- Beranda
- Stories from the Heart
Everytime
...
TS
robotpintar
Everytime

Song by : Britney Spears
Notice me
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
Take my hand
Why are we Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small.
I guess I need you baby.
And everytime
I sleep your in my dreams,
I see your face, it's haunting me.
I guess I need you baby.
I make believe
That you are here.
It's the only way
That I see clear.
What have I done?
You seem to moveon easy.
Everytime I try to fly,
I fall without my wings,
I feel so small,
I guess I need you baby.
And everytime I sleep
your in my dreams,
I see your face, you're haunting me
I guess I need you baby.
I may have made it rain,
Please forgive me.
My weakness caused you pain,
And this song's my sorry...
At night I pray,
That soon your face
Will fade away.
FAQ (Frequently asked questions)
Indeks Cerita :
Quote:
Episode 1
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Bagian #1
Bagian #2
Bagian #3
Bagian #4
Bagian #5
Bagian #6
Episode 2
Bagian #7
Bagian #8
Bagian #9
Bagian #10
Bagian #11
Bagian #12
Bagian #13
Bagian #14
Bagian #15
Bagian #16
Bagian #17
Bagian #18
Bagian #19
Bagian #20
Episode 3
Bagian #20A
Bagian #20B
Bagian #20C
Bagian #20D
Episode 4
Bagian #21
Bagian #22
Bagian #23
Bagian #24
Bagian #25
Bagian #26
Bagian #27
Bagian #28
Bagian #29
Bagian #30
Episode 5
Bagian #31
Bagian #32
Bagian #33
Bagian #34
Bagian #35
Bagian #36
Bagian #37
Bagian #38
Episode 6
Bagian #39
Bagian #40
Bagian #41
Bagian #42
Bagian #43
Bagian #44
Bagian #45
Bagian #46
Bagian #47
Episode 7
Bagian #48
Bagian #49
Bagian #50
Bagian #51
Bagian #52 (End)
Quote:
Diubah oleh robotpintar 04-07-2014 13:30
gocharaya dan 103 lainnya memberi reputasi
102
602.7K
Kutip
1.5K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#517
Spoiler for Bagian #27:
Gua berjalan cepat menuju pintu keluar dan memandang ke sekeliling. Menggaruk-garuk kepala yang nggak gatal, mencoba berusaha berfikir kemana perginya si Astrid. Kalau dia hanya keluar sebentar, apa perlunya harus membawa kertas tersebut, atau jangan-jangan.. Astrid pergi.. Pergi meninggalkan gua dengan membawa lembaran kertas yang berisi list nama bersamanya?
---
Gua melangkah pelan melintasi pelataran halaman hotel menuju ke arah jalan raya, mala mini cuaca di Bogor sedikit kurang bersahabat. Gerimis rintik-rintik ditambah hembusan angin super dingin menerpa kulit menembus kaos yang gua kenakan. Gua mengambil sebatang rokok, menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, sementara kaki gua terus melangkah menyusuri trotoar dan akhirnya terhenti disebuah minimart kecil, gua masuk kedalam dan membeli kopi dalam kemasan kotak.
“Nescape nya ya mas, jadi… Enam ribu …”
Seorang pria menyodorkan kembali kopi kemasan yang tadi gua pesan, dari gaya bicaranya dan logatnya terdengar sepertinya dia asli orang Bogor.
“Asli orang sini mas?”
“Enggak juga sih aa.. aselinya mah cisarua..”
“Cisarua, bogor juga kan?”
“Iyah.. kabupaten bogor.., kenapa aa?”
“Nggak papa..”
Gua buru-buru menyambar kopi kotak dan bergegas pergi darisana. Beberapa detik kemudian gua kembali ke meja kasir;
“Punya kertas bekas?”
Si kasir pria tersebut mengangguk kemudian menyerahkan secarik potongan kertas bekas ke gua.
“Sekalian pulpen-nya?”
Gua masih menyodorkan tangan.
“Pulpennya, mau beli apa minjem aa?”
Gua mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan si kasir, kemudian mengambil uang kembalian sisa membeli kopi dan menyerahkannya ke pria tersebut. Pria tersebut kemudian mengambilkan tiga buah pulpen dan menyerahkannya. Gua mengambil salah satunya dan buru-buru keluar dari minimart tersebut dan duduk diterasnya.
Ditemani dengan kopi kemasan dan sebatang rokok filter, gua duduk sambil memejamkan mata mencoba mengingat nama-nama yang tersisa dari list yang dibawa pergi Astrid. Mungkin dalam kondisi normal, gua bisa mengingat 10 sampai 12 nama beserta alamat lengkapnya, tapi dalam kondisi ini; kedinginan, bingung dan hampir putus asa, sepertinya otak gua nggak sanggup bekerja maksimal. Gua memejamkan mata lagi, berusaha lebih keras, mencoba mengingat-ingat, dan akhirnya satu persatu nama yang tercantum list tadi berpindah dari memori otak gua ke sobekan kertas bekas yang tadi diberikan kasir minimart.
Gua masih terduduk sambil memandangi robekan kertas di teras minimart saat si kasir yang tadi melayani gua keluar dari dalam. Kali ini dia sudah tak lagi mengenakan seragamnya, dengan balutan jaket hitam dan tas ransel dipunggung dia berjalan melewati gua sambil menenteng plastik hitam besar dan melemparkannya ke tempat sampah.
“Mas..mas.. “
Gua memanggilnya, sementara pria muda itu menghampiri dan duduk disebelah gua.
“Rokok?”
Gua menyodorinya bungkusan rokok, dia hanya menggeleng dan menepuk-nepuk saku celananya, mungkin maksudnya; ‘gua punya’.
“Tau alamat-alamat ini nggak?”
Gua menarik bungkusan rokok dan kali ini menyerahkan sobekan kertas kepadanya, dia mengambil dan membaca-nya dengan seksama.
“Tau..”
Pria muda itu mengangguk sambil mengeluarkan bungkusan rokok putih dari saku-nya, meletakkannya di bibir dan menyulutnya.
“Bisa tunjukkin..?”
“Bisa.. dari sini Aa.. Mmm.. a bawa motor apah jalan?”
“Jalan…”
“Dari sini Aa nyah, lurus aja, sampe pertigaan depan.. ituh ada angkot yang warna biru..”
“Naek angkot?”
“Iyah.. lumayan, apalagi yang ini nih…”
Dia menunjuk ke list nomor tiga.
“..Ini mah didaerah megamendung… jauh aa.. lagian udah malem ginih mah hese’ atuh angkutannya a…”
“Kalo besok bisa anter gua?”
“Aduh gimana ya a.. besok teh saya masup pagi..”
Pria muda itu menggaruk-garuk kepalanya.
“Bolos aja, ntar gaji lu hari itu gua ganti, mau?”
“Hadeuh.. lain kitu aa.. gimana iye..”
Pria muda itu semakin bingung.
Gua mengambil dompet dan mengeluarkan semua uang cash yang ada didalamnya meletakkannya ditangan pria muda itu.
“Itu kira-kira delapan ratus ribu, elu bantuin gua nyari alamat nama-nama yang dikertas ini, sampe ketemu.. kalo udah selesai, gua tambahi dua ratus ribu lagi..”
“Waduuh.. ketemuannya dimana besok aa?”
“Ya disini aja..”
“Yaah, nanti saya ketauan bos atuh, kan mau bolos..”
Gua berfikir sejenak kemudian menunjukkan hotel tempat gua menginap yang terlihat dari halaman minimart dan menyuruhnya menunggu disana besok pagi.
Setelah dia menuliskan nomor ponselnya di kertas yang sama tempat gua menyalin nama, pria muda yang akhirnya mengenalkan diri bernama Taufik itu pamit dan gua pun melangkahkan kaki kembali ke hotel. Diperjalanan kembali ke hotel, gua melihat sosok Astrid berjalan gontai ditrotoar yang sama dengan arah yang sama dengan gua, setengah berlari gua menhampirinya, kemudian meraih lengannya.
“Darimana lu!?”
“Ih.. bikin kaget..”
Astrid terlihat terkejut dengan gerakan gua.
“Kertasnya mana?”
“Kertas apaan? Ini?”
Astrid mengambil kertas dari dalam saku sweaternya dan menyerahkannya ke gua. Sebuah kertas berwarna merah muda, yang isinya adalah semacam promosi restaurant yang tadi disediakan di meja resepsionis hotel.
“Bukan!! … Kertas daftar nama sama alamat, mana..?”
“Ih ngapain gua bawa-bawa tuh kertas.. ada didalem kamar..”
“Sial!!...”
“Kenapa sih?”
“Nggak apa-apa..”
Gua kemudian berjalan pelan, melepaskan genggaman tangan gua dari lengan Astrid dan meninggalkannya menuju ke hotel. Sementara Astrid berjalan pelan dibelakang gua.
“Emang lu abis darimana?”
Gua membuka pembicaraan dengan Astrid, setelah cukup lama saling terdiam sejak di trotoar tadi hingga kini kami berada didalam lift hotel, menuju ke kamar.
“Abis Makan.. Laperrr..”
“Ooh..”
Mulut gua hanya meng-oh kan sementara perasaan ini tertawa terbahak-bahak. Kok bisa-bisanya gua separanoid ini, takut kehilangan sebuah harapan untuk bertemu dengan Desita, sebuah harapan yang terlampir dalam secarik kertas. Gua benar-benar malu dan akhirnya menertawai diri sendiri; kok bisa-bisanya gua berfikir kalau Astrid bakal pergi dengan membawa kertas tersebut, edan!
Jam menunjukkan pukul 2 malam saat gua bisa kembali menikmati kasur kingsize dikamar hotel. Baru saja mata ini berusaha untuk terpejam, suara ketukan pintu membangunkan gua.
Sambil menghela nafas, gua membuka slot kunci kamar dan memutar kenop pintu.
“Nih..”
Astrid berdiri disisi luar kamar sambil menyodorkan kertas print-out berisi list nama dan alamat. Gua meraihnya kemudian kembali menutup pintu yang terasa berat, gua menoleh dan memandang Astrid yang masih berdiri sambil tangan kanannya menahan pintu.
“Gua tidur disini boleh nggak?”
“Hah?”
“Boleh ya…”
Gua melepaskan tangan dari kenop pintu dan membiarkan Astrid masuk kedalam.
“Nggak papa, gua tidur di sofa aja..”
Astrid bicara sambil berdiri disebelah gua yang tengah berusaha membereskan kaos dan jaket gua dari atas kasur. Sejenak Astrid memandangi punggung telanjang gua, dia menyentuh bagian tubuh gua yang dipenuhi tinta dan berwarna dengan tangan-nya.
“Lo tato-an ya…”
Gua hanya diam nggak menjawab, sambil meraih kaos dan jaket dari atas kasur gua merebahkan diri diatas sofa. Sebuah pertanyaan klise yang sering terlontar dari orang yang baru pertama kali melihat bagian punggung gua, sebuah pertanyaan yang nggak memerlukan jawaban. Astrid menghampiri dan duduk disebelah gua.
“Cin.. lo ditato? Itu permanen?..”
“Berisik, emang nggak pernah liat orang tato-an..?”
“Pernah sih.. tapi nggak sampe sedekat ini.., boleh pegang nggak?”
Dan entah sudah yang keberapa kalinya hari ini gua menghela nafas (lagi) sambil membalik tubuh gua dan memperlihatkan bagian yang bertinta. Tangan lembut Astrid bergerak menyusuri punggung gua sambil sesekali mengusapnya, kemudian tangannya terhenti pada bagian tengah punggung, yang gua tau disitu terdapat tato pertama gua; bertuliskan ; ‘No Regret’
“Lo nggak nyesel ditato?”
Astrid bertanya.
Gua nggak menjawab, hanya tersenyum kecil kemudian buru-buru menutupi punggung gua dan mengenakan kaos.
“Ciin..”
“Apa?”
“Kalo seandainya.. seandainya lho…”
“…”
“… lo udah nyari dan ternyata cewek yang lo cari nggak ketemu, gimana?...”
“Gua cari terus sampe ketemu..”
“Misalnya.. misalnya lho.. lo udah ketemu, tapi cewek itu udah berbedai, udah nggak seperti waktu kalian berpisah, gimana..?”
“Maksudnya?”
“Misalnya dia udah punya keluarga, punya suami dan anak..”
Gua hanya diam, termenung sambil berpangku tangan, memandang ke arah sudut kamar hotel yang gelap. Gua sama sekali nggak berfikir ke arah sana, entah apa karena ekspektasi gua yang terlalu besar atau tingkat antusiasme yang tinggi hingga gua bisa melupakan ‘skenario terburuk’ yang bisa terjadi.
“Apa lo masih nggak mau pindah ke lain hati?...”
“….”
“Masih banyak hati yang bisa lo tinggali kok…”
“Iya, gua tau.. tapi paling nggak saat ini, gua cuma mau nyari dia dan pengen tau alesan dia ninggalin gua, that’s it.. kalau memang nantinya bakal jadi seperti kayak yang lu bilang tadi.. ya..”
Gua terhenti, tenggorokan gua seperti tercekat, gua nggak mampu meneruskan kalimat ini, bahkan hanya untuk sebuah perumpamaan, sangat berat bagi gua untuk bisa bilang; ‘Gua bakal berusaha mengabaikan dia..’
“Apa…?”
Astrid bertanya, sepertinya menunggu akhir dari kalimat gua.
“Nggak papa, udah ah.. gua mau tidur.. udah sono lu dikasur…”
“Yaaah…”
Astrid mengeluh sambil melemparkan jaket kewajah gua, dia mematikan hampir semua lampu yang ada dan hanya menyisakan lampu dinding kecil dikamar mandi. Gua mencoba memejamkan mata lagi dan hampir saja gua terlelap saat sebuah cahaya terang yang setelah gua sadari berasal dari ponsel Astrid yang diarahkan ke wajah gua.
“Ngapain sih lu, trid..? udah tidur sono ah..”
“Belum ngantuk nih gua… ngobrol aja yuuk..”
“Ya jelas lu nggak ngantuk, sepanjang jalan cuma tidur doang…”
“Nggak asik ah…”
Astrid mematikan cahaya terang dari ponselnya yang barusan menerangi wajah kami.
“Trid, kenapa sih lu mau bantuin gua nyari Desita?”
Tanpa sadar gua bertanya ke Astrid sambil menahan kelopak mata gua yang mulai berat. Astrid menoleh dan menjawab, sayangnya indera gua mulai kabur seiring dengan terlelapnya tubuh ini, gua hanya bisa melihat gerakan bibirnya yang semakin lama semakin kabur.
---
Gua melangkah pelan melintasi pelataran halaman hotel menuju ke arah jalan raya, mala mini cuaca di Bogor sedikit kurang bersahabat. Gerimis rintik-rintik ditambah hembusan angin super dingin menerpa kulit menembus kaos yang gua kenakan. Gua mengambil sebatang rokok, menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, sementara kaki gua terus melangkah menyusuri trotoar dan akhirnya terhenti disebuah minimart kecil, gua masuk kedalam dan membeli kopi dalam kemasan kotak.
“Nescape nya ya mas, jadi… Enam ribu …”
Seorang pria menyodorkan kembali kopi kemasan yang tadi gua pesan, dari gaya bicaranya dan logatnya terdengar sepertinya dia asli orang Bogor.
“Asli orang sini mas?”
“Enggak juga sih aa.. aselinya mah cisarua..”
“Cisarua, bogor juga kan?”
“Iyah.. kabupaten bogor.., kenapa aa?”
“Nggak papa..”
Gua buru-buru menyambar kopi kotak dan bergegas pergi darisana. Beberapa detik kemudian gua kembali ke meja kasir;
“Punya kertas bekas?”
Si kasir pria tersebut mengangguk kemudian menyerahkan secarik potongan kertas bekas ke gua.
“Sekalian pulpen-nya?”
Gua masih menyodorkan tangan.
“Pulpennya, mau beli apa minjem aa?”
Gua mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan si kasir, kemudian mengambil uang kembalian sisa membeli kopi dan menyerahkannya ke pria tersebut. Pria tersebut kemudian mengambilkan tiga buah pulpen dan menyerahkannya. Gua mengambil salah satunya dan buru-buru keluar dari minimart tersebut dan duduk diterasnya.
Ditemani dengan kopi kemasan dan sebatang rokok filter, gua duduk sambil memejamkan mata mencoba mengingat nama-nama yang tersisa dari list yang dibawa pergi Astrid. Mungkin dalam kondisi normal, gua bisa mengingat 10 sampai 12 nama beserta alamat lengkapnya, tapi dalam kondisi ini; kedinginan, bingung dan hampir putus asa, sepertinya otak gua nggak sanggup bekerja maksimal. Gua memejamkan mata lagi, berusaha lebih keras, mencoba mengingat-ingat, dan akhirnya satu persatu nama yang tercantum list tadi berpindah dari memori otak gua ke sobekan kertas bekas yang tadi diberikan kasir minimart.
Gua masih terduduk sambil memandangi robekan kertas di teras minimart saat si kasir yang tadi melayani gua keluar dari dalam. Kali ini dia sudah tak lagi mengenakan seragamnya, dengan balutan jaket hitam dan tas ransel dipunggung dia berjalan melewati gua sambil menenteng plastik hitam besar dan melemparkannya ke tempat sampah.
“Mas..mas.. “
Gua memanggilnya, sementara pria muda itu menghampiri dan duduk disebelah gua.
“Rokok?”
Gua menyodorinya bungkusan rokok, dia hanya menggeleng dan menepuk-nepuk saku celananya, mungkin maksudnya; ‘gua punya’.
“Tau alamat-alamat ini nggak?”
Gua menarik bungkusan rokok dan kali ini menyerahkan sobekan kertas kepadanya, dia mengambil dan membaca-nya dengan seksama.
“Tau..”
Pria muda itu mengangguk sambil mengeluarkan bungkusan rokok putih dari saku-nya, meletakkannya di bibir dan menyulutnya.
“Bisa tunjukkin..?”
“Bisa.. dari sini Aa.. Mmm.. a bawa motor apah jalan?”
“Jalan…”
“Dari sini Aa nyah, lurus aja, sampe pertigaan depan.. ituh ada angkot yang warna biru..”
“Naek angkot?”
“Iyah.. lumayan, apalagi yang ini nih…”
Dia menunjuk ke list nomor tiga.
“..Ini mah didaerah megamendung… jauh aa.. lagian udah malem ginih mah hese’ atuh angkutannya a…”
“Kalo besok bisa anter gua?”
“Aduh gimana ya a.. besok teh saya masup pagi..”
Pria muda itu menggaruk-garuk kepalanya.
“Bolos aja, ntar gaji lu hari itu gua ganti, mau?”
“Hadeuh.. lain kitu aa.. gimana iye..”
Pria muda itu semakin bingung.
Gua mengambil dompet dan mengeluarkan semua uang cash yang ada didalamnya meletakkannya ditangan pria muda itu.
“Itu kira-kira delapan ratus ribu, elu bantuin gua nyari alamat nama-nama yang dikertas ini, sampe ketemu.. kalo udah selesai, gua tambahi dua ratus ribu lagi..”
“Waduuh.. ketemuannya dimana besok aa?”
“Ya disini aja..”
“Yaah, nanti saya ketauan bos atuh, kan mau bolos..”
Gua berfikir sejenak kemudian menunjukkan hotel tempat gua menginap yang terlihat dari halaman minimart dan menyuruhnya menunggu disana besok pagi.
Setelah dia menuliskan nomor ponselnya di kertas yang sama tempat gua menyalin nama, pria muda yang akhirnya mengenalkan diri bernama Taufik itu pamit dan gua pun melangkahkan kaki kembali ke hotel. Diperjalanan kembali ke hotel, gua melihat sosok Astrid berjalan gontai ditrotoar yang sama dengan arah yang sama dengan gua, setengah berlari gua menhampirinya, kemudian meraih lengannya.
“Darimana lu!?”
“Ih.. bikin kaget..”
Astrid terlihat terkejut dengan gerakan gua.
“Kertasnya mana?”
“Kertas apaan? Ini?”
Astrid mengambil kertas dari dalam saku sweaternya dan menyerahkannya ke gua. Sebuah kertas berwarna merah muda, yang isinya adalah semacam promosi restaurant yang tadi disediakan di meja resepsionis hotel.
“Bukan!! … Kertas daftar nama sama alamat, mana..?”
“Ih ngapain gua bawa-bawa tuh kertas.. ada didalem kamar..”
“Sial!!...”
“Kenapa sih?”
“Nggak apa-apa..”
Gua kemudian berjalan pelan, melepaskan genggaman tangan gua dari lengan Astrid dan meninggalkannya menuju ke hotel. Sementara Astrid berjalan pelan dibelakang gua.
“Emang lu abis darimana?”
Gua membuka pembicaraan dengan Astrid, setelah cukup lama saling terdiam sejak di trotoar tadi hingga kini kami berada didalam lift hotel, menuju ke kamar.
“Abis Makan.. Laperrr..”
“Ooh..”
Mulut gua hanya meng-oh kan sementara perasaan ini tertawa terbahak-bahak. Kok bisa-bisanya gua separanoid ini, takut kehilangan sebuah harapan untuk bertemu dengan Desita, sebuah harapan yang terlampir dalam secarik kertas. Gua benar-benar malu dan akhirnya menertawai diri sendiri; kok bisa-bisanya gua berfikir kalau Astrid bakal pergi dengan membawa kertas tersebut, edan!
Jam menunjukkan pukul 2 malam saat gua bisa kembali menikmati kasur kingsize dikamar hotel. Baru saja mata ini berusaha untuk terpejam, suara ketukan pintu membangunkan gua.
Sambil menghela nafas, gua membuka slot kunci kamar dan memutar kenop pintu.
“Nih..”
Astrid berdiri disisi luar kamar sambil menyodorkan kertas print-out berisi list nama dan alamat. Gua meraihnya kemudian kembali menutup pintu yang terasa berat, gua menoleh dan memandang Astrid yang masih berdiri sambil tangan kanannya menahan pintu.
“Gua tidur disini boleh nggak?”
“Hah?”
“Boleh ya…”
Gua melepaskan tangan dari kenop pintu dan membiarkan Astrid masuk kedalam.
“Nggak papa, gua tidur di sofa aja..”
Astrid bicara sambil berdiri disebelah gua yang tengah berusaha membereskan kaos dan jaket gua dari atas kasur. Sejenak Astrid memandangi punggung telanjang gua, dia menyentuh bagian tubuh gua yang dipenuhi tinta dan berwarna dengan tangan-nya.
“Lo tato-an ya…”
Gua hanya diam nggak menjawab, sambil meraih kaos dan jaket dari atas kasur gua merebahkan diri diatas sofa. Sebuah pertanyaan klise yang sering terlontar dari orang yang baru pertama kali melihat bagian punggung gua, sebuah pertanyaan yang nggak memerlukan jawaban. Astrid menghampiri dan duduk disebelah gua.
“Cin.. lo ditato? Itu permanen?..”
“Berisik, emang nggak pernah liat orang tato-an..?”
“Pernah sih.. tapi nggak sampe sedekat ini.., boleh pegang nggak?”
Dan entah sudah yang keberapa kalinya hari ini gua menghela nafas (lagi) sambil membalik tubuh gua dan memperlihatkan bagian yang bertinta. Tangan lembut Astrid bergerak menyusuri punggung gua sambil sesekali mengusapnya, kemudian tangannya terhenti pada bagian tengah punggung, yang gua tau disitu terdapat tato pertama gua; bertuliskan ; ‘No Regret’
“Lo nggak nyesel ditato?”
Astrid bertanya.
Gua nggak menjawab, hanya tersenyum kecil kemudian buru-buru menutupi punggung gua dan mengenakan kaos.
“Ciin..”
“Apa?”
“Kalo seandainya.. seandainya lho…”
“…”
“… lo udah nyari dan ternyata cewek yang lo cari nggak ketemu, gimana?...”
“Gua cari terus sampe ketemu..”
“Misalnya.. misalnya lho.. lo udah ketemu, tapi cewek itu udah berbedai, udah nggak seperti waktu kalian berpisah, gimana..?”
“Maksudnya?”
“Misalnya dia udah punya keluarga, punya suami dan anak..”
Gua hanya diam, termenung sambil berpangku tangan, memandang ke arah sudut kamar hotel yang gelap. Gua sama sekali nggak berfikir ke arah sana, entah apa karena ekspektasi gua yang terlalu besar atau tingkat antusiasme yang tinggi hingga gua bisa melupakan ‘skenario terburuk’ yang bisa terjadi.
“Apa lo masih nggak mau pindah ke lain hati?...”
“….”
“Masih banyak hati yang bisa lo tinggali kok…”
“Iya, gua tau.. tapi paling nggak saat ini, gua cuma mau nyari dia dan pengen tau alesan dia ninggalin gua, that’s it.. kalau memang nantinya bakal jadi seperti kayak yang lu bilang tadi.. ya..”
Gua terhenti, tenggorokan gua seperti tercekat, gua nggak mampu meneruskan kalimat ini, bahkan hanya untuk sebuah perumpamaan, sangat berat bagi gua untuk bisa bilang; ‘Gua bakal berusaha mengabaikan dia..’
“Apa…?”
Astrid bertanya, sepertinya menunggu akhir dari kalimat gua.
“Nggak papa, udah ah.. gua mau tidur.. udah sono lu dikasur…”
“Yaaah…”
Astrid mengeluh sambil melemparkan jaket kewajah gua, dia mematikan hampir semua lampu yang ada dan hanya menyisakan lampu dinding kecil dikamar mandi. Gua mencoba memejamkan mata lagi dan hampir saja gua terlelap saat sebuah cahaya terang yang setelah gua sadari berasal dari ponsel Astrid yang diarahkan ke wajah gua.
“Ngapain sih lu, trid..? udah tidur sono ah..”
“Belum ngantuk nih gua… ngobrol aja yuuk..”
“Ya jelas lu nggak ngantuk, sepanjang jalan cuma tidur doang…”
“Nggak asik ah…”
Astrid mematikan cahaya terang dari ponselnya yang barusan menerangi wajah kami.
“Trid, kenapa sih lu mau bantuin gua nyari Desita?”
Tanpa sadar gua bertanya ke Astrid sambil menahan kelopak mata gua yang mulai berat. Astrid menoleh dan menjawab, sayangnya indera gua mulai kabur seiring dengan terlelapnya tubuh ini, gua hanya bisa melihat gerakan bibirnya yang semakin lama semakin kabur.
Diubah oleh robotpintar 11-06-2014 14:46
cotel79 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas