- Beranda
- The Lounge
Leony Alvionita, Korban Kesembronoan Menteri Pendidikan
...
TS
Rofachan87
Leony Alvionita, Korban Kesembronoan Menteri Pendidikan

FIRST HT ANE GAN 
THX TO MIN+MOD, THREAD ANE HT
Spoiler for NO REPSOL:

Kemarin masih ragu, tapi membaca berita hari ini sedih luar biasa, marah dan geram!
Sekali lagi, Ujian Nasional menimbulkan korban. Kali ini teman kita, Leony Alvionita.
Mungkin ada yang bilang dia pengecut. Mungkin ada yang bilang dia lebay! Tidak!
Bayangkan, setahun sudah persiapan dengan bimbingan belajar dan try out dengan banyak pengorbanan. Tiba-tiba menteri pendidikan ngetweet beberapa hari menjelang UN bahwa soal UN berstandar internasional. Dan seperti yang teman-teman rasakan baik UN SMA dan UN SMP, banyak sekali soal yang diluar apa yang dipelajari.
Dan ketika kami menanyakan mengapa soal begitu sulit diluar apa yang kami pelajari,
jawabanmu begitu enteng, “Tidak ingin anak-anak jadi manja”…
Siapapun yang sudah berusaha keras, tapi menghadapi kenyataan yang mendadak pasti tidak siap dan kelimpungan. Setahun persiapan pun percuma bila soal yang keluar diluar apa yang dipersiapkan.
Dan informasi itu HANYA MELALUI TWITTER!
Menteri apaan itu?!
Apakah semua orang di Indonesia punya twiter?
Teman-teman kita di pelosok?
Bayangkan jika kita berada pada posisi Leony pun pasti kalut. Ditengah situasi kalut itu ada teman yang menyodorkan bocoran. Dan seperti kita tahu, bocoran UN sudah lama beredar jauh-jauh hari. Dan selanjutnya agan-agan bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Leony, yak benar,
Leony memilih jalan bunuh diri!
Leony adalah KORBAN KESEMBRONOAN MENTERI PENDIDIKAN! Sembrono menyiapkan soal standar internasional yang itu pun terbukti menjiplak soal PISA. Sembrono mensosialisasikan soal standar internasional ke guru dan pelajar di seluruh Indonesia. Sembrono dalam menyelidiki bocoran UN SMP yang selalu menuduh siswa dan guru tanpa menyelidiki lembaganya sendiri. Sembrono memutuskan untuk ngotot melaksanakan Ujian Nasional meski melanggar keputusan MA tahun 2009 yang menangguhkan Ujian Nasional.
Mungkin ada yang bilang kematian Leony sia-sia. Tapi kita bisa berjuang agar kematian Leony tidak sia-sia, dengan perjuangan kita untuk menolak Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan!
Quote:
Jangan biarkan adik, keponakan, anak-anak kita nanti menjadi korban berikutnya dari jahanamnya ujian nasional.


Quote:
Leony Tinggalkan Kesan Bagi Teman-temannya
TRIBUN-BALI,COM, TABANAN - Sudah dua hari dan dua mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) SMP diikuti oleh Leony Alvionita S (14), siswi SMP Negeri 1 Tabanan. Namun, untuk dua mata pelajaran lagi yang akan diujikan hari ini (yakni Bahasa Inggris) dan besok (IPA), dipastikan Leony tak akan lagi bisa mengikutinya.
Leony yang akrab dipanggil Onik telah menghadap Sang Maha Pencipta dengan cepat, mengejutkan keluarga, teman-teman sekolah dan gurunya. Selasa (6/5) menjelang siang itu, setelah mengerjakan UN bidang studi Matematika, Onik mengakhiri hidupnya.
Siswi kelas IX SMPN 1 Tabanan ditemukan menggantung dirinya menggunakan dasi seragam sekolah di kediamannya Jalan Mawar nomor 51 Tabanan.
Menurut Keterangan Kapolres Tabanan, AKBP Dekananto Eko Purwono, Onik nekat mengakhiri nyawanya karena diduga kecewa tidak bisa menjawab soal Matematika UN. “Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu Tabanan,” ujarnya. Namun, jiwa Onik tak tertolong, dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.30 Wita.
Dari obrolan beberapa warga sekitar rumah keluarga Onik, seusai ujian Onik pulang dan mengobrol dengan ibunya tentang situasi UN. Onik memberitahu ibunya bahwa dia mendapat contekan dari temannya. Mendengar itu, sang ibu langsung memarahi Onik, karena dianggap belajar Onik selama sebelum UN menjadi sia-sia jika dia mencontek saat UN. Onik lantas ngambek dan masuk ke kamarnya. Sang ibunda mengira Onik ganti baju di dalam kamar. Namun, setelah namanya dipanggil, dan dari dalam kamar tak ada jawaban, sang ibunda lantas masuk kamar.
Ternyata Onik didapati sudah dalam posisi gantung diri dengan menggunakan dasi. Hariadi, guru Agama Budha SMPN 1 Tabanan yang selama ini cukup mengenal Onik, mengatakan bahwa muridnya itu tergolong paling menonjol kemampuan akademiknya.“Saya kaget membaca status BlackBerry teman-temannya, yang menginformasikan Onik meninggal dunia,” ujar Hariadi.
Hariadi tak menyangka Onik bisa berbuat senekat itu. Pasalnya, tak ada gelagat aneh yang tampak pada pribadi Onik. Bahkan, gadis berusia 14 tahun itu pernah diikutkan lomba ceramah agama Budha dalam bahasa Inggris. “Dia cerdas, dan akrab dengan teman-temannya,” terangnya.
Pada saat diberi tugas pun, kata Hariadi, Onik selalu mengerjakannya tepat waktu dan disiplin. Hariadi sempat bertemu Onik setelah ujian kemarin. Satu di antara teman Onik, Shasha Bella, merasa kehilangan dengan kepergian Onik. Namun, Shasha tak berkenan memberikan keterangan lebih lanjut karena hendak belajar. “Yang pasti saya sedih, dia orangnya cantik dan baik,” ucapnya.
Sementara itu, dalam kalimat terakhirnya di twitter tertanggal 5 Mei, Onik yang memiliki akun @liony_alvionita menulis “Eh ternyata sekarang tanggal 5″. Pada tanggal 27 April, ia menulis “sepahit-pahitnya hidup pasti akan manis pada waktunya” Sementara itu, tadi malam doa terus dilantunkan di rumah duka Kertha Semadi, Denpasar, tempat di mana jenazah Onik disemayamkan. Tangis dari sanak keluarga, kerabat serta kawan-kawan Onik seakan tak berhenti ketika mereka bertandang di rumah duka itu. Mereka larut dalam kesedihan.
Air mata menetes dari sejumlah teman sekolah yang menghadiri persemayaman Onik berbaur dengan panjatan doa. Banyak kerabat tidak menduga bahwa anak keempat Sugiartama itu meninggal dunia dengan cara nekat hanya karena hal sepele. Sejumlah kerabat yang datang langsung menghampiri Sugiartama, ayahanda Onik. Mereka menanyakan tentang kepergian Leony secara mendadak. Dengan tabah Sugiartama menceritakan kepergian anak perempuannya tersebut. Kepada Tribun Bali, Sugiartama mengaku urusan telah diserahkannya ke pada pihak kepolisian.
Ia sendiri tidak menduga sama sekali kepergian anaknya secepat itu. Padahal, saat pulang sekolah kemarin, Sugiartama sendiri yang menjemput Leony. “Tidak ada firasat apapun saat itu. Sikap Leony juga seperti biasanya, tidak ada yang berbeda,” tuturnya. Meninggalnya Leony sangat disesali, karena di lingkungan keluarga sama sekali tidak ada masalah. Sugiartama pun tidak menyangka ujian nasional menjadi pemicu anak perempuannya nekat mengakhiri hidup.
“Selama ini Leony sudah belajar dan mengikuti bimbingan belajar. Keluarga berpikir tidak menjurus ke sana (bunuh diri),” imbuh Sugiartama, yang tampak terpukul. Rencananya, pemakaman Leony akan dilakukan pada 9 Mei nanti. “Dikremasi atau dikubur di Tabanan masih belum tahu. Keluarga masih rembuk,” ucap Sugiartama.(Tribun Bali Cetak)
TRIBUN-BALI,COM, TABANAN - Sudah dua hari dan dua mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) SMP diikuti oleh Leony Alvionita S (14), siswi SMP Negeri 1 Tabanan. Namun, untuk dua mata pelajaran lagi yang akan diujikan hari ini (yakni Bahasa Inggris) dan besok (IPA), dipastikan Leony tak akan lagi bisa mengikutinya.
Leony yang akrab dipanggil Onik telah menghadap Sang Maha Pencipta dengan cepat, mengejutkan keluarga, teman-teman sekolah dan gurunya. Selasa (6/5) menjelang siang itu, setelah mengerjakan UN bidang studi Matematika, Onik mengakhiri hidupnya.
Siswi kelas IX SMPN 1 Tabanan ditemukan menggantung dirinya menggunakan dasi seragam sekolah di kediamannya Jalan Mawar nomor 51 Tabanan.
Menurut Keterangan Kapolres Tabanan, AKBP Dekananto Eko Purwono, Onik nekat mengakhiri nyawanya karena diduga kecewa tidak bisa menjawab soal Matematika UN. “Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu Tabanan,” ujarnya. Namun, jiwa Onik tak tertolong, dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.30 Wita.
Dari obrolan beberapa warga sekitar rumah keluarga Onik, seusai ujian Onik pulang dan mengobrol dengan ibunya tentang situasi UN. Onik memberitahu ibunya bahwa dia mendapat contekan dari temannya. Mendengar itu, sang ibu langsung memarahi Onik, karena dianggap belajar Onik selama sebelum UN menjadi sia-sia jika dia mencontek saat UN. Onik lantas ngambek dan masuk ke kamarnya. Sang ibunda mengira Onik ganti baju di dalam kamar. Namun, setelah namanya dipanggil, dan dari dalam kamar tak ada jawaban, sang ibunda lantas masuk kamar.
Ternyata Onik didapati sudah dalam posisi gantung diri dengan menggunakan dasi. Hariadi, guru Agama Budha SMPN 1 Tabanan yang selama ini cukup mengenal Onik, mengatakan bahwa muridnya itu tergolong paling menonjol kemampuan akademiknya.“Saya kaget membaca status BlackBerry teman-temannya, yang menginformasikan Onik meninggal dunia,” ujar Hariadi.
Hariadi tak menyangka Onik bisa berbuat senekat itu. Pasalnya, tak ada gelagat aneh yang tampak pada pribadi Onik. Bahkan, gadis berusia 14 tahun itu pernah diikutkan lomba ceramah agama Budha dalam bahasa Inggris. “Dia cerdas, dan akrab dengan teman-temannya,” terangnya.
Pada saat diberi tugas pun, kata Hariadi, Onik selalu mengerjakannya tepat waktu dan disiplin. Hariadi sempat bertemu Onik setelah ujian kemarin. Satu di antara teman Onik, Shasha Bella, merasa kehilangan dengan kepergian Onik. Namun, Shasha tak berkenan memberikan keterangan lebih lanjut karena hendak belajar. “Yang pasti saya sedih, dia orangnya cantik dan baik,” ucapnya.
Sementara itu, dalam kalimat terakhirnya di twitter tertanggal 5 Mei, Onik yang memiliki akun @liony_alvionita menulis “Eh ternyata sekarang tanggal 5″. Pada tanggal 27 April, ia menulis “sepahit-pahitnya hidup pasti akan manis pada waktunya” Sementara itu, tadi malam doa terus dilantunkan di rumah duka Kertha Semadi, Denpasar, tempat di mana jenazah Onik disemayamkan. Tangis dari sanak keluarga, kerabat serta kawan-kawan Onik seakan tak berhenti ketika mereka bertandang di rumah duka itu. Mereka larut dalam kesedihan.
Air mata menetes dari sejumlah teman sekolah yang menghadiri persemayaman Onik berbaur dengan panjatan doa. Banyak kerabat tidak menduga bahwa anak keempat Sugiartama itu meninggal dunia dengan cara nekat hanya karena hal sepele. Sejumlah kerabat yang datang langsung menghampiri Sugiartama, ayahanda Onik. Mereka menanyakan tentang kepergian Leony secara mendadak. Dengan tabah Sugiartama menceritakan kepergian anak perempuannya tersebut. Kepada Tribun Bali, Sugiartama mengaku urusan telah diserahkannya ke pada pihak kepolisian.
Ia sendiri tidak menduga sama sekali kepergian anaknya secepat itu. Padahal, saat pulang sekolah kemarin, Sugiartama sendiri yang menjemput Leony. “Tidak ada firasat apapun saat itu. Sikap Leony juga seperti biasanya, tidak ada yang berbeda,” tuturnya. Meninggalnya Leony sangat disesali, karena di lingkungan keluarga sama sekali tidak ada masalah. Sugiartama pun tidak menyangka ujian nasional menjadi pemicu anak perempuannya nekat mengakhiri hidup.
“Selama ini Leony sudah belajar dan mengikuti bimbingan belajar. Keluarga berpikir tidak menjurus ke sana (bunuh diri),” imbuh Sugiartama, yang tampak terpukul. Rencananya, pemakaman Leony akan dilakukan pada 9 Mei nanti. “Dikremasi atau dikubur di Tabanan masih belum tahu. Keluarga masih rembuk,” ucap Sugiartama.(Tribun Bali Cetak)
SOALNYA GAN

SEKILAS INFO

Quote:
Tweet duka & sikapmu dengan hashtag
#RIPLeonyAlvionita
#RIPLeonyAlvionita
BAGI
, NO
, MINIMAL 
THX ABU GOSOK+CENDOLNYA GAN

KOMENG AGAN-AGAN
, NO
, MINIMAL 
THX ABU GOSOK+CENDOLNYA GAN


KOMENG AGAN-AGAN
Quote:
Original Posted By wiedhack►Kebetulan temen kerja istri ane salah satu yg nyelawat ke rumah duka,jd tau persis sebab musababnya dia sampe bunuh diri gitu.Sebenarnya bukan permasalahan UN (ujian nasional),tapi lebih ke permasalahan keluarga.Dia tertekan disamping karena sdg fokus ke UN dan ngeliat kelakuan ibu'nya akan nikah lagi,pdhl dia gk setuju klo sampe ibunya nikah lagi (bapaknya udh meninggal).
Jadi ya gantung diri deh
Kata temen2'nya Leony tuh anaknya pendiam,jd klo ada masalah emang jarang mau cerita ke orang lain kecuali temen deketnya
Jadi ya gantung diri deh

Kata temen2'nya Leony tuh anaknya pendiam,jd klo ada masalah emang jarang mau cerita ke orang lain kecuali temen deketnya
Quote:
Original Posted By anrico17►Wew, brati pendidikan kita sekarang udah makin kacau aja ya, ane gara gara baca ini jadi sedih, masa usah belajar susah susah setahun, eh tiba tiba soalnya diganti yang jauh lebih susah.. Itupun bener bener mepet... Gimna para murid siap.
Tapi ane ada sedikit rasa bersyukur, karena ane tahun lalu ikut UN SMP, dan menurut ane, soalnya gak susah dan gak gampang... Ada yang dapet paket yang susah, ada yang gampang...
Makanya, ane dari dulu sejak SD gak suka yang namanya UN, gak semua anak pinter, kalo standarnya aja udah susah, ya mau gimana nasib yang lain?
Tapi ane ada sedikit rasa bersyukur, karena ane tahun lalu ikut UN SMP, dan menurut ane, soalnya gak susah dan gak gampang... Ada yang dapet paket yang susah, ada yang gampang...
Makanya, ane dari dulu sejak SD gak suka yang namanya UN, gak semua anak pinter, kalo standarnya aja udah susah, ya mau gimana nasib yang lain?
Quote:
Original Posted By 3rdvan►
ane setuju sama agan ini
tapi menurut ane peran orang tua juga penting lho gan,
dari tulisan diatas ane kok ngira ibunya juga bersalah ya gan,
kenapa harus dimarahin kalo dia nyontek, menurut ane itu salah satu interaksi sosial di sekolah, itu masih menunjukkan adanya sosial antar siswa.
Kalo menurut ane harusnya dia menghargain kejujuran almarhum Leony, karena dia berani bilang jujur kalo dia habis nyontek.
Ayolah buat orang tua , jangan terlalu akademis, semuanya di ukur dengan nilai dan hasil UAN yang tinggi. Jangan lupa kalo kita masing2 masih punya hal lain yg bisa dinilai selain kemampuan akademis.
#RIPLeonyAlvionita
ane setuju sama agan ini

tapi menurut ane peran orang tua juga penting lho gan,
dari tulisan diatas ane kok ngira ibunya juga bersalah ya gan,
kenapa harus dimarahin kalo dia nyontek, menurut ane itu salah satu interaksi sosial di sekolah, itu masih menunjukkan adanya sosial antar siswa.
Kalo menurut ane harusnya dia menghargain kejujuran almarhum Leony, karena dia berani bilang jujur kalo dia habis nyontek.
Ayolah buat orang tua , jangan terlalu akademis, semuanya di ukur dengan nilai dan hasil UAN yang tinggi. Jangan lupa kalo kita masing2 masih punya hal lain yg bisa dinilai selain kemampuan akademis.
#RIPLeonyAlvionita
Quote:
Original Posted By shamble22►Sebelomnya ane minta maaf kpd agan2 sekalian yg baru saja menghapadi UN
Ane bukannya belain pak mentri
Ane dlo juga pernah hal serupa walau tak sama,,ane pertama kali siswa yg menggunakan kurikulum KTSP angkatan 2007,,walaupun pada saat itu rasanya kayak kelinci percobaan tp ane dan seangkatan berusaha buat hadapin kurikulumnya beserta tetek bengeknya,,dan alhamdulillah semuanya terlewati,,
Yang jadi pembelajaran bagi ane walaupun yg pertama memakai kurikulum baru kalo ada niat belajar sungguh2 pasti akan mudah terlewati,,begitu juga dengan agan2 yg lagi menghadapi UN skg,,walaupun terasa berat tp ane rasa agan2 sekalian mampu menghadapinya,,berprinsiplah " kalo orang disana bisa,,kenapa kita tidak"
Jgn menganggap bahwa apa yg sebenarnya bisa kita lakukan tp merontokan semangat kita,,
Hikmahnya "Jangan menyerah sebelom berusaha"
Ane doain semoga agan2 yg baru selesai UN lulus dengan nilai yg memuaskan
Good Luck Gans
Dan bagi almh Leony Alvionita
Semoga tenang di sisiNya

Ane bukannya belain pak mentri
Ane dlo juga pernah hal serupa walau tak sama,,ane pertama kali siswa yg menggunakan kurikulum KTSP angkatan 2007,,walaupun pada saat itu rasanya kayak kelinci percobaan tp ane dan seangkatan berusaha buat hadapin kurikulumnya beserta tetek bengeknya,,dan alhamdulillah semuanya terlewati,,
Yang jadi pembelajaran bagi ane walaupun yg pertama memakai kurikulum baru kalo ada niat belajar sungguh2 pasti akan mudah terlewati,,begitu juga dengan agan2 yg lagi menghadapi UN skg,,walaupun terasa berat tp ane rasa agan2 sekalian mampu menghadapinya,,berprinsiplah " kalo orang disana bisa,,kenapa kita tidak"
Jgn menganggap bahwa apa yg sebenarnya bisa kita lakukan tp merontokan semangat kita,,
Hikmahnya "Jangan menyerah sebelom berusaha"
Ane doain semoga agan2 yg baru selesai UN lulus dengan nilai yg memuaskan
Good Luck Gans

Dan bagi almh Leony Alvionita
Semoga tenang di sisiNya

Quote:
Original Posted By omari0n►
seriusan ini standart soalnya ???
gilak enak banget kalian
ini sih logika2an doank ..
yah kematian si leony bisa di jadikan pelajaran buat pihak pemerintah dan anak2 didik ..
pemerintah salah iya ! parah tuh si nuh ..
sumpah indon emang sampah banget ..
kalau emang bener2 pemberitahuan sepenting ini cuma via twitter ..
buat anak2 didik, yang harus kalian tahu . kalau kalian gak cuma sampe disini main nya .. masih lanjut .. kalau pun gak lulus, ya udah ..
kemudian percaya diri lah .. katanya tingkat akademisi tinggi, kok nyontek ?
mungkin nih anak lebih terbeban setelah di amuk ibu nya, karena merasa tidak ada yang mendukung dia dalam saat terjepit ..


seriusan ini standart soalnya ???
gilak enak banget kalian

ini sih logika2an doank ..
yah kematian si leony bisa di jadikan pelajaran buat pihak pemerintah dan anak2 didik ..
pemerintah salah iya ! parah tuh si nuh ..
sumpah indon emang sampah banget ..
kalau emang bener2 pemberitahuan sepenting ini cuma via twitter ..
buat anak2 didik, yang harus kalian tahu . kalau kalian gak cuma sampe disini main nya .. masih lanjut .. kalau pun gak lulus, ya udah ..
kemudian percaya diri lah .. katanya tingkat akademisi tinggi, kok nyontek ?
mungkin nih anak lebih terbeban setelah di amuk ibu nya, karena merasa tidak ada yang mendukung dia dalam saat terjepit ..

Quote:
Original Posted By agungtralala►yang patut disalahkan di sini memang menteri pendidian dan ibunya Leony. kalau ane liat tipikal cewek SMP kek Leony ini orangnya tekun dan rajin belajar. tapi karena jiwa SMP adalah jiwa2 labil jelas tekanan demi tekanan bocoran UN pun ingin dia pakai apalagi teman2nya juga sama pake bocoran. kalau Leony bukan seseorang gadis SMP yang baik, jelas tidak mungkin dia meminta ijin untuk menggunakan bocoran UN tersebut kepada ibunya. pake bocoran ya pake aja. soal iuran bisa dia minjem dulu sama temennya.
di sinilah Leony menjadi sangat yakin ingin bunuh diri. Ibunya mensupport anakanya dengan jalan yang salah. seharusnya beri Leony kata motivasi positif bukannya justru "omelan" yang dia dapat. Dilarang make bocoran, kalau tidak lulus UN ibunya pasti akhirnya ngomel juga dan teman Leony make bocoran nilai pasti pada bagus. Dia menjadi malu kalau tidak lulus sendirian. Pasti seperti itu jalan pikiran bocah SMP.
Leony itu masih bocah bau kencur. sangat sedikit persentasenya dia punya pikiran terbuka. kalau di negara maju ada kasus serupa. yang akan dipenjarakan adalah orang tuanya karena dianggap lalay
di sinilah Leony menjadi sangat yakin ingin bunuh diri. Ibunya mensupport anakanya dengan jalan yang salah. seharusnya beri Leony kata motivasi positif bukannya justru "omelan" yang dia dapat. Dilarang make bocoran, kalau tidak lulus UN ibunya pasti akhirnya ngomel juga dan teman Leony make bocoran nilai pasti pada bagus. Dia menjadi malu kalau tidak lulus sendirian. Pasti seperti itu jalan pikiran bocah SMP.
Leony itu masih bocah bau kencur. sangat sedikit persentasenya dia punya pikiran terbuka. kalau di negara maju ada kasus serupa. yang akan dipenjarakan adalah orang tuanya karena dianggap lalay
Quote:
Original Posted By nicecendol►ane pernah baca gan di suatu akin twitter @TolakUN kalo ga salah ada artikel keren gini
suruh mentri si NUH itu kerjain itu soal UN sekarang dengan nilai yang bagus (karena nilai dnem di jadikan.juga acuan masuk PTN kan.gan) , gak nilai bagus deh, penting kerjakan aja, kalau sampai si muhammad nuh bilang "ini bukan bidang saya" , SAMA PAK, smua orang punya bakat sendiri2, anda tidak bisa menstandartlkan smua anak dengan UN, anda tidak bisa mengadu anak dengan bakay fisika dengan anak dengan bakat seni,
kalo kata einsten ya gan
"apabila anda hanya menilai hewan dari cara dia memanjat, maka anda akan melihat ikan adalah yang terbodoh" kuranglebihnya gitu
page one gan
suruh mentri si NUH itu kerjain itu soal UN sekarang dengan nilai yang bagus (karena nilai dnem di jadikan.juga acuan masuk PTN kan.gan) , gak nilai bagus deh, penting kerjakan aja, kalau sampai si muhammad nuh bilang "ini bukan bidang saya" , SAMA PAK, smua orang punya bakat sendiri2, anda tidak bisa menstandartlkan smua anak dengan UN, anda tidak bisa mengadu anak dengan bakay fisika dengan anak dengan bakat seni,
kalo kata einsten ya gan
"apabila anda hanya menilai hewan dari cara dia memanjat, maka anda akan melihat ikan adalah yang terbodoh" kuranglebihnya gitu
page one gan
Quote:
Original Posted By catatanforexq►mungkin ini sudah jalan gan, kita bermimpi ingin melahirkan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang macam habibi, bagaimana mungkin apabila sistem penilaian pendidikannya tidak dinaikkan
semua pasti setuju untuk suatu kemajuan pasti akan ada suatu pengorbanan, negara jepang jugamembayar hal tersebut tapi apakah mereka menganti kebijakannya?Singapura juga mengaami hal yang sama
Proses ini juga bagian daripada penyempurnaan dari suatu sistem saat ada penolakan berarti akan ada solusi dari suatu kebijakan, yang saya lihat adalah pada kualitas guru atau tenaga pengajar yang tidak seragam, seperti contoh kasus ini:
http://forum.detik.com/-t836368.html
Jadi permasalahan utama sekarang pada kualitas guru/tenaga pengajar / infrastruktur yang tidak seragam, semoga kebijakan pemerintah ke depannya adalah meningkatkan kualitas guru dalam rangka penyeragaman kualitas bukan dengan menghilangkan sistem UN
Tetapi kalo mengikuti keinginan masyarakat untuk menghilangkan UN saya rasa pemerintah telah gagal dan telah hilang wibawanya
saya juga berduka atas meninggalnya dik Leony, tapi juga perlu diingat bagi rekan2 peserta UN lainnya, bunuh diri hanya melarikan diri dari masalah dan sesuatu yang sangat dibenci Tuhan
Semoga setelah masuk api penyucian kelak dapat bergabung dalam pangkuan Bapa.
RIP for Leony
semua pasti setuju untuk suatu kemajuan pasti akan ada suatu pengorbanan, negara jepang jugamembayar hal tersebut tapi apakah mereka menganti kebijakannya?Singapura juga mengaami hal yang sama
Proses ini juga bagian daripada penyempurnaan dari suatu sistem saat ada penolakan berarti akan ada solusi dari suatu kebijakan, yang saya lihat adalah pada kualitas guru atau tenaga pengajar yang tidak seragam, seperti contoh kasus ini:
http://forum.detik.com/-t836368.html
Jadi permasalahan utama sekarang pada kualitas guru/tenaga pengajar / infrastruktur yang tidak seragam, semoga kebijakan pemerintah ke depannya adalah meningkatkan kualitas guru dalam rangka penyeragaman kualitas bukan dengan menghilangkan sistem UN
Tetapi kalo mengikuti keinginan masyarakat untuk menghilangkan UN saya rasa pemerintah telah gagal dan telah hilang wibawanya
saya juga berduka atas meninggalnya dik Leony, tapi juga perlu diingat bagi rekan2 peserta UN lainnya, bunuh diri hanya melarikan diri dari masalah dan sesuatu yang sangat dibenci Tuhan
Semoga setelah masuk api penyucian kelak dapat bergabung dalam pangkuan Bapa.
RIP for Leony

Quote:
Quote:
Original Posted By charizard14►wah turut berduka juga deh buat Leony
ane sma angkatan 2014 gan, UN tahun sekarang emang beneran susah,
standar International, ane murid yang ga pinter gan, jadi kalo nemu soal apa apa susah biasanya ane ngasal ato engga tengok hp liat bocoran
nah beda ceeritanya lagi ama temen ane anak ipa yang pinter dan ga make bocoran, selesai mata pelajaran yang susah (MTK,Fisika,Kimia) mereka pada nangis pas keluar kelas, bukan nangis ga dapet bocoran gan, emang soalnya beda ama yang kita pelajarin di TryOut dan kisi kisi sebelumnya,
udah sebelum masuk kelas ada body cek segala (tergantung yang ngawas kadang kalo sekolah A dan B saingan, biasanya pengawas dari sekolah A yang dateng ke sekolah B sering ganas)
udah lah UN di hapuskan aja, 3 tahun gua belajar di tentuin 3 hari (SMA) 4 hari (SMP), produk gagal tuh UN bikin pinter engga, menantang engga, bikin Stress iya
no offense, cuman kesel aja gara gara UN sampe ada yang meninggal, buat angkatan atas yang bilang ini UN biasa aja biarpun standar internasional,bilang lenoy lebay ato semacemnya, suruh sma lagi aja
kalo berkenan pageone
ane sma angkatan 2014 gan, UN tahun sekarang emang beneran susah,
standar International, ane murid yang ga pinter gan, jadi kalo nemu soal apa apa susah biasanya ane ngasal ato engga tengok hp liat bocoran

nah beda ceeritanya lagi ama temen ane anak ipa yang pinter dan ga make bocoran, selesai mata pelajaran yang susah (MTK,Fisika,Kimia) mereka pada nangis pas keluar kelas, bukan nangis ga dapet bocoran gan, emang soalnya beda ama yang kita pelajarin di TryOut dan kisi kisi sebelumnya,
udah sebelum masuk kelas ada body cek segala (tergantung yang ngawas kadang kalo sekolah A dan B saingan, biasanya pengawas dari sekolah A yang dateng ke sekolah B sering ganas)
udah lah UN di hapuskan aja, 3 tahun gua belajar di tentuin 3 hari (SMA) 4 hari (SMP), produk gagal tuh UN bikin pinter engga, menantang engga, bikin Stress iya
no offense, cuman kesel aja gara gara UN sampe ada yang meninggal, buat angkatan atas yang bilang ini UN biasa aja biarpun standar internasional,bilang lenoy lebay ato semacemnya, suruh sma lagi aja

kalo berkenan pageone

Quote:
Original Posted By ThanatosDespero►sumpah dari pertama menjabat ini mentri paling idiot yg gw liat... kaga ngerti psikologi anak apa... mereka bocah smp pikiran masih labil... kalau emang soalnya berstandar internasional spt itu... beritahukan jauh" hari biar mereka siap"... mereka udah siap" ternyata soal yang diberikan jauh diatas ekspetasi mereka... ya jelas mereka stress... mereka belum menjadi orang dewasa yang dapat tahan bekerja dibawah tekanan... pembelajaran agar mereka tidak manja penting... tapi apa begini caranya pak mentri... un ini nentuin nasib mereka selama 3 taun... dan ente main" disini... mereka bukan peserta olimpiade kimia...fisika...matematika... yang ente kirim keluar negeri buat perlombaan bung... well pemenang olimpiade pun ente tidak perhatikan... bagaimana mereka yang biasa" saja... UN sd telat pelelangan... UN smp kacau balau soal bersampul tak bersampul... dari tahun ketahun UN yg digarap ni mentri ga pernah bener... heran urat malu dah putus kali ye... ni orang... makanye next presiden angkat mentri jangan cuma dagang sapi milih dari parpolnye... pastiin dia ngerti sikon tempat dia bertugas... apaan mentri super idiot begini
ketemu langsung pengen gw tampol mukanye enek liatnya... siswa dijadiin bahan percobaan begini... (lulusan UN sma dengan 6 mata pelajaran yang pertama kali diterapkan)
ketemu langsung pengen gw tampol mukanye enek liatnya... siswa dijadiin bahan percobaan begini... (lulusan UN sma dengan 6 mata pelajaran yang pertama kali diterapkan)Quote:
Original Posted By oechan►kalo diliat, contoh soal yg dibilang njiplak PISA sebenernya ga susah.. teorema phytagoras sudah ada di kelas 4 SD..
yang jadi masalah.. pola pendidikan kita masih berpola menghapal, bukan memahami.. ketika bentuk soal dihadirkan dalam bentuk soal cerita siswa jadi susah memahami inti soal..
yang jadi masalah.. pola pendidikan kita masih berpola menghapal, bukan memahami.. ketika bentuk soal dihadirkan dalam bentuk soal cerita siswa jadi susah memahami inti soal..
Quote:
Original Posted By bravemanray7►#RIPLeonyAlvionita 
ane peserta ujian SMP kemarin gan,
yep that's true, so fucking hard like finding a needle in a haystack!
udah buang banyak duit buat bimbingan ama buku pegangan
tau tau,, di luar dugaan soalnya. mumpung pengawas pada BBM-an ane terpaksa
melakukan tindakan tidak terpuji, you know what I Mean...
Sempat nnya ama guru ane soal ujian, and know what???
dia gak tau juga jawabannya... padahal doi inget banget nyang dia ajarkan ke ane dan murid sekelasan ane... pas ane pikir mungkin gak dimuat di buku
pelajaran karena Sekolah ane pake LKS, hingga 5 Hari Kemudian Yaitu hari ini...
Ane Membaca trit agan... and it does explain everything, so I Knew the mystery...
Dan Sekarang andai M.Nuh Ada di hadapan ane, ada bakalan nyodong dia dengan ini
Ane Gapok baru tau rasa dia...
Ane Bantu Rate aja deh gan, miris banget ama Mendikbud

ane peserta ujian SMP kemarin gan,
yep that's true, so fucking hard like finding a needle in a haystack!
udah buang banyak duit buat bimbingan ama buku pegangan
tau tau,, di luar dugaan soalnya. mumpung pengawas pada BBM-an ane terpaksa
melakukan tindakan tidak terpuji, you know what I Mean...
Sempat nnya ama guru ane soal ujian, and know what???
dia gak tau juga jawabannya... padahal doi inget banget nyang dia ajarkan ke ane dan murid sekelasan ane... pas ane pikir mungkin gak dimuat di buku
pelajaran karena Sekolah ane pake LKS, hingga 5 Hari Kemudian Yaitu hari ini...
Ane Membaca trit agan... and it does explain everything, so I Knew the mystery...
Dan Sekarang andai M.Nuh Ada di hadapan ane, ada bakalan nyodong dia dengan ini
Ane Gapok baru tau rasa dia...Ane Bantu Rate aja deh gan, miris banget ama Mendikbud
Quote:
UPDATE SARAN, SOLUSI DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI #1
UPDATE SARAN, SOLUSI, DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI #2
UPDATE SARAN, SOLUSI DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI #3
UPDATE SARAN, SOLUSI, DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI #2
UPDATE SARAN, SOLUSI DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI #3
Quote:
Quote:
Diubah oleh Rofachan87 09-05-2014 16:46
tien212700 memberi reputasi
1
269.2K
Kutip
2.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rofachan87
#1419
SARAN, SOLUSI DAN UNEG2 AGAN-AGANWATI DISINI
Quote:
Original Posted By mrzetz►menurut ane salah di mentri pendidikan adalah maslah pemberitahuan aja
tapi apakah itu menjadi salah secara keseluruhan? tidak. toh nantinya (misal) di dunia perkuliahan, dosen juga ada bkin soal dadakan pas awal kliah yang mana nilainya mempengaruhi nilai akhir.
Menurut ane itu cmn karena maslah mental dan sistem pendidikan kita yang masi ketinggalan, dimana sejak kecil kita hanya diberikan sesuai yang "plek" sesuai di teksbook, yang mana guru-guru (mungkin sebagian besar) mengajarkan dengan trik yang "kuno", dalam artian memberikan saja pada siswa seperti apa di buku, jarang guru yang mengajarkan siswa perpikir "out of box" dalam menyelesaikan masalah, atau dalam mengerjakan soal harus dengan 1 cara
misal agan lihat di bku teks pelajran seperti misalnya sistem "KUMON" (ane gak promosi gan, cmn pernah liat slah satu teks booknya), siswa diajarkan gtidak berpikir secara "normal" seperti di sekolah
dan fenomena "alay" mnrt ane juga berpengaruh
tapi ane turut berduka cita gan, semoga tidak ada lagi kasus seperti ini, dan kedepannya siswa lebih siap dengan segala macam jenis soal.
Ini mungkin pengorbanan, untuk jadi lebih baik atau lebih baik, tergantung pembawa arah kebijakan kita nantinya gan
tapi apakah itu menjadi salah secara keseluruhan? tidak. toh nantinya (misal) di dunia perkuliahan, dosen juga ada bkin soal dadakan pas awal kliah yang mana nilainya mempengaruhi nilai akhir.
Menurut ane itu cmn karena maslah mental dan sistem pendidikan kita yang masi ketinggalan, dimana sejak kecil kita hanya diberikan sesuai yang "plek" sesuai di teksbook, yang mana guru-guru (mungkin sebagian besar) mengajarkan dengan trik yang "kuno", dalam artian memberikan saja pada siswa seperti apa di buku, jarang guru yang mengajarkan siswa perpikir "out of box" dalam menyelesaikan masalah, atau dalam mengerjakan soal harus dengan 1 cara
misal agan lihat di bku teks pelajran seperti misalnya sistem "KUMON" (ane gak promosi gan, cmn pernah liat slah satu teks booknya), siswa diajarkan gtidak berpikir secara "normal" seperti di sekolah
dan fenomena "alay" mnrt ane juga berpengaruh
tapi ane turut berduka cita gan, semoga tidak ada lagi kasus seperti ini, dan kedepannya siswa lebih siap dengan segala macam jenis soal.
Ini mungkin pengorbanan, untuk jadi lebih baik atau lebih baik, tergantung pembawa arah kebijakan kita nantinya gan

Quote:
Original Posted By jklasd►Kalo pendapat ane pribadi mengenai masalah bunuh dirinya si Onik, kita nggak bisa menyalahkan si Pak Menteri.
Di beritanya aja udah jelas kronologisnya.... Si Onik curhat ke ibunya kalau dia nggak bisa ngerjain soal UN dan dapet contekan dari temenya... Harusnya di kondisi kayak gitu si Ibu menenangkan dan menyemangati anaknya, BUKAN malah memarahinya.... Secara, dia sebagai ortu dah tau usaha mati-matian anaknya buat lulus UN, tapi ternyata soal UN yang keluar standar internasional, harusnya si Ibu bisa memaklumi lah kalau anaknya nggak bisa mengerjakan tuh soal. Coba aja kalau si Ibu nggak marah marah dan menyemangati anaknya, si Onik hatinya bakal lebih tenang dan nggak bakal merasa begitu menyesal gara gara nggak bisa ngerjain soal dan nggak bakal bunuh diri.
TS, plis jangan terlalu gampang nyalahin Pak Menteri, gue juga dia ngalakuin kesalahan karena nggak jauh jauh hari memberi tahu perubahan standar soal UN. Apapun alasanya yang namanya bunuh diri adalah hal yang salah. Dan menurut gue, si Onik bunuh diri itu karena kesalahan si Orang Tua-nya yang salah menyikapi permasalahan anaknya. Gara gara nggak bisa nahan emosi dan memarahi anaknya.
Kalau siswa siswa di Indonesia mengeluh mengenai susahnya soal standar internasional yang lebih mengutamakan pemahaman materi, inilah bukti kurangnya mutu pendidikan Indonesia. Pengalaman gue ikut UN SD,SMP,SMA memang soalnya cuma tinggal masukin ke rumus, hitung , dan selesai.... Dengan tipe soal kek gitu, banyak siswa yang nggak paham benar suatu materi yang diujikan, Apalagi jika ikut bimbel, cuma diajarin cara cepat nyelesain suatu soal, tanpa tahu itu dapatnya dari mana.
Memang suatu kebijakan pasti membawa pro dan kontra, ane cuma nggak setuju aja kalau masalah bunuh dirinya si Leony atau Onik ini merupakan kesalahan Menteri Pendidikan. Sekian
Di beritanya aja udah jelas kronologisnya.... Si Onik curhat ke ibunya kalau dia nggak bisa ngerjain soal UN dan dapet contekan dari temenya... Harusnya di kondisi kayak gitu si Ibu menenangkan dan menyemangati anaknya, BUKAN malah memarahinya.... Secara, dia sebagai ortu dah tau usaha mati-matian anaknya buat lulus UN, tapi ternyata soal UN yang keluar standar internasional, harusnya si Ibu bisa memaklumi lah kalau anaknya nggak bisa mengerjakan tuh soal. Coba aja kalau si Ibu nggak marah marah dan menyemangati anaknya, si Onik hatinya bakal lebih tenang dan nggak bakal merasa begitu menyesal gara gara nggak bisa ngerjain soal dan nggak bakal bunuh diri.
TS, plis jangan terlalu gampang nyalahin Pak Menteri, gue juga dia ngalakuin kesalahan karena nggak jauh jauh hari memberi tahu perubahan standar soal UN. Apapun alasanya yang namanya bunuh diri adalah hal yang salah. Dan menurut gue, si Onik bunuh diri itu karena kesalahan si Orang Tua-nya yang salah menyikapi permasalahan anaknya. Gara gara nggak bisa nahan emosi dan memarahi anaknya.
Kalau siswa siswa di Indonesia mengeluh mengenai susahnya soal standar internasional yang lebih mengutamakan pemahaman materi, inilah bukti kurangnya mutu pendidikan Indonesia. Pengalaman gue ikut UN SD,SMP,SMA memang soalnya cuma tinggal masukin ke rumus, hitung , dan selesai.... Dengan tipe soal kek gitu, banyak siswa yang nggak paham benar suatu materi yang diujikan, Apalagi jika ikut bimbel, cuma diajarin cara cepat nyelesain suatu soal, tanpa tahu itu dapatnya dari mana.
Memang suatu kebijakan pasti membawa pro dan kontra, ane cuma nggak setuju aja kalau masalah bunuh dirinya si Leony atau Onik ini merupakan kesalahan Menteri Pendidikan. Sekian
Quote:
Original Posted By nxliciouzz►Iya ane salah satu yang setuju UN ditiadakan
Jujur UN taun kemarin ane sekelas beli bocoran
UNTUNGNYA ane beli bocoran
Karna apa? Kita belajar, try out, latian2 soal, ane sih suka2 aja karna belajarnya bareng temen dan dibawa agak asik sama guru
Nah tapi kita dikasi tau ada 20 kode soal dan soalnya susah, nah kita jadi ga pede tuh, kita bukan orang jenius, tapi kita pengen lulus!
Kita sekelas sepakat, beli bocoran, tapi kita gunainnya kalau kepepet aja
Kita kerjain dulu semua pake kemampuan kita, kalau bener2 ga bisa baru kita pake contekan
Ane sendiri pikir, alah paling nanti beberapa nomer doang yg ga bisa
Di hari H, buka soal, LEBIH susah dari try out dan latian2 gan!
Apalagi fisika!
Dan taun ini, temen ane anak smk, dia takut banget ga lulus karna UN nya susah banget kata dia, dan SOAL BEDA JAUH dari latian2 yg biasa dikerjain
Trus guru2nya cuma asal kasi latian aja, bahkan anak yg kurang ga dikasi bimbingan lebih private
Sampe dia omong, kalau ga lulus mau mati aja
UN itu ga penting!
Harusnya anak diuji berdasar kemampuan, bukan berdasar standar pemerintah yg sok2 pake soal internasional
SOAL INTERNASIONAL TAPI SISTEM PENDIDIKAN BOBROK
Jujur UN taun kemarin ane sekelas beli bocoran
UNTUNGNYA ane beli bocoran
Karna apa? Kita belajar, try out, latian2 soal, ane sih suka2 aja karna belajarnya bareng temen dan dibawa agak asik sama guru
Nah tapi kita dikasi tau ada 20 kode soal dan soalnya susah, nah kita jadi ga pede tuh, kita bukan orang jenius, tapi kita pengen lulus!
Kita sekelas sepakat, beli bocoran, tapi kita gunainnya kalau kepepet aja
Kita kerjain dulu semua pake kemampuan kita, kalau bener2 ga bisa baru kita pake contekan
Ane sendiri pikir, alah paling nanti beberapa nomer doang yg ga bisa
Di hari H, buka soal, LEBIH susah dari try out dan latian2 gan!
Apalagi fisika!
Dan taun ini, temen ane anak smk, dia takut banget ga lulus karna UN nya susah banget kata dia, dan SOAL BEDA JAUH dari latian2 yg biasa dikerjain
Trus guru2nya cuma asal kasi latian aja, bahkan anak yg kurang ga dikasi bimbingan lebih private
Sampe dia omong, kalau ga lulus mau mati aja
UN itu ga penting!
Harusnya anak diuji berdasar kemampuan, bukan berdasar standar pemerintah yg sok2 pake soal internasional
SOAL INTERNASIONAL TAPI SISTEM PENDIDIKAN BOBROK
Quote:
Original Posted By ghostnewbie►ane golongan kontra terhadap ini berita,
abg sekarang mentalnya
ngapain pake acara gantung diri segala
, pengecut
, ibarat ngerental ps 10 jam baru 1 jam udah di shutdown, apa gk rugi
kalo memang itu anak mentok gk bisa, berati dia gk belajar, kalo gk belajar apa yang mau diisi, suruh siapa gk belajar, punya buku gk baca, punya pensil gk dipake berlatih, punya telinga gk dipake dengerin, punya temen gk dipake buat nanya. ya begini jadinya, abg labil pengecut.
hari gini nyalahin UN
, salahin diri lo sendiri kenapa kagak belajar, gw yakin kalo yang ikut UN pada belajar pasti bisa, mau soal internasional kek mau soal intergalaxy kalo belajar pasti bisa.
itu soal PISA, menurut gw soal standar, kalo belajar gk perlu pake acara gantung diri. dari yang mengkritik UN ditiadakan, gw yakin 90%nya orang yang jarang belajar, orang yang sering belajar pasti enjoy aja
abg sekarang mentalnya
ngapain pake acara gantung diri segala
, pengecut
, ibarat ngerental ps 10 jam baru 1 jam udah di shutdown, apa gk rugi
kalo memang itu anak mentok gk bisa, berati dia gk belajar, kalo gk belajar apa yang mau diisi, suruh siapa gk belajar, punya buku gk baca, punya pensil gk dipake berlatih, punya telinga gk dipake dengerin, punya temen gk dipake buat nanya. ya begini jadinya, abg labil pengecut.
hari gini nyalahin UN
, salahin diri lo sendiri kenapa kagak belajar, gw yakin kalo yang ikut UN pada belajar pasti bisa, mau soal internasional kek mau soal intergalaxy kalo belajar pasti bisa.itu soal PISA, menurut gw soal standar, kalo belajar gk perlu pake acara gantung diri. dari yang mengkritik UN ditiadakan, gw yakin 90%nya orang yang jarang belajar, orang yang sering belajar pasti enjoy aja

Quote:
Original Posted By onne►Sistem pendidikan kita yang entah apa sasaran tujuan nya..
Di dunia pendidikan terlalu banyak oknum nya gan,,mungkin sama dengan instansi2 pemerintahan lain juga. Baik dinas pendidikan pusat sampe ke daerah kota/kabupaten kebanyakan profit oriented, diotaknya cuman duit duit dan duit,
Point2 yang ane garis bawahi :
-> Arah tujuan sistem pendidikan di Indonesia tidak jelas
-> Terlalu banyak program yang di ada2, karena banyak yang mempunyai "kepentingan"
-> Aliran dana yang tidak jelas (Bantuan Operasional Sekolah/BOS, tunjangan guru, tunjangan sertifikasi.
semoga setelah oknum2 penjabat instansi migas, parpol, BUMN, etc yang ditangkap KPK karena kasus korupsi.
ane berharap KPK bisa membongkar praktik korupsi di instansi2 pendidikan,,.miris gan uang milyaran rupiah gak jelas juntrungannya.
"SELAMATKAN PENDIDIKAN INDONESIA"

Di dunia pendidikan terlalu banyak oknum nya gan,,mungkin sama dengan instansi2 pemerintahan lain juga. Baik dinas pendidikan pusat sampe ke daerah kota/kabupaten kebanyakan profit oriented, diotaknya cuman duit duit dan duit,
Point2 yang ane garis bawahi :
-> Arah tujuan sistem pendidikan di Indonesia tidak jelas
-> Terlalu banyak program yang di ada2, karena banyak yang mempunyai "kepentingan"
-> Aliran dana yang tidak jelas (Bantuan Operasional Sekolah/BOS, tunjangan guru, tunjangan sertifikasi.
semoga setelah oknum2 penjabat instansi migas, parpol, BUMN, etc yang ditangkap KPK karena kasus korupsi.
ane berharap KPK bisa membongkar praktik korupsi di instansi2 pendidikan,,.miris gan uang milyaran rupiah gak jelas juntrungannya.
"SELAMATKAN PENDIDIKAN INDONESIA"


Quote:
Original Posted By rainderzzz►Komen gan..
Ane sih setuju aja ada UN buat lihat kualitas pendidikan indo. Yang ane gak setuju kalau itu dijadikan kunci kelulusan. Memang kalau siswa tidak "diancam" dikhawatirkan mereka tdk persiapkan yg terbaik. Tapi mari kita bercermin, persiapan apa gk persiapan kunci UN masih bocor tuh. Persiapan pemerintah atau murid yg salah ini?
Lagipula setiap siswa punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, jangan hanya dibebaskan memilih saat kuliah saja, kalau bisa sejak SMP sudah ada penjurusan minat dan bakat.
Baiknya pemerintah ngaca deh, UN saya rasa cuma jd proyek meraup korupsi saja oleh banyak oknum. Kasihan buat siswa yg kaya leony gini, almarhum sangat serius berusaha, namun dikecewakan. Mungkin bagi kita yg tdk berada dlm tekanan melihat sikap leony kekanak2an. Mari kita sejenak melihat bahwa leony hanyalah anak smp yg pola pikir nya belum sedewasa kita semua. Bukankah tindakan non rasional selalu terjadi dibawah tekanan?
Pelajaran juga buat ortu untuk bersifat mensupport. Saya rasa ortu benar dlm poin utk menasihati supaya tdk mencontek karena sia2lah belajar selama ini. Tp tidak dengan cara dimarahi, apalagi saya rasa tingkat marahnya cukup keras hingga menjadi salah satu pemicu kuat almarhum memilih bunuh diri.
Page one gan kalau berkenan, terima kasih
Ane sih setuju aja ada UN buat lihat kualitas pendidikan indo. Yang ane gak setuju kalau itu dijadikan kunci kelulusan. Memang kalau siswa tidak "diancam" dikhawatirkan mereka tdk persiapkan yg terbaik. Tapi mari kita bercermin, persiapan apa gk persiapan kunci UN masih bocor tuh. Persiapan pemerintah atau murid yg salah ini?
Lagipula setiap siswa punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, jangan hanya dibebaskan memilih saat kuliah saja, kalau bisa sejak SMP sudah ada penjurusan minat dan bakat.
Baiknya pemerintah ngaca deh, UN saya rasa cuma jd proyek meraup korupsi saja oleh banyak oknum. Kasihan buat siswa yg kaya leony gini, almarhum sangat serius berusaha, namun dikecewakan. Mungkin bagi kita yg tdk berada dlm tekanan melihat sikap leony kekanak2an. Mari kita sejenak melihat bahwa leony hanyalah anak smp yg pola pikir nya belum sedewasa kita semua. Bukankah tindakan non rasional selalu terjadi dibawah tekanan?
Pelajaran juga buat ortu untuk bersifat mensupport. Saya rasa ortu benar dlm poin utk menasihati supaya tdk mencontek karena sia2lah belajar selama ini. Tp tidak dengan cara dimarahi, apalagi saya rasa tingkat marahnya cukup keras hingga menjadi salah satu pemicu kuat almarhum memilih bunuh diri.
Page one gan kalau berkenan, terima kasih
Quote:
Original Posted By mariamahasr►itulah rakyat indonesia saat negara lain maju rakyat malah mau mundur .. kualitas harus diciptakan biarin UN tetap ada .. liat korea jepang yg tiap hari gila gilaan sekolahnya nguras otak waktu tenaga tiap harinya … lah indonesia dikasi waktu 4 hari ujian saja uda banyak sekali kecaman … kalian yg ingin UN ditiadakan hanyalah segelintir manusia yg ingin semuanya serba instan yg ingin semuanya mudah tanpa kualifikasi .. lagiankan seengganya bukan UN aja yg jadi patokan lulus mereka ada nilai UAS yg bakal ngebantu .. guru juga ngga mungkin tega mereka pasti bakal ngasih nilai untuk ngebantu murid muridnya ... tinggal dibenerin aja gan sistem UN di indonesia ini karna sistem juga buatan manusia pasti ada kekurangannya ..
tapi btw semoga leony diterima di sisi-Nya dan ditempatkan ditempat yg layak didalam surga .. semoga dimasa datang tidak ada "leony leony" lainnya
tapi btw semoga leony diterima di sisi-Nya dan ditempatkan ditempat yg layak didalam surga .. semoga dimasa datang tidak ada "leony leony" lainnya
Quote:
Original Posted By ghostnewbie►oh iya gw tambahin .
belajar itu bukan belajar soal, tapi beljar konsep dasar, kalo lo semua udah ngerti konsep dasar, mau soalnya bentuk ini bentuk itu bakalan lancar nantinya.
ibarat elo tau konsep dasar ngerakit mobil, mau merek apa aja, kalo elo tau konsep dasarnya, bakalan bisa tuh mobil dirakit, beda lagi kalo elo cuma hapal ngerakit mobil 1 merek, kalo lo disuruh ngerakit merek mobil laen apa masi bisa
belajar itu bukan belajar soal, tapi beljar konsep dasar, kalo lo semua udah ngerti konsep dasar, mau soalnya bentuk ini bentuk itu bakalan lancar nantinya.
ibarat elo tau konsep dasar ngerakit mobil, mau merek apa aja, kalo elo tau konsep dasarnya, bakalan bisa tuh mobil dirakit, beda lagi kalo elo cuma hapal ngerakit mobil 1 merek, kalo lo disuruh ngerakit merek mobil laen apa masi bisa
Quote:
Original Posted By arlow►Kaget juga baca berita ini...
Ngeri anak anak sekarang, sepertinya bunuh diri sebuah solusi yang begitu mudah diambil terlepas dari apapun alasan dan motivasinya.
Sy tidak mau terlalu berpolemik dengan penyebab si anak buuh diri karena kalau membaca berita di pejwan entah karena soal UN atau karena dihardik ibunya mencontek tanpa bertanya alasannya. Psikologis anak juga berpengaruh.
Tetapi apapun alasannya, sebuah tes, ujuan, kuis, assessment, penilaian, project apapun itu namanya dibuat guru untuk melihat kemampuan siswa dalam memahami materi atau pelajaran yang disampaikan. Jadi tidak ada unsur kejutan atau surprise dalam kegiatan ini.
Gampangnya kalau belajar tentang ibu gajah saat ujian yang tentang ibu gajah bukan ibu semut apalagi ibu tetangga yang masih muda. Semua guru [seharusnya] tahu tentang ini. Tidak ada hubungannya dengan supaya anak tidak manja, kalau ini hanya Pak Mentri yang tahu
Ngeri anak anak sekarang, sepertinya bunuh diri sebuah solusi yang begitu mudah diambil terlepas dari apapun alasan dan motivasinya.
Sy tidak mau terlalu berpolemik dengan penyebab si anak buuh diri karena kalau membaca berita di pejwan entah karena soal UN atau karena dihardik ibunya mencontek tanpa bertanya alasannya. Psikologis anak juga berpengaruh.
Tetapi apapun alasannya, sebuah tes, ujuan, kuis, assessment, penilaian, project apapun itu namanya dibuat guru untuk melihat kemampuan siswa dalam memahami materi atau pelajaran yang disampaikan. Jadi tidak ada unsur kejutan atau surprise dalam kegiatan ini.
Gampangnya kalau belajar tentang ibu gajah saat ujian yang tentang ibu gajah bukan ibu semut apalagi ibu tetangga yang masih muda. Semua guru [seharusnya] tahu tentang ini. Tidak ada hubungannya dengan supaya anak tidak manja, kalau ini hanya Pak Mentri yang tahu

Quote:
Original Posted By NickGan►Sebenarnya ane masih setuju dengan UN karena untuk masuk tahan kejenjang lebih tinggi itu perlu tapi terkadang ane berfikir. Saat tahunan ane UN untuk kelulusan SMP itu di tahun sebelumnya tidak ada pelajaran PKN tetapi pas tahunan ane di masukin PKN terus saat ane smk juga sama ada pelajaran yang ditambahkan lagi .. itu membuat ane frustasi karena soal yang akan keluar juga tidak dapat di prediksi karena soal UN itu di standarisasi oleh pemerintah dan sesuai tingkat provinsi .. Di Jakarta sekolah banyak dan pasti membuat soal tersebut harus sesuai dengan sekolah-sekolah lainnya bukan hanya sekolah ane ..
Ane sendiri saat smk mendapatkan hitung-hitungan untuk tingkat sma sedangkan ane smk yang tidak semua pelajaran sma ada. Itu yang membuat sedih melihat pendidikan Indonesia yang selalu harus perpatok pada negara lain. Membuat segala sesuatu yang di lihat dari mata international bukan melihat dari kemampuan negara sendiri ..
Jika setiap tahun akan ada penambangan pelajaran mungkin suatu saat nanti semua pelajaran akan masuk dalam daftar UN. Lagi pula menurut ane cukuplah dengan UTS dan UAS yang membuktikan bahwa seorang murid bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Jika murid bisa lulus dalam UN menurut ane itu untuk ujian perguruan atau untuk masuk menjadi standar international saja ..
Ane sendiri saat smk mendapatkan hitung-hitungan untuk tingkat sma sedangkan ane smk yang tidak semua pelajaran sma ada. Itu yang membuat sedih melihat pendidikan Indonesia yang selalu harus perpatok pada negara lain. Membuat segala sesuatu yang di lihat dari mata international bukan melihat dari kemampuan negara sendiri ..
Jika setiap tahun akan ada penambangan pelajaran mungkin suatu saat nanti semua pelajaran akan masuk dalam daftar UN. Lagi pula menurut ane cukuplah dengan UTS dan UAS yang membuktikan bahwa seorang murid bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Jika murid bisa lulus dalam UN menurut ane itu untuk ujian perguruan atau untuk masuk menjadi standar international saja ..
Quote:
Original Posted By move.on1986►nice thread.
Pelajaran yg ane ambil. Ane harus lebih bijak dalam menilai sesuatu. Mungkin maksud ibunya benar, dan memang terkesan sia-sia belajar kalo akhirnya contek. Tapi ane dulu kalo dapet contekan, jadi bahan perbandingan antara hasil yang ane tahu dengan contekan. Jadi bukan berarti sia-sia kan sebelumnya belajar tp dapet nyontek, kan bisa aja itu contekan salah, makanya ane bandingin dulu. Kalo akhirnya ane ragu ma hasil ane ya ane ambil jawaban dari contekan itu, begitu juga sebaliknya.
Ane ga setuju kemampuan anak disama ratakan/standarisasi, emangnya spare part? Harusnya guru yang protes karena dengan adanya UN artinya integritas/penilaian guru lokal/masing-masing sekolah enggak dipercaya. Tapi ya mau protes gimana, kesejahteraan mereka aja banyak yg enggak jelas.
Guru honorer pengabdian puluhan tahun dengan guru baru/muda di ukur pake tes yang sama, apa adil?
lagian tujuan pendidikan sekolah apa sih? mengembangkan logika, hafalan, atau rasa(Seni), mau maksain 1 orang harus punya itu semua?
Turut berduka, semoga keluarganya tabah.
Semoga ada solusi yang lebih baik
Pelajaran yg ane ambil. Ane harus lebih bijak dalam menilai sesuatu. Mungkin maksud ibunya benar, dan memang terkesan sia-sia belajar kalo akhirnya contek. Tapi ane dulu kalo dapet contekan, jadi bahan perbandingan antara hasil yang ane tahu dengan contekan. Jadi bukan berarti sia-sia kan sebelumnya belajar tp dapet nyontek, kan bisa aja itu contekan salah, makanya ane bandingin dulu. Kalo akhirnya ane ragu ma hasil ane ya ane ambil jawaban dari contekan itu, begitu juga sebaliknya.

Ane ga setuju kemampuan anak disama ratakan/standarisasi, emangnya spare part? Harusnya guru yang protes karena dengan adanya UN artinya integritas/penilaian guru lokal/masing-masing sekolah enggak dipercaya. Tapi ya mau protes gimana, kesejahteraan mereka aja banyak yg enggak jelas.
Guru honorer pengabdian puluhan tahun dengan guru baru/muda di ukur pake tes yang sama, apa adil?
lagian tujuan pendidikan sekolah apa sih? mengembangkan logika, hafalan, atau rasa(Seni), mau maksain 1 orang harus punya itu semua?
Turut berduka, semoga keluarganya tabah.
Semoga ada solusi yang lebih baik
Quote:
Original Posted By xascus.share►Dari tahun ke tahun dan sampe detik skarang ini, yg namanya UN tidak pernah lancar (penuh dengan skandal)...
Seharusnya pemerintah perlu mengkaji dalam2 soal pelaksanaan UN.... Jangan meniru negara luar sedangkan fasilitas dan proses pendidikan di negeri ini belum sesuai standar....
Coba bayangkan, masa sekolah 3 thn ditentukan kelulusannya cuma beberapa hari...
Ane termasuk yg KONTRA UN.... karna waktu ane UN SMK dulu ane termasuk korban kebiadaban UN.... semua yg diajarkan di Sekolah tidak semuanya yg keluar di soal UN... bisa diblng 60%....
Skali lagi buat PEMERINTAH kita khususnya KEMENDIKBUD, coba anda pikir dan renungkan dengan hati..... bagaimana nasib bangsa ini ke depannya, mau lulus sekolah aja susah....
Seharusnya pemerintah perlu mengkaji dalam2 soal pelaksanaan UN.... Jangan meniru negara luar sedangkan fasilitas dan proses pendidikan di negeri ini belum sesuai standar....
Coba bayangkan, masa sekolah 3 thn ditentukan kelulusannya cuma beberapa hari...

Ane termasuk yg KONTRA UN.... karna waktu ane UN SMK dulu ane termasuk korban kebiadaban UN.... semua yg diajarkan di Sekolah tidak semuanya yg keluar di soal UN... bisa diblng 60%....

Skali lagi buat PEMERINTAH kita khususnya KEMENDIKBUD, coba anda pikir dan renungkan dengan hati..... bagaimana nasib bangsa ini ke depannya, mau lulus sekolah aja susah....

Quote:
Original Posted By MVBV►LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
SUMBER
page one gan klo berkenan
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
SUMBER
page one gan klo berkenan
Diubah oleh Rofachan87 09-05-2014 17:10
0
Kutip
Balas
