- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191.1K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#56
GADIS DI RUMAH TUA
Spoiler for :
Sheila menyapa komputernya dengan ketukan-ketukan keyboarddi pagi buta. Melalui jemari-jemarinya yang menari, terketiklah bagian akhir dari kisah fiksi menyentuh hati tentang seorang gadis desa yang mencari cinta di jantung Eropa. Kisah-kisah perjalanan ke luar negeri seperti yang dikerjakannya memang sedang disukai pembaca, tetapi bukan itu alasan Sheila menuliskannya.
Sheila menulis cerita itu karena keadaannya berbanding terbalik dengan tokoh fiksi yang diciptakannya. Ia ingin menjadi seperti gadis desa itu, yang bebas menjelajah bumi ciptaan Tuhan hingga ke tempat-tempat terjauh yang hanya pernah dilihat Sheila dalam foto,video atau artikel. Ya Sheila sebenarnya tidak pernah kemana-mana, semua tempat-tempat di bukunya ia riset berdasarkan komunikasi melalui e-mail dengan kedutaan-kedutaan negara yang menjadi latar tempat bagi novelnya. Seingat Sheila sudah berbulan-bulan ia berdiam diri di kamarnya yang luas. Tetapi meskipun luas dan indah, sebuah kamar tetaplah sebuah kamar yang memiliki empat dinding,satu langit-langit dan lantai. Keenam hal itu mengurung dirinya bagaikan putri-putri yang terpenjara dalam kastil penyihir jahat yang dijaga oleh seekor naga raksasa dalam dongeng-dongeng yang sering dibacakan almarhum orangtuanya ketika ia masih menjadi anak-anak yang belum bisa membaca.
Kedua orangtua Sheila meninggal dalam kecelakaan mobil bersama kakek,nenek,bibi dan pamannya 7 tahun lalu. Tabrakan maut di perlintasan kereta tak berpalang itu merenggut nyawa seluruh keluarga yang dikenalnya dan hanya menyisakan satu korban selamat, dirinya sendiri. Sampai sekarang Sheila tak tahu haruskah ia merasa senang atau sedih atas keselamatan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Pukul sepuluh sudah lewat lima menit.Bel rumah berbunyi.Dengung Printer yang mencetak halaman terakhir dari draft novel barunya sudah berhenti. Gadis itupun mendekatkan mulut ke mikropon di dinding dan bertanya.
“Siapa?”
“Apa benar ini rumah Mbak Sheila?”
“Benar, ada perlu apa ya?”
“Saya kurir dari penerbit, mau ngambil naskah.”
“Oh, tunggu sebentar.”
Sheila menggerakkan lagi kursi rodanya, Gadis ini keluar kamar dan langsung bergerak menuju ke ruang tamu dan membukakan pintu.
“Biasanya si Anto yang ngambil.”
“Anto cuti Mbak, mau nikah di kampung halaman. Untuk sementara saya yang gantiin ”
“Ini naskahnya.”
“Terima kasih Mbak.”
Sheila agak heran mengapa kurir itu tidak segera pergi setelah menerima hasil cetakan naskah.
“Ada apa lagi Mas?”
“Anu...kalau boleh saya mau minta tanda tangan. Sebenarnya dari dulu saya nge-fans berat sama Mbak Sheila.”
Katanya sambil mengeluarkan sebuah buku dari balik jaketnya. Novel pertama Sheila yang berjudul tukang pukul naik haji.
“Nama Mas siapa ya?”
“Arifin Saputra Rahardian.”
Sheila-pun menandatangani buku itu.
“Saya pergi dulu Mbak.”
Arifin memacu sepeda motornya dan meninggalkan Sheila, tetapi kepergiannya itu ternyata hanya berlangsung sementara. Keesokan harinya ketika hujan deras turun mengguyur bumi ia kembali ke rumah itu.
“Kalau boleh saya mau numpang berteduh.”
“Oh silahkan Mas.”
“Terima kasih Mbak Sheila.”
Arifin masuk ke dalam rumah dan duduk.
“Oh ya mbak, boleh saya numpang ke kamar mandi.”
Setelah keluar dari kamar mandi, Arifin memandang interior rumah berlantai dua itu. Sheila, yang berkursi roda tidak pernah pergi ke lantai atas, terbukti dengan abnyaknya debu di selusur tangga.
“Rumahnya bagus sekali Mbak,”
“Rumah jaman dulu, warisan jaman belanda.”
Hari-hari selanjutnya Arifin menjadi lebih sering bertamu. Perlahan-lahan panggilan Mas dan Mbak ditinggalkan, mereka memanggil dengan nama masing-masing. Sheila dan Arifin.
“Kamu tinggal sendiri?”
“Apa kau melihat orang selain aku di rumah ini?”
“Pembantu paruh waktu sekalipun tidak ada?”
“Dulu ada, sekarang tidak lagi.”
“Lalu yang belanja dan masak?”
“Kalau belanja aku online, masak untuk satu orang juga tidak terlalu merepotkan.”
“Lalu siapa yang memebrsihkan rumah?”
“Kalau kamar,dapur, ruang tamu dan ruang tengah aku sendiri. Sisanya termasuk yang di lantai atas tidak ada, karena aku tidak pernah lagi pergi ke sana.”
“Memangnya ada apa di lantai 2 itu?”
“Kamar,koridor,ruang baca dan tempat membosankan untuk brankas untuk menyimpan dokumen-dokumen.”
“Lalu kalau untuk keluar rumah ada sopir kan?”
“Aku tidak keluar rumah.”
“Jadi sejak kecelakaan itu, kau terus mengurung diri di dalam rumah ini?”
“Sebagai penulis tentu aku lebih sering di kamar sama Louis.”
“Louis?”
“Nama komputerku.”
“Komputer kau beri nama layaknya manusia, itu menunjukkan kalau kamu....”
“Aneh? Sakit jiwa?”
“Bukan, itu menunjukkan kalau kamu sedang rindu.”
“Rindu?”
“Dalam keikhlasanmu untuk hidup seorang diri, kau masih merindukan interaksi dengan manusia atau sesuatu yang mendekati manusia.”
“Mungkin saja, pada dasarnya kan manusia memang makhluk sosial.”
“Kalau kau dan aku ada dalam sebuh cerpen mungkin itu gunanya aku.”
“Untuk menemaniku?”
“Bukan, untuk membuatmu berhenti menjadi penunggu rumah ini.”
Sheila mengernyitkan dahi keheranan.
“Kau punya mobil kan?”
“Almarhum Papa masih punya dua di garasi. Memangnya kita mau kemana?”
“Hapus tanda tanya di wajahmu Sheil, hari ini kita akan keluar dari rumah ini.”
Arifin mendorong kursi roda Sheila dan membuka pintu depan, membiarkan cahaya pagi menerobos masuk. Ia bergegas menuju garasi dan membukanya dengan kunci master yang selalu dibawa Sheila.
“Kunci kontaknya ada di lantai atas.”
“Tidak perlu.”
Arifin mengambil penggaris besi di samping obeng dan menyelipkannya ke kaca depan, pintu pun terbuka. Ia membuka pintu yang lain dan memasukkan Sheila ke dalam mobil dan menyalakan kendaraan itu dengan menyambung-nyambungkan kabel di bawah dashboard.
“Memangnya kamu punya SIM?”
“Hanya yang C.”
“Kalau nanti ditilang bagaimana?”
“Maka kita akan tahu berapa harga sebuah perdamaian.”
“Jangan begitu, kan tidak semua polisi bisa dibeli. Kalau orangnya tidak mau diajak damai bagaimana?”
“Soal itu kita pikirkan nanti saja.”
Arifin menginjak gas dan mobil melaju meninggalkan halaman rumah tua yang lebih mirip kastil Eropa itu.
“Apa yang berubah dalam lima tahun ini?”
Tanya Sheila tiba-tiba.
“Level”
Jawab Arifin sekenanya
“Level?”
“Sekarang semua masakan ada level kepedasannya. Semakin banyak levelnya semakin banyak cabe-nya.”
“Oh jadi sekarang ini orang-orang suka yang pedas ya? Kalau kamu sendiri Fin, apa juga suka cabe-cabean?”
“Cabe-cabean itu kalau sekarang artinya juga beda dengan cabe yang dulu.”
“Aneh sekali,jadi bingung.”
“Biar tidak bingung aku tunjukkan saja.”
Arifin membawa Sheila mencoba mi pedas level-levelan lalu lewat di tempat yang biasa digunakan mangkal oleh cabe-cabean.
“Bagaimana, tahu bedanya kan?”
“Oh...jadi begitu, tetapi aku masih penasaran karena kamu belum jawab pertanyaanku. Apa kamu juga suka cabe-cabean?”
“Pertanyaan yang sulit.”
Arifin membawa Sheila meninggalkan pusat kota. Mereka ke daerah kabupaten yang terkenal dengan wisata pegunungannya.
“Di perempatan itu ada Pak Waji.”
“Siapa Pak Waji?”
“Orang yang jagung bakarnya paling enak di sekitar sini.”
“Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?”
“Rumahmu tidak akan pergi kemana-mana.”
Keduanya baru pulang pukul 22:00. Arifin mengantarkan Sheila ke rumahnya lalu menaiki motornya dan mengucapkan selamat tinggal.
“Cabut dulu ya.”
Arifin hendak pergi tetapi Sheila merasakan sesuatu yang aneh.
“Fin, hati-hati banyak bagian jalan yang gelap.”
“Ya. Bye”
“Bye”
Entah mengapa Sheila merasakan sebuah firasat buruk, seolah-olah Arifin akan pergi jauh,sangat jauh dan takkan kembali lagi.
Nun jauh dipinggir pantai, lima orang sedang bercengkerama sambil minum tequila.Tampak sedang merayakan sesuatu.
“Sertifikat rumah tua ini kira-kira laku berapa ya ?” Tanya Devi
“Paling-paling satu”
“Cuma stau M?”
“T bukan M”
“Woohoo...kita tambah kaya!”
“Tapi aku merasa sedikit bersalah sama gadis bernama Sheila itu.”
Kata Mbah Dukun yang kini sudah tidak berjenggot dan beruban dan mengganti namanya dengan Arifin Saputra Rahardian. Di samping Mbah dukun duduk pria yang biasa berperan sebagai ibu Devi.Wanita itu sedang merokok. Sementara Orang yang biasa berperan sebagai ayah Devi sedang bermain volly pantai dengan wanita yang biasa memerankan mahasiswi dalam setiap aksi mereka.
Ketika Arifin mengajak Sheila pergi keluar rumah berkeliling kota, anggota kru yang lain mendatangi rumah itu. Dengan mudah mereka membuka kunci lalu naik ke lantai dua tempat brankas disimpan. Mereka tahu dimana letak brankas karena di dada Arifin sudah terpasang sebuah mikrofon yang merekam pembicaraannya dengan Sheila. Selanjutnya brankas digotong keluar dan diletakkan di dalam mobil dan aksi perampokan itupun berhasil dengan mudahnya.
“Dev sini Dev,ada mobil bagus nih.”
Kata wanita yang biasa berperan sebagai ibunya Devi sambil menunjukkan layar HP yang menunjukan artikel tentang garasi sebuah griya di sebuah laman internet.
“Bodi mobil berlapis emas? Gila! ”
“Yang lebih gila lagi, nomor rumahnya. Coba lihat mana ada rumah bernomor 13.”
“Memangnya itu rumah siapa?”
“Janda kaya, katanya di sini ia sedang mencari calon istri untuk putranya.”
“Hey guys, kita punya target baru.”
Sheila menulis cerita itu karena keadaannya berbanding terbalik dengan tokoh fiksi yang diciptakannya. Ia ingin menjadi seperti gadis desa itu, yang bebas menjelajah bumi ciptaan Tuhan hingga ke tempat-tempat terjauh yang hanya pernah dilihat Sheila dalam foto,video atau artikel. Ya Sheila sebenarnya tidak pernah kemana-mana, semua tempat-tempat di bukunya ia riset berdasarkan komunikasi melalui e-mail dengan kedutaan-kedutaan negara yang menjadi latar tempat bagi novelnya. Seingat Sheila sudah berbulan-bulan ia berdiam diri di kamarnya yang luas. Tetapi meskipun luas dan indah, sebuah kamar tetaplah sebuah kamar yang memiliki empat dinding,satu langit-langit dan lantai. Keenam hal itu mengurung dirinya bagaikan putri-putri yang terpenjara dalam kastil penyihir jahat yang dijaga oleh seekor naga raksasa dalam dongeng-dongeng yang sering dibacakan almarhum orangtuanya ketika ia masih menjadi anak-anak yang belum bisa membaca.
Kedua orangtua Sheila meninggal dalam kecelakaan mobil bersama kakek,nenek,bibi dan pamannya 7 tahun lalu. Tabrakan maut di perlintasan kereta tak berpalang itu merenggut nyawa seluruh keluarga yang dikenalnya dan hanya menyisakan satu korban selamat, dirinya sendiri. Sampai sekarang Sheila tak tahu haruskah ia merasa senang atau sedih atas keselamatan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Pukul sepuluh sudah lewat lima menit.Bel rumah berbunyi.Dengung Printer yang mencetak halaman terakhir dari draft novel barunya sudah berhenti. Gadis itupun mendekatkan mulut ke mikropon di dinding dan bertanya.
“Siapa?”
“Apa benar ini rumah Mbak Sheila?”
“Benar, ada perlu apa ya?”
“Saya kurir dari penerbit, mau ngambil naskah.”
“Oh, tunggu sebentar.”
Sheila menggerakkan lagi kursi rodanya, Gadis ini keluar kamar dan langsung bergerak menuju ke ruang tamu dan membukakan pintu.
“Biasanya si Anto yang ngambil.”
“Anto cuti Mbak, mau nikah di kampung halaman. Untuk sementara saya yang gantiin ”
“Ini naskahnya.”
“Terima kasih Mbak.”
Sheila agak heran mengapa kurir itu tidak segera pergi setelah menerima hasil cetakan naskah.
“Ada apa lagi Mas?”
“Anu...kalau boleh saya mau minta tanda tangan. Sebenarnya dari dulu saya nge-fans berat sama Mbak Sheila.”
Katanya sambil mengeluarkan sebuah buku dari balik jaketnya. Novel pertama Sheila yang berjudul tukang pukul naik haji.
“Nama Mas siapa ya?”
“Arifin Saputra Rahardian.”
Sheila-pun menandatangani buku itu.
“Saya pergi dulu Mbak.”
Arifin memacu sepeda motornya dan meninggalkan Sheila, tetapi kepergiannya itu ternyata hanya berlangsung sementara. Keesokan harinya ketika hujan deras turun mengguyur bumi ia kembali ke rumah itu.
“Kalau boleh saya mau numpang berteduh.”
“Oh silahkan Mas.”
“Terima kasih Mbak Sheila.”
Arifin masuk ke dalam rumah dan duduk.
“Oh ya mbak, boleh saya numpang ke kamar mandi.”
Setelah keluar dari kamar mandi, Arifin memandang interior rumah berlantai dua itu. Sheila, yang berkursi roda tidak pernah pergi ke lantai atas, terbukti dengan abnyaknya debu di selusur tangga.
“Rumahnya bagus sekali Mbak,”
“Rumah jaman dulu, warisan jaman belanda.”
Hari-hari selanjutnya Arifin menjadi lebih sering bertamu. Perlahan-lahan panggilan Mas dan Mbak ditinggalkan, mereka memanggil dengan nama masing-masing. Sheila dan Arifin.
“Kamu tinggal sendiri?”
“Apa kau melihat orang selain aku di rumah ini?”
“Pembantu paruh waktu sekalipun tidak ada?”
“Dulu ada, sekarang tidak lagi.”
“Lalu yang belanja dan masak?”
“Kalau belanja aku online, masak untuk satu orang juga tidak terlalu merepotkan.”
“Lalu siapa yang memebrsihkan rumah?”
“Kalau kamar,dapur, ruang tamu dan ruang tengah aku sendiri. Sisanya termasuk yang di lantai atas tidak ada, karena aku tidak pernah lagi pergi ke sana.”
“Memangnya ada apa di lantai 2 itu?”
“Kamar,koridor,ruang baca dan tempat membosankan untuk brankas untuk menyimpan dokumen-dokumen.”
“Lalu kalau untuk keluar rumah ada sopir kan?”
“Aku tidak keluar rumah.”
“Jadi sejak kecelakaan itu, kau terus mengurung diri di dalam rumah ini?”
“Sebagai penulis tentu aku lebih sering di kamar sama Louis.”
“Louis?”
“Nama komputerku.”
“Komputer kau beri nama layaknya manusia, itu menunjukkan kalau kamu....”
“Aneh? Sakit jiwa?”
“Bukan, itu menunjukkan kalau kamu sedang rindu.”
“Rindu?”
“Dalam keikhlasanmu untuk hidup seorang diri, kau masih merindukan interaksi dengan manusia atau sesuatu yang mendekati manusia.”
“Mungkin saja, pada dasarnya kan manusia memang makhluk sosial.”
“Kalau kau dan aku ada dalam sebuh cerpen mungkin itu gunanya aku.”
“Untuk menemaniku?”
“Bukan, untuk membuatmu berhenti menjadi penunggu rumah ini.”
Sheila mengernyitkan dahi keheranan.
“Kau punya mobil kan?”
“Almarhum Papa masih punya dua di garasi. Memangnya kita mau kemana?”
“Hapus tanda tanya di wajahmu Sheil, hari ini kita akan keluar dari rumah ini.”
Arifin mendorong kursi roda Sheila dan membuka pintu depan, membiarkan cahaya pagi menerobos masuk. Ia bergegas menuju garasi dan membukanya dengan kunci master yang selalu dibawa Sheila.
“Kunci kontaknya ada di lantai atas.”
“Tidak perlu.”
Arifin mengambil penggaris besi di samping obeng dan menyelipkannya ke kaca depan, pintu pun terbuka. Ia membuka pintu yang lain dan memasukkan Sheila ke dalam mobil dan menyalakan kendaraan itu dengan menyambung-nyambungkan kabel di bawah dashboard.
“Memangnya kamu punya SIM?”
“Hanya yang C.”
“Kalau nanti ditilang bagaimana?”
“Maka kita akan tahu berapa harga sebuah perdamaian.”
“Jangan begitu, kan tidak semua polisi bisa dibeli. Kalau orangnya tidak mau diajak damai bagaimana?”
“Soal itu kita pikirkan nanti saja.”
Arifin menginjak gas dan mobil melaju meninggalkan halaman rumah tua yang lebih mirip kastil Eropa itu.
“Apa yang berubah dalam lima tahun ini?”
Tanya Sheila tiba-tiba.
“Level”
Jawab Arifin sekenanya
“Level?”
“Sekarang semua masakan ada level kepedasannya. Semakin banyak levelnya semakin banyak cabe-nya.”
“Oh jadi sekarang ini orang-orang suka yang pedas ya? Kalau kamu sendiri Fin, apa juga suka cabe-cabean?”
“Cabe-cabean itu kalau sekarang artinya juga beda dengan cabe yang dulu.”
“Aneh sekali,jadi bingung.”
“Biar tidak bingung aku tunjukkan saja.”
Arifin membawa Sheila mencoba mi pedas level-levelan lalu lewat di tempat yang biasa digunakan mangkal oleh cabe-cabean.
“Bagaimana, tahu bedanya kan?”
“Oh...jadi begitu, tetapi aku masih penasaran karena kamu belum jawab pertanyaanku. Apa kamu juga suka cabe-cabean?”
“Pertanyaan yang sulit.”
Arifin membawa Sheila meninggalkan pusat kota. Mereka ke daerah kabupaten yang terkenal dengan wisata pegunungannya.
“Di perempatan itu ada Pak Waji.”
“Siapa Pak Waji?”
“Orang yang jagung bakarnya paling enak di sekitar sini.”
“Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?”
“Rumahmu tidak akan pergi kemana-mana.”
Keduanya baru pulang pukul 22:00. Arifin mengantarkan Sheila ke rumahnya lalu menaiki motornya dan mengucapkan selamat tinggal.
“Cabut dulu ya.”
Arifin hendak pergi tetapi Sheila merasakan sesuatu yang aneh.
“Fin, hati-hati banyak bagian jalan yang gelap.”
“Ya. Bye”
“Bye”
Entah mengapa Sheila merasakan sebuah firasat buruk, seolah-olah Arifin akan pergi jauh,sangat jauh dan takkan kembali lagi.
Nun jauh dipinggir pantai, lima orang sedang bercengkerama sambil minum tequila.Tampak sedang merayakan sesuatu.
“Sertifikat rumah tua ini kira-kira laku berapa ya ?” Tanya Devi
“Paling-paling satu”
“Cuma stau M?”
“T bukan M”
“Woohoo...kita tambah kaya!”
“Tapi aku merasa sedikit bersalah sama gadis bernama Sheila itu.”
---
Kata Mbah Dukun yang kini sudah tidak berjenggot dan beruban dan mengganti namanya dengan Arifin Saputra Rahardian. Di samping Mbah dukun duduk pria yang biasa berperan sebagai ibu Devi.Wanita itu sedang merokok. Sementara Orang yang biasa berperan sebagai ayah Devi sedang bermain volly pantai dengan wanita yang biasa memerankan mahasiswi dalam setiap aksi mereka.
Ketika Arifin mengajak Sheila pergi keluar rumah berkeliling kota, anggota kru yang lain mendatangi rumah itu. Dengan mudah mereka membuka kunci lalu naik ke lantai dua tempat brankas disimpan. Mereka tahu dimana letak brankas karena di dada Arifin sudah terpasang sebuah mikrofon yang merekam pembicaraannya dengan Sheila. Selanjutnya brankas digotong keluar dan diletakkan di dalam mobil dan aksi perampokan itupun berhasil dengan mudahnya.
“Dev sini Dev,ada mobil bagus nih.”
Kata wanita yang biasa berperan sebagai ibunya Devi sambil menunjukkan layar HP yang menunjukan artikel tentang garasi sebuah griya di sebuah laman internet.
“Bodi mobil berlapis emas? Gila! ”
“Yang lebih gila lagi, nomor rumahnya. Coba lihat mana ada rumah bernomor 13.”
“Memangnya itu rumah siapa?”
“Janda kaya, katanya di sini ia sedang mencari calon istri untuk putranya.”
“Hey guys, kita punya target baru.”
THE END
0
Kutip
Balas