- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#2
PART III “……”
Quote:
PART III
“……”
Sebagai seorang profesional, gua ga pernah mengaitkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Etos kerja ini yang gua teladanin dari orang-orang yang yang gua kagumi baik di perusahaan ini maupun perusahaan sebelumnya tempat gua kerja. So.. gua juga harus serius, santai boleh tapi tetap serius, demikian pula untuk saat ini.
‘selamat malam..’ gua melanjutkan sapaan gua tadi.
‘malam pak..’ jawab fia, alus banget kaya tahu sutera.
‘hmm….’ Duh gua jadi grogi.
Fia memandang gua tajam banget. Langsung ke mata gua. Gua jadi salah tingkah. Lemes gua. Eh kenapa lemes ya? Siapa dia? Kok gua jadi gini nih.
Okelah biar suasana agak mencair dan gua ga gitu gitu banget. Gua mengeluarkan senjata sakti. Rokok pr*Mild satu batang!
Bukannya mencair, fia malah mengernyitkan dahinya. Memandangku aneh…
“di ruangan AC kok ngerokok si?”
“eh eh.. –grogi mode on-“
‘ga sehat lo pak. Td di depan ngrokok, sekarang ngrokok lagi. Kan bapak tau tiap batang rokok yang dinyalakan mengurangi nyawa 8 menit. Di iklan iklan aja banyak tuh “merokok mebunuhmu”. Apa ga takut ga bisa liat anak cucu?’
“….’ Kok gua jadi dimarahin ya?
‘…..’
‘…..’
‘pak?’
‘ya?’
‘marah?’
‘enggak’
‘trus?’
‘grogi..’ jawabku sekenanya.
‘apa tadi?’
‘eh nggak apa apa.. oke deh langsung aja ya sudah malem soalnya’
‘….’
‘….’
‘….’
‘kok diem?’ tanyaku.
‘la nunggu bapak nanya’
‘o iya’
‘….’
‘…..’
‘….’
Kok jadi diem dieman gini si ya? Nulisnya aja ga enak, kebayang kan waktu gua alamin kayak apa.
‘pak’
‘ya?’
‘udah hampir jam 10 ni’
‘o iya udah malem ya?’
‘iya’
‘ngantuk?’
‘…..’
‘mau kopi?’
‘pak ini interviewnya kok aneh ya?’
‘….’
‘hm..’
‘udah pernah kerja?’ wuihhhh gila akhirnya gua bisa mengeluarkan pertanyaan interview pertama gua ke cewek satu ini.
‘sudah’
‘…’
Lah..
‘posisinya apa ya pak di perusahaan ini? Hm maksunya misal saya diterima gitu’
‘oo ada untuk pantry sama kebersihan’
‘pantry itu apa?’
‘pantry itu dapur’
‘masak?’
‘ya gak lah. Paling buatin kopi buat staff staff aja. Sama urusin jatah makan buat karyawan’
‘jatah makan?’
‘iya kalo malem, kalo siang nggak’
‘ooo’
‘…..’
‘jadi saya diterima pak?’ tanya Fia lagi. Gua mulai merasa aneh dengan interview ini. Ga jelas, tapi menurut gua, yang di-interview sama yang meng-interview kebalik.
‘eh eh hmm.. Pantry aja mau? Atau bantu Lena aja ya? Urusin administrasi’
‘kok bapak malah nanya saya ya? Kalo boleh si jadi kaya bapak aja haha. Gajinya pasti gede’
‘Hahahaha….’ Asli gua bisa ketawa lepas. Grogi gua serasa hilang dan tenggelam.
‘jadi…’ Fia kepengen memastikan tampaknya.
‘Hm nih dokumen kamu baca buat tata tertib sama ketentuan kerja, jumlah jam kerja, gaji dan tetek bengeknya ada di situ’
“o ya makasih pak. Jadi saya diterima donk” sambil menerima beberapa lembar kertas yang gua berikan.
‘besok masuk jam 8 jangan lupa’
‘hah?’
‘what’s wrong?’
‘saya kira ga besok mulai kerjanya. Pulang malem padahal ini’
‘trus?’
‘iya deh gapapa..’ ujar fia seperti memelas.
Gua aslinya ga tega. Ya gua paling ga tega sama cewek2 yang terpaksa kerja banting tulang. Entah buat ayah ibunya, suaminya, anaknya. Karena menurut gua tugas itu adalah tugas seorang lelaki. Boleh si kerja, asal ga jadi tulang punggung. Kan cewek diciptain dari tulang rusuk, bukan tulang punggung.
Gua menyalami Fia, sambil mempersilahkan dia pulang. Fia berdiri berterima kasih kemudian beranjak dari kursi. Membuka pintu and…
‘Bapak Lucu deh. Baik” ujar Fia. Sesaat sebelum keluar ruangan gua dan ‘Blam’ pintu ditutup.
‘Huft….’ Gua merebahkan diri di sandaran kursi. Sambil senyum-senyum,
Gua dibilang lucu. Hahaha…
Enough for today… awkward interview uh..
“……”
Sebagai seorang profesional, gua ga pernah mengaitkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Etos kerja ini yang gua teladanin dari orang-orang yang yang gua kagumi baik di perusahaan ini maupun perusahaan sebelumnya tempat gua kerja. So.. gua juga harus serius, santai boleh tapi tetap serius, demikian pula untuk saat ini.
‘selamat malam..’ gua melanjutkan sapaan gua tadi.
‘malam pak..’ jawab fia, alus banget kaya tahu sutera.
‘hmm….’ Duh gua jadi grogi.
Fia memandang gua tajam banget. Langsung ke mata gua. Gua jadi salah tingkah. Lemes gua. Eh kenapa lemes ya? Siapa dia? Kok gua jadi gini nih.
Okelah biar suasana agak mencair dan gua ga gitu gitu banget. Gua mengeluarkan senjata sakti. Rokok pr*Mild satu batang!
Bukannya mencair, fia malah mengernyitkan dahinya. Memandangku aneh…
“di ruangan AC kok ngerokok si?”
“eh eh.. –grogi mode on-“
‘ga sehat lo pak. Td di depan ngrokok, sekarang ngrokok lagi. Kan bapak tau tiap batang rokok yang dinyalakan mengurangi nyawa 8 menit. Di iklan iklan aja banyak tuh “merokok mebunuhmu”. Apa ga takut ga bisa liat anak cucu?’
“….’ Kok gua jadi dimarahin ya?
‘…..’
‘…..’
‘pak?’
‘ya?’
‘marah?’
‘enggak’
‘trus?’
‘grogi..’ jawabku sekenanya.
‘apa tadi?’
‘eh nggak apa apa.. oke deh langsung aja ya sudah malem soalnya’
‘….’
‘….’
‘….’
‘kok diem?’ tanyaku.
‘la nunggu bapak nanya’
‘o iya’
‘….’
‘…..’
‘….’
Kok jadi diem dieman gini si ya? Nulisnya aja ga enak, kebayang kan waktu gua alamin kayak apa.
‘pak’
‘ya?’
‘udah hampir jam 10 ni’
‘o iya udah malem ya?’
‘iya’
‘ngantuk?’
‘…..’
‘mau kopi?’
‘pak ini interviewnya kok aneh ya?’
‘….’
‘hm..’
‘udah pernah kerja?’ wuihhhh gila akhirnya gua bisa mengeluarkan pertanyaan interview pertama gua ke cewek satu ini.
‘sudah’
‘…’
Lah..
‘posisinya apa ya pak di perusahaan ini? Hm maksunya misal saya diterima gitu’
‘oo ada untuk pantry sama kebersihan’
‘pantry itu apa?’
‘pantry itu dapur’
‘masak?’
‘ya gak lah. Paling buatin kopi buat staff staff aja. Sama urusin jatah makan buat karyawan’
‘jatah makan?’
‘iya kalo malem, kalo siang nggak’
‘ooo’
‘…..’
‘jadi saya diterima pak?’ tanya Fia lagi. Gua mulai merasa aneh dengan interview ini. Ga jelas, tapi menurut gua, yang di-interview sama yang meng-interview kebalik.
‘eh eh hmm.. Pantry aja mau? Atau bantu Lena aja ya? Urusin administrasi’
‘kok bapak malah nanya saya ya? Kalo boleh si jadi kaya bapak aja haha. Gajinya pasti gede’
‘Hahahaha….’ Asli gua bisa ketawa lepas. Grogi gua serasa hilang dan tenggelam.
‘jadi…’ Fia kepengen memastikan tampaknya.
‘Hm nih dokumen kamu baca buat tata tertib sama ketentuan kerja, jumlah jam kerja, gaji dan tetek bengeknya ada di situ’
“o ya makasih pak. Jadi saya diterima donk” sambil menerima beberapa lembar kertas yang gua berikan.
‘besok masuk jam 8 jangan lupa’
‘hah?’
‘what’s wrong?’
‘saya kira ga besok mulai kerjanya. Pulang malem padahal ini’
‘trus?’
‘iya deh gapapa..’ ujar fia seperti memelas.
Gua aslinya ga tega. Ya gua paling ga tega sama cewek2 yang terpaksa kerja banting tulang. Entah buat ayah ibunya, suaminya, anaknya. Karena menurut gua tugas itu adalah tugas seorang lelaki. Boleh si kerja, asal ga jadi tulang punggung. Kan cewek diciptain dari tulang rusuk, bukan tulang punggung.
Gua menyalami Fia, sambil mempersilahkan dia pulang. Fia berdiri berterima kasih kemudian beranjak dari kursi. Membuka pintu and…
‘Bapak Lucu deh. Baik” ujar Fia. Sesaat sebelum keluar ruangan gua dan ‘Blam’ pintu ditutup.
‘Huft….’ Gua merebahkan diri di sandaran kursi. Sambil senyum-senyum,
Gua dibilang lucu. Hahaha…
Enough for today… awkward interview uh..
0
Kutip
Balas