- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#211
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
Quote:
PART XXI
IT'S NOT A CINEMA
'Apaan lo saudagar saudagar? Gak jelas tong saran lo'
'Eh diem dulu kawan. Hm hm lo punya data apa aja tentang suaminya Fia?'
'Gak punya si. Hmm kayaknya bisa deh tong kalo fotokopi ktp'
'Maksud lo?'
'kayaknya gua punya surat2nya waktu fia ajukan asuransi.'
'Bisa kayaknya tuh.'
'Ya udah gua usahain itu dulu ya tong'
'Ya udah buruan, gua 2 hari lagi udah balik soalnya'
'Oke oke bos. Lo nikmati waktu lo di sini dl aja oke?'
---
Balik ke pabrik gua cepet2 selesaikan kerjaan gua yang tertunda gara gara gentong tadi. Gua sengaja ga mw buru2 cari bukti identitas Ihsan karena gua berusaha tetap mengutamakan kewajiban gua waktu kerja.
'Len..'
'Ya Pak?' Gua nyamperin Lena. Kira2 mungkin udah seperempat matahari waktunya.
'Hm aku mw ngomong sesuatu ke kamu. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf dulu.'
'Kenapa minta maaf pak?'
'Karena ini ttg Fia' gua celingak celinguk melihat Fia yang tampaknya masih ada urusan ke dalam ruang produksi.
'...' Lena terdiam sejenak. Mencoba memprediksi hal apa yang akan gua katakan.
'Aku kayaknya harus cari suami Fia' Gua membuka percakapan.
'Maksudnya?' Lena cukup kaget. Mungkin dia mengira gua ngelindur sore sore.
'Ya status dan kondisi Fia kan dalam posisi mengambang Len, km tau itu kan? Satu satunya cara yang bisa aku lakukan untuk Fia saat ini ya cm itu Len.'
'...'
'Gmn? Kamu ada prndapat?
'Kenapa Bapak harus minta pendapat saya untuk masalah ini?'
'...' Gua gantian terdiam.
'....'
'Karena kamu yang bisa aku percaya Len'
'Cuma itu?'
'....'
'...'
'Ya karena sadar atau tidak, aku mulai butuh kamu dalam mengambil keputusan2 ini Len'
'...'
'Kamu juga punya peran dalam cerita ini kan?'
'Ya Pak.'
'Bukankah saat ini kita sama sama sedang bertarung untuk hal hal yang kita cita2kan?'
'Sayangnya hal yang kita cita-citakan gak sama' Lena tersenyum.
'Hehe' Gua tersenyum memandang Lena.
'Kalo Bapak berani cari suami Fia, itu hal yang hebat Pak.'
'Kenapa kamu bisa ngomong kaya gt?'
'Kalo semisal Fia setelah ketemu suaminya, menurut Bapak apa yang akan terjadi?
'....' gua tiba- tiba teringat Ari. Bukankah sosok keberadaan Ari yang selama ini belum disadari Ihsan, bisa mengubah segala hal?
'Gimana Pak?'
'Ya semisalpun Fia balik lagi sama suaminya. Itu ga menyalahi aturan apa apa dan aku juga ga bikin dosa apa apa kan?'
'Aturan di sini yang salah Pak' Lena meletakkan tangannya di dada gua. Gua saat itu menyadari penuh akan apa yang gua perbuat. Termasuk semua resikonya.
'Ya aku tau Len'
'Apa Bapak sudah siap?'
'....' gua terdiam dulu. Bukannya ragu-ragu akan jawab yang akan gua katakan namun gua cuma membayangkan sebentar bagaimana rasanya nanti kalau Fia meninggalkan gua.
'Siap Len' Gua tersenyum.
'....'
'Bukankah kamu yang ajarin aku buat siap untuk hal seperti ini?'
'Hehe Bapak bisa aja'
'Beneran kok'
'Kalo gitu aku dukung 100% Pak' senyum Lena saat itu begitu menguatkan gua. Gua harus bisa menghadapi ini semua. Ga muluk-muluk. Gua cuma pengen bisa seperti Lena.
Dan gua juga baru sadar betapa gilanya gua. Oke maaf kalau terkesan lebay, tapi gua merasa seperti menanyakan perihal suami calon istri muda gua ke istri tua gua. Membingungkan ya hidup ini.
--
' Ni tong yang gua punya' Akhirnya gua memberikan bukti-bukti keberadaan Target Operasi Gua ke gentong. Selembar kertas fotokopi ktp, dan selembar foto yang gua dapat dengan susah payah. O ya gimana gua bs dapet foto ihsan? Gampang. Gua anter Fia ke rumah dan gua jepret aja foto yang dipajang di dinding rumah Fia. Ga terlalu jelas tapi sepertinya bisa membantu.
'Oke. Gua bawa fotonya, Lo bawa ktpnya?'
'Trus gua harus mulai drmana tong?'
'Hehe lo ke kantor transmigrasi ato kantor apaan lah yang ngurus pindah2 gt oke?'
'Hmm' Bener juga kata gentong. Awal yang bagus gua pikir untuk mencari keberadaan ihsan.
'Gimana? Lo paham kan?'
'Iya iya. Tenang aja tong'
'Muka lo kayak orang bloon gitu'
'Hahaha... Eh btw lo mau apain foto itu'
'Gua punya orang kepercayaan. Dia sopir lintas sumatra. Yah sapa tau dia bisa dapet info mengenai ini' Gentong mengibas-ibaskan foto yang gua kasi.
'Gila lo brilian coy'
'Hm gua gitu loh.'
'Hahaha yuk gua traktir. Lo mau makan apa aja gua bayarin'
'Makan apaan?'
'Ati..'
'Eh kunyukk' Gentong mw jitak kepala gua dengan mukanya yang dilipet ke atas.
'Sate ati? Ga mau?'
'Eh mau mau' Gentong langsung ngikutin gua jalan kayak anak kecil mw dikasi permen.
Life is adventure.. Life is like a cinema.. But it is not a cinema. This is real dude..
IT'S NOT A CINEMA
'Apaan lo saudagar saudagar? Gak jelas tong saran lo'
'Eh diem dulu kawan. Hm hm lo punya data apa aja tentang suaminya Fia?'
'Gak punya si. Hmm kayaknya bisa deh tong kalo fotokopi ktp'
'Maksud lo?'
'kayaknya gua punya surat2nya waktu fia ajukan asuransi.'
'Bisa kayaknya tuh.'
'Ya udah gua usahain itu dulu ya tong'
'Ya udah buruan, gua 2 hari lagi udah balik soalnya'
'Oke oke bos. Lo nikmati waktu lo di sini dl aja oke?'
---
Balik ke pabrik gua cepet2 selesaikan kerjaan gua yang tertunda gara gara gentong tadi. Gua sengaja ga mw buru2 cari bukti identitas Ihsan karena gua berusaha tetap mengutamakan kewajiban gua waktu kerja.
'Len..'
'Ya Pak?' Gua nyamperin Lena. Kira2 mungkin udah seperempat matahari waktunya.
'Hm aku mw ngomong sesuatu ke kamu. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf dulu.'
'Kenapa minta maaf pak?'
'Karena ini ttg Fia' gua celingak celinguk melihat Fia yang tampaknya masih ada urusan ke dalam ruang produksi.
'...' Lena terdiam sejenak. Mencoba memprediksi hal apa yang akan gua katakan.
'Aku kayaknya harus cari suami Fia' Gua membuka percakapan.
'Maksudnya?' Lena cukup kaget. Mungkin dia mengira gua ngelindur sore sore.
'Ya status dan kondisi Fia kan dalam posisi mengambang Len, km tau itu kan? Satu satunya cara yang bisa aku lakukan untuk Fia saat ini ya cm itu Len.'
'...'
'Gmn? Kamu ada prndapat?
'Kenapa Bapak harus minta pendapat saya untuk masalah ini?'
'...' Gua gantian terdiam.
'....'
'Karena kamu yang bisa aku percaya Len'
'Cuma itu?'
'....'
'...'
'Ya karena sadar atau tidak, aku mulai butuh kamu dalam mengambil keputusan2 ini Len'
'...'
'Kamu juga punya peran dalam cerita ini kan?'
'Ya Pak.'
'Bukankah saat ini kita sama sama sedang bertarung untuk hal hal yang kita cita2kan?'
'Sayangnya hal yang kita cita-citakan gak sama' Lena tersenyum.
'Hehe' Gua tersenyum memandang Lena.
'Kalo Bapak berani cari suami Fia, itu hal yang hebat Pak.'
'Kenapa kamu bisa ngomong kaya gt?'
'Kalo semisal Fia setelah ketemu suaminya, menurut Bapak apa yang akan terjadi?
'....' gua tiba- tiba teringat Ari. Bukankah sosok keberadaan Ari yang selama ini belum disadari Ihsan, bisa mengubah segala hal?
'Gimana Pak?'
'Ya semisalpun Fia balik lagi sama suaminya. Itu ga menyalahi aturan apa apa dan aku juga ga bikin dosa apa apa kan?'
'Aturan di sini yang salah Pak' Lena meletakkan tangannya di dada gua. Gua saat itu menyadari penuh akan apa yang gua perbuat. Termasuk semua resikonya.
'Ya aku tau Len'
'Apa Bapak sudah siap?'
'....' gua terdiam dulu. Bukannya ragu-ragu akan jawab yang akan gua katakan namun gua cuma membayangkan sebentar bagaimana rasanya nanti kalau Fia meninggalkan gua.
'Siap Len' Gua tersenyum.
'....'
'Bukankah kamu yang ajarin aku buat siap untuk hal seperti ini?'
'Hehe Bapak bisa aja'
'Beneran kok'
'Kalo gitu aku dukung 100% Pak' senyum Lena saat itu begitu menguatkan gua. Gua harus bisa menghadapi ini semua. Ga muluk-muluk. Gua cuma pengen bisa seperti Lena.
Dan gua juga baru sadar betapa gilanya gua. Oke maaf kalau terkesan lebay, tapi gua merasa seperti menanyakan perihal suami calon istri muda gua ke istri tua gua. Membingungkan ya hidup ini.
--
' Ni tong yang gua punya' Akhirnya gua memberikan bukti-bukti keberadaan Target Operasi Gua ke gentong. Selembar kertas fotokopi ktp, dan selembar foto yang gua dapat dengan susah payah. O ya gimana gua bs dapet foto ihsan? Gampang. Gua anter Fia ke rumah dan gua jepret aja foto yang dipajang di dinding rumah Fia. Ga terlalu jelas tapi sepertinya bisa membantu.
'Oke. Gua bawa fotonya, Lo bawa ktpnya?'
'Trus gua harus mulai drmana tong?'
'Hehe lo ke kantor transmigrasi ato kantor apaan lah yang ngurus pindah2 gt oke?'
'Hmm' Bener juga kata gentong. Awal yang bagus gua pikir untuk mencari keberadaan ihsan.
'Gimana? Lo paham kan?'
'Iya iya. Tenang aja tong'
'Muka lo kayak orang bloon gitu'
'Hahaha... Eh btw lo mau apain foto itu'
'Gua punya orang kepercayaan. Dia sopir lintas sumatra. Yah sapa tau dia bisa dapet info mengenai ini' Gentong mengibas-ibaskan foto yang gua kasi.
'Gila lo brilian coy'
'Hm gua gitu loh.'
'Hahaha yuk gua traktir. Lo mau makan apa aja gua bayarin'
'Makan apaan?'
'Ati..'
'Eh kunyukk' Gentong mw jitak kepala gua dengan mukanya yang dilipet ke atas.
'Sate ati? Ga mau?'
'Eh mau mau' Gentong langsung ngikutin gua jalan kayak anak kecil mw dikasi permen.
Life is adventure.. Life is like a cinema.. But it is not a cinema. This is real dude..
0
Kutip
Balas