- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#29
Spoiler for PART IX:
LIFE
3 tahun yang lalu...
Gadis dengan rambut yang panjang dan lebat itu, dia bernilai ratusan juta rupiah. Gadis yang
cantik meskipun tanpa make up. Gadis yang putih mulus. Gadis yang apabila bersuara, merdu
dan lembut. Gadis yang apabila tersenyum, sangat manis. Cantik. Tidak, dia tidak memiliki nama
apabila sedang bekerja. Panggil saja Ace. Nama tersebut diberikan Ibunya Giesta kepada gadis
tersebut karena semenjak datangnya gadis tersebut, usaha ibunya semakin sukses. Kekayaan
mudah sekali di dapatkan. Ya, dia adalah seorang penolong bagi Ibunya Giesta.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak diketahui Ibunya Giesta mengenai Ace. Yaitu bahwa
dia setiap bangun dari tidurnya, menangis. Berharap agar Tuhan mencabut nyawanya pada
saat dia tertidur, bahkan dia siap kapan pun itu. Ace tidak pernah meninggalkan sholatnya,
Tuhannya. Ace tidak lagi tahu apa itu dosa dan tidak dosa, sudah abu-abu baginya. Ace hanya
tahu, Tuhannya Maha Memaafkan.
Ace, dia adalah gadis yang sangat muda. Bekerja dengan ibunya Giesta semenjak dia berusia 18
tahun. Ace memiliki cita-cita yang tinggi, akan tetapi semua tertahan. Tertahan oleh pekerjaan
ini. Ace adalah seorang gadis yang terisolasi. Dia tidak bisa keluar, kecuali apabila pelanggannya
datang. Ace, selalu seharga 250-300 juta lebih permalamnya. Tapi harga diri? Tuhan, bantu aku,
doanya dalam hati.
Malam itu, seperti biasa. Seorang pelanggan Ace datang. Pelanggan? Ya, ibunya Giesta adalah
seorang germo ternama, dan Ace adalah salah satu pramurianya.
Malam itu, sang ibu berbincang dengan seorang bapak yang tampak mapan sekali, kaya sekali.
Tampak rapi dan berwibawa? Wibawa? Hanya tampaknya saja, pikir Ace. Topeng itu bukan
mainan, bukan juga yang dijual-jual di supermarket atau pasar dan tempat lain. Topeng itu
adalah diri kita sendiri, topeng apa yang kita pakai itulah pertanyaannya. Ace memilih untuk
memakai topeng senang di atas kesedihan.
Ibu tersebut berbincang ringan mengenai bisnis sang pelanggan, kemudian mengenai harga
yang dia tawarkan untuk Ace malam ini. Tunggu sebentar, Ace itu sangat mahal. Sehingga tidak
setiap hari dia memiliki pelanggan, mungkin sebulan dia hanya melayani 10 hingga 15 orang.
Oh tapi duit yang dihasilkan sangat banyak. Rumah dan mobil dapat terbeli dengan mudahnya.
Akan tetapi, semua penghasilan Ace siapa yang punya? Ya, hanya Ibunya Giesta. Ace hanya
mendapatkan 15 persennya saja. Akan tetapi terkadang Ace suka mendapatkan mobil dari
pelanggannya, yang kemudian dia jual lagi untuk menambahkan penghasilannya, tabungannya.
Dia butuh, sangat butuh tabungan tersebut. Jadi, sudah dua tahun lamanya dia menabung
semenjak pertama bekerja dengan Ibunya Giesta.
Suasana tiba-tiba hening. Ace dapat merasakan hal itu. Perbincangan Ibunya Giesta dan bapak
pelanggan tersebut tiba-tiba hilang. Bisa dia dengar dari kamarnya bahwa suasana diruang
tamu sangat sepi. Ace tidak mau keluar, ya memang dia sebenarnya tidak mau keluar karena
benci dengan pelanggan-pelanggan yang datang. Suasana yang hening tersebut tak berapa lama
kemudian berubah menjadi ramai. Ace dapat mendengar bahwa ada seorang ibu yang sedang
berteriak, marah dan memaki-maki Ibunya Giesta. Siapa ibu tersebut? Bagaimana dia bisa
masuk? Penjagaan rumah ini kan ketat sekali. Pikirnya.
Dari dalam kamar, Ace dapat mendengar Ibu tersebut berbicara seperti "Uang haram! Wanita
rendahan, wanita murahan." dan kata-kata seperti "Jadi ini yang selama ini kamu lakukan?
Dengan siapa? Mana wanita itu? Yang kamu jamah bandanya, HAH?!"
Mendengarnya saja, Ace merinding. Ada apa sebenarnya diluar sana? Pikirnya lagi. Tiba-
tiba Ace juga bisa mendengar suara Giesta yang sedang menanyakan ada apa dengan keributan
ini. Giesta pun menangis, dia juga meneriakkan kata malu. Giesta juga tampak memohon.
Giesta menangis, dan memohon. Giesta kasihan, sangat kasihan. Tak habis juga ibu yang datang
tersebut memaki Giesta dengan sebutan pramuria. Tidak, jangan Giesta. Dia anak yang sangat
baik, dia bukan aku. Aku yang bekerja. Pikir Ace dalam hati. Akan tetapi, Ace masih tidak
ingin keluar. Jujur saja, dia merasa senang dan puas mendengar ibu tersebut memaki bahkan
menampar suami dan Ibunya Giesta. Tapi kemana semua bodyguard? Tanya Ace dalam hati.
Namun kemudian dia bisa mendengar ketika Ibunya Giesta memanggil semua algojonya akan
tetapi tidak ada yang datang.
"Percuma! Algojo kamu? Sama saja dengan kamu! Saya bayar dengan uang yang amat banyak,
mereka langsung menurut dengan saya." Terdengar dari dalam kamar bahwa Ibu tersebut berkata
hal yang sangat melegakan bagi Ace. "Saya bayar mereka semua 1 milyar, bagi rata untuk
sepuluh orang algojomu. Kamu pikir kamu banyak duit? UANG SAYA LEBIH BANYAK!"
Teriak ibu itu lagi.
Ace hanya bisa diam di dalam kamar hingga suasana menjadi tenang. Sangat tenang.
Kemudian Ace mengintip keluar jendela. Benar-benar sepi. Tidak ada seorang algojo pun. Ini
saat yang tepat bagi aku untuk kabur, apalagi semenjak keributan tadi, Ibunya Giesta kesal dan
langsung pergi keluar rumah, mungkin ke tempat usahanya dia yang di daerah XY. Saat yang
tepat, apalagi kamarku tidak di kunci. Pikir Ace dalam hati. Kemudian dia mengemasi barang-
barangnya dengan cepat, pergi ke kamar Giesta, dan mengajak Giesta untuk kabur. Giesta
yang memang sudah tidak tahan dengan semua ini pun langsung setuju dengan usulan Ace.
Mereka pergi. Bukan ke daerah lain di Jakarta, bukan pula keluar kota. Mereka pergi ke bandara,
lalu membeli tiket. Pergi keluar negeri, keluar negara. Dengan duit tabungan mereka. Tidak
apa, kami bukan kabur. Ini hanya untuk satu tahun. Kami hanya ingin membuat mereka lupa.
Bathin Ace.
***
Jepang, masih 3 tahun yang lalu...
"Kita sudah sampai, jam 10.30 pagi." Kata Ace kepada Giesta. "Kita diam dulu di bandara,
berpikir." Tambahnya. Mereka berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jepang dengan
mengambil penerbangan yang paling cepat. Mereka tidak ingin membuang waktu, tidak ingin
dikejar oleh ibunya Giesta. Mereka pergi dari rumah jam 10 malam, sampai bandara jam 11.30
malam. Keberangkatan yang mereka ambil pun akhirnya keberangkatan jam 3.10. Perjalanan
yang mereka tempuh sekitar 7 jam 15 menit. Istirahat mereka selama penerbangan membuat dua
gadis ini segar, sehingga mereka dapat berpikir jernih. Tidak seperti semalam dimana semuanya
ricuh.
Bandara Haneda. Disitulah mereka termenung. Bertatapan, kadang tersenyum kelu. Disitulah
mereka bingung, apa yang akan mereka lakukan. Bahasa Jepang saja tidak bisa. Disitulah mereka
sadar, mereka mengambil keputusan karena emosi tanpa memikirkan apa yang akan mereka
lakukan selanjutnya.
Dapat mereka lihat warga Jepang berlalu lalang. Tak jarang juga orang asing yang lewat. Mereka
semua seperti sudah terbiasa dengan Jepang, apa yang harus kami lakukan? Bisik Ace dalam
hati. Kemudian dia berjalan ke arah informasi, dia meminta petunjuk apabila ingin berjalan-jalan
di Jepang, dia meminta map. Menggunakan bahasa Inggrislah satu-satunya bahasa yang dia bisa.
Peta sudah di tangan, kembali Ace melihat ke arah sekelilingnya, canggung. "Yuk, kita pergi.
Pakai bahasa Inggris saja, meskipun tidak semua dari mereka bisa. Nanti kita beli kamus Bahasa
Jepang di jalan." Katanya kepada Giesta. Giesta menurut, dia pun bingung harus berbuat apa.
Berbekal dengan seperempat uang Giesta dan seperempat uang Ace yang sudah mereka tukarkan
ke mata uang Yen, mereka pun pergi. Uang yang mereka bawa cukup banyak, bahkan cukup
untuk menyewa sebuah rumah kecil perbulannya disana dan membeli banyak hal. Tapi mereka
tak tahu akan hal itu. Mereka hanya mengetahui bahwa mereka harus lepas dari kejamnya si
germo itu.
Mereka berjalan ke arah pembelian tiket bus. Kemudian berjalan ke arah shelter bus untuk
ke arah kota. "Excuse me, I am looking for a place to stay, where I can rent a small house or
a room. But, I want a nice place, nice environment. Do you know where it is?" Tanya Giesta
ke salah satu orang di shelter bus tersebut, orang tersebut tampak bingung. Bingung memilih
tempat.
"Are you here for holiday or to stay for a long time?" Tanya orang asing tersebut. Matanya
yang sipit dan mulutnya yang cenderung selalu tersenyum membuat orang itu tampak ramah.
Sehingga Giesta dapat merasa nyaman ketika mengobrol dengannya.
"I am staying in here for holiday but in a very long time. About a year. Do you have any places
to recommend? We really need to rest." Jawab Giesta.
"Just try to go to Naka-Meguro. It is a nice place. Near to a river, and you can see the famous
sakura in there. If you are hungry, you can go to restaurants or cafes in there." Kata bapak
tersebut. Kemudian Giesta mengucapkan terima kasih, dan pergi menaiki bus. Tidak lupa dia
bertanya jika ingin pergi ke Naka-Meguro, dia harus menaiki angkutan apa saja. Hah, sulit juga.
Tapi untuk kelanjutan hidup kenapa tidak. Pikirnya.
***
Naka-Meguro. Tempat yang indah. Akan tetapi terasa sangat asing. Mereka masih belum
menemukan tempat untuk tinggal. Mereka lebih memilih untuk pergi ke salah satu kafe disana,
sambil makan siang dan memikirkan hal selanjutnya.
"Excuse me, are you Indonesian?" Tanya seorang lelaki asing yang datang ke arah meja makan
mereka. Laki-laki itu tampaknya memang orang Indonesia yang bermata agak sipit. Wajahnya
tidak tampan, akan tetapi tampak seperti orang yang sangat pintar dan bijak.
"Yes, we are." Jawab Ace singkat. Mereka sangat canggung karena orang asing ini tiba-tiba
menyapa mereka.
"Kenalkan, saya Katou Ren. Ayah saya orang Jepang, Ibu saya orang Indonesia, nama keluarga
saya Katou, jadi kalian bisa panggil saya dengan Ren saja karena kita sudah akrab. Saya sangat
senang bertemu dengan kalian yang dari Indonesia. Ibu saya pasti senang juga." Kata laki-laki
itu. "Kalian disini pelajar? Student exchange?" Tanyanya.
Kemudian mereka berkenalan satu sama lain. Bercerita mengapa mereka bisa sampai disini,
satu-satunya orang asing yang sudah mereka ceritakan tentang semuanya, tentang hal-hal kelam
mereka. Mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan kebingungan ini, lagi pula
tampaknya Ren memang orang baik-baik.
"Sudah, jangan cerita lagi. Kasihan. Kalian tidak punya tempat tinggal kan? Bagaimana
kalau stay di rumah saya? Kalau kalian tidak enak, kalian bisa membayarnya dengan
menjadi pegawai di rumah makan yang dikelola ibu saya. Rumah saya cukup besar dan dapat
menampung kalian. Saya tidak akan tega..." Perkataan Ren kemudian di sela oleh Giesta.
"Maaf, kamu sadar kan kamu barusan bilang apa? Kita nggak..." Giesta pun di sela kembali oleh
Ren.
"Tidak apa, saya benar. Saya jujur. Saya baik. Saya tidak jahat." Katanya menegaskan.
Kemudian karena memang sedang kebingungan, mereka pun mengikuti Ren ke rumahnya.
Mereka hanya berjalan kaki, untung saja Giesta dan Ace tidak membawa banyak barang karena
terburu-buru dan kebetulan rumah Ren tidak jauh dari kafe tersebut. Ren adalah seorang pelajar
disana. Dia berumur 21 tahun. Lebih tua satu tahun dari Giesta dan Ace. Sepanjang perjalanan,
Ren bercerita mengenai keluarganya. Dia juga bercerita mengenai sekolahnya. Ternyata Ren
beragama Islam, Ayahnya masuk Islam karena menikah dengan Ibunya. Ibunya mengajarkan
ayahnya tentang bagaimana agama Islam, dan cara beribadahnya. Hingga saat ini ayahnya masih
memeluk Islam. Semakin tenang hati Giesta dan Ace, karena jika mereka sholat, mereka tidak
akan di anggap aneh karena tidak terbiasa dengan suasana tersebut. Itu yang mereka takutkan.
"Saya bisa bahasa Indonesia karena ibu saya. Dia berbicara dengan saya menggunakan bahasa
Indonesia sejak saya masih kecil. Sedangkan ayah, berbicara dengan saya menggunakan bahasa
Jepang. Oh ya, nanti saya juga bisa ajarkan kalian bahasa Jepang." Kata Ren sambil tersenyum.
Setelah berjalan kaki sekitar lima belas menit, tibalah Giesta dan Ace dirumahnya Ren. Ren
benar, rumahnya memang besar, meskipun tidak terlalu besar seperti rumah-rumah lain yang
dari tadi mereka lewati. Tapi rumah ini sudah cukup besar jika hanya untuk dihuni 3 orang saja.
Suasana rumahnya pun hangat. Mereka suka.
"Mari masuk, saya kenalkan ke Ibu saya. Hari ini rumah makan kami tutup karena renovasi,
jadi hanya ayah yang bekerja keluar. Ibu dirumah." Kata Ren. Kemudian Ren mengenalkan
mereka kepada Ibunya, Ibunya tampak senang. Keluarga Ren sangat ramah. Akhirnya mereka
pun tinggal dirumah itu untuk jangka waktu satu tahun, dan bekerja di rumah makan kepunyaan
Ibunya Ren. Terkadang mereka juga suka membawakan hadiah untuk keluarganya Ren, membeli
dengan uang yang mereka tukarkan dan bawa dari Indonesia yang belum sempat mereka
gunakan.
***
Satu tahun kemudian...
"Ohayou gozaimasu. Watashitachi ga 1-nenkan koko ni taizai suru koto o kanou ni suru tame,
doumo arigatougozaimashita. Wareware wa, Indoneshia ni ikitai, wareware wa subete no
anata no shinsetsu on wasuremasen. Watashitachiha Indoneshia de sa reta nochi no nyuusu
o hassou sa sete itadakimasu. Anata ga Indoneshia ni kite hoshii, anata ga watashitachi no
ie ni sunde ireba chuucho shinaide kudasai. Sore wa, watashitachiha shiawasena kibun ni
narudarou." Kata Ace kepada ayahnya Ren. Ace dan Giesta merasa bahwa mereka sudah harus
kembali ke Indonesia. Jadi pada saat keluarga sedang ingin sarapan, mereka datang membawa
barang mereka dan pamitan. Bahasa Jepang Ace tidak terlalu bagus, sehingga pada saat dia
selesai berbicara kepada ayahnya Ren, Ren masih harus memberitahukan ayahnya perihal
yang Ace sedang bicarakan. Bahasa Jepang yang Ace katakan memiliki arti "Terima kasih
banyak karena telah memperbolehkan kami tinggal disini selama satu tahun. Kami ingin pergi
ke Indonesia, kami tidak akan melupakan semua kebaikan anda. Kami akan mengirimkan kabar
setelah berada di Indonesia. Jangan sungkan apabila ingin datang ke Indonesia dan anda tinggal
di rumah kami. Hal itu akan sangat membuat kami merasa senang." Mereka memang harus
berpamitan kepada ayahnya Ren terdahulu sebagai seorang kepala rumah tangga, kemudian
barulah mereka berpamitan kepada ibunya Ren, dan Ren. Ren berkata kepada mereka, bahwa
setelah kuliah S2nya selesai, dia akan bermain ke Indonesia. Akan tetapi dia masih harus bekerja
dulu di Jepang untuk menabung sehingga dapat bersenang-senang disana. Ace dan Giesta sangat
menunggu kedatangan Ren. Pagi itu suasana sangat haru. Sedih dan bahagia. Sedih karena harus
meninggalkan keluarga yang sudah baik kepada mereka selama satu tahun, dan bahagia karena
pulang ke Indonesia.
3 tahun yang lalu...
Gadis dengan rambut yang panjang dan lebat itu, dia bernilai ratusan juta rupiah. Gadis yang
cantik meskipun tanpa make up. Gadis yang putih mulus. Gadis yang apabila bersuara, merdu
dan lembut. Gadis yang apabila tersenyum, sangat manis. Cantik. Tidak, dia tidak memiliki nama
apabila sedang bekerja. Panggil saja Ace. Nama tersebut diberikan Ibunya Giesta kepada gadis
tersebut karena semenjak datangnya gadis tersebut, usaha ibunya semakin sukses. Kekayaan
mudah sekali di dapatkan. Ya, dia adalah seorang penolong bagi Ibunya Giesta.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak diketahui Ibunya Giesta mengenai Ace. Yaitu bahwa
dia setiap bangun dari tidurnya, menangis. Berharap agar Tuhan mencabut nyawanya pada
saat dia tertidur, bahkan dia siap kapan pun itu. Ace tidak pernah meninggalkan sholatnya,
Tuhannya. Ace tidak lagi tahu apa itu dosa dan tidak dosa, sudah abu-abu baginya. Ace hanya
tahu, Tuhannya Maha Memaafkan.
Ace, dia adalah gadis yang sangat muda. Bekerja dengan ibunya Giesta semenjak dia berusia 18
tahun. Ace memiliki cita-cita yang tinggi, akan tetapi semua tertahan. Tertahan oleh pekerjaan
ini. Ace adalah seorang gadis yang terisolasi. Dia tidak bisa keluar, kecuali apabila pelanggannya
datang. Ace, selalu seharga 250-300 juta lebih permalamnya. Tapi harga diri? Tuhan, bantu aku,
doanya dalam hati.
Malam itu, seperti biasa. Seorang pelanggan Ace datang. Pelanggan? Ya, ibunya Giesta adalah
seorang germo ternama, dan Ace adalah salah satu pramurianya.
Malam itu, sang ibu berbincang dengan seorang bapak yang tampak mapan sekali, kaya sekali.
Tampak rapi dan berwibawa? Wibawa? Hanya tampaknya saja, pikir Ace. Topeng itu bukan
mainan, bukan juga yang dijual-jual di supermarket atau pasar dan tempat lain. Topeng itu
adalah diri kita sendiri, topeng apa yang kita pakai itulah pertanyaannya. Ace memilih untuk
memakai topeng senang di atas kesedihan.
Ibu tersebut berbincang ringan mengenai bisnis sang pelanggan, kemudian mengenai harga
yang dia tawarkan untuk Ace malam ini. Tunggu sebentar, Ace itu sangat mahal. Sehingga tidak
setiap hari dia memiliki pelanggan, mungkin sebulan dia hanya melayani 10 hingga 15 orang.
Oh tapi duit yang dihasilkan sangat banyak. Rumah dan mobil dapat terbeli dengan mudahnya.
Akan tetapi, semua penghasilan Ace siapa yang punya? Ya, hanya Ibunya Giesta. Ace hanya
mendapatkan 15 persennya saja. Akan tetapi terkadang Ace suka mendapatkan mobil dari
pelanggannya, yang kemudian dia jual lagi untuk menambahkan penghasilannya, tabungannya.
Dia butuh, sangat butuh tabungan tersebut. Jadi, sudah dua tahun lamanya dia menabung
semenjak pertama bekerja dengan Ibunya Giesta.
Suasana tiba-tiba hening. Ace dapat merasakan hal itu. Perbincangan Ibunya Giesta dan bapak
pelanggan tersebut tiba-tiba hilang. Bisa dia dengar dari kamarnya bahwa suasana diruang
tamu sangat sepi. Ace tidak mau keluar, ya memang dia sebenarnya tidak mau keluar karena
benci dengan pelanggan-pelanggan yang datang. Suasana yang hening tersebut tak berapa lama
kemudian berubah menjadi ramai. Ace dapat mendengar bahwa ada seorang ibu yang sedang
berteriak, marah dan memaki-maki Ibunya Giesta. Siapa ibu tersebut? Bagaimana dia bisa
masuk? Penjagaan rumah ini kan ketat sekali. Pikirnya.
Dari dalam kamar, Ace dapat mendengar Ibu tersebut berbicara seperti "Uang haram! Wanita
rendahan, wanita murahan." dan kata-kata seperti "Jadi ini yang selama ini kamu lakukan?
Dengan siapa? Mana wanita itu? Yang kamu jamah bandanya, HAH?!"
Mendengarnya saja, Ace merinding. Ada apa sebenarnya diluar sana? Pikirnya lagi. Tiba-
tiba Ace juga bisa mendengar suara Giesta yang sedang menanyakan ada apa dengan keributan
ini. Giesta pun menangis, dia juga meneriakkan kata malu. Giesta juga tampak memohon.
Giesta menangis, dan memohon. Giesta kasihan, sangat kasihan. Tak habis juga ibu yang datang
tersebut memaki Giesta dengan sebutan pramuria. Tidak, jangan Giesta. Dia anak yang sangat
baik, dia bukan aku. Aku yang bekerja. Pikir Ace dalam hati. Akan tetapi, Ace masih tidak
ingin keluar. Jujur saja, dia merasa senang dan puas mendengar ibu tersebut memaki bahkan
menampar suami dan Ibunya Giesta. Tapi kemana semua bodyguard? Tanya Ace dalam hati.
Namun kemudian dia bisa mendengar ketika Ibunya Giesta memanggil semua algojonya akan
tetapi tidak ada yang datang.
"Percuma! Algojo kamu? Sama saja dengan kamu! Saya bayar dengan uang yang amat banyak,
mereka langsung menurut dengan saya." Terdengar dari dalam kamar bahwa Ibu tersebut berkata
hal yang sangat melegakan bagi Ace. "Saya bayar mereka semua 1 milyar, bagi rata untuk
sepuluh orang algojomu. Kamu pikir kamu banyak duit? UANG SAYA LEBIH BANYAK!"
Teriak ibu itu lagi.
Ace hanya bisa diam di dalam kamar hingga suasana menjadi tenang. Sangat tenang.
Kemudian Ace mengintip keluar jendela. Benar-benar sepi. Tidak ada seorang algojo pun. Ini
saat yang tepat bagi aku untuk kabur, apalagi semenjak keributan tadi, Ibunya Giesta kesal dan
langsung pergi keluar rumah, mungkin ke tempat usahanya dia yang di daerah XY. Saat yang
tepat, apalagi kamarku tidak di kunci. Pikir Ace dalam hati. Kemudian dia mengemasi barang-
barangnya dengan cepat, pergi ke kamar Giesta, dan mengajak Giesta untuk kabur. Giesta
yang memang sudah tidak tahan dengan semua ini pun langsung setuju dengan usulan Ace.
Mereka pergi. Bukan ke daerah lain di Jakarta, bukan pula keluar kota. Mereka pergi ke bandara,
lalu membeli tiket. Pergi keluar negeri, keluar negara. Dengan duit tabungan mereka. Tidak
apa, kami bukan kabur. Ini hanya untuk satu tahun. Kami hanya ingin membuat mereka lupa.
Bathin Ace.
***
Jepang, masih 3 tahun yang lalu...
"Kita sudah sampai, jam 10.30 pagi." Kata Ace kepada Giesta. "Kita diam dulu di bandara,
berpikir." Tambahnya. Mereka berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jepang dengan
mengambil penerbangan yang paling cepat. Mereka tidak ingin membuang waktu, tidak ingin
dikejar oleh ibunya Giesta. Mereka pergi dari rumah jam 10 malam, sampai bandara jam 11.30
malam. Keberangkatan yang mereka ambil pun akhirnya keberangkatan jam 3.10. Perjalanan
yang mereka tempuh sekitar 7 jam 15 menit. Istirahat mereka selama penerbangan membuat dua
gadis ini segar, sehingga mereka dapat berpikir jernih. Tidak seperti semalam dimana semuanya
ricuh.
Bandara Haneda. Disitulah mereka termenung. Bertatapan, kadang tersenyum kelu. Disitulah
mereka bingung, apa yang akan mereka lakukan. Bahasa Jepang saja tidak bisa. Disitulah mereka
sadar, mereka mengambil keputusan karena emosi tanpa memikirkan apa yang akan mereka
lakukan selanjutnya.
Dapat mereka lihat warga Jepang berlalu lalang. Tak jarang juga orang asing yang lewat. Mereka
semua seperti sudah terbiasa dengan Jepang, apa yang harus kami lakukan? Bisik Ace dalam
hati. Kemudian dia berjalan ke arah informasi, dia meminta petunjuk apabila ingin berjalan-jalan
di Jepang, dia meminta map. Menggunakan bahasa Inggrislah satu-satunya bahasa yang dia bisa.
Peta sudah di tangan, kembali Ace melihat ke arah sekelilingnya, canggung. "Yuk, kita pergi.
Pakai bahasa Inggris saja, meskipun tidak semua dari mereka bisa. Nanti kita beli kamus Bahasa
Jepang di jalan." Katanya kepada Giesta. Giesta menurut, dia pun bingung harus berbuat apa.
Berbekal dengan seperempat uang Giesta dan seperempat uang Ace yang sudah mereka tukarkan
ke mata uang Yen, mereka pun pergi. Uang yang mereka bawa cukup banyak, bahkan cukup
untuk menyewa sebuah rumah kecil perbulannya disana dan membeli banyak hal. Tapi mereka
tak tahu akan hal itu. Mereka hanya mengetahui bahwa mereka harus lepas dari kejamnya si
germo itu.
Mereka berjalan ke arah pembelian tiket bus. Kemudian berjalan ke arah shelter bus untuk
ke arah kota. "Excuse me, I am looking for a place to stay, where I can rent a small house or
a room. But, I want a nice place, nice environment. Do you know where it is?" Tanya Giesta
ke salah satu orang di shelter bus tersebut, orang tersebut tampak bingung. Bingung memilih
tempat.
"Are you here for holiday or to stay for a long time?" Tanya orang asing tersebut. Matanya
yang sipit dan mulutnya yang cenderung selalu tersenyum membuat orang itu tampak ramah.
Sehingga Giesta dapat merasa nyaman ketika mengobrol dengannya.
"I am staying in here for holiday but in a very long time. About a year. Do you have any places
to recommend? We really need to rest." Jawab Giesta.
"Just try to go to Naka-Meguro. It is a nice place. Near to a river, and you can see the famous
sakura in there. If you are hungry, you can go to restaurants or cafes in there." Kata bapak
tersebut. Kemudian Giesta mengucapkan terima kasih, dan pergi menaiki bus. Tidak lupa dia
bertanya jika ingin pergi ke Naka-Meguro, dia harus menaiki angkutan apa saja. Hah, sulit juga.
Tapi untuk kelanjutan hidup kenapa tidak. Pikirnya.
***
Naka-Meguro. Tempat yang indah. Akan tetapi terasa sangat asing. Mereka masih belum
menemukan tempat untuk tinggal. Mereka lebih memilih untuk pergi ke salah satu kafe disana,
sambil makan siang dan memikirkan hal selanjutnya.
"Excuse me, are you Indonesian?" Tanya seorang lelaki asing yang datang ke arah meja makan
mereka. Laki-laki itu tampaknya memang orang Indonesia yang bermata agak sipit. Wajahnya
tidak tampan, akan tetapi tampak seperti orang yang sangat pintar dan bijak.
"Yes, we are." Jawab Ace singkat. Mereka sangat canggung karena orang asing ini tiba-tiba
menyapa mereka.
"Kenalkan, saya Katou Ren. Ayah saya orang Jepang, Ibu saya orang Indonesia, nama keluarga
saya Katou, jadi kalian bisa panggil saya dengan Ren saja karena kita sudah akrab. Saya sangat
senang bertemu dengan kalian yang dari Indonesia. Ibu saya pasti senang juga." Kata laki-laki
itu. "Kalian disini pelajar? Student exchange?" Tanyanya.
Kemudian mereka berkenalan satu sama lain. Bercerita mengapa mereka bisa sampai disini,
satu-satunya orang asing yang sudah mereka ceritakan tentang semuanya, tentang hal-hal kelam
mereka. Mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan kebingungan ini, lagi pula
tampaknya Ren memang orang baik-baik.
"Sudah, jangan cerita lagi. Kasihan. Kalian tidak punya tempat tinggal kan? Bagaimana
kalau stay di rumah saya? Kalau kalian tidak enak, kalian bisa membayarnya dengan
menjadi pegawai di rumah makan yang dikelola ibu saya. Rumah saya cukup besar dan dapat
menampung kalian. Saya tidak akan tega..." Perkataan Ren kemudian di sela oleh Giesta.
"Maaf, kamu sadar kan kamu barusan bilang apa? Kita nggak..." Giesta pun di sela kembali oleh
Ren.
"Tidak apa, saya benar. Saya jujur. Saya baik. Saya tidak jahat." Katanya menegaskan.
Kemudian karena memang sedang kebingungan, mereka pun mengikuti Ren ke rumahnya.
Mereka hanya berjalan kaki, untung saja Giesta dan Ace tidak membawa banyak barang karena
terburu-buru dan kebetulan rumah Ren tidak jauh dari kafe tersebut. Ren adalah seorang pelajar
disana. Dia berumur 21 tahun. Lebih tua satu tahun dari Giesta dan Ace. Sepanjang perjalanan,
Ren bercerita mengenai keluarganya. Dia juga bercerita mengenai sekolahnya. Ternyata Ren
beragama Islam, Ayahnya masuk Islam karena menikah dengan Ibunya. Ibunya mengajarkan
ayahnya tentang bagaimana agama Islam, dan cara beribadahnya. Hingga saat ini ayahnya masih
memeluk Islam. Semakin tenang hati Giesta dan Ace, karena jika mereka sholat, mereka tidak
akan di anggap aneh karena tidak terbiasa dengan suasana tersebut. Itu yang mereka takutkan.
"Saya bisa bahasa Indonesia karena ibu saya. Dia berbicara dengan saya menggunakan bahasa
Indonesia sejak saya masih kecil. Sedangkan ayah, berbicara dengan saya menggunakan bahasa
Jepang. Oh ya, nanti saya juga bisa ajarkan kalian bahasa Jepang." Kata Ren sambil tersenyum.
Setelah berjalan kaki sekitar lima belas menit, tibalah Giesta dan Ace dirumahnya Ren. Ren
benar, rumahnya memang besar, meskipun tidak terlalu besar seperti rumah-rumah lain yang
dari tadi mereka lewati. Tapi rumah ini sudah cukup besar jika hanya untuk dihuni 3 orang saja.
Suasana rumahnya pun hangat. Mereka suka.
"Mari masuk, saya kenalkan ke Ibu saya. Hari ini rumah makan kami tutup karena renovasi,
jadi hanya ayah yang bekerja keluar. Ibu dirumah." Kata Ren. Kemudian Ren mengenalkan
mereka kepada Ibunya, Ibunya tampak senang. Keluarga Ren sangat ramah. Akhirnya mereka
pun tinggal dirumah itu untuk jangka waktu satu tahun, dan bekerja di rumah makan kepunyaan
Ibunya Ren. Terkadang mereka juga suka membawakan hadiah untuk keluarganya Ren, membeli
dengan uang yang mereka tukarkan dan bawa dari Indonesia yang belum sempat mereka
gunakan.
***
Satu tahun kemudian...
"Ohayou gozaimasu. Watashitachi ga 1-nenkan koko ni taizai suru koto o kanou ni suru tame,
doumo arigatougozaimashita. Wareware wa, Indoneshia ni ikitai, wareware wa subete no
anata no shinsetsu on wasuremasen. Watashitachiha Indoneshia de sa reta nochi no nyuusu
o hassou sa sete itadakimasu. Anata ga Indoneshia ni kite hoshii, anata ga watashitachi no
ie ni sunde ireba chuucho shinaide kudasai. Sore wa, watashitachiha shiawasena kibun ni
narudarou." Kata Ace kepada ayahnya Ren. Ace dan Giesta merasa bahwa mereka sudah harus
kembali ke Indonesia. Jadi pada saat keluarga sedang ingin sarapan, mereka datang membawa
barang mereka dan pamitan. Bahasa Jepang Ace tidak terlalu bagus, sehingga pada saat dia
selesai berbicara kepada ayahnya Ren, Ren masih harus memberitahukan ayahnya perihal
yang Ace sedang bicarakan. Bahasa Jepang yang Ace katakan memiliki arti "Terima kasih
banyak karena telah memperbolehkan kami tinggal disini selama satu tahun. Kami ingin pergi
ke Indonesia, kami tidak akan melupakan semua kebaikan anda. Kami akan mengirimkan kabar
setelah berada di Indonesia. Jangan sungkan apabila ingin datang ke Indonesia dan anda tinggal
di rumah kami. Hal itu akan sangat membuat kami merasa senang." Mereka memang harus
berpamitan kepada ayahnya Ren terdahulu sebagai seorang kepala rumah tangga, kemudian
barulah mereka berpamitan kepada ibunya Ren, dan Ren. Ren berkata kepada mereka, bahwa
setelah kuliah S2nya selesai, dia akan bermain ke Indonesia. Akan tetapi dia masih harus bekerja
dulu di Jepang untuk menabung sehingga dapat bersenang-senang disana. Ace dan Giesta sangat
menunggu kedatangan Ren. Pagi itu suasana sangat haru. Sedih dan bahagia. Sedih karena harus
meninggalkan keluarga yang sudah baik kepada mereka selama satu tahun, dan bahagia karena
pulang ke Indonesia.
0
Kutip
Balas