- Beranda
- Cerita Pejalan Domestik
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
...
TS
satriacustom
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
Quote:
This is My Holiday Story, Happy Reading
Tekan SHIFT+X untuk membuka spoiler secara otomatis
Quote:
Rutinitas perkuliahan kami lalui setiap harinya, hingga pada akhirnya tercetuslah ide untuk berlibur ke suatu tempat yang baru dan belum pernah kami singgahi bersama. Setelah berdiskusi mengenai tempat tujuan, terpilihlah Kota Cilacap sebagai tujuan utama. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan liburan kali ini sejak sebelum UTS dilaksanakan. Rencananya kami akan berangkat dua minggu setelah UTS berlangsung selama tiga hari dua malam. Sebelumnya perkenalkan dahulu teman-teman saya yang mengikuti liburan kali ini, yang pertama Yanuar dengan pasangannya Dhea menggunakan Yamaha Jupiter Z, Iwan dan Riza menggunakan Honda Absolute Revo, Ryan dan Adine menggunakan Suzuki Shogun SP, Imam dengan Supra X, Dani dengan Kawasaki Athlete dan saya sendiri menggunakan Kebo kesayangan, hehe.. Kebetulan kami semua memang satu kelas sehingga komunikasi dan koordinasi mengenai liburan ini semakin mudah dibahas bersama. Mengapa kami memilih ke Cilacap? Karena dua teman saya, Imam dan Dani kebetulan bertempat tinggal di kota ngapak tersebut, selain bisa berkeliling di tempat wisatanya juga dapat bersilahturahmi dan singgah di rumahnya.
Quote:
Diubah oleh satriacustom 06-06-2014 23:28
0
10K
Kutip
62
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cerita Pejalan Domestik 
2.1KThread•3.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
satriacustom
#5
(Lanjutan) Day 2 - 19 April 2014
Quote:
Kami tiba di Benteng Karang Bolong pada pukul 13.30 WIB. Kesan pertama yang kami tangkap adalah mistis sekali. Benteng ini usianya sudah sangat tua dan bangunannya pun tidak terurus lagi, dibangun pada tahun 1873 sebagai peninggalan Kolonial Belanda. Benteng ini sebenarnya didirikan oleh Bangsa Portugis namun kemudian berhasil direbut kekuasaannya oleh Belanda. Fungsi didirikannya benteng ini adalah sebagai kutup pertahanan guna menyangkal serangan musuh yang datang dari arah laut dan sebagai gudang penyimpan rempah-rempah milik Belanda. Benteng Karang Bolong merupakan wisata budaya dan wisata monumental yang memiliki nilai sejarah tinggi. Namun sayang keberadaannya semakin tertutup dan misterius karena bangunannya mulai ditutupi oleh pohon-pohon besar.
![kaskus-image]()
Benteng yang terletak di tengah kawasan hutan lindung ini memiliki luas ± 6.000 m2 dan mempunyai 3 struktur benteng utama dimana salah satunya adalah benteng bertingkat tiga ini yang mempunyai ruang rapat besar. Benteng ini terbuat dari bata berlepa dan di dalamnya terdapat sejumlah ruangan seperti ruang komandan, ruang pertahanan, ruang logistik, barak prajurit dan dilengkapi dengan pagar tembok keliling, bangunan pengintai dengan lubang-lubang penembakan, gudang amunisi dan bangunan perlindungan. Aktifitas yang diawasi adalah jalur pelayaran Samudra Hindia dan jalur masuk ke Pelabuhan Tanjung Intan, antara Benteng Pendem dan Benteng Karang Bolong keduanya saling melengkapi dalam hal pengawasan aktifitas perairan Teluk Penyu.
Di sini pun kami bebas berkeliling menuju ke dalam ruang-ruang yang ada. Tiap lorong yang ada di benteng ini memberikan gambaran sistem pertahanan yang dibangun oleh Belanda. Karena penasaran sebagian dari kami terpisah, Ryan, Adine, Riza, Imam dan saya sendiri semakin masuk ke dalam area benteng ini. Padahal tidak ada petunjuk sama sekali, hanya bermodal nekat demi mencari sebuah pengalaman baru, akhirnya kami masuk ke dalam lorong yang sangat gelap tersebut dan menuruni beberapa anak tangga. Namun ada sesuatu yang mengganjal, setelah kami masuk dan di tengah perjalanan di dalam lorong, hasil jepretan dari teman saya, Imam gagal semuanya. Blur total, bahkan terdapat jelas sosok orbs di balik lensa.
![kaskus-image]()
Kontur jalan terus semakin menurun hingga akhirnya kami keluar dari lorong dan melewati beberapa ruangan besar. Akhirnya tembus ke jalan keluar yang menghadap langsung ke arah laut. Bahkan kami menemukan sebuah meriam yang sangat besar, terdapat bastion dengan landasan meriamnya, tak heran jika Benteng Karang Bolong ini sering disebut benteng artileri.
Akhirnya kami keluar dari kawasan Benteng Karang Bolong dan bertemu lagi dengan rombongan lain yang sempat terpisah tadi. Lalu trip terakhir kami di pulau ini adalah mengunjungi salah satu pantai di Nusakambangan. Tidak jauh dari lokasi benteng ini terdapat sebuah pantai. Setelah berjalan kaki tak lebih dari 15 menit akhirnya kami sampai di Pantai Karang Pandan. Pantai tersebut berkoordinat di Lat S7.76158º Long E109.04404º.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Pantai ini merupakan salah satu deretan pantai wisata yang ada di Nusakambangan Timur. Terdapat dua buah pulau karang, yaitu Pulau Majethi yang menurut masyarakat sekitar, dipercaya sebagai tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma. Pantai ini sering dikunjungi oleh peziarah pada hari Kamis Wage atau sehari menjelang pelaksanaan Larungan Sesaji (sedekah laut) karena di pantai ini banyak terdapat berbagai tempat yang dianggap keramat.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Sebenarnya dari awal keberangkatan menuju ke Nusakambangan ini salah satu dari kami, Yanuar merasakan tidak enak badan. Awalnya dia memilih untuk tinggal dan menunggu kami di dekat Benteng Pendem saja. Namun karena ajakan dan paksa’an dari kami semua serta terutama nyonyahnya, akhirnya bujukan kami berhasil. Meski ia masih saja terlihat lelah, yang penting istirahat saja, sayang sudah jauh-jauh sampai di Cilacap, namun tidak berkunjung di Nusakambangan. Semangat kawan!
![kaskus-image]()
Sekarang waktunya acara bebas, gelar matras di bawah pohon yang rindang, ah.. sejuk sekali. Bermain air di tepi pantai, airnya jernih sekali, berjalan-jalan di area pantai pasir putihnya lengkap dengan pecahan karang yang unik-unik. Yang merasa lapar, tinggal menuju ke belakang sudah tersedia warung makan sederhana yang menjajankan menu makanan khas pantai dan khas Cilacap. Kami memesan beberapa buah mendoan khas Cilacap. Langsung dimakan saat masih panas ditemani sambal dan saos, wuiih enak sekali.
Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 15.00 WIB. Kami pun harus segera bersiap diri untuk kembali ke dermaga karena takutnya nanti terlalu sore, perahu yang kami carter sudah tidak ada. Sebenarnya kami masih kurang puas berada di pantai ini, mungkin di lain kesempatan nanti kami bisa kembali ke pulau yang eksotis nan mistis ini.
![kaskus-image]()
Setelah selesai kami berjalan kaki lagi meninggalkan pantai tersebut dan langsung menuju ke dermaga. Nomor kontak nelayan yang kami carter, kami coba untuk menghubunginya dengan maksud memberitahukan posisi kami yang sedang otw kembali ke dermaga. Tapi sayang, entah pending atau sinyal di sini kurang bagus, kami tidak bisa berkomunikasi.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Dengan menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai di dermaga. Alamdullilah ternyata si nelayan tersebut masih setia menunggu kami, kami langsung saja naik ke perahu yang berbeda dengan awal keberangkatan tadi bersamaan dengan dua orang penumpang lain.
Tak lama kemudian kami mulai berlayar, kembali ke Tanah Jawa. Cuaca pada sore hari itu sangat cerah, air di selat pun begitu tenang. Yang awal nya tadi saya duduk di depan, kini saya giliran duduk di belakang. Panas sih, karena di belakang ada atapnya sebagai pelindung dari sengatan matahari langsung, hehe..
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Akhirnya kami sampai di tepi Pantai Teluk Penyu dengan selamat. Kunjungan ke Nusakambangan yang sangat seru, semoga di lain waktu bisa mampir berkunjung lagi. Tentunya menuju ke pantai-pantai yang belum sempat kami kunjungi.
Setelah beres dengan pembayaran carter perahu, kami segera kembali ke tempat parkir dimana kendaraan kami titipkan. Tujuan kami kini telah selesai, dan saatnya sekarang kami beristirahat. Setelah ini kami langsung menuju ke rumah Dani, salah satu teman kami yang berdomisili di Cilacap Kota. Rencananya kami akan bermalam di kediaman Dani dan hari esoknya langsung pulang kembali menuju ke Yogyakarta.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Rumah kediaman Dani berada di daerah Rinjani, tepatnya di Perum Griya Rinjani Prima. Tidak jauh dari lokasi pantai, hanya sekitar 6 km saja. Pukul 17.00 WIB sampailah kami di rumah tersebut.
Senang rasanya bisa bersilahturahmi ke rumah teman-teman saya, salah satu kunci untuk menjaga agar rasa solidoritas semakin kuat. Pertama kalinya kami sampai, kami segera memposisikan kendaraan masing-masing di garasi lalu di sambut dengan baik oleh kedua orang tua Dani. Setelah mandi dan merapikan barang bawaan kini saatnya yang ditunggu-tunggu tela tiba, makan malam!
![kaskus-image]()
Saatnya waktunya bebas, kami berkumpul di ruang tamu dan menggelar kasur di sini. Yang mau makan silakan, yang jalan-jalan di komplek, yang curhat-curhatan, sampai yang lagi kerok’an (Yanuar, yang sempet drop tadi minta dikerokin, hehe).
![kaskus-image]()
Iseng-iseng kami keluar, jalan-jalan malam di sekitar Jalan Rinjani pada pukul 21.30 WIB. Entah tanpa tujuan yang jelas, yang penting menikmati suasana malam terakhir di Kota Cilacap.
Sekitar berjalan kaki selama 15 menit, akhirnya kami putuskan untuk mampir ke salah satu warung jajanan di Jalan Rinjani. Sepertinya warung ini menjadi tempat nongkrongnya anak-anak muda di sini, terlihat banyak dan ramainya pengunjung yang rata-rata masih ABG. Kami semua hanya memesan varian jus saja. Sekedar bersantai menikmati suasana malam Kota Cilacap.
Akhirnya kami pulang ke rumah Dani pada pukul 11.00 WIB dan segera beristirahat merebahkan badan. Kami semua tidur di ruang tamu yang sudah dibentangkan kasur besar dan yang special, Dhea beristirahat di kamar Dani saja. Ah.. capek sekali hari ini, penuh dengan kegiatan namun mengasyikan. Selamat malam, selamat tidur.
Spoiler for Menuju ke dalam benteng:
Spoiler for spoiler:

Benteng yang terletak di tengah kawasan hutan lindung ini memiliki luas ± 6.000 m2 dan mempunyai 3 struktur benteng utama dimana salah satunya adalah benteng bertingkat tiga ini yang mempunyai ruang rapat besar. Benteng ini terbuat dari bata berlepa dan di dalamnya terdapat sejumlah ruangan seperti ruang komandan, ruang pertahanan, ruang logistik, barak prajurit dan dilengkapi dengan pagar tembok keliling, bangunan pengintai dengan lubang-lubang penembakan, gudang amunisi dan bangunan perlindungan. Aktifitas yang diawasi adalah jalur pelayaran Samudra Hindia dan jalur masuk ke Pelabuhan Tanjung Intan, antara Benteng Pendem dan Benteng Karang Bolong keduanya saling melengkapi dalam hal pengawasan aktifitas perairan Teluk Penyu.
Spoiler for Ruang Komandan:
Di sini pun kami bebas berkeliling menuju ke dalam ruang-ruang yang ada. Tiap lorong yang ada di benteng ini memberikan gambaran sistem pertahanan yang dibangun oleh Belanda. Karena penasaran sebagian dari kami terpisah, Ryan, Adine, Riza, Imam dan saya sendiri semakin masuk ke dalam area benteng ini. Padahal tidak ada petunjuk sama sekali, hanya bermodal nekat demi mencari sebuah pengalaman baru, akhirnya kami masuk ke dalam lorong yang sangat gelap tersebut dan menuruni beberapa anak tangga. Namun ada sesuatu yang mengganjal, setelah kami masuk dan di tengah perjalanan di dalam lorong, hasil jepretan dari teman saya, Imam gagal semuanya. Blur total, bahkan terdapat jelas sosok orbs di balik lensa.
Spoiler for Suasana lorong di benteng yang gelap gulita:
Spoiler for Hasil jadi jepretan di dalam lorong:

Kontur jalan terus semakin menurun hingga akhirnya kami keluar dari lorong dan melewati beberapa ruangan besar. Akhirnya tembus ke jalan keluar yang menghadap langsung ke arah laut. Bahkan kami menemukan sebuah meriam yang sangat besar, terdapat bastion dengan landasan meriamnya, tak heran jika Benteng Karang Bolong ini sering disebut benteng artileri.
Spoiler for Meriam yang terdapat di dalam kawasan benteng:
Spoiler for Kembali melanjutkan perjalanan:
Akhirnya kami keluar dari kawasan Benteng Karang Bolong dan bertemu lagi dengan rombongan lain yang sempat terpisah tadi. Lalu trip terakhir kami di pulau ini adalah mengunjungi salah satu pantai di Nusakambangan. Tidak jauh dari lokasi benteng ini terdapat sebuah pantai. Setelah berjalan kaki tak lebih dari 15 menit akhirnya kami sampai di Pantai Karang Pandan. Pantai tersebut berkoordinat di Lat S7.76158º Long E109.04404º.
Spoiler for Pantai Karang Pandan:

Spoiler for spoiler:

Pantai ini merupakan salah satu deretan pantai wisata yang ada di Nusakambangan Timur. Terdapat dua buah pulau karang, yaitu Pulau Majethi yang menurut masyarakat sekitar, dipercaya sebagai tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma. Pantai ini sering dikunjungi oleh peziarah pada hari Kamis Wage atau sehari menjelang pelaksanaan Larungan Sesaji (sedekah laut) karena di pantai ini banyak terdapat berbagai tempat yang dianggap keramat.
Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:



Spoiler for Little Craby:

Spoiler for Ternyata dia seorang pengepul batu karang:
Spoiler for Ada satu dari kami yang tepar:
Sebenarnya dari awal keberangkatan menuju ke Nusakambangan ini salah satu dari kami, Yanuar merasakan tidak enak badan. Awalnya dia memilih untuk tinggal dan menunggu kami di dekat Benteng Pendem saja. Namun karena ajakan dan paksa’an dari kami semua serta terutama nyonyahnya, akhirnya bujukan kami berhasil. Meski ia masih saja terlihat lelah, yang penting istirahat saja, sayang sudah jauh-jauh sampai di Cilacap, namun tidak berkunjung di Nusakambangan. Semangat kawan!
Spoiler for Menikmati mendoan khas Cilacap:

Sekarang waktunya acara bebas, gelar matras di bawah pohon yang rindang, ah.. sejuk sekali. Bermain air di tepi pantai, airnya jernih sekali, berjalan-jalan di area pantai pasir putihnya lengkap dengan pecahan karang yang unik-unik. Yang merasa lapar, tinggal menuju ke belakang sudah tersedia warung makan sederhana yang menjajankan menu makanan khas pantai dan khas Cilacap. Kami memesan beberapa buah mendoan khas Cilacap. Langsung dimakan saat masih panas ditemani sambal dan saos, wuiih enak sekali.
Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 15.00 WIB. Kami pun harus segera bersiap diri untuk kembali ke dermaga karena takutnya nanti terlalu sore, perahu yang kami carter sudah tidak ada. Sebenarnya kami masih kurang puas berada di pantai ini, mungkin di lain kesempatan nanti kami bisa kembali ke pulau yang eksotis nan mistis ini.
Spoiler for spoiler:

Setelah selesai kami berjalan kaki lagi meninggalkan pantai tersebut dan langsung menuju ke dermaga. Nomor kontak nelayan yang kami carter, kami coba untuk menghubunginya dengan maksud memberitahukan posisi kami yang sedang otw kembali ke dermaga. Tapi sayang, entah pending atau sinyal di sini kurang bagus, kami tidak bisa berkomunikasi.
Spoiler for Berjalan kembali menuju ke dermaga:




Spoiler for Jembatan darurat, sebagai akses jalur utama untuk odong-odong yang keluar masuk di kawasan hutan:


Dengan menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai di dermaga. Alamdullilah ternyata si nelayan tersebut masih setia menunggu kami, kami langsung saja naik ke perahu yang berbeda dengan awal keberangkatan tadi bersamaan dengan dua orang penumpang lain.
Spoiler for Suasana di dermaga pada sore hari:
Tak lama kemudian kami mulai berlayar, kembali ke Tanah Jawa. Cuaca pada sore hari itu sangat cerah, air di selat pun begitu tenang. Yang awal nya tadi saya duduk di depan, kini saya giliran duduk di belakang. Panas sih, karena di belakang ada atapnya sebagai pelindung dari sengatan matahari langsung, hehe..
Spoiler for OTW kembali ke Cilacap:


Spoiler for Sampailah kami di tepi pantai:

Akhirnya kami sampai di tepi Pantai Teluk Penyu dengan selamat. Kunjungan ke Nusakambangan yang sangat seru, semoga di lain waktu bisa mampir berkunjung lagi. Tentunya menuju ke pantai-pantai yang belum sempat kami kunjungi.
Spoiler for Ciee, yang sudah sehat..:
Spoiler for Hei, Nusakambangan, tunggu kehadiran kami lagi:
Setelah beres dengan pembayaran carter perahu, kami segera kembali ke tempat parkir dimana kendaraan kami titipkan. Tujuan kami kini telah selesai, dan saatnya sekarang kami beristirahat. Setelah ini kami langsung menuju ke rumah Dani, salah satu teman kami yang berdomisili di Cilacap Kota. Rencananya kami akan bermalam di kediaman Dani dan hari esoknya langsung pulang kembali menuju ke Yogyakarta.
Spoiler for Buat kenangan dulu di balik lensa:
Spoiler for Perjalanan menuju ke rumah Dani:



Rumah kediaman Dani berada di daerah Rinjani, tepatnya di Perum Griya Rinjani Prima. Tidak jauh dari lokasi pantai, hanya sekitar 6 km saja. Pukul 17.00 WIB sampailah kami di rumah tersebut.
Spoiler for Saatnya kuda-kuda besi ini beristirahat:
Senang rasanya bisa bersilahturahmi ke rumah teman-teman saya, salah satu kunci untuk menjaga agar rasa solidoritas semakin kuat. Pertama kalinya kami sampai, kami segera memposisikan kendaraan masing-masing di garasi lalu di sambut dengan baik oleh kedua orang tua Dani. Setelah mandi dan merapikan barang bawaan kini saatnya yang ditunggu-tunggu tela tiba, makan malam!
Spoiler for Menu makan malamnya sangat lengkap, langsung lahap!:

Saatnya waktunya bebas, kami berkumpul di ruang tamu dan menggelar kasur di sini. Yang mau makan silakan, yang jalan-jalan di komplek, yang curhat-curhatan, sampai yang lagi kerok’an (Yanuar, yang sempet drop tadi minta dikerokin, hehe).
Spoiler for spoiler:

Iseng-iseng kami keluar, jalan-jalan malam di sekitar Jalan Rinjani pada pukul 21.30 WIB. Entah tanpa tujuan yang jelas, yang penting menikmati suasana malam terakhir di Kota Cilacap.
Spoiler for Di depan gerbang komplek:
Spoiler for Ada yang unik dengan gambar yang satu ini, toko besi saja ada fasilitas Drive Thru nya:
Sekitar berjalan kaki selama 15 menit, akhirnya kami putuskan untuk mampir ke salah satu warung jajanan di Jalan Rinjani. Sepertinya warung ini menjadi tempat nongkrongnya anak-anak muda di sini, terlihat banyak dan ramainya pengunjung yang rata-rata masih ABG. Kami semua hanya memesan varian jus saja. Sekedar bersantai menikmati suasana malam Kota Cilacap.
Spoiler for spoiler:
Akhirnya kami pulang ke rumah Dani pada pukul 11.00 WIB dan segera beristirahat merebahkan badan. Kami semua tidur di ruang tamu yang sudah dibentangkan kasur besar dan yang special, Dhea beristirahat di kamar Dani saja. Ah.. capek sekali hari ini, penuh dengan kegiatan namun mengasyikan. Selamat malam, selamat tidur.
Quote:
Rincian pengeluaran biaya hari ini :
- Belanja minuman di minimarket SPBU : Rp 5.000,-
- HTM Pantai Teluk Penyu : Rp 6.000,-
- HTM Benteng Pendem dan parkir : Rp 8.000,-
- HTM Pulau Nusakambangan : Rp 5.000,-
- Iuran carter perahu nelayan : Rp 15.000,-
- Jajan Jus Cappuccino : Rp 4.000,-
- Belanja minuman di minimarket SPBU : Rp 5.000,-
- HTM Pantai Teluk Penyu : Rp 6.000,-
- HTM Benteng Pendem dan parkir : Rp 8.000,-
- HTM Pulau Nusakambangan : Rp 5.000,-
- Iuran carter perahu nelayan : Rp 15.000,-
- Jajan Jus Cappuccino : Rp 4.000,-
0
Kutip
Balas
Shortcut Ride Reports