- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#91
PART XIII LENA? LET’S TALK ABOUT LOVE
Quote:
PART XIII
LENA? LET’S TALK ABOUT LOVE
Apakah Tuhan yang memberikan cinta?
Apakah Tuhan pula yang memberikan kita jodoh?
Lalu Apakah Tuhan pernah memberikan jodoh tanpa memberikan cinta?
‘Pak gimana makanannya?’ Gua dan Lena baru saja selese makan malam, masih duduk di ruang makan.
‘Enak Len. Kamu pinter masak’ Gua memuji Lena. Memang masakan Lena enak menurut gua.
‘Bapak suka istri yang pinter masak?’ Tanya Lena sambil ngeliatin gua.
‘….’
‘Pak?’ Lena masih ngeliatin gua.
‘Hmm pertanyaanmu kok aneh?’
‘Aneh dimana pak?’ Lena ngeliatin gua sok polos.
‘Yaa suka suka aja sih, tapi bukan yang utama. Jaman sekarang banyak wanita yang punya karir. Dan rasanya naif kalo istri ku kerja dan aku masih menuntut dia masak tiap hari. Banyak juga tukang masak atau penjual makanan ya kan?’ Gua ber-argumen.
Lena ngeliatin gua terus. Kadang sambil manggut-manggut sendiri, padahal gua udah slese ngomong.
Rasanya aneh berduaan dengan cewek. Mungkin terlalu lama gua sendiri.
‘Pak’
‘Ya?’
‘Kalo misal saya salah ngomong, bapak bakalan marah gak ya?’
‘Nggak lah. Memang kamu mau ngomong apa?’ Gua menyalakan rokok. Memang paling enak itu ngerokok habis makan.
‘Kalo saya bilang..’ Lena menghentikan omongannya. Sejenak dia liatin gua.
‘Hmm..’ Gua menghisap rokok gua dalam, sembari menunggu kata-kata Lena selanjutnya.
‘Saya pengen jadi istri Bapak gimana?’
‘Uhuk uhuk’ Gua keselek cinta.. Eh asap –lagi-.
‘Aduh Bapak gpp? Ngrokok terus si’ Lena menepuk2 punggung gua.
‘…’
‘Gpp pak? Saya ambilin minum ya?’
‘Ga usah…’ Kata Gua sambil mematikan rokok gua.
‘…’
‘Kamu… Ngomong apa tadi?’ Gua masih gak percaya dengan apa yang gua denger barusan.
Lena gak menjawab. Dia ngeliatin gua dalem banget. Rasanya dia mau ngomong kalo apa yang barusan dia katakan bukan candaan atau salah ngomong.
‘Saya….’
‘…’
‘Cemburu sama Fia pak..’
‘….’ Gua diem, bingung mau comment apa.
‘Ya semula saya sadar kalau Bapak itu atasan saya di tempat kerja, jadi saya ga berani ngomong masalah perasaan saya. Saya juga masih ga yakin dengan perasaan saya, apakah kagum… atau suka..’
‘….’ Masih bingung.
‘Tapi sejak ada Fia. Entah kenapa rasanya saya makin ga karuan.’
‘…’
‘Antara marah, sedih. Ga tau rasanya gimana..’
‘…’
‘Dan saya juga tau Bapak suka sama Fia’
‘….’
‘Ya kan Pak?’ Entah malem itu gua berasa bego luar biasa. Gua ga bisa jawab apa-apa. Rasanya bener-bener ga karuan.
‘…’
‘Walopun bapak gak ngomong, saya tau dari cara Bapak memandang Fia. Cara Bapak bersikap sama Fia. Perhatian Bapak. Rasanya itu lebih dari sekedar simpati’
‘…’
‘…’
‘Len..’
‘Ya Pak?’
‘Aku bingung’
‘Bingung kenapa?’ Lena sekarang berdiri di belakang gua. Sedangkan gua duduk. Gua ga melihat Lena. Lena memegangi pundak gua.
‘Apa Tuhan salah kasi rasa suka ya’
‘Maksudnya pak?’
‘Apa Tuhan kasi rasa suka ke aku, rasa suka ke orang yang salah’
Tiba-tiba Lena menyilangkan tangannya ke dada gua. Wajah Lena tepat berada di sebelah gua. Walopun gua masih ga ngeliat wajah Lena, gua bisa merasakan nafasnya.
‘Maaf ya pak, saya jadi bikin masalah’ Gua merasakan ada tetesan air di leher gua.
‘Kamu ga salah, aku yang salah’ Gua menengok. Gua melihat Lena menangis. Gua melihat wajah yang amat cantik. Air matanya menetes, seakan mewakili perasaanya saat itu.
‘…’
‘Kamu itu cewek yang luar biasa. Cantik, pintar. Sejak pertama kita ketemu, aku udah kagum sama kamu..’
‘…’
‘Bukankah kamu lebih baik dapet cowok yang jauh, jauh lebih baik dariku?’
‘…’
‘Sini.’ Gua berdiri. Gua peluk Lena. Gua gak tega liat Lena menangis. Entah kenapa gua saat itu ga pengen buat Lena menangis lagi. Dia yang sangat baik ke gua. Dia yang selalu ingetin gua makan. Dia yang selalu nemenin gua kalo gua pulang malem. Dia yang kadang-kadang konyol, bawel, ngeselin. Ah Lena…
‘Hu…hu…’ Lena malah makin keras nangis di pelukan gua. Entah berapa menit gua menunggu Lena reda menangis.
‘Memangnya saya cantik ya pak?’ Kata Lena terisak. Tampaknya Lena sudah lebih tenang.
‘Iya cantik kalo lagi ga nangis’ Gua melepas pelukan gua. Memandang Lena. Sebenernya mau nangis ato nggak Lena tetep cantik.
‘Hehe..’ Lena mengusap air matanya. Berusaha buat tersenyum.
‘Jangan nangis lagi ah’ Gua membelai rambut Lena. Oh God. Am I wrong? What should I do?
‘Pak’
‘Ya?’
‘Saya percaya sama Bapak’
‘…’
‘Saya percaya Bapak lebih bijaksana dari saya’
‘…’
‘Kalo gak, pasti Bapak yang jadi sekretaris saya, trus saya manajernya’
‘Hahaha..’ Gua tertawa mendengar pernyataan Lena. Lena udah bisa tersenyum. Matanya masih sembab.
‘Saya…’
‘Maaf ya Len. Aku ga bisa jawab permasalahan ini sekarang’ Gua memotong Lena.
‘Bukan.. bukan..’
‘…’
‘Saya ga bakal minta jawaban dari Bapak. Biar Bapak yang memutuskan mana yang baik buat Bapak. ‘
‘…’
‘Saya Cuma minta, apapun jawaban Bapak, tolong saya dikasi tau yang sebenarnya’ Lena kembali mengusap sisa air matanya.
‘Ya…’
‘Saya percayakan hati saya..’
‘…’
‘Di sini…’ Lena menyentuh dada gua. Dan mungkin… Lena menyentuh hati gua saat itu. Rasanya hati gua bergetar saat Lena menyentuh dada gua.
Gua masih ingat pertama ketemu Lena. Lena adalah salah satu kandidat yang paling menonjol dari beberapa cewek yang ikut tes penerimaan karyawan baru. Kecakapan, mental kerja, kepintaran. Dan tentunya, gua ga munafik, Lena adalah kandidat paling cantik saat itu. Mungkin gua keinget Nam Gyu Ri waktu gua pertama ngeliat Lena. Hahaha…
Dan sekarang. Cewek yang gua kagumi itu, ada di depan Gua. Menyatakan perasaannya ke gua. Dan parahnya lagi. Kenapa hati gua belum balik dari cewek yang bernama Fia itu?? Apa gua bodoh?
Gua menghela nafas sekali lagi. Seakan ingin menyadarkan pikiran waras gua.
‘Len..’
‘Iya..’
‘Kasi aku waktu ya. Aku mau pikirin ini baik-baik. Aku ga pengen salah mengambil keputusan buat kita semua’
‘..’ Lena mengangguk.
‘Makasih juga buat semuanya selama ini’
‘iya pak’ Lena tersenyum ke gua. Cantik banget. Mungkin jarak wajah Lena dan Gua ga nyampe 30 cm. Menurut gua posisi gua dan Lena saat itu romantis banget. Ah andai yang di depan gua saat ini Fia, entah dalam kondisi gua saat itu, masih ada bayangan Fia di otak gua. Gua bener-bener ga waras. Pikiran gua yang kadang konyol, masih terus terbang kesana kemari. Dan..
‘cup…’
Basah.. Hangat..
Fia… Eh Lena cium gua!
LENA? LET’S TALK ABOUT LOVE
Apakah Tuhan yang memberikan cinta?
Apakah Tuhan pula yang memberikan kita jodoh?
Lalu Apakah Tuhan pernah memberikan jodoh tanpa memberikan cinta?
‘Pak gimana makanannya?’ Gua dan Lena baru saja selese makan malam, masih duduk di ruang makan.
‘Enak Len. Kamu pinter masak’ Gua memuji Lena. Memang masakan Lena enak menurut gua.
‘Bapak suka istri yang pinter masak?’ Tanya Lena sambil ngeliatin gua.
‘….’
‘Pak?’ Lena masih ngeliatin gua.
‘Hmm pertanyaanmu kok aneh?’
‘Aneh dimana pak?’ Lena ngeliatin gua sok polos.
‘Yaa suka suka aja sih, tapi bukan yang utama. Jaman sekarang banyak wanita yang punya karir. Dan rasanya naif kalo istri ku kerja dan aku masih menuntut dia masak tiap hari. Banyak juga tukang masak atau penjual makanan ya kan?’ Gua ber-argumen.
Lena ngeliatin gua terus. Kadang sambil manggut-manggut sendiri, padahal gua udah slese ngomong.
Rasanya aneh berduaan dengan cewek. Mungkin terlalu lama gua sendiri.
‘Pak’
‘Ya?’
‘Kalo misal saya salah ngomong, bapak bakalan marah gak ya?’
‘Nggak lah. Memang kamu mau ngomong apa?’ Gua menyalakan rokok. Memang paling enak itu ngerokok habis makan.
‘Kalo saya bilang..’ Lena menghentikan omongannya. Sejenak dia liatin gua.
‘Hmm..’ Gua menghisap rokok gua dalam, sembari menunggu kata-kata Lena selanjutnya.
‘Saya pengen jadi istri Bapak gimana?’
‘Uhuk uhuk’ Gua keselek cinta.. Eh asap –lagi-.
‘Aduh Bapak gpp? Ngrokok terus si’ Lena menepuk2 punggung gua.
‘…’
‘Gpp pak? Saya ambilin minum ya?’
‘Ga usah…’ Kata Gua sambil mematikan rokok gua.
‘…’
‘Kamu… Ngomong apa tadi?’ Gua masih gak percaya dengan apa yang gua denger barusan.
Lena gak menjawab. Dia ngeliatin gua dalem banget. Rasanya dia mau ngomong kalo apa yang barusan dia katakan bukan candaan atau salah ngomong.
‘Saya….’
‘…’
‘Cemburu sama Fia pak..’
‘….’ Gua diem, bingung mau comment apa.
‘Ya semula saya sadar kalau Bapak itu atasan saya di tempat kerja, jadi saya ga berani ngomong masalah perasaan saya. Saya juga masih ga yakin dengan perasaan saya, apakah kagum… atau suka..’
‘….’ Masih bingung.
‘Tapi sejak ada Fia. Entah kenapa rasanya saya makin ga karuan.’
‘…’
‘Antara marah, sedih. Ga tau rasanya gimana..’
‘…’
‘Dan saya juga tau Bapak suka sama Fia’
‘….’
‘Ya kan Pak?’ Entah malem itu gua berasa bego luar biasa. Gua ga bisa jawab apa-apa. Rasanya bener-bener ga karuan.
‘…’
‘Walopun bapak gak ngomong, saya tau dari cara Bapak memandang Fia. Cara Bapak bersikap sama Fia. Perhatian Bapak. Rasanya itu lebih dari sekedar simpati’
‘…’
‘…’
‘Len..’
‘Ya Pak?’
‘Aku bingung’
‘Bingung kenapa?’ Lena sekarang berdiri di belakang gua. Sedangkan gua duduk. Gua ga melihat Lena. Lena memegangi pundak gua.
‘Apa Tuhan salah kasi rasa suka ya’
‘Maksudnya pak?’
‘Apa Tuhan kasi rasa suka ke aku, rasa suka ke orang yang salah’
Tiba-tiba Lena menyilangkan tangannya ke dada gua. Wajah Lena tepat berada di sebelah gua. Walopun gua masih ga ngeliat wajah Lena, gua bisa merasakan nafasnya.
‘Maaf ya pak, saya jadi bikin masalah’ Gua merasakan ada tetesan air di leher gua.
‘Kamu ga salah, aku yang salah’ Gua menengok. Gua melihat Lena menangis. Gua melihat wajah yang amat cantik. Air matanya menetes, seakan mewakili perasaanya saat itu.
‘…’
‘Kamu itu cewek yang luar biasa. Cantik, pintar. Sejak pertama kita ketemu, aku udah kagum sama kamu..’
‘…’
‘Bukankah kamu lebih baik dapet cowok yang jauh, jauh lebih baik dariku?’
‘…’
‘Sini.’ Gua berdiri. Gua peluk Lena. Gua gak tega liat Lena menangis. Entah kenapa gua saat itu ga pengen buat Lena menangis lagi. Dia yang sangat baik ke gua. Dia yang selalu ingetin gua makan. Dia yang selalu nemenin gua kalo gua pulang malem. Dia yang kadang-kadang konyol, bawel, ngeselin. Ah Lena…
‘Hu…hu…’ Lena malah makin keras nangis di pelukan gua. Entah berapa menit gua menunggu Lena reda menangis.
‘Memangnya saya cantik ya pak?’ Kata Lena terisak. Tampaknya Lena sudah lebih tenang.
‘Iya cantik kalo lagi ga nangis’ Gua melepas pelukan gua. Memandang Lena. Sebenernya mau nangis ato nggak Lena tetep cantik.
‘Hehe..’ Lena mengusap air matanya. Berusaha buat tersenyum.
‘Jangan nangis lagi ah’ Gua membelai rambut Lena. Oh God. Am I wrong? What should I do?
‘Pak’
‘Ya?’
‘Saya percaya sama Bapak’
‘…’
‘Saya percaya Bapak lebih bijaksana dari saya’
‘…’
‘Kalo gak, pasti Bapak yang jadi sekretaris saya, trus saya manajernya’
‘Hahaha..’ Gua tertawa mendengar pernyataan Lena. Lena udah bisa tersenyum. Matanya masih sembab.
‘Saya…’
‘Maaf ya Len. Aku ga bisa jawab permasalahan ini sekarang’ Gua memotong Lena.
‘Bukan.. bukan..’
‘…’
‘Saya ga bakal minta jawaban dari Bapak. Biar Bapak yang memutuskan mana yang baik buat Bapak. ‘
‘…’
‘Saya Cuma minta, apapun jawaban Bapak, tolong saya dikasi tau yang sebenarnya’ Lena kembali mengusap sisa air matanya.
‘Ya…’
‘Saya percayakan hati saya..’
‘…’
‘Di sini…’ Lena menyentuh dada gua. Dan mungkin… Lena menyentuh hati gua saat itu. Rasanya hati gua bergetar saat Lena menyentuh dada gua.
Gua masih ingat pertama ketemu Lena. Lena adalah salah satu kandidat yang paling menonjol dari beberapa cewek yang ikut tes penerimaan karyawan baru. Kecakapan, mental kerja, kepintaran. Dan tentunya, gua ga munafik, Lena adalah kandidat paling cantik saat itu. Mungkin gua keinget Nam Gyu Ri waktu gua pertama ngeliat Lena. Hahaha…
Dan sekarang. Cewek yang gua kagumi itu, ada di depan Gua. Menyatakan perasaannya ke gua. Dan parahnya lagi. Kenapa hati gua belum balik dari cewek yang bernama Fia itu?? Apa gua bodoh?
Gua menghela nafas sekali lagi. Seakan ingin menyadarkan pikiran waras gua.
‘Len..’
‘Iya..’
‘Kasi aku waktu ya. Aku mau pikirin ini baik-baik. Aku ga pengen salah mengambil keputusan buat kita semua’
‘..’ Lena mengangguk.
‘Makasih juga buat semuanya selama ini’
‘iya pak’ Lena tersenyum ke gua. Cantik banget. Mungkin jarak wajah Lena dan Gua ga nyampe 30 cm. Menurut gua posisi gua dan Lena saat itu romantis banget. Ah andai yang di depan gua saat ini Fia, entah dalam kondisi gua saat itu, masih ada bayangan Fia di otak gua. Gua bener-bener ga waras. Pikiran gua yang kadang konyol, masih terus terbang kesana kemari. Dan..
‘cup…’
Basah.. Hangat..
Fia… Eh Lena cium gua!
0
Kutip
Balas