- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#117
PART XV FIA? CAN’T WE TALK ABOUT LOVE?
Quote:
PART XV
FIA? CAN’T WE TALK ABOUT LOVE?
Sabtu.
Gua berjalan di lorong rumah sakit. Fia di sebelah gua. Ari dalam gendongan gua. Suasana lorong yang sepi ketika seminggu lalu gua lewatin, sekarang berubah ramai. Suster-suster beberapa lalu lalang. Ada cleaning service yang sedang mengepel lantai. Ya jelas ramai karena sekarang baru jam 4 sore. Beda dengan seminggu lalu ketika gua lewatin lorong ini jam 12 malam.
Entah kenapa tapi feel yang gua rasain seperti dejavu dengan seminggu yang lalu. Berjalan bersama dengan Fia dan Ari membuat gua seakan menjadi suami dadakan.
Setelah mengurus beberapa administrasi, gua dan Fia duduk di ruang tunggu pasien menunggu giliran.
‘Pak’
‘Ya?’ Gua menjawab tanpa menoleh karena gua lagi sibuk maen sama Ari.
‘Bapak besok minggu jadi pergi sama mbak Lena?’
‘Kok kamu tahu?’ Gua agak kaget.
‘Iya Mbak Lena yang cerita’
‘Owh’ Ngapain juga Lena cerita, pikir gua.
‘Jadi kan Pak?’
‘Ya besok liat keadaan’ jawab gua enteng.
‘Jangan gitu Pak. Kasian mbak Lena lo. Walopun Bapak belum 100% janji mau pergi, tapi pasti Mbak Lena udah ngarep.’
‘….’ Rasanya pikiran gua yang agak kurang sensitif ini mulai sedikit terbuka mendengar kata-kata Fia. Bener juga kata-kata dia barusan.
‘Anak Ari’
Panggilan suster tadi memecah suasana obrolan gua dengan Fia. Fia beranjak masuk ke ruang dokter, gua menggendong Ari mengikutinya di belakang.
---
‘Overall kondisinya baik. Perkembangannya sesuai harapan kita’ Kata Dokter tadi sambil duduk di belakang meja. Gua ada di depan meja dokter tadi.
‘Ada hal yang perlu diperhatikan dok?’
‘Mungkin kalau Bapak dan Ibu setuju, saya Cuma menyarankan Ari di terapi saja’
‘Terapi?’ Fia buru-buru menginterupsi.
‘Ya karena jantung Ari lemah, maka peredaran darahnya bisa dibilang kurang lancar. Bagian yang paling rawan terserang adalah kaki. Mengingat Ari masih dalam masa pertumbuhan dan belajar berjalan, saya kira penting untuk melakukan terapi, supaya kondisi Kakinya tetap terjamin’
Gua manggut-manggut mendengar penjelasan dokter tadi.
‘Trus dok?’
‘Terapisnya udah off untuk hari ini, karena memang terapi biasa Cuma pagi. Kalau mau besok pagi Anda bisa daftar untuk terapi.
‘Lo jadi..’
‘Biar Ari menginap di sini semalam, biar kita bisa kasi suplai oksigen murni juga untuk otaknya. Biar bisa dipantau juga perkembangannya. Besok siang sudah bisa pulang kok’ Dokter tadi tersenyum meyakinkan gua dan Fia.
Fia melirik gua.
‘Ya Dok, gak masalah. Kami setuju dan percaya buat kebaikan Ari’
‘Oke’ Dokter tadi tersenyum dan menuliskan garis-garis gak jelas di kertas. Kemudian meberikannya ke suster.
Fia melirik ke gua. Kode ekspresi wajahnya gua bisa ngerti. Mungkin mau mengingatkan gua harusnya pergi dengan Lena esok hari. Gua menjawab tanpa suara ‘Tenang…’
Entah gua harus seneng atau bingung dalam situasi gua kali ini. Fia dan Lena, 2 orang wanita yang mengisi hidup gua belakangan ini justru saling mendukung saingannya. Fia mendukung gua dan Lena, Lena juga mendukung Gua mencoba dengan Fia. Whats wrong? Mungkin Cuma gua yang terlalu ganteng. Gua senyum-senyum sendiri dengan pikiran konyol gua. Untung dokternya ga liat gua senyum-senyum sendiri.
---
Setelah selesai mengurus ini itu yang menurut gua sangat ribet, akhirnya gua bisa duduk di sebuah kursi kamar inap. Kondisinya ga terlalu berbeda dengan bangsal, tempat ari dirawat seminggu yang lalu.
‘Gila ribet banget ya urusin kayak gini aja’ Gua ngomel-ngomel.
‘Sabar pak’ Fia duduk di sebelah gua menyodorkan segelas air.
‘Makasi Fi’ Gua meminum air tadi, kemudian gua melihat Fia. Wah damai banget liatin wajah Fia. Cara dia menenangkan gua, senyumannya, ah andai gua bisa lihat senyuman ini tiap gua bangun tidur.
Gua harus akui, hal yang gua suka dari Fia itu aura nya. Entah kenapa aura Fia itu sangat kalem. Maksudnya ketika lo deket dengan Fia, suasananya adalah damai. Rasanya susah buat bisa marah sama Fia. Wajah Fia juga di-design buat ketawa. Ga bakat buat cemberut. Sedangkan Lena itu lebih ke aura ceria. Meledak-ledak. Penuh kejutan.
Dan gua merasa butuh wanita seperti gua buat menemani hidup gua. Mungkin itu salah satu alesan gua ga bisa berpaling dari Fia.
Sore itu Gua, Fia dan Ari menghabiskan waktu di dalam kamar. Ada Ari lo ya, jadi jangan mikir macem-macem. Mungkin gini rasanya punya keluarga kecil yang bahagia.
---
‘Nih dimakan’ Gua menyodorkan bakpao raksasa ke Fia.
‘Haha.. Saya kalo ke sini jadi kangen makanan ini Pak’ Fia tersenyum dan menerima bakpao tadi.
‘Kalo aku kangen sama kursi ini’ Gua duduk di sebelah Fia.
Saat itu sekitar jam 11 malem. Ari sudah tidur lelap di kamarnya. Gua dan Fia memutuskan buat ke bawah. Pake alesan klasik, mau ngrokok. Dan Fia katanya mau ikut nemenin gua. Asik ya?
Dan tempat gua dan Fia adalah tempat dimana gua mengetahui siapa Fia beberapa saat yang lalu.
‘Trus bapak besok ga pergi sama Mbak Lena?’
‘Gampang’
‘Ah Bapak ini apa-apa gampang’
‘Hehe..’ Gua tersenyum.
‘Bapak tu lo… bla2… bla2…’ Fia mulai menceramahi gua. Gua gak dengerin apa yang Fia omongin, gua lebih asik melihat wajah Fia yang sok serius saat ceramahin gua.
‘…’
‘Oke Pak? Janji ya sama saya?’
‘Yaa…’
‘…’
‘Eh janji apa si memang?’
‘Iiiiihhhhh….’ Fia mencubit lengan gua keliatan sebal karena gua ga dengerin omongan dia. Akhirnya gua dan Fia ketawa-ketawa melihat tingkah kami masing-masing.
‘Sebenernya…’
‘Sebenernya apa Pak?’ Fia menggeser posisi duduknya sehingga bisa melihat wajah gua.
‘…ada yang pengen aku omongin ke kamu Fi..’
‘O ya apa?’ Fia tersenyum mendengar gua ngomong.
‘Gua langsung ngomong kesimpulannya aja ya…’
‘…’ Fia manggut2.
‘Nanti baru penjelasannya…’
‘He em..’ Fia memandang gua menunggu kata-kata gua.
‘Aku…’
‘…’
‘pengen nikahi kamu’
‘….’ Air muka Fia berubah mendengar kata-kata gua. Dia memandang tajam. Tajam sekali. Mungkin dia ingin menanyakan apakah gua becanda ato gak dengan kata-kata nekat gua.
‘Aku serius Fi. Kalo kamu bersedia, aku akan urus semuanya dan kita menikah’ Gua meyakinkan Fia kalau gua saat itu mengatakan hal yang sebenernya dalam hati gua.
FIA? CAN’T WE TALK ABOUT LOVE?
Sabtu.
Gua berjalan di lorong rumah sakit. Fia di sebelah gua. Ari dalam gendongan gua. Suasana lorong yang sepi ketika seminggu lalu gua lewatin, sekarang berubah ramai. Suster-suster beberapa lalu lalang. Ada cleaning service yang sedang mengepel lantai. Ya jelas ramai karena sekarang baru jam 4 sore. Beda dengan seminggu lalu ketika gua lewatin lorong ini jam 12 malam.
Entah kenapa tapi feel yang gua rasain seperti dejavu dengan seminggu yang lalu. Berjalan bersama dengan Fia dan Ari membuat gua seakan menjadi suami dadakan.
Setelah mengurus beberapa administrasi, gua dan Fia duduk di ruang tunggu pasien menunggu giliran.
‘Pak’
‘Ya?’ Gua menjawab tanpa menoleh karena gua lagi sibuk maen sama Ari.
‘Bapak besok minggu jadi pergi sama mbak Lena?’
‘Kok kamu tahu?’ Gua agak kaget.
‘Iya Mbak Lena yang cerita’
‘Owh’ Ngapain juga Lena cerita, pikir gua.
‘Jadi kan Pak?’
‘Ya besok liat keadaan’ jawab gua enteng.
‘Jangan gitu Pak. Kasian mbak Lena lo. Walopun Bapak belum 100% janji mau pergi, tapi pasti Mbak Lena udah ngarep.’
‘….’ Rasanya pikiran gua yang agak kurang sensitif ini mulai sedikit terbuka mendengar kata-kata Fia. Bener juga kata-kata dia barusan.
‘Anak Ari’
Panggilan suster tadi memecah suasana obrolan gua dengan Fia. Fia beranjak masuk ke ruang dokter, gua menggendong Ari mengikutinya di belakang.
---
‘Overall kondisinya baik. Perkembangannya sesuai harapan kita’ Kata Dokter tadi sambil duduk di belakang meja. Gua ada di depan meja dokter tadi.
‘Ada hal yang perlu diperhatikan dok?’
‘Mungkin kalau Bapak dan Ibu setuju, saya Cuma menyarankan Ari di terapi saja’
‘Terapi?’ Fia buru-buru menginterupsi.
‘Ya karena jantung Ari lemah, maka peredaran darahnya bisa dibilang kurang lancar. Bagian yang paling rawan terserang adalah kaki. Mengingat Ari masih dalam masa pertumbuhan dan belajar berjalan, saya kira penting untuk melakukan terapi, supaya kondisi Kakinya tetap terjamin’
Gua manggut-manggut mendengar penjelasan dokter tadi.
‘Trus dok?’
‘Terapisnya udah off untuk hari ini, karena memang terapi biasa Cuma pagi. Kalau mau besok pagi Anda bisa daftar untuk terapi.
‘Lo jadi..’
‘Biar Ari menginap di sini semalam, biar kita bisa kasi suplai oksigen murni juga untuk otaknya. Biar bisa dipantau juga perkembangannya. Besok siang sudah bisa pulang kok’ Dokter tadi tersenyum meyakinkan gua dan Fia.
Fia melirik gua.
‘Ya Dok, gak masalah. Kami setuju dan percaya buat kebaikan Ari’
‘Oke’ Dokter tadi tersenyum dan menuliskan garis-garis gak jelas di kertas. Kemudian meberikannya ke suster.
Fia melirik ke gua. Kode ekspresi wajahnya gua bisa ngerti. Mungkin mau mengingatkan gua harusnya pergi dengan Lena esok hari. Gua menjawab tanpa suara ‘Tenang…’
Entah gua harus seneng atau bingung dalam situasi gua kali ini. Fia dan Lena, 2 orang wanita yang mengisi hidup gua belakangan ini justru saling mendukung saingannya. Fia mendukung gua dan Lena, Lena juga mendukung Gua mencoba dengan Fia. Whats wrong? Mungkin Cuma gua yang terlalu ganteng. Gua senyum-senyum sendiri dengan pikiran konyol gua. Untung dokternya ga liat gua senyum-senyum sendiri.
---
Setelah selesai mengurus ini itu yang menurut gua sangat ribet, akhirnya gua bisa duduk di sebuah kursi kamar inap. Kondisinya ga terlalu berbeda dengan bangsal, tempat ari dirawat seminggu yang lalu.
‘Gila ribet banget ya urusin kayak gini aja’ Gua ngomel-ngomel.
‘Sabar pak’ Fia duduk di sebelah gua menyodorkan segelas air.
‘Makasi Fi’ Gua meminum air tadi, kemudian gua melihat Fia. Wah damai banget liatin wajah Fia. Cara dia menenangkan gua, senyumannya, ah andai gua bisa lihat senyuman ini tiap gua bangun tidur.
Gua harus akui, hal yang gua suka dari Fia itu aura nya. Entah kenapa aura Fia itu sangat kalem. Maksudnya ketika lo deket dengan Fia, suasananya adalah damai. Rasanya susah buat bisa marah sama Fia. Wajah Fia juga di-design buat ketawa. Ga bakat buat cemberut. Sedangkan Lena itu lebih ke aura ceria. Meledak-ledak. Penuh kejutan.
Dan gua merasa butuh wanita seperti gua buat menemani hidup gua. Mungkin itu salah satu alesan gua ga bisa berpaling dari Fia.
Sore itu Gua, Fia dan Ari menghabiskan waktu di dalam kamar. Ada Ari lo ya, jadi jangan mikir macem-macem. Mungkin gini rasanya punya keluarga kecil yang bahagia.
---
‘Nih dimakan’ Gua menyodorkan bakpao raksasa ke Fia.
‘Haha.. Saya kalo ke sini jadi kangen makanan ini Pak’ Fia tersenyum dan menerima bakpao tadi.
‘Kalo aku kangen sama kursi ini’ Gua duduk di sebelah Fia.
Saat itu sekitar jam 11 malem. Ari sudah tidur lelap di kamarnya. Gua dan Fia memutuskan buat ke bawah. Pake alesan klasik, mau ngrokok. Dan Fia katanya mau ikut nemenin gua. Asik ya?
Dan tempat gua dan Fia adalah tempat dimana gua mengetahui siapa Fia beberapa saat yang lalu.
‘Trus bapak besok ga pergi sama Mbak Lena?’
‘Gampang’
‘Ah Bapak ini apa-apa gampang’
‘Hehe..’ Gua tersenyum.
‘Bapak tu lo… bla2… bla2…’ Fia mulai menceramahi gua. Gua gak dengerin apa yang Fia omongin, gua lebih asik melihat wajah Fia yang sok serius saat ceramahin gua.
‘…’
‘Oke Pak? Janji ya sama saya?’
‘Yaa…’
‘…’
‘Eh janji apa si memang?’
‘Iiiiihhhhh….’ Fia mencubit lengan gua keliatan sebal karena gua ga dengerin omongan dia. Akhirnya gua dan Fia ketawa-ketawa melihat tingkah kami masing-masing.
‘Sebenernya…’
‘Sebenernya apa Pak?’ Fia menggeser posisi duduknya sehingga bisa melihat wajah gua.
‘…ada yang pengen aku omongin ke kamu Fi..’
‘O ya apa?’ Fia tersenyum mendengar gua ngomong.
‘Gua langsung ngomong kesimpulannya aja ya…’
‘…’ Fia manggut2.
‘Nanti baru penjelasannya…’
‘He em..’ Fia memandang gua menunggu kata-kata gua.
‘Aku…’
‘…’
‘pengen nikahi kamu’
‘….’ Air muka Fia berubah mendengar kata-kata gua. Dia memandang tajam. Tajam sekali. Mungkin dia ingin menanyakan apakah gua becanda ato gak dengan kata-kata nekat gua.
‘Aku serius Fi. Kalo kamu bersedia, aku akan urus semuanya dan kita menikah’ Gua meyakinkan Fia kalau gua saat itu mengatakan hal yang sebenernya dalam hati gua.
0
Kutip
Balas