- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#49
WHAT THE BRAIN CAN'T DO
Spoiler for kali ini gak pakai mikir:
Robin menarik kursinya dan menatap piring yang terisi penuh. Ini pertama kalinya ia mencicipi hidangan yang dimasak oleh Gita. Menunya sederhana saja hanya telur mata sapi dengan sepasang sosis yang digoreng dengan sedikit minyak di wajan datar. Mengapa sederhana? Karena hanya itu yang Gita bisa.
“Bagaimana, enak?”
“Seharusnya kamu nggak usah repot-repot masak, kan soto ayam sisa pesta kemarin masih sisa satu panci. Tinggal diangetin saja”
Selena mengernitkan dahi mendengar reaksi Robin yang tidak sesuai harapannya.
“Kalau nggak suka bilang saja.”
“Suka, telur mata sapi buatanmu enak kok, garam dan mericanya pas. Tapi nggak logis saja, masih banyak makanan mengapa harus masak yang baru?”
“Jadi harus logis ya?”
“Ya.”
“Mengapa harus logis?”
“Untuk menghasilkan kesimpulan dan keputusan terbaik?”
“Lalu bagaimana dengan cinta?”
“Cinta datangnya dari hati dan dinilai pakai otak.”
“Mengapa harus dinilai pakai otak?”
“Agar tidak sembarangan mencintai. Kalau jatuh cinta dengan orang yang salah akibatnya bisa fatal. Tidak cuma harta tapi nyawapun bisa melayang.”
“Lalu kenapa mencintaiku?”
“Selain karena dorongan hati, berdasarkan pertimbangan rasionalku menikah denganmu itu menguntungkan lo Sel. Kamu cantik, pinter. keibuan dan baik hati.”
Gita berdiri dalam diam. Suaminya bangkit mengecup keningnya dan berangkat bekerja. Ia berpikir yang dikatakan suaminya benar juga, tetapi Gita merasa ada yang aneh....karena alasan suaminya mencintai dirinya berbanding terbalik dengan alasan mengapa ia mencintai suaminya.
Setibanya di perusahaan Robin nyaris tak sempat masuk ke ke kantor, setelah memeriksa kondisi yang memang baik-baik saja ia keluar dan mengadakan janji temu dengan 5 klien berbeda. Klien satu sampai empat bapak-bapak berusia setengah baya, 2 orang ingin menjadi supplier, 2 orang ingin jadi distributor. Keempat-empatnya gagal mencapai kesepakatan. Tetapi tidak dengan janji temu kelima.
“Hi Rob.”
“Donna? Wah lama tidak ketemu.”
Donna teman SMU Robin, masih tetap secantik dulu bahkan sekarang tampak lebih tinggi dan menonjol. Di cafetempatnya bertemu hampir semua laki-laki menengok ke arahnya ketika gadis itu masuk dan mendekati meja Robin.
“Iya, jadwal syuting padat banget nih. Tetapi gara-gara jadwal syuting yang padat itu aku kemarin nelpon skretarismu dan buat janji temu sekarang ini”
“Maksudmu honor syuting mau kamu investasikan di usaha aku?”
“Tepat.”
“Kalau begitu ini laporan keuangan usaha aku, silahkan lihat NPV dan IRR-nya.”
Kata Robin sambil menunjukkan file di handphone-nya.
“Nggak usah lah aku percaya kok usaha kamu profitable. Oh ya ini kartu nama aku.”
Tak lama kemudian Donna pun melenggang pergi meninggalkan cafe itu meninggalkan Robin yang tenggelam dalam pemikiran. Kalau satu saja enak, dua pasti lebih menyenangkan. Punya dua mobil lebih baik daripada punya satu mobil, punya dua rumah lebih kaya daripada hanya punya satu rumah. Punya dua istri ?
Robin tersenyum dan mengamat-amati nomor telepon dan alamat yang tertera pada kartu nama di genggamannya. Keesokan harinya sepulang kerja Robin menghubungi Donna.
“Hi Donna.”
“Hi”
“Boleh nggak aku mampir ke rumah?”
“Boleh banget.”
Hal ini berlangsung terus-menerus. Hingga suatu ketika Robin tidak pulang sampai pagi.
“Kok tumben Mas semalam nggak pulang?”
“Tapi kan pagi ini sudah pulang, ada kabar gembira nih.”
“Kabar gembira?”
“Kerjaan kamu ngurusin aku jadi lebih ringan.”
“Mas mau nyari pembantu buat kerja di rumah kita?”
“Ya pembantu gantinya Mbok Darmi sudah aku hubungi tapi bukan itu yang aku maksud.”
“Jadi bukan pembantu baru?”
“Bukan, tapi istri baru.”
“Mas nggak bercanda kan?”
“Tentu tidak.”
“Tapi kan baru saja minggu lalu kita mengadakan resepsi pernikahan, kok tega-teganya sekarang Mas bilang mau kimpoi lagi?”
“Makanya jangan cuma pakai hati, tapi pakai otak juga. Pernikahan ini menguntungkan tidak cuma bagiku tapi bagi kamu juga. Kalau aku nikah sama dia, dijamin kita tidak akan jatuh miskin. Kamu kan tahu dunia wirausaha itu risikonya besar nah kalau sewaktu-waktu usahaku bangkrut masih bisa pakai uang istri baruku ini untuk bangkit lagi. Gimana, logis kan?”
Gita berkata
“Saya serahkan semuanya sama yang di atas.”
Robin keluar rumah lalu mengendari mobilnya menuju toko emas. Ia hendak melamar Donna dan untuk melamar tentu dibutuhkan cincin. Harus cincin yang bagus karena Donna publik figur. Bolehlah harganya mahal sedikit.
Diluar toko emas berdiri seorang kakek yang terus berteriak-teriak. Kakek itu memegang karton yang bertuliskan kalau berani boleh coba.
“Saudara-saudara, Oh Mas yang disana.”
“Saya?”
“Ya”
Robin pun mendekat
“Ada apa Kek.”
“Saya dalam perjalanan dan sedang mengumpulkan ongkos untuk naik bus antar kota. Saya tidak punya uang tetapi saya punya pusaka. Ini antik harganya mahal, pernah dipakai prajurit Pajang yang ikut berperang bersama Sutawijaya.”
“Kenapa tidak dijual saja atau digadaikan?”
Tanya Robin
“Awalnya saya juga berpikir begitu, tetapi muncul gagasan yang lebih baik di benak saya.”
“Gagasan apa kek?”
“Bagaimana kalau saya menantang Mas berkelahi? Kalau saya menang Mas harus bayar 200 ribu, cukup untuk saya beli tiket bus, tetapi kalau saya kalah keris yang harganya milyaran ini menjadi milik Mas bagaimana?”
“Tidak logis, kakek sudah tua sedangkan saya lebih muda. Kakek pasti kalah.”
“Kemarin ada juga anak muda yang sombong seperti Mas, saya pukul sekali langsung jadi bodoh tiada tandingan.”
“Sudahlah kek, jangan membual untuk menakut-nakuti.”
“Kalau tidak takut buktikan dong jangan cuma ngomong saja.”
“Baik. Ayo kita mulai.”
“Marilah anak muda.”
Robin memasang kuda-kuda. Ini menguntungkan dan pasti mudah sekali. Bayar 200 ribu dapat milyaran. Maka tanpa membuang waktu Robin langsung melompat dan memukul kakek itu. Tetapi dengan tenang sang kakek menangkap pergelanagn tangan Robin dan mempergunakan tenaga anak muda itu sendiri untuk menjatuhkannya.
BRAK
Kepala Robin terbentur hidran dan iapun tak sadarkan diri. Gita menyusulnya ke rumah sakit bersama dengan Donna.
“Jadi Robin sudah punya istri. Maaf Mbak saya tidak tahu.”
“Sudahlah, bukan salah Mbak Donna.”
“Ya memang salah oknum laki-laki yang membohongi kita itu.”
“Saya harap Mbak tidak menghina suami saya.”
“Mbak masih menganggapnya suami?”
“Masih.”
“Bahkan setelah mendengar keterangan dokter tadi?”
“Ya”
Dokter mengatakan Robin menderita kerusakan otak. Kini pria itu hanya mampu berpikir seperti anak lima tahun berpikir. Seluruh kecerdasannya, segala logika dan rasionalitas yang menjadi pegangan hidupnya seolah diambil kembali tanpa sisa oleh Pemilik Segala Kecerdasan.
“Mengapa Mbak?”
“Karena saya mencintainya.”
“Maksud Donna, mengapa Mbak mencintainya? Kan tidak ada untungnya, ingat Mbak Gita masih muda, cantik dan di bumi ini laki-laki yang lebih baik dari Robin jumlahnya milyaran.”
“Cinta saya tidak perlu alasan, tidak bersyarat dan tidak mengenal untung rugi. Saya mencintai Mas Robin karena dia Mas Robin, pria lain yang milyaran itu buat Mbak Donna saja. Permisi.”
Katanya sambil berjalan di koridor meninggalkan Donna yang berdiri keheranan. Sejak dulu beginilah cinta, keanehannya takkan pernah berakhir.
THE END
Diubah oleh reloaded0101 14-05-2014 05:09
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas