- Beranda
- Cerita Pejalan Domestik
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
...
TS
satriacustom
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
Quote:
This is My Holiday Story, Happy Reading
Tekan SHIFT+X untuk membuka spoiler secara otomatis
Quote:
Rutinitas perkuliahan kami lalui setiap harinya, hingga pada akhirnya tercetuslah ide untuk berlibur ke suatu tempat yang baru dan belum pernah kami singgahi bersama. Setelah berdiskusi mengenai tempat tujuan, terpilihlah Kota Cilacap sebagai tujuan utama. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan liburan kali ini sejak sebelum UTS dilaksanakan. Rencananya kami akan berangkat dua minggu setelah UTS berlangsung selama tiga hari dua malam. Sebelumnya perkenalkan dahulu teman-teman saya yang mengikuti liburan kali ini, yang pertama Yanuar dengan pasangannya Dhea menggunakan Yamaha Jupiter Z, Iwan dan Riza menggunakan Honda Absolute Revo, Ryan dan Adine menggunakan Suzuki Shogun SP, Imam dengan Supra X, Dani dengan Kawasaki Athlete dan saya sendiri menggunakan Kebo kesayangan, hehe.. Kebetulan kami semua memang satu kelas sehingga komunikasi dan koordinasi mengenai liburan ini semakin mudah dibahas bersama. Mengapa kami memilih ke Cilacap? Karena dua teman saya, Imam dan Dani kebetulan bertempat tinggal di kota ngapak tersebut, selain bisa berkeliling di tempat wisatanya juga dapat bersilahturahmi dan singgah di rumahnya.
Quote:
Diubah oleh satriacustom 06-06-2014 23:28
0
10K
Kutip
62
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cerita Pejalan Domestik 
2.1KThread•3.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
satriacustom
#4
Day 2 - 19 April 2014
Quote:
Pagi yang sejuk di Cilacap Utara, saya mulai terbangun pada pukul 06.30 WIB. Saat keluar kamar rupanya yang lain masih tepar di ruang tengah.
Langsung saja saya mengambil peralatan mandi dan handuk di tempat jemuran samping rumah, setelah selesai mandi rupanya di ruang tamu sudah disajikan sarapan pagi oleh tuan rumah. Akhirnya santap pagi mengisi perut lagi. Saat itu pula teman-teman yang lain mulai bangun satu per satu.
![kaskus-image]()
Setelah semuanya selesai bersantap, kami segera mempersiapkan kembali peralatan berkendara, berkemas-kemas dan meninggalkan rumah Imam lalu dilanjut berkeliling di Kota Cilacap. Hari ini jadwalnya adalah full holiday. Setelah berpamitan kepada orang tua Imam kami segera berangkat menuju destinasi pertama yaitu Benteng Pendem.
Sepanjang perjalanan, kami sering melewati pematang sawah di kiri dan kanan jalan. Cuaca pada pagi hari itupun sangat cerah. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sejenak di sebuah SPBU karena beberapa teman yang lain harus mengisi ulang bahan bakarnya. Sambil menunggu saya mampir di sebuah minimarket yang ada di dalam komplek SPBU tersebut untuk membeli beberapa minuman segar sebagai bekal hari ini. Setelah semuanya beres kami pun melanjutkan perjalanan lagi.
Mendekati lokasi TKP, mulai terlihat tangki-tangki minyak milik Pertamina. Dibalik komplek penyimpanan BBM inilah kami memasuki gerbang masuk menuju pantai selatan dan membayar sesuai tarif yang berlaku. Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di Benteng Pendem, lokasinya berada tepat di sisi pesisir Pantai Teluk Penyu. Kami segera menepi dan memparkirkan kendaraan masing-masing di lahan yang sudah disediakan.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Mulai dari sini aktivitas treking pun dimulai, barang yang sekiranya tidak perlu dibawa kami tinggalkan di dalam box motor. Setelah semuanya siap, kami segera memasuki area benteng.
![kaskus-image]()
Setelah membayar retribusi masuk di loket masuk, kami pun mulai berjalan kaki mengelilingi area benteng tersebut. Dulunya benteng ini dinamakan “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” yang artinya adalah, “Benteng yang ada di atas tanah dan menjorok ke laut menyerupai lidah.” Hahaha lucu ya. Menurut sejarahnya, Benteng Pendem ini adalah peninggalan dari Belanda dan merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda dengan luas area mencapai 6,5 hektar. Benteng ini dibangun pada tahun 1861. Tahap pembangunannya pun memakan waktu hingga 18 tahun, mulai dari tahun 1861 sampai 1879. Proses pembangunannya pun dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bekerja paksa oleh tentara-tentara Belanda. Karenanya para pekerja paksa tersebut sudah pasti akan mati disiksa dan dicambuk oleh tentara Belanda, alasannya karena takut membocorkan rahasia dan seluk beluk pertahanan Benteng Pendem ini. Memang sadis sekali jaman itu.
![kaskus-image]()
Benteng ini difungsikan pada tahun 1942 sebagai garis pertahanan selatan Pulau Jawa bersama Benteng Karang Bolong yang berada di Pulau Nusakambangan pada masa perang melawan pasukan Jepang. Namun pada akhirnya benteng ini jatuh ditangan Jepang. Tapi selang 3 tahun, Jepang meninggalkan benteng ini karena Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu. Lalu benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah, digunakan para pejuang kemerdekaan untuk berlatih perang dan pendaratan laut. Seiring waktu berjalan benteng inipun sudah tidak terurus lagi hingga terkubur dalam tanah sedalam ± 3,5 meter. Pemerintah Kabupaten Cilacap pun mulai menemukan dan menggali keberadaan benteng ini pada tahun 1986. Tak heran jika aura mistis menyelimuti kawasan ini, terbukti sudah ditegaskan oleh sebuah progam televisi swasta yang mengadakan acara uji nyali di sini.
Di area sekitar benteng ini sudah diperlengkap dengan fasilitas tambahan seperti tempat untuk bermain anak, beberapa gazebo, ayunan dan juga perahu bebek bagi yang ingin mengelilingi sepanjang parit di benteng ini. Ada pula beberapa patung dinosaurus dan beberapa ekor rusa yang sengaja dilepas bebas berkeliaran di area taman.
Dulunya Benteng Pendem ini dikelilingi oleh parit yang berkedalaman hingga 10 meter, namun sekarang sudah terlihat lebih dangkal.
![kaskus-image]()
Bangunan yang terdapat pada benteng ini terdiri dari beberapa ruangan yang sampai saat ini masih kokoh berdiri. Ruangan yang umum terdapat dalam benteng ini terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, ruang perwira dan dapur. Mitosnya terdapat pula sebuah terowongan yang menghubungkan jalan sampai ke benteng-benteng pertahanan di Nusakambangan. Sebenarnya masih banyak ruangan yang belum ditemukan dan masih tertimbun pasir sejak digali pada tahun 1986.
![kaskus-image]()
Di tengah perjalanan kami berkeliling di benteng ini, kami menaiki sebuah anak tangga yang mengarah ke atas bukit. Karena penasaran kami mencoba berjalan di atas sana.
![kaskus-image]()
Sesampainya kami di atas, kami dapat melihat area pabrik pertamina dengan latar pantai dan perbukitan. Cukup menarik menikmati suasana seperti itu. Di bawah posisi kami adalah parit dan pagar tinggi sebagai pertanda batas dari Benteng Pendem.
![kaskus-image]()
Cukup puas berada di sini, kami segera turun dan kembali mengelilingi ruangan-ruangan yang terdapat di dalam benteng ini.
![kaskus-image]()
Satu hal yang menarik menurut saya adalah ruangan penjara, area bagi tahanan yang masuk penjara yang selanjutnya akan dieksekusi untuk dicambuk sampai ia menemui ajalnya. Ruangan ini hanya berukuran 3,5 m2 yang dapat menampung 10-15 tahanan. Sebenarnya penjara ini memiliki jendela 3 lapis, namun untuk sekarang hanya tersisa 1 lapis teralis besi saja.
Lelah mengelilingi benteng ini, kami duduk dan berbaring sejenak di bawah pohon, di atas rerumputan, sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi. Cuaca pada siang hari itu sangat terik sekali. Teman kami, Yanuar sempat merasakan gejala tak enak badan, mungkin dia lapar..
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Puas berkeliling, kami segera menuju ke pintu keluar dan kembali melanjutkan destinasi berikutnya, menyebrang ke Pulau Nusakambangan, yeah! Sebelumnya mengabadikan moment dulu dibalik lensa.
Kendaraan masih kami titipkan di tempat semula, karena harus treking di sana nanti, kami kembali berkemas dan membawa perlengkapan dan perbekalan secukupnya. Masih di area tempat parkir, teman kami, Adien sedang ribut rupanya ponsel BB nya tidak ada di genggamannya. Kami bantu mencari di sekitar tempat itu tapi tidak ditemukan juga. Mungkin perkiraan kami jatuh atau lupa taruh di dalam area benteng tadi. Namun tiba-tiba salah seorang penjaga parkir datang dan menanyai kami tentang informasi kehilangan BB . ternyata benar BB tersebut sudah ada di tangan penjaga parkir tersebut. Alhamdulilah aman, rupanya kecerobohan Adien meletakan BB nya sembarangan di atas jok motor orang lain pada saat prepare packing perbekalan tadi. Beruntung ditemukan oleh orang baik, ia langsung mengembalikan BB tersebut kepada Adien, “Adien, jangan lupa bilang apa?”
![kaskus-image]()
Beres masalah yang tadi itu, akhirnya kami siap berangkat dan berlayar menuju ke Pulau Nusakambangan. Kami berjalan ke arah pantai dan menemui beberapa nelayan, mereka menawarkan kami untuk mencarter perahunya untuk paket pulang pergi ke Nusakambangan. Setelah mendapatkan harga yang cocok, yaitu Rp 15.000,-/orang kami segera bersiap menuju perahu yang sudah standby di tepi pantai. Masih di tepi Pantai Teluk Penyu, dari kejauhan Pulau Nusakambangan bisa terlihat dengan jelas. Di sepanjang daratannya penuh dengan pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi. Dari ujung ke ujung tanpa terlihat adanya bekas penebangan maupun pertanian. Berkesan misterius sekali pulau tersebut.
Pulau Nusakambangan lebih dikenal sebagai tempatnya Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang berkeamanan tinggi di Indonesia. Penghuni pulau ini hanyalah para narapidana dan pegawai LP beserta keluarganya, dibawah pengawasan Kementrian Kehakiman dan Pemda Cilacap. Populasi penduduk di sanapun ± 3.000 jiwa. Yang menetap di sana, rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan, perkebunan, penyadap karet, pemandu wisata dan penjual cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung di sana.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Sudah di tengah perjalanan, namun ternyata perahu kami berbalik arah kembali ke Pantai Teluk Penyu. Rupanya ada penumpang lain yang baru saja ingin ikut berlayar, maka dari itu akan diikut sertakan dengan perahu kami karena memang masih ada beberapa kursi di belakang yang kosong. It’s ok no problem, malah kami bisa berkeliling lebih lama mengarungi Selat Segara Anakan ini. Di tengah perjalanan kami berlayar, di sisi kanan dan kiri banyak terdapat kapal besar milik Pertamina, SAR maupun kapal-kapal milik perusahaan besar di Cilacap. Hanya memakan waktu ± 15 menit, akhirnya kami sampai di Dermaga Nusakambangan Timur.
Untuk pertama kalinya, akhirnya saya bisa menginjakan kaki di pulau ini. Memasuki pulau ini ternyata kami harus merogoh kocek lagi karena terdapat loket masuk di dermaga. Hanya sebesar Rp 5.000,- sudah mencakup berbagai tempat wisata di pulai ini. Di sekitar dermaga ini terdapat beberapa warung makan dan kios yang menjual berbagai jenis cinderamata yang salah satunya adalah cincin bermata. Menurut cerita, cincin tersebut adalah hasil karya dari narapidana yang tinggal di penjara Nusakambangan. Setelah beres bertransaksi, kami mulai berjalan kaki menelusuri kawasan hutan di Nusakambangan Timur.
Nusakambangan sering juga disebut sebagai Alcatraz nya Indonesia karena menjadi hunian para tahanan penjahat kelas kakap dengan sistem keamanan yang tinggi. Tapi tunggu dulu, pulau ini tidak melulu menyeramkan kok. Memang pulau ini terkenal sebagai tempat para penjahat, namun di sisi lain pulau ini mempunyai bentang alam yang cantik dan menawan. Dari segi geografis, di arah utaranya menghadap langsung dengan Cilacap dan terdapat perkampungan nelayan serta hutan bakau yang luas, terdapat pula pelabuhan feri utama yaitu Pelabuhan Sodong yang khusus diperuntukan untuk transportasi keluarga, pegawai dan narapidana. Di arah barat terdapat berbagai pantai cantik berpasir putih, lalu di sebelah selatannya dipenuhi banyak karang yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
![kaskus-image]()
Akses jalan menuju ke tempat-tempat wisata di Nusakambangan ini masih berupa batuan dan tanah, kontur jalannya pun naik turun. Mungkin bekas hujan beberapa hari yang lalu, tidak jarang kami juga melewati tanah yang masih becek. Namun yang kami rasakan dari suasana di dalam hutan ini sangat tenang dan cukup nyaman karena udaranya pun masih segar. Dalam perjalanan kami pun sering menjumpai lutung atau sejenis monyet berekor panjang yang sedang melompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Target kami adalah menuju ke Benteng Karang Bolong yang jaraknya ± 1 km dari dermaga tadi.
![kaskus-image]()
Di pulau ini ternyata ada sebuah alat transportasi umum yang biasa disebut dengan odong-odong, fungsinya yaitu mengantarkan wisatawan yang ingin praktis menyusuri jalan menembus hutan dan langsung menuju ke pantai terdekat. Dengan ongkos hanya Rp 5.000,-/orang untuk sekali jalan atau Rp.10.000,-/orang untuk antar jemput. Kami sengaja tidak menyewa begituan karena selain hemat pengeluaran, jalan kaki lebih sehat dan kelihatan gregetnya, hehe..
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Spoiler for Masih pulas tertidur:
Langsung saja saya mengambil peralatan mandi dan handuk di tempat jemuran samping rumah, setelah selesai mandi rupanya di ruang tamu sudah disajikan sarapan pagi oleh tuan rumah. Akhirnya santap pagi mengisi perut lagi. Saat itu pula teman-teman yang lain mulai bangun satu per satu.
Spoiler for spoiler:

Spoiler for Menu sarapan pagi:
Setelah semuanya selesai bersantap, kami segera mempersiapkan kembali peralatan berkendara, berkemas-kemas dan meninggalkan rumah Imam lalu dilanjut berkeliling di Kota Cilacap. Hari ini jadwalnya adalah full holiday. Setelah berpamitan kepada orang tua Imam kami segera berangkat menuju destinasi pertama yaitu Benteng Pendem.
Spoiler for spoiler:
Sepanjang perjalanan, kami sering melewati pematang sawah di kiri dan kanan jalan. Cuaca pada pagi hari itupun sangat cerah. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sejenak di sebuah SPBU karena beberapa teman yang lain harus mengisi ulang bahan bakarnya. Sambil menunggu saya mampir di sebuah minimarket yang ada di dalam komplek SPBU tersebut untuk membeli beberapa minuman segar sebagai bekal hari ini. Setelah semuanya beres kami pun melanjutkan perjalanan lagi.
Mendekati lokasi TKP, mulai terlihat tangki-tangki minyak milik Pertamina. Dibalik komplek penyimpanan BBM inilah kami memasuki gerbang masuk menuju pantai selatan dan membayar sesuai tarif yang berlaku. Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di Benteng Pendem, lokasinya berada tepat di sisi pesisir Pantai Teluk Penyu. Kami segera menepi dan memparkirkan kendaraan masing-masing di lahan yang sudah disediakan.
Spoiler for spoiler:


Mulai dari sini aktivitas treking pun dimulai, barang yang sekiranya tidak perlu dibawa kami tinggalkan di dalam box motor. Setelah semuanya siap, kami segera memasuki area benteng.
Spoiler for Gerbang selamat datang di Benteng Pendem:
Spoiler for spoiler:

Setelah membayar retribusi masuk di loket masuk, kami pun mulai berjalan kaki mengelilingi area benteng tersebut. Dulunya benteng ini dinamakan “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” yang artinya adalah, “Benteng yang ada di atas tanah dan menjorok ke laut menyerupai lidah.” Hahaha lucu ya. Menurut sejarahnya, Benteng Pendem ini adalah peninggalan dari Belanda dan merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda dengan luas area mencapai 6,5 hektar. Benteng ini dibangun pada tahun 1861. Tahap pembangunannya pun memakan waktu hingga 18 tahun, mulai dari tahun 1861 sampai 1879. Proses pembangunannya pun dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bekerja paksa oleh tentara-tentara Belanda. Karenanya para pekerja paksa tersebut sudah pasti akan mati disiksa dan dicambuk oleh tentara Belanda, alasannya karena takut membocorkan rahasia dan seluk beluk pertahanan Benteng Pendem ini. Memang sadis sekali jaman itu.
Spoiler for spoiler:

Benteng ini difungsikan pada tahun 1942 sebagai garis pertahanan selatan Pulau Jawa bersama Benteng Karang Bolong yang berada di Pulau Nusakambangan pada masa perang melawan pasukan Jepang. Namun pada akhirnya benteng ini jatuh ditangan Jepang. Tapi selang 3 tahun, Jepang meninggalkan benteng ini karena Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu. Lalu benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah, digunakan para pejuang kemerdekaan untuk berlatih perang dan pendaratan laut. Seiring waktu berjalan benteng inipun sudah tidak terurus lagi hingga terkubur dalam tanah sedalam ± 3,5 meter. Pemerintah Kabupaten Cilacap pun mulai menemukan dan menggali keberadaan benteng ini pada tahun 1986. Tak heran jika aura mistis menyelimuti kawasan ini, terbukti sudah ditegaskan oleh sebuah progam televisi swasta yang mengadakan acara uji nyali di sini.
Di area sekitar benteng ini sudah diperlengkap dengan fasilitas tambahan seperti tempat untuk bermain anak, beberapa gazebo, ayunan dan juga perahu bebek bagi yang ingin mengelilingi sepanjang parit di benteng ini. Ada pula beberapa patung dinosaurus dan beberapa ekor rusa yang sengaja dilepas bebas berkeliaran di area taman.
Spoiler for Patung Dino:
Spoiler for Parit benteng:
Dulunya Benteng Pendem ini dikelilingi oleh parit yang berkedalaman hingga 10 meter, namun sekarang sudah terlihat lebih dangkal.
Spoiler for spoiler:

Bangunan yang terdapat pada benteng ini terdiri dari beberapa ruangan yang sampai saat ini masih kokoh berdiri. Ruangan yang umum terdapat dalam benteng ini terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, ruang perwira dan dapur. Mitosnya terdapat pula sebuah terowongan yang menghubungkan jalan sampai ke benteng-benteng pertahanan di Nusakambangan. Sebenarnya masih banyak ruangan yang belum ditemukan dan masih tertimbun pasir sejak digali pada tahun 1986.
Spoiler for Ruang Barak:

Spoiler for Denah lokasi Benteng Pendem:
Di tengah perjalanan kami berkeliling di benteng ini, kami menaiki sebuah anak tangga yang mengarah ke atas bukit. Karena penasaran kami mencoba berjalan di atas sana.
Spoiler for spoiler:

Sesampainya kami di atas, kami dapat melihat area pabrik pertamina dengan latar pantai dan perbukitan. Cukup menarik menikmati suasana seperti itu. Di bawah posisi kami adalah parit dan pagar tinggi sebagai pertanda batas dari Benteng Pendem.
Spoiler for Pemandangan dari atas bukit benteng:

Cukup puas berada di sini, kami segera turun dan kembali mengelilingi ruangan-ruangan yang terdapat di dalam benteng ini.
Spoiler for spoiler:

Satu hal yang menarik menurut saya adalah ruangan penjara, area bagi tahanan yang masuk penjara yang selanjutnya akan dieksekusi untuk dicambuk sampai ia menemui ajalnya. Ruangan ini hanya berukuran 3,5 m2 yang dapat menampung 10-15 tahanan. Sebenarnya penjara ini memiliki jendela 3 lapis, namun untuk sekarang hanya tersisa 1 lapis teralis besi saja.
Spoiler for Ruang Klinik:
Spoiler for Gudang Senjata:
Spoiler for spoiler:
Lelah mengelilingi benteng ini, kami duduk dan berbaring sejenak di bawah pohon, di atas rerumputan, sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi. Cuaca pada siang hari itu sangat terik sekali. Teman kami, Yanuar sempat merasakan gejala tak enak badan, mungkin dia lapar..
Spoiler for Bersantai di taman:

Spoiler for Rusa liar di komplek taman benteng:

Puas berkeliling, kami segera menuju ke pintu keluar dan kembali melanjutkan destinasi berikutnya, menyebrang ke Pulau Nusakambangan, yeah! Sebelumnya mengabadikan moment dulu dibalik lensa.
Spoiler for spoiler:
Kendaraan masih kami titipkan di tempat semula, karena harus treking di sana nanti, kami kembali berkemas dan membawa perlengkapan dan perbekalan secukupnya. Masih di area tempat parkir, teman kami, Adien sedang ribut rupanya ponsel BB nya tidak ada di genggamannya. Kami bantu mencari di sekitar tempat itu tapi tidak ditemukan juga. Mungkin perkiraan kami jatuh atau lupa taruh di dalam area benteng tadi. Namun tiba-tiba salah seorang penjaga parkir datang dan menanyai kami tentang informasi kehilangan BB . ternyata benar BB tersebut sudah ada di tangan penjaga parkir tersebut. Alhamdulilah aman, rupanya kecerobohan Adien meletakan BB nya sembarangan di atas jok motor orang lain pada saat prepare packing perbekalan tadi. Beruntung ditemukan oleh orang baik, ia langsung mengembalikan BB tersebut kepada Adien, “Adien, jangan lupa bilang apa?”
Spoiler for Here we go!:

Beres masalah yang tadi itu, akhirnya kami siap berangkat dan berlayar menuju ke Pulau Nusakambangan. Kami berjalan ke arah pantai dan menemui beberapa nelayan, mereka menawarkan kami untuk mencarter perahunya untuk paket pulang pergi ke Nusakambangan. Setelah mendapatkan harga yang cocok, yaitu Rp 15.000,-/orang kami segera bersiap menuju perahu yang sudah standby di tepi pantai. Masih di tepi Pantai Teluk Penyu, dari kejauhan Pulau Nusakambangan bisa terlihat dengan jelas. Di sepanjang daratannya penuh dengan pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi. Dari ujung ke ujung tanpa terlihat adanya bekas penebangan maupun pertanian. Berkesan misterius sekali pulau tersebut.
Pulau Nusakambangan lebih dikenal sebagai tempatnya Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang berkeamanan tinggi di Indonesia. Penghuni pulau ini hanyalah para narapidana dan pegawai LP beserta keluarganya, dibawah pengawasan Kementrian Kehakiman dan Pemda Cilacap. Populasi penduduk di sanapun ± 3.000 jiwa. Yang menetap di sana, rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan, perkebunan, penyadap karet, pemandu wisata dan penjual cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung di sana.
Spoiler for On the way:



Sudah di tengah perjalanan, namun ternyata perahu kami berbalik arah kembali ke Pantai Teluk Penyu. Rupanya ada penumpang lain yang baru saja ingin ikut berlayar, maka dari itu akan diikut sertakan dengan perahu kami karena memang masih ada beberapa kursi di belakang yang kosong. It’s ok no problem, malah kami bisa berkeliling lebih lama mengarungi Selat Segara Anakan ini. Di tengah perjalanan kami berlayar, di sisi kanan dan kiri banyak terdapat kapal besar milik Pertamina, SAR maupun kapal-kapal milik perusahaan besar di Cilacap. Hanya memakan waktu ± 15 menit, akhirnya kami sampai di Dermaga Nusakambangan Timur.
Spoiler for Dermaga Nusakambangan sudah di depan mata:
Untuk pertama kalinya, akhirnya saya bisa menginjakan kaki di pulau ini. Memasuki pulau ini ternyata kami harus merogoh kocek lagi karena terdapat loket masuk di dermaga. Hanya sebesar Rp 5.000,- sudah mencakup berbagai tempat wisata di pulai ini. Di sekitar dermaga ini terdapat beberapa warung makan dan kios yang menjual berbagai jenis cinderamata yang salah satunya adalah cincin bermata. Menurut cerita, cincin tersebut adalah hasil karya dari narapidana yang tinggal di penjara Nusakambangan. Setelah beres bertransaksi, kami mulai berjalan kaki menelusuri kawasan hutan di Nusakambangan Timur.
Spoiler for Papan peringatan yang di pasang di tengah hutan:
Nusakambangan sering juga disebut sebagai Alcatraz nya Indonesia karena menjadi hunian para tahanan penjahat kelas kakap dengan sistem keamanan yang tinggi. Tapi tunggu dulu, pulau ini tidak melulu menyeramkan kok. Memang pulau ini terkenal sebagai tempat para penjahat, namun di sisi lain pulau ini mempunyai bentang alam yang cantik dan menawan. Dari segi geografis, di arah utaranya menghadap langsung dengan Cilacap dan terdapat perkampungan nelayan serta hutan bakau yang luas, terdapat pula pelabuhan feri utama yaitu Pelabuhan Sodong yang khusus diperuntukan untuk transportasi keluarga, pegawai dan narapidana. Di arah barat terdapat berbagai pantai cantik berpasir putih, lalu di sebelah selatannya dipenuhi banyak karang yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Spoiler for On the way:

Akses jalan menuju ke tempat-tempat wisata di Nusakambangan ini masih berupa batuan dan tanah, kontur jalannya pun naik turun. Mungkin bekas hujan beberapa hari yang lalu, tidak jarang kami juga melewati tanah yang masih becek. Namun yang kami rasakan dari suasana di dalam hutan ini sangat tenang dan cukup nyaman karena udaranya pun masih segar. Dalam perjalanan kami pun sering menjumpai lutung atau sejenis monyet berekor panjang yang sedang melompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Target kami adalah menuju ke Benteng Karang Bolong yang jaraknya ± 1 km dari dermaga tadi.
Spoiler for Kereta odong-odong:

Di pulau ini ternyata ada sebuah alat transportasi umum yang biasa disebut dengan odong-odong, fungsinya yaitu mengantarkan wisatawan yang ingin praktis menyusuri jalan menembus hutan dan langsung menuju ke pantai terdekat. Dengan ongkos hanya Rp 5.000,-/orang untuk sekali jalan atau Rp.10.000,-/orang untuk antar jemput. Kami sengaja tidak menyewa begituan karena selain hemat pengeluaran, jalan kaki lebih sehat dan kelihatan gregetnya, hehe..
Spoiler for spoiler:

Spoiler for Salah satu penampakan pohon besar yang sudah berumur:
Spoiler for spoiler:

Spoiler for Menembus lebatnya hutan:

Spoiler for Pemandangan laut dari atas puncak bukit:
0
Kutip
Balas
Shortcut Ride Reports