- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#263
PART 23
Pintu rumah Anin terbuka, dan gue melihat sosok papanya Anin didepan kami. Bayangan gue sebelumnya adalah papanya Anin berbadan gede, brewokan kayak om Indro Warkop, botak dan segala macam. Pokoknya sangar lah. Ternyata bayangan gue salah semua. Papanya Anin berbadan sedang, dengan tinggi badan se gue. Berambut tebal yang disisir rapi, dan berkumis tipis. Mukanya bisa dibilang ganteng, dan murah senyum. Melihat anak gadisnya pulang, papanya Anin tersenyum. Papa Anin ini namanya om Harry, yang taksiran gue berusia gak jauh dari Tante Ayu.
Gue tersenyum kearah om Harry, kemudian mencium tangan om Harry.
Diluar dugaan gue, om Harry ternyata ramah, meskipun baru pertama kali ini bertemu dengan gue. Gue mengikuti om Harry duduk di ruang tamu, sementara Anin pamit masuk ke dalam dulu untuk meletakkan tasnya dan melepas sepatu. Disitu gue merasakan om Harry memperhatikan gue dari atas ke bawah. Untung gue dandan yang rapi, pikir gue. Kalo gue pake kaos seperti biasa mah bisa berabe ini.
Kemudian gue dan Om Harry ngobrol-ngobrol enteng tentang pekerjaan Om Harry, yang gue iseng tanyakan. Ternyata Om Harry merasa tersanjung ada yang tertarik dengan bidang pekerjaannya, yaitu kontraktor telekomunikasi. Gue pun melontarkan opini-opini gue, berdasarkan apa yang pernah gue baca dan gue dengar, dan Om Harry menjawab opini dan pertanyaan gue dengan semangat. Sukses deh trik gue biar keliatan pinter didepan calon mertua

Gak lama kemudian Anin masuk ke ruang tamu, dan membawakan teh manis panas buat gue. Anin duduk di samping gue, sambil meniup-niupkan teh itu buat gue. Gue memandangi Anin, dan kemudian memandangi om Harry yang tersenyum, dan gue tersipu-sipu sendiri.
Setelah itu Om Harry masuk kedalam, dan gue memandangi Anin sambil cengengesan. Ternyata papanya Anin gak seangker yang gue kira, dan baru setelah itu gue sadar, makanya istri dan anak-anaknya juga kocak abis kayak gini ini. Gue pencet hidung Anin, sebagai tanda kelegaan gue bisa menghadapi papanya Anin dengan sukses.
Gue liat jam dinding di ruang tengah rumah Anin, dan udah menunjukkan pukul 10 malam. Gue memutuskan untuk pamit, dan Anin memanggilkan Om Harry karena gue mau pamit. Setelah gue pamit Om Harry, kemudian Anin mengantarkan gue keluar. Sampai di luar pagar, gue dan Anin berhadapan sambil bergandengan tangan.
Gue naik mobil, kemudian meluncur pulang kerumah. Aslinya udah ngantuk gue, seharian belum sempet istirahat. Gue rasa Anin juga capek, karena siangnya kami berdua masih tes SNMPTN dan malamnya ada acara makan malam bareng keluarga gue, dan dia dandan dari sore. Thank you, darl, pikir gue sambil tersenyum. Mobil gue meluncur kencang menembus kegelapan malam.
Sampai dirumah, gue parkirkan mobil ke garasi, dan gue masuk kedalam rumah. Kemudian gue liat bokap lagi nonton TV. Gue duduk di samping bokap sambil ngambil kacang atom di atas meja didepan gue. Kemudian gue cerita ke bokap tentang apa yang gue alami di rumah Anin.
Kemudian gue dan babeh sama-sama bengong larut dalam pikiran masing-masing sambil memandangi TV.
Pintu rumah Anin terbuka, dan gue melihat sosok papanya Anin didepan kami. Bayangan gue sebelumnya adalah papanya Anin berbadan gede, brewokan kayak om Indro Warkop, botak dan segala macam. Pokoknya sangar lah. Ternyata bayangan gue salah semua. Papanya Anin berbadan sedang, dengan tinggi badan se gue. Berambut tebal yang disisir rapi, dan berkumis tipis. Mukanya bisa dibilang ganteng, dan murah senyum. Melihat anak gadisnya pulang, papanya Anin tersenyum. Papa Anin ini namanya om Harry, yang taksiran gue berusia gak jauh dari Tante Ayu.
Quote:
Gue tersenyum kearah om Harry, kemudian mencium tangan om Harry.
Quote:
Diluar dugaan gue, om Harry ternyata ramah, meskipun baru pertama kali ini bertemu dengan gue. Gue mengikuti om Harry duduk di ruang tamu, sementara Anin pamit masuk ke dalam dulu untuk meletakkan tasnya dan melepas sepatu. Disitu gue merasakan om Harry memperhatikan gue dari atas ke bawah. Untung gue dandan yang rapi, pikir gue. Kalo gue pake kaos seperti biasa mah bisa berabe ini.
Quote:
Kemudian gue dan Om Harry ngobrol-ngobrol enteng tentang pekerjaan Om Harry, yang gue iseng tanyakan. Ternyata Om Harry merasa tersanjung ada yang tertarik dengan bidang pekerjaannya, yaitu kontraktor telekomunikasi. Gue pun melontarkan opini-opini gue, berdasarkan apa yang pernah gue baca dan gue dengar, dan Om Harry menjawab opini dan pertanyaan gue dengan semangat. Sukses deh trik gue biar keliatan pinter didepan calon mertua

Gak lama kemudian Anin masuk ke ruang tamu, dan membawakan teh manis panas buat gue. Anin duduk di samping gue, sambil meniup-niupkan teh itu buat gue. Gue memandangi Anin, dan kemudian memandangi om Harry yang tersenyum, dan gue tersipu-sipu sendiri.
Quote:
Setelah itu Om Harry masuk kedalam, dan gue memandangi Anin sambil cengengesan. Ternyata papanya Anin gak seangker yang gue kira, dan baru setelah itu gue sadar, makanya istri dan anak-anaknya juga kocak abis kayak gini ini. Gue pencet hidung Anin, sebagai tanda kelegaan gue bisa menghadapi papanya Anin dengan sukses.
Quote:
Gue liat jam dinding di ruang tengah rumah Anin, dan udah menunjukkan pukul 10 malam. Gue memutuskan untuk pamit, dan Anin memanggilkan Om Harry karena gue mau pamit. Setelah gue pamit Om Harry, kemudian Anin mengantarkan gue keluar. Sampai di luar pagar, gue dan Anin berhadapan sambil bergandengan tangan.
Quote:
Gue naik mobil, kemudian meluncur pulang kerumah. Aslinya udah ngantuk gue, seharian belum sempet istirahat. Gue rasa Anin juga capek, karena siangnya kami berdua masih tes SNMPTN dan malamnya ada acara makan malam bareng keluarga gue, dan dia dandan dari sore. Thank you, darl, pikir gue sambil tersenyum. Mobil gue meluncur kencang menembus kegelapan malam.
Sampai dirumah, gue parkirkan mobil ke garasi, dan gue masuk kedalam rumah. Kemudian gue liat bokap lagi nonton TV. Gue duduk di samping bokap sambil ngambil kacang atom di atas meja didepan gue. Kemudian gue cerita ke bokap tentang apa yang gue alami di rumah Anin.
Quote:
Kemudian gue dan babeh sama-sama bengong larut dalam pikiran masing-masing sambil memandangi TV.
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6



: papaaaa
: udah berapa lama pacaran sama Anin?
*
: iya paaah
: adoooh papaan sih kok mencet-mencet hidung iih
: eh iyayak? Masak sih?
: dih ini anak, pura-pura pikun apa emang aslinya gak inget apa-apa?
: beh, tadi aku ketemu papanya Anin.
: om Harry
: bentar, namanya Harry Su******di bukan? Kontraktor kan?
: itu kayaknya pernah jadi rekanan bisnis babeh deh. Orangnya kayak gimana? Agak tinggi, kumisan?
: kalo bener itu pak Harry yang itu waaaah……
: yaaa susah. Nanti kamu ngerti sendiri kalo orangnya bener yang itu.