- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#182
PART XIX LENA
Quote:
PART XIX
LENA
Ga terasa gua sudah sampai di depan rumah Fia. Terus terang gua agak ngeri kalau malem-malem gini harus sendirian ke Rumah Fia. Selain gelap, gua harus melewati sebuah jalan, di sampingnya ada rimbunan pohon bambu yang horor banget.
Untung gua anter Fia dulu, jadi Lena bisa temenin gua untuk perjalanan pulang dari rumah Fia.
‘Makasi ya Pak’
‘Bosen ah ga ada kata-kata lain?’ Gua nyempetin keluar dari mobil buat bantu Fia mengeluarkan tasnya dari bagasi.
‘Hehe.. Fia pamit pak.’ Fia tersenyum ke gua. Fia meraih tangan gua dan menciumnya.
‘Iya jaga diri baik-baik ya. Ari juga’ Gua memandang Ari yang digendong Fia, dia masih tertidur.
‘Bapak ati-ati..’ Fia melambaikan tangan ketika mobil gua mulai berjalan menjauh.
Lena sekarang ada di samping gua. Mukanya masih keliatan kusut banget karena daritadi Lena tidur.
‘Pak..’
‘Ya?’ Gua menoleh ke Lena.
‘Gpp’
‘Loh? Ngetes telinga doank?’
‘Hahaha… Takutnya Bapak ngantuk’
‘Kamu daritadi molor’
‘Hehehe..’ Lena mrenges ke gua.
‘Bapak udah ngomong masalah perasaan ke Fia?’
‘DEG’ gua tiba-tiba merinding. Bukan karena mobil gua sedang melewati lokasi pohon bambu yang horor, tapi karena pertanyaan Lena..
Gua Cuma diem. Sebenernya gua lagi mikir kata-kata yang pas buat menjelaskan semuanya ke Lena.
‘Hm kalo belum mau cerita juga gpp pak’ Lena tersenyum.
‘Gak.. gak.. Gua memang mau crita ini ke kamu. Tapi bentar ya..’ Gua meng-interupsi.
Sepanjang perjalanan gua dan Lena lebih banyak diam. Kadang sesekali Lena ngajak gua ngobrol. Tapi entah kenapa pikiran gua ga bisa fokus. Beberapa hari terakhir ini juga kadar kekonyolan gua berkurang gara-gara masalah ini.
Gua menghentikan mobil di depan halaman rumah Lena. Sekitar pukul setengah 11 malam, gua baru nyampe di rumah Lena.
‘Lena pamit ya pak?’ Lena berpamitan ketika gua sampai di depan rumah Lena.
‘Bentar Len’ Belum sempat Lena beresin tasnya, gua meraih tangan Lena.
‘…’ Lena Cuma memandang gua. Gua memandang Lena supaya dia tetap di mobil.
‘Sini dulu’
‘Iya pak..’ Lena kembali duduk dan meletakkan tasnya.
Suasana perumahan tempat Lena tinggal memang cukup sepi, nggak seperti perkampungan di wilayah ini. Memang warga yang tinggal di perumahan rata-rata memiliki jiwa individualis yang cukup tinggi.
Gua menarik pelan tangan Lena, memegang pundaknya. Walaupun suasana gelap tapi gua masih bisa melihat wajah Lena. Gua mencium kening Lena kemudian memeluknya.
‘Aku sayang kamu Len’
‘…’ Lena tidak menjawab.
‘Kamu tau kan apa yang ada di hatiku sekarang?’
‘…’ Lena tidak menjawab. Namun gerakan kepalanya dapat gua rasakan bahwa dia mengangguk.
‘Aku memang egois. Aku cowok yang pengen memiliki semuanya.’
‘…’ Lena mempererat pelukannya.
‘Aku sayang sama kamu Len, tapi aku cinta sama dia’
‘…’ Lena tidak menjawab. Tangan Lena membelai lembut rambut gua. Seakan ingin menenangkan pergolakan hati gua yang memuncak akhir-akhir ini.
‘Menurut saya… Masalah harus dihadapi dan diatasi pak. Kita justru harus berhadapan langsung dengan masalah itu, supaya bisa segera menyelesaikannya. Bukannya malah menghindar dan menjauh.’
‘Kayaknya itu kata-kataku deh’ Gua menjawab. Kami tetap dalam posisi yang sama.
‘Haha… Tau gak pak? Pertama saya ketemu Bapak’
‘…’ Gua menggeleng. Lena melepas pelukan gua supaya lebih enak berbicara. Lena masih memegang tangan gua.
‘Bapak galak. Suka nyuruh-nyuruh. Mau menang sendiri. Cerewet lagi’
‘Hahaha.. trus?’
‘Tiap hari pasti ada nasehat yang saya dengar. Dari yang mengena sampai yang gak mutu’
‘…’
‘Tapi ketika Bapak diam. 1 hari saja. Entah kenapa kok saya jadi pengen diceramahi’
‘…’
‘Dari situ saya sadar. Bahwa saya butuh Bapak’
‘…’
‘Dari saya yang manja, mudah menyerah dan mengeluh. Secara ga sadar sikap saya berubah setelah bekerja bareng Bapak’
‘…’
‘Itulah kenapa saya masih di sini Pak.’
‘…’
‘Saya berutang banyak sama Bapak, dan saat inilah saat dimana saya bisa membalasnya’
‘…’
‘Selain karena Bapak, secara ga sadar sudah mengambil hati saya’
‘…’
‘Yakinlah pak. Apapun keputusan Bapak. Fia atau siapapun, saya akan mendukung 100%’
‘….’
‘Pak?’
‘Gila ya ada cewek kayak kamu Len’ Gua memandang Lena.
‘Hahaha memang kenapa pak?’
‘Aku kira cewek kayak kamu Cuma ada di film film aja’
‘Hehe..’ Lena tersenyum manis banget malem itu. Perwujudan cinta yang sebenarnya, yang Lena tunjukkan ke gua hari-hari ini. Mencintai dengan tulus.
‘Aku udah ngomong semuanya ke Fia’ Akhirnya gua berani menceritakan hal ini ke Lena.
‘Trus’ Lena memandang gua. Pandangannya tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
‘Aku langsung ngomong, kalau aku pengen nikahi dia’
‘…’ Lena terdiam. Tampaknya Lena masih menunggu penjelasan gua berikutnya.
‘Fia masih memikirkan ajakan konyolku ini. Karena memang kondisinya tidak semudah mengatakan iya atau tidak’
‘…’
‘Ya Cuma itu yang bisa aku ceritakan Len’
‘…’
‘Cinta adalah sebuah jembatan. Yang menghubungkan antara aku dan dia. Tapi aku harus memahami, bahwa kadang di antara aku dan dia ada jurang yang memisahkan, yang bernama keluarga, yang bernama keyakinan, yang bernama status pernikahan.’
‘Seandainya Bapak gagal menyeberangi jembatan itu?’
‘Huff…’ Gua menghela nafas.
‘…’
‘Aku siap dan rela jika memang aku gagal’ Gua tersenyum meyakinkan Lena buat keputusanku.
'Hehe nekat dan hebat cuma dibatasi kertas tipis pak'
'O ya?'
'Dan kertas tipis itulah yang akan menentukan keberhasilan kita kelak' Lena menghela nafas.
'...'
'Itu nasehat original dari saya lo Pak. Ga njiplak punya Bapak lagi'
'Hahaha...' Gua tertawa mendengar kata-kata Lena.
'Kayaknya Bapak harus pulang deh.. udah hampir tengah malem pak' Ga terasa waktu berjalan terus saat gua ngobrol dengan Lena.
'Iya ya. Besok kita kerja'
'Yups' Lena mengambil tasnya dan beranjak dari mobil gua.
'Ati-ati ya Pak' Lena melongok dari jendela mobil.
'Ya.. kamu juga ya' Lena meraih tangan Gua dan menciumnya.
---
Lena memandang gua. Entah gua merasa dikuatkan saat Lena ada di sisi gua. Keberadaanya benar-benar menenangkan.
‘Lets Fight!’ Lena mengatakan itu sambil melambaikan tangan. Gua membalas lambaian tangan Lena, sekali lagi gua melihat seorang wanita yang luar biasa ini. Memandangnya berdiri sambil melambaikan tangannya. Seakan mengantarkan gua ke pertarungan yang sesungguhnya. Yang ada di depan mata gua.
LENA
Ga terasa gua sudah sampai di depan rumah Fia. Terus terang gua agak ngeri kalau malem-malem gini harus sendirian ke Rumah Fia. Selain gelap, gua harus melewati sebuah jalan, di sampingnya ada rimbunan pohon bambu yang horor banget.
Untung gua anter Fia dulu, jadi Lena bisa temenin gua untuk perjalanan pulang dari rumah Fia.
‘Makasi ya Pak’
‘Bosen ah ga ada kata-kata lain?’ Gua nyempetin keluar dari mobil buat bantu Fia mengeluarkan tasnya dari bagasi.
‘Hehe.. Fia pamit pak.’ Fia tersenyum ke gua. Fia meraih tangan gua dan menciumnya.
‘Iya jaga diri baik-baik ya. Ari juga’ Gua memandang Ari yang digendong Fia, dia masih tertidur.
‘Bapak ati-ati..’ Fia melambaikan tangan ketika mobil gua mulai berjalan menjauh.
Lena sekarang ada di samping gua. Mukanya masih keliatan kusut banget karena daritadi Lena tidur.
‘Pak..’
‘Ya?’ Gua menoleh ke Lena.
‘Gpp’
‘Loh? Ngetes telinga doank?’
‘Hahaha… Takutnya Bapak ngantuk’
‘Kamu daritadi molor’
‘Hehehe..’ Lena mrenges ke gua.
‘Bapak udah ngomong masalah perasaan ke Fia?’
‘DEG’ gua tiba-tiba merinding. Bukan karena mobil gua sedang melewati lokasi pohon bambu yang horor, tapi karena pertanyaan Lena..
Gua Cuma diem. Sebenernya gua lagi mikir kata-kata yang pas buat menjelaskan semuanya ke Lena.
‘Hm kalo belum mau cerita juga gpp pak’ Lena tersenyum.
‘Gak.. gak.. Gua memang mau crita ini ke kamu. Tapi bentar ya..’ Gua meng-interupsi.
Sepanjang perjalanan gua dan Lena lebih banyak diam. Kadang sesekali Lena ngajak gua ngobrol. Tapi entah kenapa pikiran gua ga bisa fokus. Beberapa hari terakhir ini juga kadar kekonyolan gua berkurang gara-gara masalah ini.
Gua menghentikan mobil di depan halaman rumah Lena. Sekitar pukul setengah 11 malam, gua baru nyampe di rumah Lena.
‘Lena pamit ya pak?’ Lena berpamitan ketika gua sampai di depan rumah Lena.
‘Bentar Len’ Belum sempat Lena beresin tasnya, gua meraih tangan Lena.
‘…’ Lena Cuma memandang gua. Gua memandang Lena supaya dia tetap di mobil.
‘Sini dulu’
‘Iya pak..’ Lena kembali duduk dan meletakkan tasnya.
Suasana perumahan tempat Lena tinggal memang cukup sepi, nggak seperti perkampungan di wilayah ini. Memang warga yang tinggal di perumahan rata-rata memiliki jiwa individualis yang cukup tinggi.
Gua menarik pelan tangan Lena, memegang pundaknya. Walaupun suasana gelap tapi gua masih bisa melihat wajah Lena. Gua mencium kening Lena kemudian memeluknya.
‘Aku sayang kamu Len’
‘…’ Lena tidak menjawab.
‘Kamu tau kan apa yang ada di hatiku sekarang?’
‘…’ Lena tidak menjawab. Namun gerakan kepalanya dapat gua rasakan bahwa dia mengangguk.
‘Aku memang egois. Aku cowok yang pengen memiliki semuanya.’
‘…’ Lena mempererat pelukannya.
‘Aku sayang sama kamu Len, tapi aku cinta sama dia’
‘…’ Lena tidak menjawab. Tangan Lena membelai lembut rambut gua. Seakan ingin menenangkan pergolakan hati gua yang memuncak akhir-akhir ini.
‘Menurut saya… Masalah harus dihadapi dan diatasi pak. Kita justru harus berhadapan langsung dengan masalah itu, supaya bisa segera menyelesaikannya. Bukannya malah menghindar dan menjauh.’
‘Kayaknya itu kata-kataku deh’ Gua menjawab. Kami tetap dalam posisi yang sama.
‘Haha… Tau gak pak? Pertama saya ketemu Bapak’
‘…’ Gua menggeleng. Lena melepas pelukan gua supaya lebih enak berbicara. Lena masih memegang tangan gua.
‘Bapak galak. Suka nyuruh-nyuruh. Mau menang sendiri. Cerewet lagi’
‘Hahaha.. trus?’
‘Tiap hari pasti ada nasehat yang saya dengar. Dari yang mengena sampai yang gak mutu’
‘…’
‘Tapi ketika Bapak diam. 1 hari saja. Entah kenapa kok saya jadi pengen diceramahi’
‘…’
‘Dari situ saya sadar. Bahwa saya butuh Bapak’
‘…’
‘Dari saya yang manja, mudah menyerah dan mengeluh. Secara ga sadar sikap saya berubah setelah bekerja bareng Bapak’
‘…’
‘Itulah kenapa saya masih di sini Pak.’
‘…’
‘Saya berutang banyak sama Bapak, dan saat inilah saat dimana saya bisa membalasnya’
‘…’
‘Selain karena Bapak, secara ga sadar sudah mengambil hati saya’
‘…’
‘Yakinlah pak. Apapun keputusan Bapak. Fia atau siapapun, saya akan mendukung 100%’
‘….’
‘Pak?’
‘Gila ya ada cewek kayak kamu Len’ Gua memandang Lena.
‘Hahaha memang kenapa pak?’
‘Aku kira cewek kayak kamu Cuma ada di film film aja’
‘Hehe..’ Lena tersenyum manis banget malem itu. Perwujudan cinta yang sebenarnya, yang Lena tunjukkan ke gua hari-hari ini. Mencintai dengan tulus.
‘Aku udah ngomong semuanya ke Fia’ Akhirnya gua berani menceritakan hal ini ke Lena.
‘Trus’ Lena memandang gua. Pandangannya tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
‘Aku langsung ngomong, kalau aku pengen nikahi dia’
‘…’ Lena terdiam. Tampaknya Lena masih menunggu penjelasan gua berikutnya.
‘Fia masih memikirkan ajakan konyolku ini. Karena memang kondisinya tidak semudah mengatakan iya atau tidak’
‘…’
‘Ya Cuma itu yang bisa aku ceritakan Len’
‘…’
‘Cinta adalah sebuah jembatan. Yang menghubungkan antara aku dan dia. Tapi aku harus memahami, bahwa kadang di antara aku dan dia ada jurang yang memisahkan, yang bernama keluarga, yang bernama keyakinan, yang bernama status pernikahan.’
‘Seandainya Bapak gagal menyeberangi jembatan itu?’
‘Huff…’ Gua menghela nafas.
‘…’
‘Aku siap dan rela jika memang aku gagal’ Gua tersenyum meyakinkan Lena buat keputusanku.
'Hehe nekat dan hebat cuma dibatasi kertas tipis pak'
'O ya?'
'Dan kertas tipis itulah yang akan menentukan keberhasilan kita kelak' Lena menghela nafas.
'...'
'Itu nasehat original dari saya lo Pak. Ga njiplak punya Bapak lagi'
'Hahaha...' Gua tertawa mendengar kata-kata Lena.
'Kayaknya Bapak harus pulang deh.. udah hampir tengah malem pak' Ga terasa waktu berjalan terus saat gua ngobrol dengan Lena.
'Iya ya. Besok kita kerja'
'Yups' Lena mengambil tasnya dan beranjak dari mobil gua.
'Ati-ati ya Pak' Lena melongok dari jendela mobil.
'Ya.. kamu juga ya' Lena meraih tangan Gua dan menciumnya.
---
Lena memandang gua. Entah gua merasa dikuatkan saat Lena ada di sisi gua. Keberadaanya benar-benar menenangkan.
‘Lets Fight!’ Lena mengatakan itu sambil melambaikan tangan. Gua membalas lambaian tangan Lena, sekali lagi gua melihat seorang wanita yang luar biasa ini. Memandangnya berdiri sambil melambaikan tangannya. Seakan mengantarkan gua ke pertarungan yang sesungguhnya. Yang ada di depan mata gua.
0
Kutip
Balas