- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#103
Sebuah Awal. Part 15
"AAANDII!!"
Meissa mendongakkan kepala sembari menunjuk botol minuman yang aku pegang. Dia mengangkat bahu lantas geleng-geleng kepala seperti mengisyaratkan yang dilihat didepannya adalah sosok cowok yang gak tau malu meminum minuman orang tanpa bilang permisi dulu.
"Eh... sorry tadi aku kehausan jadi main ambil aja, ga apa kan?" kilahku sambil melempar senyum kecil untuk menutupi kegugupan yang mulai datang.
Meissa lalu membalas senyumku dan bilang "Jangan kasih habis dong!, aku belum minum tuh. Lagian cuma bawa sebotol aku!"
"Kita beli lagi aja, tapi dimana ya? ga ada orang jual disini" balesku nyengir
"Tapi masih sisa kan ndi?" tanya meissa sambil meraih botol minuman yang aku sodorkan di hadapannya.
"Masih ada banyak sa, tadi aku minum sedikit aja kok, tapi itu botolnya bekas aku minum" jawabku polos.
"Udah ga apa, tolong ambilkan sedotan di tasku dong, kayaknya tadi aku bawa juga" pinta meissa lagi.
Tanpa pikir panjang aku lalu merogoh tas meissa dan melihat isinya. Disana terisi benda aneh-aneh seperti alat make up, buku catatan kecil, makanan ringan, dan ada satu album foto kecil yang kulihat sekilas ada seorang anak kecil berfoto saling pelukan dengan wanita paruh baya berambut agak pirang. Mungkin itu fotonya Meissa dengan mamanya di Lombok sana. Aku ga sempet membolak balik album itu karena memang kelihatan lancang kalo membuka album itu tanpa ijin Meissa.
Setelah membongkar isi tas meissa itu akhirnya aku menemukan sedotan minuman yang terselip diantara snack kecil.
"Nih meissa udah ketemu" ujarku menyodorkan sedotan itu ke meissa
Meissa tersenyum lantas kembali menunduk membaca buku sambil meminum minuman dingin tadi. "Thanks ya ndi!" ujar meissa lembut tanpa melihat kearahku sedikitpun.
Kini dia kembali sibuk dengan buku bacaannya sementara aku malah ditinggal bengong dihadapannya, melihat kedua bola matanya yang indah bergerak kekanan dan kekiri mengikuti tiap paragraf dalam buku tebal itu. Semakin lama aku di cuekin sama meissa gara-gara buku itu akhirnya bosen juga. Ku geser kursiku dan berdiri berjalan menghampiri rak buku bacaan sekedar menghilangkan kejenuhan. Meissa yang menyadari aku mulai berjalan selangkah meninggalkannya lantas berdehem pelan...
"Ehem... ngambek nih dicuekin!" meissa kembali mendongakkan kepalanya lalu melempar senyum manisnya kearahku. Memang wanita selalu tahu bagaimana caranya membuat laki-laki dihadapannya luntur tak berdaya dengan senyum manisnya.
"Ah ga ngambek kok, cuma pengen nyari buku bacaan aja sa" kilahku sambil meneruskan jalan menuju rak besar di hadapanku.
"Ya udah ndi, aku masih lama kok disini. Kalo mau gabung lagi sama teman kamu tadi ga apa." ujar meissa seperti mengerti kalo aku bakalan bosen dicuekin dengan tingkahnya yang mulai dingin.
"Duh meissa, lagian yang ngajak kesini kan aku, masa tega aku ninggalin sendirian disini. Nanti kalo diganggu cowok lagi kayak kemarin gimana?" jawabku sambil berjalan balik menghampirinya dan duduk lagi tepat dihadapannya.
Meissa lantas kembali murung lalu menatap tajam kemataku "Kenapa kamu khawatir sama aku ndi?"
Tiba-tiba dia bertanya sepatah kata seperti mendadak bingung dengan bicaraku barusan.
"Eh... nggak kenapa"
"Nggak kenapa maksudnya?" tanya meissa berusungut sungut.
"Aku ngak mau kamu digodain laki-laki lain, itu saja!"
"Iya alasannya kenapa? kamu kasihan sama aku, atau hanya ingin mencari perhatian sama aku?" cecar dia bertubi-tubi. Saat itu aku hanya bisa menunduk dihadapannya.
Meissa aku ga tau kenapa aku melakukan ini semua, yang pasti aku selalu merasa terluka jika kamu murung terus seperti biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku jika kamu sedih terus-terusan.
"Halo andi... kenapa dengan kamu? aku harap kamu bisa menjadi teman yang baik bagiku ndi, bukan kayak cowok yang lain, hanya menginginkan tubuhku saja. Mula-mula mereka berbuat baik bagiku tapi akhirnya meminta lebih!!" jelas meissa menasehati aku, sepertinya dia sudah hafal dengan tingkah polah laki-laki yang pernah mendekati dia. Mungkin aku dikira salah satu dari mereka. Pura-pura berbuat baik tapi ujung-ujungnya punya maksud lain.
"Kalo kamu curiga sama aku, aku bisa pergi sekarang meissa dan gak akan mengganggu kamu lagi." Jawabku lirih sambil berdiri dari kursi kayu yang dari tadi menemaniku duduk membatu dihadapannya.
"Ndi... ga usah pergi. Maaf kalo aku menyinggung perasaanmu, aku cuma takut kamu seperti cowok yang lain, hanya menginginkan tubuhku saja!" ujarnya sedikit mengehela nafas panjang. Kalimat terakhir seolah mengelitik aku untuk bertanya lebih jauh tentang itu.
"Hanya menginginkan tubuhmu???" rahangku terbuka sedikit seperti tak percaya dengan apa yang terlontar barusan dari bibir tipisnya. "Ayolah meissa, aku bukan laki-laki seperti itu. Kamu percaya sama aku kan?" lanjutku sembari mengambil posisi duduk kembali dihadapannya. Kali ini aku sedikit gemetar menunggu satu jawaban atas pertanyaanku barusan. Mungkin aku akan shock mendengar penjelasannya jika pernah ada "laki-laki" yang menjamah dia, atau apalah itu. Kalimat terakhir yang dia ucapkan seolah ambigu.
"Sudahlah ndi!" jawabnya singkat dengan nada suara sedikit berat seperti menahan tangis.
"Meissa, kalo kamu menganggap aku sahabatmu. Kamu bisa cerita tentang kegelisahanmu padaku." tanyaku sekali lagi, tapi nampaknya itu percuma. Meissa tetap kokoh pada pendiriannya. Dia hanya menggeleng berkali kali lalu kedua matanya kembali berkaca-kaca. Air mata itu menetes lembut di kedua pipinya, mengalir seperti derasnya hujan yang aku rasakan di kaca jendelaku semalam. Aku bisa merasakan kesedihan yang ia rasakan meskipun aku tidak tahu kegelisahan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam hatinya.
"Tak selamanya hujan selalu turun Meissa, selalu ada pelangi setelah hujan reda" ujarku terbata-bata menatap wajahnya yang mulai sayu. Saat itu aku mengira bahwa pernah ada seseorang yang merengut kesuciannya dengan air mata yang menetes sederas itu. Tapi aku yakin Meissa gadis yang baik, tak mungkin dia terbujuk rayu oleh pria yang pernah mendekatinya. Tapi siapa tau, toh baru kali ini aku mengenalnya dan memang seharusnya bukan urusanku ikut campur masalah orang lain.
"Kamu ga usah pikir aneh-aneh tentang aku ndi. Aku menangis seperti ini hanya sedih saja, kenapa aku bisa berada di pulau ini. Tinggal di lingkungan yang kebanyakan cowok kurang ajar. Bahkan kakakku sendiri seperti enggan melihatku tertekan. Bagaimana bisa aku fokus pada tujuanku kesini!!." Meissa membalasku sedikit terisak. Kedua tangannya saling bergantian menyeka air mata itu dengan kerudung putih yang menutupi rambutnya.
Aku lalu meraih kedua tangannya dan membiarkan air mata itu terus menetes lembut di kedua pipinya. Aku berharap dia menghabiskan air mata itu sekarang di hadapanku, dan tak lagi kulihat air mata itu keseokan harinya dan seterusnya.
"Teruslah menangis meissa jika itu membuatmu tenang. Aku berjanji akan menjadi teman yang baik untuk kamu, aku akan selalu ada disini mensupport kamu. Apapun itu!"
"Thanks ndi!" jawab meissa singkat masih terisak-isak pelan.
Suasana di perpustakaan ini mulai agak sepi karena sebagian orang ada yang keluar sekedar melihat aktivitas maba baru di lapangan. Terdengar lirih bunyi kegaduhan di luar yang saling bersahutan dengan pengeras suara seperti biasanya. Kami berdua masih duduk saling berhadapan di dalam perpustakaan ini. Sudah sekian menit aku memegang kedua tangan meissa diatas buku tebal dihadapannya. Sampai-sampai aku tak sadar air matanya jatuh tepat ke buku bacaan itu dan membuat cetakannya agak luntur dan sedikit sobek tergores arloji meissa. Kita lalu panik sambil menolah kekanan kiri berharap tidak ada seorangpun yang melihat kerusakan beberapa lembar buku itu. Meissa lalu melepaskan gengamanku yang melingkar di pergelangan tangannya dan menutup buku itu rapat-rapat.
"Ndi.... gimana ini, bukunya sobek!" ujar meissa agak panik
"Kita balikin aja ke raknya tadi lalu pura-pura tidak tahu!" saranku sambil menoleh ke belakang. Disana ada dua orang dosen laki-laki yang sedang asyik membaca buku selang dua meja dari kami. Melihat mereka kosentrasi penuh aku sadar tidak ada yang melihat kalo buku ini rusak hampir lima lembar di bagian tengahnya.
"Duh... andi maaf ya. Habis aku sedih banget kalo mengingat nasibku disini"
"Ga usah dipikirin sa. Kita sama kok. Buat gembira aja, oke!" ujarku menghibur meissa
Meissa hanya menganguk pelan sambil melempar senyum kearahku yang mulai berjalan mengembalikan buku itu ke raknya. Tak lama setelah aku mengembalikan buku itu aku lantas duduk kembali di hadapannya. Kini kulihat meissa kembali ceria, dan memang benar selalu ada pelangi setelah hujan reda.
"Meissa, kalo kamu senyum gini semakin cakep deh!" rayuku ke dia yang kembali menyedot minuman bersoda itu. Terkadang semakin kuat dia menyedot minuman itu seperti menarik kedua pipinya membentuk lesung pipit. "Hm... Meissa, seharusnya bidadari seperti kamu tinggal di surga yang penuh taman berbunga" batinku dalam hati sambil terus menatap kedua matanya yang lentik.
"Aduh ndi... ngerayu aja kamu nih. Ntar aku terbang ke awan dan ga bisa turun lagi gimana?" ujarnya bercanda menimpali rayuanku.
"Ya aku tarik kakimu Meissa, hehe" jawabku kemudian disusul gelak tawa kita berdua.
"Sstttt!!!" terdengar dua dosen dibelakang kami berdesis sambil menatap tajam ke kami berdua.
"Tuh ndi.... kita bikin rame aja disini ya!" ujar meissa setengah berbisik
"Kita memang bikin masalah aja disini ya sa, untung mereka ga tau kita habis ngerusakin buku kesehatan tadi"
"Ndi.... kamu sih!" Meissa dongkol lalu cemberut
"Loh aku?"
"Iya kamu!"
"Kenapa aku meissa!"
"Kamu udah mancing-mancing aku nangis!"
"Iya deh, ya udah nangis lagi aja!" seruku menatap tajam kewajahnya
"Nah liatin aku kayak gini jadi curiga aku!" bales meissa membalas tatapanku. Tatapan penuh kelicikan seperti seorang penculik yang sedang mengintai.
"Aduh nih anak ga bisa diajak bercanda ya. Dasar meissa, anak rumahan!" godaku ke dia
"Memang aku anak rumahan, kenapa emang!"
"Ya kasihan aja, masa tinggal selama setahun disini ga kemana mana. Bahkan alamat tempat tinggalnya aja ga tau. Kalah sama keong. hehe"
"Kok keong?"
"Keong aja suka keluyuran kemana-mana bawa rumahnya, meski jalannya lambat tapi dia bisa kemana-mana semaunya!"
".........." meissa lalu diam dan mencubit tanganku.
"Aw sakit meissa!"
"Kamu jangan menghina aku kayak gitu. Kamu tau burung kan?" bales meissa kecut
"Iya kenapa emangnya burung?"
"Burung itu punya sepasang sayap dan bisa terbang kemanapun dia pergi dengan lincah dan gesit. Tapi kamu ga penasaran kenapa burung selalu tinggal di tempat yang sama sedangkan dia bisa pergi kemana saja di bumi ini?"
"Enggak meissa, emang kenapa?" tanyaku heran
"Itu karena burung tahu hanya disitulah tempat yang nyaman untuknya. Seperti aku, kenapa aku ga mau keluar rumah hampir setahun ini. Karena di rumah itu aku merasa aman, tidak ada yang berani ganggu aku lagi. Tapi begitulah burung, dia ingin selalu terbang bebas kemana saja tanpa ada pemburu yang mengejarnya"
Aku lalu menopang dagu mendengar ceritanya dan berkata lirih... "Dan aku akan membawamu terbang bebas keluar dari sangkarmu, menikmati keindahan diluar sana, berdansa diatas awan tipis bersamaku dan melihat keindahan pelangi setiap hari."
Meissa lalu tertegun dan menepuk kedua pipiku yang terlihat bengong memandang lurus ke matanya.
"Ndi.... ndi.... kamu menghayal?"
"............." aku terdiam sesaat sambil tertawa kecil. "Iya aku menghayal tentangmu Meissa" teriakku dalam hati.
"Eh Meissa aku ingin bertanya satu hal boleh?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Iya boleh ndi, tentang apa?"
"Tadi kamu bilang kakakmu polisi itu punya bisnis ikan dan dikirim ke bali atau singapura."
"Iya ndi, emang kenapa?"
"Kayaknya dulu kita pernah bertemu saat aku jogging sama temanku di dekat pantai di pelabuhan."
"Ah... kamu ketemu dia!" ujar meissa kaget.
"Iya, ga sengaja sih sebenarnya soalnya kita mau lewat tertutupi oleh cool box yang berisi banyak ikan tuna besar didalamnya. Ngomong-ngomong judes juga ya kakakmu itu"
"Ya memang seperti itu dia. Aslinya sih enggak ndi, tapi sejak disini banyak berubah dia. Ya, begitulah. Ga seharusnya aku bercerita tentang kejelekan dia, ga baik!' jelas meissa sembari merogoh sesuatu di tas slempangnya dan merobek bungkus coklat lalu memakannya.
"Oh.... enak?" tanyaku singkat melihat dia mengunyah coklat itu.
"Ya enak, belum makan dari tadi. Kamu sih rakus banget ndi, ahaha" ejek dia
"Laper sih aku dari pagi nggak makan. Tapi kamu jago masak juga ya"
"Kan udah aku bilangin jangan pernah remehkan orang Lombok kalo soal masak memasak. Nanti kapan-kapan aku buatin plecing deh ya"
"Makanan apa lagi itu?"
"Udah jangan banyak nanya, pokoknya pasti bikin ketagihan deh!"
"Oke deh, dan janji harus ditepatin ya!"
Meissa mengangkat dahi lalu tersenyum "Seorang Meissa pasti ga pernah ingkar janji!"
Tak terasa kita berdua cukup lama ngobrol di dalam perpustakaan ini meski harus saling berbisik satu sama lain supaya ga menganggu pembaca lain yang duduk diantara kita. Meski aku sadar didalam ruangan itu terdapat poster besar yang melarang pengunjung untuk saling ngobrol satu sama lain, tapi kayaknya mereka enggan menyinggung kami. Mungkin memang benar tampang kami berdua seperti dosen yang datang dari jawa. Memang benar kata sebagian mereka disini, mana ada mahasiswa baru yang datang dari jawa.
"Meissa kita ini kayaknya mahasiswa khusus ya. Masa ospek bisa sesantai ini?"
"Ya itu karena kamu udah berani menculik aku ndi. Kalo nggak aku sekarang mungkin sedang berburu tanda tangan seperti yang disuruh senior!"
"Loh ko menculik sih?"
"Pokoknya penculik deh kamu!"
"Iya deh!, Meissa jam berapa?"
"Jam setengah empat ndi!" jawab meissa sambil melihat arlojinya.
"Ah lama juga ya kita disini!"
"Memang ga kerasa ya ndi kalo lagi seneng" jawab meissa sambil tersenyum.
"........." aku terdiam dan membalas dengan senyuman kecil. "Aku senang kamu tersenyum bahagia seperti ini meissa, semoga kamu bisa bahagia selamanya."
Jarum jam di arloji meissa terus berdetak lirih mengikuti irama detak jantungku yang mengalun beriringan. Suasana hatiku saat ini mirip seperti ketika Rahma perlahan berjalan menghampiriku di atas sampan dalam keheningan malam menjelang tahun baru. Tak terasa sudah sebulan dia meninggalkanku. Aku lantas mendadak gelisah dan menunduk menatap kedua sepatuku. Satu hal yang sering aku lakukan ketika kita berjalan beriringan di tepi tanggul menuju pelabuhan malam itu.
"Ndi... sekarang kamu yang mulai bengong sendirian!" Meissa tiba-tiba mengangetkan aku yang nampak seperti kebingungan.
"Eh... Meissa ga kenapa kok" balesku singkat tanpa menoleh kewajahnya. Tatapanku masih lurus memandang kedua sepatuku yang agak kotor.
Rahma maafkan aku atas semua ini, aku ga bermaksud pindah ke lain hati. Tapi bukankah seperti yang Abimu bilang, kita hanya bisa menjadi sahabat. Meskipun aku sadar saat itu aku bohong padamu, saat kamu meminta penjelasan atas perasaanku padamu. Saat itu aku berbohong, aku ga bisa berkata jujur akan perasaan ini karena aku menghormati Abimu ma. Aku akan selalu sayang sama kamu, tapi rasa sayang itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
Dan sekarang sepertinya Tuhan sengaja mempertemukan aku dengan Meissa. Seorang gadis berkerudung yang sedang mengalami kegelisahan yang sama sepertiku saat pertama kali kesini. Tapi mendengar cerita Meissa beberapa jam yang lalu seperti sebuah gunung Es. Aku sadar dia hanya bercerita satu titik kecil dari masalahnya. Mungkin ada banyak masalah yang dia alami yang belum banyak aku ketahui. Dan aku ingin selalu ada disampingnya, meringankan setiap beban yang ada di pundaknya. Aku sadar semakin aku terlibat jauh didalam lingkaran hidupnya, semakin aku jatuh cinta dengannya. Tapi itulah aku,.... aku terlalu mudah jatuh dalam lubang yang sengaja aku gali dan membuatku sulit untuk merangkak naik ke permukaan. Seperti saat pertama kali aku bertemu denganmu Rahma.
"Andiiiiii.... menghayal lagi?" tanya meissa lagi membuyarkan lamunanku.
"Duh Meissa baru saja menghabiskan waktu dua jam bersamamu aku jadi ketularan gini ya? jawabku meringis.
"Yey... emang aku kena penyakit separah apa?, sampe menular!!"
"Petrified! Ya mungkin saja semacam penyakit ngelamun sendirian gitu, hehe" balesku singkat lalu kita kembali ngobrol kecil seperti biasanya menunggu jam pulang.
".............."
Meissa mendongakkan kepala sembari menunjuk botol minuman yang aku pegang. Dia mengangkat bahu lantas geleng-geleng kepala seperti mengisyaratkan yang dilihat didepannya adalah sosok cowok yang gak tau malu meminum minuman orang tanpa bilang permisi dulu.
"Eh... sorry tadi aku kehausan jadi main ambil aja, ga apa kan?" kilahku sambil melempar senyum kecil untuk menutupi kegugupan yang mulai datang.
Meissa lalu membalas senyumku dan bilang "Jangan kasih habis dong!, aku belum minum tuh. Lagian cuma bawa sebotol aku!"
"Kita beli lagi aja, tapi dimana ya? ga ada orang jual disini" balesku nyengir
"Tapi masih sisa kan ndi?" tanya meissa sambil meraih botol minuman yang aku sodorkan di hadapannya.
"Masih ada banyak sa, tadi aku minum sedikit aja kok, tapi itu botolnya bekas aku minum" jawabku polos.
"Udah ga apa, tolong ambilkan sedotan di tasku dong, kayaknya tadi aku bawa juga" pinta meissa lagi.
Tanpa pikir panjang aku lalu merogoh tas meissa dan melihat isinya. Disana terisi benda aneh-aneh seperti alat make up, buku catatan kecil, makanan ringan, dan ada satu album foto kecil yang kulihat sekilas ada seorang anak kecil berfoto saling pelukan dengan wanita paruh baya berambut agak pirang. Mungkin itu fotonya Meissa dengan mamanya di Lombok sana. Aku ga sempet membolak balik album itu karena memang kelihatan lancang kalo membuka album itu tanpa ijin Meissa.
Setelah membongkar isi tas meissa itu akhirnya aku menemukan sedotan minuman yang terselip diantara snack kecil.
"Nih meissa udah ketemu" ujarku menyodorkan sedotan itu ke meissa
Meissa tersenyum lantas kembali menunduk membaca buku sambil meminum minuman dingin tadi. "Thanks ya ndi!" ujar meissa lembut tanpa melihat kearahku sedikitpun.
Kini dia kembali sibuk dengan buku bacaannya sementara aku malah ditinggal bengong dihadapannya, melihat kedua bola matanya yang indah bergerak kekanan dan kekiri mengikuti tiap paragraf dalam buku tebal itu. Semakin lama aku di cuekin sama meissa gara-gara buku itu akhirnya bosen juga. Ku geser kursiku dan berdiri berjalan menghampiri rak buku bacaan sekedar menghilangkan kejenuhan. Meissa yang menyadari aku mulai berjalan selangkah meninggalkannya lantas berdehem pelan...
"Ehem... ngambek nih dicuekin!" meissa kembali mendongakkan kepalanya lalu melempar senyum manisnya kearahku. Memang wanita selalu tahu bagaimana caranya membuat laki-laki dihadapannya luntur tak berdaya dengan senyum manisnya.
"Ah ga ngambek kok, cuma pengen nyari buku bacaan aja sa" kilahku sambil meneruskan jalan menuju rak besar di hadapanku.
"Ya udah ndi, aku masih lama kok disini. Kalo mau gabung lagi sama teman kamu tadi ga apa." ujar meissa seperti mengerti kalo aku bakalan bosen dicuekin dengan tingkahnya yang mulai dingin.
"Duh meissa, lagian yang ngajak kesini kan aku, masa tega aku ninggalin sendirian disini. Nanti kalo diganggu cowok lagi kayak kemarin gimana?" jawabku sambil berjalan balik menghampirinya dan duduk lagi tepat dihadapannya.
Meissa lantas kembali murung lalu menatap tajam kemataku "Kenapa kamu khawatir sama aku ndi?"
Tiba-tiba dia bertanya sepatah kata seperti mendadak bingung dengan bicaraku barusan.
"Eh... nggak kenapa"
"Nggak kenapa maksudnya?" tanya meissa berusungut sungut.
"Aku ngak mau kamu digodain laki-laki lain, itu saja!"
"Iya alasannya kenapa? kamu kasihan sama aku, atau hanya ingin mencari perhatian sama aku?" cecar dia bertubi-tubi. Saat itu aku hanya bisa menunduk dihadapannya.
Meissa aku ga tau kenapa aku melakukan ini semua, yang pasti aku selalu merasa terluka jika kamu murung terus seperti biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku jika kamu sedih terus-terusan.
"Halo andi... kenapa dengan kamu? aku harap kamu bisa menjadi teman yang baik bagiku ndi, bukan kayak cowok yang lain, hanya menginginkan tubuhku saja. Mula-mula mereka berbuat baik bagiku tapi akhirnya meminta lebih!!" jelas meissa menasehati aku, sepertinya dia sudah hafal dengan tingkah polah laki-laki yang pernah mendekati dia. Mungkin aku dikira salah satu dari mereka. Pura-pura berbuat baik tapi ujung-ujungnya punya maksud lain.
"Kalo kamu curiga sama aku, aku bisa pergi sekarang meissa dan gak akan mengganggu kamu lagi." Jawabku lirih sambil berdiri dari kursi kayu yang dari tadi menemaniku duduk membatu dihadapannya.
"Ndi... ga usah pergi. Maaf kalo aku menyinggung perasaanmu, aku cuma takut kamu seperti cowok yang lain, hanya menginginkan tubuhku saja!" ujarnya sedikit mengehela nafas panjang. Kalimat terakhir seolah mengelitik aku untuk bertanya lebih jauh tentang itu.
"Hanya menginginkan tubuhmu???" rahangku terbuka sedikit seperti tak percaya dengan apa yang terlontar barusan dari bibir tipisnya. "Ayolah meissa, aku bukan laki-laki seperti itu. Kamu percaya sama aku kan?" lanjutku sembari mengambil posisi duduk kembali dihadapannya. Kali ini aku sedikit gemetar menunggu satu jawaban atas pertanyaanku barusan. Mungkin aku akan shock mendengar penjelasannya jika pernah ada "laki-laki" yang menjamah dia, atau apalah itu. Kalimat terakhir yang dia ucapkan seolah ambigu.
"Sudahlah ndi!" jawabnya singkat dengan nada suara sedikit berat seperti menahan tangis.
"Meissa, kalo kamu menganggap aku sahabatmu. Kamu bisa cerita tentang kegelisahanmu padaku." tanyaku sekali lagi, tapi nampaknya itu percuma. Meissa tetap kokoh pada pendiriannya. Dia hanya menggeleng berkali kali lalu kedua matanya kembali berkaca-kaca. Air mata itu menetes lembut di kedua pipinya, mengalir seperti derasnya hujan yang aku rasakan di kaca jendelaku semalam. Aku bisa merasakan kesedihan yang ia rasakan meskipun aku tidak tahu kegelisahan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam hatinya.
"Tak selamanya hujan selalu turun Meissa, selalu ada pelangi setelah hujan reda" ujarku terbata-bata menatap wajahnya yang mulai sayu. Saat itu aku mengira bahwa pernah ada seseorang yang merengut kesuciannya dengan air mata yang menetes sederas itu. Tapi aku yakin Meissa gadis yang baik, tak mungkin dia terbujuk rayu oleh pria yang pernah mendekatinya. Tapi siapa tau, toh baru kali ini aku mengenalnya dan memang seharusnya bukan urusanku ikut campur masalah orang lain.
"Kamu ga usah pikir aneh-aneh tentang aku ndi. Aku menangis seperti ini hanya sedih saja, kenapa aku bisa berada di pulau ini. Tinggal di lingkungan yang kebanyakan cowok kurang ajar. Bahkan kakakku sendiri seperti enggan melihatku tertekan. Bagaimana bisa aku fokus pada tujuanku kesini!!." Meissa membalasku sedikit terisak. Kedua tangannya saling bergantian menyeka air mata itu dengan kerudung putih yang menutupi rambutnya.
Aku lalu meraih kedua tangannya dan membiarkan air mata itu terus menetes lembut di kedua pipinya. Aku berharap dia menghabiskan air mata itu sekarang di hadapanku, dan tak lagi kulihat air mata itu keseokan harinya dan seterusnya.
"Teruslah menangis meissa jika itu membuatmu tenang. Aku berjanji akan menjadi teman yang baik untuk kamu, aku akan selalu ada disini mensupport kamu. Apapun itu!"
"Thanks ndi!" jawab meissa singkat masih terisak-isak pelan.
Suasana di perpustakaan ini mulai agak sepi karena sebagian orang ada yang keluar sekedar melihat aktivitas maba baru di lapangan. Terdengar lirih bunyi kegaduhan di luar yang saling bersahutan dengan pengeras suara seperti biasanya. Kami berdua masih duduk saling berhadapan di dalam perpustakaan ini. Sudah sekian menit aku memegang kedua tangan meissa diatas buku tebal dihadapannya. Sampai-sampai aku tak sadar air matanya jatuh tepat ke buku bacaan itu dan membuat cetakannya agak luntur dan sedikit sobek tergores arloji meissa. Kita lalu panik sambil menolah kekanan kiri berharap tidak ada seorangpun yang melihat kerusakan beberapa lembar buku itu. Meissa lalu melepaskan gengamanku yang melingkar di pergelangan tangannya dan menutup buku itu rapat-rapat.
"Ndi.... gimana ini, bukunya sobek!" ujar meissa agak panik
"Kita balikin aja ke raknya tadi lalu pura-pura tidak tahu!" saranku sambil menoleh ke belakang. Disana ada dua orang dosen laki-laki yang sedang asyik membaca buku selang dua meja dari kami. Melihat mereka kosentrasi penuh aku sadar tidak ada yang melihat kalo buku ini rusak hampir lima lembar di bagian tengahnya.
"Duh... andi maaf ya. Habis aku sedih banget kalo mengingat nasibku disini"
"Ga usah dipikirin sa. Kita sama kok. Buat gembira aja, oke!" ujarku menghibur meissa
Meissa hanya menganguk pelan sambil melempar senyum kearahku yang mulai berjalan mengembalikan buku itu ke raknya. Tak lama setelah aku mengembalikan buku itu aku lantas duduk kembali di hadapannya. Kini kulihat meissa kembali ceria, dan memang benar selalu ada pelangi setelah hujan reda.
"Meissa, kalo kamu senyum gini semakin cakep deh!" rayuku ke dia yang kembali menyedot minuman bersoda itu. Terkadang semakin kuat dia menyedot minuman itu seperti menarik kedua pipinya membentuk lesung pipit. "Hm... Meissa, seharusnya bidadari seperti kamu tinggal di surga yang penuh taman berbunga" batinku dalam hati sambil terus menatap kedua matanya yang lentik.
"Aduh ndi... ngerayu aja kamu nih. Ntar aku terbang ke awan dan ga bisa turun lagi gimana?" ujarnya bercanda menimpali rayuanku.
"Ya aku tarik kakimu Meissa, hehe" jawabku kemudian disusul gelak tawa kita berdua.
"Sstttt!!!" terdengar dua dosen dibelakang kami berdesis sambil menatap tajam ke kami berdua.
"Tuh ndi.... kita bikin rame aja disini ya!" ujar meissa setengah berbisik
"Kita memang bikin masalah aja disini ya sa, untung mereka ga tau kita habis ngerusakin buku kesehatan tadi"
"Ndi.... kamu sih!" Meissa dongkol lalu cemberut
"Loh aku?"
"Iya kamu!"
"Kenapa aku meissa!"
"Kamu udah mancing-mancing aku nangis!"
"Iya deh, ya udah nangis lagi aja!" seruku menatap tajam kewajahnya
"Nah liatin aku kayak gini jadi curiga aku!" bales meissa membalas tatapanku. Tatapan penuh kelicikan seperti seorang penculik yang sedang mengintai.
"Aduh nih anak ga bisa diajak bercanda ya. Dasar meissa, anak rumahan!" godaku ke dia
"Memang aku anak rumahan, kenapa emang!"
"Ya kasihan aja, masa tinggal selama setahun disini ga kemana mana. Bahkan alamat tempat tinggalnya aja ga tau. Kalah sama keong. hehe"
"Kok keong?"
"Keong aja suka keluyuran kemana-mana bawa rumahnya, meski jalannya lambat tapi dia bisa kemana-mana semaunya!"
".........." meissa lalu diam dan mencubit tanganku.
"Aw sakit meissa!"
"Kamu jangan menghina aku kayak gitu. Kamu tau burung kan?" bales meissa kecut
"Iya kenapa emangnya burung?"
"Burung itu punya sepasang sayap dan bisa terbang kemanapun dia pergi dengan lincah dan gesit. Tapi kamu ga penasaran kenapa burung selalu tinggal di tempat yang sama sedangkan dia bisa pergi kemana saja di bumi ini?"
"Enggak meissa, emang kenapa?" tanyaku heran
"Itu karena burung tahu hanya disitulah tempat yang nyaman untuknya. Seperti aku, kenapa aku ga mau keluar rumah hampir setahun ini. Karena di rumah itu aku merasa aman, tidak ada yang berani ganggu aku lagi. Tapi begitulah burung, dia ingin selalu terbang bebas kemana saja tanpa ada pemburu yang mengejarnya"
Aku lalu menopang dagu mendengar ceritanya dan berkata lirih... "Dan aku akan membawamu terbang bebas keluar dari sangkarmu, menikmati keindahan diluar sana, berdansa diatas awan tipis bersamaku dan melihat keindahan pelangi setiap hari."
Meissa lalu tertegun dan menepuk kedua pipiku yang terlihat bengong memandang lurus ke matanya.
"Ndi.... ndi.... kamu menghayal?"
"............." aku terdiam sesaat sambil tertawa kecil. "Iya aku menghayal tentangmu Meissa" teriakku dalam hati.
"Eh Meissa aku ingin bertanya satu hal boleh?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Iya boleh ndi, tentang apa?"
"Tadi kamu bilang kakakmu polisi itu punya bisnis ikan dan dikirim ke bali atau singapura."
"Iya ndi, emang kenapa?"
"Kayaknya dulu kita pernah bertemu saat aku jogging sama temanku di dekat pantai di pelabuhan."
"Ah... kamu ketemu dia!" ujar meissa kaget.
"Iya, ga sengaja sih sebenarnya soalnya kita mau lewat tertutupi oleh cool box yang berisi banyak ikan tuna besar didalamnya. Ngomong-ngomong judes juga ya kakakmu itu"
"Ya memang seperti itu dia. Aslinya sih enggak ndi, tapi sejak disini banyak berubah dia. Ya, begitulah. Ga seharusnya aku bercerita tentang kejelekan dia, ga baik!' jelas meissa sembari merogoh sesuatu di tas slempangnya dan merobek bungkus coklat lalu memakannya.
"Oh.... enak?" tanyaku singkat melihat dia mengunyah coklat itu.
"Ya enak, belum makan dari tadi. Kamu sih rakus banget ndi, ahaha" ejek dia
"Laper sih aku dari pagi nggak makan. Tapi kamu jago masak juga ya"
"Kan udah aku bilangin jangan pernah remehkan orang Lombok kalo soal masak memasak. Nanti kapan-kapan aku buatin plecing deh ya"
"Makanan apa lagi itu?"
"Udah jangan banyak nanya, pokoknya pasti bikin ketagihan deh!"
"Oke deh, dan janji harus ditepatin ya!"
Meissa mengangkat dahi lalu tersenyum "Seorang Meissa pasti ga pernah ingkar janji!"
Tak terasa kita berdua cukup lama ngobrol di dalam perpustakaan ini meski harus saling berbisik satu sama lain supaya ga menganggu pembaca lain yang duduk diantara kita. Meski aku sadar didalam ruangan itu terdapat poster besar yang melarang pengunjung untuk saling ngobrol satu sama lain, tapi kayaknya mereka enggan menyinggung kami. Mungkin memang benar tampang kami berdua seperti dosen yang datang dari jawa. Memang benar kata sebagian mereka disini, mana ada mahasiswa baru yang datang dari jawa.
"Meissa kita ini kayaknya mahasiswa khusus ya. Masa ospek bisa sesantai ini?"
"Ya itu karena kamu udah berani menculik aku ndi. Kalo nggak aku sekarang mungkin sedang berburu tanda tangan seperti yang disuruh senior!"
"Loh ko menculik sih?"
"Pokoknya penculik deh kamu!"
"Iya deh!, Meissa jam berapa?"
"Jam setengah empat ndi!" jawab meissa sambil melihat arlojinya.
"Ah lama juga ya kita disini!"
"Memang ga kerasa ya ndi kalo lagi seneng" jawab meissa sambil tersenyum.
"........." aku terdiam dan membalas dengan senyuman kecil. "Aku senang kamu tersenyum bahagia seperti ini meissa, semoga kamu bisa bahagia selamanya."
Jarum jam di arloji meissa terus berdetak lirih mengikuti irama detak jantungku yang mengalun beriringan. Suasana hatiku saat ini mirip seperti ketika Rahma perlahan berjalan menghampiriku di atas sampan dalam keheningan malam menjelang tahun baru. Tak terasa sudah sebulan dia meninggalkanku. Aku lantas mendadak gelisah dan menunduk menatap kedua sepatuku. Satu hal yang sering aku lakukan ketika kita berjalan beriringan di tepi tanggul menuju pelabuhan malam itu.
"Ndi... sekarang kamu yang mulai bengong sendirian!" Meissa tiba-tiba mengangetkan aku yang nampak seperti kebingungan.
"Eh... Meissa ga kenapa kok" balesku singkat tanpa menoleh kewajahnya. Tatapanku masih lurus memandang kedua sepatuku yang agak kotor.
Rahma maafkan aku atas semua ini, aku ga bermaksud pindah ke lain hati. Tapi bukankah seperti yang Abimu bilang, kita hanya bisa menjadi sahabat. Meskipun aku sadar saat itu aku bohong padamu, saat kamu meminta penjelasan atas perasaanku padamu. Saat itu aku berbohong, aku ga bisa berkata jujur akan perasaan ini karena aku menghormati Abimu ma. Aku akan selalu sayang sama kamu, tapi rasa sayang itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
Dan sekarang sepertinya Tuhan sengaja mempertemukan aku dengan Meissa. Seorang gadis berkerudung yang sedang mengalami kegelisahan yang sama sepertiku saat pertama kali kesini. Tapi mendengar cerita Meissa beberapa jam yang lalu seperti sebuah gunung Es. Aku sadar dia hanya bercerita satu titik kecil dari masalahnya. Mungkin ada banyak masalah yang dia alami yang belum banyak aku ketahui. Dan aku ingin selalu ada disampingnya, meringankan setiap beban yang ada di pundaknya. Aku sadar semakin aku terlibat jauh didalam lingkaran hidupnya, semakin aku jatuh cinta dengannya. Tapi itulah aku,.... aku terlalu mudah jatuh dalam lubang yang sengaja aku gali dan membuatku sulit untuk merangkak naik ke permukaan. Seperti saat pertama kali aku bertemu denganmu Rahma.
"Andiiiiii.... menghayal lagi?" tanya meissa lagi membuyarkan lamunanku.
"Duh Meissa baru saja menghabiskan waktu dua jam bersamamu aku jadi ketularan gini ya? jawabku meringis.
"Yey... emang aku kena penyakit separah apa?, sampe menular!!"
"Petrified! Ya mungkin saja semacam penyakit ngelamun sendirian gitu, hehe" balesku singkat lalu kita kembali ngobrol kecil seperti biasanya menunggu jam pulang.
".............."
Diubah oleh andihunt 02-06-2014 08:58
0