- Beranda
- Sejarah & Xenology
Indonesian War of Independence (1945-1949)
...
TS
mabdulkarim
Indonesian War of Independence (1945-1949)
Quote:
Perang Kemerdekaan Indonesia
17 Agustus 1945—27 Desember 1949
17 Agustus 1945—27 Desember 1949

Quote:
Pihak yang terlibat:
-Posisi penahan:
-Posisi penyerang
-Posisi penahan:
- Indonesia
-Posisi penyerang
- Belanda
- Inggris (1945-1946)
Quote:
Perang Kemerdekaan Indonesia atau masa revolusi fisik merupakan era-era penting dalam sejarah Republik Indonesia yang menentukan ada tidaknya negara Indonesia. Dalam pembabakan perang kemerdekaan terbagi beberapa periode mulai dari paska proklamasi, pergolakan terhadap tentara jepang, dan sekutu, hingga operasi-operasi militier Belanda (operasi Product dan Kraai/Gagak) di 1947-1948. Periode ini berakhir dengan perjanjian-perjanjian perdamaian yang ditengahi oleh PBB yang puncaknya di Konferensi Meja Bundar di 27 Desember 1949. Setelah KMB, terbentuklah Negara Indonesia Serikat yang meliputi Republik Indonesia dan negara-negara bentukan Belanda seperti Negara Indonesia Timur, Pasundan, Sumatra Timur, Jawa Timur, dan sebagainya yang pada 17 Agustus 1950 masuk kembali ke Republik Indonesia.
Quote:
Kejadian-kejadian penting di perang kemerdekaan(Secara kronologi)
- 17 Agustus 1945: Proklamasi dan berdirinya Republik Indonesia
- Akhir September 1945: Pasukan sekutu (Inggris) mendarat di Jakarta
- Oktober 1945: Pendaratan pasukan Inggris di Medan, Padang, Palembang, Semarang, dan Surabaya.
- 27 Oktober 1945 - 20 November 1945:Pertempuran Surabaya
- 23 Maret 1946:Bandung laut api
- November 1946: Inggris mundur dari Indonesia
- 15 November 1946: Perjanjian Linggarjati terjadi.
- 21 Juli 1947-Agustus 1947:Operasi Produk atau agresi pertama Belanda dilancarkan
- 17 Januari 1948: Perjanjian Renville
- 18 September 1948: Muso mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun
- 19 September - Desember 1948:Perang Republik dengan PKI. Pemberontakan Madiun berhasil dihancurkan.
- 19-20 Desember 1948: Operasi gagak atau agresi militer 2 Belanda dilancarkan. Yogyakarta jatuh dan semua pemimpin Indonesia ditangkap.
- 1 Maret 1949: Serangan umum dilancarkan Republik ke Yogyakarta dan membuat posisi Indonesia di mata internasional yang dikira sudah lumpuh menjadi meningkat.
- 14 April - 7 Mei 1949: Perjanjian Roem-Roijen.
- 23 Agustus- 2 November 1949:Konferensi Meja Bundar.
- 27 Desember 1949: Terbentuknya Republik Indonesia Serikat.
Quote:
Index
1.Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
2.Rapat besar lapangan Ikada
3.Insiden Hotel Yamato
4.Masuknya sekutu ke Indonesia
5.Selayang Pandang Pertempuran Surabaya 10 November '45 (credit by mosquit0)
6.Pertempuran Bojongkokosan
-6.1.Pertempuran Bojongkokosan (Bagian 1/2)
-6.2.Pertempuran Bojongkokosan (bagian 2/2)
-7Palagan Ambarawa(by mosquit0 )
-8.TRIP
-8.1TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (1)
-8.2 TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (2)
-9.Puputan Margarana
-10Bandoeng Laoetan Api
-11Peristiwa Merah-Putih di Manado
-12Malang Bumi Hangusby Jokiez
-13Radio Rimba Raya"Radio Hutan Bersuara Dunia"
-14Serangan Umum 1 Maret 1949
Pasukan bandit di perang kemerdekaan : Naga Terbang, dan Gagak Hitam dari Medan,
Peta
Peta Pembagian Negara-negara bagian di September 1948
Video
Video pertempuran Surabaya 1945
1.Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
2.Rapat besar lapangan Ikada
3.Insiden Hotel Yamato
4.Masuknya sekutu ke Indonesia
5.Selayang Pandang Pertempuran Surabaya 10 November '45 (credit by mosquit0)
6.Pertempuran Bojongkokosan
-6.1.Pertempuran Bojongkokosan (Bagian 1/2)
-6.2.Pertempuran Bojongkokosan (bagian 2/2)
-7Palagan Ambarawa(by mosquit0 )
-8.TRIP
-8.1TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (1)
-8.2 TRIP - Tentara Republik Indonesia Pelajar (2)
-9.Puputan Margarana
-10Bandoeng Laoetan Api
-11Peristiwa Merah-Putih di Manado
-12Malang Bumi Hangusby Jokiez
-13Radio Rimba Raya"Radio Hutan Bersuara Dunia"
-14Serangan Umum 1 Maret 1949
Pasukan bandit di perang kemerdekaan : Naga Terbang, dan Gagak Hitam dari Medan,
Peta
Peta Pembagian Negara-negara bagian di September 1948
Video
Video pertempuran Surabaya 1945
Thread ini bakal dirapikan lagi. Nyari buku sumber dulu....

Ngasih masukan juga boleh...
Entar tak bahasa soal pertempuran, upaya diplomasi, dan lain-lain (kalau sempat)
Diubah oleh mabdulkarim 31-07-2021 00:08
dellesology dan irma.kawaii memberi reputasi
2
65.7K
Kutip
216
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#1
I.Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945)
![kaskus-image]()
Quote:
Quote:
Tak lengkap rasanya jika membahas perang kemerdekaan tanpa membahas penyebab dari segalanya; proklamasi.
Sebelum tanggal 17 Agustus 1945, Jepang dibom atom sekutu di Hiroshima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945. Karena pemboman tersebut, Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945.
Di tanggal 10 Agustus 1945, Berita tentang Jepang menyerah kepada sekutu menyebar kepada para pemuda dan mereka memaksa kepada Sukarno untuk mendeklarasikan proklamasi secepat mungkin, Sukarno yang baru saja pulang dari Dalat, Vietnam merasa tidak yakin atas kekalahan Jepang dan ia mengatakan bahwa yang berhak memproklamasikan kemerdekaan itu adalah PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora kepahlawanannya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya
![kaskus-image]()
-pengibaran bendera
![kaskus-image]()
-Pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno
video pembacaan proklamasi
Setelah pembacaan proklamasi, berita tentang kemerdekaan bangsa Indonesia menyebar dengan luas. Baik dari radio maupun poster-poster ataupun komunikasi lisan.
Beberapa kerajaan seperti Yogyakarta dan Bone mendukung kemerdekaan Indonesia. Selain itu, raja-raja yang ada di Bali menerima wewenang pemerintah Republik.
Banyak Pemuda Republilk -yang kebanyakan bekas PETA atau Heiho- menyerang pasukan Jepang dan menduduki kota yang masih dikuasai Jepang di bulan-bulan setelah proklamasi dikumandangkan. Dengan senjata yang mereka lucuti dari pihak Jepang, mereka dapat menguasai kota-kota.
Koran, grafiti, dan radio dipenuhi kata "merdeka" sebagai Euphoria atas kemerdekaan Indonesia.
![kaskus-image]()
grafiti kemeredekaan ketika Euphoria berkobar
Setelah Jepang menandatangani penyerahan di kapal USS Missouri, 2 September 1945. Indonesia timur (Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Irian) menjadi tanggungjawab Australia yang sudah dikuasai Australia sebelum perang berakhir. Sementara itu, Inggris bertanggung jawab atas India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina dengan komando SEAC (South East Asia Command). Belanda belum dapat kembali ke Indonesia mengingat mereka baru saja terlepas dari Nazi Jerman.
Bersambung,,,,
Sebelum tanggal 17 Agustus 1945, Jepang dibom atom sekutu di Hiroshima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945. Karena pemboman tersebut, Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945.
Di tanggal 10 Agustus 1945, Berita tentang Jepang menyerah kepada sekutu menyebar kepada para pemuda dan mereka memaksa kepada Sukarno untuk mendeklarasikan proklamasi secepat mungkin, Sukarno yang baru saja pulang dari Dalat, Vietnam merasa tidak yakin atas kekalahan Jepang dan ia mengatakan bahwa yang berhak memproklamasikan kemerdekaan itu adalah PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora kepahlawanannya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya

-pengibaran bendera
-Pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno
video pembacaan proklamasi
Setelah pembacaan proklamasi, berita tentang kemerdekaan bangsa Indonesia menyebar dengan luas. Baik dari radio maupun poster-poster ataupun komunikasi lisan.
Beberapa kerajaan seperti Yogyakarta dan Bone mendukung kemerdekaan Indonesia. Selain itu, raja-raja yang ada di Bali menerima wewenang pemerintah Republik.
Banyak Pemuda Republilk -yang kebanyakan bekas PETA atau Heiho- menyerang pasukan Jepang dan menduduki kota yang masih dikuasai Jepang di bulan-bulan setelah proklamasi dikumandangkan. Dengan senjata yang mereka lucuti dari pihak Jepang, mereka dapat menguasai kota-kota.
Koran, grafiti, dan radio dipenuhi kata "merdeka" sebagai Euphoria atas kemerdekaan Indonesia.

grafiti kemeredekaan ketika Euphoria berkobar
Setelah Jepang menandatangani penyerahan di kapal USS Missouri, 2 September 1945. Indonesia timur (Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Irian) menjadi tanggungjawab Australia yang sudah dikuasai Australia sebelum perang berakhir. Sementara itu, Inggris bertanggung jawab atas India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina dengan komando SEAC (South East Asia Command). Belanda belum dapat kembali ke Indonesia mengingat mereka baru saja terlepas dari Nazi Jerman.
Bersambung,,,,
Spoiler for Daftar pustaka:
-Sumber:
wikipedia...
pengetahuan diri sendiri..
wikipedia...
pengetahuan diri sendiri..
Diubah oleh mabdulkarim 30-05-2014 14:43
0
Kutip
Balas