- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#30
PART VIa - THANKS
Quote:
PART VIa
THANKS
‘O berarti ini masuk juga ya? Harus ngurus ni berarti’ Gumam Lena ngomong sama dirinya sendiri.
‘Huft.. Emang udah ada yang ngajuin?’ Gua meletakkan HP gua, kemudian menyalakan sebatang rokok… ‘Cess… Fuhhhhh…..’
‘Ada pak, buat anak’
‘ooo…’
‘…’
‘siapa?’
‘Fia, bagian ekspedisi’
‘Uhuk uhuk….’ –keselek-
‘Bapak kenapa?’ tanya Lena tergopoh-gopoh. Dia segera mengambil gelas minuman ku dan menyodorkannya.
‘……’ gua belum bisa ngomong. Ga enak banget rasanya keselek asap rokok.
‘Bapak keselek?’
‘Nggak kok. Ketawa ini bukan keselek’ jawab gua sekena-nya sambil menahan rasa tercekat di tenggorokan.
‘Ah Bapak ni lo.. Kok kayak orang keselek?’
‘Ah udah udah. Balik kerja sana!!’
‘eh.. iya pak maaf…’ Lena segera beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan gua.
Sebenarnya Lena ga salah, malahan dia baik banget sama gua. Mau ambilin minuman. Cuma pertanyaannya itu lo. Ga tau apa ini orang lagi keselek, ya kalo keselek biasa. Gua lagi keselek cinta!
---
3 hari kemudian semua berjalan seperti layaknya hari biasa. Gua mencoba untuk kembali ke kehidupan gua –lebay-. Jujur aja si, semenjak kejadian ‘keselek cinta’, gua jadi ga bisa tidur nyenyak. Entah kenapa gua jadi ikut-ikutan trend anak muda jaman sekarang ‘GALAU’. Di kantor gua bisa menutupi semua perasaan gua, kesibukan kerja setiap hari. Tapi ketika malam menjelang, aduh, gua ga bisa menghindar. Entah sebenarnya apa yang gua rasain.
Cinta? Ah terlalu dini gua menuduh semua ini adalah cinta. Sayang? Kenal deket juga enggak. Kecewa? Mungkin juga, walaupun gua sudah pake ilmu ‘manajemen mental’ dari nyokap gua.
‘Pak ada yang nyari’ Lena masuk ke ruangan gua. Saat itu gua sedang menerima telpon.
‘Suruh masuk aja’ jawabku.
‘Eh nggak pak, tadi ngomong sama Lena. Gimana tadi?’ Gua melanjutkan telpon. Karena telpon gua ada di meja terpisah, di dekat jendela, gua biasanya menerima telpon sambil ngeliatin pemandangan di luar jendela.
‘Iya beres. Udah nanti biar saya urus, kalo sudah selese nanti Pak Kris saya kabarin’ Gua menutup telpon. Pak Kris itu manajernya manajer. Jadi perusahaan gua dibagi dalam banyak unit atau cabang, tiap unit atau cabang memiliki kepala unit. Dan di kantor pusat, ada seseorang yang bertugas mengkoordinasi kepala-kepala unit tersebut. Nah, dialah Pak Kris.
‘permisi pak’ tamu yang tadi mencari gua baru berani ngomong. Ternyata dari tadi sudah berdiri di belakang gua.
‘…..’ gua kenal suara ini. Fia!
‘Eh kamu. Gimana Fia? Duduk dulu deh’ Gua menjawab se-cool mungkin. Padahal gua kangen banget sama dia. Sejak keselek cinta kemarin, gua sengaja nggak (berani) ngobrol sama dia.
‘Maaf Pak, saya mau ijin pulang lebih cepet’
‘o ya? Ada masalah?’ Gua melirik jam dinding. Sudah menunjukan pukul 16.30. Seharusnya jam kerja normal Cuma sampai jam 16.00. Tapi ada beberapa karyawan yang lembur untuk menyelesaikan tugasnya.
‘hmm.. sebelumnya maaf pak. Saya cari mandor saya ga ada. Karena mendesak, jadi saya langsung minta ijin ke Bapak aja’
Cara bicara Fia, sikap fia, raut wajahnya menunjukkan kelelahan. Gua bisa menebak, mungkin dia capek jaga anaknya yang sakit. Gua kasian. Tapi ga bisa menunjukkan perasaan kasian gua.
‘iya gpp kok. Tapi sebenernya masalah apa kok sampe tergesa-gesa gitu?’
‘Anak saya sakit pak’
‘Hmm.. Bukannya sakitnya beberapa hari yang lalu?’ tanya gua.
‘Iya pak. Tapi dari kemarin juga belum sembuh. Barusan saya dikabarin, katanya keadaanya memburuk. Sejak semalam dirawat di puskesmas’
Gua terkejut. Jika sudah 3 hari lebih sakitnya belum sembuh, pasti serius. Itu pikiran gua. Di luar ego gua, gua sangat mengkhawatirkan anak Fia.
Gua sempat terdiam beberapa saat. Fia menunggu jawaban gua.
‘Hm.. ayo saya antar saja’ Gua ambil keputusan!
‘Eh ga usah pak, saya bisa naik angkot’
‘Udah buruan, jangan banyak ngomoong’ Gua membereskan sedikit dokumen di atas meja, kemudian segera mengambil kunci mobil.
‘Lena, saya keluar sebentar. Nanti kalau sudah selesai, kamu langsung pulang aja’ Gua ngomong ke Lena sambil berjalan ke luar. Fia mengikuti gua di belakang.
Tak berapa lama gua sudah berada di dalam mobil bersama Fia.
‘Di RS mana tadi?’ tanya gua.
‘Bukan Rumah sakit pak, di puskesmas desa saya’
‘O iya. Kamu tunjukin jalannya aja’
Sekitar 30 menitan perjalanan gua. Melewati jalan-jalan berbukit. Beberapa ratus meter dari tempat tujuan, jalan juga sudah berganti dari aspal berlubang menjadi jalan batu berlubang. Oh my god.
‘Itu pak puskesmasnya’
‘Oke’ Gua segera memarkir mobil gua. Kemudian ikut turun dan masuk ke dalam puskesmas. Bedanya sekarang Fia yang jalan di depan gua. Gua sedikit merasa grogi, banyak sekali mata ngliatin gua. Sejak tadi masih di mobil lewat jalan berbatu sampe masuk puskesmas, banyak banget yang ngeliatin. Kebanyakan si ibu-ibu yang ngeliatin. Apa gua terlalu ganteng ya?
Pikiran konyol gua berhenti tiba-tiba. Gua ga membayangkan apa yang gua lihat bakalan seperti ini. Bukan seorang pasien yang berbaring di ranjang putih, ada infus dan meja berisi buah-buahan. Atau sekedar mainan selayaknya pasien anak-anak tengah dirawat.
Hanya 4 kasur di ruangan sekitar 5 x 3 meter. Berdesak-desakan. Ada 1 kasur yang diisi 2 orang. Bau menyengat entah obat atau bau apa tercium dimana-mana. Udara yang pengap karena saking banyaknya orang. Mana yang perawat mana jenguk pasien pun kurang jelas perbedaanya. Tidak ada suster-suster cantik yang berkeliling sambil membawa jarum suntik. Keadaan ini lebih mirip pengungsian daripada tempat orang sakit dirawat.
Dan di salah satu ranjang, Fia berhenti dan segera duduk di tepi ranjang. Mungkin melihat ibunya, anak yang dibaringkan berjejer dengan 1 anak yang lain, menangis meraung-raung. Seorang anak kecil yang gua yakin usianya belum lebih dari 2 tahun. (Yang gua lihat, anak-anak yang masih balita, dibaringkan secara horizontal di kasur. Jadi posisi kepala tidak di bagian atas kasur, namun di samping. Kebayang kan? Mungkin dengan cara ini jadi bisa muat 3 anak di satu kasur).
‘Cup Cup anak Ibu. Jangan nangis ya’ Fia segera menggendong
anak tadi. Gua menitikkan air mata melihat keadaan ini.
‘Maaf ya pak keadaanya kayak gini’ Fia masih sempat mikirin gua.
‘Iya... Gpp kan aku disini dulu?’ tanya gua.
‘Duh Bapak ga sibuk? Saya dianter juga udah berterimakasih’
‘Udah udah gpp’ Gua justru ga mikirin keadaan ruangan. Gua berusaha membaca situasi untuk menentukan langkah selanjutnya yang paling tepat. Gua merasa dirawat di sini adalah sebuah pilihan yang tidak tepat.
‘Ari panasnya naik lagi Fi’ seorang lelaki tua menghampiri Fia dan duduk di sebelah Fia. Mereka bercakap-cakap selayaknya sudah mengenal dan sepenanggungan.
Seorang pria tua, rambutnya sudah memutih, banyak sekali kerutan di wajahnya. Cara dia berdiri dan duduk pun sudah menunjukkan ke-renta-anya. Dokter? Ah ga mungkin. Ga ada tampang dokter. Ato jangan jangan suami Fia??? What the hell!!!
‘O ya Pak Harry, ini ayah mertua saya’ Kata-kata Fia memecah lamunan konyol gua.
‘Eh Harry pak’ gua tersenyum sambil menyalami bapak tua tadi. Tebakan gua ga terlalu meleset -ngeles-.
‘Saya biasa dipanggil Mbah Kakung di sini nak’ Kata Bapak Tua tadi sambil membalas senyuman gua.
‘Dia atasan Fia di tempat kerja Pak’ Kata Fia mencoba menekankan kalimat supaya Mbah Kakung bisa menangkap dengan jelas. Gua tersenyum. Mbah kakung cuma manggut-manggut.
Gua disambut sangat ramah di sini. Di sela sela keadaan yang crowded, dan penuh tekanan. Fia dan Mbah Kakung masih sangat ramah. Masih sempat menawarkan minum ke gua. Oh, betapa mulianya hati mereka. Entah, gua merasa nyaman banget.
THANKS
‘O berarti ini masuk juga ya? Harus ngurus ni berarti’ Gumam Lena ngomong sama dirinya sendiri.
‘Huft.. Emang udah ada yang ngajuin?’ Gua meletakkan HP gua, kemudian menyalakan sebatang rokok… ‘Cess… Fuhhhhh…..’
‘Ada pak, buat anak’
‘ooo…’
‘…’
‘siapa?’
‘Fia, bagian ekspedisi’
‘Uhuk uhuk….’ –keselek-
‘Bapak kenapa?’ tanya Lena tergopoh-gopoh. Dia segera mengambil gelas minuman ku dan menyodorkannya.
‘……’ gua belum bisa ngomong. Ga enak banget rasanya keselek asap rokok.
‘Bapak keselek?’
‘Nggak kok. Ketawa ini bukan keselek’ jawab gua sekena-nya sambil menahan rasa tercekat di tenggorokan.
‘Ah Bapak ni lo.. Kok kayak orang keselek?’
‘Ah udah udah. Balik kerja sana!!’
‘eh.. iya pak maaf…’ Lena segera beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan gua.
Sebenarnya Lena ga salah, malahan dia baik banget sama gua. Mau ambilin minuman. Cuma pertanyaannya itu lo. Ga tau apa ini orang lagi keselek, ya kalo keselek biasa. Gua lagi keselek cinta!
---
3 hari kemudian semua berjalan seperti layaknya hari biasa. Gua mencoba untuk kembali ke kehidupan gua –lebay-. Jujur aja si, semenjak kejadian ‘keselek cinta’, gua jadi ga bisa tidur nyenyak. Entah kenapa gua jadi ikut-ikutan trend anak muda jaman sekarang ‘GALAU’. Di kantor gua bisa menutupi semua perasaan gua, kesibukan kerja setiap hari. Tapi ketika malam menjelang, aduh, gua ga bisa menghindar. Entah sebenarnya apa yang gua rasain.
Cinta? Ah terlalu dini gua menuduh semua ini adalah cinta. Sayang? Kenal deket juga enggak. Kecewa? Mungkin juga, walaupun gua sudah pake ilmu ‘manajemen mental’ dari nyokap gua.
Seandainya gua bisa ngomong sama alm. nyokap, gua akan bilang, ‘Untuk masalah perasaan, jangankan terbang, belum sempat terbangpun, jika jatuh rasanya sesakit ini’
‘Pak ada yang nyari’ Lena masuk ke ruangan gua. Saat itu gua sedang menerima telpon.
‘Suruh masuk aja’ jawabku.
‘Eh nggak pak, tadi ngomong sama Lena. Gimana tadi?’ Gua melanjutkan telpon. Karena telpon gua ada di meja terpisah, di dekat jendela, gua biasanya menerima telpon sambil ngeliatin pemandangan di luar jendela.
‘Iya beres. Udah nanti biar saya urus, kalo sudah selese nanti Pak Kris saya kabarin’ Gua menutup telpon. Pak Kris itu manajernya manajer. Jadi perusahaan gua dibagi dalam banyak unit atau cabang, tiap unit atau cabang memiliki kepala unit. Dan di kantor pusat, ada seseorang yang bertugas mengkoordinasi kepala-kepala unit tersebut. Nah, dialah Pak Kris.
‘permisi pak’ tamu yang tadi mencari gua baru berani ngomong. Ternyata dari tadi sudah berdiri di belakang gua.
‘…..’ gua kenal suara ini. Fia!
‘Eh kamu. Gimana Fia? Duduk dulu deh’ Gua menjawab se-cool mungkin. Padahal gua kangen banget sama dia. Sejak keselek cinta kemarin, gua sengaja nggak (berani) ngobrol sama dia.
‘Maaf Pak, saya mau ijin pulang lebih cepet’
‘o ya? Ada masalah?’ Gua melirik jam dinding. Sudah menunjukan pukul 16.30. Seharusnya jam kerja normal Cuma sampai jam 16.00. Tapi ada beberapa karyawan yang lembur untuk menyelesaikan tugasnya.
‘hmm.. sebelumnya maaf pak. Saya cari mandor saya ga ada. Karena mendesak, jadi saya langsung minta ijin ke Bapak aja’
Cara bicara Fia, sikap fia, raut wajahnya menunjukkan kelelahan. Gua bisa menebak, mungkin dia capek jaga anaknya yang sakit. Gua kasian. Tapi ga bisa menunjukkan perasaan kasian gua.
‘iya gpp kok. Tapi sebenernya masalah apa kok sampe tergesa-gesa gitu?’
‘Anak saya sakit pak’
‘Hmm.. Bukannya sakitnya beberapa hari yang lalu?’ tanya gua.
‘Iya pak. Tapi dari kemarin juga belum sembuh. Barusan saya dikabarin, katanya keadaanya memburuk. Sejak semalam dirawat di puskesmas’
Gua terkejut. Jika sudah 3 hari lebih sakitnya belum sembuh, pasti serius. Itu pikiran gua. Di luar ego gua, gua sangat mengkhawatirkan anak Fia.
Gua sempat terdiam beberapa saat. Fia menunggu jawaban gua.
‘Hm.. ayo saya antar saja’ Gua ambil keputusan!
‘Eh ga usah pak, saya bisa naik angkot’
‘Udah buruan, jangan banyak ngomoong’ Gua membereskan sedikit dokumen di atas meja, kemudian segera mengambil kunci mobil.
‘Lena, saya keluar sebentar. Nanti kalau sudah selesai, kamu langsung pulang aja’ Gua ngomong ke Lena sambil berjalan ke luar. Fia mengikuti gua di belakang.
Tak berapa lama gua sudah berada di dalam mobil bersama Fia.
‘Di RS mana tadi?’ tanya gua.
‘Bukan Rumah sakit pak, di puskesmas desa saya’
‘O iya. Kamu tunjukin jalannya aja’
Sekitar 30 menitan perjalanan gua. Melewati jalan-jalan berbukit. Beberapa ratus meter dari tempat tujuan, jalan juga sudah berganti dari aspal berlubang menjadi jalan batu berlubang. Oh my god.
‘Itu pak puskesmasnya’
‘Oke’ Gua segera memarkir mobil gua. Kemudian ikut turun dan masuk ke dalam puskesmas. Bedanya sekarang Fia yang jalan di depan gua. Gua sedikit merasa grogi, banyak sekali mata ngliatin gua. Sejak tadi masih di mobil lewat jalan berbatu sampe masuk puskesmas, banyak banget yang ngeliatin. Kebanyakan si ibu-ibu yang ngeliatin. Apa gua terlalu ganteng ya?
Pikiran konyol gua berhenti tiba-tiba. Gua ga membayangkan apa yang gua lihat bakalan seperti ini. Bukan seorang pasien yang berbaring di ranjang putih, ada infus dan meja berisi buah-buahan. Atau sekedar mainan selayaknya pasien anak-anak tengah dirawat.
Hanya 4 kasur di ruangan sekitar 5 x 3 meter. Berdesak-desakan. Ada 1 kasur yang diisi 2 orang. Bau menyengat entah obat atau bau apa tercium dimana-mana. Udara yang pengap karena saking banyaknya orang. Mana yang perawat mana jenguk pasien pun kurang jelas perbedaanya. Tidak ada suster-suster cantik yang berkeliling sambil membawa jarum suntik. Keadaan ini lebih mirip pengungsian daripada tempat orang sakit dirawat.
Dan di salah satu ranjang, Fia berhenti dan segera duduk di tepi ranjang. Mungkin melihat ibunya, anak yang dibaringkan berjejer dengan 1 anak yang lain, menangis meraung-raung. Seorang anak kecil yang gua yakin usianya belum lebih dari 2 tahun. (Yang gua lihat, anak-anak yang masih balita, dibaringkan secara horizontal di kasur. Jadi posisi kepala tidak di bagian atas kasur, namun di samping. Kebayang kan? Mungkin dengan cara ini jadi bisa muat 3 anak di satu kasur).
‘Cup Cup anak Ibu. Jangan nangis ya’ Fia segera menggendong
anak tadi. Gua menitikkan air mata melihat keadaan ini.
‘Maaf ya pak keadaanya kayak gini’ Fia masih sempat mikirin gua.
‘Iya... Gpp kan aku disini dulu?’ tanya gua.
‘Duh Bapak ga sibuk? Saya dianter juga udah berterimakasih’
‘Udah udah gpp’ Gua justru ga mikirin keadaan ruangan. Gua berusaha membaca situasi untuk menentukan langkah selanjutnya yang paling tepat. Gua merasa dirawat di sini adalah sebuah pilihan yang tidak tepat.
‘Ari panasnya naik lagi Fi’ seorang lelaki tua menghampiri Fia dan duduk di sebelah Fia. Mereka bercakap-cakap selayaknya sudah mengenal dan sepenanggungan.
Seorang pria tua, rambutnya sudah memutih, banyak sekali kerutan di wajahnya. Cara dia berdiri dan duduk pun sudah menunjukkan ke-renta-anya. Dokter? Ah ga mungkin. Ga ada tampang dokter. Ato jangan jangan suami Fia??? What the hell!!!
‘O ya Pak Harry, ini ayah mertua saya’ Kata-kata Fia memecah lamunan konyol gua.
‘Eh Harry pak’ gua tersenyum sambil menyalami bapak tua tadi. Tebakan gua ga terlalu meleset -ngeles-.
‘Saya biasa dipanggil Mbah Kakung di sini nak’ Kata Bapak Tua tadi sambil membalas senyuman gua.
‘Dia atasan Fia di tempat kerja Pak’ Kata Fia mencoba menekankan kalimat supaya Mbah Kakung bisa menangkap dengan jelas. Gua tersenyum. Mbah kakung cuma manggut-manggut.
Gua disambut sangat ramah di sini. Di sela sela keadaan yang crowded, dan penuh tekanan. Fia dan Mbah Kakung masih sangat ramah. Masih sempat menawarkan minum ke gua. Oh, betapa mulianya hati mereka. Entah, gua merasa nyaman banget.
Diubah oleh pia.basah 15-05-2014 01:03
0
Kutip
Balas