- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#140
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
Quote:
PART XVIIb
LOVE BUT NOT LOVE
Tuhan…
Doa yang sederhana ini aku panjatkan kepadamu…
Aku yang selalu melupakan Engkau..
Malu-malu menghadap kepada Engkau..
Memohon..
Tuntun langkahku agar apa yang aku putuskan dan lakukan ini…
Adalah yang terbaik..
Bukan menurutku…
Tapi menurut Engkau…
Agar tidak menimbulkan luka…
Amin..
Gua membuka mata. Suasana yang sebenernya sangat gua rindukan. Musik mengalun lembut. Orang-orang di sekitar gua masih memejamkan mata, sibuk dengan permohonan mereka masing-masing. Lena? Lena masih memejamkan mata. Tangannya masih ditangkupkan. Gua tersenyum melihat Lena di samping gua.
‘Agar tidak menimbulkan luka bagi dia Tuhan’ gua berdoa dalam hati sambil melihat Lena.
Entah kenapa selesai gua mengucapkan doa tambahan, Lena membuka mata. Melihat gua. Damai sekali pandangannya. Dia tersenyum.
‘Makasi pak?’
‘Ha? Buat apa?’ Gua ngomong pelan supaya tidak mengganggu yang lain.
‘Buat doanya…’
‘….’ Gua Cuma bisa membalas senyuman Lena. Mungkin hati Lena yang mendengar doa gua.
---
‘Sarapan dulu yuk Pak’ Lena langsung ber-inisiatif ketika gua dan Lena baru saja masuk ke mobil. Mobil gua belum bisa bergerak karena area parkir yang terlalu penuh.
‘Boleh, dimana?’
‘Di rumah ajaa..’
‘Memang kamu masak?’
‘Enggak..’
‘Lah..?’
‘Nanti saya buatkan nasi goreng aja. Mau?’
‘Hmmm… Kambing guling aja deh. Gimana?’
‘Yee.. Mau cari dimana kambing pagi-pagi gini pak?’
‘Hahaha…’ Gua tertawa sambil konsentrasi mengeluarkan mobil dari area parkir yang lebih mirip pasar.
‘Akhirnyaaa… Gila paling males kalo rame gitu’ Gua merebahkan diri duduk di sofa rumah Lena. Setelah berjuang keras di minggu pagi yang ternyata sangat crowded, gua sampe juga di rumah Lena.
‘Bapak si, saya ajak naik motor ga mau’
‘Emang kapan ngajaknya’
‘Tadi…’ Lena masih sibuk mengambil nasi di meja makan yang jaraknya ga jauh dari gua duduk.
‘Ah kapan? Aku ga denger tadi kamu ngomong ajak saya’
‘Kan ngomongnya dalem hati Pak’ Lena sambil tertawa kecil.
‘…’ Gua Cuma tersenyum.
‘Saya ke dapur dulu ya pak’ Lena kemudian beranjak ke dapur sambil membawa piring berisi nasi.
Huff… Gua mencoba rileks memposisikan diri gua. Tivi yang daritadi masih menyala ga gua tonton. Gua memejamkan mata gua sebentar. Rasanya nyaman banget.
Ah.. Kok bisa ya gua jadi kayak gini, batin gua.. Gua Cuma membayangkan Fia dan Lena dalam khayalan gua..
Lagi-lagi… Gua merasakan pipi gua dibelai lembut. Cuma nyokap gua yang biasa mebangunkan gua dengan cara seperti itu…
Gua membuka mata. Rasanya udara sudah berubah menjadi lebih panas. Gua memicingkan mata gua rasanya berat banget. Memandang sekeliling gua.
Gua memperbaiki posisi duduk gua yang ternyata sudah melorot. Ada sepiring nasi goreng dan cangkir berisi kopi. Gua melihat jam tangan gua.
Whattt!? Jam 11 siang. Oh my god gua ketiduran.
Gua langsung sadar begitu gua melihat jam. Kepala gua sedikit pusing. Gua mencari Lena.
‘Len..’
Ga ada yang menjawab. Gua berjalan ke dapur dan ga ada orang di sana. Gua kemudian mencoba mencari Lena di halaman rumah. Kamar. WC. Kolong? Loh.
Kemana Lena ya? Batin gua. Gawat Lena pasti ngambek.
Gua duduk di sofa tempat gua tertidur tadi. Gua merogoh saku gua mengambil rokok. Gua mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
‘Cess… Fuhh’ Pikiran gua masih mencari Lena.
Sekitar 15 menit gua menunggu Lena. Gua udah telpon, tp ternyata suara HP lena malah kedengeran dari arah kamar. Gua akhirnya memutuskan memakan nasi goreng yang sudah ada di depan gua. Laper.
Baru beberapa sendok gua makan, gua mendengar pagar rumah dibuka. Gua melongok dari jendela, melihat siapa yang datang.
Gua melihat Lena sibuk memasukkan motornya ke halaman rumah.
‘Darimana Len?’ Gua nyamperin Lena ke pintu depan.
‘Eh udah bangun Pak?’ Jawabannya datar. Duh ngambek beneran nih.
‘Iya. Maaf ya aku ketiduran.’
‘..’ Lena ga jawab. Lena memarkir motornya dan beranjak masuk ke rumah. Lena meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja. Gua duduk. Lena duduk di sebelah gua.
‘Len..’
‘Ya?’
‘Kamu marah?’
‘…’
‘Len..’ Gua yakin kalau cewek diem gini pasti ngambek.
‘Bapak kok gak ngomong kalo Bapak dari Yogyakarta?’ Lena ngeliatin gua pasang tampang galak.
‘…’ Gua masih loading mau jawab apa.
‘Pak’ Nada Lena keliatan kesal.
‘Kok kamu tau?’
‘Tadi Fia telpon. Nanyain Bapak udah sampek ato belum, soalnya Hp bapak mati tu’
‘Maaf ya Len’ Gua merasa bersalah sama Lena.
‘Bukan itu pak masalahnya. Apa saya tega liat Bapak sampek ketiduran di sofa gitu?’
‘…’
‘Masak Bapak Cuma tidur 3 jam. Ke sini Cuma buat jemput saya, trus ke Yogya lagi?’ Lena berkaca-kaca.
‘Len..’ Kok malah nangis si batin gua.
‘….’
Gua dan Lena terdiam beberapa saat. Gua masih berpikir keras buat menjelaskan apa yang ada di dalem hati gua ke Lena.
‘Yaa.. Apa ya? Kalo aku ditanya alesannya apa sampek bela-belain ke sini.’
‘…’ Lena masih menunggu jawaban gua.
‘Ini mungkin alesanku yang kedua’ kata gua sambil menunjuk nasi goreng dan secangkir kopi yang belum habis gua makan.
‘…’ Lena makin tajam memandang gua.
‘Dan ini alesanku yang pertama sampek bertindak konyol’ Gua menempelkan jari gua di dahi Lena. Entah kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut gua. Rasanya apa yang gua katakan saat ini bukan sebuah gombalan atau kebohongan. Karena memang begitu kenyataannya.
‘…’ Lena masih diam. Sebulir air mata jatuh melewati pipinya.
Gua menyeka air mata Lena. Gua bener-bener merasa bersalah.
‘Nanti aku beliin permen. Jangan nangis ya’ Gua tersenyum ke Lena.
‘…’ Lena sedikit tersenyum. Tapi masih berusaha cemberut.
‘Yuk kita laksanakan agenda konyol hari ini.’
‘…’
‘Walaupun udah agak telat’ Gua bergaya melihat jam tangan.
Tiba-tiba badan gua seperti terdorong. Bau wangi rambut Lena dekat banget di hidung gua. Lena memeluk gua. Agak kaget karena posisi gua ga siap.
‘Bapak bodoh’
‘…’
‘Huhu…’ Lena mulai cengeng.
‘Iya Gua bodoh. Tapi penyebabnya kamu’
‘Biarin..’
‘Bapak sayang nggak sama saya?’ Gua terdiam. Seakan mengingat kejadian semalam dengan Fia. Gua bukan playboy yang suka punya pacar banyak. Tapi kenapa sekarang gua jadi kayak gini. Gua cinta sama Fia, tapi gimana dengan wanita yang sekarang lagi peluk gua.
‘Hufff…’ Gua menarik nafas panjang.
‘…’
‘Maaf Len. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri’
‘…’ Lena masih mendengarkan gua
‘Tapi kayaknya. Rasa sayangku ini…’ Gua terdiam sebentar.
‘…’
‘Masih belum bisa menjadi cinta’
Lena melepas pelukan nya. Tangannya masih ada di leher gua, tapi sekarang gua bisa melihat wajah Lena. Tersenyum. Matanya masih sembab.
‘Kan saya nanya sayang ato nggak, bukan cinta ato nggak?’
‘…’ Gua terdiam.
‘Jadi jawabannya?’
‘Sayang kok…’ Gua mengucap lirih jawaban gua setengah ragu.
‘Love but not Love’ Lena mengucap sebuah sajak ke gua.
‘Maksudnya?’
‘Bisa diartikan mengasihi tapi tidak mencintai’ Lena tersenyum ke gua.
‘…’
‘Saya seneng karena jawaban Bapak jujur. Lebih seneng lagi karena Bapak menyayangi saya’
Gua tersenyum ke Lena. Menyeka air mata di pipi Lena. Alangkah indahnya hubungan gua ini. Sahabat? Lebih sepertinya. Pacar? Bukan. Mungkin butuh kata baru buat mewakili kondisiku dan perasaanku saat ini ke Lena.
Thx Lena.
---
‘Yuk berangkat sekarang biar ga kemaleman’
‘Nasi gorengnya?’
‘O ya. Aku habisin dulu’ Gua langsung mengambil sendok dan mulai makan sarapan gua pagi, eh siang itu. Lena duduk sambil ngeliatin gua makan.
Wait for me Yogya…
LOVE BUT NOT LOVE
Tuhan…
Doa yang sederhana ini aku panjatkan kepadamu…
Aku yang selalu melupakan Engkau..
Malu-malu menghadap kepada Engkau..
Memohon..
Tuntun langkahku agar apa yang aku putuskan dan lakukan ini…
Adalah yang terbaik..
Bukan menurutku…
Tapi menurut Engkau…
Agar tidak menimbulkan luka…
Amin..
Gua membuka mata. Suasana yang sebenernya sangat gua rindukan. Musik mengalun lembut. Orang-orang di sekitar gua masih memejamkan mata, sibuk dengan permohonan mereka masing-masing. Lena? Lena masih memejamkan mata. Tangannya masih ditangkupkan. Gua tersenyum melihat Lena di samping gua.
‘Agar tidak menimbulkan luka bagi dia Tuhan’ gua berdoa dalam hati sambil melihat Lena.
Entah kenapa selesai gua mengucapkan doa tambahan, Lena membuka mata. Melihat gua. Damai sekali pandangannya. Dia tersenyum.
‘Makasi pak?’
‘Ha? Buat apa?’ Gua ngomong pelan supaya tidak mengganggu yang lain.
‘Buat doanya…’
‘….’ Gua Cuma bisa membalas senyuman Lena. Mungkin hati Lena yang mendengar doa gua.
---
‘Sarapan dulu yuk Pak’ Lena langsung ber-inisiatif ketika gua dan Lena baru saja masuk ke mobil. Mobil gua belum bisa bergerak karena area parkir yang terlalu penuh.
‘Boleh, dimana?’
‘Di rumah ajaa..’
‘Memang kamu masak?’
‘Enggak..’
‘Lah..?’
‘Nanti saya buatkan nasi goreng aja. Mau?’
‘Hmmm… Kambing guling aja deh. Gimana?’
‘Yee.. Mau cari dimana kambing pagi-pagi gini pak?’
‘Hahaha…’ Gua tertawa sambil konsentrasi mengeluarkan mobil dari area parkir yang lebih mirip pasar.
‘Akhirnyaaa… Gila paling males kalo rame gitu’ Gua merebahkan diri duduk di sofa rumah Lena. Setelah berjuang keras di minggu pagi yang ternyata sangat crowded, gua sampe juga di rumah Lena.
‘Bapak si, saya ajak naik motor ga mau’
‘Emang kapan ngajaknya’
‘Tadi…’ Lena masih sibuk mengambil nasi di meja makan yang jaraknya ga jauh dari gua duduk.
‘Ah kapan? Aku ga denger tadi kamu ngomong ajak saya’
‘Kan ngomongnya dalem hati Pak’ Lena sambil tertawa kecil.
‘…’ Gua Cuma tersenyum.
‘Saya ke dapur dulu ya pak’ Lena kemudian beranjak ke dapur sambil membawa piring berisi nasi.
Huff… Gua mencoba rileks memposisikan diri gua. Tivi yang daritadi masih menyala ga gua tonton. Gua memejamkan mata gua sebentar. Rasanya nyaman banget.
Ah.. Kok bisa ya gua jadi kayak gini, batin gua.. Gua Cuma membayangkan Fia dan Lena dalam khayalan gua..
Lagi-lagi… Gua merasakan pipi gua dibelai lembut. Cuma nyokap gua yang biasa mebangunkan gua dengan cara seperti itu…
Gua membuka mata. Rasanya udara sudah berubah menjadi lebih panas. Gua memicingkan mata gua rasanya berat banget. Memandang sekeliling gua.
Gua memperbaiki posisi duduk gua yang ternyata sudah melorot. Ada sepiring nasi goreng dan cangkir berisi kopi. Gua melihat jam tangan gua.
Whattt!? Jam 11 siang. Oh my god gua ketiduran.
Gua langsung sadar begitu gua melihat jam. Kepala gua sedikit pusing. Gua mencari Lena.
‘Len..’
Ga ada yang menjawab. Gua berjalan ke dapur dan ga ada orang di sana. Gua kemudian mencoba mencari Lena di halaman rumah. Kamar. WC. Kolong? Loh.
Kemana Lena ya? Batin gua. Gawat Lena pasti ngambek.
Gua duduk di sofa tempat gua tertidur tadi. Gua merogoh saku gua mengambil rokok. Gua mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
‘Cess… Fuhh’ Pikiran gua masih mencari Lena.
Sekitar 15 menit gua menunggu Lena. Gua udah telpon, tp ternyata suara HP lena malah kedengeran dari arah kamar. Gua akhirnya memutuskan memakan nasi goreng yang sudah ada di depan gua. Laper.
Baru beberapa sendok gua makan, gua mendengar pagar rumah dibuka. Gua melongok dari jendela, melihat siapa yang datang.
Gua melihat Lena sibuk memasukkan motornya ke halaman rumah.
‘Darimana Len?’ Gua nyamperin Lena ke pintu depan.
‘Eh udah bangun Pak?’ Jawabannya datar. Duh ngambek beneran nih.
‘Iya. Maaf ya aku ketiduran.’
‘..’ Lena ga jawab. Lena memarkir motornya dan beranjak masuk ke rumah. Lena meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja. Gua duduk. Lena duduk di sebelah gua.
‘Len..’
‘Ya?’
‘Kamu marah?’
‘…’
‘Len..’ Gua yakin kalau cewek diem gini pasti ngambek.
‘Bapak kok gak ngomong kalo Bapak dari Yogyakarta?’ Lena ngeliatin gua pasang tampang galak.
‘…’ Gua masih loading mau jawab apa.
‘Pak’ Nada Lena keliatan kesal.
‘Kok kamu tau?’
‘Tadi Fia telpon. Nanyain Bapak udah sampek ato belum, soalnya Hp bapak mati tu’
‘Maaf ya Len’ Gua merasa bersalah sama Lena.
‘Bukan itu pak masalahnya. Apa saya tega liat Bapak sampek ketiduran di sofa gitu?’
‘…’
‘Masak Bapak Cuma tidur 3 jam. Ke sini Cuma buat jemput saya, trus ke Yogya lagi?’ Lena berkaca-kaca.
‘Len..’ Kok malah nangis si batin gua.
‘….’
Gua dan Lena terdiam beberapa saat. Gua masih berpikir keras buat menjelaskan apa yang ada di dalem hati gua ke Lena.
‘Yaa.. Apa ya? Kalo aku ditanya alesannya apa sampek bela-belain ke sini.’
‘…’ Lena masih menunggu jawaban gua.
‘Ini mungkin alesanku yang kedua’ kata gua sambil menunjuk nasi goreng dan secangkir kopi yang belum habis gua makan.
‘…’ Lena makin tajam memandang gua.
‘Dan ini alesanku yang pertama sampek bertindak konyol’ Gua menempelkan jari gua di dahi Lena. Entah kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut gua. Rasanya apa yang gua katakan saat ini bukan sebuah gombalan atau kebohongan. Karena memang begitu kenyataannya.
‘…’ Lena masih diam. Sebulir air mata jatuh melewati pipinya.
Gua menyeka air mata Lena. Gua bener-bener merasa bersalah.
‘Nanti aku beliin permen. Jangan nangis ya’ Gua tersenyum ke Lena.
‘…’ Lena sedikit tersenyum. Tapi masih berusaha cemberut.
‘Yuk kita laksanakan agenda konyol hari ini.’
‘…’
‘Walaupun udah agak telat’ Gua bergaya melihat jam tangan.
Tiba-tiba badan gua seperti terdorong. Bau wangi rambut Lena dekat banget di hidung gua. Lena memeluk gua. Agak kaget karena posisi gua ga siap.
‘Bapak bodoh’
‘…’
‘Huhu…’ Lena mulai cengeng.
‘Iya Gua bodoh. Tapi penyebabnya kamu’
‘Biarin..’
‘Bapak sayang nggak sama saya?’ Gua terdiam. Seakan mengingat kejadian semalam dengan Fia. Gua bukan playboy yang suka punya pacar banyak. Tapi kenapa sekarang gua jadi kayak gini. Gua cinta sama Fia, tapi gimana dengan wanita yang sekarang lagi peluk gua.
‘Hufff…’ Gua menarik nafas panjang.
‘…’
‘Maaf Len. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri’
‘…’ Lena masih mendengarkan gua
‘Tapi kayaknya. Rasa sayangku ini…’ Gua terdiam sebentar.
‘…’
‘Masih belum bisa menjadi cinta’
Lena melepas pelukan nya. Tangannya masih ada di leher gua, tapi sekarang gua bisa melihat wajah Lena. Tersenyum. Matanya masih sembab.
‘Kan saya nanya sayang ato nggak, bukan cinta ato nggak?’
‘…’ Gua terdiam.
‘Jadi jawabannya?’
‘Sayang kok…’ Gua mengucap lirih jawaban gua setengah ragu.
‘Love but not Love’ Lena mengucap sebuah sajak ke gua.
‘Maksudnya?’
‘Bisa diartikan mengasihi tapi tidak mencintai’ Lena tersenyum ke gua.
‘…’
‘Saya seneng karena jawaban Bapak jujur. Lebih seneng lagi karena Bapak menyayangi saya’
Gua tersenyum ke Lena. Menyeka air mata di pipi Lena. Alangkah indahnya hubungan gua ini. Sahabat? Lebih sepertinya. Pacar? Bukan. Mungkin butuh kata baru buat mewakili kondisiku dan perasaanku saat ini ke Lena.
Thx Lena.
---
‘Yuk berangkat sekarang biar ga kemaleman’
‘Nasi gorengnya?’
‘O ya. Aku habisin dulu’ Gua langsung mengambil sendok dan mulai makan sarapan gua pagi, eh siang itu. Lena duduk sambil ngeliatin gua makan.
Wait for me Yogya…
0
Kutip
Balas