- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191.1K
Kutip
1.1K
Balasan
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#71
AKIBAT SERING PACARAN
Spoiler for :
Setelah muntah-muntah, Mawar menyeka mulutnya dengan air. Setelah itu ia membasuh mukanya dan menatap cermin. Sebersit penyesalan terpancar di sorot mata sosok dalam cermin yang dilihatnya. Belum sempat ia melamun lebih jauh tiba-tiba dari luar kamar mandi terdengar teriakan dari Melati saudarinya yang sedang browsingdi online shop.
“Gila, celana kulit murah banget. Kamu mau nggak Maw?”
“Jangan terlalu ketat.”
“Memangnya kenapa kalau ketat? Kamu sendiri juga punya koleksi pakaian ketat kan?”
“Eh iya.”
“Tunggu, iya juga ya. Belakangan ini aku nggak pernah lihat kamu pakai baju ketat. Lalu mengapa juga kalau di rumah jadi sering pakai daster.”
“Eh...nyaman aja dipakainya.”
Kata Mawar sambil berlalu keluar kamar mandi dan masuk ke kamarnya sendiri. Dalam hati ia berkata
'Roy ini semua gara-gara kamu'
Bus nomor 2525 memasuki terminal. Mawar yang baru datang dari rumah orangtuanya di desa turun dari pintu belakang dan langsung disambut oleh Melati sepupunya.
“Oh My God Mawar, lama nggak ketemu.”
“Iya Mel, aku juga kangen.”
“Oh ya kenalin ini Roy, temen kuliah aku.”
“Roy.”
Mawar mengamati anak muda yang mengulurkan tangannya itu. Biasa saja tidak ada perasaan curiga apapun terbersit di benaknya. Sepertinya anak muda ini orang baik.
“Mawar.”
“Ayo cepet ke rumah sudah sore nih. ”
Mereka menuju ke sedan putih yang diparkir tak jauh dari pos satpam.
“Bagus mobilnya.”
“Ini mobilnya Roy.”
“Iya, aku sendiri yang buat.”
Mawar terkesima. Bisa punya mobil saja sudah merupakan hal yang luar biasa di kampungnya, apalagi ini. Bisa membuat mobil sendiri, sukar dipercaya ada anak muda yang bisa melakukannya. Hebat juga si Roy ini.
Ternyata pertemuannya dengan Roy tidak berhenti sampai di terminal itu. Ternyata Roy juga kuliah di kampus yang sama dengan Mawar. Mereka menjadi semakin sering bertemu, semakin dekat dan bulan berikutnya Roy meminta mawar menjadi kekasihnya.
“Ya, aku mau.”
“Hore!!!!”
Teriak Roy kegirangan. Mawar juga tak kalah bahagia. Ini adalah pertama kalinya ia punya pacar.
“Harus kita rayakan. Ayo Mawar kita ke restoran pizza yang ada di perempatan.”
“Berarti ini kencan pertama?”
“Dan disusul dengan kencan-kencan berikutnya tentu saja.”
Mawar pun mengikuti Roy ke restoran dan menemukan hal baru. Ternyata orang kota kalau mau makan foto dulu.
“Buat dishare biar teman-teman juga ikut jadi saksi kalau hari ini kita tak lagi sendiri.”
“Enak.”
“Dagingnya banyak kan?”
“Iya, empuk dan kejunya juga gurih.”
Keesokan harinya Roy mampir ke rumah Melati.
“Eh, Mela. Mawarnya ada?”
“Ada, sebentar ya aku panggilin.”
Tak lama kemudian Mawar keluar dan pergi bersama Roy.
“Mau kemana sekarang?”
“Kamu harus coba, di stadion kalau malam ada nasi goreng jumbo porsi besar. Enak banget pokoknya.”
Keesokan harinya mereka bertemu lagi di kampus
“Kuliah berikutnya jam berapa?”
“Jam 5.”
“Kalau aku hari ini nggak ada kuliah. Bagaimana kalau kita makan pancake durian sambil minum jus alpukat?”
“Boleh.”
“Bagaimana, enak kan?”
“Enak.”
Hari Sabtu tiba dan sekali lagi Roy berkeliling kota bersama Mawar dengan mobil barunya.
“Kali ini kita cobain masakan tradisional, nasi kuning lauknya mi sama perkedel kentang. Enak banget.”
“Pulangnya kita mampir ke gorengannya Mbak Fatma dulu yuk, aku mau bawain oleh-oleh buat Melati.”
“Yang di samping POM bensin itu? Bakwannya renyah banget apalagi ubi gorengnya. Maknyus.”
Sesampai di rumah ternyata Melati tidak ada. Ternyata dia lembur di kantornya. Roy menggosok-gosokkan tangannya lalu berkata
“Eh Mawar bagaimana kalau....”
“Gorengannya kita makan sendiri.”
“Aku tadi juga mau ngomong begitu. Sebentar aku ke minimarket disebelah.”
“Mau beli apa?”
“Softdrink.”
Dua bungkus plastik gorengan itupun mereka makan berdua sampai habis. Pertemuan-pertemuan di rumah makan dan penjual jajanan pinggir jalan itupun berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya.
Suatu pagi Mawar terbangun dan mencoba celana jeans yang dibawanya dari kampung. Ternyata tidak bisa dikancingkan. Baju-bajunya yang dulu pun tidak muat bahkan ada yang begitu dipakai, kancingnya langsung lepas karena dada dan perut Mawar yang membesar. Akhirnya iapun memilih untuk mengenakan baju longgar atau daster. Selain itu ia jadi tidak nafsu makan. Seirngkali setelah makan Mawar langsung ke kamar mandi dan muntah-muntah, berharap agar lemak dan karbohidrat dari makanan yang masuk ke mulut tidak menumpuk di perutnya.
'Roy, ini semua gara-gara kamu.'
“Gila, celana kulit murah banget. Kamu mau nggak Maw?”
“Jangan terlalu ketat.”
“Memangnya kenapa kalau ketat? Kamu sendiri juga punya koleksi pakaian ketat kan?”
“Eh iya.”
“Tunggu, iya juga ya. Belakangan ini aku nggak pernah lihat kamu pakai baju ketat. Lalu mengapa juga kalau di rumah jadi sering pakai daster.”
“Eh...nyaman aja dipakainya.”
Kata Mawar sambil berlalu keluar kamar mandi dan masuk ke kamarnya sendiri. Dalam hati ia berkata
'Roy ini semua gara-gara kamu'
3 BULAN SEBELUMNYA
Bus nomor 2525 memasuki terminal. Mawar yang baru datang dari rumah orangtuanya di desa turun dari pintu belakang dan langsung disambut oleh Melati sepupunya.
“Oh My God Mawar, lama nggak ketemu.”
“Iya Mel, aku juga kangen.”
“Oh ya kenalin ini Roy, temen kuliah aku.”
“Roy.”
Mawar mengamati anak muda yang mengulurkan tangannya itu. Biasa saja tidak ada perasaan curiga apapun terbersit di benaknya. Sepertinya anak muda ini orang baik.
“Mawar.”
“Ayo cepet ke rumah sudah sore nih. ”
Mereka menuju ke sedan putih yang diparkir tak jauh dari pos satpam.
“Bagus mobilnya.”
“Ini mobilnya Roy.”
“Iya, aku sendiri yang buat.”
Mawar terkesima. Bisa punya mobil saja sudah merupakan hal yang luar biasa di kampungnya, apalagi ini. Bisa membuat mobil sendiri, sukar dipercaya ada anak muda yang bisa melakukannya. Hebat juga si Roy ini.
Ternyata pertemuannya dengan Roy tidak berhenti sampai di terminal itu. Ternyata Roy juga kuliah di kampus yang sama dengan Mawar. Mereka menjadi semakin sering bertemu, semakin dekat dan bulan berikutnya Roy meminta mawar menjadi kekasihnya.
“Ya, aku mau.”
“Hore!!!!”
Teriak Roy kegirangan. Mawar juga tak kalah bahagia. Ini adalah pertama kalinya ia punya pacar.
“Harus kita rayakan. Ayo Mawar kita ke restoran pizza yang ada di perempatan.”
“Berarti ini kencan pertama?”
“Dan disusul dengan kencan-kencan berikutnya tentu saja.”
Mawar pun mengikuti Roy ke restoran dan menemukan hal baru. Ternyata orang kota kalau mau makan foto dulu.
“Buat dishare biar teman-teman juga ikut jadi saksi kalau hari ini kita tak lagi sendiri.”
“Enak.”
“Dagingnya banyak kan?”
“Iya, empuk dan kejunya juga gurih.”
Keesokan harinya Roy mampir ke rumah Melati.
“Eh, Mela. Mawarnya ada?”
“Ada, sebentar ya aku panggilin.”
Tak lama kemudian Mawar keluar dan pergi bersama Roy.
“Mau kemana sekarang?”
“Kamu harus coba, di stadion kalau malam ada nasi goreng jumbo porsi besar. Enak banget pokoknya.”
Keesokan harinya mereka bertemu lagi di kampus
“Kuliah berikutnya jam berapa?”
“Jam 5.”
“Kalau aku hari ini nggak ada kuliah. Bagaimana kalau kita makan pancake durian sambil minum jus alpukat?”
“Boleh.”
“Bagaimana, enak kan?”
“Enak.”
Hari Sabtu tiba dan sekali lagi Roy berkeliling kota bersama Mawar dengan mobil barunya.
“Kali ini kita cobain masakan tradisional, nasi kuning lauknya mi sama perkedel kentang. Enak banget.”
“Pulangnya kita mampir ke gorengannya Mbak Fatma dulu yuk, aku mau bawain oleh-oleh buat Melati.”
“Yang di samping POM bensin itu? Bakwannya renyah banget apalagi ubi gorengnya. Maknyus.”
Sesampai di rumah ternyata Melati tidak ada. Ternyata dia lembur di kantornya. Roy menggosok-gosokkan tangannya lalu berkata
“Eh Mawar bagaimana kalau....”
“Gorengannya kita makan sendiri.”
“Aku tadi juga mau ngomong begitu. Sebentar aku ke minimarket disebelah.”
“Mau beli apa?”
“Softdrink.”
Dua bungkus plastik gorengan itupun mereka makan berdua sampai habis. Pertemuan-pertemuan di rumah makan dan penjual jajanan pinggir jalan itupun berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya.
Suatu pagi Mawar terbangun dan mencoba celana jeans yang dibawanya dari kampung. Ternyata tidak bisa dikancingkan. Baju-bajunya yang dulu pun tidak muat bahkan ada yang begitu dipakai, kancingnya langsung lepas karena dada dan perut Mawar yang membesar. Akhirnya iapun memilih untuk mengenakan baju longgar atau daster. Selain itu ia jadi tidak nafsu makan. Seirngkali setelah makan Mawar langsung ke kamar mandi dan muntah-muntah, berharap agar lemak dan karbohidrat dari makanan yang masuk ke mulut tidak menumpuk di perutnya.
'Roy, ini semua gara-gara kamu.'
THE END
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas