- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#78
PART XI SUNDAY
Quote:
PART XI
SUNDAY
‘Maaf ya Len, kamu jadi ikut repot karena masalah ini’ Gua berhenti di depan rumah Lena. Lena masih ucek-ucek mata karena mengantuk.
‘Gpp pak. Saya seneng kok bisa bantu’
‘Hm orang tua kamu mana?’ Tanya Gua, niatnya gua mau pamit donk sama mereka.
‘Orang tua saya ya di rumah mereka donk pak. Ini kan rumah kontrakan saya’ Lena tersenyum sambil membereskan tas dia.
‘owh..’
Gua perhatiin Lena malem itu. Walaupun wajahnya kusut karena ngantuk, tapi ada senyum yang ga hilang dari wajahnya. Wanita yang hebat, batin gua.
‘Pak, Lena pamit ya’ Lena meraih tangan gua dan menciumnya.
‘Eh eh iya..’ Gua jadi agak grogi. Baru pertama kali ada cewek pamitan cium tangan gua.
‘Bau Lele!!’ Lena sambil mengendus tangan gua, spontan gua tarik tangan gua.
‘Apa iya?’ Gua malu.
‘Enggak enggak pak. Becanda kok. Haha…’
‘…’
‘Ya udah bapak ati ati yaaaa…’ Lena melambaikan tangan sambil menutup pintu mobil.
Gua beranjak pelan dari Rumah Lena, gua liat dia masih ngeliatin gua dari depan rumah sampai hilang dari pandangan.
---
Semuanya tampak sama. Hari-hari gua berjalan normal saja. Memang sejak malam gua ajak Lena ke Yogyakarta, Lena dan gua jadi sering smsan. Sms Lena yang cerewet dan konyol sangat menghibur gua ketika gua sendirian. Bahkan sering, Lena yang ada di depan pintu ruangan gua, mengirim sms ke gua, padahal jarak gua dan Lena ga nyampe 5 meter dan Cuma kepisah tembok.
Sedangkan Fia, hampir tiap malem gua ke Yogyakarta buat jenguk Ari, hanya ada 2 hari bolong karena gua harus lembur dan ga memungkinkan gua ke Yogyakarta. Tiap pagi, gua pasti sempetin telpon Fia untuk menanyakan kabar, menanyakan kebutuhan dia, kondisi Ari juga pastinya.
---
11 Hari, Ari dirawat di Rumah Sakit. Kondisinya sudah sangat sangat membaik. Tidak ada selang oksigen dan infus yang menempel di tubuh kecilnya lagi. Dan hari itu, Gua mau jemput Fia dan Ari.
Sebenernya Ari sudah diperpolehkan pulang kemarin. Namun karena kesibukan gua, akhirnya gua putuskan jemput Ari di hari minggu, keesokan harinya.
‘Pakk… saya kok ga diajak?’ Lena merengek minta diajak. Darimana juga dia tau kalo pagi ini gua mau jemput Fia.
‘Ga usah. Lagian Cuma jemput doank, ngapain bawa-bawa sekretaris segala’ Gua ga mau kalah dalam perdebatan gua dengan Lena pagi itu via Telpon.
‘Ah Bapak ga asik’
‘Biarin’
‘….’
‘Ngambek?’
‘Iya.. uh’
‘Hmm..’
‘Gimanaaa pakkk?’
‘Lo udah slese ngambeknya?’
‘Kalo bapak ajak saya, saya ga ngambek lagi deh’
‘Ngambek aja gpp kalo gitu. Udah ah nanti kesiangan, Aku mau berangkat sekarang’
‘Huh…’
‘…’
‘Bapak jahat ih’
‘Ya udah kapan-kapan, ajak saya ke Yogya ya. Katanya mau ajak saya ke mana itu kemarin..’
‘AMPLAZZZ!’
‘Iya iya situ’
‘Horeee minggu depan ya pak?’
‘Iya liat keadaan’
‘Ya udah bapak ati-ati yaaa’
‘Yaa.. Tuut Tuut’ Gua menutup telpon.
Sebenernya akan lebih mudah kalo gua ajak Lena, karena Lena mungkin bisa bantu-bantu gua disana. Tapi maaf Len, hari ini gua mau jemput piala gua. Gua langsung tancap gas setelah gua panasin mobil. Nggak lupa, cess fuhhh…. Nikmat banget pagi-pagi gn ngrokok sambil nyetir mobil…
----
‘Udah ga ada yang ketinggalan?’ Gua menanyakan untuk kesekian kali.
‘Nggak Pak’ Fia berdiri di depan gua setelah selesai urusin beberapa urusan di bagian Administrasi.
Yang gua ingat dan membekas dalam ingatan gua sampai saat ini, pagi itu gua yang gendong Ari. Ga tau kenapa Ari ‘nempel’ banget sama gua. Padahal kata Fia, Ari ga sembarangan mau digendong orang. Mungkin feeling Ari yang menganggap gua bapaknya –ngarep-.
‘Bapak dibilang suami yang baik tuh’ kata Fia berjalan di samping gua.
‘O ya sama siapa?’
‘Tuh suster yang jaga di loket’
‘Hahaha… kok bisa?’ memang pagi itu, kami kayak keluarga kecil yang bahagia.
‘Katanya bapak telaten banget tiap malem kesini. Saya kan crita kalo Bapak kerja jadi malem doank bisa nengok’
‘Hehe jadi Ge-Er’ Gua tersenyum ke Fia, Fia tersenyum ke gua. Ari? Plok! Gua ditampol Ari.
Alangkah bahagianya ketika Tuhan membiarkan kita sedikit mengintip dan mengalami apa yang kita cita-citakan di masa depan.
Ari menunjuk-nunjuk penjual balon yang ada di pintu keluar RS. Kayaknya dia ngotot pengen mainan.
‘Ari mau balon?’
‘…’ Ari memandang gua sambil mengangguk. Anak seumuran Ari gua yakin udah paham kata-kata orang dewasa di sekitarnya.
‘Ni…’ Gua mengambil balon sate, iya balon yang dikasi pegangan stik gt, kayak sate.
‘Berapa Ibu?’
‘10rb pak’ kata ibu-ibu penjual balon tadi.
‘Fi.. tolongin donk’ gua kasi kode ke Fia buat ambil dompet di saku celana gua.
‘Udah pake ini aja pak’ Fia buru-buru ambil uang di tasnya. Kedua tangan gua memang sibuk gendong Ari.
‘Dibilang suami yang baik lagi pak’ Fia nyusul gua yang udah berjalan ke arah mobil duluan.
‘Hahaha sama siapa?’
‘Tu ibu yang jualan balon’ Fia tersenyum ke gua. Sumpah Ge-Er banget gua pagi itu.
‘Fi.. Ari kalo aku ajak jalan-jalan dulu capek ga ya?’
‘Eh.. Jalan-jalan kemana memang pak?’
‘Ya ke mall gitu. Mumpung udah di sini’ Gua ber-argumen.
‘Hm gpp mungkin ya asal ga kemaleman’
‘Ya nggak lah. Paling 1 ato 2 jam trus kita baru pulang’ Inilah yang unik. Nge-date sama cewek yang udah punya anak ternyata susah ngatur jadwalnya. Hahaha… Hal-hal konyol mulai mampir di kepala gua.
Gak lama gua udah di Amplaz. Gua sedikit merasa bersalah sama Lena, karena yang ajak gua ke sini kan Lena. Malah gua ajak jalan jalan Fia di sini.
‘Ni bagus gak FI?’ Kata gua sambil mengambil sebuah baju jersey ‘kecil’ buat Ari.
‘Lucu pak’
‘Biar jadi pemain bola si Ari’ kata gua. Gua mengambil jersey tadi. Ari sekarang berada di gendongan Fia.
‘Pak, kita lagi ada promo lo’ kata seorang pemuda yang bertugas sebagai pelayan di counter tadi.
‘O ya apa?’ Kata gua sambil ngeluarin kartu member counter itu. Gua memang langganan beli jersey di counter tadi.
‘Kita ada family packet pak, jadi bisa beli jersey yang Men, Women and Kids, kita kasi harga khusus. Ada juga yang buat couple’
‘Wah boleh tuh, yang family deh’
‘Kita kasi harga xxx rupiah’ mendengar kata ‘xxx’ tadi Fia spontan ambil jersey kids yang gua pegang.
‘Mahal amat pak’ Fia langsung menginterupsi sambil ngeliat label harga jersey tadi.
‘Iya harganya emang segitu’ Gua membela diri.
‘Ah Bapak ini, ga usah ah pak. Di pasar udah dapet 10 biji’ Kata fia sambil ngembaliin jersey tadi ke tempatnya. Mas-mas yang jaga Cuma ketawa kecil aja melihat perdebatan kecil antara gua dan Fia. Gua jadi mikir, kan banyak juga istri yang panggil suaminya ‘Bapak’
‘Gpp lah Fi sesekali’
‘Kalo buat bapak pribadi si gpp pak, kalo buat Ari ato saya jangan yg mahal2 deh’
‘Hm iya iya. Kita liat-liat di tempat lain’
Dan memang masa masa sekarang ini, ga ada yang namanya barang murah di mall. Dan percaya ga percaya pakaian buat anak kecil lebih mahal daripada buat orang dewasa. Hahaha hati-hati kalo kalian udah punya anak besok.
Akhirnya setelah kita muter-muter kesana sini. Ditambah Ari yang ngotot pengen jalan sendiri. Gua dan Fia memutuskan membeli pakaian di C*rrefour. Ya mau dimana lagi? Yang ada pakaian harga di bawah 100 rb ya di situ. Ada sedikit rasa dongkol di hati gua karena dicerewetin Fia masalah belanja. Tapi di satu sisi gua sadar, Fia sedang memerankan sosok istri yang bijaksana. Gua kagum dengan Fia. Kayaknya udah makin jarang cewek yang ga doyan belanja kayak Fia, yg mau dibeliin jersey asli malah minta yang KW, haha.
‘Itu tempat foto ya pak?’ Fia menanyakan sebuah box yang ada di ujung sebuah counter.
‘Iya itu photobox’
‘Foto yuk pak’
‘Eh..’ Gua ga menyangka Fia bakal ngomong gitu.
‘Ayo-ayo aja’
Akhirnya gua, Fia dan Ari masuk ke dalam box dan mengambil beberapa pose foto. Ada 4 lembar foto yang diberikan ke kami. Dan gua ambil 1 lembar foto.
‘Aku minta 1 ya’
‘Hehehe…’ Fia Cuma ketawa. Gua ambil foto selembar dan gua masukin ke dompet. So sweet
Ga terasa hampir 3 jam kami berjalan kesana kemari di mall. Jujur baru kali ini gua jalan-jalan selama itu di sebuah mall. Mentok gua ke mall, Cuma nonton, ato kalo mau beli sesuatu gua langsung ke tempat tujuan. Beda kalo ke Ngasem (pasar hewan, -skrg udah dipindah-) ato klithikan (skrg namanya Kuncen), gua bakal betah berhari-hari nginep disana –lebay-
Gua mengakhiri jalan-jalan di mall hari itu dengan makan siang (padahal udah sore).
‘Buat berapa orang pak?’
‘3’
‘Owh buat family ya? Mari ikut saya pak’
‘..’ Gua ngikut pelayan tadi. Fia dan Ari berjalan di sebelah gua.
Gua dapet tempat duduk yang enak banget. Letaknya outdoor di paling ujung. Cuaca sore itu yang cerah terasa nyaman. Sayangnya gua ga mau (ga bisa) ngerokok, karena gua ga mau Ari kena asap rokok dari gua.
‘Makasi ya pak’
‘Eh..?’
‘Iya saya dan Ari mengucapkan banyak terima kasih’ Fia berbicara dengan formal, mungkin dia pengen gua tau kalo rasa terima kasih yang dia sampaikan bener-bener serius ga Cuma di mulut.
‘Iya. Aku ikhlas kok’ Gua tersenyum.
‘Aku cm pengen, kamu dan Ari dapet apa yang seharusnya kalian dapet’
‘….’
‘Kalo kalian butuh sesuatu, dan aku bisa bantu, aku pasti ada’ Gua meyakinkan Fia.
‘Iya pak’ Fia mulai berkaca-kaca.
‘Udah ah kok malah nangis’
‘Hehe terharu..’
Gua tersenyum memandang Fia dan Ari. Kebahagiaan yang baru pertama kali gua rasain dalam hidup gua. Melihat orang yang kita cintai bahagia, ternyata lebih rasanya daripada kebahagiaan pribadi.
‘Tau gak pak?’
‘Nggak’
‘Belum slese ngomong bapak’ Kata Fia dengan nada manja.
‘Dari dulu, saya ini orang ga punya dan..’
‘…’
‘Saya Cuma pengen ketika saya punya anak, punya suami…’
‘…’
‘Tiap minggu bisa jalan-jalan…’
‘…’
‘Makan bareng…’
‘….’
‘Jalan-jalan di mall… Hehe dari dulu saya jarang banget ke mall soalnya’
‘…’
‘Apalagi naik mobil sendiri… Kayak mimpi…’ Fia tersenyum setelah mengungkapkan apa yang dia rasain.
‘Mimpi kita hampir sama..’ Gua tersenyum.
SUNDAY
‘Maaf ya Len, kamu jadi ikut repot karena masalah ini’ Gua berhenti di depan rumah Lena. Lena masih ucek-ucek mata karena mengantuk.
‘Gpp pak. Saya seneng kok bisa bantu’
‘Hm orang tua kamu mana?’ Tanya Gua, niatnya gua mau pamit donk sama mereka.
‘Orang tua saya ya di rumah mereka donk pak. Ini kan rumah kontrakan saya’ Lena tersenyum sambil membereskan tas dia.
‘owh..’
Gua perhatiin Lena malem itu. Walaupun wajahnya kusut karena ngantuk, tapi ada senyum yang ga hilang dari wajahnya. Wanita yang hebat, batin gua.
‘Pak, Lena pamit ya’ Lena meraih tangan gua dan menciumnya.
‘Eh eh iya..’ Gua jadi agak grogi. Baru pertama kali ada cewek pamitan cium tangan gua.
‘Bau Lele!!’ Lena sambil mengendus tangan gua, spontan gua tarik tangan gua.
‘Apa iya?’ Gua malu.
‘Enggak enggak pak. Becanda kok. Haha…’
‘…’
‘Ya udah bapak ati ati yaaaa…’ Lena melambaikan tangan sambil menutup pintu mobil.
Gua beranjak pelan dari Rumah Lena, gua liat dia masih ngeliatin gua dari depan rumah sampai hilang dari pandangan.
---
Semuanya tampak sama. Hari-hari gua berjalan normal saja. Memang sejak malam gua ajak Lena ke Yogyakarta, Lena dan gua jadi sering smsan. Sms Lena yang cerewet dan konyol sangat menghibur gua ketika gua sendirian. Bahkan sering, Lena yang ada di depan pintu ruangan gua, mengirim sms ke gua, padahal jarak gua dan Lena ga nyampe 5 meter dan Cuma kepisah tembok.
Sedangkan Fia, hampir tiap malem gua ke Yogyakarta buat jenguk Ari, hanya ada 2 hari bolong karena gua harus lembur dan ga memungkinkan gua ke Yogyakarta. Tiap pagi, gua pasti sempetin telpon Fia untuk menanyakan kabar, menanyakan kebutuhan dia, kondisi Ari juga pastinya.
---
11 Hari, Ari dirawat di Rumah Sakit. Kondisinya sudah sangat sangat membaik. Tidak ada selang oksigen dan infus yang menempel di tubuh kecilnya lagi. Dan hari itu, Gua mau jemput Fia dan Ari.
Sebenernya Ari sudah diperpolehkan pulang kemarin. Namun karena kesibukan gua, akhirnya gua putuskan jemput Ari di hari minggu, keesokan harinya.
‘Pakk… saya kok ga diajak?’ Lena merengek minta diajak. Darimana juga dia tau kalo pagi ini gua mau jemput Fia.
‘Ga usah. Lagian Cuma jemput doank, ngapain bawa-bawa sekretaris segala’ Gua ga mau kalah dalam perdebatan gua dengan Lena pagi itu via Telpon.
‘Ah Bapak ga asik’
‘Biarin’
‘….’
‘Ngambek?’
‘Iya.. uh’
‘Hmm..’
‘Gimanaaa pakkk?’
‘Lo udah slese ngambeknya?’
‘Kalo bapak ajak saya, saya ga ngambek lagi deh’
‘Ngambek aja gpp kalo gitu. Udah ah nanti kesiangan, Aku mau berangkat sekarang’
‘Huh…’
‘…’
‘Bapak jahat ih’
‘Ya udah kapan-kapan, ajak saya ke Yogya ya. Katanya mau ajak saya ke mana itu kemarin..’
‘AMPLAZZZ!’
‘Iya iya situ’
‘Horeee minggu depan ya pak?’
‘Iya liat keadaan’
‘Ya udah bapak ati-ati yaaa’
‘Yaa.. Tuut Tuut’ Gua menutup telpon.
Sebenernya akan lebih mudah kalo gua ajak Lena, karena Lena mungkin bisa bantu-bantu gua disana. Tapi maaf Len, hari ini gua mau jemput piala gua. Gua langsung tancap gas setelah gua panasin mobil. Nggak lupa, cess fuhhh…. Nikmat banget pagi-pagi gn ngrokok sambil nyetir mobil…
----
‘Udah ga ada yang ketinggalan?’ Gua menanyakan untuk kesekian kali.
‘Nggak Pak’ Fia berdiri di depan gua setelah selesai urusin beberapa urusan di bagian Administrasi.
Yang gua ingat dan membekas dalam ingatan gua sampai saat ini, pagi itu gua yang gendong Ari. Ga tau kenapa Ari ‘nempel’ banget sama gua. Padahal kata Fia, Ari ga sembarangan mau digendong orang. Mungkin feeling Ari yang menganggap gua bapaknya –ngarep-.
‘Bapak dibilang suami yang baik tuh’ kata Fia berjalan di samping gua.
‘O ya sama siapa?’
‘Tuh suster yang jaga di loket’
‘Hahaha… kok bisa?’ memang pagi itu, kami kayak keluarga kecil yang bahagia.
‘Katanya bapak telaten banget tiap malem kesini. Saya kan crita kalo Bapak kerja jadi malem doank bisa nengok’
‘Hehe jadi Ge-Er’ Gua tersenyum ke Fia, Fia tersenyum ke gua. Ari? Plok! Gua ditampol Ari.
Alangkah bahagianya ketika Tuhan membiarkan kita sedikit mengintip dan mengalami apa yang kita cita-citakan di masa depan.
Ari menunjuk-nunjuk penjual balon yang ada di pintu keluar RS. Kayaknya dia ngotot pengen mainan.
‘Ari mau balon?’
‘…’ Ari memandang gua sambil mengangguk. Anak seumuran Ari gua yakin udah paham kata-kata orang dewasa di sekitarnya.
‘Ni…’ Gua mengambil balon sate, iya balon yang dikasi pegangan stik gt, kayak sate.
‘Berapa Ibu?’
‘10rb pak’ kata ibu-ibu penjual balon tadi.
‘Fi.. tolongin donk’ gua kasi kode ke Fia buat ambil dompet di saku celana gua.
‘Udah pake ini aja pak’ Fia buru-buru ambil uang di tasnya. Kedua tangan gua memang sibuk gendong Ari.
‘Dibilang suami yang baik lagi pak’ Fia nyusul gua yang udah berjalan ke arah mobil duluan.
‘Hahaha sama siapa?’
‘Tu ibu yang jualan balon’ Fia tersenyum ke gua. Sumpah Ge-Er banget gua pagi itu.
‘Fi.. Ari kalo aku ajak jalan-jalan dulu capek ga ya?’
‘Eh.. Jalan-jalan kemana memang pak?’
‘Ya ke mall gitu. Mumpung udah di sini’ Gua ber-argumen.
‘Hm gpp mungkin ya asal ga kemaleman’
‘Ya nggak lah. Paling 1 ato 2 jam trus kita baru pulang’ Inilah yang unik. Nge-date sama cewek yang udah punya anak ternyata susah ngatur jadwalnya. Hahaha… Hal-hal konyol mulai mampir di kepala gua.
Gak lama gua udah di Amplaz. Gua sedikit merasa bersalah sama Lena, karena yang ajak gua ke sini kan Lena. Malah gua ajak jalan jalan Fia di sini.
‘Ni bagus gak FI?’ Kata gua sambil mengambil sebuah baju jersey ‘kecil’ buat Ari.
‘Lucu pak’
‘Biar jadi pemain bola si Ari’ kata gua. Gua mengambil jersey tadi. Ari sekarang berada di gendongan Fia.
‘Pak, kita lagi ada promo lo’ kata seorang pemuda yang bertugas sebagai pelayan di counter tadi.
‘O ya apa?’ Kata gua sambil ngeluarin kartu member counter itu. Gua memang langganan beli jersey di counter tadi.
‘Kita ada family packet pak, jadi bisa beli jersey yang Men, Women and Kids, kita kasi harga khusus. Ada juga yang buat couple’
‘Wah boleh tuh, yang family deh’
‘Kita kasi harga xxx rupiah’ mendengar kata ‘xxx’ tadi Fia spontan ambil jersey kids yang gua pegang.
‘Mahal amat pak’ Fia langsung menginterupsi sambil ngeliat label harga jersey tadi.
‘Iya harganya emang segitu’ Gua membela diri.
‘Ah Bapak ini, ga usah ah pak. Di pasar udah dapet 10 biji’ Kata fia sambil ngembaliin jersey tadi ke tempatnya. Mas-mas yang jaga Cuma ketawa kecil aja melihat perdebatan kecil antara gua dan Fia. Gua jadi mikir, kan banyak juga istri yang panggil suaminya ‘Bapak’
‘Gpp lah Fi sesekali’
‘Kalo buat bapak pribadi si gpp pak, kalo buat Ari ato saya jangan yg mahal2 deh’
‘Hm iya iya. Kita liat-liat di tempat lain’
Dan memang masa masa sekarang ini, ga ada yang namanya barang murah di mall. Dan percaya ga percaya pakaian buat anak kecil lebih mahal daripada buat orang dewasa. Hahaha hati-hati kalo kalian udah punya anak besok.
Akhirnya setelah kita muter-muter kesana sini. Ditambah Ari yang ngotot pengen jalan sendiri. Gua dan Fia memutuskan membeli pakaian di C*rrefour. Ya mau dimana lagi? Yang ada pakaian harga di bawah 100 rb ya di situ. Ada sedikit rasa dongkol di hati gua karena dicerewetin Fia masalah belanja. Tapi di satu sisi gua sadar, Fia sedang memerankan sosok istri yang bijaksana. Gua kagum dengan Fia. Kayaknya udah makin jarang cewek yang ga doyan belanja kayak Fia, yg mau dibeliin jersey asli malah minta yang KW, haha.
‘Itu tempat foto ya pak?’ Fia menanyakan sebuah box yang ada di ujung sebuah counter.
‘Iya itu photobox’
‘Foto yuk pak’
‘Eh..’ Gua ga menyangka Fia bakal ngomong gitu.
‘Ayo-ayo aja’
Akhirnya gua, Fia dan Ari masuk ke dalam box dan mengambil beberapa pose foto. Ada 4 lembar foto yang diberikan ke kami. Dan gua ambil 1 lembar foto.
‘Aku minta 1 ya’
‘Hehehe…’ Fia Cuma ketawa. Gua ambil foto selembar dan gua masukin ke dompet. So sweet

Ga terasa hampir 3 jam kami berjalan kesana kemari di mall. Jujur baru kali ini gua jalan-jalan selama itu di sebuah mall. Mentok gua ke mall, Cuma nonton, ato kalo mau beli sesuatu gua langsung ke tempat tujuan. Beda kalo ke Ngasem (pasar hewan, -skrg udah dipindah-) ato klithikan (skrg namanya Kuncen), gua bakal betah berhari-hari nginep disana –lebay-
Gua mengakhiri jalan-jalan di mall hari itu dengan makan siang (padahal udah sore).
‘Buat berapa orang pak?’
‘3’
‘Owh buat family ya? Mari ikut saya pak’
‘..’ Gua ngikut pelayan tadi. Fia dan Ari berjalan di sebelah gua.
Gua dapet tempat duduk yang enak banget. Letaknya outdoor di paling ujung. Cuaca sore itu yang cerah terasa nyaman. Sayangnya gua ga mau (ga bisa) ngerokok, karena gua ga mau Ari kena asap rokok dari gua.
‘Makasi ya pak’
‘Eh..?’
‘Iya saya dan Ari mengucapkan banyak terima kasih’ Fia berbicara dengan formal, mungkin dia pengen gua tau kalo rasa terima kasih yang dia sampaikan bener-bener serius ga Cuma di mulut.
‘Iya. Aku ikhlas kok’ Gua tersenyum.
‘Aku cm pengen, kamu dan Ari dapet apa yang seharusnya kalian dapet’
‘….’
‘Kalo kalian butuh sesuatu, dan aku bisa bantu, aku pasti ada’ Gua meyakinkan Fia.
‘Iya pak’ Fia mulai berkaca-kaca.
‘Udah ah kok malah nangis’
‘Hehe terharu..’
Gua tersenyum memandang Fia dan Ari. Kebahagiaan yang baru pertama kali gua rasain dalam hidup gua. Melihat orang yang kita cintai bahagia, ternyata lebih rasanya daripada kebahagiaan pribadi.
‘Tau gak pak?’
‘Nggak’
‘Belum slese ngomong bapak’ Kata Fia dengan nada manja.
‘Dari dulu, saya ini orang ga punya dan..’
‘…’
‘Saya Cuma pengen ketika saya punya anak, punya suami…’
‘…’
‘Tiap minggu bisa jalan-jalan…’
‘…’
‘Makan bareng…’
‘….’
‘Jalan-jalan di mall… Hehe dari dulu saya jarang banget ke mall soalnya’
‘…’
‘Apalagi naik mobil sendiri… Kayak mimpi…’ Fia tersenyum setelah mengungkapkan apa yang dia rasain.
‘Mimpi kita hampir sama..’ Gua tersenyum.
Mimpi dan adalah tolok ukur kebahagiaan kita, bermimpilah tinggi, tapi jadikan ketinggian mimpi dalam jangkauan kita, agar kita bisa menggapainya. –pia.basah-
0
Kutip
Balas