- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#131
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
Quote:
PART XVII
LOVE BUT NOT LOVE
Malam itu 24 Juli 2010 tepat hampir tengah malam. Adalah satu goresan istimewa dalam prasasti hidup gua. Waktu dan tempat yang ga mungkin gua lupakan sampai jaman cucu cucu gua kelak. Kenekatan seorang anak manusia yang memutuskan buat melewati jalan yang berliku, padahal ada jalan lapang di sisinya.. Semua Cuma gara-gara satu hal… Cinta…
Gua merasakan belaian lembut di wajah gua. Gua berusaha memicingkan mata, rasanya berat banget. Rasa kantuk yang luar biasa menguasai tubuh gua yang baru tidur beberapa jam malem itu. Gua sempetin mengambil jam tangan gua buat ngeliat jam. Jam 3 pagi.
Gua melihat di sekeliling gua. Fia masih tertidur bareng Ari. Gua tidur di kursi yang ada di bangsal Ari. Entah kenapa, pandangan gua tertuju ke hp yang dari kemarin ga gua sentuh sama sekali. Ada 2 sms dan 1 panggilan tak terjawab. Gua membuka notifikasi dari HP gua, ada 1 nama Lena.
“Pak, besok jadi pergi ga ya? Kabarin saya ya” Sms pertama.
“Kayanya kalo saya ajak pergi besok, nanti malah Bapak kecapean. Next time mungkin ya. Tapi saya nurut” Sms kedua
‘…’ Gua tertegun membaca kedua sms tadi. Gua lupa sama Lena, memang otak gua ga sensitif. Gua merasa bodoh dan bersalah tapi bingung mau ngapain. Ada Fia di depan gua dan Lena yang menunggu gua.
Gua mengambil sebatang rokok, gua berjalan pelan. Gua menuju WC. Mau ngerokok di bawah males banget rasanya.
Gua ga jongkok dan ga boker. Gua Cuma setengah duduk bersandar di dinding bak air. Gua menghisap rokok gua dalam-dalam. Rasanya bener-bener melelahkan beberapa waktu belakangan ini. Dulu jaman gua jomblo, ga pernah mikir hal-hal kayak gini. Hari sabtu biasa gua nonton Bola sampek pagi. Trus hari minggu Cuma gua isi dengan tidur-tiduran seharian kayak kebo sampek dimarahin bokap gua. Atau nonton drama korea di laptop gua seharian.
‘Huftttt’ gua menghela nafas panjang. Gua kan sekarang juga masih jomblo ya? Tapi gua jomblo hebat. Jomblo terkeren sepanjang abad kalo gini keadaannya. Hehehe… Gua masih sempet mikir konyol.
Ga terasa rokok di tangan gua udah pendek. Gua buang rokok gua di kloset dan menyiramnya dengan air. Gua terdiam sejenak membaca tulisan yang ditempel di dinding WC. “Bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.” Sambil ada stiker orang lagi nyiram kloset.
Gua tertegun membaca tulisan itu. Pikiran gua melayang jauh. Saat itu gua Cuma keinget satu orang, Lena.
Gua keluar dari WC. Gua melihat Fia udah bangun, mungkin dia mendengar gua waktu gua nyiram kloset tadi.
‘Bapak udah bangun?’
‘Eh.. Iya Fi. Kamu kebangun?’
‘..’ Fia mengangguk dan beranjak mengambilkan handuk buat gua. Gua me-lap tangan gua yang masih basah.
‘Apa rencana Bapak?’ Fia mengambil lagi handuk yang sudah selese gua pake.
‘Makasi Fi’
‘…’
‘Hmm kalo aku pergi sama Lena gimana ya Fi?’
Fia memandang gua. Gua jadi ga enak dipandangi Fia, apa pertanyaan gua salah ya?
‘Bapak ga capek apa?’
‘Ya capek si. Cuma..’
‘Saya Cuma khawatir Bapak kecapean.’
‘…’ Gua masih menunggu kata-kata Fia selanjutnya.
‘Tapi seharusnya memang Bapak pergi sama Mbak Lena’ Fia tersenyum ke gua.
Gua tertegun mendengar jawaban Fia pagi itu. Jawaban abnormal dari seorang cewek dan rasa pengertian yang luar biasa. Oh my God, ada ya cewek kayak gini. Gua sadar secara etika gua salah ngomong kayak gini ke Fia.
‘Capek si. Bohong kalo aku bilang ga capek. Tapi aku masih sanggup buat tepatin janji hari ini’ Gua balas tersenyum balik ke Fia.
‘Trus?’
‘…’ Gua berpikir sejenak menyusun rencana.
‘…’
‘Aku berangkat sekarang aja.’
‘Hah? Ga kepagian Pak?’
‘Lena biasa jam 6 pagi pergi ibadah, Aku mau sesekali ibadah juga deh’
‘Oo ya ya…’
‘Gimana menurut kamu Fi?’ Entah gua jadi kecanduan buat nanyain keputusan gua ke Fia.
‘Nih’ Fia menyerahkan handuk yang daritadi masih dia pegang.
‘…’
‘Mandi dulu biar nanti disana ga keburu-buru. Juga biar kantuknya ilang’ Fia tersenyum (lagi) ke gua.
‘Oke Bos’ Gua masuk ke WC buat mandi. Walaupun sebenernya rasa kantuk gua udah hilang sejak liat senyuman Fia tadi.
Ga lama gua mandi dan siap-siap. Gua sudah ganteng banget.
‘Pak diisi dulu perutnya’ Gua melihat meja kecil di samping kursi tempat gua tidur tadi, sudah ada sepotong roti. Fia lagi menuangkan Kopi dari bungkusan plastik ke sebuah gelas.
‘Kok kamu bisa dapet kayak gini?’ Gua duduk di kursi.
‘Yee di sini jam berapa aja ada yang jual makanan Pak’ Fia menirukan kata-kata gua minggu lalu.
‘Hahaha… Aku ingetnya kita masih di desa’
‘Ni pak kopinya, Seadanya tapi roti dan kopinya’
‘Iya makasi Fi’ Gua menggigit roti yang dibeli Fia. (Ga enak hadeh)
Tapi enak juga ya sarapan ditemani istri kayak gini, hehe. Ketimbang sarapan di depan pabrik di warung makan haha…
---
‘Oke, aku berangkat dulu ya Fi’ Gua udah berada di parkiran. Fia ngotot anter gua sampe parkiran.
‘Iya ati ati ya Pak’
‘Nanti aku jemput kamu sekalian, gpp ya bareng sama Lena’
‘Iya Pak. No problemo’ Fia tersenyum ke Gua.
Manisnya hidup ini. Gua tersenyum sendiri di dalam mobil.
Ah gua harus bergegas. Udah mepet waktunya. Gua lebih bakat jadi pembalap motogp daripada pembalap F1 soalnya. Jadi gua harus buru-buru ni naik mobilnya..
Usaha gua ga sia-sia pagi itu. Jam 5.40 gua udah nyampe di depan rumah Lena. Lampu rumah Lena masih menyala. Perasaan gua agak ga enak. Jangan-jangan Lena ga ibadah ni. Gua melongok jam sekali lagi. Kayaknya bener kok jam tangan gua. Gua memang ga berniat buat telpon atau sms Lena, biar jadi kejutan.
Gua keluar dari mobil menghirup udara pagi yang masih bersih. Gua berdiri sambil mondar-mandir kayak maling di depan rumah Lena. Beruntung ga ada hansip yang patroli, ga lucu kalo gua digelandang ke pos hansip gara-gara dicurigai mau ngrampok rumah orang. Suasana perumahan tempat Lena tinggal memang masih sepi saat itu. Cuma ada beberapa ibu-ibu yang jalan-jalan atau sibuk menyapu halaman rumahnya.
Jam 5.50, udah 10 menit gua nunggu. Rokok di tangan gua masih ada separuh. Lampu di depan rumah Lena tiba-tiba mati. Gua berganti posisi siap sejak daritadi jalan mondar-mandir.
Ga lama pintu rumah Lena dibuka. Seorang wanita dengan dress merah tampak masih sibuk membetulkan sepatunya. Ribet ya jadi cewek, dia sekarang malah sibuk memakai jaket jeans dan menstater sebuah motor matic yang terparkir di beranda rumah.
Kayaknya Lena belum menyadari ada gua di depan rumahnya. Mungkin kegantengan gua ketutup sama pohon jambu di depan rumah Lena. Gua asik ngeliatin Lena yang ribet mau pake helm.
‘Udah cantik gitu, jangan pake helm neng. Nanti berantakan rambutnya’ Gua memecah kesunyian dan kesibukan Lena.
‘…’ Lena memandang gua setengah ga percaya. Gua masih berada di luar pagar rumah Lena.
‘Ikut abang deh.’ Kata gua sok keren sambil menunjuk mobil Gua yang belum lunas.
‘Pak Harryyy….’ Lena berteriak.
‘…’ Gila giliran gua terdiam. Kaget gua. Lena setengah berlari menhampiri gua.
‘Kok bapak disini?’
‘Lo bukannya hari ini hari minggu ya?’ Kata gua sok bloon.
‘Hehehe’ Lena mrenges.
‘Yuk ah telat nanti’
‘Yukk..’ Lena bersemangat membuka pagar dan berjalan bareng gua ke mobil.
‘Tuh motornya mau dipanasin sampek siang?’
‘O iya lupa matiin hahaha…’
‘Udah biar aku aja’ Gua berjalan, mematikan motor dan kembali ke mobil. Gua masuk mobil, duduk dan memandang penumpang di sebelah gua. Kok gua bisa ya ga cinta sama makhluk secantik ini?
LOVE BUT NOT LOVE
Malam itu 24 Juli 2010 tepat hampir tengah malam. Adalah satu goresan istimewa dalam prasasti hidup gua. Waktu dan tempat yang ga mungkin gua lupakan sampai jaman cucu cucu gua kelak. Kenekatan seorang anak manusia yang memutuskan buat melewati jalan yang berliku, padahal ada jalan lapang di sisinya.. Semua Cuma gara-gara satu hal… Cinta…
Gua merasakan belaian lembut di wajah gua. Gua berusaha memicingkan mata, rasanya berat banget. Rasa kantuk yang luar biasa menguasai tubuh gua yang baru tidur beberapa jam malem itu. Gua sempetin mengambil jam tangan gua buat ngeliat jam. Jam 3 pagi.
Gua melihat di sekeliling gua. Fia masih tertidur bareng Ari. Gua tidur di kursi yang ada di bangsal Ari. Entah kenapa, pandangan gua tertuju ke hp yang dari kemarin ga gua sentuh sama sekali. Ada 2 sms dan 1 panggilan tak terjawab. Gua membuka notifikasi dari HP gua, ada 1 nama Lena.
“Pak, besok jadi pergi ga ya? Kabarin saya ya” Sms pertama.
“Kayanya kalo saya ajak pergi besok, nanti malah Bapak kecapean. Next time mungkin ya. Tapi saya nurut” Sms kedua
‘…’ Gua tertegun membaca kedua sms tadi. Gua lupa sama Lena, memang otak gua ga sensitif. Gua merasa bodoh dan bersalah tapi bingung mau ngapain. Ada Fia di depan gua dan Lena yang menunggu gua.
Gua mengambil sebatang rokok, gua berjalan pelan. Gua menuju WC. Mau ngerokok di bawah males banget rasanya.
Gua ga jongkok dan ga boker. Gua Cuma setengah duduk bersandar di dinding bak air. Gua menghisap rokok gua dalam-dalam. Rasanya bener-bener melelahkan beberapa waktu belakangan ini. Dulu jaman gua jomblo, ga pernah mikir hal-hal kayak gini. Hari sabtu biasa gua nonton Bola sampek pagi. Trus hari minggu Cuma gua isi dengan tidur-tiduran seharian kayak kebo sampek dimarahin bokap gua. Atau nonton drama korea di laptop gua seharian.
‘Huftttt’ gua menghela nafas panjang. Gua kan sekarang juga masih jomblo ya? Tapi gua jomblo hebat. Jomblo terkeren sepanjang abad kalo gini keadaannya. Hehehe… Gua masih sempet mikir konyol.
Ga terasa rokok di tangan gua udah pendek. Gua buang rokok gua di kloset dan menyiramnya dengan air. Gua terdiam sejenak membaca tulisan yang ditempel di dinding WC. “Bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.” Sambil ada stiker orang lagi nyiram kloset.
Gua tertegun membaca tulisan itu. Pikiran gua melayang jauh. Saat itu gua Cuma keinget satu orang, Lena.
Gua keluar dari WC. Gua melihat Fia udah bangun, mungkin dia mendengar gua waktu gua nyiram kloset tadi.
‘Bapak udah bangun?’
‘Eh.. Iya Fi. Kamu kebangun?’
‘..’ Fia mengangguk dan beranjak mengambilkan handuk buat gua. Gua me-lap tangan gua yang masih basah.
‘Apa rencana Bapak?’ Fia mengambil lagi handuk yang sudah selese gua pake.
‘Makasi Fi’
‘…’
‘Hmm kalo aku pergi sama Lena gimana ya Fi?’
Fia memandang gua. Gua jadi ga enak dipandangi Fia, apa pertanyaan gua salah ya?
‘Bapak ga capek apa?’
‘Ya capek si. Cuma..’
‘Saya Cuma khawatir Bapak kecapean.’
‘…’ Gua masih menunggu kata-kata Fia selanjutnya.
‘Tapi seharusnya memang Bapak pergi sama Mbak Lena’ Fia tersenyum ke gua.
Gua tertegun mendengar jawaban Fia pagi itu. Jawaban abnormal dari seorang cewek dan rasa pengertian yang luar biasa. Oh my God, ada ya cewek kayak gini. Gua sadar secara etika gua salah ngomong kayak gini ke Fia.
‘Capek si. Bohong kalo aku bilang ga capek. Tapi aku masih sanggup buat tepatin janji hari ini’ Gua balas tersenyum balik ke Fia.
‘Trus?’
‘…’ Gua berpikir sejenak menyusun rencana.
‘…’
‘Aku berangkat sekarang aja.’
‘Hah? Ga kepagian Pak?’
‘Lena biasa jam 6 pagi pergi ibadah, Aku mau sesekali ibadah juga deh’
‘Oo ya ya…’
‘Gimana menurut kamu Fi?’ Entah gua jadi kecanduan buat nanyain keputusan gua ke Fia.
‘Nih’ Fia menyerahkan handuk yang daritadi masih dia pegang.
‘…’
‘Mandi dulu biar nanti disana ga keburu-buru. Juga biar kantuknya ilang’ Fia tersenyum (lagi) ke gua.
‘Oke Bos’ Gua masuk ke WC buat mandi. Walaupun sebenernya rasa kantuk gua udah hilang sejak liat senyuman Fia tadi.
Ga lama gua mandi dan siap-siap. Gua sudah ganteng banget.
‘Pak diisi dulu perutnya’ Gua melihat meja kecil di samping kursi tempat gua tidur tadi, sudah ada sepotong roti. Fia lagi menuangkan Kopi dari bungkusan plastik ke sebuah gelas.
‘Kok kamu bisa dapet kayak gini?’ Gua duduk di kursi.
‘Yee di sini jam berapa aja ada yang jual makanan Pak’ Fia menirukan kata-kata gua minggu lalu.
‘Hahaha… Aku ingetnya kita masih di desa’
‘Ni pak kopinya, Seadanya tapi roti dan kopinya’
‘Iya makasi Fi’ Gua menggigit roti yang dibeli Fia. (Ga enak hadeh)
Tapi enak juga ya sarapan ditemani istri kayak gini, hehe. Ketimbang sarapan di depan pabrik di warung makan haha…
---
‘Oke, aku berangkat dulu ya Fi’ Gua udah berada di parkiran. Fia ngotot anter gua sampe parkiran.
‘Iya ati ati ya Pak’
‘Nanti aku jemput kamu sekalian, gpp ya bareng sama Lena’
‘Iya Pak. No problemo’ Fia tersenyum ke Gua.
Manisnya hidup ini. Gua tersenyum sendiri di dalam mobil.
Ah gua harus bergegas. Udah mepet waktunya. Gua lebih bakat jadi pembalap motogp daripada pembalap F1 soalnya. Jadi gua harus buru-buru ni naik mobilnya..
Usaha gua ga sia-sia pagi itu. Jam 5.40 gua udah nyampe di depan rumah Lena. Lampu rumah Lena masih menyala. Perasaan gua agak ga enak. Jangan-jangan Lena ga ibadah ni. Gua melongok jam sekali lagi. Kayaknya bener kok jam tangan gua. Gua memang ga berniat buat telpon atau sms Lena, biar jadi kejutan.
Gua keluar dari mobil menghirup udara pagi yang masih bersih. Gua berdiri sambil mondar-mandir kayak maling di depan rumah Lena. Beruntung ga ada hansip yang patroli, ga lucu kalo gua digelandang ke pos hansip gara-gara dicurigai mau ngrampok rumah orang. Suasana perumahan tempat Lena tinggal memang masih sepi saat itu. Cuma ada beberapa ibu-ibu yang jalan-jalan atau sibuk menyapu halaman rumahnya.
Jam 5.50, udah 10 menit gua nunggu. Rokok di tangan gua masih ada separuh. Lampu di depan rumah Lena tiba-tiba mati. Gua berganti posisi siap sejak daritadi jalan mondar-mandir.
Ga lama pintu rumah Lena dibuka. Seorang wanita dengan dress merah tampak masih sibuk membetulkan sepatunya. Ribet ya jadi cewek, dia sekarang malah sibuk memakai jaket jeans dan menstater sebuah motor matic yang terparkir di beranda rumah.
Kayaknya Lena belum menyadari ada gua di depan rumahnya. Mungkin kegantengan gua ketutup sama pohon jambu di depan rumah Lena. Gua asik ngeliatin Lena yang ribet mau pake helm.
‘Udah cantik gitu, jangan pake helm neng. Nanti berantakan rambutnya’ Gua memecah kesunyian dan kesibukan Lena.
‘…’ Lena memandang gua setengah ga percaya. Gua masih berada di luar pagar rumah Lena.
‘Ikut abang deh.’ Kata gua sok keren sambil menunjuk mobil Gua yang belum lunas.
‘Pak Harryyy….’ Lena berteriak.
‘…’ Gila giliran gua terdiam. Kaget gua. Lena setengah berlari menhampiri gua.
‘Kok bapak disini?’
‘Lo bukannya hari ini hari minggu ya?’ Kata gua sok bloon.
‘Hehehe’ Lena mrenges.
‘Yuk ah telat nanti’
‘Yukk..’ Lena bersemangat membuka pagar dan berjalan bareng gua ke mobil.
‘Tuh motornya mau dipanasin sampek siang?’
‘O iya lupa matiin hahaha…’
‘Udah biar aku aja’ Gua berjalan, mematikan motor dan kembali ke mobil. Gua masuk mobil, duduk dan memandang penumpang di sebelah gua. Kok gua bisa ya ga cinta sama makhluk secantik ini?
0
Kutip
Balas