- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#88
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
Quote:
PART XII
1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
‘Makasih ya pak’
‘Iya Fia. Saya kan sudah bilang kalau saya ikhlas’
‘Gpp pak. Walopun Bapak ikhlas, tapi saya masih punya puluhan ribu utang kata ‘terima kasih’
‘Udah ah, kasian Ari tu capek’ baru aja gua nyampe di depan Rumah Fia. Hari sudah mulai gelap. Target sore hari yang semula diagendakan tampaknya sedikit molor gara-gara keasyikan jalan-jalan dan ngobrol. But overall, hari ini terasa sangat menyenangkan.
‘Mw aku bantu angkat barang?’
‘Gak Gak pak ga usah, Cuma 1 tas aja kok’
‘Oke kalo gitu. Titip salam buat Mbah Kakung ya?’
‘Iya Pak, saya turun ya’ Fia meraih tangan gua. Fia mencium tangan gua! Eh bukan mencium, kurang tepat. Tapi Fia mengucapkan salam dengan meraih tangan gua dan menyentuhkan di pipinya. Alus hehe. Kayak tahu sutera.
Fia beranjak dari mobil, Ari sudah tidur tampaknya dalam gendongan Fia. Gua langsung beranjak dari sana, sebenernya gua pengen mampir ke rumah Fia. Tapi karena hari sudah malam dan ga enak sama tetangga Fia, gua memutuskan langsung pulang.
Oh my God. Kemarin Lena, sekarang Fia. 26 tahun gua hidup ga pernah ada cewek cium tangan gua kalo pamit. Dan sekarang hanya dalam waktu 1 minggu ada 2 orang cewek cium tangan gua!
---
‘Pak, dicari Pak Andre’ Lena mengetuk ruangan gua. Baru jam setengah 9 pagi. Gua juga masih ngecek2 email dan laporan kemarin sambil ngopi.
‘Suruh masuk aja’ Gua menyahut.
‘Eh kamu ndre, gimana?’
‘Saya duduk ya pak?’
‘Iya iya silahkan’
‘Gini Pak. Kemarin kita kan udah dapat tambahan 10 karyawan harian buat menutup beberapa kekurangan tenaga’
‘Heem’
‘Nah.. Salah satunya saya taruh di bagian ekspedisi, karena Fia kan ga masuk lama tu, jadi saya replace dengan karyawan baru.’
‘Oh ya ya’ Gua baru ingat. Memang beberapa hari yang lalu permohonan tambahan pekerja sudah disetujui dan sudah mulai bekerja beberapa hari yang lalu.
‘Saya agak bingung pak masalah Fia ini. Karena slot kosong di bagian produksi sudah ga ada’
‘Owh. Ni sekarang Fia dimana?’
‘Masih bantu-bantu bagian ekspedisi’
‘Bentar biar Lena cek dulu’
‘Len, bisa kamu cek list posisi pekerjaan 10 orang yang baru?’ Gua menghampiri Lena.
‘Bisa Pak’
‘Ndre kamu suruh Fia ke sini dulu aja’
‘Siap Bos!’ Andre memang cukup akrab dengan gua. Karena dari sejak pertama kerja di perusahaan ini, gua sudah kenal andre. Andre langsung ngeloyor pergi dari ruangan gua.
‘Ini Pak listnya’ Lena kemudian duduk di depan gua.
‘Memangnya slot yang kosong bagian mana si?’ Tanya gua sambil bolak-balik kertas yang dikasi Lena.
‘Bagian Admin Pak’
‘Admin?’
‘Iya yang bantu-bantu saya di sini’
‘O iya gua pelupa banget’ Memang beberapa hari yang lalu gua minta admin baru ke pusat. Namun menurut pusat, pekerjaan administrasi masih bisa di handle Lena seorang diri. Gua terus terang ga tega liat Lena yang sering keteteran kesana sini. Dan akhirnya, bukan staff admin yang disetujui pusat, hanya pembantu admin yang tugasnya ngetik2 laporan dll. Pantesan aja slot produksi sudah ga ada.
Tapiiii?? Fia? Kagak salah ni? Gua jadi bingung. Seneng si jujur, tapi gua ga enak banget sama Lena. Gua ga bayangin; Gua, Lena dan Fia dalam 1 ruangan?? Oh my God..
---
‘Fi, kamu mulai hari ini saya pindah ke sini ya’ Fia duduk di depan gua. Dan Entah kenapa Lena daritadi cemberut setelah mendengar Fia yang akan mengisi posisi asistennya.
‘Eh iya pak, saya jadi ngrepotin banyak orang’
‘Udah gpp. Km bisa operasikan komputer kan?’
‘Bisa kok pak.’
‘Nanti biar Lena yang ajarin kamu. Mulai sekarang Lena jadi atasan langsung kamu. Oke?’
‘Ya Pak’
‘Oke Len?’ Gua ngomong ke Lena yang berdiri di belakang Fia.
‘Hmmm…’
‘Ya udah Len, tunjukin Fia mejanya’
‘Hmmm…’
Gua merasa agak aneh dengan situasi ruangan gua. Ruangan gua dibagi menjadi 2 partisi, ruangan gua dan ruangan Lena. Jika mau ke ruangan Gua, maka Tamu harus lewatin ruangan Lena dulu, karena yang berhubungan langsung dengan pintu keluar adalah ruangan Lena. Kebayang kan?
Tiap Gua ngomong ke Fia, Lena ngeliatin gua terus. Terus terang gua merasa agak aneh. Kalo gua ngomong ke Lena, Fia si diem aja. Tapi gua gak enak sama Fia. Prinsip gua untuk tidak mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan bener2 bener diuji di sini. Yah memang hal ini udah gua prediksi bakal terjadi, tapi gua ga mau terlalu GeeR juga kan? Emangnya Lena ma Fia udah pasti suka ma gua?
---
Jam 5 Sore.
‘Lo kamu belum mau pulang Fi?’ Tanya gua saat melewati ruangan Lena dan Fia.
‘Eh belum pak. Kurang dikit’ Fia mengatupkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
‘Lena mana?’
‘Kayaknya nungguin bapak tu di depan ruangan’
‘Owh’ Gua menyusul Lena keluar.
‘Len’
‘Eh pak sudah selesai? Jadi ke rumah saya?’ Lena memang mengajak gua ke rumahnya. Dia mempromosikan masakannya, ngotot nyuruh gua cicipin masakannya.
‘La kamu mau tinggal Fia sendiri?’
‘Eh..’
‘Dia lagi kerjain apa sih?’
‘Laporan harian buat absensi pak’
‘Kita pulang bareng aja deh. Kamu kalo lagi ngerjain laporan kan juga aku tungguin kan? Kalo aku pulang malem juga kamu tungguin. Kita harus biasain hal kayak gini donk’ Gua balik masuk ruangan. Lena akhirnya ngikutin gua masuk ke ruangan.
Akhirnya, Lena cemberut. Walaupun akhirnya Lena bantuin Fia buat nyusun laporan.
Udah 2 hari Fia kerja di ruangan gua. Gua harus akui kalo Fia itu orangnya pinter. Dia bisa menyesuaikan dengan cepat apa yang menjadi pekerjaan barunya. Jika biasanya gua dan Lena pulang di atas jam 6 sore. Sekarang bisa pulang agak cepetan dikit.
Cuma 1 masalahnya. Entah kenapa gua merasa Lena dan Fia ga bisa terlalu akrab. Huft..
Gua mulai mikir, gimana ada orang bisa punya 2 istri bahkan lebih. Apa ga pusing ya?
‘Mbak Lena, saya pulang dulu ya’ 15 menit kemudian Fia udah slese dengan pekerjaannya.
‘Iya Fi.’
‘Maaf ya mbak kalo saya ada salah’
‘Enggak enggak. Emang aku orangnya suka gak mood jadi jangan diambil hati haha’ Lena mencoba mencairkan suasana.
‘Pak saya pulang’
‘Iya ati-ati’ Gua melihat Fia berboncengan dengan Resty. Gua Cuma geleng-geleng melihat tingkah laku Lena.
‘Yuk Pak’ Gua berjalan ke tempat parkir bareng Lena. Yah makan malem gratis, lumayan. Trauma-trauma masa lalu gua mengiintip lagi. Entah kenapa walaupun gua udah dikasi rejeki cukup, tapi kalau denger makan gratis rasanya masih sayang untuk dilewatkan.
‘Kok udah ga cemberut?’
‘Emang saya cemberut?’
‘Emangnya dari tadi saya ga liatin muka kamu?’
‘Ehehe lagi sensi aja pak’ Lena mrenges.
‘Huft’
‘Kenapa pak?’ Tanya Lena.
‘Gpp lagi sensi aja…’
‘Hahaha Bapak Lucu’
‘Hadehh…’
Dalam ruangan gua, ada 2 cinta yang berbeda arah. Entah gua bener ato salah tapi perasaan gua mengatakan hal itu.
Gua menstater motor gua. Lena membonceng di belakang gua.
1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
‘Makasih ya pak’
‘Iya Fia. Saya kan sudah bilang kalau saya ikhlas’
‘Gpp pak. Walopun Bapak ikhlas, tapi saya masih punya puluhan ribu utang kata ‘terima kasih’
‘Udah ah, kasian Ari tu capek’ baru aja gua nyampe di depan Rumah Fia. Hari sudah mulai gelap. Target sore hari yang semula diagendakan tampaknya sedikit molor gara-gara keasyikan jalan-jalan dan ngobrol. But overall, hari ini terasa sangat menyenangkan.
‘Mw aku bantu angkat barang?’
‘Gak Gak pak ga usah, Cuma 1 tas aja kok’
‘Oke kalo gitu. Titip salam buat Mbah Kakung ya?’
‘Iya Pak, saya turun ya’ Fia meraih tangan gua. Fia mencium tangan gua! Eh bukan mencium, kurang tepat. Tapi Fia mengucapkan salam dengan meraih tangan gua dan menyentuhkan di pipinya. Alus hehe. Kayak tahu sutera.
Fia beranjak dari mobil, Ari sudah tidur tampaknya dalam gendongan Fia. Gua langsung beranjak dari sana, sebenernya gua pengen mampir ke rumah Fia. Tapi karena hari sudah malam dan ga enak sama tetangga Fia, gua memutuskan langsung pulang.
Oh my God. Kemarin Lena, sekarang Fia. 26 tahun gua hidup ga pernah ada cewek cium tangan gua kalo pamit. Dan sekarang hanya dalam waktu 1 minggu ada 2 orang cewek cium tangan gua!
---
‘Pak, dicari Pak Andre’ Lena mengetuk ruangan gua. Baru jam setengah 9 pagi. Gua juga masih ngecek2 email dan laporan kemarin sambil ngopi.
‘Suruh masuk aja’ Gua menyahut.
‘Eh kamu ndre, gimana?’
‘Saya duduk ya pak?’
‘Iya iya silahkan’
‘Gini Pak. Kemarin kita kan udah dapat tambahan 10 karyawan harian buat menutup beberapa kekurangan tenaga’
‘Heem’
‘Nah.. Salah satunya saya taruh di bagian ekspedisi, karena Fia kan ga masuk lama tu, jadi saya replace dengan karyawan baru.’
‘Oh ya ya’ Gua baru ingat. Memang beberapa hari yang lalu permohonan tambahan pekerja sudah disetujui dan sudah mulai bekerja beberapa hari yang lalu.
‘Saya agak bingung pak masalah Fia ini. Karena slot kosong di bagian produksi sudah ga ada’
‘Owh. Ni sekarang Fia dimana?’
‘Masih bantu-bantu bagian ekspedisi’
‘Bentar biar Lena cek dulu’
‘Len, bisa kamu cek list posisi pekerjaan 10 orang yang baru?’ Gua menghampiri Lena.
‘Bisa Pak’
‘Ndre kamu suruh Fia ke sini dulu aja’
‘Siap Bos!’ Andre memang cukup akrab dengan gua. Karena dari sejak pertama kerja di perusahaan ini, gua sudah kenal andre. Andre langsung ngeloyor pergi dari ruangan gua.
‘Ini Pak listnya’ Lena kemudian duduk di depan gua.
‘Memangnya slot yang kosong bagian mana si?’ Tanya gua sambil bolak-balik kertas yang dikasi Lena.
‘Bagian Admin Pak’
‘Admin?’
‘Iya yang bantu-bantu saya di sini’
‘O iya gua pelupa banget’ Memang beberapa hari yang lalu gua minta admin baru ke pusat. Namun menurut pusat, pekerjaan administrasi masih bisa di handle Lena seorang diri. Gua terus terang ga tega liat Lena yang sering keteteran kesana sini. Dan akhirnya, bukan staff admin yang disetujui pusat, hanya pembantu admin yang tugasnya ngetik2 laporan dll. Pantesan aja slot produksi sudah ga ada.
Tapiiii?? Fia? Kagak salah ni? Gua jadi bingung. Seneng si jujur, tapi gua ga enak banget sama Lena. Gua ga bayangin; Gua, Lena dan Fia dalam 1 ruangan?? Oh my God..
---
‘Fi, kamu mulai hari ini saya pindah ke sini ya’ Fia duduk di depan gua. Dan Entah kenapa Lena daritadi cemberut setelah mendengar Fia yang akan mengisi posisi asistennya.
‘Eh iya pak, saya jadi ngrepotin banyak orang’
‘Udah gpp. Km bisa operasikan komputer kan?’
‘Bisa kok pak.’
‘Nanti biar Lena yang ajarin kamu. Mulai sekarang Lena jadi atasan langsung kamu. Oke?’
‘Ya Pak’
‘Oke Len?’ Gua ngomong ke Lena yang berdiri di belakang Fia.
‘Hmmm…’
‘Ya udah Len, tunjukin Fia mejanya’
‘Hmmm…’
Gua merasa agak aneh dengan situasi ruangan gua. Ruangan gua dibagi menjadi 2 partisi, ruangan gua dan ruangan Lena. Jika mau ke ruangan Gua, maka Tamu harus lewatin ruangan Lena dulu, karena yang berhubungan langsung dengan pintu keluar adalah ruangan Lena. Kebayang kan?
Tiap Gua ngomong ke Fia, Lena ngeliatin gua terus. Terus terang gua merasa agak aneh. Kalo gua ngomong ke Lena, Fia si diem aja. Tapi gua gak enak sama Fia. Prinsip gua untuk tidak mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan bener2 bener diuji di sini. Yah memang hal ini udah gua prediksi bakal terjadi, tapi gua ga mau terlalu GeeR juga kan? Emangnya Lena ma Fia udah pasti suka ma gua?
---
Jam 5 Sore.
‘Lo kamu belum mau pulang Fi?’ Tanya gua saat melewati ruangan Lena dan Fia.
‘Eh belum pak. Kurang dikit’ Fia mengatupkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
‘Lena mana?’
‘Kayaknya nungguin bapak tu di depan ruangan’
‘Owh’ Gua menyusul Lena keluar.
‘Len’
‘Eh pak sudah selesai? Jadi ke rumah saya?’ Lena memang mengajak gua ke rumahnya. Dia mempromosikan masakannya, ngotot nyuruh gua cicipin masakannya.
‘La kamu mau tinggal Fia sendiri?’
‘Eh..’
‘Dia lagi kerjain apa sih?’
‘Laporan harian buat absensi pak’
‘Kita pulang bareng aja deh. Kamu kalo lagi ngerjain laporan kan juga aku tungguin kan? Kalo aku pulang malem juga kamu tungguin. Kita harus biasain hal kayak gini donk’ Gua balik masuk ruangan. Lena akhirnya ngikutin gua masuk ke ruangan.
Akhirnya, Lena cemberut. Walaupun akhirnya Lena bantuin Fia buat nyusun laporan.
Udah 2 hari Fia kerja di ruangan gua. Gua harus akui kalo Fia itu orangnya pinter. Dia bisa menyesuaikan dengan cepat apa yang menjadi pekerjaan barunya. Jika biasanya gua dan Lena pulang di atas jam 6 sore. Sekarang bisa pulang agak cepetan dikit.
Cuma 1 masalahnya. Entah kenapa gua merasa Lena dan Fia ga bisa terlalu akrab. Huft..
Gua mulai mikir, gimana ada orang bisa punya 2 istri bahkan lebih. Apa ga pusing ya?
‘Mbak Lena, saya pulang dulu ya’ 15 menit kemudian Fia udah slese dengan pekerjaannya.
‘Iya Fi.’
‘Maaf ya mbak kalo saya ada salah’
‘Enggak enggak. Emang aku orangnya suka gak mood jadi jangan diambil hati haha’ Lena mencoba mencairkan suasana.
‘Pak saya pulang’
‘Iya ati-ati’ Gua melihat Fia berboncengan dengan Resty. Gua Cuma geleng-geleng melihat tingkah laku Lena.
‘Yuk Pak’ Gua berjalan ke tempat parkir bareng Lena. Yah makan malem gratis, lumayan. Trauma-trauma masa lalu gua mengiintip lagi. Entah kenapa walaupun gua udah dikasi rejeki cukup, tapi kalau denger makan gratis rasanya masih sayang untuk dilewatkan.
‘Kok udah ga cemberut?’
‘Emang saya cemberut?’
‘Emangnya dari tadi saya ga liatin muka kamu?’
‘Ehehe lagi sensi aja pak’ Lena mrenges.
‘Huft’
‘Kenapa pak?’ Tanya Lena.
‘Gpp lagi sensi aja…’
‘Hahaha Bapak Lucu’
‘Hadehh…’
Dalam ruangan gua, ada 2 cinta yang berbeda arah. Entah gua bener ato salah tapi perasaan gua mengatakan hal itu.
Gua menstater motor gua. Lena membonceng di belakang gua.
0
Kutip
Balas