- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#30
Spoiler for PART X:
REN
"My mom always tell me that a boy, usually, not giving his best or everything he has to a girl he
loves. But a girl will give everything she has, even the best thing in her life to a boy she loves. Do
you know why? Because a boy uses logic first then heart, but a girl uses heart and no logic. But
a man, he will use his heart and logic equally, he will know that if he give everything he has then
a woman will do the same, even more. And a woman, still using her heart first and her logic after
that. That's why I need to treat a woman right. Or it will be a big disaster for me, because if I
hurt a woman, it means I hurt her feelings, I hurt my mom, I hurt the most beautiful creature who
loves me with all her heart, not loving based on their logic. I need a woman so I can act equally,
using brain and my heart." -Ren
3 tahun yang lalu...
Rambutnya ikal pendek, terpotong rapi. Dia tidak tampan, akan tetapi pembawaannya yang
penuh wibawa membuatnya menarik. Rambut ikal dia dapatkan dari ibunya, kulitnya yang
putih dia dapatkan dari ayahnya. Matanya agak sipit, berwarna coklat tua. Tinggi badannya
175cm, lumayan tinggi untuk seseorang lelaki. Melihat ke sekitar kafe, dia hanya sendiri disitu.
Dia memang selalu sendiri disitu. Dia tidak pernah punya kekasih, atau menyukai wanita
sebelumnya. Di kafe itu dia selalu terduduk, membayangkan bahwa ada sosok wanita yang dia
idam-idamkan.
Namanya Ren, Katou Ren. Dia tinggal di Jepang. Ayahnya seorang Jepang, Ibunya seorang
Indonesia. Ren mencari sosok wanita yang seperti ibunya, lembut dan ramah.
Ren tidak pernah suka dengan sekolah, kuliah hingga sekarang pun dia lanjutkan hanya karena
permintaan ibunya. Dia tidak mengerti kenapa banyak orang yang ingin bekerja dengan orang
lain ketika mereka sendiri bisa membuka usaha, itulah yang Ren inginkan. Memiliki usaha
sendiri. Ibunya selalu mengingatkan bahwa Ren harus bisa mengerti tentang hidup, di tempat
dia sekolah, dia belajar banyak, dari mata kuliah hingga pertemanan. Dia bisa belajar banyak
disitu hingga dia siap untuk membuka usaha sendiri, setelah mengenal orang dan memiliki
pengetahuan yang cukup banyak selain mengenai usaha, sehingga orang lain juga segan
melihatnya. Ibunya selalu berkata padanya, "Kamu tidak boleh sombong, akan tetapi kamu
itu harus tahu kalau kamu berharga, jadi jangan mau apabila direndahkan orang. Setiap orang
memiliki value diri mereka masing-masing."
Untuk masalah pendidikan, Ren masih keras kepala. Sampai Ren berfikir bahwa dia harus
mendapatkan alasan untuk dirinya sendiri agar dia bisa semangat dalam mengenyam
pendidikannya. Wanita. Itulah alasan yang di dapatkan oleh Ren. Dia harus bisa lulus kuliah,
apabila dia ingin wanita yang bersamanya kelak bahagia. At least, merasa Ren berisi. Dia ingin
membahagiakan wanita yang kelak bersamanya seperti dia ingin membahagiakan Ibunya. Itulah
alasannya kenapa Ren selalu pergi dari satu kafe ke kafe lain hanya seorang diri, duduk dan
melihat-lihat ke sekitar. Sudah dua bulan dilakukannya hal ini. Mencari wanita yang tepat.
Siang itu dilihatnya dua orang wanita asing masuk ke dalam kafe yang sedang dia datangi.
Mereka berdua tampak bukan dari Jepang. Yang satu berambut ikal panjang, yang satu lagi
berambut lurus panjang. Mereka berdua sama-sama cantik meskipun mereka sedang tidak
mengenakan make up. Cukup lama Ren memperhatikan kedua wanita tersebut, dia memang
menunggu saat yang tepat untuk mendatangi mereka sambil dia mempelajari tingkah laku
mereka. Semakin Ren melihat, semakin Ren suka. Mereka berdua lembut, banyak diam, dan
kadang saling tersenyum. Apabila mengobrol tidak seheboh wanita-wanita kebanyakan. Mereka
tampak damai. Tapi ada satu orang yang sangat menyita perhatiannya, wanita yang berambut
ikal. Ikal, sama seperti ibunya. Sosok yang sangat dia cari, seperti ibunya. Sudah 30 menit dia
menunggu dan memperhatikan kedua wanita tersebut, sampai akhirnya dia memberanikan diri
untuk mendatangi mereka.
"Excuse me, are you Indonesian?" Kata Ren menyapa mereka, dengan senyuman ramah dan
berharap agar mereka menyambut Ren dengan ramah pula.
"Yes, we are." Jawab wanita yang berambut lurus panjang, singkat. Terlihat mereka sangat
bingung dengan kedatangan Ren yang tiba-tiba.
Ren sangat menyadari bahwa mereka sangat bingung dengan kedatangannya, kemudian dia
pun berusaha meng-akrab-kan diri, "Kenalkan, saya Katou Ren. Ayah saya orang Jepang, Ibu
saya orang Indonesia, nama keluarga saya Katou, jadi kalian bisa panggil saya dengan Ren saja
karena kita sudah akrab. Saya sangat senang bertemu dengan kalian yang dari Indonesia. Ibu
saya pasti senang juga. Kalian disini pelajar? Student exchange?" Tanyanya sambil duduk di
bangku kosong yang telah dia ambil dan dia tempatkan semeja dengan kedua wanita tersebut.
"Saya Giesta, dan ini teman saya..." Kata wanita yang berambut ikal tampak ragu ketika ingin
menyebutkan nama temannya sambil melihat ke arah temannya.
"It is okay, Gies." Kata temannya yang berambut lurus. "Bilang saja nama asliku ke dia."
Tambahnya. Kemudian Giesta melanjutkan perkenalannya, dia juga jujur mengenai siapa dia dan
temannya tersebut. Mereka bercerita panjang lebar. Mereka tidak peduli apabila Ren yang baru
saja mereka temui itu adalah benar-benar orang asing. Mereka hanya ingin di dengar, karena
selama ini memang mereka sudah cukup lelah. Mereka hanya tahu bahwa sepertinya Ren adalah
orang baik-baik.
Ren sangat senang karena dapat bertemu dengan mereka, khususnya Giesta. Wanita tersebut
terus bercerita, dan terkadang terlibat tanya jawab dengan Ren. Sedangkan temannya yang
berambut lurus panjang, dia hanya banyak diam. Ren mengerti, dari cerita yang dia dengar. Ren
mengerti bahwa temannya Giesta tersebut pastilah sangat sedih, sangat shock dengan keadaannya
sekarang yang jauh berbeda dengan apa yang dia impikan. Seperti mimpi buruk. Sehingga dia
banyak diam.
Kasihan dengan keadaan mereka, apalagi setelah Ren mendengar bahwa mereka tidak punya
tempat tinggal karena memilih Jepang secara acak dalam pikiran mereka, Ren pun mengusulkan
agar mereka tinggal dirumahnya. "Kalau kalian tidak enak, kalian bisa membayarnya dengan
menjadi pegawai di rumah makan yang dikelola ibu saya. Rumah saya cukup besar dan dapat
menampung kalian. Saya tidak akan tega..." Kata Ren yang kemudian di sanggah oleh Giesta.
"Maaf, kamu sadar kan kamu barusan bilang apa? Kita nggak..." Giesta pun di sela kembali oleh
Ren.
Ren sadar bahwa mungkin dengan menawarkan tempat tinggal membuat mereka tidak nyaman,
atau mungkin Ren bisa dikira orang jahat. Dia pun berusaha menegaskan tentang niat baiknya
kepada dua wanita tersebut, "Tidak apa, saya benar. Saya jujur. Saya baik. Saya tidak jahat."
Ren dapat melihat bahwa kedua wanita tersebut sempat agak berfikir pada awalnya, dan
kemudian mereka setuju. Seperti mendapatkan harta karun yang selama ini dia tunggu dan dia
cari, dengan senyuman bahagia dibawanya kedua wanita itu ke rumahnya. Dia sangat ingin
mengenalkan mereka kepada Ibunya, khususnya Giesta.
Saking bahagianya dia, dia tidak menyadari bahwa selama perjalanan menuju rumahnya, dia
banyak berbicara. Berbicara mengenai keluarganya. Bercerita panjang lebar dengan nada yang
sangat excited. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah dan dia mengenalkan mereka kepada
ibunya.
***
Sudah seminggu kedua wanita tersebut tinggal dirumahnya. Selama itu juga dia memperhatikan
Giesta. Memperhatikannya secara diam-diam sehingga Giesta pun tak sadar apabila dia sedang
diperhatikan. Ren sudah bercerita mengenai wanita yang disukainya kepada ibunya. Ibunya Ren
setuju selama Ren bahagia, apalagi setelah diperhatikan, Giesta memang adalah seorang wanita
yang baik. Hingga setahun kemudian, sesuai perjanjian yang mereka katakan bahwa mereka
akan kembali ke Indonesia, mereka pun berpamitan. Dia pun harus rela melihat Giesta tidak lagi
berada dirumahnya. Setelah berpamitan, Ren berkata kepada Giesta dan temannya bahwa setelah
dia selesai S2, dia ingin ke Indonesia, bertemu mereka. Padahal tujuan Ren bukanlah bertemu
mereka, melainkan melamar Giesta.
***
Dua tahun kemudian...
Ren sangat senang, dia mendapatkan email dari Giesta yang berkata akan datang ke Jepang.
Dia sangat menantikan hari ini, karena dia belum bisa datang ke Indonesia untuk menemuinya.
Giesta berkata bahwa dia sangat merindukan suasana Jepang dan merindukan kehangatan
keluarganya Ren. Such a beautiful place to go. Katanya.
Akan tetapi keesokan harinya Ren mendapatkan email lagi dari Giesta yang mengatakan bahwa
dia tidak jadi pergi ke Jepang karena ada suatau urusan penting yang harus dia kerjakan di
Indonesia. Ren kecewa. Dia sedih. 3 bulan lagi dia menyelesaikan pendidikan S2nya, dia harus
sabar. Dia akan datang ke Indonesia sesuai dengan janjinya kepada Giesta dan temannya.
Khususnya Giesta. Dia harus sabar.
"My mom always tell me that a boy, usually, not giving his best or everything he has to a girl he
loves. But a girl will give everything she has, even the best thing in her life to a boy she loves. Do
you know why? Because a boy uses logic first then heart, but a girl uses heart and no logic. But
a man, he will use his heart and logic equally, he will know that if he give everything he has then
a woman will do the same, even more. And a woman, still using her heart first and her logic after
that. That's why I need to treat a woman right. Or it will be a big disaster for me, because if I
hurt a woman, it means I hurt her feelings, I hurt my mom, I hurt the most beautiful creature who
loves me with all her heart, not loving based on their logic. I need a woman so I can act equally,
using brain and my heart." -Ren
3 tahun yang lalu...
Rambutnya ikal pendek, terpotong rapi. Dia tidak tampan, akan tetapi pembawaannya yang
penuh wibawa membuatnya menarik. Rambut ikal dia dapatkan dari ibunya, kulitnya yang
putih dia dapatkan dari ayahnya. Matanya agak sipit, berwarna coklat tua. Tinggi badannya
175cm, lumayan tinggi untuk seseorang lelaki. Melihat ke sekitar kafe, dia hanya sendiri disitu.
Dia memang selalu sendiri disitu. Dia tidak pernah punya kekasih, atau menyukai wanita
sebelumnya. Di kafe itu dia selalu terduduk, membayangkan bahwa ada sosok wanita yang dia
idam-idamkan.
Namanya Ren, Katou Ren. Dia tinggal di Jepang. Ayahnya seorang Jepang, Ibunya seorang
Indonesia. Ren mencari sosok wanita yang seperti ibunya, lembut dan ramah.
Ren tidak pernah suka dengan sekolah, kuliah hingga sekarang pun dia lanjutkan hanya karena
permintaan ibunya. Dia tidak mengerti kenapa banyak orang yang ingin bekerja dengan orang
lain ketika mereka sendiri bisa membuka usaha, itulah yang Ren inginkan. Memiliki usaha
sendiri. Ibunya selalu mengingatkan bahwa Ren harus bisa mengerti tentang hidup, di tempat
dia sekolah, dia belajar banyak, dari mata kuliah hingga pertemanan. Dia bisa belajar banyak
disitu hingga dia siap untuk membuka usaha sendiri, setelah mengenal orang dan memiliki
pengetahuan yang cukup banyak selain mengenai usaha, sehingga orang lain juga segan
melihatnya. Ibunya selalu berkata padanya, "Kamu tidak boleh sombong, akan tetapi kamu
itu harus tahu kalau kamu berharga, jadi jangan mau apabila direndahkan orang. Setiap orang
memiliki value diri mereka masing-masing."
Untuk masalah pendidikan, Ren masih keras kepala. Sampai Ren berfikir bahwa dia harus
mendapatkan alasan untuk dirinya sendiri agar dia bisa semangat dalam mengenyam
pendidikannya. Wanita. Itulah alasan yang di dapatkan oleh Ren. Dia harus bisa lulus kuliah,
apabila dia ingin wanita yang bersamanya kelak bahagia. At least, merasa Ren berisi. Dia ingin
membahagiakan wanita yang kelak bersamanya seperti dia ingin membahagiakan Ibunya. Itulah
alasannya kenapa Ren selalu pergi dari satu kafe ke kafe lain hanya seorang diri, duduk dan
melihat-lihat ke sekitar. Sudah dua bulan dilakukannya hal ini. Mencari wanita yang tepat.
Siang itu dilihatnya dua orang wanita asing masuk ke dalam kafe yang sedang dia datangi.
Mereka berdua tampak bukan dari Jepang. Yang satu berambut ikal panjang, yang satu lagi
berambut lurus panjang. Mereka berdua sama-sama cantik meskipun mereka sedang tidak
mengenakan make up. Cukup lama Ren memperhatikan kedua wanita tersebut, dia memang
menunggu saat yang tepat untuk mendatangi mereka sambil dia mempelajari tingkah laku
mereka. Semakin Ren melihat, semakin Ren suka. Mereka berdua lembut, banyak diam, dan
kadang saling tersenyum. Apabila mengobrol tidak seheboh wanita-wanita kebanyakan. Mereka
tampak damai. Tapi ada satu orang yang sangat menyita perhatiannya, wanita yang berambut
ikal. Ikal, sama seperti ibunya. Sosok yang sangat dia cari, seperti ibunya. Sudah 30 menit dia
menunggu dan memperhatikan kedua wanita tersebut, sampai akhirnya dia memberanikan diri
untuk mendatangi mereka.
"Excuse me, are you Indonesian?" Kata Ren menyapa mereka, dengan senyuman ramah dan
berharap agar mereka menyambut Ren dengan ramah pula.
"Yes, we are." Jawab wanita yang berambut lurus panjang, singkat. Terlihat mereka sangat
bingung dengan kedatangan Ren yang tiba-tiba.
Ren sangat menyadari bahwa mereka sangat bingung dengan kedatangannya, kemudian dia
pun berusaha meng-akrab-kan diri, "Kenalkan, saya Katou Ren. Ayah saya orang Jepang, Ibu
saya orang Indonesia, nama keluarga saya Katou, jadi kalian bisa panggil saya dengan Ren saja
karena kita sudah akrab. Saya sangat senang bertemu dengan kalian yang dari Indonesia. Ibu
saya pasti senang juga. Kalian disini pelajar? Student exchange?" Tanyanya sambil duduk di
bangku kosong yang telah dia ambil dan dia tempatkan semeja dengan kedua wanita tersebut.
"Saya Giesta, dan ini teman saya..." Kata wanita yang berambut ikal tampak ragu ketika ingin
menyebutkan nama temannya sambil melihat ke arah temannya.
"It is okay, Gies." Kata temannya yang berambut lurus. "Bilang saja nama asliku ke dia."
Tambahnya. Kemudian Giesta melanjutkan perkenalannya, dia juga jujur mengenai siapa dia dan
temannya tersebut. Mereka bercerita panjang lebar. Mereka tidak peduli apabila Ren yang baru
saja mereka temui itu adalah benar-benar orang asing. Mereka hanya ingin di dengar, karena
selama ini memang mereka sudah cukup lelah. Mereka hanya tahu bahwa sepertinya Ren adalah
orang baik-baik.
Ren sangat senang karena dapat bertemu dengan mereka, khususnya Giesta. Wanita tersebut
terus bercerita, dan terkadang terlibat tanya jawab dengan Ren. Sedangkan temannya yang
berambut lurus panjang, dia hanya banyak diam. Ren mengerti, dari cerita yang dia dengar. Ren
mengerti bahwa temannya Giesta tersebut pastilah sangat sedih, sangat shock dengan keadaannya
sekarang yang jauh berbeda dengan apa yang dia impikan. Seperti mimpi buruk. Sehingga dia
banyak diam.
Kasihan dengan keadaan mereka, apalagi setelah Ren mendengar bahwa mereka tidak punya
tempat tinggal karena memilih Jepang secara acak dalam pikiran mereka, Ren pun mengusulkan
agar mereka tinggal dirumahnya. "Kalau kalian tidak enak, kalian bisa membayarnya dengan
menjadi pegawai di rumah makan yang dikelola ibu saya. Rumah saya cukup besar dan dapat
menampung kalian. Saya tidak akan tega..." Kata Ren yang kemudian di sanggah oleh Giesta.
"Maaf, kamu sadar kan kamu barusan bilang apa? Kita nggak..." Giesta pun di sela kembali oleh
Ren.
Ren sadar bahwa mungkin dengan menawarkan tempat tinggal membuat mereka tidak nyaman,
atau mungkin Ren bisa dikira orang jahat. Dia pun berusaha menegaskan tentang niat baiknya
kepada dua wanita tersebut, "Tidak apa, saya benar. Saya jujur. Saya baik. Saya tidak jahat."
Ren dapat melihat bahwa kedua wanita tersebut sempat agak berfikir pada awalnya, dan
kemudian mereka setuju. Seperti mendapatkan harta karun yang selama ini dia tunggu dan dia
cari, dengan senyuman bahagia dibawanya kedua wanita itu ke rumahnya. Dia sangat ingin
mengenalkan mereka kepada Ibunya, khususnya Giesta.
Saking bahagianya dia, dia tidak menyadari bahwa selama perjalanan menuju rumahnya, dia
banyak berbicara. Berbicara mengenai keluarganya. Bercerita panjang lebar dengan nada yang
sangat excited. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah dan dia mengenalkan mereka kepada
ibunya.
***
Sudah seminggu kedua wanita tersebut tinggal dirumahnya. Selama itu juga dia memperhatikan
Giesta. Memperhatikannya secara diam-diam sehingga Giesta pun tak sadar apabila dia sedang
diperhatikan. Ren sudah bercerita mengenai wanita yang disukainya kepada ibunya. Ibunya Ren
setuju selama Ren bahagia, apalagi setelah diperhatikan, Giesta memang adalah seorang wanita
yang baik. Hingga setahun kemudian, sesuai perjanjian yang mereka katakan bahwa mereka
akan kembali ke Indonesia, mereka pun berpamitan. Dia pun harus rela melihat Giesta tidak lagi
berada dirumahnya. Setelah berpamitan, Ren berkata kepada Giesta dan temannya bahwa setelah
dia selesai S2, dia ingin ke Indonesia, bertemu mereka. Padahal tujuan Ren bukanlah bertemu
mereka, melainkan melamar Giesta.
***
Dua tahun kemudian...
Ren sangat senang, dia mendapatkan email dari Giesta yang berkata akan datang ke Jepang.
Dia sangat menantikan hari ini, karena dia belum bisa datang ke Indonesia untuk menemuinya.
Giesta berkata bahwa dia sangat merindukan suasana Jepang dan merindukan kehangatan
keluarganya Ren. Such a beautiful place to go. Katanya.
Akan tetapi keesokan harinya Ren mendapatkan email lagi dari Giesta yang mengatakan bahwa
dia tidak jadi pergi ke Jepang karena ada suatau urusan penting yang harus dia kerjakan di
Indonesia. Ren kecewa. Dia sedih. 3 bulan lagi dia menyelesaikan pendidikan S2nya, dia harus
sabar. Dia akan datang ke Indonesia sesuai dengan janjinya kepada Giesta dan temannya.
Khususnya Giesta. Dia harus sabar.
0
Kutip
Balas