- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#119
PART XVI FORBIDDEN LOVE
Quote:
PART XVI
FORBIDDEN LOVE
‘Aku serius Fi. Kalo kamu bersedia, aku akan urus semuanya dan kita menikah’ Gua meyakinkan Fia kalau gua saat itu mengatakan hal yang sebenernya dalam hati gua.
Fia memandang gua seakan gak percaya dengan pendengarannya. Pandangannya pun belum beralih dari wajah gua. Entah kayak apa ekspresi gua waktu itu. Yang jelas gua merasa sangat-sangat bodoh, tegang, nekat. WTF!
‘Saya ga salah denger pak?’
‘Ya kamu gak salah denger’ Kata gua mantab.
‘Bapak tau apa yang barusan bapak tanyakan’ Fia masih memastikan semuanya.
‘Aku tahu dan aku sudah mengerti betul, apa yang sekarang terjadi dan apa yang akan terjadi’ Gua tersenyum.
Fia masih memandang gua. Dalem banget pandangannya waktu itu. Saat itu gua bener-bener berdoa supaya ga ada orang yang ganggu suasana tegang gua waktu itu, walaupun memang suasana sudah cukup sepi.
‘Saya masih bersuami pak’
‘Tapi suami kamu ga jelas kemana dan dimana dia sekarang’
‘Ya saya tau itu’ Fia mulai berkaca-kaca.
‘Kamu butuh aku Fi’
‘Ya saya juga tau itu.
‘….’ DEG, jawaban yang mantab.
‘Ari juga butuh seorang Ayah’ Kata Fia, lirih.
‘…’ Gua seperti ga sanggup melanjutkan percakapan itu. Rasanya kenekatan yang gua kumpulkan selama itu sudah habis mendengar perkataan Fia yang lirih, namun dalam.
Kami sama-sama diam. Memandang kosong ke benda-benda di sekitar kami. Masing-masing sibuk mencari pembenaran akan dirinya.
‘Aku sayang sama kamu FI’ Gua membuka percakapan lagi, tanpa melihat wajah fia.
‘Saya percaya itu pak’
‘Sejak pertama aku ketemu kamu, sejak pertama aku tahu bahwa kamu punya anak, sejak pertama kamu ceritakan semuanya ke aku, perasaanku ga ada yang berubah’
‘….’
‘Aku terima kamu apa adanya’
‘Mbak Lena?’ Fia memotong.
‘Ada apa dengan Lena?’
‘Saya tau Mbak Lena suka sama bapak’
‘Ya..’
‘Bapak tahu hal itu?’
‘Kemarin Lena ngomong ke aku masalah perasaannya’ Gua menghela nafas.
‘trus?’
‘Berat. Terus terang kamu dan Lena memiliki rating tertinggi dalam kehidupan aku’
‘…’
‘Dan entah kenapa aku mulai memberikan rating terhadap kalian saat kamu hadir dalam kehidupanku’
‘…’
‘Semakin aku menolak kehadiranmu, justru aku makin yakin, bahwa kamu butuh aku, dan juga sebaliknya’
‘..’
‘Sempurna, kata-kata itu gua bisa katakan untuk Lena, Cantik, pintar, se-agama, se-ras, semuanya terasa perfect saat membicarakan hal teknis mengenai aku dan Lena’
‘….’
‘Tapi hubungan gak melulu masalah teknis, ada satu hal yang bikin hubungan gua dan Lena ga Sempurna.’
‘…’
‘… cinta….’
Gua ambil nafas sebentar, melepas beban yang gua pikul malam itu. Gua mengambil rokok dan menyalakannya.
‘Cess Fuhhh…’ Gua menghembuskan asap rokok tinggi-tinggi.
‘…’
‘Dan kamu, Fia, sudah bersuami, memiliki anak, kita tidak sejalan dalam masalah keyakinan, mungkin ras. Semua hal teknis tentang hubunganmu denganku tidak ada yang mendukung’
‘…’
‘Tapi Aku memiliki alasan buat bersikap bodoh…’
‘…’
‘bersikap bodoh buat memenangkan hubungan yang ga mungkin ini’
‘…’
‘karena aku punya hal non teknis yang bisa aku jadikan alasan buat memperjuangkan ini’
‘…’
‘…cinta…’
‘….’
Fia memandang gua tanpa berkedip mendengarkan semua kata-kata gua malem itu. Bukan gombalan, tapi semuanya gua ungkapin dengan hati. Semua isi hati gua yang selama ini terpendam gara-gara hal teknis yang tidak mendukung.
‘maaf kalo ada yang salah dari sikapku saat ini’ gua memandang Fia. Fia masih diam mematung.
‘…’
‘Ngomong Fi…’
Fia belum ngomong sepatah katapun, dia meraih tangan gua. Mengambil rokok yang saat itu gua pegang.
‘Dikurangin ya Pak rokoknya’ Rokok gua dibuang.
‘Bluk’ ‘Plek’ ah apalah gua bingung mengungkapkannya, atau bagaimana efek suaranya. Yang jelas gua merasakan tubuh Fia dekat banget sama badan gua. 100 mikron? Kayaknya lebih dekat.
Fia memeluk gua.
Diam. Sunyi. Bener kata orang saat jatuh cinta dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak. Gua ga peduli ada yang ngeliatin ato nggak.
Gua merasakan tubuh Fia bergetar pelan, Fia meneteskan air mata tanpa berkata sepatah katapun.
Gua juga bingung mau ngomong apalagi. Gua hanya balas memeluk Fia erat.
‘Saya takut pak’ Fia ngomong di sela tangisnya.
‘…’
‘Saya juga bingung…’
‘….’
‘Saya…. Cuma berani berkhayal.....’ Kata kata fia yang terpatah-patah bisa gua tangkap dengan baik.
‘….’
‘….. kalo selama ini Bapak adalah suami saya…’
Gua melepas pelukan Fia, menegakkan badannya supaya bisa mendengar kata-kata gua dengan baik.
‘Kita sudah sama sama dewasa..’
‘…’
‘Kamu pikirkan baik-baik…’
‘….’
‘Kita ga boleh salah melangkah buat kondisi seperti ini…’
‘….’
‘Aku tunggu keputusan kamu, menerima atau tidak lamaranku…’
Fia mengangguk. Gua mengusap air mata Fia, menguatkan dirinya.
‘Kita balik ke kamar yuk’ Gua mengajak Fia. Fia tersenyum ke gua. Rasanya lega melihat senyum Fia saat itu.
Malam itu 24 Juli 2010 tepat hampir tengah malam. Adalah satu goresan istimewa dalam prasasti hidup gua. Waktu dan tempat yang ga mungkin gua lupakan sampai jaman cucu cucu gua kelak. Kenekatan seorang anak manusia yang memutuskan buat melewati jalan yang berliku, padahal ada jalan lapang di sisinya.. Semua Cuma gara-gara satu hal… Cinta…
FORBIDDEN LOVE
‘Aku serius Fi. Kalo kamu bersedia, aku akan urus semuanya dan kita menikah’ Gua meyakinkan Fia kalau gua saat itu mengatakan hal yang sebenernya dalam hati gua.
Fia memandang gua seakan gak percaya dengan pendengarannya. Pandangannya pun belum beralih dari wajah gua. Entah kayak apa ekspresi gua waktu itu. Yang jelas gua merasa sangat-sangat bodoh, tegang, nekat. WTF!
‘Saya ga salah denger pak?’
‘Ya kamu gak salah denger’ Kata gua mantab.
‘Bapak tau apa yang barusan bapak tanyakan’ Fia masih memastikan semuanya.
‘Aku tahu dan aku sudah mengerti betul, apa yang sekarang terjadi dan apa yang akan terjadi’ Gua tersenyum.
Fia masih memandang gua. Dalem banget pandangannya waktu itu. Saat itu gua bener-bener berdoa supaya ga ada orang yang ganggu suasana tegang gua waktu itu, walaupun memang suasana sudah cukup sepi.
‘Saya masih bersuami pak’
‘Tapi suami kamu ga jelas kemana dan dimana dia sekarang’
‘Ya saya tau itu’ Fia mulai berkaca-kaca.
‘Kamu butuh aku Fi’
‘Ya saya juga tau itu.
‘….’ DEG, jawaban yang mantab.
‘Ari juga butuh seorang Ayah’ Kata Fia, lirih.
‘…’ Gua seperti ga sanggup melanjutkan percakapan itu. Rasanya kenekatan yang gua kumpulkan selama itu sudah habis mendengar perkataan Fia yang lirih, namun dalam.
Kami sama-sama diam. Memandang kosong ke benda-benda di sekitar kami. Masing-masing sibuk mencari pembenaran akan dirinya.
‘Aku sayang sama kamu FI’ Gua membuka percakapan lagi, tanpa melihat wajah fia.
‘Saya percaya itu pak’
‘Sejak pertama aku ketemu kamu, sejak pertama aku tahu bahwa kamu punya anak, sejak pertama kamu ceritakan semuanya ke aku, perasaanku ga ada yang berubah’
‘….’
‘Aku terima kamu apa adanya’
‘Mbak Lena?’ Fia memotong.
‘Ada apa dengan Lena?’
‘Saya tau Mbak Lena suka sama bapak’
‘Ya..’
‘Bapak tahu hal itu?’
‘Kemarin Lena ngomong ke aku masalah perasaannya’ Gua menghela nafas.
‘trus?’
‘Berat. Terus terang kamu dan Lena memiliki rating tertinggi dalam kehidupan aku’
‘…’
‘Dan entah kenapa aku mulai memberikan rating terhadap kalian saat kamu hadir dalam kehidupanku’
‘…’
‘Semakin aku menolak kehadiranmu, justru aku makin yakin, bahwa kamu butuh aku, dan juga sebaliknya’
‘..’
‘Sempurna, kata-kata itu gua bisa katakan untuk Lena, Cantik, pintar, se-agama, se-ras, semuanya terasa perfect saat membicarakan hal teknis mengenai aku dan Lena’
‘….’
‘Tapi hubungan gak melulu masalah teknis, ada satu hal yang bikin hubungan gua dan Lena ga Sempurna.’
‘…’
‘… cinta….’
Gua ambil nafas sebentar, melepas beban yang gua pikul malam itu. Gua mengambil rokok dan menyalakannya.
‘Cess Fuhhh…’ Gua menghembuskan asap rokok tinggi-tinggi.
‘…’
‘Dan kamu, Fia, sudah bersuami, memiliki anak, kita tidak sejalan dalam masalah keyakinan, mungkin ras. Semua hal teknis tentang hubunganmu denganku tidak ada yang mendukung’
‘…’
‘Tapi Aku memiliki alasan buat bersikap bodoh…’
‘…’
‘bersikap bodoh buat memenangkan hubungan yang ga mungkin ini’
‘…’
‘karena aku punya hal non teknis yang bisa aku jadikan alasan buat memperjuangkan ini’
‘…’
‘…cinta…’
‘….’
Fia memandang gua tanpa berkedip mendengarkan semua kata-kata gua malem itu. Bukan gombalan, tapi semuanya gua ungkapin dengan hati. Semua isi hati gua yang selama ini terpendam gara-gara hal teknis yang tidak mendukung.
‘maaf kalo ada yang salah dari sikapku saat ini’ gua memandang Fia. Fia masih diam mematung.
‘…’
‘Ngomong Fi…’
Fia belum ngomong sepatah katapun, dia meraih tangan gua. Mengambil rokok yang saat itu gua pegang.
‘Dikurangin ya Pak rokoknya’ Rokok gua dibuang.
‘Bluk’ ‘Plek’ ah apalah gua bingung mengungkapkannya, atau bagaimana efek suaranya. Yang jelas gua merasakan tubuh Fia dekat banget sama badan gua. 100 mikron? Kayaknya lebih dekat.
Fia memeluk gua.
Diam. Sunyi. Bener kata orang saat jatuh cinta dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak. Gua ga peduli ada yang ngeliatin ato nggak.
Gua merasakan tubuh Fia bergetar pelan, Fia meneteskan air mata tanpa berkata sepatah katapun.
Gua juga bingung mau ngomong apalagi. Gua hanya balas memeluk Fia erat.
‘Saya takut pak’ Fia ngomong di sela tangisnya.
‘…’
‘Saya juga bingung…’
‘….’
‘Saya…. Cuma berani berkhayal.....’ Kata kata fia yang terpatah-patah bisa gua tangkap dengan baik.
‘….’
‘….. kalo selama ini Bapak adalah suami saya…’
Gua melepas pelukan Fia, menegakkan badannya supaya bisa mendengar kata-kata gua dengan baik.
‘Kita sudah sama sama dewasa..’
‘…’
‘Kamu pikirkan baik-baik…’
‘….’
‘Kita ga boleh salah melangkah buat kondisi seperti ini…’
‘….’
‘Aku tunggu keputusan kamu, menerima atau tidak lamaranku…’
Fia mengangguk. Gua mengusap air mata Fia, menguatkan dirinya.
‘Kita balik ke kamar yuk’ Gua mengajak Fia. Fia tersenyum ke gua. Rasanya lega melihat senyum Fia saat itu.
Malam itu 24 Juli 2010 tepat hampir tengah malam. Adalah satu goresan istimewa dalam prasasti hidup gua. Waktu dan tempat yang ga mungkin gua lupakan sampai jaman cucu cucu gua kelak. Kenekatan seorang anak manusia yang memutuskan buat melewati jalan yang berliku, padahal ada jalan lapang di sisinya.. Semua Cuma gara-gara satu hal… Cinta…
0
Kutip
Balas