- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#91
PART 13
Kami memasuki kafe itu dan kemudian memilih spot outdoor yang dapat melihat halaman dari kafe tersebut. Gue liat Anin udah senyum-senyum sambil matanya menjelajahi seluruh interior kafe tersebut. Gue cengengesan liat perubahan mood Anin yang memang gue harapkan ini. Gak lama kemudian seorang pelayan menghampiri kami, dan menyerahkan dua buku menu kepada kami. Anin meneliti seluruh buku menu itu dengan antusias, sementara gue cuma butuh dua menit untuk memutuskan apa pesanan gue. Setelah Anin memutuskan pesanannya, si pelayan mencatat dan kemudian meninggalkan kami.
Gue memandangi Anin yang senyum-senyum memandangi gue. Pertama gue pasang tampang serius, tapi setelah melihat Anin yang tersenyum cantik banget, meledaklah tawa gue. Melihat gue yang tertawa, Anin keheranan.
Setelah itu gue baru sadar, cukup lama gue mengenal Anin, tapi gue belum sekalipun ketemu keluarganya. Gue belum pernah bertemu orangtuanya maupun adiknya. Satu-satunya yang pernah gue temui selain Anin adalah ibu-ibu tua yang membukakan pintu buat gue waktu gue kerumah Anin kedua kalinya. Anin juga gak pernah bercerita banyak tentang orang tuanya, kebanyakan dia hanya bercerita mengenai kehidupannya, teman-temannya dan sedikit mengenai adiknya. Dari situ gue melihat bahwa sebenarnya Anin merasa kesepian dirumah, hanya berdua dengan adiknya, sementara kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Gue diam-diam bersyukur keluarga gue gak seperti itu.
Anin kemudian berpikir sebentar sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya dan melihat keatas. Buat gue pemandangan ini malah bikin Anin keliatan bloon. Gue tertawa.
Gak lama kemudian pesanan kami datang, dan kami mulai menikmati pesanan kami sambil ngobrol-ngobrol kesana kemari. Gue sempat mencuri-curi pandang beberapa kali ke arah Anin pada saat Anin gak sedang memandang gue, dan begitu pula sebaliknya. Gue sangat menikmati malam ini dan berharap momen ini gak cepat berlalu.
Selesai makan, gue dan Anin sama-sama bersandar pada sandaran kursi kami, kekenyangan. Gue pingin bawa Anin ke tempat lain lagi, bukan makan sih, tapi apa daya perut kami masih terlalu kenyang dan malas buat bergerak. Ntar deh kalo udah agak turun makanannya, pikir gue.
Setelah gue disiksa oleh Anin, cabutlah gue ke WC. Kelar dari urusan gue sama tuh WC, kita berdua memutuskan untuk cabut dari situ, dan menuju ke tempat yang gue sebutkan tadi. Di parkiran gue celingukan mencari motor gue. Lupa gue tadi parkir dimana. Setelah nemu motor gue, gue buka jok motor dan mengambil helm Anin, sebelumnya gak lupa gue buka kaitan pengunci helmnya Anin, biar dia bisa langsung pake tuh helm. Pas gue sedang melakukan itu, Anin manggil gue.
Anin mencium pipi gue.
Kami memasuki kafe itu dan kemudian memilih spot outdoor yang dapat melihat halaman dari kafe tersebut. Gue liat Anin udah senyum-senyum sambil matanya menjelajahi seluruh interior kafe tersebut. Gue cengengesan liat perubahan mood Anin yang memang gue harapkan ini. Gak lama kemudian seorang pelayan menghampiri kami, dan menyerahkan dua buku menu kepada kami. Anin meneliti seluruh buku menu itu dengan antusias, sementara gue cuma butuh dua menit untuk memutuskan apa pesanan gue. Setelah Anin memutuskan pesanannya, si pelayan mencatat dan kemudian meninggalkan kami.
Gue memandangi Anin yang senyum-senyum memandangi gue. Pertama gue pasang tampang serius, tapi setelah melihat Anin yang tersenyum cantik banget, meledaklah tawa gue. Melihat gue yang tertawa, Anin keheranan.
Quote:
Setelah itu gue baru sadar, cukup lama gue mengenal Anin, tapi gue belum sekalipun ketemu keluarganya. Gue belum pernah bertemu orangtuanya maupun adiknya. Satu-satunya yang pernah gue temui selain Anin adalah ibu-ibu tua yang membukakan pintu buat gue waktu gue kerumah Anin kedua kalinya. Anin juga gak pernah bercerita banyak tentang orang tuanya, kebanyakan dia hanya bercerita mengenai kehidupannya, teman-temannya dan sedikit mengenai adiknya. Dari situ gue melihat bahwa sebenarnya Anin merasa kesepian dirumah, hanya berdua dengan adiknya, sementara kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Gue diam-diam bersyukur keluarga gue gak seperti itu.
Quote:
Anin kemudian berpikir sebentar sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya dan melihat keatas. Buat gue pemandangan ini malah bikin Anin keliatan bloon. Gue tertawa.
Quote:
Gak lama kemudian pesanan kami datang, dan kami mulai menikmati pesanan kami sambil ngobrol-ngobrol kesana kemari. Gue sempat mencuri-curi pandang beberapa kali ke arah Anin pada saat Anin gak sedang memandang gue, dan begitu pula sebaliknya. Gue sangat menikmati malam ini dan berharap momen ini gak cepat berlalu.
Selesai makan, gue dan Anin sama-sama bersandar pada sandaran kursi kami, kekenyangan. Gue pingin bawa Anin ke tempat lain lagi, bukan makan sih, tapi apa daya perut kami masih terlalu kenyang dan malas buat bergerak. Ntar deh kalo udah agak turun makanannya, pikir gue.
Quote:
Setelah gue disiksa oleh Anin, cabutlah gue ke WC. Kelar dari urusan gue sama tuh WC, kita berdua memutuskan untuk cabut dari situ, dan menuju ke tempat yang gue sebutkan tadi. Di parkiran gue celingukan mencari motor gue. Lupa gue tadi parkir dimana. Setelah nemu motor gue, gue buka jok motor dan mengambil helm Anin, sebelumnya gak lupa gue buka kaitan pengunci helmnya Anin, biar dia bisa langsung pake tuh helm. Pas gue sedang melakukan itu, Anin manggil gue.
Quote:
Anin mencium pipi gue.
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6


: kenapa kok ketawa?
: *masih ngakak* gak kok, gak papa
: *cemberut* iiih kenapa kok ketawaaaa, gak mungkin gak ada sebabnya
: aku geli aja Nin, liat kamu hari ini. Tadi dirumah galaknya gak karuan, sampe sini cengengesan kayak anak kecil baru dibeliin es krim segalon
: iya maaf yah tadi aku marah-marah gak jelas
: tadi pagi tuh sebenernya mama ngajakin pergi, tapi sampe siang belum ada kepastian mau pergi jam berapa. Ternyata dibatalin gak jadi pergi gara-gara mama ada rapat dimanaaa gitu, jadi aku bete deh
: pantesan aja. Tau gitu kalo gak jadi pergi kan kamu bisa bilang aku Nin
: lah kamunya gak SMS kalo udah kelar urusannya!
: iya juga ya…. Lupa…..
: serius? Horeee ada temennya 
: hotel
: kok tukang sampah sih iiih