- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#207
PART 20
Gue melihat Nadia tersenyum ke gue, dan gue balas itu dengan cengiran lebar. Gue samasekali gak kepikiran untuk salting atau apalah, cuek aja gue, dan lebih memikirkan soal-soal yang sebentar lagi akan gue hadapi. Gue duduk dan kemudian pengawas mulai membagikan lembar jawab beserta membacakan aturan-aturan ujian. Gue pun mulai mengisi biodata gue di lembar jawab itu, dan entah kenapa gue merasakan bahwa Nadia memandangi gue dari belakang. Iseng-iseng, gue nengok kearah belakang. Dan bener aja, Nadia memang sedang memandangi gue. Ketika dia liat gue menengok ke belakang dan memandangi dia, buru-buru dia menundukkan kepala dan mengisi lembar jawabnya. Gue kembali berkonsentrasi ke lembar jawab gue, tapi sambil tersenyum geli dan menggelengkan kepala.
Akhirnya waktu pengerjaan soal pun dimulai, dan gue berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan soal-soal yang ada di depan gue. Di soal-soal ini terletak masa depan gue, pikir gue. Karena itu gue gak mau sembrono ngerjain soal-soal ini. Gue memandangi soal-soal ekonomi yang ada di depan gue. Buset, lumayan susah-susah. Disitu gue kepikiran Anin, apa dia bisa ya mengerjakan soal-soal ekonomi ini, secara dia lemah di ekonomi. Gue mulai gelisah, dan mulai gak konsen mengerjakan karena kepikiran Anin.
Akhirnya waktu tes berakhir, dan gue buru-buru mengambil tas didepan ruangan, kemudian turun ke lantai 2, mencari cewek gue. Disitu gue liat Anin sedang berdiri di depan ruangannya, agaknya dia menunggu gue. Langsung gue samperin Anin, dan gue liat wajahnya agak murung. Gue langsung sadar kemungkinan apa yang terjadi dengan Anin. Gue elus rambutnya sambil tersenyum, dan tanpa bicara sepatah katapun, gue gandeng tangan Anin dan turun kebawah.
Sampai dibawah, gue yang masih menggandeng Anin, langsung menuju ke mobil dan menyalakan mesin mobil. Gue nyalakan AC, dan setelah udara di mobil lumayan sejuk, gue menoleh ke Anin sambil tersenyum.
Gue mengelus rambut Anin, kemudian memegang tangan Anin, menenangkannya. Anin memandangi gue dan tersenyum lemah. Agaknya dia masih terlalu terbebani dengan soal-soal tadi.
Mendadak gue rasakan ada sesuatu yang mendarat di pipi gue. Sesuatu yang hangat, yang dulu udah pernah mendarat di pipi gue. Gue menoleh, dan melihat wajah Anin dekaaaat sekali dengan wajah gue. Gue tersenyum, dan Anin pun tersenyum. Kemudian kepala kami berdua semakin mendekat, dan, yaaaah kalian taulah apa yang setelah itu terjadi

Setelah itu, gue dan Anin cabut dari lokasi tes, dan kemudian mencari tempat makan siang yang kira-kira cocok buat kantong gue. Kami melewati lagi jalan yang kemarin kami lewati waktu mampir ke warung padang, dan kami memutuskan untuk mencari menu lain. Masak makan nasi padang lagi, bosen dong. Gue mengabsen satu per satu warung-warung kaki lima di pinggir jalan. Ada nasi ayam, ada mi ayam, ada lontong sayur, ada nasi uduk dan segala macam. Mendadak Anin nepuk tangan gue.
Gue parkirkan mobil gue, dan Anin langsung ngacir keluar. Gue tersenyum melihat dia berlari-lari kecil ke arah minimarket. Dasar cewek, pikir gue geli. Gue pun menyandarkan tubuh gue ke jok, dan menyalakan radio. Mendadak gue melihat sebuah motor yang gue cukup kenal, berbelok ke minimarket tempat Anin membeli es krim. Pengendara motor tersebut memarkirkan motor, dan membuka helmnya. Well, semesta berkonspirasi kayak apa lagi nih, gak ada habis-habisnya. Gue cukup melongo, karena pengendara motor itu gak lain dan gak bukan adalah Nadia. Dan mata gue mengikuti Nadia masuk ke dalam minimarket itu.
Gue mah sebodo amat, gue menyandarkan kembali tubuh gue kebelakang, dan menikmati sejuknya AC mobil, ditengah udara yang sepanas ini. Gue ganti-ganti radio, mencari lagu yang pas buat gue. Gak lama kemudian gue liat cewek gue yang cantik keluar dari minimarket. Rambutnya dikuncir kuda, dan berwarna agak kecokelatan. Sambil menenteng dompetnya dia berjalan sambil tersenyum ke arah mobil gue. Gue cengengesan, kok bisa yak gue dapet cewek secantik ini, pikir gue terharu
Setelah Anin masuk ke dalam mobil sambil cengengesan, dia mulai membuka kemasan es krimnya. Gue pun pelan-pelan menjalankan mobil. Ketika gue melewati minimarket tadi, gue melihat Nadia di parkiran, dan memandangi mobil gue. Pastilah dia mengenali Anin di dalam tadi. Untung kaca mobil gue agak gelap, jadi ya gue cuek aja, Nadia gak bakal bisa liat ini, pikir gue. Sementara itu gue melihat cewek gue dengan wajah bahagia menikmati es krim cone nya. Gue meringis. Mobil gue sedang berhenti di traffic light.
Setelah itu mendadak handphone gue yang gue taruh di dekat persneling berbunyi. Gue dan Anin sama-sama menunduk dan memandangi handphone gue. Dan kami berdua sama-sama terpaku membaca nama yang ada di layar handphone gue.
Gue melihat Nadia tersenyum ke gue, dan gue balas itu dengan cengiran lebar. Gue samasekali gak kepikiran untuk salting atau apalah, cuek aja gue, dan lebih memikirkan soal-soal yang sebentar lagi akan gue hadapi. Gue duduk dan kemudian pengawas mulai membagikan lembar jawab beserta membacakan aturan-aturan ujian. Gue pun mulai mengisi biodata gue di lembar jawab itu, dan entah kenapa gue merasakan bahwa Nadia memandangi gue dari belakang. Iseng-iseng, gue nengok kearah belakang. Dan bener aja, Nadia memang sedang memandangi gue. Ketika dia liat gue menengok ke belakang dan memandangi dia, buru-buru dia menundukkan kepala dan mengisi lembar jawabnya. Gue kembali berkonsentrasi ke lembar jawab gue, tapi sambil tersenyum geli dan menggelengkan kepala.
Akhirnya waktu pengerjaan soal pun dimulai, dan gue berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan soal-soal yang ada di depan gue. Di soal-soal ini terletak masa depan gue, pikir gue. Karena itu gue gak mau sembrono ngerjain soal-soal ini. Gue memandangi soal-soal ekonomi yang ada di depan gue. Buset, lumayan susah-susah. Disitu gue kepikiran Anin, apa dia bisa ya mengerjakan soal-soal ekonomi ini, secara dia lemah di ekonomi. Gue mulai gelisah, dan mulai gak konsen mengerjakan karena kepikiran Anin.
Akhirnya waktu tes berakhir, dan gue buru-buru mengambil tas didepan ruangan, kemudian turun ke lantai 2, mencari cewek gue. Disitu gue liat Anin sedang berdiri di depan ruangannya, agaknya dia menunggu gue. Langsung gue samperin Anin, dan gue liat wajahnya agak murung. Gue langsung sadar kemungkinan apa yang terjadi dengan Anin. Gue elus rambutnya sambil tersenyum, dan tanpa bicara sepatah katapun, gue gandeng tangan Anin dan turun kebawah.
Sampai dibawah, gue yang masih menggandeng Anin, langsung menuju ke mobil dan menyalakan mesin mobil. Gue nyalakan AC, dan setelah udara di mobil lumayan sejuk, gue menoleh ke Anin sambil tersenyum.
Quote:
Gue mengelus rambut Anin, kemudian memegang tangan Anin, menenangkannya. Anin memandangi gue dan tersenyum lemah. Agaknya dia masih terlalu terbebani dengan soal-soal tadi.
Quote:
Mendadak gue rasakan ada sesuatu yang mendarat di pipi gue. Sesuatu yang hangat, yang dulu udah pernah mendarat di pipi gue. Gue menoleh, dan melihat wajah Anin dekaaaat sekali dengan wajah gue. Gue tersenyum, dan Anin pun tersenyum. Kemudian kepala kami berdua semakin mendekat, dan, yaaaah kalian taulah apa yang setelah itu terjadi

Setelah itu, gue dan Anin cabut dari lokasi tes, dan kemudian mencari tempat makan siang yang kira-kira cocok buat kantong gue. Kami melewati lagi jalan yang kemarin kami lewati waktu mampir ke warung padang, dan kami memutuskan untuk mencari menu lain. Masak makan nasi padang lagi, bosen dong. Gue mengabsen satu per satu warung-warung kaki lima di pinggir jalan. Ada nasi ayam, ada mi ayam, ada lontong sayur, ada nasi uduk dan segala macam. Mendadak Anin nepuk tangan gue.
Quote:
Gue parkirkan mobil gue, dan Anin langsung ngacir keluar. Gue tersenyum melihat dia berlari-lari kecil ke arah minimarket. Dasar cewek, pikir gue geli. Gue pun menyandarkan tubuh gue ke jok, dan menyalakan radio. Mendadak gue melihat sebuah motor yang gue cukup kenal, berbelok ke minimarket tempat Anin membeli es krim. Pengendara motor tersebut memarkirkan motor, dan membuka helmnya. Well, semesta berkonspirasi kayak apa lagi nih, gak ada habis-habisnya. Gue cukup melongo, karena pengendara motor itu gak lain dan gak bukan adalah Nadia. Dan mata gue mengikuti Nadia masuk ke dalam minimarket itu.
Gue mah sebodo amat, gue menyandarkan kembali tubuh gue kebelakang, dan menikmati sejuknya AC mobil, ditengah udara yang sepanas ini. Gue ganti-ganti radio, mencari lagu yang pas buat gue. Gak lama kemudian gue liat cewek gue yang cantik keluar dari minimarket. Rambutnya dikuncir kuda, dan berwarna agak kecokelatan. Sambil menenteng dompetnya dia berjalan sambil tersenyum ke arah mobil gue. Gue cengengesan, kok bisa yak gue dapet cewek secantik ini, pikir gue terharu

Setelah Anin masuk ke dalam mobil sambil cengengesan, dia mulai membuka kemasan es krimnya. Gue pun pelan-pelan menjalankan mobil. Ketika gue melewati minimarket tadi, gue melihat Nadia di parkiran, dan memandangi mobil gue. Pastilah dia mengenali Anin di dalam tadi. Untung kaca mobil gue agak gelap, jadi ya gue cuek aja, Nadia gak bakal bisa liat ini, pikir gue. Sementara itu gue melihat cewek gue dengan wajah bahagia menikmati es krim cone nya. Gue meringis. Mobil gue sedang berhenti di traffic light.
Quote:
Setelah itu mendadak handphone gue yang gue taruh di dekat persneling berbunyi. Gue dan Anin sama-sama menunduk dan memandangi handphone gue. Dan kami berdua sama-sama terpaku membaca nama yang ada di layar handphone gue.
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6


: loh?? Aku kok disuruh makan ini? Iiihh jahat jahat jahat 
: lah katanya makan apa aja terserah, katanya nurut aku
: ya tapi gak makan SANDAL juga kaleeeeee
: yang penting kan gak sedih lagi hehehe
: lah ngapa? Ada makanan apa sih disitu?
: beli satu doang?