- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#31
PART VIb - THANKS
Quote:
PART VIb
THANKS
Gua disambut sangat ramah di sini. Di sela sela keadaan yang crowded, dan penuh tekanan. Fia dan Mbah Kakung masih sangat ramah. Masih sempat menawarkan minum ke gua. Oh, betapa mulianya hati mereka. Entah, gua merasa nyaman banget.
‘Namanya Ari ya?’ tanya gua ke Fia. Ari tampak sudah tidak menangis namun masih menempel sama ibunya. Mbah Kakung beberapa saat yang lalu keluar ruangan. Mungkin mau pulang ke rumah, pikirku.
‘Iya Pak. Ari hehe.’ Fia masih mencoba tersenyum.
‘Kok mirip nama saya? Di rumah saya juga dipanggil Ari’
‘…’ Fia Cuma tersenyum.
‘Berapa usianya?’
‘Bulan depan udah 2 tahun omm..’ jawab Fia sambil menimang Ari, menirukan seperti Ari yang menjawab pertanyaan gua.
‘…’
‘Fi..’
‘Ya pak?’
‘Kata dokter sakit apa?’
‘Dokternya ga tau pasti pak’ Jawab Fia singkat, ga seperti Fia yang biasanya.
‘Trus?’
‘Dirujuk ke RS...’
‘…’
‘tapi…’
‘Masih diusahakan pak..’ Jawab Fia lirih. Gua melihat mata Fia berkaca-kaca, ga sekalipun fia menatap gua. Dia terus menatap Ari yang sesekali masih sesenggukan. Gua jadi speechless.
‘Aku keluar ruangan sebentar ya fi’ gua memecah keadaan.
‘Bapak ga pulang?’ tanya Fia.
‘Hmm.. bentar lagi ya. Saya ngrokok dulu di luar’ Gua tersenyum lalu keluar ruangan.
Gua ga mengingat lagi kalo gua belum makan malam, atau keinginan gua merokok. Gua merokok Cuma alesan aja biar enak keluar dari ruangan rawat inap. Gua berjalan keluar ruangan. Tempat yang gua tuju, dokter jaga!
‘Dokternya kebetulan barusan aja dateng mas. Kalo udah sore gini ga ada dokter jaga, paling beberapa jam sekali dokter datang buat njenguk pasien’ kata seorang petugas kebersihan. Gua tau bukan dari seragamnya, tapi karena dia bawa bawa pel.
‘Masnya ke ruangan ujung itu’ lanjutnya.
‘Oke makasi ya mas’ Gua bergegas ke ruangan yang ditunjukkan tadi. Di dalam ruangan kecil yang Cuma ada 1 buah meja dan beberapa rak yang penuh dengan kertas, gua melihat dokter cowok yang masih sangat muda. Mungkin lebih muda dari gua.
‘Permisi dok’ kata gua sambil mengetuk pintu yang memang sudah terbuka.
‘O iya mas. Mari masuk. Ada yg bisa saya bantu?’ dokter itu menjawab sangat ramah. Gua duduk di depan meja dokter itu.
‘Hm gini dok. Langsung aja ya. Pasien atas nama Anak Ari, yang sudah dirawat 3 hari, kalo ga salah. Kondisinya gimana ya dok?’
‘Ari ya?’ Kata dokter itu sambil membuka buku catatan yang ada di meja kerjanya.
‘O ya ya. Saya ingat pasien ini. Hm maaf tp anda ini Bapaknya Ari?’
‘Saya calon bapaknya ari dok’ (Dalam hati)
‘Eh eh bukan. Hm saya om-nya. ‘ Jawab gua.
‘Ohh walinya ya berarti. Hmm.. Ari ini diduga sementara menderita jantung lemah’
‘…’ Gua tersekat.
‘Tapi buat tahu pastinya harus ada pengecekkan lebih lanjut, dan Anda tau sendiri kan kondisi puskesmas ini ga seperti rumah sakit.’ Dokter td menjelaskan. Gua tambah bingung, campur kaget. Rasanya bener2 campur aduk. Gua ga nyangka, beban Fia sebesar ini.
‘Trus enaknya gimana ya dok?’
‘Sebaiknya secepatnya dipindah ke RS. Maaf saya Cuma bisa kasi saran itu’ kata dokter tadi meyakinkan.
‘Suratnya sudah saya berikan ke Bu Fia kok’ lanjut mas dokter (masih muda)
‘Iya dok. Terima kasih banyak buat waktunya. Saya usahakan dulu secepatnya’
Gua bergegas keluar ruangan. Gua langsung meraih HP gua, mencari-cari sebuah nama. RS B*THESDA. Gua menelpon memastikan keberadaan kamar. Namun sayangnya ambulans terlalu lama. Gua pikir, karena jarak desa ini ke Yogyakarta (*Kota kejadian perkara dirahasiakan
) cukup jauh.
Memang ada Rumah Sakit yang lebih dekat. Tapi karena di daerah gua belum semaju di kota, Gua ga mau repot rujuk sana rujuk sini. Dan selain itu notabene, gua sudah sering ke Rumah Sakit yang satu ini.
‘Fi.. Bapak kamu mana?’ Gua masuk ke ruangan lagi.
‘Eh Bapak pulang. Dia pasti capek jaga Ari seharian.’
‘Kamu siap-siap gih kalo gitu. Nanti Bapak kamu biar dikasi taunya menyusul’
‘Eh kemana pak?’
‘Yogyakarta. Kita ke Rumah Sakit’
‘Tapi pak.. ‘ Fia menatap gua. Matanya tampak berkaca-kaca. Senyumnya yang biasanya selalu melekat di wajahnya sudah hilang entah kemana.
‘Kamu percaya aja sama saya.’ Gua tersenyum berusaha menenangkan Fia.
‘Kita kesana naik mobil saya aja. Karena ambulans terlalu lama’
‘Nanti suami kamu, bapak kamu, biar saya jemput besok’ lanjut gua.
Fia tersenyum menatapku. -Manis- Itu yang gua rindukan.
‘Cuma Bapak Mertua aja kok yang perlu dijemput’ Fia menjawab lirih. Lirih sekali, sembari membereskan pakaian dan beberapa barang di ranjang. Tapi gua yakin gua ga salah denger saat itu.
‘Makasi ya pak’ Kata Fia tersenyum. Air mata sudah menetes di pipinya. Sambil menggendong Ari, dan gua menenteng tas berisi barang dan pakaian, Fia berkali kali mengucapkan ‘terima kasih’.
THANKS
Gua disambut sangat ramah di sini. Di sela sela keadaan yang crowded, dan penuh tekanan. Fia dan Mbah Kakung masih sangat ramah. Masih sempat menawarkan minum ke gua. Oh, betapa mulianya hati mereka. Entah, gua merasa nyaman banget.
‘Namanya Ari ya?’ tanya gua ke Fia. Ari tampak sudah tidak menangis namun masih menempel sama ibunya. Mbah Kakung beberapa saat yang lalu keluar ruangan. Mungkin mau pulang ke rumah, pikirku.
‘Iya Pak. Ari hehe.’ Fia masih mencoba tersenyum.
‘Kok mirip nama saya? Di rumah saya juga dipanggil Ari’
‘…’ Fia Cuma tersenyum.
‘Berapa usianya?’
‘Bulan depan udah 2 tahun omm..’ jawab Fia sambil menimang Ari, menirukan seperti Ari yang menjawab pertanyaan gua.
‘…’
‘Fi..’
‘Ya pak?’
‘Kata dokter sakit apa?’
‘Dokternya ga tau pasti pak’ Jawab Fia singkat, ga seperti Fia yang biasanya.
‘Trus?’
‘Dirujuk ke RS...’
‘…’
‘tapi…’
‘Masih diusahakan pak..’ Jawab Fia lirih. Gua melihat mata Fia berkaca-kaca, ga sekalipun fia menatap gua. Dia terus menatap Ari yang sesekali masih sesenggukan. Gua jadi speechless.
‘Aku keluar ruangan sebentar ya fi’ gua memecah keadaan.
‘Bapak ga pulang?’ tanya Fia.
‘Hmm.. bentar lagi ya. Saya ngrokok dulu di luar’ Gua tersenyum lalu keluar ruangan.
Gua ga mengingat lagi kalo gua belum makan malam, atau keinginan gua merokok. Gua merokok Cuma alesan aja biar enak keluar dari ruangan rawat inap. Gua berjalan keluar ruangan. Tempat yang gua tuju, dokter jaga!
‘Dokternya kebetulan barusan aja dateng mas. Kalo udah sore gini ga ada dokter jaga, paling beberapa jam sekali dokter datang buat njenguk pasien’ kata seorang petugas kebersihan. Gua tau bukan dari seragamnya, tapi karena dia bawa bawa pel.
‘Masnya ke ruangan ujung itu’ lanjutnya.
‘Oke makasi ya mas’ Gua bergegas ke ruangan yang ditunjukkan tadi. Di dalam ruangan kecil yang Cuma ada 1 buah meja dan beberapa rak yang penuh dengan kertas, gua melihat dokter cowok yang masih sangat muda. Mungkin lebih muda dari gua.
‘Permisi dok’ kata gua sambil mengetuk pintu yang memang sudah terbuka.
‘O iya mas. Mari masuk. Ada yg bisa saya bantu?’ dokter itu menjawab sangat ramah. Gua duduk di depan meja dokter itu.
‘Hm gini dok. Langsung aja ya. Pasien atas nama Anak Ari, yang sudah dirawat 3 hari, kalo ga salah. Kondisinya gimana ya dok?’
‘Ari ya?’ Kata dokter itu sambil membuka buku catatan yang ada di meja kerjanya.
‘O ya ya. Saya ingat pasien ini. Hm maaf tp anda ini Bapaknya Ari?’
‘Saya calon bapaknya ari dok’ (Dalam hati)
‘Eh eh bukan. Hm saya om-nya. ‘ Jawab gua.
‘Ohh walinya ya berarti. Hmm.. Ari ini diduga sementara menderita jantung lemah’
‘…’ Gua tersekat.
‘Tapi buat tahu pastinya harus ada pengecekkan lebih lanjut, dan Anda tau sendiri kan kondisi puskesmas ini ga seperti rumah sakit.’ Dokter td menjelaskan. Gua tambah bingung, campur kaget. Rasanya bener2 campur aduk. Gua ga nyangka, beban Fia sebesar ini.
‘Trus enaknya gimana ya dok?’
‘Sebaiknya secepatnya dipindah ke RS. Maaf saya Cuma bisa kasi saran itu’ kata dokter tadi meyakinkan.
‘Suratnya sudah saya berikan ke Bu Fia kok’ lanjut mas dokter (masih muda)
‘Iya dok. Terima kasih banyak buat waktunya. Saya usahakan dulu secepatnya’
Gua bergegas keluar ruangan. Gua langsung meraih HP gua, mencari-cari sebuah nama. RS B*THESDA. Gua menelpon memastikan keberadaan kamar. Namun sayangnya ambulans terlalu lama. Gua pikir, karena jarak desa ini ke Yogyakarta (*Kota kejadian perkara dirahasiakan
) cukup jauh.Memang ada Rumah Sakit yang lebih dekat. Tapi karena di daerah gua belum semaju di kota, Gua ga mau repot rujuk sana rujuk sini. Dan selain itu notabene, gua sudah sering ke Rumah Sakit yang satu ini.
‘Fi.. Bapak kamu mana?’ Gua masuk ke ruangan lagi.
‘Eh Bapak pulang. Dia pasti capek jaga Ari seharian.’
‘Kamu siap-siap gih kalo gitu. Nanti Bapak kamu biar dikasi taunya menyusul’
‘Eh kemana pak?’
‘Yogyakarta. Kita ke Rumah Sakit’
‘Tapi pak.. ‘ Fia menatap gua. Matanya tampak berkaca-kaca. Senyumnya yang biasanya selalu melekat di wajahnya sudah hilang entah kemana.
‘Kamu percaya aja sama saya.’ Gua tersenyum berusaha menenangkan Fia.
‘Kita kesana naik mobil saya aja. Karena ambulans terlalu lama’
‘Nanti suami kamu, bapak kamu, biar saya jemput besok’ lanjut gua.
Fia tersenyum menatapku. -Manis- Itu yang gua rindukan.
‘Cuma Bapak Mertua aja kok yang perlu dijemput’ Fia menjawab lirih. Lirih sekali, sembari membereskan pakaian dan beberapa barang di ranjang. Tapi gua yakin gua ga salah denger saat itu.
‘Makasi ya pak’ Kata Fia tersenyum. Air mata sudah menetes di pipinya. Sambil menggendong Ari, dan gua menenteng tas berisi barang dan pakaian, Fia berkali kali mengucapkan ‘terima kasih’.
0
Kutip
Balas