Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1251
27. Perfect Moment
"Thank you for today..." aku menyalami personil tim dalam project, termasuk Pak Grandy dan Sammy.

"Pulang bareng yuk." Sammy merangkul bahuku akrab.

Canggung.
Satu kata yang menggambarkan perasaanku bersama Sammy.
Aku mati-matian berusaha melupakan dia, tapi Sammy kembali lagi dan bertingkah seolah-olah semuanya masih sama seperti dulu.
It just won't work.
Aku baru akan menggeser tangan Sammy, saat Pak Grandy sudah melakukannya.

"Pulang? Bukannya kamu ada laporan yang harus disetor, Sam?" Pak Grandy menaikkan alis.

"Oh iya!" Sammy menepuk dahinya. "Maaf Cher,...next time ya..."

Dalam hati, aku lega luar biasa.
Membayangkan jika harus berakting sepanjang jalan menuju pulang membuatku bergidik.

"Bapak juga ikut lembur bareng saya?" Sammy mematung menunggu Pak Grandy ikut.

"Saya harus ambil dokumen dulu di flat; Sekalian mengantar Chery."

Mungkin cuma halusinasiku, tapi sepertinya Pak Grandy menyunggingkan senyum ketika mengatakannya.
Sammy hanya ber-oo panjang lalu beranjak pergi.
Aku berjalan berdampingan dengan Pak Grandy menuju subway.

"Kamu mau sekalian makan malam? Pak Grandy menunjuk restoran italia di dekat halte subway.

"Saya nggak..."

Mendadak langit bergemuruh dan turun gerimis.
Aku mengangkat bahu dan kami berjalan masuk ke restoran itu.
Rasanya jauh lebih baik di sini daripada bermandikan hujan sepanjang jalan.

"Aku yang traktir." Pak Grandy menuntunku sambil menuju ke salah satu meja bundar bertaplak putih bersih.

Lagi-lagi Pak Grandy mengasosiasikan dirinya sebagai 'aku' bukannya 'saya' seperti biasa.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi 'aku' terdengar lebih akrab dan manis di telingaku.

Sepanjang bekerja, belum pernah Pak Grandy menggunakan kata itu untuk menyebutkan dirinya sendiri.

Rasanya asing sekaligus menggelitik.



"Aku beberapa kali makan di sini kalau sedang dinas ke Singapura." Pak Grandy mempromosikan menu di hadapannya. "This menu is the best."



Aku membaca menu yang ditunjuknya.

Aku menurut saja dan mengangguk tanda setuju.

Sambil menunggu hidangan, aku memperhatikan dekorasi restoran dan pengunjung lainnya.

Ada orang barat, dan sepertinya melayu duduk membicarakan sesuatu yang penting.


Alunan musik Jazz berbahasa Perancis mengalun di seluruh restoran.
Dengan hujan membasahi jendela di balik langit abu-abu kebiruan, rasanya nyaman sekali berada di dalam sini.



"Kamu,...masih belum ngelupain Sammy?"



Aku melirik perlahan ke arah Pak Grandy.



"Excuse me?" aku memintanya meralat.



"You heard me." Pak Grandy nyengir jahil. "Dia adalah penyebab kamu minggat ke Singapura, kan?"



"Kok bisa...? Sammy yang cerita??"



Pak Grandy menggeleng cepat.



"Just a lucky guess."



Kepalang ketahuan, aku mengangguk kalem.



"I think, I've gotten over him." aku mengangkat bahu. "Masih proses melewati momen awkward aja kalo harus mendadak haha hihi di depan dia."



Pelayan membawakan 2 gelas sparkling wine dan alat makan.



"Anyway, sejak kapan Bapak tertarik sama gosip orang lain?" aku terkekeh. "Kita nggak pernah gosip sebelumnya di Skype."



"Correction. Aku tertarik sama gosip tentang kamu." Pak Grandy menyeruput isi gelasnya perlahan. "I'm interested in you."



Aku mengerjapkan mata.

Ini mimpi, kan?



"Aku nggak tahu gimana cara para remaja ngomong gini, but i'll be straight. I like you."



Alam bawah sadarku mengirimkan sinyal ke otak yang membuatku tersenyum lebar.



"Saya,... Eh maksudnya aku,..." aku gelagapan. "Ini terlalu mendadak."



"I know,... I'm sorry." Pak Grandy menautkan alisnya. "Tapi aku pikir... Ini momen yang pas."



"Iya. Memang,... Dan suasananya juga...Wow." aku berusaha antusias. "I need time to think."



"Aku belum meminta apapun dari kamu." Pak Grandy menggenggam jemari tanganku. "Take all the time you need. Aku cuma pingin kamu tahu, bahwa di mata aku sekarang, kamu

lebih dari kolega. Lebih dari teman. Kamu adalah wanita yang aku suka."



"Tapi,... Kenapa aku?" aku bertanya takjub.



"Kenapa harus bukan kamu?" Pak Grandy bertanya balik sambil tersenyum. "You're smart, sweet, caring, dan rasanya aku seneng banget tiap ada hal yang berhubungan dengan

kamu. Hatiku nggak bisa bohong."



Okee.... Itu tadi terdengar gombaaaal banget!

Aku setengah mati menahan tawa.

Tapi di sisi lain, telapak kakiku hampir tidak menapak lantai saking tersanjungnya.

Bahkan caranya menggombal pun terdengar berkelas.



Akhirnya kami menghabiskan sisa malam itu saling mengobrol.

Menceritakan apapun tentang satu sama lain.

Mulai dari detil terkecil, hingga hal yang tidak penting.

Yang kutahu, Pak Grandy tidak henti-henti tersenyum dan tertawa seolah sangat menikmati percakapan kami.

Dan kuakui, aku juga sangat menikmati momen ini.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.