- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#26
Spoiler for PART VIII.b:
Keesokan harinya, Giesta mengirimkan sms kepada Sabu untuk pamit pergi ke Jepang. Sabu tidak mengizinkan Giesta untuk pergi, malahan dia memohon agar Giesta tetap di Indonesia saja. Kemudian tanpa berlama-lama lagi, Sabu meminta izin Giesta untuk datang kerumahnya, banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan.
14.10 WIB. Sesampainya Sabu dirumah Giesta, Giesta pun mempersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Memberikan Sabu suguhan, dan kemudian mereka berbincang.
"Aku tau kamu orang kaya, yang kalau ada masalah kamu bisa lari keluar negeri seenaknya. Aku tau kamu emosi, yang kalau kamu tidak bisa menahannya kamu bisa pergi keluar negeri seenaknya. Kamu tau yang kamu tinggalkan bagaimana perasaannya?" Kata Sabu tanpa basa basi. "Meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban. Kekanak-kanakan." Tambahnya.
Giesta dapat melihat bahwa Sabu emosi dari nada bicaranya dan perkataannya. Akan tetapi Giesta tidak memperdulikan hal tersebut. Aku disini juga emosi, you don't know what i feel, if only you were me. Kata Giesta dalam hati. Giesta hanya terdiam, dia merasa malas untuk menjawab semua perkataan Sabu.
"Kenapa tidak menjawab? Aku butuh kamu menjelaskan semua hal. Semua hal yang terjadi kemarin. Hingga sekarang." Pinta Sabu kepada Giesta.
"Tolong jangan memperkeruh suasana." Jawab Giesta. "Aku hanya ingin tenang sebentar, bukan kabur." Tambahnya.
Sabu diam, dia hanya memandangi Giesta. Dalam. Sangat dalam. Kemudian menghela nafasnya, dan tanpa sadar dia menitikkan air mata, meskipun hanya sedikit sekali. Di hapusnya air mata tersebut, dan kemudian kembali menarik nafas untuk menenangkan diri. Hah, sudah lama tidak menangis, terakhir waktu masih kecil, memalukan menangis. Pikir Sabu dalam hati.
Giesta tampak kaget dengan Sabu yang matanya tiba-tiba terlihat berkaca-kaca dan banyak menghela nafas. Dia merasa sangat tidak enak. "Sabu, kamu kenapa?" Tanya Giesta. Emosinya pun mulai mereda.
"Aku rasa lebih baik aku dulu gak usah ketemu kamu ya." Jawab Sabu.
Yap, that's right. Jawab Giesta dalam hati karena memang dia merasa bahwa orang-orang yang bertemu dengannya selalu saja terjerumus dalam masalah dia sendiri. Akan tetapi dibuangnya pikiran tersebut, karena dia masih penasaran dengan keadaan Sabu. "Hey, tampan. Memangnya kamu kenapa? Jangan sedih, nanti aku ikut menangis." Hibur Giesta dengan nada manja.
Inilah, hal yang seperti inilah yang disukai Sabu dari Giesta. Giesta selalu dapat membuat Sabu tenang dengan nada manjanya, celotehannya yang dapat membuat dia merasa bahwa dia memang berharga. Akan tetapi, entah mengapa dia masih belum bisa menyukai Giesta pada waktu dulu. Padahal Giesta sabar, dan tampak menyayangi Sabu. Baru sekarang di sadarinya sifat Giesta yang begitu manis. Tanpa Sabu sadari, dia pun mulai menyayangi Giesta. Bukan hanya Shaulia yang dipikirkannya sekarang, tapi Giesta juga mulai menyita pikiran Sabu setiap harinya. Belakangan ini.
"Dulu, 10 tahun yang lalu, orang tua aku meninggalkan aku. Orang yang aku sayang, meninggalkan aku. Sangat sedih, saking sedihnya sampai-sampai aku tidak bisa menanagis. Sekarang, kamu juga?" Kata Sabu pelan, dia tidak ingin air matanya keluar. "Kamu, Augray, Shaulia yang menemaniku selama 6 bulan ini, sehingga aku merasa seperti memiliki keluarga baru, dan tiba-tiba orang yang paling dekat dengan aku ingin pergi jauh? Kamu bisa tau gimana rasanya? Sakit. Untuk itu aku datang kemari, menanyakan kenapa?" Sabu memang belum cerita mengenai keluarganya ke Giesta, dia memang tidak suka mengumbar masa lalu, terlebih lagi apabila itu mengenai keluarganya. Akan tetapi, hal itu tidak dapat lagi dia bendung sekarang, dia sudah harus memberitahukan Giesta mengenai keadaannya.
Giesta kaget, dia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang bahu Sabu. Mengisyaratkan untuk tenang. Kemudian dia berkata, "Maafin aku, Sab. Maaf. Tapi aku nggak bisa cerita kenapa. Malu, Sab." Dengan muka agak tertunduk, dia pun mulai berkata lagi, "Aku sayang kamu, Sab. Aku takut kamu pergi kalau kamu tau semua. Lagi pula aku memang tidak bisa lagi dekat-dekat dengan kamu dan Augray. Kasihan kalian, nanti ibu Mourey..." Belum selesai Giesta berbicara, Sabu mulai menyela.
"Kamu kenapa sih? Lagi pula apa urusan ibu Mourey? Sekarang kamu bebas jika ingin bertemu aku, aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Ibu Mourey dan perusahaan." Jawab Sabu.
"Maksud kamu?" Tanya Giesta.
"She kicked me out from the company." Jawabnya.
"Karena?" Tanya Giesta lagi.
"Karena aku membawa kamu. Augray juga keluar, kalau Augray dia memang sudah tidak tahan di perusahaan." Jawab Sabu jujur. Emosi membuatnya tidak bisa lagi berfikir jernih dan memilih jawaban lain yang dapat membuat Giesta lebih tenang. "Aku sudah bercerita semua sekarang, gantian giliran kamu. Sebenarnya ada apa sih dengan kamu dan Ibu Mourey sehingga kamu ingin pergi keluar negeri segala?" Tanya Sabu.
Giesta menjauhkan jarak duduknya dari Sabu. Dia tertunduk, malu. Kemudian menangis, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis dan diam. Rasa malu, rasa sedih semua ada di benaknya. Dia ingin bercerita, tapi apakah Sabu juga akan meninggalkan dia jika dia bercerita? Hal itulah yang paling ditakutkan Giesta.
"Aku tidak akan sekejam Ibu Mourey dan orang tuaku jika aku sudah mendengar cerita kamu, mengenai keadaan kamu. Gies, kamu terlalu berharga untuk ditinggalkan." Ucap Sabu jujur ke arah Giesta yang membuat Giesta kaget dan menaikkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Sabu berharap Giesta bisa tenang dengan ucapannya tersebut.
Giesta semakin menangis, bukan menangis sedih. Dia bahagia ternyata masih ada orang yang memang mau menampung dan mendengar kisah dia, masa lalunya yang kelam. Kemudian Giesta mulai bercerita, panjang. Hingga sore dia bercerita dan diselingi oleh Sabu yang banyak bertanya. Sabu terlihat sangat kaget mendengar cerita Giesta, bahkan tidak percaya. Akan tetapi ditahannya perasaan tersebut. Semua itu masa lalu, pikirnya. Ya, memang semua orang memiliki masa lalu baik itu indah atau pun kelam. Akan tetapi, masa kini dan mendatanglah yang dijalani. Yang lalu biarlah berlalu, toh tidak dilakukan lagi. Pikirnya.
"Gies, kamu nggak perlu malu. Aku rasa semuanya bukan salah kamu. Kamu baik, sangat baik. My silly precious girl." Ucap Sabu kepada Giesta sambil mengelus kepala dan rambutnya. Berharap agar Giesta terhibur. Tidak, Giesta malu! Malu karena mengetahui ternyata dia memang berharga bagi Sabu.
"Yuk, Ashar. Aku yang jadi imam." Ajak Sabu kepda Giesta untuk menyudahi suasana yang buruk ini. Kemudian dengan anggukan setuju Giesta, mereka pun berwudhu dan mulai sholat berjama'ah.
***
Apakah aku salah ya bersikap terlalu manis ke Giesta seperti tadi sore? Apa dia malah nanti jadi salah paham? Aku cuma pengen menghibur dia, tapi memang tidak bohong sih yang aku utarakan, hanya sedikit berlebihan. Giesta sedang apa ya? Masih sedihkah? Atau tidak? Ah! Kenapa semua tentang Giesta? Apa aku benar menyayangi dia? Ah! Lalu Shaulia? Dimana dia dipikiranku? Gerutu Sabu dalam hati setelah pulang dari rumah Giesta.
Augray menyadari tingkah Sabu yang sedari tadi lebih banyak melamun. Dengan tertawaannya, dia pun membangunkan Sabu dari lamunannya.
"Hey, ngelamun apa sih lo?" Tanya Augray. Sabu tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil agak sedikit tertawa. "Eh, gimana? Kerja apa nih yang lo mau?" Tambahnya.
"Saya mau buka tempat makan, sederhana saja dulu. Yang penting ramai." Jawab Sabu.
"Budget lo berapa? Ada duit?" Tanya Augray.
"Saya sekarang lebih kaya dari kamu dong. Kamu uang penghasilan semuanya dimasukkan ke dalam bank dengan bank yang sama dengan yang di blokir mama kamu kan?" Kata Sabu sambil tertawa. "Saya ada uang gaji yang kamu kasih ke saya selama 6 bulan. Saya rasa cukup untuk buka tempat makan kecil." Tambahnya. Memang Sabu tidak banyak mebelanjakan uangnya pada saat dia masih bekerja diperusahaan Sabu. Dia terbiasa dengan membelanjakan uangnya hanya untuk makan dan membeli keperluan bulanan rumahnya, sedikit baju baru yang dia beli. Selebihnya dia biarkan saja di tabungan.
Augray tertawa, "Iya deh, nanti gantian gue yang bantu usaha lo ya!" Katanya yang hanya dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Sabu. "Gue keluar dulu ya. Mau makan malam sama Shaulia." Tambahnya.
Sabu tersenyum, entah kenapa dia tidak lagi merasa begitu risih degan kedekatan Augray dengan Shaulia. "Have fun!" Katanya.
14.10 WIB. Sesampainya Sabu dirumah Giesta, Giesta pun mempersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Memberikan Sabu suguhan, dan kemudian mereka berbincang.
"Aku tau kamu orang kaya, yang kalau ada masalah kamu bisa lari keluar negeri seenaknya. Aku tau kamu emosi, yang kalau kamu tidak bisa menahannya kamu bisa pergi keluar negeri seenaknya. Kamu tau yang kamu tinggalkan bagaimana perasaannya?" Kata Sabu tanpa basa basi. "Meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban. Kekanak-kanakan." Tambahnya.
Giesta dapat melihat bahwa Sabu emosi dari nada bicaranya dan perkataannya. Akan tetapi Giesta tidak memperdulikan hal tersebut. Aku disini juga emosi, you don't know what i feel, if only you were me. Kata Giesta dalam hati. Giesta hanya terdiam, dia merasa malas untuk menjawab semua perkataan Sabu.
"Kenapa tidak menjawab? Aku butuh kamu menjelaskan semua hal. Semua hal yang terjadi kemarin. Hingga sekarang." Pinta Sabu kepada Giesta.
"Tolong jangan memperkeruh suasana." Jawab Giesta. "Aku hanya ingin tenang sebentar, bukan kabur." Tambahnya.
Sabu diam, dia hanya memandangi Giesta. Dalam. Sangat dalam. Kemudian menghela nafasnya, dan tanpa sadar dia menitikkan air mata, meskipun hanya sedikit sekali. Di hapusnya air mata tersebut, dan kemudian kembali menarik nafas untuk menenangkan diri. Hah, sudah lama tidak menangis, terakhir waktu masih kecil, memalukan menangis. Pikir Sabu dalam hati.
Giesta tampak kaget dengan Sabu yang matanya tiba-tiba terlihat berkaca-kaca dan banyak menghela nafas. Dia merasa sangat tidak enak. "Sabu, kamu kenapa?" Tanya Giesta. Emosinya pun mulai mereda.
"Aku rasa lebih baik aku dulu gak usah ketemu kamu ya." Jawab Sabu.
Yap, that's right. Jawab Giesta dalam hati karena memang dia merasa bahwa orang-orang yang bertemu dengannya selalu saja terjerumus dalam masalah dia sendiri. Akan tetapi dibuangnya pikiran tersebut, karena dia masih penasaran dengan keadaan Sabu. "Hey, tampan. Memangnya kamu kenapa? Jangan sedih, nanti aku ikut menangis." Hibur Giesta dengan nada manja.
Inilah, hal yang seperti inilah yang disukai Sabu dari Giesta. Giesta selalu dapat membuat Sabu tenang dengan nada manjanya, celotehannya yang dapat membuat dia merasa bahwa dia memang berharga. Akan tetapi, entah mengapa dia masih belum bisa menyukai Giesta pada waktu dulu. Padahal Giesta sabar, dan tampak menyayangi Sabu. Baru sekarang di sadarinya sifat Giesta yang begitu manis. Tanpa Sabu sadari, dia pun mulai menyayangi Giesta. Bukan hanya Shaulia yang dipikirkannya sekarang, tapi Giesta juga mulai menyita pikiran Sabu setiap harinya. Belakangan ini.
"Dulu, 10 tahun yang lalu, orang tua aku meninggalkan aku. Orang yang aku sayang, meninggalkan aku. Sangat sedih, saking sedihnya sampai-sampai aku tidak bisa menanagis. Sekarang, kamu juga?" Kata Sabu pelan, dia tidak ingin air matanya keluar. "Kamu, Augray, Shaulia yang menemaniku selama 6 bulan ini, sehingga aku merasa seperti memiliki keluarga baru, dan tiba-tiba orang yang paling dekat dengan aku ingin pergi jauh? Kamu bisa tau gimana rasanya? Sakit. Untuk itu aku datang kemari, menanyakan kenapa?" Sabu memang belum cerita mengenai keluarganya ke Giesta, dia memang tidak suka mengumbar masa lalu, terlebih lagi apabila itu mengenai keluarganya. Akan tetapi, hal itu tidak dapat lagi dia bendung sekarang, dia sudah harus memberitahukan Giesta mengenai keadaannya.
Giesta kaget, dia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang bahu Sabu. Mengisyaratkan untuk tenang. Kemudian dia berkata, "Maafin aku, Sab. Maaf. Tapi aku nggak bisa cerita kenapa. Malu, Sab." Dengan muka agak tertunduk, dia pun mulai berkata lagi, "Aku sayang kamu, Sab. Aku takut kamu pergi kalau kamu tau semua. Lagi pula aku memang tidak bisa lagi dekat-dekat dengan kamu dan Augray. Kasihan kalian, nanti ibu Mourey..." Belum selesai Giesta berbicara, Sabu mulai menyela.
"Kamu kenapa sih? Lagi pula apa urusan ibu Mourey? Sekarang kamu bebas jika ingin bertemu aku, aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Ibu Mourey dan perusahaan." Jawab Sabu.
"Maksud kamu?" Tanya Giesta.
"She kicked me out from the company." Jawabnya.
"Karena?" Tanya Giesta lagi.
"Karena aku membawa kamu. Augray juga keluar, kalau Augray dia memang sudah tidak tahan di perusahaan." Jawab Sabu jujur. Emosi membuatnya tidak bisa lagi berfikir jernih dan memilih jawaban lain yang dapat membuat Giesta lebih tenang. "Aku sudah bercerita semua sekarang, gantian giliran kamu. Sebenarnya ada apa sih dengan kamu dan Ibu Mourey sehingga kamu ingin pergi keluar negeri segala?" Tanya Sabu.
Giesta menjauhkan jarak duduknya dari Sabu. Dia tertunduk, malu. Kemudian menangis, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis dan diam. Rasa malu, rasa sedih semua ada di benaknya. Dia ingin bercerita, tapi apakah Sabu juga akan meninggalkan dia jika dia bercerita? Hal itulah yang paling ditakutkan Giesta.
"Aku tidak akan sekejam Ibu Mourey dan orang tuaku jika aku sudah mendengar cerita kamu, mengenai keadaan kamu. Gies, kamu terlalu berharga untuk ditinggalkan." Ucap Sabu jujur ke arah Giesta yang membuat Giesta kaget dan menaikkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Sabu berharap Giesta bisa tenang dengan ucapannya tersebut.
Giesta semakin menangis, bukan menangis sedih. Dia bahagia ternyata masih ada orang yang memang mau menampung dan mendengar kisah dia, masa lalunya yang kelam. Kemudian Giesta mulai bercerita, panjang. Hingga sore dia bercerita dan diselingi oleh Sabu yang banyak bertanya. Sabu terlihat sangat kaget mendengar cerita Giesta, bahkan tidak percaya. Akan tetapi ditahannya perasaan tersebut. Semua itu masa lalu, pikirnya. Ya, memang semua orang memiliki masa lalu baik itu indah atau pun kelam. Akan tetapi, masa kini dan mendatanglah yang dijalani. Yang lalu biarlah berlalu, toh tidak dilakukan lagi. Pikirnya.
"Gies, kamu nggak perlu malu. Aku rasa semuanya bukan salah kamu. Kamu baik, sangat baik. My silly precious girl." Ucap Sabu kepada Giesta sambil mengelus kepala dan rambutnya. Berharap agar Giesta terhibur. Tidak, Giesta malu! Malu karena mengetahui ternyata dia memang berharga bagi Sabu.
"Yuk, Ashar. Aku yang jadi imam." Ajak Sabu kepda Giesta untuk menyudahi suasana yang buruk ini. Kemudian dengan anggukan setuju Giesta, mereka pun berwudhu dan mulai sholat berjama'ah.
***
Apakah aku salah ya bersikap terlalu manis ke Giesta seperti tadi sore? Apa dia malah nanti jadi salah paham? Aku cuma pengen menghibur dia, tapi memang tidak bohong sih yang aku utarakan, hanya sedikit berlebihan. Giesta sedang apa ya? Masih sedihkah? Atau tidak? Ah! Kenapa semua tentang Giesta? Apa aku benar menyayangi dia? Ah! Lalu Shaulia? Dimana dia dipikiranku? Gerutu Sabu dalam hati setelah pulang dari rumah Giesta.
Augray menyadari tingkah Sabu yang sedari tadi lebih banyak melamun. Dengan tertawaannya, dia pun membangunkan Sabu dari lamunannya.
"Hey, ngelamun apa sih lo?" Tanya Augray. Sabu tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil agak sedikit tertawa. "Eh, gimana? Kerja apa nih yang lo mau?" Tambahnya.
"Saya mau buka tempat makan, sederhana saja dulu. Yang penting ramai." Jawab Sabu.
"Budget lo berapa? Ada duit?" Tanya Augray.
"Saya sekarang lebih kaya dari kamu dong. Kamu uang penghasilan semuanya dimasukkan ke dalam bank dengan bank yang sama dengan yang di blokir mama kamu kan?" Kata Sabu sambil tertawa. "Saya ada uang gaji yang kamu kasih ke saya selama 6 bulan. Saya rasa cukup untuk buka tempat makan kecil." Tambahnya. Memang Sabu tidak banyak mebelanjakan uangnya pada saat dia masih bekerja diperusahaan Sabu. Dia terbiasa dengan membelanjakan uangnya hanya untuk makan dan membeli keperluan bulanan rumahnya, sedikit baju baru yang dia beli. Selebihnya dia biarkan saja di tabungan.
Augray tertawa, "Iya deh, nanti gantian gue yang bantu usaha lo ya!" Katanya yang hanya dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Sabu. "Gue keluar dulu ya. Mau makan malam sama Shaulia." Tambahnya.
Sabu tersenyum, entah kenapa dia tidak lagi merasa begitu risih degan kedekatan Augray dengan Shaulia. "Have fun!" Katanya.
0
Kutip
Balas