lagi untuk di layani. Akan tetapi sekarang dia bukan
memanggil Sabu, dia memanggil Augray karena pada saat makan dia melihat Augray berjalan
kesana kemari dengan wajah tampannya yang mempesona. Dia ingin Augray yang melayaninya
pada saat pembayaran makanan.
"Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Augray kepada Ibu tersebut.
Kemudian ibu itu menjawab sambil memegang lengan Augray dengan nada suara yang
centil, "Iya nih ada. Aku mau bill-nya ya, mas. Sama masnya juga boleh?" Tanyanya.
Augray hanya tersenyum. Dia pun merasa seram, kemudian dia hanya menjawab seperlunya
saja. "Boleh bu, sebentar saya ambilkan bill-nya." Dengan rasa takut dia langsung bergegas ke
arah kasir kemudian kembali lagi ke meja ibu tersebut, berharap bahwa Ibu tersebut segera pergi
dari sana.
"Ini bill-nya. Tolong di cek kembali." Kata Augray kepada Ibu tersebut.
"Tidak perlu ganteng. Kita percaya kamu kok. Ya kan?" Kata ibu tersebut sambil ikut mengajak
dua temannya untuk setuju dengan omongan dia. "Kamu sama temanmu yang manis disana..."
Tambahnya sambil menunjuk ke arah Sabu yang sibuk melayani pelanggan, "... datang dong
ke tempat saya bekerja. Nanti kalau kamu mau cicip, saya kasih diskon deh 50%. Bagaimana?"
Katanya sambil mengulurkan kartu nama ke arah Augray.
Augray hanya tersenyum dan mengambil kartu nama tersebut. "Insyaallah." Jawabnya.
Kemudian Ibu tersebut pun pergi setelah berkata, "Besok dan seterusnya kita boleh dong kesini
dan makan disini lagi?" Hih, menyeramkan. Bathin Augray.
Sabu yang sebenarnya tahu bahwa Augray yang melayani Ibu tersebut setelah dia tadi hanya
menyimak Augray dari jauh. Ketika Augray melihat ke arahnya, dia hanya tertawa kecil. Seolah
berkata seram kan? Kemudian mereka pun melanjutkan aktifitas mereka.
***
3 bulan berlalu, semenjak insiden Giesta di usir dari kantornya Gray, kemudian disusul dengan
keluarnya Augray dan Sabu dari kantor tersebut. Suasana sudah tenang. Mereka pun sering
bertemu berempat. Suasananya sudah lebih akrab dari yang sudah-sudah. Mereka sudah merasa
memiliki keluarga baru. Usahanya Sabu pun semakin ramai dikunjungi pelanggan. Tempat
makan yang dia bangun sudah banyak perbaikan. Mulai dari meja, bangku, dan piring. Augray
pun senantiasa membantu Sabu dalam menjalankan usahanya itu, tidak jarang juga Shaulia dan
Giesta datang untuk membantu.
Sabu dan Giesta sudah semakin akrab. Sabu sudah mulai membuka perasaannya untuk Giesta.
Akan tetapi dia tidak mau menjalani hubungan yang namanya pacaran dengan Giesta. Meskipun
dia sayang Giesta, dia tahan perasaannya itu. Tidak terlalu di umbar meskipun kini Giesta
menyadari bahwa Sabu sudah berubah, lebih baik terhadap dirinya. Begitu juga dengan Augray
dan Shaulia, mereka pun menyadari perubahan Sabu. Sabu berpikir bahwa dia akan melamar
Giesta dan menuntunnya kemudian agar dia mengenakan hijab seperti Shaulia. Bukan hal yang
sulit baginya. Ah Shaulia, kenapa saya harus selalu membandingkan Giesta dengan Shaulia
meskipun saya sudah menyayangi Giesta. Pikir Sabu. Akan tetapi dibuangnya pikiran itu jauh-
jauh. Dia harus fokus ke arah Giesta. Bingung, itulah yang dia dapatkan dari perasannya. Sabu
sebenarnya memang menyukai Giesta dan menyayanginya. Akan tetapi dia tidak yakin, apakah
ini rasa sayang cinta ataukah rasa sayang berlandaskan kasihan karena masa lalu Giesta dan
semua yang telah Giesta perbuat untuknya. Dia terlalu pusing untuk memikirkan cinta. Terlalu
rumit. Dia masih tidak bisa membedakan mana sayang dan kasihan.
Shaulia dan Augray pun sebenarnya sudah semakin dekat. Augray pun sudah
sempat "menembak" Shaulia, akan tetapi di tolak. Shaulia merasa tidak siap. Bukan tidak sayang
dengan Augray, dia hanya tidak siap. Sedangkan Augray menjadi bingung, di saat dia ingin
mematangkan perasaannya terhadap Shaulia, Shaulia malah menolaknya. Ada apa sebenarnya?
Kenapa dia menghindar? Tanya Augray dalam hati.
Shauila dan Augray masih akrab semenjak Augray mengajak Shaulia untuk memiliki hubungan
yang lebih lengkap, akan tetapi tidak seakrab sebelum Augray menyatakan perasaannya kepada
Shaulia.
Melihat Sabu yang semakin dekat dengan Giesta, Shaulia merasa iri. Diperhatikannya Sabu
sambil bertanya dalam hati, apakah Sabu tahu masa lalu Giesta? Sudah sejauh mana mereka
saling mengenal? Apakah Sabu menerima keadaan Giesta? Itulah yang dia tanyakan. Giesta
sangat beruntung apabila Sabu mengetahui masa lalunya dan masih mau menerimanya.
Begitu juga dengan Augray, semakin akrab dilihatnya Giesta dengan Sabu, semakin panas
dirinya. Kenapa Shaulia tampak begitu mempesona ketika dia sedang bersama Sabu? Kenapa
Shaulia tidak terlihat sebahagia itu ketika sama gue? Kenapa gue gak bisa berhenti memikirkan
Giesta padahal ada Shaulia di samping gue?
***
Giesta tampak kaget dan senang. Dia mendapatkan email dari Ren yang memberitahunya bahwa
dia akan ke Indonesia besok pagi. Segera dia sampaikan kabar tersebut kepada Shaulia. Shaulia
pun turut senang.
"Pasti dia sudah lulus S2nya ya Sha?" Kata Giesta kepada Shaulia. Shaulia tersenyum.
Kenapa Shaulia tersenyum? Ya, Shaulia adalah wanita yang dijual oleh ibu tirinya sendiri.
Shaulia adalah Ace, akan tetapi Shaulia yang sekarang bukan lah Shaulia yang dulu. Dia telah
memutuskan untuk memakai hijab. Dengan hijab ini, dia merasa bahwa dia dapat lebih damai,
lebih dekat dengan Allah SWT. Dia juga ingin menghilangkan imagenya yang dulu sebagai
pramuria. Dia ingin menjadi Shaulia yang baru.
"Mau kita bawakan apa dia untuk menyambutnya di bandara?" Tanya Shaulia kepada
Giesta. "JKT 48?" Tambahnya bercanda sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita memakai baju seperti yang Ren suka pakai? Gayanya saja kita samakan,
kita pakai wig juga!" Kata Giesta semangat. "Nanti kita bawa kertas juga bertuliskan 'Indoneshia
e youkoso, Mr. Ren.' bagaimana?" Tambahnya. Dengan tertawaan, Shaulia pun setuju dengan
susulan Giesta.
Keesokan harinya mereka pun datang ke Bandara Soe-Hat untuk menjemput Ren. Jam 11.30
WIB. Mereka datang tepat waktu. Akan tetapi Ren belum juga muncul. Merasa bosan setelah 15
menit menunggu, akhirnya mereka pun tertunduk sambil mengistirahatkan kepala mereka yang
sedari tadi melihat ke sekililing dalam bandara. Mencari Ren. Setelah mengistirahatkan kepala
mereka sejenak, mereka kembali melihat ke sekililing dan kemudian langsung mendapatkan
sosok Ren dari jauh. Ren jauh sudah lebih terlihat dewasa dan berwibawa.
Pada saat Ren melangkah ke pintu keluar bandara, Shaulia dan Giesta pun berteriak "Indoneshia
e youkoso, Mr. Ren!" sambil menunjukkan poster yang sudah mereka buat. Ren terlihat tampak
bingung, terutama karena mereka mengenakan pakaian laki-laki. Setelah disadarinya bahwa itu
adalah Giesta dan Shaulia, dia pun tertawa.
"Kalian, kawaii!" Kata Ren gemas sambil menepuk kepala Shaulia dan Giesta. "Yuk, ke rumah
kalian." Kata Ren kemudian.
"Mau langsung kerumah? Makan siang dulu saja yuk." Ajak Giesta.
Kemudian mereka pun pergi menuju tempat makannya Sabu. Memang itu tujuan mereka,
mengenalkan Sabu dan Augray kepada Ren. Mereka pasti senang bertemu Ren, pikir Giesta dan
Shaulia.
Pada saat di perjalanan, Ren bertanya kepada Shaulia perihal mengapa dia menggunakan hijab.
Shaulia pun memberikan alasannya, menurut Shaulia, hijab itu bukan hanya kewajiban bagi umat
muslim, ada banyak alasan yang menguntungkan baginya jika dia mengenakan hijab. Ren pun
setuju. Kemudian mereka banyak bercerita mengenai usaha mereka, dan tempat makan yang
akan mereka tuju beserta dua orang pengelolanya. Setelah itu di sambung oleh Ren bercerita
mengenai kuliahnya dan usaha ibunya, Ibu dan ayahnya juga menitipkan salam untuk Shaulia
dan Giesta.
Sesampainya di tempat makan, Shaulia dan Giesta mengenalkan Ren kepada Sabu dan Augray.
Sabu dan Augray tampak senang dengan kedatangan Ren. Mereka pun menjamunya dengan
menu spesial di tempat makan Sabu tersebut. Kemudian mereka berbincang, panjang lebar.
Hingga akhirnya Ren harus pamit karena membawa banyak barang bawaan. Dia, Giesta, dan
Shaulia pun kembali kerumah Giesta. Kedatangan Ren pun membuat Shaulia harus menginap di
tempat Giesta untuk beberapa hari sampai Ren kembali ke Jepang.
***
"Jadi lo tinggal disini buat liburan?" Tanya Augray kepada Ren. Ya, Augray dan Sabu lalu pergi
kerumah Giesta keesokan harinya. Giesta yang meminta mereka untuk datang, untuk mengajak
Ren keliling Jakarta. Giesta ingin mereka mengenal Ren seperi dia dan Shaulia mengenal Ren.
"Iya, disini hanya seminggu. Ada sesuatu yang penting makanya saya ke Indonesia." Jawab Ren.
"Pasti bisnis?" Sambung Sabu. Kemudian Ren tersenyum.
"Bukan. Ini urusan..." Belum selesai Ren menjawab, tiba-tiba Shaulia datang.
"Hey, maaf ya kita lama." Katanya. Kemudian datanglah Giesta yang menyusul tak berapa lama
kemudian.
"Jadi kita mau kemana dulu nih?" Kata Giesta kepada teman-temannya itu.
"Kita ke monas dulu aja gimana?" Jawab Sabu. "Setuju? Biar kamu tau simbol Indonesia dari
dekat Ren." Tambahnya.
"Ok. Boleh, habis itu saya mau belanja di Jakarta, terus saya mau makan makanan khas
Indonesia. Yang mana saja, mau mahal atau murah mau saya coba semua." Kata Ren yang
disambut senyuman dan anggukan oleh semuanya.
Kemudian mereka berangkat sesuai dengan permintaan Ren. Untuk makan sih mereka bisa, tapi
sepertinya kurang bisa apabila ingin ke banyak tempat. Jakarta terlalu macet untuk melakukan
hal itu. Akan tetapi mereka cukup senang, atau bagi Ren sangat senang. Dia merasa bahwa dia
sangat di terima oleh mereka. Pertemanan yang hangat, selalu banyak canda dan tawa. Ya, dia
senang.
Sesampainya kembali di rumah Giesta, Sabu dan Augray tak langsung pulang. Mereka ingin
berbicara terlebih dahulu bersama Ren, sedangkan Giesta dan Shaulia sudah merasa lelah dan
memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sabu dan Augray memang masih penasaran
dengan percakapan mereka tadi siang yang sempat terputus karena kedatangan Shaulia.
"Tadi sempet keputus Ren pas kita lagi ngobrol. Jadi lo kesini ada urusan bisnis atau gimana?
Kalau bisnis bisa lah kita berbagi pengalaman, gue sama Sabu pebisnis juga kan." Kata Augray
kepada Ren.
"Oh, kalian penasaran sama jawaban saya tadi? Saya ke Indonesia ada urusan hati." Jawab Ren
kemudian tertawa ringan. "Biasalah, cinta. Sudah jangan di lanjutkan, saya malu." Tambahnya.
Sabu dan Augray kemudian menepuk pundaknya Ren sambil tersenyum. "Hey, jangan malu.
Cinta memang harus diperjuangkan kok." Kata Sabu. "Jadi, siapa yang kamu mau perjuangkan
itu? Sangat beruntung." Tambahnya.
"Cantik? Tinggal dimana? Gimana personalitynya?" Tambah Augray kemudian. Sabu dan
Augray sangat penasaran. Mereka terkejut, dia memperjuangkan wanita tersebut sampai datang
ke negeri wanita yang dia inginkan. Pasti bukan wanita biasa, pikir mereka.
Ren tersenyum, dia tertunduk lalu tertawa malu. Kemudian di angkatnya lagi kepalanya, masih
tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "You're not gonna believe this, guys. I don't
know how to answer your questions. I am too shy about it. One point..." Kata Ren yang membuat
mereka semakin penasaran.
"Okay, one point. What?" Tanya Augray tidak sabar.
"Kalian kenal dia." Jawab Ren.
"Oh? Ok. Tapi wanita yang memang kita berdua kenal itu hanya Shaulia dan Giesta. Kita tidak
tahu wanita lain." Kata Sabu kebingungan. "Apa mungkin kamu salah orang?" Tambahnya lagi
dengan wajah kebingungan. Augray pun juga tampak bingung.
"Sahabat kalian." Kata Ren. "Di antara mereka berdua yang tadi kalian sebutkan." Lanjutnya.
Oh, tunggu. Augray dan Shaulia meskipun dekat akan tetapi mereka tidak melakukan kontak
fisik sehingga kalau pun mereka saling berbuat baik, mereka terlihat seperti sahabat. Begitu juga
dengan Sabu dan Giesta. Ini lah yang di tangkap oleh Ren mengenai hubungan mereka.
Augray kemudian langsung membalikkan tubuhnya, memandang ke arah langit malam yang
saat itu hanya sedikit bintang yang terlihat. Dia tampak sangat bingung dengan jawaban
Ren. Complicated, this can't be true. Pikirnya.
Sabu hanya bisa menghela nafas, kemudian memandangi Augray yang tak berapa lama
kemudian pandangan tersebut di sambut oleh Augray. Pandangan penuh pertanyaan dan
kebingungan, kemudian mereka pun kembali melihat ke arah Ren.
"Okay, okay. Easy. Kenapa kalian terlihat gelisah ketika saya mengatakan bahwa wanita itu
adalah salah satu sahabat kalian?" Tanyanya. Sabu dan Augray masih terdiam. Kemudian dia
meneruskan pertanyaannya. "Oh, okay. I got it. Wanita yang saya suka sudah punya calon
suami? Atau dia sudah punya kekasih?" Tanyanya lagi.
Augray dan Sabu tidak ingin menyakiti perasaan Ren. Ini masalah hati. Mereka tidak bisa
menyalahkan Ren atas siapa yang dia sukai. Dia memiliki hak untuk menyukai siapa saja. Hanya
saja, kenapa harus di antara mereka berdua? Pikir Sabu dan Augray. Mereka hanya bisa terdiam.
Menenangkan emosi dan pikiran mereka. Mereka bingung atas apa yang harus mereka katakan
kepada Ren.
"Kalian terlihat bingung mengira-ngira siapa ya? Yaudah saya beritahu kalian, dia..." Kata Ren
yang kemudian disela oleh Sabu dengan menjulurkan tangannya yang terbuka ke hadapan Ren.
"Eh, sudah jangan di lanjutkan. Kita lebih baik tidak tahu." Cegah Sabu. Ini adalah cara yang
terbaik menurut Sabu, tidak mengetahui siapa yang disukai olehnya agar dia dan Augray tidak
memiliki gap dengan Ren. Jadi, lebih baik tidak tahu daripada mengetahui. Memang langkah
pengecut, akan tetapi dengan pikiran dan emosi yang tidak stabil seperti ini, ini lah jalan keluar
satu-satunya. Jawaban Ren akan mereka dengarkan lain kali.
"Lebih baik lo sekarang balik kerumah, gue sama Sabu juga. Kita istirahat. Nanti kita bicarakan
lagi hal ini ya." Kata Augray kepada Ren. Sekarang gantian Ren yang merasa bingung, akan
tetapi dia tetap mengikuti saran Augray untuk kembali kerumah dan beristirahat.
***
Keesokan harinya...
"Ta, kamu ke tempat makan aku yuk. Kita makan siang bersama aja disini. Gimana?" Ajak Sabu
kepada Giesta melalui telepon. Dia merasa khawatir dengan kedatangan Ren yang masih belum
diketahuinya siapa kah yang Ren sebenarnya sukai. Sebagai antisipasi, dia pun mengajak Giesta
ke rumah makannya.
"Tapi aku kayaknya nggak bisa deh, Sab. Aku, Shaulia, dan Ren pergi ke Taman Safari. Ini
lagi di jalan. Mau jalan-jalan ke Bogor juga." Jawab Giesta, kemudian dia berhenti sejenak
seperti sedang berpikir. "Hmm, gimana kalau besok saja kalian ikut kita ke Bandung? Aku mau
ke Bandung dan menginap disana. Kan di Bandung suka banyak makanan yang enak, yang di
Jakarta nggak ada." Tambahnya.
Sabu bingung. Jika dia teringat akan Ren, dia pasti akan langsung bertingkah aneh. Akan tetapi
tidak ada jalan lain, dia hanya bisa setuju. "Yaudah, besok berangkat jam berapa? Biar aku sama
Augray siap-siap." Katanya.
"Jam 8, bisa?" Jawab Giesta di telepon. Kemudian Sabu menyanggupi dan menyudahi
pembicaraannya dengan Giesta melalui ponselnya.
Sabu pun langsung pergi ke kamar dan membangunkan Augray yang masih tertidur karena
setelah pergi semalam dia langsung bekerja, ya... DJ thing. Augray pun bangun setelah Sabu
agak meneriakinya untuk bangun.
"Kenapa sih, Sab?" Tanyanya dengan mata yang setengah meram sambil mencoba untuk duduk.
"Besok di ajakin ke Bandung sama Giesta dan Shaulia. Mereka ke Bandung sama Ren besok."
Jawab Sabu. "Kamu dengar saya kan, Gray? Hari ini mereka sudah duluan berangkat ke Taman
Safari." Tambahnya.
Augray langsung segar. Ya, dia terlalu khawatir dengan hubungannya ketimbang memikirkan
kantuknya saat ini. "Lalu?" Tanyanya.
"Lalu yaudah sih. Aku cuma kasih tau aja. Mereka ngapain ya kira-kira pas lagi jalan-jalan gitu.
Saya resah. Seperti akan kehilangan. Membuat saya penuh curiga. Perasaan tidak enak terus
semenjak semalam, Gray." Jawab Sabu. Sabu memang resah dari semalam, tidurnya pun tak
nyenyak.
Augray pun bangun dan melewati Sabu, dia pergi ke dapur sambil mengambil minum dan
berkata, "Kenapa perasaan gue tenang-tenang aja ya, Sab? Lo terlalu banyak mikir nih."
Katanya.
Sabu langsung mengangkat tangannya memberi tanda bahwa dia sendiri pun tidak tahu kenapa
dia bisa seperti itu.
"Yaudah mandi, kita masih harus mengurusi usaha lo kan?" Kata Augray.
Sabu pun bangkit, mengambil handuk, dan mandi. Begitupun dengan Augray setelahnya.
Kemudian mereka pergi ke tempat makan milik Sabu.
***
"Mas, ini tempat makan baru ya?" Tanya seorang ibu yang sudah duduk di meja makan kepada
Sabu. Ibu tersebut terlihat sangat glamor, dengan dandanan yang super nyentrik. Dia datang
bersama dua wanita cantik dengan pakaian yang terbuka, amat seksi. Sabu merasa iba melihat
dua wanita cantik tersebut. Mutiara, emas, berlian, perak, dan perhiasan lainnya saja di
dapatkan dengan cara yang susah. Mereka ditutupi oleh lapisan yang sangat keras, dan mutiara
di temukan di lautan yang dalam. Tapi kenapa dengan wanita? Belakangan ini, memperlihatkan
hal berharga mereka segampang itu? Membuat mereka terkesan murah, seharusnya mahal.
Kasihan. Pikir Sabu dalam hati.
"Iya bu, tempat makan baru." Jawab Sabu. "Ibu sudah siap pesan?" Tanyanya. Kemudian ibu
tersebut memesan beberapa makanan dan minuman. Makanan yang di pesan makanan yang
harganya paling mahal, begitu juga dengan minuman, hidangan pembuka, dan hidangan penutup.
"Jangan lama-lama ya, mas. Sudah lapar sekali nih." Kata Ibu tersebut kepada Sabu dengan nada
centil yang kemudian diikuti dengan tertawa centil dua wanita yang datang bersamanya. Seram.
Itulah yang Sabu rasakan, akan tetapi dia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Kemudian
bergegas pergi dengan cepat.
Hari itu Sabu dan Augray sangat sibuk dengan pelanggan yang datang. Lebih ramai dari hari
kemarin. Sudah satu jam setengah berlalu semenjak Ibu nyentrik yang datang tadi memesan,
kemudian tiba-tiba dia memanggil lagi untuk di layani. Akan tetapi sekarang dia bukan
memanggil Sabu, dia memanggil Augray karena pada saat makan dia melihat Augray berjalan
kesana kemari dengan wajah tampannya yang mempesona. Dia ingin Augray yang melayaninya
pada saat pembayaran makanan.
"Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Augray kepada Ibu tersebut.
Kemudian ibu itu menjawab sambil memegang lengan Augray dengan nada suara yang
centil, "Iya nih ada. Aku mau bill-nya ya, mas. Sama masnya juga boleh?" Tanyanya.
Augray hanya tersenyum. Dia pun merasa seram, kemudian dia hanya menjawab seperlunya
saja. "Boleh bu, sebentar saya ambilkan bill-nya." Dengan rasa takut dia langsung bergegas ke
arah kasir kemudian kembali lagi ke meja ibu tersebut, berharap bahwa Ibu tersebut segera pergi
dari sana.
"Ini bill-nya. Tolong di cek kembali." Kata Augray kepada Ibu tersebut.
"Tidak perlu ganteng. Kita percaya kamu kok. Ya kan?" Kata ibu tersebut sambil ikut mengajak
dua temannya untuk setuju dengan omongan dia. "Kamu sama temanmu yang manis disana..."
Tambahnya sambil menunjuk ke arah Sabu yang sibuk melayani pelanggan, "... datang dong
ke tempat saya bekerja. Nanti kalau kamu mau cicip, saya kasih diskon deh 50%. Bagaimana?"
Katanya sambil mengulurkan kartu nama ke arah Augray.
Augray hanya tersenyum dan mengambil kartu nama tersebut. "Insyaallah." Jawabnya.
Kemudian Ibu tersebut pun pergi setelah berkata, "Besok dan seterusnya kita boleh dong kesini
dan makan disini lagi?" Hih, menyeramkan. Bathin Augray.
Sabu yang sebenarnya tahu bahwa Augray yang melayani Ibu tersebut setelah dia tadi hanya
menyimak Augray dari jauh. Ketika Augray melihat ke arahnya, dia hanya tertawa kecil. Seolah
berkata seram kan? Kemudian mereka pun melanjutkan aktifitas mereka.
***
0
Kutip
Balas