- Beranda
- Stories from the Heart
☆ Dijodohin? hm share aja yah ☆
...
TS
bntown
☆ Dijodohin? hm share aja yah ☆

Hai hai gan and sist...

sorry ya. cuma mau share cerita di mari aja nih..

oke jujur ini ane pake kloningan, soalnya akun prime yang asli udah ada temen yang tahu.. jadi dari pada ntar dibully ama mereka, jadi pakai kloningan aja ya..

oke, maaf kalo agak sedikit berantakan soalnya kagak biasa bikin kayak ginian, paling trit-trit GJ yang pernah ane buat di prime

Spoiler for rules:
Spoiler for Q&A:
oke ini dulu aja intro nya.. masih mau merangkai kata biar indah, oke bro.. makasih..
Spoiler for "index":
Thanx for agan whyushintoryubuat bikinin index versi docx ane

Spoiler for index doc:
PDF format.. many thanx agan nd1tnt1
Spoiler for PDF:
Diubah oleh bntown 02-09-2014 22:51
Arsana277 dan anasabila memberi reputasi
2
508.1K
2.6K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bntown
#112
Memory
Halo all.. oke nih yang menjadikan beberapa jam terakhir frekuensi detak jantung ane meningkat. Soalnya ane harus jadi pencerita dengan sudut pandang orang lain.
Oke semoga ane bisa menuangkan ide dia di tulisan ini dengan lancar. Dan orang apes yang ane pilih adalah:
Putri.. oke have a nice read yah (kalo ada tanda kurung itu komen dari ane ya)
Bagiku melihat dia tersenyum adalah obat penenang yang paling mujarab di antara obat penenang medis yang ada saat ini (apa urusannya senyum ane sama obat penenang?
). Dan itulah yang membuat hati ini terseret semakin dalam di lautan perasaan kasih sayang ini (so sweet, cucunya kahlil gibran neng?
).
Saat ini, mungkin aku adalah orang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak dia tersenyum sangat manis siang itu di saat kita makan siang di salah satu resto favorit kita (baca : kalo ada tabungan uang saku banyak
).
Aku sampai tersipu malu kalau dia sudah menunjukkan senyum indah itu.
Oh iya, senyum indah itu membawaku pada memory ketika aku 6 tahun. Yap, aku bersama keluargaku diajak ayah mengunjungi rumah teman ayah di salah satu kota kecil di jawa timur. Kesan aku dulu sangat biasa. Hingga akhirnya, ternyata ada sungai cukup besar di sekitar rumah teman ayah itu.
Karena ayah lama sekali ngobrolnya, akhirnya kuputuskan untuk keluar bermain dengan anak sekitar rumah teman ayah. Meski belum kenal, aku beranikan diri buat bermain bersama mereka
. Aku ditemani anak cowok dari teman papa. Anak itu cenderung lebih kecil dibanding temannya. Dia cukup kurus dibanding teman lainnya, kulitnya cenderung hitam, dan waktu itu dia lebih pendek dariku (eh buneng, cara dia liat ane kok gitu amat ya? Sialan nih cewek, awas aja ya ntar
). Yah pokoknya aku memanggilnya dengan sebutan tape ketan. (Kecil, hitem, dan bijinya kecil kecil. Ya cukup menggambarkan ane saat itu. Tapi meski gitu rasanya manis loh
).
Aku : eh tape ketan kemana nih kita mainnya?
Tape : jangan panggil aku tape dong..
dia sambil mewek bilang seperti itu. Nih anak gampang nangis. (
)
Aku : ya udah, ke sungai aja yuk
. Ajakku waktu itu dan dia mengiyakan ajakanku. Kebetulan di sana ada permainan polisi maling.
Tape : heh teman, aku sama dia ikut ya..
Teman 1 : wah nis, tumben telat main? Iya ayo cepetan, ntar suit aja yang menang jadi polisi. Kita pun suit dan si tape menang. Dia kegirangan jadi polisi. Akhirnya si teman 1 manggil yang lain buat berhenti dan kasih tau siapa anggota baru mereka. Setelah tahu semua, permainan di lanjut.
Karena semua tadi lagi seru serunya, akhirnya si tape yang ternyata bernama yanis ini mengejar aku. Cepet juga larinya, padahal aku pikir jangkauannya lebih lebar aku. (Oke lah boleh bilang ane dulu pendek, but look at me know. Semua situasi berbalik menuju keuntungan buat ane
.). Akhirnya dia ditabrak oleh temanku di sisi maling, terjadilah duel di sana antara temanku dengan si tape dan temannya di polisi.
Akhirnya aku milih sembunyi di pinggir sungai ditutupi pohon bambu di pinggir sungai. Huft enaknya duduk seperti ini di pinggir sungai
. Akhirnya aku beranikan memasukkan kakiku di sungai itu, untuk bermain main. Ketika aku mulai bangkit, tiba tiba tanah yang aku pijaki longsor, ternyata bukan tanah yang keras. Aku sukses tercebur di sungai yang cukup dalam itu. Aku minta tolong karena aku tidak bisa renang. "Tolong aku.. tolong aku.. tolong aku.." tapi tidak ada yang mendekat.
Kakiku langsung kram, dan aku pelan pelan mulai tenggelam. "Aaakkkkhhhhh" teriakku putus asa. Yah tamat sudah aku pikirku saat itu
. Di dalam air, aku melihat sosok kecil yang masuk ke air. Dia menyelam menghampiriku. Dia merangkulkan tangannya ke tubuhku dan mulai berenang ke atas. Setelah sampai permukaan, dia perlahan menuju pinggir sungai.
Aku muntahkan air yang tertelan di sana
. Dia lalu berlari ke tempat cucian warga di pinggir sungai dan mengambilkan handuk untukku. Anak anak lainnya berkumpul di sekitarku sambil bertanya kondisiku. Aku jawab aku baik baik saja. Meski hidungku terasa terbakar saat itu.
Begitu aku sudah tenang si penolongku yang gak lain adalah yanis (
) mengajakku pulang dan betapa aku kaget liat dia dalam kondisi tiiiitttt (sensor).
Aku : kok gak pakai baju? Ke mana baju mu?
Yanis : aku lepas karena itu baju baru. Bisa dimarahin ibu kalo baju ini basah kena air sungai
. Sambil aku lihat baju yang dia bawa. Astaga, nih anak nolong aku masih sempat mikirin dimarahi ibunya?
(Aku anak multitasking kakak
).
Aku : makasih ya, kamu bisa renang?
Yanis : iya sama sama, nanti kalau ditanya tanyain kamu diem aja ya. Udah seharusnya anak di sini bisa renang. Masa deket sungai gak bisa renang? Tadi aku dengar kamu njerit ketika aku pipis di sekitar bambu itu.
Aku : oh, ya berarti itu tempat pipis dong.
Untuk pertama kali aku melihat senyum anak itu. Senyum jail yang membuat aku senang punya teman seperti dia. Sampai di rumahnya, papa mama, dan ortu yanis kaget dan tanya ke yanis.
Om : yanis. Kamu apain dia? Kok basah semua?
Yanis : maaf pak, tadi aku ajak dia renang di sungai. Ternyata dia gak bisa renang. Maaf ya pak.
Om : makanya kalo ajak ajak main jangan ke sungai. Sambil njewer yanis. Aku gak tega lihat dia digituin, padahal aku yang salah
. Tapi papa langsung ngomong.
Papa : udah ris, biarin aja. Papa deketin yanis. Makasih ya nak udah lindungi putri. Yanis cuma mengangguk dan tersenyum ke papa.
Akhirnya kita pamitan. Di jalan menuju mobil sekali lagi aku lihat teman baruku yanis, dia tersenyum ke arahku dan aku berdoa dalam hati. Ya Allah semoga aku bisa bertemu dia lagi
. Dan akhirnya saat ini, dia duduk di hadapanku di resto ini sambil menatap mataku penuh arti dan tersenyum sangat indah
. (Akh.. makasih putri cantik..
(sama sama
).. eh kok komen sih? Kamu kan cuma pov di sini?
(Biarin
) eh kok biarin?
(Cerewet ah kamu mas, aku gak mau loh ya nanti ngisi pov di sini?
) yah ngambek.. jangan dong.. iya deh iya gak apa apa
(ngakak
) maaf ya kita berantem di sini, hehehe..
)
Oke next part masih tetep sama putri ya.. thanks semua..

Oke semoga ane bisa menuangkan ide dia di tulisan ini dengan lancar. Dan orang apes yang ane pilih adalah:Putri.. oke have a nice read yah (kalo ada tanda kurung itu komen dari ane ya)

Bagiku melihat dia tersenyum adalah obat penenang yang paling mujarab di antara obat penenang medis yang ada saat ini (apa urusannya senyum ane sama obat penenang?
). Dan itulah yang membuat hati ini terseret semakin dalam di lautan perasaan kasih sayang ini (so sweet, cucunya kahlil gibran neng?
).Saat ini, mungkin aku adalah orang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak dia tersenyum sangat manis siang itu di saat kita makan siang di salah satu resto favorit kita (baca : kalo ada tabungan uang saku banyak
).Aku sampai tersipu malu kalau dia sudah menunjukkan senyum indah itu.
Oh iya, senyum indah itu membawaku pada memory ketika aku 6 tahun. Yap, aku bersama keluargaku diajak ayah mengunjungi rumah teman ayah di salah satu kota kecil di jawa timur. Kesan aku dulu sangat biasa. Hingga akhirnya, ternyata ada sungai cukup besar di sekitar rumah teman ayah itu.Karena ayah lama sekali ngobrolnya, akhirnya kuputuskan untuk keluar bermain dengan anak sekitar rumah teman ayah. Meski belum kenal, aku beranikan diri buat bermain bersama mereka
. Aku ditemani anak cowok dari teman papa. Anak itu cenderung lebih kecil dibanding temannya. Dia cukup kurus dibanding teman lainnya, kulitnya cenderung hitam, dan waktu itu dia lebih pendek dariku (eh buneng, cara dia liat ane kok gitu amat ya? Sialan nih cewek, awas aja ya ntar
). Yah pokoknya aku memanggilnya dengan sebutan tape ketan. (Kecil, hitem, dan bijinya kecil kecil. Ya cukup menggambarkan ane saat itu. Tapi meski gitu rasanya manis loh
).Aku : eh tape ketan kemana nih kita mainnya?

Tape : jangan panggil aku tape dong..
dia sambil mewek bilang seperti itu. Nih anak gampang nangis. (
)Aku : ya udah, ke sungai aja yuk
. Ajakku waktu itu dan dia mengiyakan ajakanku. Kebetulan di sana ada permainan polisi maling.Tape : heh teman, aku sama dia ikut ya..
Teman 1 : wah nis, tumben telat main? Iya ayo cepetan, ntar suit aja yang menang jadi polisi. Kita pun suit dan si tape menang. Dia kegirangan jadi polisi. Akhirnya si teman 1 manggil yang lain buat berhenti dan kasih tau siapa anggota baru mereka. Setelah tahu semua, permainan di lanjut.
Karena semua tadi lagi seru serunya, akhirnya si tape yang ternyata bernama yanis ini mengejar aku. Cepet juga larinya, padahal aku pikir jangkauannya lebih lebar aku. (Oke lah boleh bilang ane dulu pendek, but look at me know. Semua situasi berbalik menuju keuntungan buat ane
.). Akhirnya dia ditabrak oleh temanku di sisi maling, terjadilah duel di sana antara temanku dengan si tape dan temannya di polisi.Akhirnya aku milih sembunyi di pinggir sungai ditutupi pohon bambu di pinggir sungai. Huft enaknya duduk seperti ini di pinggir sungai
. Akhirnya aku beranikan memasukkan kakiku di sungai itu, untuk bermain main. Ketika aku mulai bangkit, tiba tiba tanah yang aku pijaki longsor, ternyata bukan tanah yang keras. Aku sukses tercebur di sungai yang cukup dalam itu. Aku minta tolong karena aku tidak bisa renang. "Tolong aku.. tolong aku.. tolong aku.." tapi tidak ada yang mendekat.
Kakiku langsung kram, dan aku pelan pelan mulai tenggelam. "Aaakkkkhhhhh" teriakku putus asa. Yah tamat sudah aku pikirku saat itu
. Di dalam air, aku melihat sosok kecil yang masuk ke air. Dia menyelam menghampiriku. Dia merangkulkan tangannya ke tubuhku dan mulai berenang ke atas. Setelah sampai permukaan, dia perlahan menuju pinggir sungai.Aku muntahkan air yang tertelan di sana
. Dia lalu berlari ke tempat cucian warga di pinggir sungai dan mengambilkan handuk untukku. Anak anak lainnya berkumpul di sekitarku sambil bertanya kondisiku. Aku jawab aku baik baik saja. Meski hidungku terasa terbakar saat itu.Begitu aku sudah tenang si penolongku yang gak lain adalah yanis (
) mengajakku pulang dan betapa aku kaget liat dia dalam kondisi tiiiitttt (sensor).
Aku : kok gak pakai baju? Ke mana baju mu?

Yanis : aku lepas karena itu baju baru. Bisa dimarahin ibu kalo baju ini basah kena air sungai
. Sambil aku lihat baju yang dia bawa. Astaga, nih anak nolong aku masih sempat mikirin dimarahi ibunya?
(Aku anak multitasking kakak
).Aku : makasih ya, kamu bisa renang?

Yanis : iya sama sama, nanti kalau ditanya tanyain kamu diem aja ya. Udah seharusnya anak di sini bisa renang. Masa deket sungai gak bisa renang? Tadi aku dengar kamu njerit ketika aku pipis di sekitar bambu itu.

Aku : oh, ya berarti itu tempat pipis dong.
Untuk pertama kali aku melihat senyum anak itu. Senyum jail yang membuat aku senang punya teman seperti dia. Sampai di rumahnya, papa mama, dan ortu yanis kaget dan tanya ke yanis.Om : yanis. Kamu apain dia? Kok basah semua?

Yanis : maaf pak, tadi aku ajak dia renang di sungai. Ternyata dia gak bisa renang. Maaf ya pak.

Om : makanya kalo ajak ajak main jangan ke sungai. Sambil njewer yanis. Aku gak tega lihat dia digituin, padahal aku yang salah
. Tapi papa langsung ngomong.Papa : udah ris, biarin aja. Papa deketin yanis. Makasih ya nak udah lindungi putri. Yanis cuma mengangguk dan tersenyum ke papa.
Akhirnya kita pamitan. Di jalan menuju mobil sekali lagi aku lihat teman baruku yanis, dia tersenyum ke arahku dan aku berdoa dalam hati. Ya Allah semoga aku bisa bertemu dia lagi
. Dan akhirnya saat ini, dia duduk di hadapanku di resto ini sambil menatap mataku penuh arti dan tersenyum sangat indah
. (Akh.. makasih putri cantik..
(sama sama
).. eh kok komen sih? Kamu kan cuma pov di sini?
(Biarin
) eh kok biarin?
(Cerewet ah kamu mas, aku gak mau loh ya nanti ngisi pov di sini?
) yah ngambek.. jangan dong.. iya deh iya gak apa apa
(ngakak
) maaf ya kita berantem di sini, hehehe..
)Oke next part masih tetep sama putri ya.. thanks semua..


0
)