
Gua memandangi Desita yang tengah mengupas kulit singkong yang kotor berbalut tanah ditempat yang disebut teras rumahnya. Kemudian mencucinya bersih dan meletakkannya diwadah plastik berukuran besar. Mata gua terus mengikuti gerakan-gerakan tangannya yang cekatan, semakin lama semakin kagum gua dibuatnya.
Seorang wanita tua melangkah pelan melewati gang sempit dan menghampiri kami; Ibu Desita.
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam..”
Gua dan Desita menjawab hampir bersamaan. Kemudian Desita bangkit, mengelap tangannya di sudut celananya dan mencium tangan ibu-nya. Sedangkan gua hanya mengangguk.
“Des.. kok temennya nggak diajak masuk, malah duduk diluar..”
“Nggak tau tuh, bu.. disuruh nunggu didalem aja nggak mau..”
Desita bicara sambil menoleh kearah gua, tangannya masih gesit membelah kelapa menjadi bagian-bagian kecil kemudian mencucinya.
“Ayo dek, masuk duduk didalam...”
Ibu Desita mempersilahkan gua untuk masuk dan menunggu didalam. Gua hanya mengangguk sambil berkata; “Oh Iya bu, disini aja nggak apa-apa..”
Kemudian si Ibu melangkah masuk, dari dalam sesekali terdengar suara lirih batuk dan nafas yang sedikit terengah-engah. Gua menggeser posisi duduk mendekati Desita.
“Des..”
“Ya..”
“Nyokap lu kayaknya masih sakit.. nggak dibawa kedokter?”
“Udah.. itu udah mendingan kok..”
“Lu kalo ada apa-apa, ngomong sama gua ya.. nggak usah malu..”
Desita menghentikan aktivitasnya kemudian memandang kearah gua. Pandangan yang belum pernah gua lihat sebelumnya, sebuah pandangan yang penuh arti dan keyakinan.
“Kenapa gue harus ngomong ke elo? Lo kan bukan siapa-siapa gue..”
Gua hanya tertawa mendengar perkataan Desita.
“Hahaha.. sekarang sih gua emang belom jadi siapa-siapa elo, tapi nanti.. suatu saat nanti.. nggak ada lagi kata ‘elu’ atau ‘gua’.. yang ada hanya ‘kita’..”
“Udah jangan banyak berharap deh sol, sekarang kan lu udah tau kondisi gue gimana? Apa lu masih suka sama gue..”
“Masih!”
Gua buru-buru menjawab, sebuah jawaban yang keluar begitu cepat, sangat cepat bahkan sebelum Desita menutup bibirnya.
“Wow.. oke..
let see.. sejauh mana lo bisa bertahan...”
“Oke.. siapa takut..”
Kemudian Desita membenahi apa yang baru saja selesai dia kerjakan. Gua menyusulnya masuk kedalam.
Baru saja gua duduk dilantai rumah Desita, lantai yang beralas semacam karpet plastik dengan motif lingkaran vertikal. Desita sudah kembali sibuk dengan bahan-bahan yang tadi dicuci dan dibersihkan. Dihadapan gua saat ini terdapat singkong, kelapa dan gula merah. Semua sudah terlihat bersih dan diletakkan didalam wadah plastik.
“Ada yang bisa gua banting?”
Desita mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan gua.
“Maksudnya ada yang bisa gua bantu..?”
“Oh.. marut bisa?”
Gua menggeleng pelan.
“Nggoreng bisa?”
Gua menggeleng lagi.
“Bikin adonan bisa?”
Gua menggeleng lagi.
“Ya berarti lo duduk manis aja...”
“Yaaah, emang nggak ada yang lebih gampang?”
“Ada..”
“Apa?”
“Nih pijetin kaki gue. Bisa kan kalo miS E N S O R.?”
Desita menjulurkan kaki kirinya ke gua sambil tersenyum. Gua membalas senyumnya kemudian mulai mengurut pelan kakinya. Sambil tetap mengurut kaki Desita, gua mendendangkan sebuah lagu, sebuah lagu yang dulu pernah populer di iklan rokok Longbeach dimana ada seorang pria tengah memijat wanita dipinggir pantai. Lagu lawas dari Dean Martin; Sway.
When marimba rhythms start to play
Dance with me, make me sway
Like a lazy ocean hugs the shore
Hold me close, sway me more
Desita hanya tersenyum melihat tingkah gua. Kemudian melanjutkan memarut singkong.
“Trus kalo udah diparut, singkongnya diapain?”
Gua bertanya penasaran ke Desita.
“Singkong, kelapa sama garem diaduk sampe rata..”
“...”
“Kalau udah jadi adonan, dibentuk lonjong.. kalo mau diisi kelapa juga bisa..”
“...”
“Trus digoreng, diminyak panas.. “
“Ooh.. udah?”
“Belom, abis itu dilapisin gula merah yang udah dimasak sama gula pasir dan pandan..”
“Ooh.. ternyata gampang..”
“Gampang? Coba nih bikin..”
Desita menyodorkan singkong yang sudah selesai diparut kearah gua.
“Hehehe.. lu aja deh, kan gua udah mijitin nih..”
---
Jam menunjukkan pukul empat sore saat Desita mulai menyuguhkan Gemblong yang baru saja matang dihadapan gua. Dia duduk disebelah gua sambil mengibas-kibaskan telapak tangannya menghadap wajah. Gua nggak begitu tertarik dengan kue gemblong-nya, pandangan gua malah nggak bisa lepas dari Desita yang tengah kegerahan setelah selesai membuat kue tersebut. Desita menyadari hal itu, dia tersenyum kecil kemudian bertanya;
“Ngapain liat-liat?”
“Nggak papa, selain bikin kue gemblong, lu bisa bikin apa lagi?”
“Hmmm... apa ya..?”
Desita menatap langit-langit sambil mengetukkan telunjuknya ke bibir.
“Ya standar lah, kalo kue-kue bolu sama masak-masakan rumah sih bisa..”
Gua mengangguk sambil senyum senyum sendiri, kemudian mengambil sepotong kue gemblong yang masih hangat dan mulai memakannya. Hmm..
“Enak nggak?”
Desita bertanya
“Enyak..”
Gua menjawab sambil mengibaskan telapak tangan didepan mulut gua yang menganga. Gemblong-nya masih panas.
“Sol.. itu kan gue bikinnya banyak, nanti lo bawa pulang ya..?”
“Hah.. bakal apaan?”
“Ya siapa tau orang rumah lo doyan..”
“Tapi kan...?”
“Udah nggak pake tapi-tapi..”
Desita kemudian beranjak masuk, saat keluar dia sudah membawa plastik yang dialasi koran bekas dan mulai memasukkan gemblong kedalamnya.
“Tapi kan.. gua nggak mau langsung pulang Des..”
“Emang mau kemana?”
“Mau kencan..ini kan malem minggu”
“Kencan, sama siapa?”
“Sama elu..”
Desita menoleh ke arah gua, memasang tampang aneh dan sambil membenahi letak poni rambutnya dengan telunjuk kanan, dia duduk disebelah gua.
“Emang, gue mau?”
“Pasti mau lah, selama ini belom ada dan nggak bakal pernah ada cewek yang nolak gua ajak nge-date..”
“Oyaaaaaa.... percaya diri bangeeet..”
“Hahahaha... mau kan lu?”
“Ogah!!”
Desita kemudian berdiri dan masuk kedalam. Sementara gua hanya duduk terdiam sambil menikmati gemblong ke-dua dan meratapi nasib tiba-tiba jadi Don Juan karbitan dihadapan Desita.
Sekitar lima belas menit kemudian, saat tengah menikmati gemblong ke-empat, gua dibuat terkejut oleh Desita yang sudah berganti pakaian, kali ini dia menggunakan kaos micky mouse putih dibalut flanel merah hitam dan celana denim pendek selutut. Dia berdiri dihadapan gua yang kembali terbius dengan parfum aroma permen-nya.
“Pake celana pendek nggak papa kan?”
“....”
“Woii.. ditanyain...bengong aja..”
Gua hanya bengong memandangi Desita dari ujung kaki ke ujung kepala, sambil mengangguk gua berkata; “
Perfect”