- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#163
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
Quote:
PART XVIIIa
NEVER ENDING YOGYAKARTA
‘Pak.. Bangun..’
Gua membuka mata mendengar suara Lena dalam mimpi gua. Entah rasanya ga terlalu lelap gua tertidur tapi tetap saja gua bermimpi. Dan entah kenapa, pasti bayangan nyokap gua yang membelai lembut pipi gua, membangunkan gua dari tidur.
‘Udah sampek pak’
‘O ya Len’ Gua baru nyadar kalo gua dan Lena sudah sampai tempat parkir Amplaz. Memang akhirnya Lena yang nyetir karena gua merasa masih ngantuk.
‘Bapak ngorok ih’
‘Masak si?’
‘Niii buktinyaaa’ Lena menunjukkan Hpnya. Gua melihat wajah gua dengan tampang bloon super. Sial! Gua difoto waktu tidur. Dasar Lena.
‘Ah ngapain itu difoto. Delete ah’ Gua berusaha merebut HP Lena. Lena malah ketawa ketiwi menghindari gua.
‘Udah gpp pak. Buat privasi kok’
‘Iya..’ Gua bertampang cemberut.
‘Hihi.. Bapak cuci muka dulu aja ya. Biar seger’ Lena mengajak gua beranjak dari Mobil.
‘Heem’ Gua keluar dari mobil. Rasa kantuk masih sedikit nempel di mata gua.
Udara dingin di dalam mall sedikit membangunkan gua sore itu. Mungkin menjelang sore lebih tepatnya. Banyak sekali orang lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Akhirnya gua memutuskan ke WC dulu. Bukan buat ngerokok tapi cuci muka.
Selesai cuci muka, gua udah disambut Lena. Mata gua yang udah 100% melek ngeliatin Lena dari bawah ke atas. Cantik. Lena pinter banget pilih baju menurut gua, walaupun menurut gua baju yang dia pakai kadang agak terlalu minim. Memakai kaos lengan panjang merah, dipadu hotpants putih. Dan…
‘Kamu mau jalan-jalan pake sepatu kantor gitu?’ Gua memprotes Lena yang memakai sepatu highheels merah.
Lena terdiam sesaat ngeliatin dirinya sendiri.
‘Emang jelek ya pak pake ini?’ Kata Lena sambil menggoyang2kan kakinya.
‘Bagus si. Cuma kalo jalan jauh apa ga sakit?’
‘…’
‘Yuk’ Gua berjalan, Lena ikut berjalan di samping gua.
‘Habis lagi model ni pak kayak gini’
‘Aneh-aneh aja’
‘Kita mw kemana dulu pak?’
‘Hmm cari tiket nonton dulu ya?’
‘Okee..’ Lena menggandeng tangan gua. Agak grogi sebenernya, tapi anggap aja gua digandeng adik, batin gua.
Akhirnya gua dapet tiket untuk pukul setengah 5 sore. Artinya gua harus nunggu 1,5 jam. Dan parahnya gua nonton film kartun. Hadeh.. Lena Lena..
Lena keliatan sangat ceria sore itu. Gua sempat takut buat ngomong masalah Fia ke Lena. Gua takut merusak suasana hati Lena. Ah nanti aja deh gua ngomongnya.
‘Jalan-jalan bentar yuk Len’
‘Hah gpp emang pak?’
‘Ya gpplah.. Emang kenapa?’
‘Hehe kirain Bapak mw tidur lagi’ Lena senyam senyum.
‘… Gak lah…’
‘Kalo gitu ke bawah mau ga Pak?’
‘Boleh.. Ada yg mau dibeli?’
‘Ada diskon tadi pak. Saya mauu liat…’
‘Eh… Iya ayo..’ Dasar cewek, masalah diskon pasti radarnya kuat.
‘Ini bagus gak Pak?’ Lena menunjukkan sebuah tas cewek ke gua.
‘Bagus..’
‘Kalo ini?’ Lena menunjukkan 1 lagi
‘Bagus..’
‘Ini?’
‘Bagus’
‘Trus dari ketiga tas ini yang paling bagus mana?’
‘Bagus semua’
‘Ahhh Bapak ga asikk’
‘Ya memang bagus-bagus soalnya’
‘Liatin duluu..’ Kata Lena merajuk sambil memantas-mantaskan dirinya menggunakan tas yang belum dia beli.
‘Yang itu deh bagus’ Gua menunjuk salah satu tas. Padahal gua masih bingung dengan permasalahan ‘mana yang lebih bagus’
‘Ini ya? Okee makasi’ Lena beranjak menuju kasir.
Gua cuma senyum-senyum melihat tingakh Lena sore itu. Gua mengalihkan pandangan gua ke barang-barang yang dijual di counter itu. Gila mahal-mahal ya harga barang sekarang.
Ga terlalu lama, Lena menghampiri gua sambil membawa sebuah kantong belanjaan.
‘Ayo pak’
‘Ga mau liat-liat yang lain?’
‘Enggak udah abis jatah belanja saya haha’
‘Pake kartu kreditku aja gpp’
‘Hah beneran pak?’
‘Iya tapi ntar tagihannya bulan depan, kamu yang bayar’
‘Yee’ Lena mencubit lengan gua.
Rasanya gua jadi muda kembali. Kalo kemarin gua berasa jadi suami dadakan, sekarang gua merasa jadi mahasiswa lagi. Ya karena pembawaan Lena yang ceria, gua serasa kembali ke jaman-jaman gua kuliah dan nge-date bareng cewek.
Untungnya gua dan Lena dapet tempat duduk di ruang tunggu bioskop. Walaupun ramai tapi ada 1 tempat duduk di paling ujung bioskop. Sembari menunggu Film dimulai, gua dan Lena memutuskan buat duduk2 di situ.
‘Pak liat dompetnya’ Lena senyum2.
‘Ngapain?’
‘Tu beli popcorn..’
‘Owh..’ Gua memberikan dompet gua. Dompet sejak gua kuliah. Dompet kesayangan gua.
‘Bentar ya pak’ Gua mengangguk. Sembari menunggu Lena, Gua mengambil HP gua dan mengirim sms ke Fia.
‘Nanti aku jemput sekitar jam 7 ya Fi’
Ga berapa lama Fia bales sms gua ‘Iya’ jawaban yang singkat.
‘Pak’
‘Eh ya’ Lena udah duduk di samping gua lagi. Dia memberikan popcorn dan satu cup minuman.
‘Saya beliin kopi pak’
‘O ya makasih. La kamu?’
‘Barengan aja…’
‘…’ Gua mengangguk. Lena malah sibuk dengan dompet gua.
‘Itu diapain dompetnya?’
‘Bentar..’ Lena masih sibuk.
‘…’
‘Ni Pak.. Suka nggak?’ Lena menyodorkan sebuah dompet kulit berwarna coklat dengan lambang sapi kecil di ujungnya. Eh sapi atau banteng ya?
‘Ini buat aku?’
‘Hu uh..’ Lena mengangguk bersemangat.
‘Kamu yang beli?’
‘Hu uh.. Dompet bapak soalnya udah kasian’ Lena mengangkat dompet gua.
‘Ga usah repot-repot Len’ Gua merasa ga enak. Tapi terus terang gua seneng, karena gua bukan tipe orang yang sering dikasi hadiah.
‘Saya pindahin ya Pak?’ Lena tersenyum sambil menunjuk dompet lama gua.
‘Iya..’ Gua ngeliatin Lena memindahkan isi dompet lama gua ke dompet baru.
‘Duit nya ditata pak’ Lena mulai ngoceh, sambil merapikan duit gua per lembar. Yah mana sempet nata duit gitu.
Lena memindahkan satu per satu kartu2 di dompet gua. Dia ketawa ketika melihat kartu alumni gua dengan foto culun.
‘Ini Bapak?’
‘Eh ga usah diliatin’
‘Masih brondong ya pak?’ Lena ketawa.
‘…’
‘Wah ini serem. Pandangannya kayak orang habis melakukan pembunuhann’ Lena gantian ngliatin foto SIM gua. Dan entah kenapa gua ikut terbawa suasana ceria yang dibangun Lena.
‘Ini siapa Pak?’ Lena menunjukkan sebuah foto keluarga. Gua, Bokap, Nyokap dan kakak perempuan gua.
‘Itu kakak aku’
‘Owh.. Kok Bapak ga pernah cerita?’
‘La kamu ga nanya..’
‘Hmm memang dimana dia? Kok ga pernah keliatan?’
‘Udah nikah kok sekarang. Tinggal di singapura bareng suaminya’
‘Owhhh..’
‘…’
‘Ini Mama ya?’ Lena menunjuk foto Nyokap Gua.
‘Iya itu mama…’
‘Kok ga pernah keliatan juga? Saya pernah ketemu Papa aja’ Lena memang pernah ketemu bokap gua. Waktu itu bokap gua memang pernah ke kantor buat jemput gua.
‘In heaven’ Gua menjawa singkat.
‘Owh’ Lena jadi terdiam mendengar jawaban gua.
‘Gpp lagi Len’
‘Takutnya Bapak jadi sedih’ Tampang Lena jadi keliatan sedih.
‘Haha gak lah. Aku malah seneng bisa crita-crita gini’ Gua tersenyum ke Lena.
‘Kapan-kapan saya gantian yang crita deh pak..’ Lena membalas senyuman gua.
‘Iya ditunggu’
‘…’
‘Cepetan tuh, bentar lagi udah mau mulai filmnya’
‘O iya..’ Lena buru-buru mengambil foto gua sekeluarga dan memindahkannya ke dompet yang baru.
‘Ini..?’ Lena berhenti sejenak ketika melihat selembar foto yang gua tarok di belakang foto gua sekeluarga.
‘…’ Gua melongok melihat foto yang Lena pegang.
Foto gua dan Fia! Gua memang tarok foto Gua, Fia dan Ari di belakang foto gua sekeluarga..
NEVER ENDING YOGYAKARTA
‘Pak.. Bangun..’
Gua membuka mata mendengar suara Lena dalam mimpi gua. Entah rasanya ga terlalu lelap gua tertidur tapi tetap saja gua bermimpi. Dan entah kenapa, pasti bayangan nyokap gua yang membelai lembut pipi gua, membangunkan gua dari tidur.
‘Udah sampek pak’
‘O ya Len’ Gua baru nyadar kalo gua dan Lena sudah sampai tempat parkir Amplaz. Memang akhirnya Lena yang nyetir karena gua merasa masih ngantuk.
‘Bapak ngorok ih’
‘Masak si?’
‘Niii buktinyaaa’ Lena menunjukkan Hpnya. Gua melihat wajah gua dengan tampang bloon super. Sial! Gua difoto waktu tidur. Dasar Lena.
‘Ah ngapain itu difoto. Delete ah’ Gua berusaha merebut HP Lena. Lena malah ketawa ketiwi menghindari gua.
‘Udah gpp pak. Buat privasi kok’
‘Iya..’ Gua bertampang cemberut.
‘Hihi.. Bapak cuci muka dulu aja ya. Biar seger’ Lena mengajak gua beranjak dari Mobil.
‘Heem’ Gua keluar dari mobil. Rasa kantuk masih sedikit nempel di mata gua.
Udara dingin di dalam mall sedikit membangunkan gua sore itu. Mungkin menjelang sore lebih tepatnya. Banyak sekali orang lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Akhirnya gua memutuskan ke WC dulu. Bukan buat ngerokok tapi cuci muka.
Selesai cuci muka, gua udah disambut Lena. Mata gua yang udah 100% melek ngeliatin Lena dari bawah ke atas. Cantik. Lena pinter banget pilih baju menurut gua, walaupun menurut gua baju yang dia pakai kadang agak terlalu minim. Memakai kaos lengan panjang merah, dipadu hotpants putih. Dan…
‘Kamu mau jalan-jalan pake sepatu kantor gitu?’ Gua memprotes Lena yang memakai sepatu highheels merah.
Lena terdiam sesaat ngeliatin dirinya sendiri.
‘Emang jelek ya pak pake ini?’ Kata Lena sambil menggoyang2kan kakinya.
‘Bagus si. Cuma kalo jalan jauh apa ga sakit?’
‘…’
‘Yuk’ Gua berjalan, Lena ikut berjalan di samping gua.
‘Habis lagi model ni pak kayak gini’
‘Aneh-aneh aja’
‘Kita mw kemana dulu pak?’
‘Hmm cari tiket nonton dulu ya?’
‘Okee..’ Lena menggandeng tangan gua. Agak grogi sebenernya, tapi anggap aja gua digandeng adik, batin gua.
Akhirnya gua dapet tiket untuk pukul setengah 5 sore. Artinya gua harus nunggu 1,5 jam. Dan parahnya gua nonton film kartun. Hadeh.. Lena Lena..
Lena keliatan sangat ceria sore itu. Gua sempat takut buat ngomong masalah Fia ke Lena. Gua takut merusak suasana hati Lena. Ah nanti aja deh gua ngomongnya.
‘Jalan-jalan bentar yuk Len’
‘Hah gpp emang pak?’
‘Ya gpplah.. Emang kenapa?’
‘Hehe kirain Bapak mw tidur lagi’ Lena senyam senyum.
‘… Gak lah…’
‘Kalo gitu ke bawah mau ga Pak?’
‘Boleh.. Ada yg mau dibeli?’
‘Ada diskon tadi pak. Saya mauu liat…’
‘Eh… Iya ayo..’ Dasar cewek, masalah diskon pasti radarnya kuat.
‘Ini bagus gak Pak?’ Lena menunjukkan sebuah tas cewek ke gua.
‘Bagus..’
‘Kalo ini?’ Lena menunjukkan 1 lagi
‘Bagus..’
‘Ini?’
‘Bagus’
‘Trus dari ketiga tas ini yang paling bagus mana?’
‘Bagus semua’
‘Ahhh Bapak ga asikk’
‘Ya memang bagus-bagus soalnya’
‘Liatin duluu..’ Kata Lena merajuk sambil memantas-mantaskan dirinya menggunakan tas yang belum dia beli.
‘Yang itu deh bagus’ Gua menunjuk salah satu tas. Padahal gua masih bingung dengan permasalahan ‘mana yang lebih bagus’
‘Ini ya? Okee makasi’ Lena beranjak menuju kasir.
Gua cuma senyum-senyum melihat tingakh Lena sore itu. Gua mengalihkan pandangan gua ke barang-barang yang dijual di counter itu. Gila mahal-mahal ya harga barang sekarang.
Ga terlalu lama, Lena menghampiri gua sambil membawa sebuah kantong belanjaan.
‘Ayo pak’
‘Ga mau liat-liat yang lain?’
‘Enggak udah abis jatah belanja saya haha’
‘Pake kartu kreditku aja gpp’
‘Hah beneran pak?’
‘Iya tapi ntar tagihannya bulan depan, kamu yang bayar’
‘Yee’ Lena mencubit lengan gua.
Rasanya gua jadi muda kembali. Kalo kemarin gua berasa jadi suami dadakan, sekarang gua merasa jadi mahasiswa lagi. Ya karena pembawaan Lena yang ceria, gua serasa kembali ke jaman-jaman gua kuliah dan nge-date bareng cewek.
Untungnya gua dan Lena dapet tempat duduk di ruang tunggu bioskop. Walaupun ramai tapi ada 1 tempat duduk di paling ujung bioskop. Sembari menunggu Film dimulai, gua dan Lena memutuskan buat duduk2 di situ.
‘Pak liat dompetnya’ Lena senyum2.
‘Ngapain?’
‘Tu beli popcorn..’
‘Owh..’ Gua memberikan dompet gua. Dompet sejak gua kuliah. Dompet kesayangan gua.
‘Bentar ya pak’ Gua mengangguk. Sembari menunggu Lena, Gua mengambil HP gua dan mengirim sms ke Fia.
‘Nanti aku jemput sekitar jam 7 ya Fi’
Ga berapa lama Fia bales sms gua ‘Iya’ jawaban yang singkat.
‘Pak’
‘Eh ya’ Lena udah duduk di samping gua lagi. Dia memberikan popcorn dan satu cup minuman.
‘Saya beliin kopi pak’
‘O ya makasih. La kamu?’
‘Barengan aja…’
‘…’ Gua mengangguk. Lena malah sibuk dengan dompet gua.
‘Itu diapain dompetnya?’
‘Bentar..’ Lena masih sibuk.
‘…’
‘Ni Pak.. Suka nggak?’ Lena menyodorkan sebuah dompet kulit berwarna coklat dengan lambang sapi kecil di ujungnya. Eh sapi atau banteng ya?
‘Ini buat aku?’
‘Hu uh..’ Lena mengangguk bersemangat.
‘Kamu yang beli?’
‘Hu uh.. Dompet bapak soalnya udah kasian’ Lena mengangkat dompet gua.
‘Ga usah repot-repot Len’ Gua merasa ga enak. Tapi terus terang gua seneng, karena gua bukan tipe orang yang sering dikasi hadiah.
‘Saya pindahin ya Pak?’ Lena tersenyum sambil menunjuk dompet lama gua.
‘Iya..’ Gua ngeliatin Lena memindahkan isi dompet lama gua ke dompet baru.
‘Duit nya ditata pak’ Lena mulai ngoceh, sambil merapikan duit gua per lembar. Yah mana sempet nata duit gitu.
Lena memindahkan satu per satu kartu2 di dompet gua. Dia ketawa ketika melihat kartu alumni gua dengan foto culun.
‘Ini Bapak?’
‘Eh ga usah diliatin’
‘Masih brondong ya pak?’ Lena ketawa.
‘…’
‘Wah ini serem. Pandangannya kayak orang habis melakukan pembunuhann’ Lena gantian ngliatin foto SIM gua. Dan entah kenapa gua ikut terbawa suasana ceria yang dibangun Lena.
‘Ini siapa Pak?’ Lena menunjukkan sebuah foto keluarga. Gua, Bokap, Nyokap dan kakak perempuan gua.
‘Itu kakak aku’
‘Owh.. Kok Bapak ga pernah cerita?’
‘La kamu ga nanya..’
‘Hmm memang dimana dia? Kok ga pernah keliatan?’
‘Udah nikah kok sekarang. Tinggal di singapura bareng suaminya’
‘Owhhh..’
‘…’
‘Ini Mama ya?’ Lena menunjuk foto Nyokap Gua.
‘Iya itu mama…’
‘Kok ga pernah keliatan juga? Saya pernah ketemu Papa aja’ Lena memang pernah ketemu bokap gua. Waktu itu bokap gua memang pernah ke kantor buat jemput gua.
‘In heaven’ Gua menjawa singkat.
‘Owh’ Lena jadi terdiam mendengar jawaban gua.
‘Gpp lagi Len’
‘Takutnya Bapak jadi sedih’ Tampang Lena jadi keliatan sedih.
‘Haha gak lah. Aku malah seneng bisa crita-crita gini’ Gua tersenyum ke Lena.
‘Kapan-kapan saya gantian yang crita deh pak..’ Lena membalas senyuman gua.
‘Iya ditunggu’
‘…’
‘Cepetan tuh, bentar lagi udah mau mulai filmnya’
‘O iya..’ Lena buru-buru mengambil foto gua sekeluarga dan memindahkannya ke dompet yang baru.
‘Ini..?’ Lena berhenti sejenak ketika melihat selembar foto yang gua tarok di belakang foto gua sekeluarga.
‘…’ Gua melongok melihat foto yang Lena pegang.
Foto gua dan Fia! Gua memang tarok foto Gua, Fia dan Ari di belakang foto gua sekeluarga..
0
Kutip
Balas