- Beranda
- Stories from the Heart
MESIN WAKTU : Catatan Seorang...PECUNDANG!
...
TS
luckyismine
MESIN WAKTU : Catatan Seorang...PECUNDANG!
Quote:
MESIN WAKTU
Kenapa ku harus menunggu
Kenapa, aku pun tak tahu
Kutahu itu tlah berlalu
Sinaran cintamu
Jangan bilang, jangan bilang
Ku tak bahagia
Aku hanya, aku hanya
Terhantui
Hari-hari terus berganti
Mengapa ku terus mencari
Saat kita memadu kasih
Tuk ulangi lagi
Kan ku kenang, kan ku kenang
Didalam dada
Tak kan hilang, tak kan hilang
Selamanya, selamanya
Ku menunggu meski engkau, tak kan tahu
Andai ada mesin waktu
Mengapa ku harus menunggu
Mengapa akupun tak tahu
Meski menunggu tiada tentu
Sinaran cintamu
Sisihkanlah, sisihkanlah
Dalam hatimu
Walau hanya, walau hanya
Semenit saja, sedetik saja
Ku menunggu meski engkau takkan tahu
Ku menunggu kau disini
Kenapa ku harus menunggu
Kenapa, aku pun tak tahu
Kutahu itu tlah berlalu
Sinaran cintamu
Jangan bilang, jangan bilang
Ku tak bahagia
Aku hanya, aku hanya
Terhantui
Hari-hari terus berganti
Mengapa ku terus mencari
Saat kita memadu kasih
Tuk ulangi lagi
Kan ku kenang, kan ku kenang
Didalam dada
Tak kan hilang, tak kan hilang
Selamanya, selamanya
Ku menunggu meski engkau, tak kan tahu
Andai ada mesin waktu
Mengapa ku harus menunggu
Mengapa akupun tak tahu
Meski menunggu tiada tentu
Sinaran cintamu
Sisihkanlah, sisihkanlah
Dalam hatimu
Walau hanya, walau hanya
Semenit saja, sedetik saja
Ku menunggu meski engkau takkan tahu
Ku menunggu kau disini
MINOR66
Quote:
Permisi agan dan aganwati
Ijinkan gwa untuk ikutan ngeramein forum SFTH ini, terutama buat para momod dan sesepuh dimari. Walaupun gwa udah lama nongkrong di kaskus, ternyata ada sebuah forum yang begitu damai namun cukup membuat hati ini galau (halagh!). Apalagi setelah dihajar oleh dua kisah legendaris dari bung Ari sama bung Anto, maka terciptalah akun klonengan ini . Kisah mereka bener2 membuat kenangan2 masa lalu gwa jadi terbuka lagi. Aselih, gwa udah move on abis kok
. Cuma kenangan itu seperti berputaran di kepala gwa. Dan apa salahnya gwa tuangkan sebagiannya disini, itung2 sambil ngasah kebiasaan nulis gwa yg udah lama gwa tinggalin.
Ohya, disini gwa nga ngikutin pakem temen2 yang pada share kisah hidupnya dimari. Yang segitu detailnya, nyeritain mulai dari dilahirin, masa SD, SMP, SMA. Kalo gwa cukup dari masa kuliah aja. Karena kenangan dimasa2 sebelum itu udah banyak yang lupa dan selain itu gwa emang nga ada niat untuk bikin biography komplit tentang kehidupan gwa disini.
Tapi hanya sepenggal dari banyak cerita yang gwa alami dimasa lalu.
Gwa juga nga make rule2-an dimari. Bebas2 aja selama masih mengikuti tata tertib official dimari. Toh, gwa juga cuma numpang lapak dimari. Yang punya kuasa dimari tentu aja momodnya, biarlah beliau2 yang menilai nantinya.
Ohiya, ada satu quote dari sesepuh di SFTH yang sangat berkesan buat diri gwa sebelum ikut berpartisipasi disini. Quotenya sedikit gwa edit, tapi nga mengurangi makna dari pesannya. Terutama kata2nya yg gwa kasih warna merah
Maka ijinkanlah gwa untuk membodohi diri gwa disini untuk menceritakan masa lalu gwa.
Sedang untuk masalah izin dengan tokoh2 yang ada di dalam cerita ini belum gwa kantongin. Karena selain gwa udah nga tahu keberadaan mereka, gwa pun ngerasa mereka nga ada yg ngaskus. Makanya gwa coba mem'fiksi'kan cerita gwa ini, dengan harapan nantinya nga menjadi masalah baru buat gwa.
So, silahkan menikmati MESIN WAKTU gwa ini
Ijinkan gwa untuk ikutan ngeramein forum SFTH ini, terutama buat para momod dan sesepuh dimari. Walaupun gwa udah lama nongkrong di kaskus, ternyata ada sebuah forum yang begitu damai namun cukup membuat hati ini galau (halagh!). Apalagi setelah dihajar oleh dua kisah legendaris dari bung Ari sama bung Anto, maka terciptalah akun klonengan ini . Kisah mereka bener2 membuat kenangan2 masa lalu gwa jadi terbuka lagi. Aselih, gwa udah move on abis kok
. Cuma kenangan itu seperti berputaran di kepala gwa. Dan apa salahnya gwa tuangkan sebagiannya disini, itung2 sambil ngasah kebiasaan nulis gwa yg udah lama gwa tinggalin.Ohya, disini gwa nga ngikutin pakem temen2 yang pada share kisah hidupnya dimari. Yang segitu detailnya, nyeritain mulai dari dilahirin, masa SD, SMP, SMA. Kalo gwa cukup dari masa kuliah aja. Karena kenangan dimasa2 sebelum itu udah banyak yang lupa dan selain itu gwa emang nga ada niat untuk bikin biography komplit tentang kehidupan gwa disini.
Tapi hanya sepenggal dari banyak cerita yang gwa alami dimasa lalu.Gwa juga nga make rule2-an dimari. Bebas2 aja selama masih mengikuti tata tertib official dimari. Toh, gwa juga cuma numpang lapak dimari. Yang punya kuasa dimari tentu aja momodnya, biarlah beliau2 yang menilai nantinya.
Ohiya, ada satu quote dari sesepuh di SFTH yang sangat berkesan buat diri gwa sebelum ikut berpartisipasi disini. Quotenya sedikit gwa edit, tapi nga mengurangi makna dari pesannya. Terutama kata2nya yg gwa kasih warna merah
Quote:
Original Posted By mullupus►Tes tes... 1-2-3...
Dear agan, terima kasih atas komentarnya. Ya, memang udah konsekuensi sebagai 'pencerita' jika pembaca-pembacanya ingin mencari tahu kebenaran tentang cerita tersebut. Kalau agan bilang semua penulis di SFTH itu pintar-pintar, kayaknya agan salah nilai. Kalau menurut gue, para penulis di SFTH itu malah ingin membodohi dirinya sendiri sebab apa yang dia tuliskan juga nyatanya terkadang malah membawa masalah baru.
Taruhlah begini, contohnya seseorang mengetahui bahwa menulis bisa dijadikan sebagai terapi. Pertama-tama yang dilakukannya itu bukan menjadikan tulisan itu enak untuk dibaca, tetapi dia menulis karena apa yang orang lain katakan belum tentu sama seperti apa yang terjadi. Poin ini dulu yang dikutip.
Lalu dari apa yang dia tuliskan, sebenarnya secara nggak langsung dia nggak ingin berbagi kepada orang-orang, namun dia hanya ingin mereka peduli terhadap hidupnya. Nah, seperti yang gue bilang tadi―orang yang baru pertama kali menulis cerita, dia nggak tahu apakah tulisannya itu enak dibaca atau nggak, alurnya kayak gimana, tokoh-tokohnya seperti apa, dll. Seperti yang agan bilang, bagaimana nasib para pemeran jika dia nggak meminta izin untuk menulis? Bagaimana jika mereka yang membaca kemudian tahu tokoh-tokohnya, kemudian menyebarkan pandangan negatif?
Pada kasus di thread ini, gue menyimpulkan kalau untuk ke depan gue harap semua penulis di SFTH yang belum dapat izin dari para pemeran, sebaiknya menyamarkan nama/tempat, atau hal lain yang berkaitan sehingga bikin orang lain jadi KEPO. Kurt Cobain berkata, "If you read, you will judge." dan memang begitulah adanya.
Dear agan, terima kasih atas komentarnya. Ya, memang udah konsekuensi sebagai 'pencerita' jika pembaca-pembacanya ingin mencari tahu kebenaran tentang cerita tersebut. Kalau agan bilang semua penulis di SFTH itu pintar-pintar, kayaknya agan salah nilai. Kalau menurut gue, para penulis di SFTH itu malah ingin membodohi dirinya sendiri sebab apa yang dia tuliskan juga nyatanya terkadang malah membawa masalah baru.
Taruhlah begini, contohnya seseorang mengetahui bahwa menulis bisa dijadikan sebagai terapi. Pertama-tama yang dilakukannya itu bukan menjadikan tulisan itu enak untuk dibaca, tetapi dia menulis karena apa yang orang lain katakan belum tentu sama seperti apa yang terjadi. Poin ini dulu yang dikutip.
Lalu dari apa yang dia tuliskan, sebenarnya secara nggak langsung dia nggak ingin berbagi kepada orang-orang, namun dia hanya ingin mereka peduli terhadap hidupnya. Nah, seperti yang gue bilang tadi―orang yang baru pertama kali menulis cerita, dia nggak tahu apakah tulisannya itu enak dibaca atau nggak, alurnya kayak gimana, tokoh-tokohnya seperti apa, dll. Seperti yang agan bilang, bagaimana nasib para pemeran jika dia nggak meminta izin untuk menulis? Bagaimana jika mereka yang membaca kemudian tahu tokoh-tokohnya, kemudian menyebarkan pandangan negatif?
Pada kasus di thread ini, gue menyimpulkan kalau untuk ke depan gue harap semua penulis di SFTH yang belum dapat izin dari para pemeran, sebaiknya menyamarkan nama/tempat, atau hal lain yang berkaitan sehingga bikin orang lain jadi KEPO. Kurt Cobain berkata, "If you read, you will judge." dan memang begitulah adanya.
Maka ijinkanlah gwa untuk membodohi diri gwa disini untuk menceritakan masa lalu gwa.
Sedang untuk masalah izin dengan tokoh2 yang ada di dalam cerita ini belum gwa kantongin. Karena selain gwa udah nga tahu keberadaan mereka, gwa pun ngerasa mereka nga ada yg ngaskus. Makanya gwa coba mem'fiksi'kan cerita gwa ini, dengan harapan nantinya nga menjadi masalah baru buat gwa. So, silahkan menikmati MESIN WAKTU gwa ini
Spoiler for Makasih buat cendolnya :
* * * C H A P T E R I * * *
Spoiler for INDEX:
MUKADIMAH
STRANGE DAYS
STRANGE DAYS TOO
STILL STRANGE DAYS
INTERMEZZO
LA WOMAN
ANOTHER LA WOMAN
LIGHT MY FIRE
TOUCH ME
Me, Soe Hok Gie and Jim Morrison
TOUCH ME AGAIN
LOVE(?)
KISS ME
LOVE(?) or LUST(?)
WILD HORSES
ZZZZZZZZZZZ!!!!
[URL=""]LOSER (1st)[/URL]
(CAN'T LIVE WITHOUT YOUR) LOVE AND AFFECTION
KILLER QUEEN
IT'S COMPLICATED!
IT'S STILL COMPLICATED!
MORE COMPLICATED AND F**K UP!
LOVE STINKS
DATE WITH VIA
THE NEW BEGINNING
EEEAAAAAAAA!!!
THE SWEETEST THING
BEBEB OH BEBEB
STAIRWAY TO HEAVEN
BACKSTREET GIRL
IRIS
CLOSER TO THE HEART
TAKKAN ADA CINTA YANG LAIN
THE KILL
THE NURSE
NASI GORENG CAMPUR BENCI
I MISS YOU
WITH OR WITHOUT YOU
LAY LADY LAY
LAY LADY LAY NOW
WILD THING
AM I THE SAME GIRL
LE BOY WANNABE
ANOTHER STORY ABOUT PAST
EVERYBODY'S CHANGING
MY SHARONA
MY SHARONA 2
BIZZARE LOVE TRIANGLE
WONDERBOY
WONDERBOY 2
CREEP
JULIA SAYS
JULIA SAYS 2
YOU SHOOK ME ALL NIGHT LONG
REGRET
STILL REGRET
INTERSTATE LOVE SONG
STILL INTERSTATE LOVE SONG
THUNDERSTRUCK
IS THIS LOVE
YOU SEE THE TROUBLE WITH ME
YOU SEE THE TROUBLE WITH ME THEN
SPACE ODDITY
WHEN LOVE AND HATE COLLIDE
DILLEMA
WONDERFUL
AKHIR RASA INI
STRANGE DAYS
STRANGE DAYS TOO
STILL STRANGE DAYS
INTERMEZZO
LA WOMAN
ANOTHER LA WOMAN
LIGHT MY FIRE
TOUCH ME
Me, Soe Hok Gie and Jim Morrison
TOUCH ME AGAIN
LOVE(?)
KISS ME
LOVE(?) or LUST(?)
WILD HORSES
ZZZZZZZZZZZ!!!!
[URL=""]LOSER (1st)[/URL]
(CAN'T LIVE WITHOUT YOUR) LOVE AND AFFECTION
KILLER QUEEN
IT'S COMPLICATED!
IT'S STILL COMPLICATED!
MORE COMPLICATED AND F**K UP!
LOVE STINKS
DATE WITH VIA
THE NEW BEGINNING
EEEAAAAAAAA!!!
THE SWEETEST THING
BEBEB OH BEBEB
STAIRWAY TO HEAVEN
BACKSTREET GIRL
IRIS
CLOSER TO THE HEART
TAKKAN ADA CINTA YANG LAIN
THE KILL
THE NURSE
NASI GORENG CAMPUR BENCI
I MISS YOU
WITH OR WITHOUT YOU
LAY LADY LAY
LAY LADY LAY NOW
WILD THING
AM I THE SAME GIRL
LE BOY WANNABE
ANOTHER STORY ABOUT PAST
EVERYBODY'S CHANGING
MY SHARONA
MY SHARONA 2
BIZZARE LOVE TRIANGLE
WONDERBOY
WONDERBOY 2
CREEP
JULIA SAYS
JULIA SAYS 2
YOU SHOOK ME ALL NIGHT LONG
REGRET
STILL REGRET
INTERSTATE LOVE SONG
STILL INTERSTATE LOVE SONG
THUNDERSTRUCK
IS THIS LOVE
YOU SEE THE TROUBLE WITH ME
YOU SEE THE TROUBLE WITH ME THEN
SPACE ODDITY
WHEN LOVE AND HATE COLLIDE
DILLEMA
WONDERFUL
AKHIR RASA INI
* * * C H A P T E R II * * *
Spoiler for INDEX:
THAT'S WHAT FRIEND ALL FOR
KEPOMPONG
KEPOMPONG 2
DREAMER
BENCI TAPI RINDU
MY TURNING POINT BEGINS
PERFECT DAY
VOX POPULI
DON'T GIVE UP
THE SPIRIT CARRIES ON
STILL THE SPIRIT CARRIES ON
NEVER SURRENDER
DIZZ KNEE LAND
POSITIVITY
ALWAYS POSITIVITY
I CAN SEE CLEARLY NOW
WITH A LITTLE HELP FROM MY FRIENDS
HERE COMES THE DAY
HERE COMES THE DAY 2
STAGNANT
NEWBORN
NEWBORN BABY
DECEMBER
DECEMBER II
CURCOL
ITS HOLIDAY
ITS HOLIDAY 2
HYPNOTIZE
HIGH
HORNY
SHIT HAPPENS! : HIGHWAY STAR
SHIT HAPPENS! : HIGHWAY STAR II
SHIT HAPPENS TWICE!! : PEOPLE ARE STRANGE
SHIT HAPPENS TWICE!! : PEOPLE ARE STRANGE II
THANK YOU
THANK YOU II
Testing 1,2,3
HONESTLY
mIRC
mIRC lagi
KEPOMPONG
KEPOMPONG 2
DREAMER
BENCI TAPI RINDU
MY TURNING POINT BEGINS
PERFECT DAY
VOX POPULI
DON'T GIVE UP
THE SPIRIT CARRIES ON
STILL THE SPIRIT CARRIES ON
NEVER SURRENDER
DIZZ KNEE LAND
POSITIVITY
ALWAYS POSITIVITY
I CAN SEE CLEARLY NOW
WITH A LITTLE HELP FROM MY FRIENDS
HERE COMES THE DAY
HERE COMES THE DAY 2
STAGNANT
NEWBORN
NEWBORN BABY
DECEMBER
DECEMBER II
CURCOL
ITS HOLIDAY
ITS HOLIDAY 2
HYPNOTIZE
HIGH
HORNY
SHIT HAPPENS! : HIGHWAY STAR
SHIT HAPPENS! : HIGHWAY STAR II
SHIT HAPPENS TWICE!! : PEOPLE ARE STRANGE
SHIT HAPPENS TWICE!! : PEOPLE ARE STRANGE II
THANK YOU
THANK YOU II
Testing 1,2,3
HONESTLY
mIRC
mIRC lagi
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 84 suara
Siapa yang jadi istri gwa saat ini?
Dinda
12%
Felisha
35%
Bebeb
5%
Megan Fox
23%
Semuanya salah
26%
Diubah oleh luckyismine 05-04-2017 18:38
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
358.6K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
luckyismine
#460
REGRET
Maybe I've forgotten
The name and the address
Of everyone I've ever known,
It's nothing I regret
Save it for another day, cause
The school is and the
Kids have run away
I would like a place I can call my own
Have a conversation on my telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain by my wounded heart
I was upset, you see
Almost all the time
You used to be a stranger
Now you are mine
I wouldn't even trust you
I've not that much to give
We're dealing in the limits, and
We don't know who with
You may think that I'm out of hand
That I'm naive, I'll understand
On this occasion, it's not true
Look at me, I'm not you
I would like a place I can call my own
Have a conversation on the telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain with my wounded heart
I was a short fuse
Burning all the time
You were a complete stranger
Now you are mine
I would like a place I can call my own
Have a conversation on the telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain with my wounded heart
Just wait 'till tomorrow
I guess that's what they all say
Just before they fall apart...
The name and the address
Of everyone I've ever known,
It's nothing I regret
Save it for another day, cause
The school is and the
Kids have run away
I would like a place I can call my own
Have a conversation on my telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain by my wounded heart
I was upset, you see
Almost all the time
You used to be a stranger
Now you are mine
I wouldn't even trust you
I've not that much to give
We're dealing in the limits, and
We don't know who with
You may think that I'm out of hand
That I'm naive, I'll understand
On this occasion, it's not true
Look at me, I'm not you
I would like a place I can call my own
Have a conversation on the telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain with my wounded heart
I was a short fuse
Burning all the time
You were a complete stranger
Now you are mine
I would like a place I can call my own
Have a conversation on the telephone
Wake up everyday, that would be a start
I would not complain with my wounded heart
Just wait 'till tomorrow
I guess that's what they all say
Just before they fall apart...
NEW ORDER
Spoiler for REGRET:
Quote:
Sampe di kost-an, gwa liat si Ropik udah ngejogrok aja diteras kamar gwa. Dia selonjoran dibangku panjang yang terbuat dari rotan, yang bagian kepalanya agak miring kedepan, sambil kedua tangannya dijadiin sandaran kepalanya. Ngeliat badannya yang gede itu gwa berasa kayak ngeliat anak beruang lagi berjemur dipantai aja. 
"Eh si Ropik, santai bener gaya lo kayak dipantai. Ada apaan nih pagi2 gini?" sapa gwa sambil nyari2 kunci kamar gwa diseputaran pot2 kembang yang berjejer rapi didepan teras kamar.
"Biasa bang, hari ini kita dapet sewa 3 nih. Buruan bang, soalnya ada yang dari pagi udah minta dianterin barangnya. Emangnya tadi nga ngeliat sms yang gwa kirim dari hapenya bang Jali, bang?" jawab Ropik dengan antusias.
"Gwa nga tau Pik, oh, pantesan gwa silence telpon gwa tadi" gwa meriksa hape gwa, "wuih mantep banget dapet 3 orderan. Jauh2 nga Pik?"
"Kagak bang, pokoknya kagak ada yang nyampe nyebrang bates dah. Makanye, buruan bang, daripada nanti pada dibatalin sewanya" desak Ropik yang udah nga sabaran.
"Iya-iya, gwa naroh tas dulu ya. Bentaran"
Setelah gwa naruh tas dan jaket gwa dikamar dan ganti sepatu gwa sama sendal jepit, gwa keluar lagi. Nga lupa ngunci kamar dan naruh kunci2nya diantara pot2. Lalu kita jalan menuju mobilnya Kenshi yang diparkir didepan.
"Pik, lo udah lancar khan bawa mobilnya? Lo yang bawa aja ya?" gwa menawarkan Ropik buat jadi sopirnya. Soalnya gwa ngerasa selama beberapa bulan gwa ngajarin dia bawa mobil, Ropik udah cukup lancar dan lihai bawa mobil. Lagian, badan gwa masih berasa capek dan pegel, "tapi lo yakin nga jauh2 dan ngelewatin jalan rawan polisi khan?"
"Iye bang, kebanyakkan antar kampung aja sih jalurnya. Ini beneran gwa yang nyetir nih?"
"Iya Pik, biar makin lancar alo nyetirnya. Kalo bisa lo buruan deh ngambil SIM, siapa tau nanti lo bisa nyopirin mobil orang" kata gwa ketika udah didalem mobil. Untung aja mobil Kenshi AC-nya masih berasa, sedangkan diluar cuacanya udah panas menyengat aja.
"Lah, nyopirin mobil orang? Emangnya kite udah nga ngerentalin mobil lagi bang?" muka Ropik keliatan bingung.
"Ya gitu deh Pik, gwa ada rencana mau ikut kerja sama si Ridho. Lagian, khan lo tau ini bukan mobil gwa. Kalo ini mobil gwa sih, gwa bakal percayain buat elo bawa2 deh Pik"
"Yah bang, terus gimana nasib gwa dong? Padahal hasil bantu2in abang ngerental mobil lumayan banget buat gwa" muka Ropik melas banget.
Duh, kasihan juga gwa ngeliat ekspresi muka Ropik yang melas gitu. Iya juga ya, kalo gwa nga ngerentalin ini mobil lagi, gimana nasibnya si Ropik ya? Ini anak boleh dibilang rajin banget dan bisa dipercaya banget kelakuannya. Ketika temen2 seumurannya ngabisin waktunya disekolahan dan nongkrong2 nga jelas, Ropik cuma luntang-lantung kerja serabutan karena orang tuanya nga mampu nerusin biaya sekolahnya sampe SMA. Mana adek2nya banyak dan masih kecil2 pulak. Apalagi umur si Ropik masih muda banget dan labil, takutnya nanti kalo luntang-lantung lagi dia jadi bengal dan ikut2an pergaulan yang nga bener.
"Iya ya Pik, lo bakalan nganggur ya kalo gwa nga ngerentalin ini mobil lagi" sahut gwa ngenes, "tapi nanti deh gwa tanya sama yang punya mobil, kira2 dia keberatan nga ya kalo mobilnya nanti elo yang bawa"
"Iya bang, tanyain yah sama yang punya? Gwa bakalan tanggung jawab dah. Nyawa gwa tarohannya kalo gwa bakal macem2in ini mobil nantinya." kata Ropik dengan sungguh2.
"Nga usah ngomong kayak gitu Pik, gwa percaya kok sama elo. Yang penting kalo nanti dapet ijin sama yang punya mobil, lo musti bikin SIM ya?" jawab gwa sambil menepuk2 pundaknya.
"Iya bang, cuman nanti gwa kasbon dulu kali kalo jadi bikin SIM." Ropik garuk2 kepalanya sambil tersenyum malu.
"Iye, nanti gwa usahain deh. Yang penting dapetin ijinnya dulu dah. Doain aja biar kesampean Pik"
"Amin"
Gwa lihat Ropik tersenyum seneng banget. Duh, nga tega rasanya kalo si Kenshi nantinya keberatan nyerahin mobilnya ke si Ropik buat di rentalin. Kalo sama gwa sih, Kenshi kagak banyak syarat selama tahu mobilnya sering gwa sewain. Yang penting pemeliharaan mulai dari service, ganti olie, ngisi bensin dan perbaikan2 kalo lagi ada kerusakan semua jadi tanggung jawab gwa. Masalah uang hasil nyewain mobil, Kenshi nga pernah ambil pusing. Mungkin Kenshi kasihan kali sama gwa, kalo masih dipotong juga jatah gwa.
Gwa nyenderin kepala gwa kebelakang dan coba memejamkan mata gwa. Sebenernya hari ini gwa males banget pengen beraktifitas karena pikiran gwa masih kusut dan kalut. Tapi ngeliat semangat Ropik tadi, gwa jadi nga tega juga kalo nga berangkat ngerentalin mobil. Emang sih, duit gwa juga udah mulai menipis di dompet, jadi lumayan banget hari ini dapet tambahan ngisi dompet gwa. Walau sekere2nya gwa saat itu, tetep gwa nga risau karena gwa masih bisa nadahin tangan gwa ke orangtua buat nyelesaiin masalah keuangan gwa. Seharusnya gwa bisa belajar dari Ropik yang serba kekurangan ini tapi punya semangat untuk kerja dan nga bermalas2an. Atau pada Ridho yang boleh dibilang serba berkecukupan, tapi nga pernah ngandelin ortunya bahkan warisannya pun sama sekali.
****************************
Gwa sama Ropik selesai ngerentalin sekitar jam 7-an malem. Setelah bagi2 hasil kerjaan kita tadi, gwa nge drop-in Ropik diperempatan. Soalnya soal mau belanja-belinji dulu ke supermarket, terutama buat nyogok Felisha biar dia mau maafin kelakuan gwa yang gila kemarenan itu. Jujur aja, seharian tadi perasaan hati gwa lebih kalut mikirin Felisha dibanding Dinda. Bukannya gwa nga prioritasin pikiran gwa ke Dinda, karena gwa anggap masalah sama pacar gwa ini cuma ninggal nunggu moment yang tepat aja mergokinnya. Tapi kalo sama Felisha kayaknya bakal jadi berlarut2 kalo nga buru gwa selesaiin. Belum lagi bayangan mas Arga yang badannya segede2 itu, gwa nga bisa ngebayangin kalo bogemnya bakalan mampir ke muka gwa, kalo sekiranya Felisha ngelaporin kelakuan nga senonoh gwa ini. Masa iya sih muka gwa musti bonyok2 terus tanpa jeda dalam seminggu ini?
Tololnya gwa! Ngapain juga sih bikin sensasi nga genah kayak gitu? Padahal khan harusnya gwa bisa jaga sikap pagi itu? Tapi apa mau dikata, nasi udah jadi bubur dan nga bakal bisa dibalikin jadi nasi lagi. Yang penting sekarang gimana caranya gwa bisa memperbaiki keadaan yang udah kacau ini, dan lebih penting lagi, Felisha mau maafin gwa. Ok lah, kalo Felisha masih nga mau maafin gwa, itu bisa gwa terima. Tapi kalo mas Arga sampe tahu, hadeuh, gwa nga bisa bayangin derita kayak apa yang bakal gwa dapetin nantinya.
Di supermarket gwa udah kebingungan mau ngebeli apaan buat menangin hatinya. Sumprit, gwa bingung. Apalagi selama gwa pacaran sama DInda, gwa nga pernah direpotin sama masalah belanja-belinji hadiah atau segala macem benda buat mempermanis hubungan kita. Kalo pun ada yang musti gwa hadiahin atau beliin buat Dinda, itupun atas permintaannya bukan atas inisiatif gwa sendiri. Yup, gwa emang cowok yang kagak romantis sedunia kayaknya.
Akhirnya gwa putuskan ngebeli sebatang coklat yang bentuknya segitiga dan gwa ambil yang ukurannya paling gede. Konon kabarnya sih, cewek paling seneng kalo dihadiahin coklat. Ya mudah2an aja Felisha juga begitu. Pas dikasir iseng2 aja gwa nanya sama mbak2nya, kira2 coklatnya bisa dikasih pita nga. Eh, ternyata bisa. Ya udah, sekalian aja tuh coklat dibikin kece dipakein pita. Biar makin keliatan unyu2nya.
Nyampe dikost-an, gwa jalan mindik2 ketika ngelewatin bagian depan kamarnya Felisha. Sekilas dari celah pintunya yang sedikit terbuka, gwa ngeliat Felisha lagi sibuk didepan meja kecilnya. Hmm, kayaknya dia lagi sibuk sama draft skripsinya yang kalo nga salah udah nyampe di bab terakhir. Dan kayaknya Felisha nga ngeliat kalo gwa udah nyampe.
Gwa puter kenop pintu dan mendorongnya pelan2. Eits, ternyata masih dikunci. Biasanya kalo Felisha udah nyampe, pintu kamar gwa walaupun tertutup tapi nga dikunci. Soalnya khan dia biasa mondar-mandir dikamar gwa, terutama kalo dia mau ke kamar mandi. Waduh, berarti Felisha emang masih marah sama gwa, bahkan untuk mandipun dia bela2in numpang di kamar mandinya Ridho yang posisinya deket dapurnya. Makin deg2an aja nih gwa.
Dikamar gwa sibuk nyusun rencana gwa buat minta maaf ke Felisha. Hmm, gwa musti ngomong apa ya? Selagi gwa mikir, mata gwa tertuju pada gitarnya Ridho yang ngejogrog diatas kasur gwa. Aha, gwa sambil nyanyiin lagu aja yak, secara suara gwa juga khan nga malu2in banget.
Tapi lagu apa yah cocoknya? Ahahahaha, lagu favoritnya si Ridho aja, yang biasanya dia ulang2 terus nyanyiinnya kalo lagi gitaran dikamar gwa. Saking seringnya Ridho nyanyiin, sampe hapal diluar kepala gwa. Lagian kayaknya cocok tuh sama temanya hari ini. Okeh, brangcuts!
Sambil nenteng2 gitar dan coklat gwa keluar menuju kamarnya Felisha. Sebelumnya gwa cabut kembang yang ada di pot depan kamar, soka kata Ridho ketika gwa nanyain nama kembang yang ada di pot itu. Bodo' lah kalo gwa nga kreatif, yang penting usaha gwa ini bisa bikin melting Felisha.
"Permisi mbak, saya mau numpang ngamen. Jreeenggggg" gwa berdiri didepan pintu dengan posisi paling keren. Sementara kembang sama coklatnya gwa umpetin dulu dari pandangannya, gwa taruh di bangku rotan yang ada didepan kamarnya Felisha.
Felisha menatap gwa dengan dingin, seolah kayak ngeliat orang yang nga dikenal aja. Nga ada senyum dibibirnya yang mungil itu, nga ada juga tatapan penuh amarah dimatanya yang selalu bersinar itu. Semua datar2 aja. Lalu dia bangkit dari duduknya dan mendekati gwa. Duh, makin deg2an deh gwa. Tahu2, brak!, pintunya ditutup dengan bantingan yang sangat keras. Gwa cuma bisa merasakan hempasan anginnya, yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah gwa. Hampir aja hidung gwa jadi korban lagi.
Lemes deh gwa, rencana gwa malem itu gagal total nga dapet respon positif dari Felisha. Gwa terduduk tanpa daya di bangku rotan didepan kamarnya, ngebayangin apa yang bakal terjadi nantinya. Felisha yang selalu masang muka asem kalo ketemu dan bogem mentah dari mas Arga. Ngebayangin kepalan tangan mas Arga yang pastinya gede dan mampir kemuka gwa bener2 ngebangkitin keberanian gwa saat itu juga. Nga rela gwa, kalo muka gwa musti bonyok2 lagi!
Lagi gwa mulai mainin gitar yang ada dipangkuan gwa, masih dengan posisi duduk disitu. Dan gwa kerasin sedikit volume suara gwa. Jereng...jreennnggg....
Dan....bila esok...datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda
Dan...perlahan kaupun lupakan aku
Mimpi burukmu...dimana t'lah ku tancapkan duri tajam
Kaupun menangis...menangis sedih
Maafkan aku
Dan...bukan maksudku...bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu...menepikanmu
Maafkan aku....
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Dan...bukan maksudku...bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu...menepikanmu
Maafkan aku....
Sampe selesai itu lagu, nga ada tanggepan sedikitpun dari Felisha. Nga ada tanda2 dia mau bukain pintu terus keluar dan maafin gwa. Nga, sama sekali nga ada. Atau misalnya kedengeran suara Felisha terisak2 saking terharunya ngedengerin gwa nyanyiin lagu ini. Nga, nga ada juga. Argghh, gwa ngerasa jadi korban film atau cerita roman picisan, yang selalu sukses ngelumerin hati wanitanya dengan action kayak gini.
Tapi gwa nga mau putus asa, bayangan bogemnya mas Arga yang bakal mampir ke muka gwa membuat gwa mencoba nyanyiin lagu ini. Hanya aja gwa mulai dari reffnya aja, biar lebih ngena sama maksud dan tujuan gwa.
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Setelah selesai gwa tunggu responnya. Ternyata masih nihil juga. Lalu kembali gwa ulang lagi reffrain itu sampe selesai. Dan lagi2 nga ada responnya. Gwa ulang lagi, dan nga ada respon lagi. Gwa ulang lagi, nga ada respon lagi. Sampe gwa keringetan, suara gwa mulai berasa serak tetep nga direspon.
Akhirnya kumat lagi gila gwa. Gwa nyanyiin refrain itu sesuka hati gwa. Kadang dengan style nge jazz, dangdut, nge blues sampe metal tetep nga direspon juga. Dan selagi asyik2nya gwa nyanyiin dengan gaya grindcore, tiba2 ditengah2 refrain berasa ada yang nimpuk gwa make bungkus rokok, tepat ngenain muka gwa.
"Woi, berisik tauk!" nga taunya malah Ridho yang ngomel2 dari balik jendela rumahnya.
"Hehehehehe...." gwa cuma nyengir2 tolol aja ngedapetin respon dari Ridho.
"Cing, bujug dah. Pelanin dikit ngapa suara lo. Kedengeran sampe kamar nih, kasihan bini gwa nga bisa tidur!" Ridho masih ngomelin gwa.
"Iya-iya Dho, sori ya. Nga lagi2 dah gwa" jawab gwa tengsin.
Asli malu banget gwa. Kayaknya tadi gwa kesetanan nyanyinya, sampe Ridho yang didalem kamarnya berasa keganggu sama suaranya. Padahal jarak rumahnya sama kamar Felisha lumayan juga, tambahan kamarnya juga masih agak kedalem. Untung2 aja tetangga sebelah sama belakang agak jauh2an juga jaraknya, bisa2 bisa didemo gwa. Tapi sekilas, kuping gwa berasa nangkep suara cekikikan dari dalem kamarnya Felisha. Apa jangan2 dia lagi ngetawain gwa yang diomelin sama Ridho ya?
Pengennya sih gwa ngelongokin kepala gwa dari balik jendela buat mastiin kalo yang cekikikan tadi adalah Felisha. Kalo emang beneran begitu berarti Felisha agak sedikit bagus moodnya, dan gwa bisa coba usaha minta maaf lagi tapi nga usah make acara nyanyi2 segala. Lagian suara gwa kayaknya udah abis nih. Akhirnya gwa cuma beraniin diri gwa ngintipin keadaan didalam lewat lubang kunci aja. Daripada gwa sok yakin ngelongokin kepala lewat jendela trus akhirnya malah kena semprot lagi sama Felisha, mendingan gwa intai2 aja dulu lewat lubang kunci.
Tapi kok gelap ya, padahal gwa lirik kearah jendelanya malah terang benderang kok kamarnya. Tapi kok ini gelap banget ya? Gwa tempelin bener2 mata gwa kelobang kunci, sementara kedua tangan gwa nempel dipintu, biar bener2 dapet view yang bagus (yang biasa ngintip udah pasti bisa bayangin gaya gwa saat itu deh
). Tapi beneran masih gelap juga tuh. Jangan-jangan.......

"Eh si Ropik, santai bener gaya lo kayak dipantai. Ada apaan nih pagi2 gini?" sapa gwa sambil nyari2 kunci kamar gwa diseputaran pot2 kembang yang berjejer rapi didepan teras kamar.
"Biasa bang, hari ini kita dapet sewa 3 nih. Buruan bang, soalnya ada yang dari pagi udah minta dianterin barangnya. Emangnya tadi nga ngeliat sms yang gwa kirim dari hapenya bang Jali, bang?" jawab Ropik dengan antusias.
"Gwa nga tau Pik, oh, pantesan gwa silence telpon gwa tadi" gwa meriksa hape gwa, "wuih mantep banget dapet 3 orderan. Jauh2 nga Pik?"
"Kagak bang, pokoknya kagak ada yang nyampe nyebrang bates dah. Makanye, buruan bang, daripada nanti pada dibatalin sewanya" desak Ropik yang udah nga sabaran.
"Iya-iya, gwa naroh tas dulu ya. Bentaran"
Setelah gwa naruh tas dan jaket gwa dikamar dan ganti sepatu gwa sama sendal jepit, gwa keluar lagi. Nga lupa ngunci kamar dan naruh kunci2nya diantara pot2. Lalu kita jalan menuju mobilnya Kenshi yang diparkir didepan.
"Pik, lo udah lancar khan bawa mobilnya? Lo yang bawa aja ya?" gwa menawarkan Ropik buat jadi sopirnya. Soalnya gwa ngerasa selama beberapa bulan gwa ngajarin dia bawa mobil, Ropik udah cukup lancar dan lihai bawa mobil. Lagian, badan gwa masih berasa capek dan pegel, "tapi lo yakin nga jauh2 dan ngelewatin jalan rawan polisi khan?"
"Iye bang, kebanyakkan antar kampung aja sih jalurnya. Ini beneran gwa yang nyetir nih?"
"Iya Pik, biar makin lancar alo nyetirnya. Kalo bisa lo buruan deh ngambil SIM, siapa tau nanti lo bisa nyopirin mobil orang" kata gwa ketika udah didalem mobil. Untung aja mobil Kenshi AC-nya masih berasa, sedangkan diluar cuacanya udah panas menyengat aja.
"Lah, nyopirin mobil orang? Emangnya kite udah nga ngerentalin mobil lagi bang?" muka Ropik keliatan bingung.
"Ya gitu deh Pik, gwa ada rencana mau ikut kerja sama si Ridho. Lagian, khan lo tau ini bukan mobil gwa. Kalo ini mobil gwa sih, gwa bakal percayain buat elo bawa2 deh Pik"
"Yah bang, terus gimana nasib gwa dong? Padahal hasil bantu2in abang ngerental mobil lumayan banget buat gwa" muka Ropik melas banget.
Duh, kasihan juga gwa ngeliat ekspresi muka Ropik yang melas gitu. Iya juga ya, kalo gwa nga ngerentalin ini mobil lagi, gimana nasibnya si Ropik ya? Ini anak boleh dibilang rajin banget dan bisa dipercaya banget kelakuannya. Ketika temen2 seumurannya ngabisin waktunya disekolahan dan nongkrong2 nga jelas, Ropik cuma luntang-lantung kerja serabutan karena orang tuanya nga mampu nerusin biaya sekolahnya sampe SMA. Mana adek2nya banyak dan masih kecil2 pulak. Apalagi umur si Ropik masih muda banget dan labil, takutnya nanti kalo luntang-lantung lagi dia jadi bengal dan ikut2an pergaulan yang nga bener.
"Iya ya Pik, lo bakalan nganggur ya kalo gwa nga ngerentalin ini mobil lagi" sahut gwa ngenes, "tapi nanti deh gwa tanya sama yang punya mobil, kira2 dia keberatan nga ya kalo mobilnya nanti elo yang bawa"
"Iya bang, tanyain yah sama yang punya? Gwa bakalan tanggung jawab dah. Nyawa gwa tarohannya kalo gwa bakal macem2in ini mobil nantinya." kata Ropik dengan sungguh2.
"Nga usah ngomong kayak gitu Pik, gwa percaya kok sama elo. Yang penting kalo nanti dapet ijin sama yang punya mobil, lo musti bikin SIM ya?" jawab gwa sambil menepuk2 pundaknya.
"Iya bang, cuman nanti gwa kasbon dulu kali kalo jadi bikin SIM." Ropik garuk2 kepalanya sambil tersenyum malu.
"Iye, nanti gwa usahain deh. Yang penting dapetin ijinnya dulu dah. Doain aja biar kesampean Pik"
"Amin"
Gwa lihat Ropik tersenyum seneng banget. Duh, nga tega rasanya kalo si Kenshi nantinya keberatan nyerahin mobilnya ke si Ropik buat di rentalin. Kalo sama gwa sih, Kenshi kagak banyak syarat selama tahu mobilnya sering gwa sewain. Yang penting pemeliharaan mulai dari service, ganti olie, ngisi bensin dan perbaikan2 kalo lagi ada kerusakan semua jadi tanggung jawab gwa. Masalah uang hasil nyewain mobil, Kenshi nga pernah ambil pusing. Mungkin Kenshi kasihan kali sama gwa, kalo masih dipotong juga jatah gwa.

Gwa nyenderin kepala gwa kebelakang dan coba memejamkan mata gwa. Sebenernya hari ini gwa males banget pengen beraktifitas karena pikiran gwa masih kusut dan kalut. Tapi ngeliat semangat Ropik tadi, gwa jadi nga tega juga kalo nga berangkat ngerentalin mobil. Emang sih, duit gwa juga udah mulai menipis di dompet, jadi lumayan banget hari ini dapet tambahan ngisi dompet gwa. Walau sekere2nya gwa saat itu, tetep gwa nga risau karena gwa masih bisa nadahin tangan gwa ke orangtua buat nyelesaiin masalah keuangan gwa. Seharusnya gwa bisa belajar dari Ropik yang serba kekurangan ini tapi punya semangat untuk kerja dan nga bermalas2an. Atau pada Ridho yang boleh dibilang serba berkecukupan, tapi nga pernah ngandelin ortunya bahkan warisannya pun sama sekali.
****************************
Gwa sama Ropik selesai ngerentalin sekitar jam 7-an malem. Setelah bagi2 hasil kerjaan kita tadi, gwa nge drop-in Ropik diperempatan. Soalnya soal mau belanja-belinji dulu ke supermarket, terutama buat nyogok Felisha biar dia mau maafin kelakuan gwa yang gila kemarenan itu. Jujur aja, seharian tadi perasaan hati gwa lebih kalut mikirin Felisha dibanding Dinda. Bukannya gwa nga prioritasin pikiran gwa ke Dinda, karena gwa anggap masalah sama pacar gwa ini cuma ninggal nunggu moment yang tepat aja mergokinnya. Tapi kalo sama Felisha kayaknya bakal jadi berlarut2 kalo nga buru gwa selesaiin. Belum lagi bayangan mas Arga yang badannya segede2 itu, gwa nga bisa ngebayangin kalo bogemnya bakalan mampir ke muka gwa, kalo sekiranya Felisha ngelaporin kelakuan nga senonoh gwa ini. Masa iya sih muka gwa musti bonyok2 terus tanpa jeda dalam seminggu ini?
Tololnya gwa! Ngapain juga sih bikin sensasi nga genah kayak gitu? Padahal khan harusnya gwa bisa jaga sikap pagi itu? Tapi apa mau dikata, nasi udah jadi bubur dan nga bakal bisa dibalikin jadi nasi lagi. Yang penting sekarang gimana caranya gwa bisa memperbaiki keadaan yang udah kacau ini, dan lebih penting lagi, Felisha mau maafin gwa. Ok lah, kalo Felisha masih nga mau maafin gwa, itu bisa gwa terima. Tapi kalo mas Arga sampe tahu, hadeuh, gwa nga bisa bayangin derita kayak apa yang bakal gwa dapetin nantinya.

Di supermarket gwa udah kebingungan mau ngebeli apaan buat menangin hatinya. Sumprit, gwa bingung. Apalagi selama gwa pacaran sama DInda, gwa nga pernah direpotin sama masalah belanja-belinji hadiah atau segala macem benda buat mempermanis hubungan kita. Kalo pun ada yang musti gwa hadiahin atau beliin buat Dinda, itupun atas permintaannya bukan atas inisiatif gwa sendiri. Yup, gwa emang cowok yang kagak romantis sedunia kayaknya.

Akhirnya gwa putuskan ngebeli sebatang coklat yang bentuknya segitiga dan gwa ambil yang ukurannya paling gede. Konon kabarnya sih, cewek paling seneng kalo dihadiahin coklat. Ya mudah2an aja Felisha juga begitu. Pas dikasir iseng2 aja gwa nanya sama mbak2nya, kira2 coklatnya bisa dikasih pita nga. Eh, ternyata bisa. Ya udah, sekalian aja tuh coklat dibikin kece dipakein pita. Biar makin keliatan unyu2nya.

Nyampe dikost-an, gwa jalan mindik2 ketika ngelewatin bagian depan kamarnya Felisha. Sekilas dari celah pintunya yang sedikit terbuka, gwa ngeliat Felisha lagi sibuk didepan meja kecilnya. Hmm, kayaknya dia lagi sibuk sama draft skripsinya yang kalo nga salah udah nyampe di bab terakhir. Dan kayaknya Felisha nga ngeliat kalo gwa udah nyampe.
Gwa puter kenop pintu dan mendorongnya pelan2. Eits, ternyata masih dikunci. Biasanya kalo Felisha udah nyampe, pintu kamar gwa walaupun tertutup tapi nga dikunci. Soalnya khan dia biasa mondar-mandir dikamar gwa, terutama kalo dia mau ke kamar mandi. Waduh, berarti Felisha emang masih marah sama gwa, bahkan untuk mandipun dia bela2in numpang di kamar mandinya Ridho yang posisinya deket dapurnya. Makin deg2an aja nih gwa.
Dikamar gwa sibuk nyusun rencana gwa buat minta maaf ke Felisha. Hmm, gwa musti ngomong apa ya? Selagi gwa mikir, mata gwa tertuju pada gitarnya Ridho yang ngejogrog diatas kasur gwa. Aha, gwa sambil nyanyiin lagu aja yak, secara suara gwa juga khan nga malu2in banget.
Tapi lagu apa yah cocoknya? Ahahahaha, lagu favoritnya si Ridho aja, yang biasanya dia ulang2 terus nyanyiinnya kalo lagi gitaran dikamar gwa. Saking seringnya Ridho nyanyiin, sampe hapal diluar kepala gwa. Lagian kayaknya cocok tuh sama temanya hari ini. Okeh, brangcuts!Sambil nenteng2 gitar dan coklat gwa keluar menuju kamarnya Felisha. Sebelumnya gwa cabut kembang yang ada di pot depan kamar, soka kata Ridho ketika gwa nanyain nama kembang yang ada di pot itu. Bodo' lah kalo gwa nga kreatif, yang penting usaha gwa ini bisa bikin melting Felisha.
"Permisi mbak, saya mau numpang ngamen. Jreeenggggg" gwa berdiri didepan pintu dengan posisi paling keren. Sementara kembang sama coklatnya gwa umpetin dulu dari pandangannya, gwa taruh di bangku rotan yang ada didepan kamarnya Felisha.
Felisha menatap gwa dengan dingin, seolah kayak ngeliat orang yang nga dikenal aja. Nga ada senyum dibibirnya yang mungil itu, nga ada juga tatapan penuh amarah dimatanya yang selalu bersinar itu. Semua datar2 aja. Lalu dia bangkit dari duduknya dan mendekati gwa. Duh, makin deg2an deh gwa. Tahu2, brak!, pintunya ditutup dengan bantingan yang sangat keras. Gwa cuma bisa merasakan hempasan anginnya, yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah gwa. Hampir aja hidung gwa jadi korban lagi.

Lemes deh gwa, rencana gwa malem itu gagal total nga dapet respon positif dari Felisha. Gwa terduduk tanpa daya di bangku rotan didepan kamarnya, ngebayangin apa yang bakal terjadi nantinya. Felisha yang selalu masang muka asem kalo ketemu dan bogem mentah dari mas Arga. Ngebayangin kepalan tangan mas Arga yang pastinya gede dan mampir kemuka gwa bener2 ngebangkitin keberanian gwa saat itu juga. Nga rela gwa, kalo muka gwa musti bonyok2 lagi!

Lagi gwa mulai mainin gitar yang ada dipangkuan gwa, masih dengan posisi duduk disitu. Dan gwa kerasin sedikit volume suara gwa. Jereng...jreennnggg....
Dan....bila esok...datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda
Dan...perlahan kaupun lupakan aku
Mimpi burukmu...dimana t'lah ku tancapkan duri tajam
Kaupun menangis...menangis sedih
Maafkan aku
Dan...bukan maksudku...bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu...menepikanmu
Maafkan aku....
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Dan...bukan maksudku...bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu...menepikanmu
Maafkan aku....
Sampe selesai itu lagu, nga ada tanggepan sedikitpun dari Felisha. Nga ada tanda2 dia mau bukain pintu terus keluar dan maafin gwa. Nga, sama sekali nga ada. Atau misalnya kedengeran suara Felisha terisak2 saking terharunya ngedengerin gwa nyanyiin lagu ini. Nga, nga ada juga. Argghh, gwa ngerasa jadi korban film atau cerita roman picisan, yang selalu sukses ngelumerin hati wanitanya dengan action kayak gini.
Tapi gwa nga mau putus asa, bayangan bogemnya mas Arga yang bakal mampir ke muka gwa membuat gwa mencoba nyanyiin lagu ini. Hanya aja gwa mulai dari reffnya aja, biar lebih ngena sama maksud dan tujuan gwa.
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Setelah selesai gwa tunggu responnya. Ternyata masih nihil juga. Lalu kembali gwa ulang lagi reffrain itu sampe selesai. Dan lagi2 nga ada responnya. Gwa ulang lagi, dan nga ada respon lagi. Gwa ulang lagi, nga ada respon lagi. Sampe gwa keringetan, suara gwa mulai berasa serak tetep nga direspon.
Akhirnya kumat lagi gila gwa. Gwa nyanyiin refrain itu sesuka hati gwa. Kadang dengan style nge jazz, dangdut, nge blues sampe metal tetep nga direspon juga. Dan selagi asyik2nya gwa nyanyiin dengan gaya grindcore, tiba2 ditengah2 refrain berasa ada yang nimpuk gwa make bungkus rokok, tepat ngenain muka gwa.
"Woi, berisik tauk!" nga taunya malah Ridho yang ngomel2 dari balik jendela rumahnya.
"Hehehehehe...." gwa cuma nyengir2 tolol aja ngedapetin respon dari Ridho.
"Cing, bujug dah. Pelanin dikit ngapa suara lo. Kedengeran sampe kamar nih, kasihan bini gwa nga bisa tidur!" Ridho masih ngomelin gwa.
"Iya-iya Dho, sori ya. Nga lagi2 dah gwa" jawab gwa tengsin.
Asli malu banget gwa. Kayaknya tadi gwa kesetanan nyanyinya, sampe Ridho yang didalem kamarnya berasa keganggu sama suaranya. Padahal jarak rumahnya sama kamar Felisha lumayan juga, tambahan kamarnya juga masih agak kedalem. Untung2 aja tetangga sebelah sama belakang agak jauh2an juga jaraknya, bisa2 bisa didemo gwa. Tapi sekilas, kuping gwa berasa nangkep suara cekikikan dari dalem kamarnya Felisha. Apa jangan2 dia lagi ngetawain gwa yang diomelin sama Ridho ya?
Pengennya sih gwa ngelongokin kepala gwa dari balik jendela buat mastiin kalo yang cekikikan tadi adalah Felisha. Kalo emang beneran begitu berarti Felisha agak sedikit bagus moodnya, dan gwa bisa coba usaha minta maaf lagi tapi nga usah make acara nyanyi2 segala. Lagian suara gwa kayaknya udah abis nih. Akhirnya gwa cuma beraniin diri gwa ngintipin keadaan didalam lewat lubang kunci aja. Daripada gwa sok yakin ngelongokin kepala lewat jendela trus akhirnya malah kena semprot lagi sama Felisha, mendingan gwa intai2 aja dulu lewat lubang kunci.
Tapi kok gelap ya, padahal gwa lirik kearah jendelanya malah terang benderang kok kamarnya. Tapi kok ini gelap banget ya? Gwa tempelin bener2 mata gwa kelobang kunci, sementara kedua tangan gwa nempel dipintu, biar bener2 dapet view yang bagus (yang biasa ngintip udah pasti bisa bayangin gaya gwa saat itu deh
). Tapi beneran masih gelap juga tuh. Jangan-jangan.......
sormin180 memberi reputasi
1
Kutip
Balas