- Beranda
- Stories from the Heart
Close X Cross
...
TS
Travestron
Close X Cross
Chapter 1
The Club
Le GanBaTei Cafe
Malam mulai menyelimuti Jakarta, beberapa tempat nongkrong dan hiburan malam mulai dipenuhi tamu tamu setia mereka, baik untuk sekedar istirahat, berkumpul, atau menikmati secangkir kopi pelepas lelah. begitupun di salah satu sudut kota ini, tempat Anna dan Maya sedang duduk di meja bartender menikmati minuman mereka hasil racikan Sera, bartender Le GanBaTei.
“Ser, lemon tea aku kok asem banget ya?” Keluh Maya pada Sera.
“Kalau keasaman liatin wajah aku aja myaw?” goda Sera sambil mengedipkan mata.
“Dasar kucing, kamu kira aku lesbi apa?” sambil tersenyum balas menggoda.
“Hei kalo mau godain pegawai kesayangan gue godain gue dulu atuh Neng” bisik Lily di samping telinga Maya dengan sedikit hembusan nafas yang membuat Maya geli menggidik.
“Ih kalian apa-apaan sih, perempuan jadi-jadian mau sok jantan, udah trima nasib aja.” celetuk Anna kepada junior-juniornya yang saling menggoda sambil browsing dengan Note Pad nya dan browsing beberapa berita yang menarik. Waria satu ini menunjukkan bahwa waria pun harus sangat berwawasan.
“Mami ih, Lily ni yang godain aku, sok laki kali dia belain Sera” Bantah Maya.
“Gue masih Laki ya, mau liat?” Sambil memegang zipper skinny jeans model cewek yang di pakainya.
“Heh, laki engga ada yang make jeans begituan”. Celetuk Maya. “lagian cuma pajangan aja bangga”
“Heh perempuan....”
“Hus, brisik deh ya anak-anak mami, baru sebulan ni kafe buka bisa bubar gara-gara kalian yang berisik” potong Anna sebelum Lily membalas ucapan Maya.
“Dia nih Mi duluan!” Protes Lily.
“Hmmm.... Ser, Mochiatto kamu pas deh sesuai selera mami, makasih ya Sayang” ucap Anna sambil menikmati secangkir Mochiatto-nya.
“Thanks my lovely mommy, myaw”
“Eh, BTW Dea mana Ly? Kok engga keliatan hari ini”
“Lagi keluar bentar Mom, ada side job lain katanya”
“Nyebong[1]?”
“Mami ih, kayak engga kenal dia aja! Dia kan lesbong[2] mam!” Potong Sera disertai tawa kecilnya Maya dan Lily.
“Ada job make up assistant di JFW[3], Jessy tadi call, butuh tenaga tambahan katanya” jelas Lily
“Bagus deh, karir anak-anak mami makin nanjak semua”
“Ia dong mi, masak mau di jalan terus, naik kelas dong” tambah Maya.
“May, tadi pagi gue liat ada lekong[4] di kamar lu?” tanya Sera. Sera merasa wajib bertanya pada teman-teman dekatnya terhadap siapa saja tamu yang terlihat di kamar kos-kosan miliknya. Walaupun di cafe dia bekerja di bawah Lily, tapi dia tetaplah pemilik kos tempat Lily dan teman-temannya tinggal.
“Ia , temen aku dari Medan dateng” jelas Maya.
“Temen apa temen?” introgasi Lily.
“Temen lho, nanti dia mau kemari, nih aku tunjukin fotonya.” Maya lalu membuka sebuah page facebook, akun dengan nama Nadilla Humaira. Koleksi foto yang terlihat hanya seorang perempuan dengan hijab casual, dan beberapa foto lain sang pemilik akun dengan pakaian modis dengan model yang unik. Lily dan Anna terlihat bingung dan engga yakin dengan apa yang di tunjukan, sedikit berbeda dengan pernyataan Sera.
“Ser, lu yakin tadi cowok?” tanya Anna meyakinkan.
Sera segera menyelesaikan orderan minuman yang dibuatnya dan kembali menuju Anna, Sera memperhatikan dengan serius.
“Eh, kok mirip ya? Tapi kok perempuan?” Sera memperhatikan lebih jelas dan membongkar beberapa foto yang Maya tunjukkan.
“Kenapa dengan fotonya? Jelek ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Maya. Sera, Maya, Anna, Lily yang semula serius melihat foto semua menoleh ke suara tersebut.
“Hey... kenalin designer muda kita, Dilla”. Maya memperkenalkan Dilla pada Geng-nya. Semua memperhatikan Dilla. “Semua pakaian dan kreasi hijab yang kalian liat tadi adalah hasil karya tangannya".
“Jangan percaya Maya, aku cuma tukang jahit biasa kok.” Ungkap Dilla merendah.
Sera memperhatikan pakaian Dilla, kaos o neck lengan panjang, sweather tipis panjang sampai lutut tanpa lengan, mengingatkan Sera pada Philip, karakter di Kamen Rider Double yang sering ditonton Dea “Lu otaku[5]?”.
“Ia, fashion Jepang jadi inspirasi aku.”
“Hmmm.... satu lagi ya...” ucap Lily, di ikuti senyum penuh arti yang lainnya.
“Mungkin lu harus kenal Dea. Kalian mungkin cocok” tambah Sera, ada raut bingung di wajah Dilla. Tapi senyumnya menutupi raut tersebut.
“Oh ya, Dil kenalin. Temen-temen aku, mereka tinggal di kosan yang sama dengan kita, kalau ada apa-apa kamu bisa minta bantuan dengan mereka”
“Anna, Kamu bukan gay kan ya? Suka yang lebih mateng engga?” senyum genit mama Anna.
“Lily, Owner Caffe ini. kalo mau pesen bilang aja ke aku langsung. Aku kasih diskon kok,selama seminggu,hihi...” Lily tak mau kalah menggoda.
“Samantha, panggil aja Sera, kalau butuh apa-apa di kos, ketuk aja pintu ku. Buat kamu aku pasti ada”. Sera pun tak mau kalah.
“duduk Dil” Maya mempersilahkan Dila duduk di sebelahnya, Sera, Anna dan Lily memperhatikan cowok cantik yang ada di sebelah mereka, cara bicaranya tidak seperti waria. Lebih lelaki, tapi ada sesuatu yang salah dengan dia.
Dilla mengambil posisi duduk di sebelah Maya dan duduk dengan menyilangkan kaki. “Yah.....” keluh Sera, Lily dan Anna. Menggugaratkan wajah kecewa. “Setengah mateng juga rupanya”.
“Dilla ada urusan apa ke Jakarta?” tanya Anna.
“Mau kerja Mbak”
“Kok panggil Mbak sih, panggil Mami aja gimana? Mau kerja apa?”
“Ia, m... Mam.”
“aku mau belajar design Mbak... eh Mam, sekalian buka usaha kalau bisa disini”
“Ia Mom, kami mau pergi ke JFW bentar lagi, sekalian mau cari mesin jahit yang murah dan bagus. By The Way Dea disana kan Ly?” jelas Maya.
“Ia, teteh hubungin aja”
“grgrgrgrgrgrgt” getaran muncul di Handphone Lily. Sebuah pesan masuk dihapenya.
“Siapa say?” tanya Sera.
“Papi, dia pesan sesuatu kalo aku pergi ke Bandung”
“kamu besok jadi ke Bandung?”
“Iya sayang, sekalian mau ziarah. Jaga cafe baik-baik ya Ser selama aku pergi”
“Hendra? udah empat tahun ya?” tanya Anna.
“Iya mom” ada sedikit guratan kesedihan di wajah Lily.
“Kenapa lily” Dilla berbisik pada Maya.
“Besok tepat empat tahun pacar lily meninggal”.
Lily
Bandung, 2009
Mungkin aku engga akan pernah menemukan pria sebaik dia, yang menerima aku apa adanya, yang menerima aku seperti wanita seutuhnya. Karena itu aku menerimanya, dan menyayanginya apa adanya dia. Dia hendra, pria yang dua tahun ini sudah mengisi hidupku dan hari-hariku. Pria yang hampir sempurna dimataku kecuali satu hal.
“Udah makannya?” Tanyaku setelah Hendra mulai mual dengan hampir satu bungkus nasi padang yang aku suapi kepadanya
“Udah ah, aku, kenyang” aku tak tega melihat badannya yang semakin kurus.ironisnya Melihat itu aku juga semakin tidak nafsu makan. aku memberikan segelas air putih yang di ambilnya dari dispenser kamar kami.
Setelah aku meminumkan air yang di gelas kepadanya aku bertanya “Mau sampe kapan kamu begini?”
Hendra menjawab “Aku bisa nanya hal yang sama buat kamu”
“Aku bakal langsung berhenti jualan ini pas hutang ke rentenir brengsek itu lunas, yang gak bisa dilakuin sampe sekarang kalo kamu masih aja ngerusak tubuh kamu kayak gini”
“Ya... kamu tau kan kalo aku mau rehab nanti, aku gak bakal bohong ke kamu”
“Kapan? Udah berbulan-bulan kamu bilang itu tapi sampe sekarang...”
“Aku gak bakal bohong kalo aku lagi gak “nagih””
Nada suaraku semakin meninggi “Aku bosen tau gak nyeramahin kamu! kenapa sih kamu gak pernah dengerin omonganku!?”
Suara hendra agak lemas, tapi terdengar seperti agak marah juga “Ya udah... tampar lagi aja aku kayak waktu itu, ajarin kalo aku ini salah, kamu itu bener, kasih tau aku kalo jualan heroin itu jauh lebih baik daripada jadi pembeli, itu kan yang mau kamu bilang?”
Mendengar kata itu aku hanya terdiam tak bisa mengeluarkan sepatah kata, aku tau bahwa aku sudah menjadi pengedar jauh sebelum Hendra menjadi pecandu berat, kurasa ini karma atas pilihan hidup yang kujalani, aku hanya bisa mendesah putus asa dan duduk termenung di sampingnya.
“Aku sayang sama kamu, dan aku tau kalo aku bukan contoh yang baik buat kamu, tapi aku berusaha ngelakuin yang terbaik buat kamu, aku gak mungkin ninggalin kamu begitu aja, gak dalam keadaan kamu kayak gini... maaf kalo kamu merasa aku bikin kamu terjerumus begini” Aku mulai menitikan air mata.
Hendra kemudian merangkul tubuhku, lalu berkata “Aku gak pernah bilang begitu, aku tau kamu udah berusaha yang terbaik buat aku, dan aku hargai itu,tapi... ini sulit Ly, sangat-sangat sangat sulit, buat bisa lepas dari ini, benda ini bikin aku kehilangan semuanya, secara fisik ataupun mental,tapi aku bakal ngasih harapan ke kita berdua,bahwa suatu hari nanti,aku bisa berhenti, dan kita bisa lepas dari cengkraman tragedi ini, lalu kita mengendarai sepeda motor berdua menuju matahari yang terbenam, seperti dulu lagi,pastiin kamu gak kehilangan itu” lalu hendra memberikanku kecupan di pipi.
Aku menatap wajahnya dan tersenyum,membayangkan masa suka cita kami dulu, sebelum aku terjun ke dalam bisnis ini, masa di saat kami hanyalah sepasang sejoli bahagia,mengendarai sepeda motor besar, menjelajahi tempat dan jalan-jalan di kota Bandung bersama, Hendra mulai menyentuh wajahku dengan lembut, perlahan wajahnya mulai mendekati wajahku,aku hanya terpana dengan itu, aku mulai menyayukan mata, sampai dia mencium bibirku, aku memejamkan mata,kami bercumbu untuk beberapa saat, sampai handphoneku berdering.
BERSAMBUNG
Catatan kaki
[1] Istilah lain untuk jual diri.
[2] lesbian
[3] Jakarta Fashion Week
[4] Laki-laki
[5] (Jepang) sebutan untuk penggemar anime, manga, atau tokusatsu
INDEX
Deskripsi para Tokoh utama.
The Club
Le GanBaTei Cafe
Malam mulai menyelimuti Jakarta, beberapa tempat nongkrong dan hiburan malam mulai dipenuhi tamu tamu setia mereka, baik untuk sekedar istirahat, berkumpul, atau menikmati secangkir kopi pelepas lelah. begitupun di salah satu sudut kota ini, tempat Anna dan Maya sedang duduk di meja bartender menikmati minuman mereka hasil racikan Sera, bartender Le GanBaTei.
“Ser, lemon tea aku kok asem banget ya?” Keluh Maya pada Sera.
“Kalau keasaman liatin wajah aku aja myaw?” goda Sera sambil mengedipkan mata.
“Dasar kucing, kamu kira aku lesbi apa?” sambil tersenyum balas menggoda.
“Hei kalo mau godain pegawai kesayangan gue godain gue dulu atuh Neng” bisik Lily di samping telinga Maya dengan sedikit hembusan nafas yang membuat Maya geli menggidik.
“Ih kalian apa-apaan sih, perempuan jadi-jadian mau sok jantan, udah trima nasib aja.” celetuk Anna kepada junior-juniornya yang saling menggoda sambil browsing dengan Note Pad nya dan browsing beberapa berita yang menarik. Waria satu ini menunjukkan bahwa waria pun harus sangat berwawasan.
“Mami ih, Lily ni yang godain aku, sok laki kali dia belain Sera” Bantah Maya.
“Gue masih Laki ya, mau liat?” Sambil memegang zipper skinny jeans model cewek yang di pakainya.
“Heh, laki engga ada yang make jeans begituan”. Celetuk Maya. “lagian cuma pajangan aja bangga”
“Heh perempuan....”
“Hus, brisik deh ya anak-anak mami, baru sebulan ni kafe buka bisa bubar gara-gara kalian yang berisik” potong Anna sebelum Lily membalas ucapan Maya.
“Dia nih Mi duluan!” Protes Lily.
“Hmmm.... Ser, Mochiatto kamu pas deh sesuai selera mami, makasih ya Sayang” ucap Anna sambil menikmati secangkir Mochiatto-nya.
“Thanks my lovely mommy, myaw”
“Eh, BTW Dea mana Ly? Kok engga keliatan hari ini”
“Lagi keluar bentar Mom, ada side job lain katanya”
“Nyebong[1]?”
“Mami ih, kayak engga kenal dia aja! Dia kan lesbong[2] mam!” Potong Sera disertai tawa kecilnya Maya dan Lily.
“Ada job make up assistant di JFW[3], Jessy tadi call, butuh tenaga tambahan katanya” jelas Lily
“Bagus deh, karir anak-anak mami makin nanjak semua”
“Ia dong mi, masak mau di jalan terus, naik kelas dong” tambah Maya.
“May, tadi pagi gue liat ada lekong[4] di kamar lu?” tanya Sera. Sera merasa wajib bertanya pada teman-teman dekatnya terhadap siapa saja tamu yang terlihat di kamar kos-kosan miliknya. Walaupun di cafe dia bekerja di bawah Lily, tapi dia tetaplah pemilik kos tempat Lily dan teman-temannya tinggal.
“Ia , temen aku dari Medan dateng” jelas Maya.
“Temen apa temen?” introgasi Lily.
“Temen lho, nanti dia mau kemari, nih aku tunjukin fotonya.” Maya lalu membuka sebuah page facebook, akun dengan nama Nadilla Humaira. Koleksi foto yang terlihat hanya seorang perempuan dengan hijab casual, dan beberapa foto lain sang pemilik akun dengan pakaian modis dengan model yang unik. Lily dan Anna terlihat bingung dan engga yakin dengan apa yang di tunjukan, sedikit berbeda dengan pernyataan Sera.
“Ser, lu yakin tadi cowok?” tanya Anna meyakinkan.
Sera segera menyelesaikan orderan minuman yang dibuatnya dan kembali menuju Anna, Sera memperhatikan dengan serius.
“Eh, kok mirip ya? Tapi kok perempuan?” Sera memperhatikan lebih jelas dan membongkar beberapa foto yang Maya tunjukkan.
“Kenapa dengan fotonya? Jelek ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Maya. Sera, Maya, Anna, Lily yang semula serius melihat foto semua menoleh ke suara tersebut.
“Hey... kenalin designer muda kita, Dilla”. Maya memperkenalkan Dilla pada Geng-nya. Semua memperhatikan Dilla. “Semua pakaian dan kreasi hijab yang kalian liat tadi adalah hasil karya tangannya".
“Jangan percaya Maya, aku cuma tukang jahit biasa kok.” Ungkap Dilla merendah.
Sera memperhatikan pakaian Dilla, kaos o neck lengan panjang, sweather tipis panjang sampai lutut tanpa lengan, mengingatkan Sera pada Philip, karakter di Kamen Rider Double yang sering ditonton Dea “Lu otaku[5]?”.
“Ia, fashion Jepang jadi inspirasi aku.”
“Hmmm.... satu lagi ya...” ucap Lily, di ikuti senyum penuh arti yang lainnya.
“Mungkin lu harus kenal Dea. Kalian mungkin cocok” tambah Sera, ada raut bingung di wajah Dilla. Tapi senyumnya menutupi raut tersebut.
“Oh ya, Dil kenalin. Temen-temen aku, mereka tinggal di kosan yang sama dengan kita, kalau ada apa-apa kamu bisa minta bantuan dengan mereka”
“Anna, Kamu bukan gay kan ya? Suka yang lebih mateng engga?” senyum genit mama Anna.
“Lily, Owner Caffe ini. kalo mau pesen bilang aja ke aku langsung. Aku kasih diskon kok,selama seminggu,hihi...” Lily tak mau kalah menggoda.
“Samantha, panggil aja Sera, kalau butuh apa-apa di kos, ketuk aja pintu ku. Buat kamu aku pasti ada”. Sera pun tak mau kalah.
“duduk Dil” Maya mempersilahkan Dila duduk di sebelahnya, Sera, Anna dan Lily memperhatikan cowok cantik yang ada di sebelah mereka, cara bicaranya tidak seperti waria. Lebih lelaki, tapi ada sesuatu yang salah dengan dia.
Dilla mengambil posisi duduk di sebelah Maya dan duduk dengan menyilangkan kaki. “Yah.....” keluh Sera, Lily dan Anna. Menggugaratkan wajah kecewa. “Setengah mateng juga rupanya”.
“Dilla ada urusan apa ke Jakarta?” tanya Anna.
“Mau kerja Mbak”
“Kok panggil Mbak sih, panggil Mami aja gimana? Mau kerja apa?”
“Ia, m... Mam.”
“aku mau belajar design Mbak... eh Mam, sekalian buka usaha kalau bisa disini”
“Ia Mom, kami mau pergi ke JFW bentar lagi, sekalian mau cari mesin jahit yang murah dan bagus. By The Way Dea disana kan Ly?” jelas Maya.
“Ia, teteh hubungin aja”
“grgrgrgrgrgrgt” getaran muncul di Handphone Lily. Sebuah pesan masuk dihapenya.
“Siapa say?” tanya Sera.
“Papi, dia pesan sesuatu kalo aku pergi ke Bandung”
“kamu besok jadi ke Bandung?”
“Iya sayang, sekalian mau ziarah. Jaga cafe baik-baik ya Ser selama aku pergi”
“Hendra? udah empat tahun ya?” tanya Anna.
“Iya mom” ada sedikit guratan kesedihan di wajah Lily.
“Kenapa lily” Dilla berbisik pada Maya.
“Besok tepat empat tahun pacar lily meninggal”.
Lily
Bandung, 2009
Mungkin aku engga akan pernah menemukan pria sebaik dia, yang menerima aku apa adanya, yang menerima aku seperti wanita seutuhnya. Karena itu aku menerimanya, dan menyayanginya apa adanya dia. Dia hendra, pria yang dua tahun ini sudah mengisi hidupku dan hari-hariku. Pria yang hampir sempurna dimataku kecuali satu hal.
“Udah makannya?” Tanyaku setelah Hendra mulai mual dengan hampir satu bungkus nasi padang yang aku suapi kepadanya
“Udah ah, aku, kenyang” aku tak tega melihat badannya yang semakin kurus.ironisnya Melihat itu aku juga semakin tidak nafsu makan. aku memberikan segelas air putih yang di ambilnya dari dispenser kamar kami.
Setelah aku meminumkan air yang di gelas kepadanya aku bertanya “Mau sampe kapan kamu begini?”
Hendra menjawab “Aku bisa nanya hal yang sama buat kamu”
“Aku bakal langsung berhenti jualan ini pas hutang ke rentenir brengsek itu lunas, yang gak bisa dilakuin sampe sekarang kalo kamu masih aja ngerusak tubuh kamu kayak gini”
“Ya... kamu tau kan kalo aku mau rehab nanti, aku gak bakal bohong ke kamu”
“Kapan? Udah berbulan-bulan kamu bilang itu tapi sampe sekarang...”
“Aku gak bakal bohong kalo aku lagi gak “nagih””
Nada suaraku semakin meninggi “Aku bosen tau gak nyeramahin kamu! kenapa sih kamu gak pernah dengerin omonganku!?”
Suara hendra agak lemas, tapi terdengar seperti agak marah juga “Ya udah... tampar lagi aja aku kayak waktu itu, ajarin kalo aku ini salah, kamu itu bener, kasih tau aku kalo jualan heroin itu jauh lebih baik daripada jadi pembeli, itu kan yang mau kamu bilang?”
Mendengar kata itu aku hanya terdiam tak bisa mengeluarkan sepatah kata, aku tau bahwa aku sudah menjadi pengedar jauh sebelum Hendra menjadi pecandu berat, kurasa ini karma atas pilihan hidup yang kujalani, aku hanya bisa mendesah putus asa dan duduk termenung di sampingnya.
“Aku sayang sama kamu, dan aku tau kalo aku bukan contoh yang baik buat kamu, tapi aku berusaha ngelakuin yang terbaik buat kamu, aku gak mungkin ninggalin kamu begitu aja, gak dalam keadaan kamu kayak gini... maaf kalo kamu merasa aku bikin kamu terjerumus begini” Aku mulai menitikan air mata.
Hendra kemudian merangkul tubuhku, lalu berkata “Aku gak pernah bilang begitu, aku tau kamu udah berusaha yang terbaik buat aku, dan aku hargai itu,tapi... ini sulit Ly, sangat-sangat sangat sulit, buat bisa lepas dari ini, benda ini bikin aku kehilangan semuanya, secara fisik ataupun mental,tapi aku bakal ngasih harapan ke kita berdua,bahwa suatu hari nanti,aku bisa berhenti, dan kita bisa lepas dari cengkraman tragedi ini, lalu kita mengendarai sepeda motor berdua menuju matahari yang terbenam, seperti dulu lagi,pastiin kamu gak kehilangan itu” lalu hendra memberikanku kecupan di pipi.
Aku menatap wajahnya dan tersenyum,membayangkan masa suka cita kami dulu, sebelum aku terjun ke dalam bisnis ini, masa di saat kami hanyalah sepasang sejoli bahagia,mengendarai sepeda motor besar, menjelajahi tempat dan jalan-jalan di kota Bandung bersama, Hendra mulai menyentuh wajahku dengan lembut, perlahan wajahnya mulai mendekati wajahku,aku hanya terpana dengan itu, aku mulai menyayukan mata, sampai dia mencium bibirku, aku memejamkan mata,kami bercumbu untuk beberapa saat, sampai handphoneku berdering.
BERSAMBUNG
Catatan kaki
[1] Istilah lain untuk jual diri.
[2] lesbian
[3] Jakarta Fashion Week
[4] Laki-laki
[5] (Jepang) sebutan untuk penggemar anime, manga, atau tokusatsu
INDEX
Spoiler for Index:
Deskripsi para Tokoh utama.
Spoiler for CHAR:
Diubah oleh Travestron 13-09-2014 13:56
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
42
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Travestron
#36
Chapter 15.
Jakarta, 2014
Maya sedang latihan di sebuah studio dance bersama dengan beberapa anak didiknya. Pekerjaannya selain sebagai dancer adalah pelatih modern dance, dan juga sexy dancer di beberapa klub milik seorang pengusaha di Jakarta. Lebih sulit ternyata menjadi trainer, khususnya untuk perempuan-perempuan labil yang baru dewasa dan mencari peruntungan di jakarta hingga akhirnya terperosok di bisnis ini. karena tergiur gaji yang lumayan.
Latihan siang ini berlangsung selama dua jam, tak jauh beda dengan jadwal lainnya yang dilakukan secara rutin empat kali seminggu. Usai latihan maya mengecek handphonenya. Satu buah sms dan satu panggilan tak terjawab, ‘Florensia’ nama yang tertera di sana. “hei drag queen, gimana jakarta?’
Panggilan tak terjawab. ‘lovely mama’ ibu Maya menelepon. Maya putuskan untuk menelepon ibu. “halo, kakak... kakak kapan pulang? Adek kangen...” suara adiknya menggema di telinga.
“ia, kakak pasti pulang, tapi engga sekarang” maya menjawab. Air matanya hampir menetes. Betapa rindunya dia dengan adiknya, ibunya. Mengingatnya kembali kenapa dia tak bisa untuk kembali.
Maya
Padang. 2013
aku masih terduduk diam di kamar milik flow sejak flow membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan aku masuk. Flow sendiri masih penasaran apa yang terjadi padaku. Aku datang dengan wajah pucat yang membuat dia terbangun lebih cepat, sekitar pukul 10 pagi. Sebagai pekerja malam terbangun sekitar waktu tersebut masih dianggap sangat pagi. Karena flow dan teman-temannya baru kembali dari tempat kerja mereka sekitar pukul empat dini hari.
“kamu kenapa sih mad, kok pucat banget?” tanya flow sambil membawa segelas minuman dingin yang diletakkan di meja rias tepat disamping aku terduduk. “tadi malam juga kamu kemana? kok cepat skali kamu ilangnya?’”
Aku bukan tidak mendengar segala perkataan flow, hanya saja hal yang aku lihat sejam yang lalu di kamar hotel ketika aku sadar masih membayangiku. Darah, karambit, seorang pria yang baru aku kenal dan tak sadar diri bersimbah darah di selangkangannya, apa sebenernya yang terjadi tadi malam.
“Mad, kamu demam ya?” tanya flow, kini wajahnya terlihat khawatir, dia kini duduk mendekatiku. Tangan kanannya menyentuk keningku. Aku merasakan bulir-bulir keringat keluar dari wajahku, bahkan mungkin seluruh tubuhku. “ya udah, kamu istirahat aja, tidur disini aja” yang kemudian dengan sigap mengambil salah satu bantalnya dan meletakkan di sisiku.
Aku menatap wajah flow, ingin aku ucapkan ‘terima kasih’ tapi entah kenapa kata-kata pun sulit keluar dari mulutku, aku menuruti semua kata flow untuk berbaring di kasurnya.
“Kamu istirahat ya” Flow menarik selimutnya dan menyelimuti tubuhku. Kemudian flow juga berbaring di sampingku, kemudian memelukku. Entah kenapa aku sedikit lebih tenang, dibalik selimut dan pelukan flow “aku rasa kamu butuh sedikit tidur, karena aku juga ngantuk akibat gedoran pintu kamu di pagi buta gini”. Entah kenapa bitchi satu ini bisa membuat aku tenang berada di dekatnya. Walaupun aku tau, bukan aku saja laki-laki yang pernah tidur dikasur ini, apalagi yang pertama. Kenyamanan yang membuat aku akhirnya terlelap.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Yang jelas ketika aku terbangun aku melihat flow sudah terduduk dengan make up dan pakaian lengkap di depan meja rias. Flow selalu terlihat menawan dengan pakaian yang selalu simple, diluar waktu kerjanya sebagai dancer. “drag queen udah bangun rupanya”. dan mulutnya tajamnya bisa mengurangi nilai kata ‘menawan’ tadi.
“sialan, udah jam berapa ini? udah berapa lama aku tidur?” aku masih pusing melihat flow sedang bersiap-siap untuk kalau aku perkirakan akan keluar dalam waktu beberapa jam. Dengan siapa aku tak pernah perduli. Lagi pula kau tak pernah ada ikatan khusus dengannya.
“udah jam delapan sekarang... ” flow merapikan kembali make upnya “kamu beneran engga apa-apa?”
“engga, aku baik-baik aja kok” aku melihat jam dinding di kamar flow. Mencoba mengingat peristiwa terakhir sebelum aku akhirnya tertidur di kamar flow. Aku terbayang kembali semua kejadian yang aku lihat di hotel. Kali ini aku mulai bisa menahan ekspresiku. Aku tak ingin flow tau apa yang telah aku alami, paling engga untuk saat ini.
“oh ya, kalau kamu masih merasa engga enak badan istirahat aja, di meja juga ada nasi sama ikan sarden kalau kamu laper”. Ucap flow sambil bergerak mengambil tas kecil dan menunjuk ke arah meja di samping tempat tidurnya.
“kamu ada kerja hari ini?” tanyaku, baiklah, harus ku akui aku memang ingin tau. Mungkin tanpa kusadari selama empat tahun ini aku juga punya perasaan padanya. Bahkan dia yang menawariku pekerjaan sebagai sexy dancer di salah satu tempat hiburan ‘wanita’.
“engga, Cuma ada tamu aja, lumayan lho tawaran bayarannya”. katanya sambil mendekatiku. “oh ya, semalam kayaknya aku liat kamu pulang dengan tamu?”.
“hah, semalam?” apa flow melihatnya? Flow pasti melihatnya jika tidak kenapa dia tau atau?.
“aku lihat kamu di antar pulang sambil dibopong, kamu mabok ya semalam? Tumben?”
“oh, iya semalam aku mabok”hanya itu mungkin yang Flow tau. “biasa masalah keluarga”. Sedikit berbohong mungkin engga masalah, toh flow juga mengetahui masalah keluargaku. “mumpung ada yang traktir”.
Flow menghampiriku dan mengecup pipi kananku. “kamu istirahat aja hari ni” flow melihatku dalam. Pandangan perempuan minang ini selalu mempesonaku, diluar pekerjaan ’sampingan’ “lagian kau bau banget” dan mulutnya yang tajam. “aku cabut dulu ya, udah telat ni”. Aku hanya melambaikan tangan.
Perkenalan aku dan flow berawal ketika kami sama-sama masih di bangku SMA. Saat sekolah kami mengadakan komptisi tari modern antar sekolah. Sekolah aku dan flow berbeda, saat itu kompetisi di adakan di sekolah ku, aku masih ingat seusai performing dari sekolahku. Flow menghampiriku di backstage, tempat semua peserta berkumpul, termaksud sekolah flow. aku juga masih ingat saat dia mengajak berkenalan aku hanya bisa diam. Bukan karena aku pemalu saat itu, aku takut aja jati diriku sebagai pria ketahuan. Walaupun teman-teman satu sekolah sudah tau, tapi sangat jarang ada anak sekolah lain, atau yang baru pertama melihatku dengan busana wanita menyadari bahwa aku pria.
“kamu cowok kan?” bisiknya saat itu. Aku Cuma mengangguk. “waw, aku hampir tertipu lho tadi”. Sejak saat itu aku dan flo makin dekat. Dia sering mengajak aku keluar untuk sekedar hangout, atau main ke studio tari milik temannya. Jika hangout pun kami tidak pernah berdua. biasa bareng teman-temannya. Bahkan engga jarang dia dengan pacar-pacarnya yang tiap bulan berganti. Kadang malah hitungan minggu.
Setelah tamat flow melanjut di salah satu universitas swasta. Sedangkan aku bekerja membantu usaha ibu. Walau ibu menyuruhku melanjutkan studi ku semua kutolak, karena kebiasaan buruk ayah yang menghabiskan uang, dan biaya pendidikan adik-adikku. Flow sendiri walaupun melanjutkan studi, tapi pada malam hari dia juga menari di sejumlah tempat hiburan malam. Pernah suatu kali dia kekurangan anggota tari, dan flow memintaku untuk ikut mengisi kelompoknya yang semuanya adalah perempuan. Hingga akhirnya aku juga harus menari dengan kostum wanita lagi.
Perutku mulai terasa lapar, dan kerongkonganku juga terasa sangat kering. Mungkin aku harus makan sedikit untuk meredakan segala kecemasan dikepalaku. Aku menatap piring yang berisi ikan sarden kaleng,sambal dan sayur bayam. Sederhana tapi cukup menggoda untuk perut yang sudah hampir dua puluh empat jam tidak terisi makanan. Bahkan tak cukup lama bagiku untuk menghabisi satu porsi menu lengkap tersebut.
Usai makan fikiranku mulai sedikit lebih tenang. Aku mulai memikirkan apa yang harus kulakukan. Bagaimana jika ada yang melihatku? Bagaimana jika nanti polisi mengejarku? Bagaimana jika aku dituduh sebagai pelakunya? Tunggu, apakah aku benar pelakunya?. Akh...... segala pertanyaan ini seperti akan memecahkan kepalaku.
Aku mencari handphone ku. Mungkin sesuatu terjadi selama aku pergi, atau aku bisa menghubungi seseorang. Seingatku aku meletakkannya terakhir kali di dalam tas saat aku sadar pagi tadi. Aku memeriksa tas tanganku, ada benda tajam yang ku temukan. Saat ku tarik dari tas, aku menyadari itu karambit dari ayah yang kini matanya berwarna merah. Ada kengerian saat aku memandang karambit tersebut. kemudian aku merogoh tas ku. Kali ini aku menemukan handphoneku. Aku mencoba menghidupkannya tapi ternyata batrainya telah low.
Seingatku flow memiliki charger yang sama dengan handphone ku. Aku memeriksa laci meja riasnya. Di mana dia biasa menyimpan charger handphonenya, sambil berharap dia tidak membawahnya hari ini. aku cukup beruntung dia tidak membawanya, sehingga aku bisa mengisi baterai untuk sementara.
Sambil menunggu aku menatap karambit ayah, karambit yang kini mata pisaunya berwarna merah. Seingatku saat aku bawa tadi aku telah mencucinya. Mungkin aku bisa menghubungi ayah nanti saat bateraiku terisi dengan cukup. Aku merasa ayah pasti tau sesuatu tentang karambit ini. ada perasaan ganjil setiap memegang karambit ayah ini.
Tertidur seharian membuat badaku cukup sakit, bahkan efek setelah mengisi perutku membuatku ingin buang air. Walaupun badanku masih terasa sakit karena tidur terlalu lama. Aku mencoba berdiri dan menuju ke kamar kecil. Auch... sakit pada bagian selangkangan dan bokongku masih terasa. Kepala ku masih dipenuhi tanda tanya apa yang terjadi malam tadi. Di kamar mandi kamar flow aku menatap cermin. Wajahku terlihat sangat pucat dan berantakan. Kuputuskan untuk mandi agar diriku bisa lebih tenang.
Usai mandi aku memeriksa handhone ku. Akurasa baterainya sudah cukup terisi sampai aku putuskan untuk menghidupkannya. Ada beberapa pesan dari aplikasi chat. Beberapa SMS, dan semuanya kurasa tidak cukup penting, kebanyakan hanya teman yang bertanya, dimana aku sekarang. Mungkin mereka ingin mengajak aku keluar ata ada pekerjaan apa aku kurang tau. ada dua pesan dari ibu. Dengan pertanyaan yang sama.
Aku memutuskan untuk menghubungi ayah. Beberapa kali aku hubungi, tapi hanya nada tunggu yang ada. Mungkin kini dia tengah asik kembali berjudi, atau sibuk menghambur-hamburkan uang hasil jerih payah kami. Pria tua tak berguna. Kemudian aku putuskan menghubungi Ibu. Tak seperti ayah. Hanya beberapa kali nada tunggu ibu sudah mengangkat telepon ku.
“Assalamualaikum bun’”
“waalaikum salam, kamu kemana aja kenapa susah sekali ibu hubungi, kamu engga apa-apa kan nak” terdengar nada panik dari ujung telepon. Kurasa telah terjadi sesuatu. atau ibu mengetahui sesuatu.
“insyaallah bu aku baik-baik saja.” Aku mencoba menenangkan diri, dan juga meyakinkan ibu disana agar tidak udah terlalu panik. “adik mana bu?”
“sudah tidur, dia menanyakan kamu terus dari tadi.”
“bapak?”
“biasalah, tak usah kau tanya ayahmu. Ibu lebih khawatir tentangmu saat ini.”
Suara ibu terdengar lebih tenang. Walau nada kecemasan masih jelas terdengar vibranya “aku mau menanyakan sesuatu sama ayah, tapi kurasa ibu pun mungkin tau?!”
“kau ingin bertanya tentang karambit pusako?” ibu terdengar diam, begitupun aku, yang tak menjawab. Sepertinya ibu mengerti akan kecemasanku. “itu karambit milik keluarga ibu, yang diturunkan dari kakekmu, sebelumnya itu juga milik nenekmu. Setelah menikah, maka itu diberikan kepada suaminya. Dan ketika dia memiliki anak perempuan maka pusako diberikan kepada anaknya, ketika anaknya akan meninggalkan rumah untuk melindunginya.”
“bu, apa Cuma itu? aku merasa ada sesuatu yang... misterus dalam karambit itu” aku berfikir sesaat. Memegang karambit itu. “seperti ada sesuatu yang selalu mendampingi karambit itu”. sesuatu, seperti siluet bayangan seseorang makin terlihat jelas.
Disana ibu terdengar diam sesaat. “ibu bayangan leluhur ibu. Dulu karambit itu, seperti tadi ibu bilang, diberikan kepada anak perempuan agar anak tersebut mampu menjaga dirinya khususnya kesuciannya” ibu diam sesaat. “pernah ibu dengar cerita dari nenekmu, ibu nenekmu, pernah membantai sekitar lima orang tentara Jepang, tanpa dia sadar, setelah dia dirudapaksa oleh kelima bajingan itu. dan buyutmu itu melakukan itu dalam keadaan tidak sadar”.
“maksud ibu.... seperti kerasukan?” aku mencoba memperjelas maksud dari cerita ibu.
“begitulah, mad” ibu diam sejenak “ibu tidak tau kenapa ayahmu menitikpan benda itu ke kamu yang anak laki-laki, walaupun kamu terlihat lebih lembut dan gemulai dari anak lelaki teman-teman kamu”. Ibu terdengar sedikit tersenyum, “tapi dengan diberikannya pusaka itu ke kamu berarti ayah memiliki firasat bahwa kamu tidak akan kembali untuk jangka waktu lama ke rumah”. Kali ini suara ibu terdengar lebih iklas”.
“maafkan aku bu” aku diam mendengar penjelasan ibu. Dari sana aku tau akan ada peristiwa besar yang terjadi. Mungkin aku tak akan kembali dalam waktu tertentu ke rumah. Ibu perpesan agar aku menjaga diri, dan tak lama dari itu aku mengakhiri telepon tersebut.
Sekitar pukul dua belas kurang akhirnya flow pulang, kali ini wajahnya sedikit pucat. Dia seperti memikirkan sesuatu. “kamu kenapa?” tanyaku.
“tadi aku ke Klub” dia menghentikan bicaranya sesaat. “ada mobil polisi didepannya. Aku kira razia biasa sih, ya aku engga jadi masuk.”
“kamu kira? Berarti ada lanjutannya?” tanyaku.
“aku tadi telepon mbak Naya. Maminya di bar itu. katanya bukan razia, tapi ada tamu kita yang nyaris terbunuh, setelah pulang dari klub” aku terdiam mendengar cerita flow. kali ini aku benar-benar dalam masalah. “korban ditemukan dengan alat kelamin yang hampir putus, dan korban Cuma ingat, dia bercinta di malam itu dengan seorang wanita yang dia bius di klub sebelumnya.” Flow kali ini menatapku. “sejauh ini polisi belum tau siapa pelakunya, Cuma itu yang mereka tau..... tapi aku tau, kamu pasti ada hubungan dengan ini kan?”.
Aku tak tau apa yang harus aku jelaskan kini, apaaku harus bercerita tentang kejadiannya? Dan juga kisah yang mungkin Cuma takhayul yang diceritakan ibu? “aku engga bisa jawab flo, aku sendiri engga tau bgaimana kejadiannya”.
Aku dan flow terdiam sejenak. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semuanya kepada flow. paling engga dia bisa membantu mungkin untuk mencari solusi masalah ini nantinya mungkin.
“gila kamu ya? Jadi kamu beneran engga tau dan engga sadar, jadi kamu beneran kerasukan mahluk dari pusaka itu?” ucap flow mencoba mencerna semua ceritaku. Baginya semua sedikit sulit masuk akal. Kami terdiam cukup lama untuk memikirkan jalan keluarnya. Apa yang mungkin nanti akan terjadi. “gini aja,buat ngindarin kejadian yang gak kita harapin kamu mending pergi keluar kota,kebetulan dua hari yang lalu aku dapat tawaran. Kerja, di Jakarta”.
“trus, mau kamu aku yang handle pekerjaan disana?”
“aku mau kamu lakuin itu, dan stay disana untuk beberapa waktu. Kamu kenal Mbak Maisya kan? Manajer klub yang dari jakarta.”
“iya, aku ingat” seingatku mbak maisya manager club yang bulan lalu datang, untuk mengawasi klub tempat kami bekerja. Dia adalah bawahan bos, pemilik Klub dari jakarta, yang mencoba melebarkan bisnisnya di Padang.
“dia minta aku untuk mengirimkan satu orang dancer, untuk melatih dan mengisi di klub malam yang akan di buka disana.”
“apa harus, aku?” aku engga yakin, karena aku sendiri laki-laki. Sedangkan yang akan aku latih adalah sexy dancer yang kebanyakan wanita.
“kamu bisa, karena kamu engga kalah luwes dari kami. Dan selain itu karena kamu cowok. Kamu bisa pake your man mind, gerakan apa yang disukai cowok”.
Aku berpikir sejenak,sepertinya memang pilihan terbaik adalah meninggalkan kota ini sebelum polisi mempunyai petunjuk bahwa pelakunya adalah diriku,dan juga sudah menjadi tradisi bagi pemuda padang untuk merantau keluar dalam perjalanan hidupnya,oleh karena itu juga ibu sepertinya mengikhlaskan diriku jika aku pergi untuk waktu yang cukup lama,maka kuputuskan untuk setuju dengan ide Flow dan segera berangkat ke jakarta.
BERSAMBUNG
Jakarta, 2014
Maya sedang latihan di sebuah studio dance bersama dengan beberapa anak didiknya. Pekerjaannya selain sebagai dancer adalah pelatih modern dance, dan juga sexy dancer di beberapa klub milik seorang pengusaha di Jakarta. Lebih sulit ternyata menjadi trainer, khususnya untuk perempuan-perempuan labil yang baru dewasa dan mencari peruntungan di jakarta hingga akhirnya terperosok di bisnis ini. karena tergiur gaji yang lumayan.
Latihan siang ini berlangsung selama dua jam, tak jauh beda dengan jadwal lainnya yang dilakukan secara rutin empat kali seminggu. Usai latihan maya mengecek handphonenya. Satu buah sms dan satu panggilan tak terjawab, ‘Florensia’ nama yang tertera di sana. “hei drag queen, gimana jakarta?’
Panggilan tak terjawab. ‘lovely mama’ ibu Maya menelepon. Maya putuskan untuk menelepon ibu. “halo, kakak... kakak kapan pulang? Adek kangen...” suara adiknya menggema di telinga.
“ia, kakak pasti pulang, tapi engga sekarang” maya menjawab. Air matanya hampir menetes. Betapa rindunya dia dengan adiknya, ibunya. Mengingatnya kembali kenapa dia tak bisa untuk kembali.
Maya
Padang. 2013
aku masih terduduk diam di kamar milik flow sejak flow membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan aku masuk. Flow sendiri masih penasaran apa yang terjadi padaku. Aku datang dengan wajah pucat yang membuat dia terbangun lebih cepat, sekitar pukul 10 pagi. Sebagai pekerja malam terbangun sekitar waktu tersebut masih dianggap sangat pagi. Karena flow dan teman-temannya baru kembali dari tempat kerja mereka sekitar pukul empat dini hari.
“kamu kenapa sih mad, kok pucat banget?” tanya flow sambil membawa segelas minuman dingin yang diletakkan di meja rias tepat disamping aku terduduk. “tadi malam juga kamu kemana? kok cepat skali kamu ilangnya?’”
Aku bukan tidak mendengar segala perkataan flow, hanya saja hal yang aku lihat sejam yang lalu di kamar hotel ketika aku sadar masih membayangiku. Darah, karambit, seorang pria yang baru aku kenal dan tak sadar diri bersimbah darah di selangkangannya, apa sebenernya yang terjadi tadi malam.
“Mad, kamu demam ya?” tanya flow, kini wajahnya terlihat khawatir, dia kini duduk mendekatiku. Tangan kanannya menyentuk keningku. Aku merasakan bulir-bulir keringat keluar dari wajahku, bahkan mungkin seluruh tubuhku. “ya udah, kamu istirahat aja, tidur disini aja” yang kemudian dengan sigap mengambil salah satu bantalnya dan meletakkan di sisiku.
Aku menatap wajah flow, ingin aku ucapkan ‘terima kasih’ tapi entah kenapa kata-kata pun sulit keluar dari mulutku, aku menuruti semua kata flow untuk berbaring di kasurnya.
“Kamu istirahat ya” Flow menarik selimutnya dan menyelimuti tubuhku. Kemudian flow juga berbaring di sampingku, kemudian memelukku. Entah kenapa aku sedikit lebih tenang, dibalik selimut dan pelukan flow “aku rasa kamu butuh sedikit tidur, karena aku juga ngantuk akibat gedoran pintu kamu di pagi buta gini”. Entah kenapa bitchi satu ini bisa membuat aku tenang berada di dekatnya. Walaupun aku tau, bukan aku saja laki-laki yang pernah tidur dikasur ini, apalagi yang pertama. Kenyamanan yang membuat aku akhirnya terlelap.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Yang jelas ketika aku terbangun aku melihat flow sudah terduduk dengan make up dan pakaian lengkap di depan meja rias. Flow selalu terlihat menawan dengan pakaian yang selalu simple, diluar waktu kerjanya sebagai dancer. “drag queen udah bangun rupanya”. dan mulutnya tajamnya bisa mengurangi nilai kata ‘menawan’ tadi.
“sialan, udah jam berapa ini? udah berapa lama aku tidur?” aku masih pusing melihat flow sedang bersiap-siap untuk kalau aku perkirakan akan keluar dalam waktu beberapa jam. Dengan siapa aku tak pernah perduli. Lagi pula kau tak pernah ada ikatan khusus dengannya.
“udah jam delapan sekarang... ” flow merapikan kembali make upnya “kamu beneran engga apa-apa?”
“engga, aku baik-baik aja kok” aku melihat jam dinding di kamar flow. Mencoba mengingat peristiwa terakhir sebelum aku akhirnya tertidur di kamar flow. Aku terbayang kembali semua kejadian yang aku lihat di hotel. Kali ini aku mulai bisa menahan ekspresiku. Aku tak ingin flow tau apa yang telah aku alami, paling engga untuk saat ini.
“oh ya, kalau kamu masih merasa engga enak badan istirahat aja, di meja juga ada nasi sama ikan sarden kalau kamu laper”. Ucap flow sambil bergerak mengambil tas kecil dan menunjuk ke arah meja di samping tempat tidurnya.
“kamu ada kerja hari ini?” tanyaku, baiklah, harus ku akui aku memang ingin tau. Mungkin tanpa kusadari selama empat tahun ini aku juga punya perasaan padanya. Bahkan dia yang menawariku pekerjaan sebagai sexy dancer di salah satu tempat hiburan ‘wanita’.
“engga, Cuma ada tamu aja, lumayan lho tawaran bayarannya”. katanya sambil mendekatiku. “oh ya, semalam kayaknya aku liat kamu pulang dengan tamu?”.
“hah, semalam?” apa flow melihatnya? Flow pasti melihatnya jika tidak kenapa dia tau atau?.
“aku lihat kamu di antar pulang sambil dibopong, kamu mabok ya semalam? Tumben?”
“oh, iya semalam aku mabok”hanya itu mungkin yang Flow tau. “biasa masalah keluarga”. Sedikit berbohong mungkin engga masalah, toh flow juga mengetahui masalah keluargaku. “mumpung ada yang traktir”.
Flow menghampiriku dan mengecup pipi kananku. “kamu istirahat aja hari ni” flow melihatku dalam. Pandangan perempuan minang ini selalu mempesonaku, diluar pekerjaan ’sampingan’ “lagian kau bau banget” dan mulutnya yang tajam. “aku cabut dulu ya, udah telat ni”. Aku hanya melambaikan tangan.
Perkenalan aku dan flow berawal ketika kami sama-sama masih di bangku SMA. Saat sekolah kami mengadakan komptisi tari modern antar sekolah. Sekolah aku dan flow berbeda, saat itu kompetisi di adakan di sekolah ku, aku masih ingat seusai performing dari sekolahku. Flow menghampiriku di backstage, tempat semua peserta berkumpul, termaksud sekolah flow. aku juga masih ingat saat dia mengajak berkenalan aku hanya bisa diam. Bukan karena aku pemalu saat itu, aku takut aja jati diriku sebagai pria ketahuan. Walaupun teman-teman satu sekolah sudah tau, tapi sangat jarang ada anak sekolah lain, atau yang baru pertama melihatku dengan busana wanita menyadari bahwa aku pria.
“kamu cowok kan?” bisiknya saat itu. Aku Cuma mengangguk. “waw, aku hampir tertipu lho tadi”. Sejak saat itu aku dan flo makin dekat. Dia sering mengajak aku keluar untuk sekedar hangout, atau main ke studio tari milik temannya. Jika hangout pun kami tidak pernah berdua. biasa bareng teman-temannya. Bahkan engga jarang dia dengan pacar-pacarnya yang tiap bulan berganti. Kadang malah hitungan minggu.
Setelah tamat flow melanjut di salah satu universitas swasta. Sedangkan aku bekerja membantu usaha ibu. Walau ibu menyuruhku melanjutkan studi ku semua kutolak, karena kebiasaan buruk ayah yang menghabiskan uang, dan biaya pendidikan adik-adikku. Flow sendiri walaupun melanjutkan studi, tapi pada malam hari dia juga menari di sejumlah tempat hiburan malam. Pernah suatu kali dia kekurangan anggota tari, dan flow memintaku untuk ikut mengisi kelompoknya yang semuanya adalah perempuan. Hingga akhirnya aku juga harus menari dengan kostum wanita lagi.
Perutku mulai terasa lapar, dan kerongkonganku juga terasa sangat kering. Mungkin aku harus makan sedikit untuk meredakan segala kecemasan dikepalaku. Aku menatap piring yang berisi ikan sarden kaleng,sambal dan sayur bayam. Sederhana tapi cukup menggoda untuk perut yang sudah hampir dua puluh empat jam tidak terisi makanan. Bahkan tak cukup lama bagiku untuk menghabisi satu porsi menu lengkap tersebut.
Usai makan fikiranku mulai sedikit lebih tenang. Aku mulai memikirkan apa yang harus kulakukan. Bagaimana jika ada yang melihatku? Bagaimana jika nanti polisi mengejarku? Bagaimana jika aku dituduh sebagai pelakunya? Tunggu, apakah aku benar pelakunya?. Akh...... segala pertanyaan ini seperti akan memecahkan kepalaku.
Aku mencari handphone ku. Mungkin sesuatu terjadi selama aku pergi, atau aku bisa menghubungi seseorang. Seingatku aku meletakkannya terakhir kali di dalam tas saat aku sadar pagi tadi. Aku memeriksa tas tanganku, ada benda tajam yang ku temukan. Saat ku tarik dari tas, aku menyadari itu karambit dari ayah yang kini matanya berwarna merah. Ada kengerian saat aku memandang karambit tersebut. kemudian aku merogoh tas ku. Kali ini aku menemukan handphoneku. Aku mencoba menghidupkannya tapi ternyata batrainya telah low.
Seingatku flow memiliki charger yang sama dengan handphone ku. Aku memeriksa laci meja riasnya. Di mana dia biasa menyimpan charger handphonenya, sambil berharap dia tidak membawahnya hari ini. aku cukup beruntung dia tidak membawanya, sehingga aku bisa mengisi baterai untuk sementara.
Sambil menunggu aku menatap karambit ayah, karambit yang kini mata pisaunya berwarna merah. Seingatku saat aku bawa tadi aku telah mencucinya. Mungkin aku bisa menghubungi ayah nanti saat bateraiku terisi dengan cukup. Aku merasa ayah pasti tau sesuatu tentang karambit ini. ada perasaan ganjil setiap memegang karambit ayah ini.
Tertidur seharian membuat badaku cukup sakit, bahkan efek setelah mengisi perutku membuatku ingin buang air. Walaupun badanku masih terasa sakit karena tidur terlalu lama. Aku mencoba berdiri dan menuju ke kamar kecil. Auch... sakit pada bagian selangkangan dan bokongku masih terasa. Kepala ku masih dipenuhi tanda tanya apa yang terjadi malam tadi. Di kamar mandi kamar flow aku menatap cermin. Wajahku terlihat sangat pucat dan berantakan. Kuputuskan untuk mandi agar diriku bisa lebih tenang.
Usai mandi aku memeriksa handhone ku. Akurasa baterainya sudah cukup terisi sampai aku putuskan untuk menghidupkannya. Ada beberapa pesan dari aplikasi chat. Beberapa SMS, dan semuanya kurasa tidak cukup penting, kebanyakan hanya teman yang bertanya, dimana aku sekarang. Mungkin mereka ingin mengajak aku keluar ata ada pekerjaan apa aku kurang tau. ada dua pesan dari ibu. Dengan pertanyaan yang sama.
Aku memutuskan untuk menghubungi ayah. Beberapa kali aku hubungi, tapi hanya nada tunggu yang ada. Mungkin kini dia tengah asik kembali berjudi, atau sibuk menghambur-hamburkan uang hasil jerih payah kami. Pria tua tak berguna. Kemudian aku putuskan menghubungi Ibu. Tak seperti ayah. Hanya beberapa kali nada tunggu ibu sudah mengangkat telepon ku.
“Assalamualaikum bun’”
“waalaikum salam, kamu kemana aja kenapa susah sekali ibu hubungi, kamu engga apa-apa kan nak” terdengar nada panik dari ujung telepon. Kurasa telah terjadi sesuatu. atau ibu mengetahui sesuatu.
“insyaallah bu aku baik-baik saja.” Aku mencoba menenangkan diri, dan juga meyakinkan ibu disana agar tidak udah terlalu panik. “adik mana bu?”
“sudah tidur, dia menanyakan kamu terus dari tadi.”
“bapak?”
“biasalah, tak usah kau tanya ayahmu. Ibu lebih khawatir tentangmu saat ini.”
Suara ibu terdengar lebih tenang. Walau nada kecemasan masih jelas terdengar vibranya “aku mau menanyakan sesuatu sama ayah, tapi kurasa ibu pun mungkin tau?!”
“kau ingin bertanya tentang karambit pusako?” ibu terdengar diam, begitupun aku, yang tak menjawab. Sepertinya ibu mengerti akan kecemasanku. “itu karambit milik keluarga ibu, yang diturunkan dari kakekmu, sebelumnya itu juga milik nenekmu. Setelah menikah, maka itu diberikan kepada suaminya. Dan ketika dia memiliki anak perempuan maka pusako diberikan kepada anaknya, ketika anaknya akan meninggalkan rumah untuk melindunginya.”
“bu, apa Cuma itu? aku merasa ada sesuatu yang... misterus dalam karambit itu” aku berfikir sesaat. Memegang karambit itu. “seperti ada sesuatu yang selalu mendampingi karambit itu”. sesuatu, seperti siluet bayangan seseorang makin terlihat jelas.
Disana ibu terdengar diam sesaat. “ibu bayangan leluhur ibu. Dulu karambit itu, seperti tadi ibu bilang, diberikan kepada anak perempuan agar anak tersebut mampu menjaga dirinya khususnya kesuciannya” ibu diam sesaat. “pernah ibu dengar cerita dari nenekmu, ibu nenekmu, pernah membantai sekitar lima orang tentara Jepang, tanpa dia sadar, setelah dia dirudapaksa oleh kelima bajingan itu. dan buyutmu itu melakukan itu dalam keadaan tidak sadar”.
“maksud ibu.... seperti kerasukan?” aku mencoba memperjelas maksud dari cerita ibu.
“begitulah, mad” ibu diam sejenak “ibu tidak tau kenapa ayahmu menitikpan benda itu ke kamu yang anak laki-laki, walaupun kamu terlihat lebih lembut dan gemulai dari anak lelaki teman-teman kamu”. Ibu terdengar sedikit tersenyum, “tapi dengan diberikannya pusaka itu ke kamu berarti ayah memiliki firasat bahwa kamu tidak akan kembali untuk jangka waktu lama ke rumah”. Kali ini suara ibu terdengar lebih iklas”.
“maafkan aku bu” aku diam mendengar penjelasan ibu. Dari sana aku tau akan ada peristiwa besar yang terjadi. Mungkin aku tak akan kembali dalam waktu tertentu ke rumah. Ibu perpesan agar aku menjaga diri, dan tak lama dari itu aku mengakhiri telepon tersebut.
Sekitar pukul dua belas kurang akhirnya flow pulang, kali ini wajahnya sedikit pucat. Dia seperti memikirkan sesuatu. “kamu kenapa?” tanyaku.
“tadi aku ke Klub” dia menghentikan bicaranya sesaat. “ada mobil polisi didepannya. Aku kira razia biasa sih, ya aku engga jadi masuk.”
“kamu kira? Berarti ada lanjutannya?” tanyaku.
“aku tadi telepon mbak Naya. Maminya di bar itu. katanya bukan razia, tapi ada tamu kita yang nyaris terbunuh, setelah pulang dari klub” aku terdiam mendengar cerita flow. kali ini aku benar-benar dalam masalah. “korban ditemukan dengan alat kelamin yang hampir putus, dan korban Cuma ingat, dia bercinta di malam itu dengan seorang wanita yang dia bius di klub sebelumnya.” Flow kali ini menatapku. “sejauh ini polisi belum tau siapa pelakunya, Cuma itu yang mereka tau..... tapi aku tau, kamu pasti ada hubungan dengan ini kan?”.
Aku tak tau apa yang harus aku jelaskan kini, apaaku harus bercerita tentang kejadiannya? Dan juga kisah yang mungkin Cuma takhayul yang diceritakan ibu? “aku engga bisa jawab flo, aku sendiri engga tau bgaimana kejadiannya”.
Aku dan flow terdiam sejenak. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semuanya kepada flow. paling engga dia bisa membantu mungkin untuk mencari solusi masalah ini nantinya mungkin.
“gila kamu ya? Jadi kamu beneran engga tau dan engga sadar, jadi kamu beneran kerasukan mahluk dari pusaka itu?” ucap flow mencoba mencerna semua ceritaku. Baginya semua sedikit sulit masuk akal. Kami terdiam cukup lama untuk memikirkan jalan keluarnya. Apa yang mungkin nanti akan terjadi. “gini aja,buat ngindarin kejadian yang gak kita harapin kamu mending pergi keluar kota,kebetulan dua hari yang lalu aku dapat tawaran. Kerja, di Jakarta”.
“trus, mau kamu aku yang handle pekerjaan disana?”
“aku mau kamu lakuin itu, dan stay disana untuk beberapa waktu. Kamu kenal Mbak Maisya kan? Manajer klub yang dari jakarta.”
“iya, aku ingat” seingatku mbak maisya manager club yang bulan lalu datang, untuk mengawasi klub tempat kami bekerja. Dia adalah bawahan bos, pemilik Klub dari jakarta, yang mencoba melebarkan bisnisnya di Padang.
“dia minta aku untuk mengirimkan satu orang dancer, untuk melatih dan mengisi di klub malam yang akan di buka disana.”
“apa harus, aku?” aku engga yakin, karena aku sendiri laki-laki. Sedangkan yang akan aku latih adalah sexy dancer yang kebanyakan wanita.
“kamu bisa, karena kamu engga kalah luwes dari kami. Dan selain itu karena kamu cowok. Kamu bisa pake your man mind, gerakan apa yang disukai cowok”.
Aku berpikir sejenak,sepertinya memang pilihan terbaik adalah meninggalkan kota ini sebelum polisi mempunyai petunjuk bahwa pelakunya adalah diriku,dan juga sudah menjadi tradisi bagi pemuda padang untuk merantau keluar dalam perjalanan hidupnya,oleh karena itu juga ibu sepertinya mengikhlaskan diriku jika aku pergi untuk waktu yang cukup lama,maka kuputuskan untuk setuju dengan ide Flow dan segera berangkat ke jakarta.
BERSAMBUNG
Diubah oleh Travestron 06-06-2014 18:39
0