- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#102
PART 14
Ciuman Anin itu membuat gue gak bisa berkata apa-apa. Gue hanya memandangi Anin sambil tersenyum, dan Anin tampak membuang muka karena malu. Kemudian dalam kebisuan kami naik motor dan meninggalkan kafe itu.
Pikiran gue masih gak karuan karena ciuman Anin tadi. Antara senang, kaget dan bingung harus bereaksi seperti apa dan bersikap seperti apa setelah ini. Gue menarik napas panjang, dan kemudian pandangan gue mengarah kebawah, dan gue melihat tangan Anin yang memegang erat jaket gue selama membonceng itu. Gue raih tangan Anin dengan tangan kiri gue, dan gue pegang tangannya. Anin pun menyambut genggaman tangan gue dengan erat, dan entah kenapa gue bisa merasakan senyuman Anin di belakang punggung gue meskipun gue gak bisa liat. Sesaat kemudian, gue memutuskan untuk membatalkan rencana gue ke Gr*m*d*a dan menuju ke suatu tempat yang buat gue cukup berkesan.
Sekitar 20 menit kemudian sampailah gue dan Anin ke tempat yang gue maksud. Anin yang terkejut dengan pilihan tujuan gue sedari tadi bertanya di belakang gue sejak perjalanan, tapi gak gue jawab. Baru setelah sampe di tujuan, gue memandang Anin dan gue liat ekspresi muka Anin yang bingung. Gue memasuki komplek rumah Anin, tapi gak langsung mengarah ke rumahnya, melainkan ke sebuah taman di dekat rumah Anin. Taman itu diterangi beberapa lampu, sehingga gak terlalu gelap. Gue parkirkan motor gue didepan taman itu, dan gue turun dari motor. Anin pun mengikuti gue turun dari motor sambil melepas helmnya, dia bertanya,
Anin diam. Wajahnya menyiratkan rasa kecewa dan takut atas perubahan sikap gue. Anin mendekati gue, dan memandang wajah gue lekat-lekat.
Gue tersenyum. Kemudian gue melakukan sesuatu yang sedari tadi telah gue yakini. Gue tarik kedua tangan Anin, dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh gue. Kemudian gue cium kening Anin, dan dengan memandangi matanya yang sangat dekat dengan mata gue, gue berbisik,
Anin tersenyum. Senyuman tulus dan bahagia yang baru pertama kali gue liat sejak gue berkenalan dengan Anin. Senyuman yang semakin meyakinkan gue bahwa apa yang gue lakukan ini adalah benar. Gue genggam erat tangan Anin, dan gue ulangi pertanyaan gue itu, kali ini gue ucapkan lebih perlahan, dan lebih bersungguh-sungguh.
Anin masih tersenyum, dan kemudian dia menarik kepala gue dengan lembut, sehingga bibirnya tepat berada di samping telinga gue. Dengan bisikan yang menurut gue itu bisikan terlembut yang pernah gue dengar, Anin menjawab,
Gue menarik kepala gue, dan memandangi wajah Anin yang cantik, sambil tersenyum. Tanpa ada kata-kata diantara kami berdua, kami berpelukan. Lalu kami duduk berdua di bangku taman itu. Gue rangkul bahu Anin dan dia menyandarkan kepalanya di bahu gue. Gue cium wangi rambutnya, dan gue bersyukur dalam hati, bahwa Anin sekarang telah resmi menjadi kekasih gue. Anin memainkan ujung jaket gue, dan mendusel semakin manja.
Gue tertawa dan kemudian berbisik lembut di telinga Anin,
Anin tersenyum dan mengelus pipi gue. Setelah itu gue dan Anin ngobrol-ngobrol banyak di bangku taman itu, melepaskan semua kata-kata cinta yang selama ini kami berdua pendam dalam hati. Disitu gue menemukan hobi baru Anin, yaitu mencet hidung gue
Nambah lagi deh, selain dicubit gue juga bakal banyak dipencetin hidungnya, pikir gue. Kompleks rumah Anin itu tergolong cukup sepi, jarang ada orang yang lewat, sehingga kami bisa bercanda dengan cukup leluasa di tempat itu.
Gak lama setelah itu, gue antar Anin pulang. Gue berpamitan dan Anin mencium tangan gue sebelum gue pulang. Gue cengengesan melihat kebiasaan baru Anin ini, dan gue merasa sangat dihormati. Gue pun meluncur pulang kerumah dengan hati bahagia. Gue punya pacar lagiiii, pikir gue kegirangan. Sampe depan rumah, gue liat bokap lagi berdiri dibawah pohon didepan rumah sambil bawa tongkat bambu. Gue matikan motor dan menghampiri bokap.
Ciuman Anin itu membuat gue gak bisa berkata apa-apa. Gue hanya memandangi Anin sambil tersenyum, dan Anin tampak membuang muka karena malu. Kemudian dalam kebisuan kami naik motor dan meninggalkan kafe itu.
Pikiran gue masih gak karuan karena ciuman Anin tadi. Antara senang, kaget dan bingung harus bereaksi seperti apa dan bersikap seperti apa setelah ini. Gue menarik napas panjang, dan kemudian pandangan gue mengarah kebawah, dan gue melihat tangan Anin yang memegang erat jaket gue selama membonceng itu. Gue raih tangan Anin dengan tangan kiri gue, dan gue pegang tangannya. Anin pun menyambut genggaman tangan gue dengan erat, dan entah kenapa gue bisa merasakan senyuman Anin di belakang punggung gue meskipun gue gak bisa liat. Sesaat kemudian, gue memutuskan untuk membatalkan rencana gue ke Gr*m*d*a dan menuju ke suatu tempat yang buat gue cukup berkesan.
Sekitar 20 menit kemudian sampailah gue dan Anin ke tempat yang gue maksud. Anin yang terkejut dengan pilihan tujuan gue sedari tadi bertanya di belakang gue sejak perjalanan, tapi gak gue jawab. Baru setelah sampe di tujuan, gue memandang Anin dan gue liat ekspresi muka Anin yang bingung. Gue memasuki komplek rumah Anin, tapi gak langsung mengarah ke rumahnya, melainkan ke sebuah taman di dekat rumah Anin. Taman itu diterangi beberapa lampu, sehingga gak terlalu gelap. Gue parkirkan motor gue didepan taman itu, dan gue turun dari motor. Anin pun mengikuti gue turun dari motor sambil melepas helmnya, dia bertanya,
Quote:
Anin diam. Wajahnya menyiratkan rasa kecewa dan takut atas perubahan sikap gue. Anin mendekati gue, dan memandang wajah gue lekat-lekat.
Quote:
Gue tersenyum. Kemudian gue melakukan sesuatu yang sedari tadi telah gue yakini. Gue tarik kedua tangan Anin, dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh gue. Kemudian gue cium kening Anin, dan dengan memandangi matanya yang sangat dekat dengan mata gue, gue berbisik,
Quote:
Anin tersenyum. Senyuman tulus dan bahagia yang baru pertama kali gue liat sejak gue berkenalan dengan Anin. Senyuman yang semakin meyakinkan gue bahwa apa yang gue lakukan ini adalah benar. Gue genggam erat tangan Anin, dan gue ulangi pertanyaan gue itu, kali ini gue ucapkan lebih perlahan, dan lebih bersungguh-sungguh.
Quote:
Anin masih tersenyum, dan kemudian dia menarik kepala gue dengan lembut, sehingga bibirnya tepat berada di samping telinga gue. Dengan bisikan yang menurut gue itu bisikan terlembut yang pernah gue dengar, Anin menjawab,
Quote:
Gue menarik kepala gue, dan memandangi wajah Anin yang cantik, sambil tersenyum. Tanpa ada kata-kata diantara kami berdua, kami berpelukan. Lalu kami duduk berdua di bangku taman itu. Gue rangkul bahu Anin dan dia menyandarkan kepalanya di bahu gue. Gue cium wangi rambutnya, dan gue bersyukur dalam hati, bahwa Anin sekarang telah resmi menjadi kekasih gue. Anin memainkan ujung jaket gue, dan mendusel semakin manja.
Quote:
Gue tertawa dan kemudian berbisik lembut di telinga Anin,
Quote:
Anin tersenyum dan mengelus pipi gue. Setelah itu gue dan Anin ngobrol-ngobrol banyak di bangku taman itu, melepaskan semua kata-kata cinta yang selama ini kami berdua pendam dalam hati. Disitu gue menemukan hobi baru Anin, yaitu mencet hidung gue
Nambah lagi deh, selain dicubit gue juga bakal banyak dipencetin hidungnya, pikir gue. Kompleks rumah Anin itu tergolong cukup sepi, jarang ada orang yang lewat, sehingga kami bisa bercanda dengan cukup leluasa di tempat itu.Quote:
Gak lama setelah itu, gue antar Anin pulang. Gue berpamitan dan Anin mencium tangan gue sebelum gue pulang. Gue cengengesan melihat kebiasaan baru Anin ini, dan gue merasa sangat dihormati. Gue pun meluncur pulang kerumah dengan hati bahagia. Gue punya pacar lagiiii, pikir gue kegirangan. Sampe depan rumah, gue liat bokap lagi berdiri dibawah pohon didepan rumah sambil bawa tongkat bambu. Gue matikan motor dan menghampiri bokap.
Quote:
pulaukapok dan 8 lainnya memberi reputasi
7


: loh, kok kita pulang Bas? Gak jadi ke Gr*m*d*a?
: kamu kenapa? Dari tadi diem aja sepanjang perjalanan. Kamu marah?
: aku bisa layu kok

: aaaaaahhh lagi serius jugak! Ngeselin kan hiiiihhh
: eh, kita udah pacaran kan ini, terus kamu mau manggil aku apa?
: kamu maunya apa?
: gak mau ah, ntar kalo ada tukang siomay, trus kamu manggil aku, yang nengok ada dua
: panggil “mas” aja
: *berbisik* emang ada apa beh
: *berbisik* ya salaaaam beeeehhhh, ini kan mangga pak Burhan!