- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#13
PART V MANAJEMEN MENTAL
Quote:
PART V
MANAJEMEN MENTAL
Dulu tiap sore gua seneng banget duduk duduk di depan Rumah sama nyokap sambil minum teh anget. Biasanya teh anget yang gua bikin pake gelas berukuran raksasa, bikinnya 1 gelas aja buat berdua sama nyokap. Di saat itulah nyokap sering menasehatin gua. Satu nasehat yang gua ingat sampe sekarang. MANAJEMEN MENTAL.
‘Apa itu manajemen mental Ma?’ tanya gua penasaran.
‘Simple. Kalo kamu terbang jangan ketinggian, biar gak terlalu sakit kalau jatuh. Lalu perlu diingat juga, kalo capek, jangan kelamaan istirahat, nanti kamu lupa caranya terbang’
‘Hmmm’ Gua manggut-manggut.
-----
Salah satu hari yang gua tunggu tunggu adalah hari sabtu. Bukannya mau malem mingguan (sama siapa juga?). Tapi tiap hari sabtu, Fia akan mengantarkan beberapa dokumen dan laporan ke ruangan gua. Dan saat itulah gua bisa ngobrol lepas sama Fia. Lena? Lena kan mejanya di depan ruangan gua hehe.
‘Pak, ini laporannya. Trus dokumennya sudah saya jadikan 1 di map ini’ kata Fia berdiri mematung di depan meja gua.
‘Duduk dulu deh’ Jawab gua.
Fia menggeser kursi di depan meja gua, kemudian duduk. Kedua tangannya diletakkan di paha, kemudian matanya jelalatan ngeliat gambar, poster dan lukisan di ruangan gua. Sampek kulkas di deket meja gua, juga ga luput diliatin.
Di saat matanya jelalatan itulah, gua bisa jelalatan juga. Tapi ga macem-macem. Gua memandang salah satu karya Tuhan yang paling indah yang gua pernah temukan –cie-. Ya Tuhan, gini ini bisa bisa gua kena diabetes. Manis bangettt!
‘Fia..’
‘Ya Pak?’
‘Rumah kamu dimana si?’
‘Eh kenapa emangnya pak?’
‘Gpp. Kalo ga terlalu jauh kan aku bisa pertimbangkan, siapa tahu kita butuh lembur buat selesein kiriman. Kamu tahu sendiri kan kantor pusat lagi butuh banyak’ Pinter ngeles juga gua. Hehe.
Sekedar info, unit gua kerja memang membuat bahan baku menjadi setengah masak, lalu di kantor pusatlah yang melanjutkan proses produksi.
‘Hm kira-kira 40 menit mungkin kalau naik angkot pak. Itu juga ganti 2x naik angkotnya. Tapi enaknya angkot dari batas kota sampek rumah saya, sampek jam 9 malem masih ada pak. Bla bla bla….’
‘Jadi kamu pulang naik angkot?’
‘Gak juga si’
‘….’ –Telen Korek-
‘Dulu sekali doank naik angkot. Tapi sekarang selalu bareng sama Resti. Tau kan bapak? Bagian pilih-pilih bahan baku. Jadi hemat tu pak. Saya Cuma isiin bensin motor resti aja tiap 3 hari sekali, kalo tanggal tua juga ga bakal saya isiin haha..’
‘O ya ya’
‘Laporannya gimana tu pak?’
‘Ya ga gimana gimana. Cuma data data doank kan ini? Nanti saya kroscek dulu kaya biasa’
‘Jadi saya tinggal gpp ni pak?’
‘Di sini aja dulu, udah hampir jam pulang kerja juga toh?’
‘Hehehe asyik.. Adem di sini’
Gua tersenyum simpul melihat tingkah Fia. Kadang kaya anak kecil yang baru dikasi mainan. Kadang dia jadi dewasa dan Cuma dia yang berani marah-marah ke gua waktu ngrokok di ruangan. Dan gua juga sedikit berani berterus terang, bahwa gua seneng ngobrol sama dia. Walaupun caranya gak langsung. Dan itu juga karena Fia selalu menanggapi enteng kata kata gua.
Dan obrolan kami berlanjut sampai jam menunjukkan waktunya pulang
------
Ga terasa sebulan sudah berlalu sejak pertama kali gua bertemu Fia. Selama ini semua berjalan baik-baik saja. Maksudnya? Ya baik. Karena dari awal sampai sekarang, gua ga mendekat ataupun menjauh. Terbiasa berpikir realistis dan membaca statistik, membuat gua terlalu mempertimbangkan faktor X, Y bahkan Z dalam perasaan gua.
Tiap hari gua masih selalu disapa oleh Fia. Gua juga masih ‘men-sering-kan’ diri mengunjungi Fia di gudang ekspedisi sekedar ngobrol ataupun godain dia. Walaupun obrolan obrolan gua hanya di permukaan saja. Gua belum punya keberanian untuk menanyakan hal hal yang lebih bersifat pribadi.
Gua memperhitungkan agama, jelas itu hal yang gua pikirkan. Namun terus terang gua bukan seorang penganut agama yang taat. Jadi hal ini bisa digeser ke nomor 2. Status ekonomi dan sosial? No No… Gua paling anti sama masalah ini. Gua ga pernah mempermasalahkan dengan siapa gua jatuh cinta.
Percaya lah bahwa masalah no.1 yang gua pikirin adalah malu. Malu digosipin karena godain cewek di tempat kerja. Masalah sepele tapi entah kenapa hal ini yang mengganggu gua saat itu.
Dan pada akhirnya waktu akan menjawab, entah itu jawabannya. Apakah pengecut seperti diriku ini semakin maju? Atau malah semakin mundur?
‘Pak Harry, untuk karyawan harian yang sakit, pengajuan biaya tanggungannya langsung diurus ke kantor pusat ya?’ Lena di depan mejaku, bertanya sambil membolak-balik kertas. Awal-awal merintis unit baru memang melelahkan, banyak sekali ternyata yang harus diurus kesana kesini.
‘Iya sementara gitu dulu. Nanti kalau sudah clear untuk jaminan kesehatannya baru kita bisa urus sendiri. Maklum unit baru, misah lagi letak pabriknya dari pusat’ Unit tempat gua kerja ini memang beda kota dengan pusat, bahkan bisa dibilang jauh.
‘Kalau rumah sakitnya?’
‘Ya disinilah. Masak ya jauh jauh ke sana?’
‘ooo kirain pak’ jawab Lena mrenges.
‘o ya pak?’
‘Heem…’ Gua agak malas menanggapi Lena. Kadang dia kebanyakan nanya ga penting gitu. Padahal saat itu gua juga lagi asyik baca artikel-artikel di HP gua.
‘kalau anggota keluarga yang sakit gimana nih? Masuk tanggungan gak ya buat karyawan harian?’
‘Hmm masuk kayaknya. Tapi Cuma buat suami, istri atau anak deh. Kalo Paman, Bibi, Pak De, Bude, Nenek, Kakek, kayaknya nggak’ Gua mulai kesal dengan Lena.
‘Haha bapak bisa aja’
‘Hemm..’
‘Ooo berarti ini masuk juga ya? Hmm harus ngurus ni berarti’ Gumam Lena ngomong sama dirinya sendiri.
‘Huft.. Emang udah ada yang ngajuin?’ Gua meletakkan HP gua, kemudian menyalakan sebatang rokok… ‘Cess… Fuhhhhh…..’
‘Ada pak, buat anak’
‘ooo…’
‘…’
'karyawan harian atau staff?'
'harian pak'
'.....'
'.....'
‘siapa?’
‘Fia, bagian ekspedisi’
‘Uhuk uhuk….’ –keselek-
MANAJEMEN MENTAL
Dulu tiap sore gua seneng banget duduk duduk di depan Rumah sama nyokap sambil minum teh anget. Biasanya teh anget yang gua bikin pake gelas berukuran raksasa, bikinnya 1 gelas aja buat berdua sama nyokap. Di saat itulah nyokap sering menasehatin gua. Satu nasehat yang gua ingat sampe sekarang. MANAJEMEN MENTAL.
‘Apa itu manajemen mental Ma?’ tanya gua penasaran.
‘Simple. Kalo kamu terbang jangan ketinggian, biar gak terlalu sakit kalau jatuh. Lalu perlu diingat juga, kalo capek, jangan kelamaan istirahat, nanti kamu lupa caranya terbang’
‘Hmmm’ Gua manggut-manggut.
-----
Salah satu hari yang gua tunggu tunggu adalah hari sabtu. Bukannya mau malem mingguan (sama siapa juga?). Tapi tiap hari sabtu, Fia akan mengantarkan beberapa dokumen dan laporan ke ruangan gua. Dan saat itulah gua bisa ngobrol lepas sama Fia. Lena? Lena kan mejanya di depan ruangan gua hehe.
‘Pak, ini laporannya. Trus dokumennya sudah saya jadikan 1 di map ini’ kata Fia berdiri mematung di depan meja gua.
‘Duduk dulu deh’ Jawab gua.
Fia menggeser kursi di depan meja gua, kemudian duduk. Kedua tangannya diletakkan di paha, kemudian matanya jelalatan ngeliat gambar, poster dan lukisan di ruangan gua. Sampek kulkas di deket meja gua, juga ga luput diliatin.
Di saat matanya jelalatan itulah, gua bisa jelalatan juga. Tapi ga macem-macem. Gua memandang salah satu karya Tuhan yang paling indah yang gua pernah temukan –cie-. Ya Tuhan, gini ini bisa bisa gua kena diabetes. Manis bangettt!
‘Fia..’
‘Ya Pak?’
‘Rumah kamu dimana si?’
‘Eh kenapa emangnya pak?’
‘Gpp. Kalo ga terlalu jauh kan aku bisa pertimbangkan, siapa tahu kita butuh lembur buat selesein kiriman. Kamu tahu sendiri kan kantor pusat lagi butuh banyak’ Pinter ngeles juga gua. Hehe.
Sekedar info, unit gua kerja memang membuat bahan baku menjadi setengah masak, lalu di kantor pusatlah yang melanjutkan proses produksi.
‘Hm kira-kira 40 menit mungkin kalau naik angkot pak. Itu juga ganti 2x naik angkotnya. Tapi enaknya angkot dari batas kota sampek rumah saya, sampek jam 9 malem masih ada pak. Bla bla bla….’
‘Jadi kamu pulang naik angkot?’
‘Gak juga si’
‘….’ –Telen Korek-
‘Dulu sekali doank naik angkot. Tapi sekarang selalu bareng sama Resti. Tau kan bapak? Bagian pilih-pilih bahan baku. Jadi hemat tu pak. Saya Cuma isiin bensin motor resti aja tiap 3 hari sekali, kalo tanggal tua juga ga bakal saya isiin haha..’
‘O ya ya’
‘Laporannya gimana tu pak?’
‘Ya ga gimana gimana. Cuma data data doank kan ini? Nanti saya kroscek dulu kaya biasa’
‘Jadi saya tinggal gpp ni pak?’
‘Di sini aja dulu, udah hampir jam pulang kerja juga toh?’
‘Hehehe asyik.. Adem di sini’
Gua tersenyum simpul melihat tingkah Fia. Kadang kaya anak kecil yang baru dikasi mainan. Kadang dia jadi dewasa dan Cuma dia yang berani marah-marah ke gua waktu ngrokok di ruangan. Dan gua juga sedikit berani berterus terang, bahwa gua seneng ngobrol sama dia. Walaupun caranya gak langsung. Dan itu juga karena Fia selalu menanggapi enteng kata kata gua.
Dan obrolan kami berlanjut sampai jam menunjukkan waktunya pulang

------
Ga terasa sebulan sudah berlalu sejak pertama kali gua bertemu Fia. Selama ini semua berjalan baik-baik saja. Maksudnya? Ya baik. Karena dari awal sampai sekarang, gua ga mendekat ataupun menjauh. Terbiasa berpikir realistis dan membaca statistik, membuat gua terlalu mempertimbangkan faktor X, Y bahkan Z dalam perasaan gua.
Tiap hari gua masih selalu disapa oleh Fia. Gua juga masih ‘men-sering-kan’ diri mengunjungi Fia di gudang ekspedisi sekedar ngobrol ataupun godain dia. Walaupun obrolan obrolan gua hanya di permukaan saja. Gua belum punya keberanian untuk menanyakan hal hal yang lebih bersifat pribadi.
Gua memperhitungkan agama, jelas itu hal yang gua pikirkan. Namun terus terang gua bukan seorang penganut agama yang taat. Jadi hal ini bisa digeser ke nomor 2. Status ekonomi dan sosial? No No… Gua paling anti sama masalah ini. Gua ga pernah mempermasalahkan dengan siapa gua jatuh cinta.
Percaya lah bahwa masalah no.1 yang gua pikirin adalah malu. Malu digosipin karena godain cewek di tempat kerja. Masalah sepele tapi entah kenapa hal ini yang mengganggu gua saat itu.
Dan pada akhirnya waktu akan menjawab, entah itu jawabannya. Apakah pengecut seperti diriku ini semakin maju? Atau malah semakin mundur?
‘Pak Harry, untuk karyawan harian yang sakit, pengajuan biaya tanggungannya langsung diurus ke kantor pusat ya?’ Lena di depan mejaku, bertanya sambil membolak-balik kertas. Awal-awal merintis unit baru memang melelahkan, banyak sekali ternyata yang harus diurus kesana kesini.
‘Iya sementara gitu dulu. Nanti kalau sudah clear untuk jaminan kesehatannya baru kita bisa urus sendiri. Maklum unit baru, misah lagi letak pabriknya dari pusat’ Unit tempat gua kerja ini memang beda kota dengan pusat, bahkan bisa dibilang jauh.
‘Kalau rumah sakitnya?’
‘Ya disinilah. Masak ya jauh jauh ke sana?’
‘ooo kirain pak’ jawab Lena mrenges.
‘o ya pak?’
‘Heem…’ Gua agak malas menanggapi Lena. Kadang dia kebanyakan nanya ga penting gitu. Padahal saat itu gua juga lagi asyik baca artikel-artikel di HP gua.
‘kalau anggota keluarga yang sakit gimana nih? Masuk tanggungan gak ya buat karyawan harian?’
‘Hmm masuk kayaknya. Tapi Cuma buat suami, istri atau anak deh. Kalo Paman, Bibi, Pak De, Bude, Nenek, Kakek, kayaknya nggak’ Gua mulai kesal dengan Lena.
‘Haha bapak bisa aja’
‘Hemm..’
‘Ooo berarti ini masuk juga ya? Hmm harus ngurus ni berarti’ Gumam Lena ngomong sama dirinya sendiri.
‘Huft.. Emang udah ada yang ngajuin?’ Gua meletakkan HP gua, kemudian menyalakan sebatang rokok… ‘Cess… Fuhhhhh…..’
‘Ada pak, buat anak’
‘ooo…’
‘…’
'karyawan harian atau staff?'
'harian pak'
'.....'
'.....'
‘siapa?’
‘Fia, bagian ekspedisi’
‘Uhuk uhuk….’ –keselek-
0
Kutip
Balas