- Beranda
- Cerita Pejalan Domestik
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
...
TS
satriacustom
Liburan di Kota Cilacap [BikePacker]
Quote:
This is My Holiday Story, Happy Reading
Tekan SHIFT+X untuk membuka spoiler secara otomatis
Quote:
Rutinitas perkuliahan kami lalui setiap harinya, hingga pada akhirnya tercetuslah ide untuk berlibur ke suatu tempat yang baru dan belum pernah kami singgahi bersama. Setelah berdiskusi mengenai tempat tujuan, terpilihlah Kota Cilacap sebagai tujuan utama. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan liburan kali ini sejak sebelum UTS dilaksanakan. Rencananya kami akan berangkat dua minggu setelah UTS berlangsung selama tiga hari dua malam. Sebelumnya perkenalkan dahulu teman-teman saya yang mengikuti liburan kali ini, yang pertama Yanuar dengan pasangannya Dhea menggunakan Yamaha Jupiter Z, Iwan dan Riza menggunakan Honda Absolute Revo, Ryan dan Adine menggunakan Suzuki Shogun SP, Imam dengan Supra X, Dani dengan Kawasaki Athlete dan saya sendiri menggunakan Kebo kesayangan, hehe.. Kebetulan kami semua memang satu kelas sehingga komunikasi dan koordinasi mengenai liburan ini semakin mudah dibahas bersama. Mengapa kami memilih ke Cilacap? Karena dua teman saya, Imam dan Dani kebetulan bertempat tinggal di kota ngapak tersebut, selain bisa berkeliling di tempat wisatanya juga dapat bersilahturahmi dan singgah di rumahnya.
Quote:
Diubah oleh satriacustom 06-06-2014 23:28
0
10K
Kutip
62
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cerita Pejalan Domestik 
2.1KThread•3.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
satriacustom
#1
Day 1 - 18 April 2014
Quote:
Rencananya kami akan berangkat pada pagi hari. Setelah malam harinya beres mempersiapkan barang bawaan, saya mulai terbangun pada pukul 06.00 WIB lalu bersiap packing, sarapan, check properti dan tak lupa berpamitan kepada orang tua di rumah. Saya berangkat pada pukul 07.15 WIB dan langsung menuju tikum di SPBU 44.55.207 Ambarketawang. Setelah sampai di TKP sambil menunggu teman-teman yang lain saya mengisi bahan bakar premium sebanyak ± 9,5 liter. Tak lama kemudian mereka semua berdatangan satu-persatu dan tak lupa juga untuk mengisi bahan bakar penuh.
Sebelum berangkat saya memulai briefing sederhana mengenai agenda perjalanan, posisi barisan dan perilaku di jalan. Akhirnya setelah doa bersama selesai kami memulai perjalanan tahap pertama pada pukul 08.30 WIB. Cuaca saat itu sangat cerah sekali, lalu lintas juga masih normal sehingga tidak ada trouble dalam perjalanan. Sampai pada pukul 10.45 WIB kami sudah sampai di Kota Kebumen. Karena hari ini adalah hari Jum’at kami langsung singgah ke sebuah masjid raya di Kebumen untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum’at.
Adalah Masjid Agung Kebumen yang terletak di Jl. Pahlawan No. 197. Masjid ini merupakan masjid tua yang sudah berumur ratusan tahun, didirikan pada tahun 1832 M oleh Kyai Marbut Roworejo. Masjid kebanggaan masyarakat Kebumen ini sangat luas dan memiliki dua lantai. Yang unik adalah terdapatnya dua buah bedug dengan ukuran yang berbeda. Yang pertama seperti pada umumnya, sedangkan yang kedua ukurannya sangat besar. Namanya adalah Bedug Ijo Mangun Sari dengan kayu waru sebagai bahan utamanya. Kami sempat kaget oleh suara bedug saat pertama kali dibunyikan, sangat keras sekali. Usai melaksanakan ibadah, kami langsung berjalan kaki menuju Alun-Alun Kebumen yang lokasinya tepat di depan persis masjid ini. Karena waktu sudah menunjukan jam makan siang sekalian kami mencari tempat makan yang terdapat di sekitar alun-alun tersebut.
Seporsi Kethoprak dan semangkok Es Campur cukup menuntaskan isi perut ini, sambil menikmati suasana Alun-Alun Kebumen yang luas, bersih dan tertata sangat baik. Salut dengan tata Kota Kebumen yang bersih dan rapi. Setelah kenyang semuanya kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pantai Menganti yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kami kembali menuju ke tempat parkir masjid dan segera bersiap berkendara lagi. Jarak dari masjid menuju ke pantai tersebut sejauh 50 km dengan waktu tempuh ± 2 jam perjalanan.
Tepat pada pukul 13.30 WIB kami semua berangkat. Yanuar berpesan bahwa ia ingin mengisi kembali bahan bakarnya, rencananya nanti kami akan berhenti di SPBU terdekat.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Namun ternyata sepanjang perjalanan dari Masjid Agung Kebumen sampai di daerah Daendels Barat kami tidak menemukan satupun SPBU. Terpaksa di tengah perjalanan kami berhenti di sebuah kios penjual bensin eceran. Setelah beres kami melanjutkan perjalanan lagi. Yang awalnya kontur jalannya datar-datar saja, kini semakin naik menanjak dan berkelok-kelok, bahkan di beberapa titik terdapat tanjakan yang sangat curam. Seperti surga rasanya menemukan dan melewati jalan seperti ini, dengan lincahnya Si Kebo yang sudah bergearset diameter besar dapat melewati segala tanjakan dan tikungan yang curam dengan mulus. Sampai asyiknya terbawa suasana saya pun tidak sadar bahwa teman-teman jauh tertinggal di belakang. Sampai di daerah Karangduwur kami berbelok ke kiri arah ke Pantai Menganti. Tapi di tengah perjalanan menuju Pantai Menganti saya merasa ada anggota yang kurang, rupanya Iwan bersama Riza sebagai boncengernya kehabisan bensin di tengah perjalanan menanjak-nanjak tadi, kenapa tidak sekalian isi ulang bareng Yanuar waktu di bawah tadi ya, hedeh.. Jadi rombongan kami terpisah menjadi dua grup. Grup pertama adalah saya sendiri bersama teman-teman lain yang masih bertahan di belakang posisi saya dan yang kedua adalah Iwan bareng Riza dan Imam sebagai sweeper. Setelah berkomunikasi melalui telepon, kami sepakat bertemu di sekitar Pantai Ayah nanti.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Sementara itu sambil berkomunikasi dengan grup kedua, kami sudah berada di atas bukit Karangduwur. Lokasi ini berkoordinat di Lat S7.75801° Long E109.41544°. Sambil menikmati pemandangan alam yang menakjubkan, tak henti-hentinya saya mengucap rasa syukur bisa merasakan dan melihat pemandangan seperti ini lagi. Dari sisi barat terlihat berbagai perbukitan hijau yang subur serta sepanjang garis pantai di Kebumen, lalu dari sisi selatan lautan Samudra Hinda jelas terlihat dari ketinggian dan sisi timurnya adalah garis pantai di Cilacap. Untuk lebih jelasnya biarkan gambar yang bercerita.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Kami sempatkan untuk turun menuju Pantai Menganti namun tidak sampai masuk di kawasan pantainya, hanya sebentar saja kami di sini karena kami harus segera menyusul grup kedua yang sudah sampai di daerah Logending.
![kaskus-image]()
Sempat di tengah perjalanan grup satu menuju tikum di Logending, kami berhenti lagi di penjual bensin eceran karena Ryan bersama Adine harus mengisi ulang bbm tunggangannya. Tak lama kemudian pada pukul 16.00 WIB kami kembali berkumpul di Jembatan Kali Ijo.
![kaskus-image]()
Karena kami gagal mengunjungi Pantai Menganti, akhirnya kami kembali berdiskusi membahas Plan B. Sejak awal rencananya adalah berkunjung ke pantai maka kami harus sampai di pantai, di manapun itu. Dan akhirnya kami akan menuju ke kawasan Pantai Ayah. Lebih tepatnya adalah Pantai Jetis. Setelah mendapatkan tujuan baru kami segera menuju ke tempat tersebut.
![kaskus-image]()
Setelah memparkirkan sepeda motor di tempat yang sudah disediakan, kami semua berjalan kaki menuju ke pantai tersebut. Cukup cerah cuaca pada sore hari itu.
![kaskus-image]()
Pantai Jetis ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap Timur, berkoordinat di Lat S7.75801° Long E109.41544°. Dilihat dari sudut pandang geografis, pantai ini terbentuk dari proses deposisi material pasir dari laut sehingga pantai ini terdiri atas Gisik yang luas dan tempatnya yang landai. Pantai ini menawarkan keindahan panorama laut selatan dan pemandangan alam pegunungan yang di batasi oleh Sungai Ijo. Sungai inilah yang menjadi batas antara dua kabupaten, Cilacap dengan Kebumen. Di tepian sungai tersebut terdapat aneka flora seperti tumbuhan bakau, pohon salak, dan lain-lain. Di sini juga terdapat sebuah Tempat Pelelangan Ikan Nelayan Tradisional. Di kawasan ini terdapat dua jenis nelayan, yaitu nelayan sungai dan nelayan laut. Apa yang membedakan hal tersebut? Sudah jelas dari perahunya saja sudah berbeda, jika nelayan laut berperahu besar dengan double engine nya maka nelayan sungai hanya memiliki satu sampan dan penyeimbang di berbagai sisinya.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Sambil menghabiskan waktu di sore hari, kami berpencar berjalan-jalan di setiap sudut pantai ini. Tidak banyak terlihat wisatawan pada saat itu, hanya beberapa saja jadi suasana di pantai tidak terlalu ramai.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Merasa cukup puas di sini akhirnya pada pukul 17.00 WIB kami meninggalkan pantai tersebut. Dari sini kami sengaja berpisah menjadi dua grup lagi karena Dhea, pasangan dari Yanuar harus melaksanakan ibadah Jum’at Agung di Gereja yang terletak di Kota Cilacap dan diantar bersama Dani. Sedangkan sisanya termasuk saya sendiri langsung menuju ke tempat tinggal Imam sebagai tuan rumah yang terletak di daerah Karangjengkol, Cilacap Utara. Nanti rencananya grup yang terpisah akan bertemu lagi di rumah Imam karena jadwal malam ini adalah singgah dan bermalam di rumah Imam.
![kaskus-image]()
Perjalanan dari Pantai Jetis menuju ke rumah Imam memakan waktu satu jam. Cuaca pada sore hari itu sangat cerah, karena kami berkendara ke arah barat dan bertepatan dengan arah sinar matahari tenggelam membuat penglihatan kami di depan menjadi terganggu karena silaunya cahaya mentari.
Pada pukul 18.00 WIB akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Segera kami membersihkan diri, mandi-mandi, makan malam, main kartu, dan lain-lain. Tak lama kemudian akhirnya grup kedua yang berpisah tadi kini sudah datang di rumah Imam. Semakin rame suasana di dalam rumah, hehe..
Agenda malam itu adalah bermain kartu Uno, yang membuat gokil adalah berlakunya aturan jika kalah maka harus mengenakan atribut berkendara. Contoh apesnya Riza, Adine dan saya sendiri yang akhirnya harus menggunakan helm selama permainan berlangsung, tapi yang paling apes kalah berkali-kali adalah Iwan. Dari helm, protector dan sarung tangan ia kenakan satu persatu, mungkin kalau dapat motornya sekalian dia pasti sudah kabur hahaha..
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Spoiler for Berkumpul di SPBU Ambarketawang:
Sebelum berangkat saya memulai briefing sederhana mengenai agenda perjalanan, posisi barisan dan perilaku di jalan. Akhirnya setelah doa bersama selesai kami memulai perjalanan tahap pertama pada pukul 08.30 WIB. Cuaca saat itu sangat cerah sekali, lalu lintas juga masih normal sehingga tidak ada trouble dalam perjalanan. Sampai pada pukul 10.45 WIB kami sudah sampai di Kota Kebumen. Karena hari ini adalah hari Jum’at kami langsung singgah ke sebuah masjid raya di Kebumen untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum’at.
Adalah Masjid Agung Kebumen yang terletak di Jl. Pahlawan No. 197. Masjid ini merupakan masjid tua yang sudah berumur ratusan tahun, didirikan pada tahun 1832 M oleh Kyai Marbut Roworejo. Masjid kebanggaan masyarakat Kebumen ini sangat luas dan memiliki dua lantai. Yang unik adalah terdapatnya dua buah bedug dengan ukuran yang berbeda. Yang pertama seperti pada umumnya, sedangkan yang kedua ukurannya sangat besar. Namanya adalah Bedug Ijo Mangun Sari dengan kayu waru sebagai bahan utamanya. Kami sempat kaget oleh suara bedug saat pertama kali dibunyikan, sangat keras sekali. Usai melaksanakan ibadah, kami langsung berjalan kaki menuju Alun-Alun Kebumen yang lokasinya tepat di depan persis masjid ini. Karena waktu sudah menunjukan jam makan siang sekalian kami mencari tempat makan yang terdapat di sekitar alun-alun tersebut.
Spoiler for Makan siang di tepi Alun-Alun Kebumen:
Seporsi Kethoprak dan semangkok Es Campur cukup menuntaskan isi perut ini, sambil menikmati suasana Alun-Alun Kebumen yang luas, bersih dan tertata sangat baik. Salut dengan tata Kota Kebumen yang bersih dan rapi. Setelah kenyang semuanya kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pantai Menganti yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kami kembali menuju ke tempat parkir masjid dan segera bersiap berkendara lagi. Jarak dari masjid menuju ke pantai tersebut sejauh 50 km dengan waktu tempuh ± 2 jam perjalanan.
Spoiler for Berangkat melanjutkan perjalanan lagi:
Tepat pada pukul 13.30 WIB kami semua berangkat. Yanuar berpesan bahwa ia ingin mengisi kembali bahan bakarnya, rencananya nanti kami akan berhenti di SPBU terdekat.
Spoiler for Dalam perjalanan:


Namun ternyata sepanjang perjalanan dari Masjid Agung Kebumen sampai di daerah Daendels Barat kami tidak menemukan satupun SPBU. Terpaksa di tengah perjalanan kami berhenti di sebuah kios penjual bensin eceran. Setelah beres kami melanjutkan perjalanan lagi. Yang awalnya kontur jalannya datar-datar saja, kini semakin naik menanjak dan berkelok-kelok, bahkan di beberapa titik terdapat tanjakan yang sangat curam. Seperti surga rasanya menemukan dan melewati jalan seperti ini, dengan lincahnya Si Kebo yang sudah bergearset diameter besar dapat melewati segala tanjakan dan tikungan yang curam dengan mulus. Sampai asyiknya terbawa suasana saya pun tidak sadar bahwa teman-teman jauh tertinggal di belakang. Sampai di daerah Karangduwur kami berbelok ke kiri arah ke Pantai Menganti. Tapi di tengah perjalanan menuju Pantai Menganti saya merasa ada anggota yang kurang, rupanya Iwan bersama Riza sebagai boncengernya kehabisan bensin di tengah perjalanan menanjak-nanjak tadi, kenapa tidak sekalian isi ulang bareng Yanuar waktu di bawah tadi ya, hedeh.. Jadi rombongan kami terpisah menjadi dua grup. Grup pertama adalah saya sendiri bersama teman-teman lain yang masih bertahan di belakang posisi saya dan yang kedua adalah Iwan bareng Riza dan Imam sebagai sweeper. Setelah berkomunikasi melalui telepon, kami sepakat bertemu di sekitar Pantai Ayah nanti.
Spoiler for Rombongan yang tertinggal di belakang:


Sementara itu sambil berkomunikasi dengan grup kedua, kami sudah berada di atas bukit Karangduwur. Lokasi ini berkoordinat di Lat S7.75801° Long E109.41544°. Sambil menikmati pemandangan alam yang menakjubkan, tak henti-hentinya saya mengucap rasa syukur bisa merasakan dan melihat pemandangan seperti ini lagi. Dari sisi barat terlihat berbagai perbukitan hijau yang subur serta sepanjang garis pantai di Kebumen, lalu dari sisi selatan lautan Samudra Hinda jelas terlihat dari ketinggian dan sisi timurnya adalah garis pantai di Cilacap. Untuk lebih jelasnya biarkan gambar yang bercerita.
Spoiler for SPOILER:


Spoiler for SPOILER:


Spoiler for SPOILER:

Kami sempatkan untuk turun menuju Pantai Menganti namun tidak sampai masuk di kawasan pantainya, hanya sebentar saja kami di sini karena kami harus segera menyusul grup kedua yang sudah sampai di daerah Logending.
Spoiler for Jembatan Kali Ijo:

Sempat di tengah perjalanan grup satu menuju tikum di Logending, kami berhenti lagi di penjual bensin eceran karena Ryan bersama Adine harus mengisi ulang bbm tunggangannya. Tak lama kemudian pada pukul 16.00 WIB kami kembali berkumpul di Jembatan Kali Ijo.
Spoiler for Berkumpul kembali:

Karena kami gagal mengunjungi Pantai Menganti, akhirnya kami kembali berdiskusi membahas Plan B. Sejak awal rencananya adalah berkunjung ke pantai maka kami harus sampai di pantai, di manapun itu. Dan akhirnya kami akan menuju ke kawasan Pantai Ayah. Lebih tepatnya adalah Pantai Jetis. Setelah mendapatkan tujuan baru kami segera menuju ke tempat tersebut.
Spoiler for Pantai Jetis, Cilacap Timur:

Setelah memparkirkan sepeda motor di tempat yang sudah disediakan, kami semua berjalan kaki menuju ke pantai tersebut. Cukup cerah cuaca pada sore hari itu.
Spoiler for Pantai Jetis, Cilacap Timur:

Pantai Jetis ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap Timur, berkoordinat di Lat S7.75801° Long E109.41544°. Dilihat dari sudut pandang geografis, pantai ini terbentuk dari proses deposisi material pasir dari laut sehingga pantai ini terdiri atas Gisik yang luas dan tempatnya yang landai. Pantai ini menawarkan keindahan panorama laut selatan dan pemandangan alam pegunungan yang di batasi oleh Sungai Ijo. Sungai inilah yang menjadi batas antara dua kabupaten, Cilacap dengan Kebumen. Di tepian sungai tersebut terdapat aneka flora seperti tumbuhan bakau, pohon salak, dan lain-lain. Di sini juga terdapat sebuah Tempat Pelelangan Ikan Nelayan Tradisional. Di kawasan ini terdapat dua jenis nelayan, yaitu nelayan sungai dan nelayan laut. Apa yang membedakan hal tersebut? Sudah jelas dari perahunya saja sudah berbeda, jika nelayan laut berperahu besar dengan double engine nya maka nelayan sungai hanya memiliki satu sampan dan penyeimbang di berbagai sisinya.
Spoiler for Pantai Jetis, Cilacap Timur:


Sambil menghabiskan waktu di sore hari, kami berpencar berjalan-jalan di setiap sudut pantai ini. Tidak banyak terlihat wisatawan pada saat itu, hanya beberapa saja jadi suasana di pantai tidak terlalu ramai.
Spoiler for SPOILER:



Spoiler for SPOILER:

Merasa cukup puas di sini akhirnya pada pukul 17.00 WIB kami meninggalkan pantai tersebut. Dari sini kami sengaja berpisah menjadi dua grup lagi karena Dhea, pasangan dari Yanuar harus melaksanakan ibadah Jum’at Agung di Gereja yang terletak di Kota Cilacap dan diantar bersama Dani. Sedangkan sisanya termasuk saya sendiri langsung menuju ke tempat tinggal Imam sebagai tuan rumah yang terletak di daerah Karangjengkol, Cilacap Utara. Nanti rencananya grup yang terpisah akan bertemu lagi di rumah Imam karena jadwal malam ini adalah singgah dan bermalam di rumah Imam.
Spoiler for Meninggalkan pantai:

Perjalanan dari Pantai Jetis menuju ke rumah Imam memakan waktu satu jam. Cuaca pada sore hari itu sangat cerah, karena kami berkendara ke arah barat dan bertepatan dengan arah sinar matahari tenggelam membuat penglihatan kami di depan menjadi terganggu karena silaunya cahaya mentari.
Spoiler for Cilacap Bercahaya:
Pada pukul 18.00 WIB akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Segera kami membersihkan diri, mandi-mandi, makan malam, main kartu, dan lain-lain. Tak lama kemudian akhirnya grup kedua yang berpisah tadi kini sudah datang di rumah Imam. Semakin rame suasana di dalam rumah, hehe..
Spoiler for SPOILER:
Agenda malam itu adalah bermain kartu Uno, yang membuat gokil adalah berlakunya aturan jika kalah maka harus mengenakan atribut berkendara. Contoh apesnya Riza, Adine dan saya sendiri yang akhirnya harus menggunakan helm selama permainan berlangsung, tapi yang paling apes kalah berkali-kali adalah Iwan. Dari helm, protector dan sarung tangan ia kenakan satu persatu, mungkin kalau dapat motornya sekalian dia pasti sudah kabur hahaha..
Spoiler for Main kartu Uno:


Spoiler for Main kartu Uno:

Quote:
Rincian pengeluaran biaya hari ini :
- Premium 9,5 L di Yogyakarta : Rp 60.000,-
- Makan siang Kethoprak dan Es Campur di Kebumen : Rp 11.000,-
- HTM Pantai Menganti : Rp 2.500,-
- Belanja properti di Cilacap : Rp 10.000,-
- Premium 9,5 L di Yogyakarta : Rp 60.000,-
- Makan siang Kethoprak dan Es Campur di Kebumen : Rp 11.000,-
- HTM Pantai Menganti : Rp 2.500,-
- Belanja properti di Cilacap : Rp 10.000,-
0
Kutip
Balas
Shortcut Ride Reports