- Beranda
- Stories from the Heart
THIS IS SO GRAY
...
TS
akelhaha
THIS IS SO GRAY
Spoiler for Intro:
INTRODUCTION
"Well, you know, life started with good things, your mama fed you, smiled
at you. Your papa played with you. Or, maybe some of us were having another
scene, like your mama just left you on your bed when you were crying, and
your papa? He left the house. But, you can't decide their life in the
future by looking at their childhood. No, man. They have their life, not
their parents'. They decide everything, even their future." –Anggina
***
"Alat musik gitar dimainkan dengan cara di petik, suling dimainkan dengan
cara di tiup..." Terdengar suara Augray yang sedang belajar kesenian.
"Sedang apa nak?" Tanya sang mama.
"Besok ulangan kesenian, ma." Jawab Augray yang pada saat itu masih duduk
di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Kalau belajar terus nilainya bisa bagus dong ya?" Tanya mama yang hanya di
jawab Augray dengan senyuman.
***
Terdengar suara tamparan kuat dari ruang keluarga, dan terdengar suara
tangisan yang keluar dari mulut seorang bocah berusia 8 tahun. Televisi
menyala dan bervolume keras sekali, tapi seakan suara Televisi tersebut
kalah dengan tangisannya.
"Sabu! Kalau aku bilang cuci piring, cuci baju, dan mengepel rumah tolong
diturutin dong!!! Kamu gak punya telinga atau gak sayang mama? Kalau aku
tampar, kamu baru beri respon!" Teriak seorang ibu setelah menampar anaknya.
"Sabu ingin menonton kartun ma, Sabu sudah bosan setiap hari sehabis
sekolah mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Sabu tidak sempat belajar
juga, apalagi kalau Sabu melihat mama sedang nonton TV dan tertawa, Sabu
juga ingin, ma." Jawab Sabu sambil menangis.
"Heh?! Ngejawab lagi! Ngerjain pekerjaan rumah tuh gak seberapa daripada
waktu aku mau melahirkan kamu ya! RASANYA HAMPIR MATI! Aku sama bapakmu
yang kurang ajar itu menamai kamu Sabu karena kami pikir kamu akan membuat
kami bahagia seperti sabu-sabu yang waktu itu suka kami konsumsi, sekarang?
KAMU CUMA BIKIN SUSAH!" Omel mamanya dengan nada tinggi sambil pergi
meninggalkan Sabu yang sedang menangis, sendirian.
***
17 tahun kemudian...
"Damn, man! Why do you work in here? I mean, you're so good looking to be a
cleaning service." Merupakan ucapan yang terlontar ketika Augray mendapati
salah satu cleaning servicenya di dalam kantornya, sedang membersihkan
lantai, sofa, dan meja. Percakapan monolog Augray terdengar cukup kuat di
ruang kantornya tersebut.
"Excuse me, sir. I am not good looking as you are. Thank you for letting me
have this job, it means a lot to me." Jawab sang cleaning service kepada
Augray.
Kontan Augray pun ternganga kemudian berkata, "Are you really my cleaning
service person? Your English is good. Pretty good. Your pronunciation and
the way you talking to me, the tone."
"I am. I learned it from movies I watched and from music I always hear. Saya
sekolah hanya sampai SMA kelas 2, pak. Saya belajar hanya sekedarnya, tapi
Alhamdulillah nilai saya tak pernah gagal. Termasuk bahasa asing." Jawab
sang cleaning service.
Augray pun mengangguk sambil keheranan. "Ok, nama kamu siapa? Memangnya gak ada
pekerjaan lain yang kamu bisa ambil di kantor ini?"
"Saya Sabu, pak. Zassabu Fattir. Saya tidak mengambil pekerjaan lain karena
saya tidak lulus SMA, tidak ada yang mau menerima saya jika saya melamar
pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari pekerjaan ini pak, paling saya bisa
jadi office boy dan cleaning service, pak." Jawab Sabu.
Augray pun tersenyum, "Hey, I like you. Let's hangout sometime and talk
about things. Kalau sekarang kita kerjakan dulu pekerjaan masing-masing ya.
Bagaimana kalau sehabis Maghrib, saya dan kamu off, lalu kita pergi makan
malam bareng? Like a close friend?"
"Maaf, pak. Tapi nanti yang lain..." Jawab Sabu yang langsung di potong
Augray dengan, "Alah, sudah jangan dengarkan yang lain. My office, I decide.
"
Sabu hanya terdiam menandakan setuju, dan Augray terus tersenyum kagum
melihat Sabu yang pintar. Ya, Augray sangat senang sekali melihat
orang-orang yang pintar. Semasa sekolah dan kuliahnya dulu, teman-temannya
semua pintar. Pintar dalam pelajaran maupun pergaulan, maksudnya pintar
menjadi seperti sosok malaikat padahal dirinya sendiri... ya hanya Tuhan
yang bisa menilai.
Augray selalu saja pergi ke club-club malam, minum minuman beralkohol.
Sholat? Augray lupa akan hal itu. Ada satu hal yang di rahasiakan Augray
dari orang tuanya, Augray adalah seorang DJ, dengan nama panggung Kogreya.
Sebenarnya untuk sukses dengan meneruskan usaha ayahnya, ini adalah pilihan
orang tuanya. Sedangkan Augray? Dia bercita-cita ingin menjadi seseorang
yang bisa menghibur orang lain, termasuk nge-DJ.
Lain halnya dengan Sabu, dia memiliki banyak pilihan dalam hidupnya, dana?
Dia tak punya. Ingin sekali dia membuka usaha sehingga dia dapat
melanjutkan sekolahnya, tapi dana? Hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Orang tuanya? Meninggalkannya semenjak dia mulai memasuki masa SMA.
Sebelumnya ane minta izin naro titipan temen buat om mod dan om min sekalian, juga buat temen temen kaskuser di sini.
THIS IS SO GRAY

Angginanggi
Fiksi remaja
*Maaf kalo berantakan, next bakal ane rapihin deh
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh akelhaha 08-12-2014 18:19
anasabila memberi reputasi
1
7.6K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akelhaha
#25
Spoiler for PART VIII.a:
RODA PELANGI
"Life is unpredictable. You can suddenly laugh, you can suddenly sad, you can suddenly feeling well or bad. But you know, life isn't a game. Just like what they say, what goes around... comes around, what goes up... must come down. Life is about having a taste, you can't just taste the sweetness inside it, but you need to taste the other tastes. Believe me, you'll learn a lot of things!" -Anggina
Tidak terasa sudah memasuki bulan ke-tujuh Sabu sudah bekerja di kantornya Augray, Augray pun sudah berencana untuk segera mengangkat Sabu untuk menjadi wakilnya. Waktu enam bulan sebenarnya bukan waktu yang lama untuk bisa mengangkat seorang trainee menjadi wakilnya. Augray pun menyadari itu. Akan tetapi, Sabu terus membuat kejutan. Sabu adalah seseorang yang sangat pintar. He is a fast learner, full of ambition, has a leadership character, and a hard worker. He deserves this position, pikir Augray saat dia nelihat Sabu yang sibuk dengan lembaran kertas di tangannya dan laptop di hadapannya.
Memikirkan tentang kenaikan jabatan Sabu, Augray sudah menyiapkan sebuah kejutan, sehingga dia tidak memberitahukan Sabu mengenai kenaikan jabatannya. Orang pertama yang dia beri tahu adalah Giesta, kemudian dia juga mengajak Shaulia untuk datang ke kantor.
Gies, nanti bs dtg ke kantor gue? Nanti siang pas lunch. Gue mau ksh kejutan ke Sabu, dia promotion hari ini. Lo dtg ya, gue nanti sms Sha jg buat dtg, kalau bs bawa mknan buat ngerayain hehe
. Begitulah bunyi sms Augray ke Giesta, dan Giesta membalasnya dengan sms Ok, siap boss!
Ya, Augray masih berambisi agar Giesta bisa menjalin hubungan dengan Sabu.
Berbicara mengenai hubungan, sudah 3 bulan berlalu semenjak hari ulang tahunnya Shaulia pada saat itu. Semenjak hari itu, Augray sudah tidak lagi sesering sebelumnya dalam mengajak Shaulia untuk bertemu. Memang Augray terlalu sibuk dengan kantornya saat itu, belum lagi dengan jadwal nge-DJnya. Terlalu lelah untuknya jika harus bertemu dengan Shaulia lagi. Shaulia yang tidak mengetahui alasan tersebut, merasa ragu kepada Augray. Memang Augray bukanlah lelaki yang suka bercerita mengenai kesusahannya kepada orang lain, sehingga hal-hal kesibukannya ini pun dia tidak ceritakan, dia takut membuat Shaulia khawatir. Salah paham ini pun membuat perasaan Shaulia menjadi rumit. Tak jarang dihubunginya Sabu apabila dia sedang memikirkan Augray, akan tetapi dia tidak menceritakan tentang Augray. Dia menghubungi Sabu hanya sekedar untuk meminta lelucon atau bercerita ringan.
Tingkah Shaulia yang lumayan sering menghubungi Sabu, membuat Sabu bingung sekaligus senang. Jujur, memang inilah yang selama ini dia idam-idamkan. Akan tetapi rasa senang in dikuburnya dalam-dalam. Augray tetap harus dipikirkan, lagi pula dia tampak sangat menyukai shaulia. Malahan Augray sebenarnya sudah menyiapkan sesuatu untuk Shaulia tanpa sepengetahuannya.
Lalu bagaimana dengan Giesta? Pada saat Giesta sedang makan malam dengan Sabu, dia sering memergoki Sabu sibuk dengan ponselnya. Giesta sebenarnya gerah dengan tingkah Sabu tersebut. Akan tetapi dibiarkannya, mungkin memang penting. Pikirnya. Sampai pada suatu saat mereka bertemu lagi, Sabu tiba-tiba hendak ke kamar mandi akan tetapi dia lupa membawa ponselnya. Memang tidak sopan, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat di lawan lagi, sehingga di ambilnya ponsel Sabu, dan dilihatnya messages serta phone calls milik Sabu, betapa kagetnya dia ketika menemukan bahwa banyak nama Shaulia Amela disitu. Bingung, dia memilih pergi dan meninggalkan pesan bahwa dia tiba-tiba tidak enak badan dan harus segera pulang. Semenjak saat itu, mereka jarang bertemu, khususnya Giesta. Dia sudah tidak lagi mengajak Sabu untuk pergi berdua.
***
Saat makan siang pun tiba, Augray masih berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi dia sudah menyuruh Giesta dan Shaulia untuk bersiap-siap.
"Sab, mau makan apa nih kita? Pengen masakan rumah nggak sih?" Tanya Augray pada Sabu.
"Saya mau makan apa saja kok. Yuk, kita cari makanan rumah." Jawab Sabu.
Ketika mereka sedang menuju pintu keluar kantor, tiba-tiba Sabu dikejutkan dengan kehadiran Giesta dan Shaulia yang dapat terlihat jelas dari kaca bening kantor Augray. Sabu merasa bingung, akan tetapi dia tetap tersenyum saja. Augray yang memang sedari tadi sudah berpura-pura tidak tahu, akhirnya sudah tidak tahan lagi dan tertawa cukup lama. Sabu bingung, semakin bingung. Di tambah lagi dengan Shaulia dan Giesta yang ikut tertawa.
"Maaf nih sebelumnya, tapi apa ada yang lucu?" Kata Sabu dengan nada bingung. Augray, Shaulia, dan Giesta hanya mengangguk sambil tertawa dan mengajaknya duduk di sofa.
"Coba kita makan dulu makanan yang sudah aku dan Sha bawa." Kata Giesta. "Nanti setelah makan, atau mungkin sambil makan, kita bisa bahas bersama." Tambahnya.
Mereka pun mulai makan siang. Sabu masih bingung, dia pun memulai pembicaraan.
"Sebenarnya ada apa sih, Gray?" Tanya Sabu ke Augray.
Augray lalu memberikan surat resmi kantor yang berada di meja kerjanya kepada Sabu. "Coba kamu baca." Katanya.
Augray, Shaulia, dan Giesta terdiam ketika Sabu membaca surat tersebut. Mereka menantikan reaksi Sabu akan kenaikan jabatannya itu.
"Kalian..." Kata Sabu tertahan karena mereka tiba-tiba satu persatu mengucapkan selamat kepada Sabu.
"Makanya kita mau merayakan kenaikan jabatan kamu disini sambil makan siang!" Kata Giesta penuh semangat. "Aku boleh peluk kamu sebagai tanda selamat?" Tambahnya. Akan tetapi Sabu tidak memperbolehkannya, jangan ah kan kamu bukan istri aku, katanya kepada Giesta. Giesta tersenyum.
Suasana siang itu tidak seakrab suasana ketika mereka makan malam bersama saat ulang tahunnya Shaulia. Mereka seperti sedang memendam rasa masing-masing. Augray merasakan kekakuan di antara mereka semua, dia pun mulai bercerita. Dia meminta maaf kepada Shaulia karena jarang menghubunginya, kedua Shaulia meminta maaf karena sering mengganggu Sabu ketika dia teringat akan Augray. Kemudian Giesta yang hanya tersenyum setelah mengetahui semua hanya salah paham.
Tidak, sebenarnya bukan begitu. Sabu, Augray, Shaulia, dan Giesta memiliki kebingungan masing-masing pada perasaan mereka. Sabu memang mulai menyukai Giesta, akan tetapi tidak bisa dia bantah bahwa perhatiannya masih tertuju pada Shaulia. Sedangakan Shaulia yang memang menyukai Augray mulai terganggu dengan perasaannya yang suka tiba-tiba tidak menentu ketika dekat dengan Sabu, Augray yang memang sejak awal mengajar-ngejar Shaulia mulai sedikit agak memperhatikan Giesta, sedangkan Giesta? Meskipun dia sangat menyukai Sabu, tapi tidak bisa dia pungkiri bahwa dia sesekali juga memperhatikan Augray.
Akan tetapi saat sedang bersama, mereka menghilangkan perasaan-perasaan itu. Kebersamaan lah yang mereka nikmati, dengan canda dan tawa.
Tiba-tiba ketika mereka sedang berbincang, datanglah seorang wanita cantik. Wanita yang terlihat penuh wibawa memasuki ruang kerja Augray dan Sabu.
"Selamat siang, bu Mourey." Kata Sabu sambil berdiri tiba-tiba yang membuat Shaulia, Giesta, dan Augray menatap ke arah pintu masuk ruang kerja. Sabu dapat melihat kedatangan ibu Mourey karena memang dia duduk menghadap pintu masuk.
"Selamat siang." Jawabnya. "Kalian sedang mengadakan apa? Makan siang bersama di kantor? Dalam rangka apa?" Tambahnya.
"Mama selalu deh kalau kesini gak kasih tau aku dulu. Ini ma, Sabu sekarang resmi sebagai wakil aku." Jawab Augray. "Jadi kita merayakannya dengan makan siang bersama disini." Tambahnya.
"Mama mau lihat kerjaan kamu sama Sabu. Mama sudah tau sebenarnya kalau hari ini kamu berencana ingin promote Sabu jadi wakil kamu. Jadi mama datang." Jawab Ibu Mourey dengan senyuman.
Giesta kaget dengan kedatangan Ibu Mourey ke dalam kantor, dia hanya bisa tertunduk tanpa mau memperlihatkan wajahnya. Ada apa dengan Giesta? Pikir Augray, Sabu, dan Shaulia. Kemudian Giesta dengan cepat mengambil tasnya, dan langsung pamit untuk pulang kepada mereka semua.
Baru saja Giesta hendak melangkah keluar setelah melewati ibu Mourey, tiba-tiba Ibu Mourey menyuruh Giesta untuk berhenti.
"Nak, boleh saya lihat wajah kamu?" Katanya. "Kenapa daritadi menunduk?" Tambahnya lagi sambil datang ke arah Giesta.
Giesta masih tertunduk, "Tidak apa-apa, bu. Saya hanya sedang..." Belum sempat Giesta melanjutkan, ibu Mourey sudah memegang dagu Giesta, kemudian mendorongnya keatas sehingga tampak lah wajahnya Giesta.
Wajah Ibu Mourey memerah, terlihat emosi. Matanya melotot melihat wajah Giesta. Ada apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Sabu, Augray, dan Shaulia.
Kemudian dengan nada yang amat marah, Ibu Mourey mulai angkat bicara, "Kamu! Ngapain kamu disini? Kamu berteman dengan anak saya? Dasar tidak tahu malu kamu!" Teriaknya ke arah Giesta. Spontan semua orang di ruangan itu kaget dan bertanya-tanya kenapa.
"Saya, saya tidak tahu, bu. Maafkan saya. Saya tidak akan pernah kemari lagi, dan saya tidak akan berteman dengan anak ibu lagi." Jawab Shaulia sambil tertunduk dan kemudian berlari keluar kantor.
Ibu Mourey langsung berhadapan dengan Shaulia, Augray, dan Sabu. "Siapa yang mengundangnya kemari?" Tanyanya masih dengan nada marah.
Sabu yang menyadari bahwa apabila Augray mengaku hal itu akan menjadi masalah besar bagi Augray pun akhirnya langsung angkat bicara. "Saya, bu. Saya yang mengundangnya." Jawab Augray.
"Harusnya saya tahu dari awal, kamu yang datang dari kalangan rendah, mau sepintar apa pun, berteman pastilah tetap dengan orang-orang kalangan rendah." Kata Ibu Mourey dengan nada angkuh kepada Sabu. "Orang yang seperti ini yang ingin kamu jadikan wakilmu? Bermain dengan wanita murahan? Bisa-bisa perusahaan hancur dan dipenuhi wanita-wanita bayaran." Tambahnya, kali ini kepada Augray.
Wajah Sabu dan Augray tampak bingung, tapi tidak dengan Shaulia. Dia justru kaget. Apakah wanita ini tau? Tanyanya dalam hati. Akan tetapi Shaulia berusaha bersikap tenang.
Augray yang tidak mengerti dengan semuanya hanya bisa diam, kemudian Ibu Mourey menambahkan, "Saya pecat Sabu dari kantor ini. Besok kamu akan saya berikan pengganti Sabu, yang lebih baik, yang lebih pantas." Kata Ibu Mourey yang membuat Augray kaget sekaligus marah.
"Mama! Jangan begitu. Mama belum lihat kinerja Sabu selama ini, kenapa sudah memutuskan hal tersebut? It doesn't make sense!" Jawab Augray.
Sabu meletakkan tangannya ke punggung Augray, menyuruhnya untuk tenang sambil berbicara pelan, "Nggak apa kok, Gray. Kita ikuti dulu kemauan mama kamu ya." Kemudian Sabu tersenyum ke arah ibu Mourey sambil berkata, "Terima kasih sudah mengizinkan saya bekerja disini. Saya pamit, bu."
Inilah yang di takutkan Sabu, firasat dia benar. Coba saja kalau Augray yang bilang bahwa dia yang mengundang Giesta, Sabu tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
Kemudian Ibu Mourey pergi begitu saja meninggalkan Augray yang masih terdiam bingung.
***
"Enak ya, Sab. Bisa istirahat banyak gini kalau jobless." Kata Augray kepada Sabu sesampainya dirumah Sabu. Sudah lebih kurang tiga bulan lamanya Augray tinggal bersama Sabu.
"Jobless? Kamu ada-ada saja. Kamu kan tidak jobless." Jawab Sabu.
Kemudian Augray mendatangi Sabu dan bersender di meja makan, memang sedari tadi mereka mengobrol sambil Sabu sedang menyiapkan makan malam.
"Gue keluar kali dari kantor." Kata Augray kepada Sabu yang membuat Sabu tampak kaget.
Sabu menghentikan kegiatannya menyiapkan makanan, dia terdiam sebentar sambil memperhatikan Augray, kemudian berkata, "Kenapa? Kamu itu main-main saja. Itu kan perusahaan keluarga kamu, kalau memang kamu tidak suka perusahaan itu, bukan..." Belum selesai Sabu berbicara, Augray menyela.
"Bukan begitu caranya? I appreciate my family kok, Sab. Makanya waktu dipaksa nerusin perusahaan, gue mau-mau aja meskipun bukan itu passion gue." Jawab Augray.
"Lalu?" Tanya Sabu.
"What is the meaning of life if you can't taste the life itself? This is my life, I'm sick of being not me. Lo kan udah pernah gue ceritain juga gimana keluarga gue. Tanpa lo diperusahaan, gue gak ada temen. Tanpa lo, perusahaan gak akan bisa dapet untung tiap bulannya, semenjak ada lo kan semuanya work out." Jelasnya menggebu-gebu. "Maybe what my mom wants me to be is your destiny, not mine. Seharusnya mama bisa sadar itu." Tambahnya.
"Tapi kan..." Kilah Sabu yang kembali disela oleh Augray.
"Sudahlah, gue udah keluar dari perusahaan itu. Sekarang gue nge-side job aja as a DJ. Nanti gue cari kerjaan lain kalau emang gue kurang duit." Kata Augray.
"Bukannya kamu sudah punya banyak duit?" Tanya Sabu.
"Di blokir atm sama credit card gue. Mama yang blokir. Dia marah, dia sih gak meng-iya-kan atas keluarnya gue, ya gue minggat aja. Ini salah satu cara dia memang untuk buat gue balik ke perusahaan." Jelas Augray.
"Lalu perusahaan?" Tanya Sabu lagi.
"Mama gantiin gue buat sementara, atau mungkin... selamanya. Bersama pengganti elo." Jawab Augray yang kemudian pergi ke arah kamar mandi. "Udah lah, gue mandi dulu ya. Makannya tungguin gue." Tambahnya.
Sabu merasa tak enak. Dia tidak harus berbuat apa. Dia hanya terdiam berpikir di meja makan. Ada apa sebenarnya dengan Giesta sehingga semua ini terjadi. Ada apa dengan Ibu Mourey sehingga dia bisa marah besar dengan Giesta. Bagaimana nasib perusahaan. Ah semuanya membuat Sabu bingung dan terdiam dalam pikirannya sendiri.
***
Di malam yang sama...
Shaulia mendatangi rumah Giesta. Dia khawatir karena semenjak insiden di perusahaan tadi, Giesta tidak memberi kabar dan tidak mengangkat telpon atau pun membalas sms dari Shaulia.
"Taaa..." Panggil Shaulia dari lantai bawah sambil berjalan cepat menaiki tangga dan mengarah ke kamar Giesta. "Kata mbak, kamu belum makan? Kenapa?" Tambahnya ketika dia sampai di depan kamar Giesta. "Belum keluar kamar juga dari siang, kenapa?" Tanyanya lagi. Giesta masih diam. "Aku buka kamarnya ya?"
"Kamu pulang aja, Sha. Aku fine, kok." Jawab Giesta dari dalam ketika mendengar Shaulia ingin membuka kamarnya.
"We need to talk, I can't let you feel it alone. Kamu pasti sedih. Ya kan?" Kata Shaulia.
Kemudian Giesta membuka pintu. Matanya bengkak karena kebanyakan menangis. Dilihatnya sahabatnya itu. "Sha..." Katanya sambil memeluk Shaulia. "Dosa gak sih membenci mama sendiri?" Tambahnya. Air mata masih mengalir, bisa dirasakan Shaulia karena hangat pada bahunya.
"Masuk dulu yuk, aku dengarkan kamu cerita." Ajak Shaulia kepada Giesta. Kemudian Giesta pun bercerita, panjang. Hari itu pun Giesta tidak memperbolehkan Shaulia pulang sehingga Shaulia menginap disana.
***
"Life is unpredictable. You can suddenly laugh, you can suddenly sad, you can suddenly feeling well or bad. But you know, life isn't a game. Just like what they say, what goes around... comes around, what goes up... must come down. Life is about having a taste, you can't just taste the sweetness inside it, but you need to taste the other tastes. Believe me, you'll learn a lot of things!" -Anggina
Tidak terasa sudah memasuki bulan ke-tujuh Sabu sudah bekerja di kantornya Augray, Augray pun sudah berencana untuk segera mengangkat Sabu untuk menjadi wakilnya. Waktu enam bulan sebenarnya bukan waktu yang lama untuk bisa mengangkat seorang trainee menjadi wakilnya. Augray pun menyadari itu. Akan tetapi, Sabu terus membuat kejutan. Sabu adalah seseorang yang sangat pintar. He is a fast learner, full of ambition, has a leadership character, and a hard worker. He deserves this position, pikir Augray saat dia nelihat Sabu yang sibuk dengan lembaran kertas di tangannya dan laptop di hadapannya.
Memikirkan tentang kenaikan jabatan Sabu, Augray sudah menyiapkan sebuah kejutan, sehingga dia tidak memberitahukan Sabu mengenai kenaikan jabatannya. Orang pertama yang dia beri tahu adalah Giesta, kemudian dia juga mengajak Shaulia untuk datang ke kantor.
Gies, nanti bs dtg ke kantor gue? Nanti siang pas lunch. Gue mau ksh kejutan ke Sabu, dia promotion hari ini. Lo dtg ya, gue nanti sms Sha jg buat dtg, kalau bs bawa mknan buat ngerayain hehe
. Begitulah bunyi sms Augray ke Giesta, dan Giesta membalasnya dengan sms Ok, siap boss!Ya, Augray masih berambisi agar Giesta bisa menjalin hubungan dengan Sabu.
Berbicara mengenai hubungan, sudah 3 bulan berlalu semenjak hari ulang tahunnya Shaulia pada saat itu. Semenjak hari itu, Augray sudah tidak lagi sesering sebelumnya dalam mengajak Shaulia untuk bertemu. Memang Augray terlalu sibuk dengan kantornya saat itu, belum lagi dengan jadwal nge-DJnya. Terlalu lelah untuknya jika harus bertemu dengan Shaulia lagi. Shaulia yang tidak mengetahui alasan tersebut, merasa ragu kepada Augray. Memang Augray bukanlah lelaki yang suka bercerita mengenai kesusahannya kepada orang lain, sehingga hal-hal kesibukannya ini pun dia tidak ceritakan, dia takut membuat Shaulia khawatir. Salah paham ini pun membuat perasaan Shaulia menjadi rumit. Tak jarang dihubunginya Sabu apabila dia sedang memikirkan Augray, akan tetapi dia tidak menceritakan tentang Augray. Dia menghubungi Sabu hanya sekedar untuk meminta lelucon atau bercerita ringan.
Tingkah Shaulia yang lumayan sering menghubungi Sabu, membuat Sabu bingung sekaligus senang. Jujur, memang inilah yang selama ini dia idam-idamkan. Akan tetapi rasa senang in dikuburnya dalam-dalam. Augray tetap harus dipikirkan, lagi pula dia tampak sangat menyukai shaulia. Malahan Augray sebenarnya sudah menyiapkan sesuatu untuk Shaulia tanpa sepengetahuannya.
Lalu bagaimana dengan Giesta? Pada saat Giesta sedang makan malam dengan Sabu, dia sering memergoki Sabu sibuk dengan ponselnya. Giesta sebenarnya gerah dengan tingkah Sabu tersebut. Akan tetapi dibiarkannya, mungkin memang penting. Pikirnya. Sampai pada suatu saat mereka bertemu lagi, Sabu tiba-tiba hendak ke kamar mandi akan tetapi dia lupa membawa ponselnya. Memang tidak sopan, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat di lawan lagi, sehingga di ambilnya ponsel Sabu, dan dilihatnya messages serta phone calls milik Sabu, betapa kagetnya dia ketika menemukan bahwa banyak nama Shaulia Amela disitu. Bingung, dia memilih pergi dan meninggalkan pesan bahwa dia tiba-tiba tidak enak badan dan harus segera pulang. Semenjak saat itu, mereka jarang bertemu, khususnya Giesta. Dia sudah tidak lagi mengajak Sabu untuk pergi berdua.
***
Saat makan siang pun tiba, Augray masih berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi dia sudah menyuruh Giesta dan Shaulia untuk bersiap-siap.
"Sab, mau makan apa nih kita? Pengen masakan rumah nggak sih?" Tanya Augray pada Sabu.
"Saya mau makan apa saja kok. Yuk, kita cari makanan rumah." Jawab Sabu.
Ketika mereka sedang menuju pintu keluar kantor, tiba-tiba Sabu dikejutkan dengan kehadiran Giesta dan Shaulia yang dapat terlihat jelas dari kaca bening kantor Augray. Sabu merasa bingung, akan tetapi dia tetap tersenyum saja. Augray yang memang sedari tadi sudah berpura-pura tidak tahu, akhirnya sudah tidak tahan lagi dan tertawa cukup lama. Sabu bingung, semakin bingung. Di tambah lagi dengan Shaulia dan Giesta yang ikut tertawa.
"Maaf nih sebelumnya, tapi apa ada yang lucu?" Kata Sabu dengan nada bingung. Augray, Shaulia, dan Giesta hanya mengangguk sambil tertawa dan mengajaknya duduk di sofa.
"Coba kita makan dulu makanan yang sudah aku dan Sha bawa." Kata Giesta. "Nanti setelah makan, atau mungkin sambil makan, kita bisa bahas bersama." Tambahnya.
Mereka pun mulai makan siang. Sabu masih bingung, dia pun memulai pembicaraan.
"Sebenarnya ada apa sih, Gray?" Tanya Sabu ke Augray.
Augray lalu memberikan surat resmi kantor yang berada di meja kerjanya kepada Sabu. "Coba kamu baca." Katanya.
Augray, Shaulia, dan Giesta terdiam ketika Sabu membaca surat tersebut. Mereka menantikan reaksi Sabu akan kenaikan jabatannya itu.
"Kalian..." Kata Sabu tertahan karena mereka tiba-tiba satu persatu mengucapkan selamat kepada Sabu.
"Makanya kita mau merayakan kenaikan jabatan kamu disini sambil makan siang!" Kata Giesta penuh semangat. "Aku boleh peluk kamu sebagai tanda selamat?" Tambahnya. Akan tetapi Sabu tidak memperbolehkannya, jangan ah kan kamu bukan istri aku, katanya kepada Giesta. Giesta tersenyum.
Suasana siang itu tidak seakrab suasana ketika mereka makan malam bersama saat ulang tahunnya Shaulia. Mereka seperti sedang memendam rasa masing-masing. Augray merasakan kekakuan di antara mereka semua, dia pun mulai bercerita. Dia meminta maaf kepada Shaulia karena jarang menghubunginya, kedua Shaulia meminta maaf karena sering mengganggu Sabu ketika dia teringat akan Augray. Kemudian Giesta yang hanya tersenyum setelah mengetahui semua hanya salah paham.
Tidak, sebenarnya bukan begitu. Sabu, Augray, Shaulia, dan Giesta memiliki kebingungan masing-masing pada perasaan mereka. Sabu memang mulai menyukai Giesta, akan tetapi tidak bisa dia bantah bahwa perhatiannya masih tertuju pada Shaulia. Sedangakan Shaulia yang memang menyukai Augray mulai terganggu dengan perasaannya yang suka tiba-tiba tidak menentu ketika dekat dengan Sabu, Augray yang memang sejak awal mengajar-ngejar Shaulia mulai sedikit agak memperhatikan Giesta, sedangkan Giesta? Meskipun dia sangat menyukai Sabu, tapi tidak bisa dia pungkiri bahwa dia sesekali juga memperhatikan Augray.
Akan tetapi saat sedang bersama, mereka menghilangkan perasaan-perasaan itu. Kebersamaan lah yang mereka nikmati, dengan canda dan tawa.
Tiba-tiba ketika mereka sedang berbincang, datanglah seorang wanita cantik. Wanita yang terlihat penuh wibawa memasuki ruang kerja Augray dan Sabu.
"Selamat siang, bu Mourey." Kata Sabu sambil berdiri tiba-tiba yang membuat Shaulia, Giesta, dan Augray menatap ke arah pintu masuk ruang kerja. Sabu dapat melihat kedatangan ibu Mourey karena memang dia duduk menghadap pintu masuk.
"Selamat siang." Jawabnya. "Kalian sedang mengadakan apa? Makan siang bersama di kantor? Dalam rangka apa?" Tambahnya.
"Mama selalu deh kalau kesini gak kasih tau aku dulu. Ini ma, Sabu sekarang resmi sebagai wakil aku." Jawab Augray. "Jadi kita merayakannya dengan makan siang bersama disini." Tambahnya.
"Mama mau lihat kerjaan kamu sama Sabu. Mama sudah tau sebenarnya kalau hari ini kamu berencana ingin promote Sabu jadi wakil kamu. Jadi mama datang." Jawab Ibu Mourey dengan senyuman.
Giesta kaget dengan kedatangan Ibu Mourey ke dalam kantor, dia hanya bisa tertunduk tanpa mau memperlihatkan wajahnya. Ada apa dengan Giesta? Pikir Augray, Sabu, dan Shaulia. Kemudian Giesta dengan cepat mengambil tasnya, dan langsung pamit untuk pulang kepada mereka semua.
Baru saja Giesta hendak melangkah keluar setelah melewati ibu Mourey, tiba-tiba Ibu Mourey menyuruh Giesta untuk berhenti.
"Nak, boleh saya lihat wajah kamu?" Katanya. "Kenapa daritadi menunduk?" Tambahnya lagi sambil datang ke arah Giesta.
Giesta masih tertunduk, "Tidak apa-apa, bu. Saya hanya sedang..." Belum sempat Giesta melanjutkan, ibu Mourey sudah memegang dagu Giesta, kemudian mendorongnya keatas sehingga tampak lah wajahnya Giesta.
Wajah Ibu Mourey memerah, terlihat emosi. Matanya melotot melihat wajah Giesta. Ada apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Sabu, Augray, dan Shaulia.
Kemudian dengan nada yang amat marah, Ibu Mourey mulai angkat bicara, "Kamu! Ngapain kamu disini? Kamu berteman dengan anak saya? Dasar tidak tahu malu kamu!" Teriaknya ke arah Giesta. Spontan semua orang di ruangan itu kaget dan bertanya-tanya kenapa.
"Saya, saya tidak tahu, bu. Maafkan saya. Saya tidak akan pernah kemari lagi, dan saya tidak akan berteman dengan anak ibu lagi." Jawab Shaulia sambil tertunduk dan kemudian berlari keluar kantor.
Ibu Mourey langsung berhadapan dengan Shaulia, Augray, dan Sabu. "Siapa yang mengundangnya kemari?" Tanyanya masih dengan nada marah.
Sabu yang menyadari bahwa apabila Augray mengaku hal itu akan menjadi masalah besar bagi Augray pun akhirnya langsung angkat bicara. "Saya, bu. Saya yang mengundangnya." Jawab Augray.
"Harusnya saya tahu dari awal, kamu yang datang dari kalangan rendah, mau sepintar apa pun, berteman pastilah tetap dengan orang-orang kalangan rendah." Kata Ibu Mourey dengan nada angkuh kepada Sabu. "Orang yang seperti ini yang ingin kamu jadikan wakilmu? Bermain dengan wanita murahan? Bisa-bisa perusahaan hancur dan dipenuhi wanita-wanita bayaran." Tambahnya, kali ini kepada Augray.
Wajah Sabu dan Augray tampak bingung, tapi tidak dengan Shaulia. Dia justru kaget. Apakah wanita ini tau? Tanyanya dalam hati. Akan tetapi Shaulia berusaha bersikap tenang.
Augray yang tidak mengerti dengan semuanya hanya bisa diam, kemudian Ibu Mourey menambahkan, "Saya pecat Sabu dari kantor ini. Besok kamu akan saya berikan pengganti Sabu, yang lebih baik, yang lebih pantas." Kata Ibu Mourey yang membuat Augray kaget sekaligus marah.
"Mama! Jangan begitu. Mama belum lihat kinerja Sabu selama ini, kenapa sudah memutuskan hal tersebut? It doesn't make sense!" Jawab Augray.
Sabu meletakkan tangannya ke punggung Augray, menyuruhnya untuk tenang sambil berbicara pelan, "Nggak apa kok, Gray. Kita ikuti dulu kemauan mama kamu ya." Kemudian Sabu tersenyum ke arah ibu Mourey sambil berkata, "Terima kasih sudah mengizinkan saya bekerja disini. Saya pamit, bu."
Inilah yang di takutkan Sabu, firasat dia benar. Coba saja kalau Augray yang bilang bahwa dia yang mengundang Giesta, Sabu tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
Kemudian Ibu Mourey pergi begitu saja meninggalkan Augray yang masih terdiam bingung.
***
"Enak ya, Sab. Bisa istirahat banyak gini kalau jobless." Kata Augray kepada Sabu sesampainya dirumah Sabu. Sudah lebih kurang tiga bulan lamanya Augray tinggal bersama Sabu.
"Jobless? Kamu ada-ada saja. Kamu kan tidak jobless." Jawab Sabu.
Kemudian Augray mendatangi Sabu dan bersender di meja makan, memang sedari tadi mereka mengobrol sambil Sabu sedang menyiapkan makan malam.
"Gue keluar kali dari kantor." Kata Augray kepada Sabu yang membuat Sabu tampak kaget.
Sabu menghentikan kegiatannya menyiapkan makanan, dia terdiam sebentar sambil memperhatikan Augray, kemudian berkata, "Kenapa? Kamu itu main-main saja. Itu kan perusahaan keluarga kamu, kalau memang kamu tidak suka perusahaan itu, bukan..." Belum selesai Sabu berbicara, Augray menyela.
"Bukan begitu caranya? I appreciate my family kok, Sab. Makanya waktu dipaksa nerusin perusahaan, gue mau-mau aja meskipun bukan itu passion gue." Jawab Augray.
"Lalu?" Tanya Sabu.
"What is the meaning of life if you can't taste the life itself? This is my life, I'm sick of being not me. Lo kan udah pernah gue ceritain juga gimana keluarga gue. Tanpa lo diperusahaan, gue gak ada temen. Tanpa lo, perusahaan gak akan bisa dapet untung tiap bulannya, semenjak ada lo kan semuanya work out." Jelasnya menggebu-gebu. "Maybe what my mom wants me to be is your destiny, not mine. Seharusnya mama bisa sadar itu." Tambahnya.
"Tapi kan..." Kilah Sabu yang kembali disela oleh Augray.
"Sudahlah, gue udah keluar dari perusahaan itu. Sekarang gue nge-side job aja as a DJ. Nanti gue cari kerjaan lain kalau emang gue kurang duit." Kata Augray.
"Bukannya kamu sudah punya banyak duit?" Tanya Sabu.
"Di blokir atm sama credit card gue. Mama yang blokir. Dia marah, dia sih gak meng-iya-kan atas keluarnya gue, ya gue minggat aja. Ini salah satu cara dia memang untuk buat gue balik ke perusahaan." Jelas Augray.
"Lalu perusahaan?" Tanya Sabu lagi.
"Mama gantiin gue buat sementara, atau mungkin... selamanya. Bersama pengganti elo." Jawab Augray yang kemudian pergi ke arah kamar mandi. "Udah lah, gue mandi dulu ya. Makannya tungguin gue." Tambahnya.
Sabu merasa tak enak. Dia tidak harus berbuat apa. Dia hanya terdiam berpikir di meja makan. Ada apa sebenarnya dengan Giesta sehingga semua ini terjadi. Ada apa dengan Ibu Mourey sehingga dia bisa marah besar dengan Giesta. Bagaimana nasib perusahaan. Ah semuanya membuat Sabu bingung dan terdiam dalam pikirannya sendiri.
***
Di malam yang sama...
Shaulia mendatangi rumah Giesta. Dia khawatir karena semenjak insiden di perusahaan tadi, Giesta tidak memberi kabar dan tidak mengangkat telpon atau pun membalas sms dari Shaulia.
"Taaa..." Panggil Shaulia dari lantai bawah sambil berjalan cepat menaiki tangga dan mengarah ke kamar Giesta. "Kata mbak, kamu belum makan? Kenapa?" Tambahnya ketika dia sampai di depan kamar Giesta. "Belum keluar kamar juga dari siang, kenapa?" Tanyanya lagi. Giesta masih diam. "Aku buka kamarnya ya?"
"Kamu pulang aja, Sha. Aku fine, kok." Jawab Giesta dari dalam ketika mendengar Shaulia ingin membuka kamarnya.
"We need to talk, I can't let you feel it alone. Kamu pasti sedih. Ya kan?" Kata Shaulia.
Kemudian Giesta membuka pintu. Matanya bengkak karena kebanyakan menangis. Dilihatnya sahabatnya itu. "Sha..." Katanya sambil memeluk Shaulia. "Dosa gak sih membenci mama sendiri?" Tambahnya. Air mata masih mengalir, bisa dirasakan Shaulia karena hangat pada bahunya.
"Masuk dulu yuk, aku dengarkan kamu cerita." Ajak Shaulia kepada Giesta. Kemudian Giesta pun bercerita, panjang. Hari itu pun Giesta tidak memperbolehkan Shaulia pulang sehingga Shaulia menginap disana.
***
Diubah oleh akelhaha 22-05-2014 22:15
0
Kutip
Balas