- Beranda
- Stories from the Heart
Kulupakan Ia Dalam Mimpiku
...
TS
pitone176
Kulupakan Ia Dalam Mimpiku
Halo kaskuser..
ini trit pertama saya di SFTH, sebelumnya saya udah mayan sering SR di sf ini... kalo saya salah mohon didelete aja trit ini
cerita ini saya tulis bersama seorang teman, dibuatnya cerita ini bertujuan sebagai kenang2an kelulusan SMA saya sama temen saya tsb.
cerita ini masih dalam proses penulisan, do'ain ya semoga bisa cepet update...
okelah, ini dia...
“Tidak mungkin!!”
“Tapi ini bener Ti…”
“Tidak mungkin ada murid tambahan di angkatan kita Jodi Grinder!!”
“Hei aku tidak sepengecut dia! Lagipula apa yang ku katakan padamu ini beneran!!”
“Huh,” dengusku sebal menghadapi pria yang satu ini.
Yep, kalau bukan dia siapa lagi? Joddy Setiawan, mantan ketua OSIS yang menjadi ketua kelas 3 tahun berturut-turut.Yang juara sebagai murid terbaik di MOPD.Yang dimana dia juga menjuarai banyak kejuaraan di bidang akademik maupun non-akademik.
Pokoknya dia itu cowok multi talenta deh, walaupun tampangnya biasa saja sih. Tapi dengan bakat dan pencapaiannya yang seperti itu, dia diam-diam jadi incaran para gadis di angkatanku ini.
Namun dibalik semua itu dia pun juga maniak occult yang sering menceritakan kisah dunia lain ataupun membenarkannya. Entah dia membenarkan kejadian hantu Michael Jackson ataupun Jack the Ripper yang suka membunuh wanita di Inggris itu seorang arwah penasaran.
Sungguh tak ada satupun yang dapat menghentikannya ketika dia mulai bercerita tentang dunia lain. Namun entah darimana, dia itu yang paling up to datekalau sudah tentang misteri dunia lain di sekolah kami ini.
“…Ti, Kiranti…!! Woy bengong aja jadi cewek! Aku belum selesai cerita nih!”
“Apaan lagi sih Jod? Dari semua ceritamu itu, yang paling aneh adalah yang satu ini, murid tambahan angkatan kita---“
“Nah! Itu dia! Jadi si murid itu---“
“---adalah bagian dari sekolah ini kan? Sudah puluhan kali kau menceritakan tentang itu, udahlah aku ini kan orang yang paling gak percaya sama hal begituan! Kenapa terus menerus di ulang sih?”
“Uhmm… biar kamu tau aja, mungkin saja dengan aku yang menceritakan hal ini berulang-ulang kamu jadi tertarik dengan dunia ini, gak buruk juga loh Ti!”
“Ugghh… dapat ilham dari mana sih jadi bisa seyakin itu?”
“Hehehe… gapapa kali… soalnya asyik sih ngobrol sama kamu, apalagi jika obrolan kita nyambung…”
Cess… kok tiba-tiba jadi panas ya? Mungkin global warming sudah makin parah.
“Huh terserahlah, ganti pembahasan yang lain dong! Jangan yang ini! Gimana kalau kita bahas soal aja? Kan kita udah kelas 3, beberapa minggu lagi Ujian Nasional loh!”
“Iya deh iya, jadi apa yang ingin kita bahas?”
“Gimana kalau bahasa inggris, nilaiku masih payah nih”
“Humm… coba di tes vocab-nya duluya?”
“Sip!!”
“Bahasa Inggrisnya kucing?”
“Cat!!”
“Kalau kebetulan?”
“Coincidence! Yang lebih susahlah!”
“Oke, oke, kalau awan?”
“Cloud!”
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu?”
“I wanna say something to you!!”
“Kalau aku cinta kamu?”
“I love you!!”
“I love you too, Kiranti!!”
Psshh… wah gawat kayaknya AC kelas mati nih, panas nih panas~
“Dasar GOMBALLL!!! WAAA!!!” kataku sambil melemparkan barang-barang di sekitarku.
“Ahahaha,” tawanya sambil mencoba melindungi dirinya dari seranganku.
-5 menitberlalu-
“Oy, oy udahan dong stop”
“Humph!! Membusuk saja kau sana di neraka Jody Kovac!!”
“Hey hey, aku ini laki-laki bukan wanita jadi maaf saja ya!”
“Hump!! Melapuk saja kau di Krakatau Jory!!”
“Mulai ngaco dah… maaf deh… jadi jangan ngambek lagi ya…?”
“Jangan pernah mencoba gombalin aku lagi oke? Karena aku paling benci sama cowok gombal-gembel,”
“Iya-iya, jadi maaf ya…?”
“Ter.Se.Rah,”
“Hehe, kalau terserah aku jadi kita baikan lagi dong?”
“Ya… ya…”
“Kalau terserah aku kamu gak marah lagi dong?”
“Ya… ya…”
“Jadi kita masih sahabat bukan?”
Deg… entah mengapa pertanyaannya yang satu itu selalu membuat jantungku serasa berhenti berdetak dan aku memerlukan waktu untuk menjawab pertanyaan simple itu. Sebuah komitmen yang pertama kali kubuat.
“Ya… tentu saja, bodoh!”
“Hehehe...,”
Itulah Jody, cowok bodoh yang bertalenta yang sering banget membuatku muak dengan segala perilakunya yang terlihat seperti cowok yang tidak bertalenta. Meskipun begitu, entah mengapa cowok ini sering kali membuat mukaku panas ataupun membuat jantungku serasa berhenti berdetak.I wonder why…
“Hei Kiranti…”
“Hum..? Ada apa lagi Jod?”
“Kenapa sih matahari diluar cahayanya lebih terang daripada biasanya?”
“Global warming kale? Auk ah…”
“Bukannya supaya mempertegas betapa cantik wajahmu itu? Wahai Kiranti?”
“JOOODDDYYYY!!!!”
minta cendol + rate 5 ya kalo menarik
ini trit pertama saya di SFTH, sebelumnya saya udah mayan sering SR di sf ini... kalo saya salah mohon didelete aja trit ini

cerita ini saya tulis bersama seorang teman, dibuatnya cerita ini bertujuan sebagai kenang2an kelulusan SMA saya sama temen saya tsb.
cerita ini masih dalam proses penulisan, do'ain ya semoga bisa cepet update...

Quote:
cerita fiksi berkisah tentang 2 orang teman masa SMA, Kiranti dan Joddy, dimulai dari awal pertemuan mereka sampai kelulusan...
okelah, ini dia...
Spoiler for INDEX:
Spoiler for 1. Prolog:
“Tidak mungkin!!”
“Tapi ini bener Ti…”
“Tidak mungkin ada murid tambahan di angkatan kita Jodi Grinder!!”
“Hei aku tidak sepengecut dia! Lagipula apa yang ku katakan padamu ini beneran!!”
“Huh,” dengusku sebal menghadapi pria yang satu ini.
Yep, kalau bukan dia siapa lagi? Joddy Setiawan, mantan ketua OSIS yang menjadi ketua kelas 3 tahun berturut-turut.Yang juara sebagai murid terbaik di MOPD.Yang dimana dia juga menjuarai banyak kejuaraan di bidang akademik maupun non-akademik.
Pokoknya dia itu cowok multi talenta deh, walaupun tampangnya biasa saja sih. Tapi dengan bakat dan pencapaiannya yang seperti itu, dia diam-diam jadi incaran para gadis di angkatanku ini.
Namun dibalik semua itu dia pun juga maniak occult yang sering menceritakan kisah dunia lain ataupun membenarkannya. Entah dia membenarkan kejadian hantu Michael Jackson ataupun Jack the Ripper yang suka membunuh wanita di Inggris itu seorang arwah penasaran.
Sungguh tak ada satupun yang dapat menghentikannya ketika dia mulai bercerita tentang dunia lain. Namun entah darimana, dia itu yang paling up to datekalau sudah tentang misteri dunia lain di sekolah kami ini.
“…Ti, Kiranti…!! Woy bengong aja jadi cewek! Aku belum selesai cerita nih!”
“Apaan lagi sih Jod? Dari semua ceritamu itu, yang paling aneh adalah yang satu ini, murid tambahan angkatan kita---“
“Nah! Itu dia! Jadi si murid itu---“
“---adalah bagian dari sekolah ini kan? Sudah puluhan kali kau menceritakan tentang itu, udahlah aku ini kan orang yang paling gak percaya sama hal begituan! Kenapa terus menerus di ulang sih?”
“Uhmm… biar kamu tau aja, mungkin saja dengan aku yang menceritakan hal ini berulang-ulang kamu jadi tertarik dengan dunia ini, gak buruk juga loh Ti!”
“Ugghh… dapat ilham dari mana sih jadi bisa seyakin itu?”
“Hehehe… gapapa kali… soalnya asyik sih ngobrol sama kamu, apalagi jika obrolan kita nyambung…”
Cess… kok tiba-tiba jadi panas ya? Mungkin global warming sudah makin parah.
“Huh terserahlah, ganti pembahasan yang lain dong! Jangan yang ini! Gimana kalau kita bahas soal aja? Kan kita udah kelas 3, beberapa minggu lagi Ujian Nasional loh!”
“Iya deh iya, jadi apa yang ingin kita bahas?”
“Gimana kalau bahasa inggris, nilaiku masih payah nih”
“Humm… coba di tes vocab-nya duluya?”
“Sip!!”
“Bahasa Inggrisnya kucing?”
“Cat!!”
“Kalau kebetulan?”
“Coincidence! Yang lebih susahlah!”
“Oke, oke, kalau awan?”
“Cloud!”
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu?”
“I wanna say something to you!!”
“Kalau aku cinta kamu?”
“I love you!!”
“I love you too, Kiranti!!”
Psshh… wah gawat kayaknya AC kelas mati nih, panas nih panas~
“Dasar GOMBALLL!!! WAAA!!!” kataku sambil melemparkan barang-barang di sekitarku.
“Ahahaha,” tawanya sambil mencoba melindungi dirinya dari seranganku.
-5 menitberlalu-
“Oy, oy udahan dong stop”
“Humph!! Membusuk saja kau sana di neraka Jody Kovac!!”
“Hey hey, aku ini laki-laki bukan wanita jadi maaf saja ya!”
“Hump!! Melapuk saja kau di Krakatau Jory!!”
“Mulai ngaco dah… maaf deh… jadi jangan ngambek lagi ya…?”
“Jangan pernah mencoba gombalin aku lagi oke? Karena aku paling benci sama cowok gombal-gembel,”
“Iya-iya, jadi maaf ya…?”
“Ter.Se.Rah,”
“Hehe, kalau terserah aku jadi kita baikan lagi dong?”
“Ya… ya…”
“Kalau terserah aku kamu gak marah lagi dong?”
“Ya… ya…”
“Jadi kita masih sahabat bukan?”
Deg… entah mengapa pertanyaannya yang satu itu selalu membuat jantungku serasa berhenti berdetak dan aku memerlukan waktu untuk menjawab pertanyaan simple itu. Sebuah komitmen yang pertama kali kubuat.
“Ya… tentu saja, bodoh!”
“Hehehe...,”
Itulah Jody, cowok bodoh yang bertalenta yang sering banget membuatku muak dengan segala perilakunya yang terlihat seperti cowok yang tidak bertalenta. Meskipun begitu, entah mengapa cowok ini sering kali membuat mukaku panas ataupun membuat jantungku serasa berhenti berdetak.I wonder why…
“Hei Kiranti…”
“Hum..? Ada apa lagi Jod?”
“Kenapa sih matahari diluar cahayanya lebih terang daripada biasanya?”
“Global warming kale? Auk ah…”
“Bukannya supaya mempertegas betapa cantik wajahmu itu? Wahai Kiranti?”
“JOOODDDYYYY!!!!”
minta cendol + rate 5 ya kalo menarik

Diubah oleh pitone176 14-05-2014 21:34
anasabila memberi reputasi
1
1.1K
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pitone176
#1
2. Kapan, Dimana, Bagaimana?
Spoiler for 2. Kapan, Dimana, Bagaimana?:
Namaku Kiranti, siswi SMA kelas 3. Berwajah cantik, manis dan sayangnya aku punya masalah dengan tinggi badan. Tidak banyak hal menarik tentang diriku, akan tetapi satu hal yang pasti, aku tidak suka di khianati.
Aku yang pemalu telah tumbuh menjadi pribadi yang penyendiri. Aku juga mempunyai pengalaman buruk dalam hubungan pertemananku sebelumnya yang membuatku sakit hati. Hal-hal tadi telah membuatku begitu sulit untuk mendapatkan teman atau dengan kata lain, begitu sulit menaruh kepercayaan pada orang lain. Namun semua itu berubah saat aku bertemu dengan pria itu. Ya, pria itu, Joddy Setiawan namanya. Orang yang telah menyelamatkanku dari kesendirianku.
Semua berawal pada kelas 1 semester 2. Kami berada di kelas yang sama. Saat itu kelas kami mendapatkan tugas untuk membacakan puisi didepan kelas dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Saat giliranku tiba, aku yang sebelumnya merasa gugup jadi kecewa karena ternyata teman-teman sekelasku tidak ada yang memperhatikanku, semuanya bersikap tidak peduli padaku padahal sebelum giliranku mereka terlihat antusias. Pak Guru malah membiarkan mereka dan bahkan malah ikut-ikutan mengacuhkanku, seolah-olah aku tidak diharapkan ditempat ini.
Aku yang diacuhkan lalu mulai membaca puisi dengan lesu. Bait-bait awal puisi yang kubaca serasa hampa. Puisi ini seperti kehilangan maknanya. Aku yang sudah pasrah diacuhkan terus membaca puisiku tanpa ada yang memperhatikan. Hingga sampai dipertengahan baru kusadari ternyata semenjak tadi ada sepasang bola mata yang memperhatikanku, selalu memperhatikanku. Sepasang bola mata itu menempel di kepala seorang murid laki-laki yang duduk dipojok kanan belakang kelas. Tempat si ketua kelas duduk. Ia telah memperhatikanku sejak awal. Aku membalas tatapannya sehingga mata kami bertemu dan anehnya, mataku… tak dapat kualihkan lagi. Kemudian tanpa kusadari sisa-sisa bait puisiku, ku baca dengan sangat indah, sambil terus menatap matanya, seakan-akan aku khusus membacakan puisi itu untuknya seorang. Kurasakan hatiku bereaksi dalam situasi ini. Sampai akhir puisi mata kami terus bertautan, tak terlepas sekejap pun.
Setelah selesai membaca puisi , akhirnya kami berhasil mengalihkan pandangan kami masing-masing. Aku kembali ke tempat dudukku di pojok kiri belakang kelas, bersebrangan dengan tempat duduknya. Setelah aku terduduk, sekujur tubuhku langsung bergetar karena malu. Malu karena tatapan tadi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Apakah cuma seperti itu saja? Apakah aku bisa lebih dekat dengannya? Apakah ia dapat menjadi… temanku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepalaku. Pertanyaan yang terlalu takut untuk kujawab, karena kuakui, tentu saja… aku ingin menjadi temannya. Aku tak mau seperti itu saja. Aku ingin bisa lebih jauh. Aku ingin membuat kenangan-kenangan indah bersamanya. Aku ingin menjadi… temannya. Namun kepercayaan diriku menguap setelah mengingat fakta bahwa ia adalah Joddy Setiawan, seorang ketua OSIS yang mengatur MPK. Yang juara sebagai murid terbaik di MOPD.Yang dimana dia juga menjuarai banyak kejuaraan di bidang akademik maupun non-akademik. Yang juga selalu menjadi incaran para gadis.
Yah… mungkin memang cukup sampai disini. Kataku pada diri sendiri setelah sadar akan posisiku dan posisinya. Memang mustahil bagi kami untuk berteman.
Aku mencoba untuk melihat keseberang kelas. Ke tempat duduknya. Untuk setidaknya sekali lagi melihat orang yang telah mengakui keberadaanku sebelum aku kembali menjadi seorang pendiam yang ‘tak terlihat’. Namun pandanganku terhalangi oleh murid-murid lain yang duduk diantara kami. Aku dengan tubuh pendekku berusaha sekuat tenaga untuk mengatur posisi dan menjulurkan kepala agar dapat melihatnya. Terlihat!. Akhirnya aku mendapat posisi yang tepat.
Waktu serasa terhenti. Membeku. Kurasakan alam semesta ini membeku. Membeku bersamaku, karena saat aku melihat ke ujung ruangan, dapat kulihat bahwa ia juga sedang menjulurkan kepala, berusaha untuk menangkap keberadaanku. Lalu mata kami bertemu, lagi. Kali ini matanya seakan bicara, menjawab pertanyaanku sebelumnya
Tidak akan sampai disini. Aku akan lebih dekat denganmu. Aku akan menjadi… temanmu.
Saat kulihat matanya yang juga melihat mataku. Dapat kurasakan kali ini keraguanku yang menguap. Pandangan hangat dari matanya yang tajam telah merasukiku. Sehingga tanpa sadar aku tersenyum. Dan disaat yang sama ia juga tersenyum. Senyum hangat yang aku yakin hanya akan diberikan untuk teman. Di saat itu aku merasa seperti sudah berteman dengannya. Padahal kami belum pernah berkomunikasi. Tapi lagi-lagi, pandangan itu, dan kali ini ditambah senyuman itu yang menegaskan semuanya.
part 3 masih dalam proses penulisan gan

0
Kutip
Balas