- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34.2K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#190
INSIDE STORY 2 BIASA DIPANGGIL TINA
Quote:
INSIDE STORY 2
BIASA DIPANGGIL TINA
Pukul 11 malam, café tempat gua kerja sudah tutup. Temen-temen kerja gua yang rata-rata bekerja di bagian dapur sudah pulang semua. Gua? Yah gua ga terlalu buru-buru pulang memang. Selain karena gua bertugas mencatat jumlah kerusakan. Ya di sini memang setiap 2 hari sekali ada pendataan untuk piring, gelas dan peralatan lain yang pecah, rusak atau hilang. Dan hari ini adalah hari pendataan.
Baru sekitar jam setengah 12 malam, gua beranjak mematikan lampu dan mengecek apakah kompor sudah betul-betul mati. Gua juga mengecek peralatan listrik, memang gua selalu diingatkan Bang Doni buat mengecek hal-hal kaya gini. Jangan sampek tempat gua kerja kebakaran karena masalah sepele.
‘Sudah semua mas?’ Mang Eep menanyakan sekali lagi saat gua keluar dari pintu belakang café. Mang Eep ini adalah orang yang bertugas menjaga café. Rumah dia tepat berada di belakang café dan dipercaya untuk membawa kunci oleh Bang Doni.
‘Udah mang. Saya langsung pulang ya?’
‘Iya ati-ati ya mas’
Gua menstater motor gua dan beranjak dari café. Masalah cewek tadi? Ah ramalan temen gua yang nyebelin itu memang bener. Memang dia memberikan sebuah amplop berisikan gaji gua bulan ini. Ah sial, kenapa gua tadi pake ke-GeeR-an segala. Tau dia Bos gua, gua ga ngomong kayak orang bego ke temen gua.
Motor butut gua berjalan pelan di jalanan kota Yogyakarta. Gua sangat menikmati naik motor berkeliling kota ini. Bahkan gua sering banget jalan memutar untuk sekedar menikmati suasana kota. Hawa dingin yang cukup mengganggu gua malam itu membuat perut gua berteriak-teriak. Bukan laper si, tadi gua sudah makan sebakul penuh, Cuma pengen anget-anget aja.
Gua memberhentikan motor gua di angkringan. Angkringan adalah warung kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman murah meriah khas klaten. Dan sekarang ini angkringan sudah menjamur di Yogyakarta, Katanya si angkringan yang enak itu yang pemiliknya berasal dari klaten. Padahal ya makanannya Cuma nasi sama sambel aja, dikasi bonus lauk ikan teri yang gedenya Cuma seupil gua.
‘Mas, susu jahe 1 ya. Dibungkus’
‘Siap’
Sembari menunggu pesanan gua, Gua menyalakan sebatang rokok.
‘Sendirian mas?’ ada seorang ibu paruh baya tiba-tiba menyapa gua.
‘Eh iya bu’ Gua tersenyum ramah.
‘Mw yang anget-anget?’
‘Tu saya udah pesen’ Gua memberi kode, menunjuk penjual angkringan yang sedang sibuk membuatkan pesanan.
‘Yang bisa ngomong maksudnya, mau nggak?’
‘…’ Gua tertegun. Sedikit terkejut. Sebagian dari jiwa kelaki-lakian gua bergolak. Walaupun gua culun tapi gua paham betul apa yang dimaksud Ibu ini.
‘Gimana?’ Ibu tadi menunjukkan beberapa lembar foto yang disimpan di sakunya.
‘…’ Gua terdiam tapi mata gua melihat cewek-cewek yang ada di foto itu.
‘100 perak aja’ Suara ibu itu seperti setan yang makin masuk ke pikiran gua.
O ya di sini biasa menyebut nominal uang dengan menghilangkan 3 nol di belakang. Kalau sejuta biasa disebut seribu. Jadi kalau 100 perak itu artinya 100ribu.
Gua meraba saku jaket gua. Kalo ga salah itung gua membawa uang 300ribu lebih, karena ditambah beberapa bonus yang diberikan ke gua bulan ini. Di dompet gua juga masih ada uang.
‘Ayo dipilih’ Ibu tadi merayu gua.
‘Ehm…’ Gua bener bener ga pernah yang namanya ‘jajan’ kayak gini. Hati gua bergelora, antara penasaran, maklum masih muda, dan rasa takut akan dosa.
‘Kamarnya di belakang situ kok’ Ibu itu terus menyeret gua dengan rayuannya.
‘Oh shit. Gua masih memiliki masa depan, gua ga mau terjebak buat hal hal kaya gini. Ini Dosa!!!’ batin gua berjuang. Oke gua bulatkan keberanian gua, gua ga boleh terjebak setan di tempat ini. Semangat gua membara.
‘Yang ini deh Bu’ Oh my god, kenapa batin gua dan kenyataan berbeda. Gua malah menunjuk sebuah foto yang dibawa ibu paruh baya itu. Sebuah foto cewek yang memiliki wajah manis, agak sipit memang tapi secara overall gua melihat dia yang paling cantik.
‘Hehe sip pilihannya, nanti ke belakang aja ya. Masuk aja ke rumah yang lampunya paling redup. trus masuk kamar no.8’
‘…’ Gua melongo. Gua merogoh saku gua dan memberikan 2 lembar uang 50 perak ke ibu itu.
‘O ya panggil aja saya Mami Boro, di sini sudah terkenal’ Ibu itu lalu berlalu masuk ke gang yang ada di belakang angkringan setelah memberikan sebuah karcis ke gua bertuliskan angka 8.
Gua masih sedikit termangu. Apakah gua salah? Bukankah hal kayak gini sudah lumrah di kota besar? Apa karena gua dari desa sehingga terlalu menganggap hal ini tabu?
‘Mas, susu jahenya’ Penjual tadi menyodorkan sebuah kantong plastik. Membuyarkan lamunan gua.
‘O ya makasih’ Gua mengulurkan 2 lembar uang ribuan. Gua yakin penjual tadi mendengar transaksi gua dengan Mami Boro. Tapi dia terlihat biasa saja, tidak ada pandangan mengejek atau apapun.
Rasa penasaran gua terus menggeliat. Menuntun gua memasuki gang kecil di belakang angkringan tadi.
Berdasarkan petunjuk tadi, gua masuk ke sebuah rumah kecil, dengan bohlam redup yang menyala di depannya. Gua mengetuk pintu.
‘Masuk aja’ Seorang lelaki hitam memelototi gua.
‘Eh iya’ Gua agak takut sebenernya.
Cuma beberapa langkah dari pintu, gua menemukan kamar no.8. Gua masih memegang sebuah kertas seperti karcis parkir yang diberikan Mami Boro ke gua. Gua mengetuk pintu kamar itu.
Tak lama pintu itu dibuka.
‘Hai.. Boleh liat tiketnya?’ Seorang cewek yang membuka kamar itu menyapa gua. Wajahnya baru keliatan separuh. Karena pintu memang masih diikat dengan rantai pengaman.
‘Tiket? Ini maksudnya?’ Gua mengangkat karcis yang Mami Boro berikan.
‘Yups. Tunggu sebentar’ Cewek tadi mangambil karcis yang gua sodorkan. Menutup pintu dan sesaat kemudian pintu sudah dibuka tanpa rantai pengaman.
‘Masuk mas’ Cewek tadi ramah mempersilahkan gua.
‘Eh eh I iya’ Gua grogi setengah mati.
‘Duduk deh’ Cewek tadi menyalakan lampu kamar sehingga wajahnya terlihat jelas. Cantik si menurut gua, kulitnya sawo matang, Matanya sedikit sipit.
‘…’ Gua duduk di sebuah kursi, memandang sekeliling gua. Kamarnya rapi. Sebuah kasur diletakkan di lantai, ada TV dan beberapa perabotan layaknya tempat kos pada umumnya.
‘Pertama kali ya Mas?’ Cewek tadi duduk di meja kecil di samping gua.
‘I iya nih’ Gua jadi gemetaran.
‘Hehe pantesan.. Gpp sante aja lagi di sini. Udah bayar udah berkuasa’ Ujar cewek tadi tertawa kecil melihat tingkah gua.
‘Oo..’
‘Kuliah atau kerja?’
‘Gua kuliah tapi ini habis pulang kerja’ Gua berusaha menenangkan diri.
‘Hebat donk?’
‘Iya makasi’
‘O ya mau langsung atau…?’
‘Eh ngobrol-ngobrol dulu mungkin ya’ Gua tersenyum kecut. Entah kenapa kok rasa penasaran gua tadi sudah menguap entah kemana. Rasa bersalah dan takut malah menguasai gua saat itu. Bukan karena ceweknya kurang cantik, dia cantik menurut gua. Tapi mungkin jiwa baik gua yang gantian bergolak.
‘Huft oke deh gpp. Tapi ga lebih dr 2 jam lo ya’
‘I iya..’ Gua mengiyakan saja, padahal rasanya tadi Mami Boro ga ngomong masalah jam deh.
Beberapa saat gua dan cewek itu terdiam. Bingung mau ngomong apa.
‘Rokok?’ Gua menawarkan rokok gua.
‘No.. Ga ngerokok’
‘Owh..
‘Nama mas siapa?’ Cewek tadi akhirnya membuka pertanyaan ke gua.
‘Harry’ Gua menjawab.
‘Gua biasa dipanggil Tina’ Cewek tadi menyodorkan tangannya ke gua sambil tersenyum.
Gua meraih tangan Tina, merasakan kulitnya yang lembut dan wangi. Gua ga tau kalau jabatan tangan gua ke Tina malam itu akan membuka kisah Cinta gua yang pertama. Ya yang pertama dalam hidup gua.

BIASA DIPANGGIL TINA
Pukul 11 malam, café tempat gua kerja sudah tutup. Temen-temen kerja gua yang rata-rata bekerja di bagian dapur sudah pulang semua. Gua? Yah gua ga terlalu buru-buru pulang memang. Selain karena gua bertugas mencatat jumlah kerusakan. Ya di sini memang setiap 2 hari sekali ada pendataan untuk piring, gelas dan peralatan lain yang pecah, rusak atau hilang. Dan hari ini adalah hari pendataan.
Baru sekitar jam setengah 12 malam, gua beranjak mematikan lampu dan mengecek apakah kompor sudah betul-betul mati. Gua juga mengecek peralatan listrik, memang gua selalu diingatkan Bang Doni buat mengecek hal-hal kaya gini. Jangan sampek tempat gua kerja kebakaran karena masalah sepele.
‘Sudah semua mas?’ Mang Eep menanyakan sekali lagi saat gua keluar dari pintu belakang café. Mang Eep ini adalah orang yang bertugas menjaga café. Rumah dia tepat berada di belakang café dan dipercaya untuk membawa kunci oleh Bang Doni.
‘Udah mang. Saya langsung pulang ya?’
‘Iya ati-ati ya mas’
Gua menstater motor gua dan beranjak dari café. Masalah cewek tadi? Ah ramalan temen gua yang nyebelin itu memang bener. Memang dia memberikan sebuah amplop berisikan gaji gua bulan ini. Ah sial, kenapa gua tadi pake ke-GeeR-an segala. Tau dia Bos gua, gua ga ngomong kayak orang bego ke temen gua.
Motor butut gua berjalan pelan di jalanan kota Yogyakarta. Gua sangat menikmati naik motor berkeliling kota ini. Bahkan gua sering banget jalan memutar untuk sekedar menikmati suasana kota. Hawa dingin yang cukup mengganggu gua malam itu membuat perut gua berteriak-teriak. Bukan laper si, tadi gua sudah makan sebakul penuh, Cuma pengen anget-anget aja.
Gua memberhentikan motor gua di angkringan. Angkringan adalah warung kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman murah meriah khas klaten. Dan sekarang ini angkringan sudah menjamur di Yogyakarta, Katanya si angkringan yang enak itu yang pemiliknya berasal dari klaten. Padahal ya makanannya Cuma nasi sama sambel aja, dikasi bonus lauk ikan teri yang gedenya Cuma seupil gua.
‘Mas, susu jahe 1 ya. Dibungkus’
‘Siap’
Sembari menunggu pesanan gua, Gua menyalakan sebatang rokok.
‘Sendirian mas?’ ada seorang ibu paruh baya tiba-tiba menyapa gua.
‘Eh iya bu’ Gua tersenyum ramah.
‘Mw yang anget-anget?’
‘Tu saya udah pesen’ Gua memberi kode, menunjuk penjual angkringan yang sedang sibuk membuatkan pesanan.
‘Yang bisa ngomong maksudnya, mau nggak?’
‘…’ Gua tertegun. Sedikit terkejut. Sebagian dari jiwa kelaki-lakian gua bergolak. Walaupun gua culun tapi gua paham betul apa yang dimaksud Ibu ini.
‘Gimana?’ Ibu tadi menunjukkan beberapa lembar foto yang disimpan di sakunya.
‘…’ Gua terdiam tapi mata gua melihat cewek-cewek yang ada di foto itu.
‘100 perak aja’ Suara ibu itu seperti setan yang makin masuk ke pikiran gua.
O ya di sini biasa menyebut nominal uang dengan menghilangkan 3 nol di belakang. Kalau sejuta biasa disebut seribu. Jadi kalau 100 perak itu artinya 100ribu.
Gua meraba saku jaket gua. Kalo ga salah itung gua membawa uang 300ribu lebih, karena ditambah beberapa bonus yang diberikan ke gua bulan ini. Di dompet gua juga masih ada uang.
‘Ayo dipilih’ Ibu tadi merayu gua.
‘Ehm…’ Gua bener bener ga pernah yang namanya ‘jajan’ kayak gini. Hati gua bergelora, antara penasaran, maklum masih muda, dan rasa takut akan dosa.
‘Kamarnya di belakang situ kok’ Ibu itu terus menyeret gua dengan rayuannya.
‘Oh shit. Gua masih memiliki masa depan, gua ga mau terjebak buat hal hal kaya gini. Ini Dosa!!!’ batin gua berjuang. Oke gua bulatkan keberanian gua, gua ga boleh terjebak setan di tempat ini. Semangat gua membara.
‘Yang ini deh Bu’ Oh my god, kenapa batin gua dan kenyataan berbeda. Gua malah menunjuk sebuah foto yang dibawa ibu paruh baya itu. Sebuah foto cewek yang memiliki wajah manis, agak sipit memang tapi secara overall gua melihat dia yang paling cantik.
‘Hehe sip pilihannya, nanti ke belakang aja ya. Masuk aja ke rumah yang lampunya paling redup. trus masuk kamar no.8’
‘…’ Gua melongo. Gua merogoh saku gua dan memberikan 2 lembar uang 50 perak ke ibu itu.
‘O ya panggil aja saya Mami Boro, di sini sudah terkenal’ Ibu itu lalu berlalu masuk ke gang yang ada di belakang angkringan setelah memberikan sebuah karcis ke gua bertuliskan angka 8.
Gua masih sedikit termangu. Apakah gua salah? Bukankah hal kayak gini sudah lumrah di kota besar? Apa karena gua dari desa sehingga terlalu menganggap hal ini tabu?
‘Mas, susu jahenya’ Penjual tadi menyodorkan sebuah kantong plastik. Membuyarkan lamunan gua.
‘O ya makasih’ Gua mengulurkan 2 lembar uang ribuan. Gua yakin penjual tadi mendengar transaksi gua dengan Mami Boro. Tapi dia terlihat biasa saja, tidak ada pandangan mengejek atau apapun.
Rasa penasaran gua terus menggeliat. Menuntun gua memasuki gang kecil di belakang angkringan tadi.
Berdasarkan petunjuk tadi, gua masuk ke sebuah rumah kecil, dengan bohlam redup yang menyala di depannya. Gua mengetuk pintu.
‘Masuk aja’ Seorang lelaki hitam memelototi gua.
‘Eh iya’ Gua agak takut sebenernya.
Cuma beberapa langkah dari pintu, gua menemukan kamar no.8. Gua masih memegang sebuah kertas seperti karcis parkir yang diberikan Mami Boro ke gua. Gua mengetuk pintu kamar itu.
Tak lama pintu itu dibuka.
‘Hai.. Boleh liat tiketnya?’ Seorang cewek yang membuka kamar itu menyapa gua. Wajahnya baru keliatan separuh. Karena pintu memang masih diikat dengan rantai pengaman.
‘Tiket? Ini maksudnya?’ Gua mengangkat karcis yang Mami Boro berikan.
‘Yups. Tunggu sebentar’ Cewek tadi mangambil karcis yang gua sodorkan. Menutup pintu dan sesaat kemudian pintu sudah dibuka tanpa rantai pengaman.
‘Masuk mas’ Cewek tadi ramah mempersilahkan gua.
‘Eh eh I iya’ Gua grogi setengah mati.
‘Duduk deh’ Cewek tadi menyalakan lampu kamar sehingga wajahnya terlihat jelas. Cantik si menurut gua, kulitnya sawo matang, Matanya sedikit sipit.
‘…’ Gua duduk di sebuah kursi, memandang sekeliling gua. Kamarnya rapi. Sebuah kasur diletakkan di lantai, ada TV dan beberapa perabotan layaknya tempat kos pada umumnya.
‘Pertama kali ya Mas?’ Cewek tadi duduk di meja kecil di samping gua.
‘I iya nih’ Gua jadi gemetaran.
‘Hehe pantesan.. Gpp sante aja lagi di sini. Udah bayar udah berkuasa’ Ujar cewek tadi tertawa kecil melihat tingkah gua.
‘Oo..’
‘Kuliah atau kerja?’
‘Gua kuliah tapi ini habis pulang kerja’ Gua berusaha menenangkan diri.
‘Hebat donk?’
‘Iya makasi’
‘O ya mau langsung atau…?’
‘Eh ngobrol-ngobrol dulu mungkin ya’ Gua tersenyum kecut. Entah kenapa kok rasa penasaran gua tadi sudah menguap entah kemana. Rasa bersalah dan takut malah menguasai gua saat itu. Bukan karena ceweknya kurang cantik, dia cantik menurut gua. Tapi mungkin jiwa baik gua yang gantian bergolak.
‘Huft oke deh gpp. Tapi ga lebih dr 2 jam lo ya’
‘I iya..’ Gua mengiyakan saja, padahal rasanya tadi Mami Boro ga ngomong masalah jam deh.
Beberapa saat gua dan cewek itu terdiam. Bingung mau ngomong apa.
‘Rokok?’ Gua menawarkan rokok gua.
‘No.. Ga ngerokok’
‘Owh..
‘Nama mas siapa?’ Cewek tadi akhirnya membuka pertanyaan ke gua.
‘Harry’ Gua menjawab.
‘Gua biasa dipanggil Tina’ Cewek tadi menyodorkan tangannya ke gua sambil tersenyum.
Gua meraih tangan Tina, merasakan kulitnya yang lembut dan wangi. Gua ga tau kalau jabatan tangan gua ke Tina malam itu akan membuka kisah Cinta gua yang pertama. Ya yang pertama dalam hidup gua.
bersambung ke Next Chapter

0
Kutip
Balas