- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#43
GEBRAK MEJA
Spoiler for :
“Roy, ikut yuk!”
Kata Denny sambil membayar mi ayam yang baru dimakannya. Teman Roy ini memakai baju olahraga dan menenteng sebuah bola di pinggangnya.
“Kalau untuk ikut-ikutan, [i]sorry aja”
“Guakan ngajak ikutan sehat masak nggak mau?”
“Sehatnya mau tapi main basketnya no way”
“Bagian mana dari basket yang lo nggak suka.”
“Waktunya.”
“Memangnya kenapa? Sabtu sore jam empat kan pas buat main basket, daripada di rumah terus.”
“Yang bilang aku mau diam dirumah saja siapa?”
“Memangnya mau ke mana ? Jangan bilang ngapel, lo kan jomblo akut .”
“Salah itu.”
“Jadi sudah punya?”
“Sore ini bau mau nembak.”
“Siapa?”
“Sheila, anaknya Pak Widi.”
“Aneh.”
“Apanya yang aneh?”
“Tadi siang, si Ari juga bilang begitu.”
Benar saja. Ketika Roy sampai di rumah Sheila, ia melihat Ari temannya sudah ada di depan pintu. Ia sedang menyisir rambut sambil bersiul-siul.
“Eh Roy, mau ketemu Pak Widi?”
“Bukan, mau ketemu anaknya.”
“Mau pinjam buku ke Sheila?”
“Tidak.”
“Lalu mau apa?”
“Sama seperti yang kau mau.”
Keduanya diam sejenak. Tercipta jarak dan jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Ari berkata lagi.
“Kita berkelahi saja bagaimana? Yang menang boleh deketin Sheila, yang kalah mundur teratur”
“Tidak perlu.”
“Entah lo punya cara lain untuk menyelesaikan hal ini, atau cuma pengecut.”
“Punya solusi ya, kalau pengecut tidak.”
“Lalu bagaimana caranya?”
“Tanyakan saja pada Sheila atau Pak Widi.”
“Gila, ke-pede-an banget lo”
“Daripada kamu, ke-minder-an.”
“Ya, memang gue akuin lo lebih hebat dari gue, belum lulus S1 aja sudah punya gelar.”
“Gelar apa?”
“Almarhum.”
Kedua kompetitor asmara itu berdiri berhadap-hadapan dengan tinju terkepal di samping badan. Jika saja pintu rumah tidak dibuka tepat pada waktunya, dua pasnag tinju itu pasti sudah saling hantam.
“Ada apa ini, kok ribut-ribut?”
“Saya cinta anak bapak dan dia juga.”
Kata Roy kepada Pak Widi- bapak kost-nya yang muncul dari ruang tamu.
“Sheila, sini “
“Ada apa Pa?”
“Ada yang cinta kamu, 2 orang.”
“Lagi?”
Kata Sheila dari dalam ruang tamu. Kata lagi membuat Ari dan Roy terheran-heran, kata lagi menunjukkan bahwa situasi dimana dia diperebutkan 2 pria bukan hanya terjadi sekali ini.
“Ya.”
“Kali ini Papa saja deh yang selesain.”
“Begini, di kantor saya punya atasan. Orangnya galak banget. Kalau sidak pasti gebrak meja. Meja di kantor saya sampai jebol dan ganti tiga kali. Risih sekali”
“Lalu?”
“Harus dibuat kapok, agar dia berhenti gebrak meja saya. Siapa yang bisa menemukan caranya,saya ijinkan mendekati Sheila.”
“Boleh.”
“Setuju.”
Ari memiliki ide bagus. Ia memutuskan untuk membuat meja canggih anti gebrakan. Tujuannya ketika sang atasan marah dan memukul meja itu makatangannya akan kesakitan bahkan kalau bisa sampai cedera agar dia trauma dan berpikir seribu kali sebelum memukul benda kayu berkaki empat itu. Kayu? Kurang keras, ia harus mengantinya dengan baja terbaik. Selain itu mejanya juga akan dialiri listrik yang kekuatannya setara dengan kekuatan gebrakan yang menghantam permukaannya. Ari bekerja dengan sangat rajin dan keras. Siang malam membuat desain di depan laptop, menyewa tukang besi dan sibuk memprogram AI pada mejanya.
Sementara itu Roy tampak tenang-tenang saja. Ia melakukan kegiatan seperti biasa, makan mi ayam di seberang kost-kostan dan tetap menolak ketika diajak main basket dengan seribu macam alasan.Ia seolah sudah menyerah dan tak lagi memikirkan sayembara yang diikutinya bersama Ari. Ari bisa bernafas lega, kemenangan sudah terlihat jelas di depan pupil matanya.
“Baik, apa solusi kalian?”
Ari memamerkan meja pintar anti gebraknya. Ia menjelaskan panjang lebar dan mendemonstrasikannya di hadapan Pak Widi yang terkagum-kagum.
“Bagaimana Om Widi?”
“Kita lihat dulu apa solusi Nak Roy.”
“Untuk menggebrak meja diperlukan orang yang menggebrak meja......”
“Ya iyalah, jangan ngaco” Protes Ari. Seolah tak mendengar kata-kata Ari, Roy menyambung kalimatnya
“dan meja untuk digebrak. Agar atasan pak Widi tidak menggebrak meja, hilangkan saja mejanya.”
“Simpel, bagus sekali. Saya suka solusi Nak Roy. Baik Nak Roy, Nak Roy silahkan kalau mau ketemu Sheila. Oh ya kalau tidak keberatan besok boleh ikut ke kantor saya. Atasan mau ninjau. Siapa tahu kalau Nak Roy mendampingi bisa bantu saya kalau dimarahi.”
“Memangnya kenapa Bapak bisa yakin kalau besok akan dimarahi?”
“Atasan saya kan orangnya aneh. Nggak sopan blas.”
“I...iya Pak.”
Keesokan harinya Roy dan Pak Widi bertemu dengan Pak Chandra sang atasan, Pak Chandra sedikit terkejut melihat tidak ada meja di ruangan Pak Widi. Ia membawa 2 salinan dokumen di tangan kanan dan tangan kirinya.
“Pak Wid, ini anggaran untuk divisi pak Wid dan ini realisasinya.”
“Lalu kenapa Pak Chandra?”
“UNFAVORABLE.”
“Harga-harga naik semua Pak sekarang.”
“Ya saya tahu tetapi ini janggal sekali. Lihat masak biaya mengubah arsip dari doc ke pdf butuh seratus juta?”
“I...itu hi-tech Pak Chandra, komputerisasi butuh koneksi dan programer profesional. Sekarang memang mahal dan kedepannya lebih mahal lagi, Pak Chandra.”
Roy mengernyitkan dahi. Kalau jadi Pak Chandra pasti sudah dia pukul orang di sampingnya dan benar saja
PLAK
“Aduh!”
“JANGAN BANYAK ALASAN KAMU. BILANG SAJA NILEP UANG KANTOR. CONVERT DOC KE PDF ITU DARI DULU BISA DILAKUKAN DENGAN GRATIS ”
“Tapi kok Bapak pukul saya?”
“Saya rencananya mau pukul meja. Karena mejanya tidak ada ya terpaksa pukul kamu.”
“Sa...saya permisi dulu.”
Kata Roy meninggalkan ruangan itu dan turun ke lobi. Sirna sudah harapannya untuk bisa memiliki Sheila. Setelah insiden pemukulan itu Bapaknya juga pasti tidak setuju anaknya didekati Roy? Jangan khawatir Roy wanita masih banyak.
Ya wanita masih banyak, apalagi yang cantik-cantik. Salah satunya sedang berdiri di depan Mbak resepsionis. Seorang gadis berambut coklat yang berperawakan seperti model bikini. Bye bye Sheila.
“I want to see my Dad. He left his tablet on my front seat.”
“Sebentar Mbak Catherine, Pak Chandra masih meeting dengan Pak Widi. Silahkan tunggu saja di lobby.”
Catherine duduk di samping Roy. Sambil menunggu ia mengambil sebuah majalah mode di rak. Ini kesempatan pikir Roy.
“Could you pass me that tabloid.”
“Which one?”
“The sport one, please.”
“Ok here you go. Ini tabloidnya ”
“Oh jadi bisa bahasa Indonesia juga?”
“Sedikit, ”
“Do you like sport?” Tanya Roy lagi
“I love soccer”
“Yeah me too, I was a striker...back then at high school team.”
“Oh really?”
Tiba-tiba Pak Chandra keluar dari ruangan Pak Widi
“
“Cat....ngapain kamu ayo sini, dan kamu...kamu kan tadi yang ada di ruangan Pak Widi?”
“Dad, here's your tablet”
“Pak Chandra saya mau bicara empat mata.”
“Baik ada apa?”
Roy menunjukkan adegan pemukulan yang dilakukan oleh pak Chandra kepada Pak Widi yang direkamnya diam-diam lewat telepon seluler.
“Memukul orang, selain melanggar hukum juga bisa merusak citra Bapak. Bayangkan kalau sampai video ini tersebar, relasi Bapak akan menganggap Pak Chandra sebagai orang barbar dan kompetitor bapak pasti ngompori Pak Widi agar lapor polisi dan Bapak dipenjara. Jadi agar video ini tidak nyebar....Bapak tahu kan apa yang harus dilakukan?”
“Bedebah mau meras saya ya kamu? Ayo katakan berapa yang kamu minta?”
“Pikirkan baik-baik, posisi tawar bapak lebih lemah dari saya dan permintaan saya juga tidak sulit. Ijinkan saya mendekati Catherine dan video ini akan hilang untuk selamanya. Bagaimana?”
“Sial.”
“Bukan sial Pak, untung. Selain video ini akan saya hapus, Bapak juga mendapat staf baru tanpa digaji. Saya ini mahir mencari solusi lho Pak.”
Pak Chandra terdiam sejenak, ia mengamat-amati anak muda di hadapannya. Membiarkan instingnya yang terasah tajam menilai siapa Roy sebenarnya. Anak muda ini memang licik tetapi banyak akal. Mungkin bisa berguna juga untuk perusahaan.
“Baiklah saya setuju.”
“Saya jamin Pak Chandra tidak akan menyesal.”
Kata Denny sambil membayar mi ayam yang baru dimakannya. Teman Roy ini memakai baju olahraga dan menenteng sebuah bola di pinggangnya.
“Kalau untuk ikut-ikutan, [i]sorry aja”
“Guakan ngajak ikutan sehat masak nggak mau?”
“Sehatnya mau tapi main basketnya no way”
“Bagian mana dari basket yang lo nggak suka.”
“Waktunya.”
“Memangnya kenapa? Sabtu sore jam empat kan pas buat main basket, daripada di rumah terus.”
“Yang bilang aku mau diam dirumah saja siapa?”
“Memangnya mau ke mana ? Jangan bilang ngapel, lo kan jomblo akut .”
“Salah itu.”
“Jadi sudah punya?”
“Sore ini bau mau nembak.”
“Siapa?”
“Sheila, anaknya Pak Widi.”
“Aneh.”
“Apanya yang aneh?”
“Tadi siang, si Ari juga bilang begitu.”
Benar saja. Ketika Roy sampai di rumah Sheila, ia melihat Ari temannya sudah ada di depan pintu. Ia sedang menyisir rambut sambil bersiul-siul.
“Eh Roy, mau ketemu Pak Widi?”
“Bukan, mau ketemu anaknya.”
“Mau pinjam buku ke Sheila?”
“Tidak.”
“Lalu mau apa?”
“Sama seperti yang kau mau.”
Keduanya diam sejenak. Tercipta jarak dan jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Ari berkata lagi.
“Kita berkelahi saja bagaimana? Yang menang boleh deketin Sheila, yang kalah mundur teratur”
“Tidak perlu.”
“Entah lo punya cara lain untuk menyelesaikan hal ini, atau cuma pengecut.”
“Punya solusi ya, kalau pengecut tidak.”
“Lalu bagaimana caranya?”
“Tanyakan saja pada Sheila atau Pak Widi.”
“Gila, ke-pede-an banget lo”
“Daripada kamu, ke-minder-an.”
“Ya, memang gue akuin lo lebih hebat dari gue, belum lulus S1 aja sudah punya gelar.”
“Gelar apa?”
“Almarhum.”
Kedua kompetitor asmara itu berdiri berhadap-hadapan dengan tinju terkepal di samping badan. Jika saja pintu rumah tidak dibuka tepat pada waktunya, dua pasnag tinju itu pasti sudah saling hantam.
“Ada apa ini, kok ribut-ribut?”
“Saya cinta anak bapak dan dia juga.”
Kata Roy kepada Pak Widi- bapak kost-nya yang muncul dari ruang tamu.
“Sheila, sini “
“Ada apa Pa?”
“Ada yang cinta kamu, 2 orang.”
“Lagi?”
Kata Sheila dari dalam ruang tamu. Kata lagi membuat Ari dan Roy terheran-heran, kata lagi menunjukkan bahwa situasi dimana dia diperebutkan 2 pria bukan hanya terjadi sekali ini.
“Ya.”
“Kali ini Papa saja deh yang selesain.”
“Begini, di kantor saya punya atasan. Orangnya galak banget. Kalau sidak pasti gebrak meja. Meja di kantor saya sampai jebol dan ganti tiga kali. Risih sekali”
“Lalu?”
“Harus dibuat kapok, agar dia berhenti gebrak meja saya. Siapa yang bisa menemukan caranya,saya ijinkan mendekati Sheila.”
“Boleh.”
“Setuju.”
Ari memiliki ide bagus. Ia memutuskan untuk membuat meja canggih anti gebrakan. Tujuannya ketika sang atasan marah dan memukul meja itu makatangannya akan kesakitan bahkan kalau bisa sampai cedera agar dia trauma dan berpikir seribu kali sebelum memukul benda kayu berkaki empat itu. Kayu? Kurang keras, ia harus mengantinya dengan baja terbaik. Selain itu mejanya juga akan dialiri listrik yang kekuatannya setara dengan kekuatan gebrakan yang menghantam permukaannya. Ari bekerja dengan sangat rajin dan keras. Siang malam membuat desain di depan laptop, menyewa tukang besi dan sibuk memprogram AI pada mejanya.
Sementara itu Roy tampak tenang-tenang saja. Ia melakukan kegiatan seperti biasa, makan mi ayam di seberang kost-kostan dan tetap menolak ketika diajak main basket dengan seribu macam alasan.Ia seolah sudah menyerah dan tak lagi memikirkan sayembara yang diikutinya bersama Ari. Ari bisa bernafas lega, kemenangan sudah terlihat jelas di depan pupil matanya.
“Baik, apa solusi kalian?”
Ari memamerkan meja pintar anti gebraknya. Ia menjelaskan panjang lebar dan mendemonstrasikannya di hadapan Pak Widi yang terkagum-kagum.
“Bagaimana Om Widi?”
“Kita lihat dulu apa solusi Nak Roy.”
“Untuk menggebrak meja diperlukan orang yang menggebrak meja......”
“Ya iyalah, jangan ngaco” Protes Ari. Seolah tak mendengar kata-kata Ari, Roy menyambung kalimatnya
“dan meja untuk digebrak. Agar atasan pak Widi tidak menggebrak meja, hilangkan saja mejanya.”
“Simpel, bagus sekali. Saya suka solusi Nak Roy. Baik Nak Roy, Nak Roy silahkan kalau mau ketemu Sheila. Oh ya kalau tidak keberatan besok boleh ikut ke kantor saya. Atasan mau ninjau. Siapa tahu kalau Nak Roy mendampingi bisa bantu saya kalau dimarahi.”
“Memangnya kenapa Bapak bisa yakin kalau besok akan dimarahi?”
“Atasan saya kan orangnya aneh. Nggak sopan blas.”
“I...iya Pak.”
Keesokan harinya Roy dan Pak Widi bertemu dengan Pak Chandra sang atasan, Pak Chandra sedikit terkejut melihat tidak ada meja di ruangan Pak Widi. Ia membawa 2 salinan dokumen di tangan kanan dan tangan kirinya.
“Pak Wid, ini anggaran untuk divisi pak Wid dan ini realisasinya.”
“Lalu kenapa Pak Chandra?”
“UNFAVORABLE.”
“Harga-harga naik semua Pak sekarang.”
“Ya saya tahu tetapi ini janggal sekali. Lihat masak biaya mengubah arsip dari doc ke pdf butuh seratus juta?”
“I...itu hi-tech Pak Chandra, komputerisasi butuh koneksi dan programer profesional. Sekarang memang mahal dan kedepannya lebih mahal lagi, Pak Chandra.”
Roy mengernyitkan dahi. Kalau jadi Pak Chandra pasti sudah dia pukul orang di sampingnya dan benar saja
PLAK
“Aduh!”
“JANGAN BANYAK ALASAN KAMU. BILANG SAJA NILEP UANG KANTOR. CONVERT DOC KE PDF ITU DARI DULU BISA DILAKUKAN DENGAN GRATIS ”
“Tapi kok Bapak pukul saya?”
“Saya rencananya mau pukul meja. Karena mejanya tidak ada ya terpaksa pukul kamu.”
“Sa...saya permisi dulu.”
Kata Roy meninggalkan ruangan itu dan turun ke lobi. Sirna sudah harapannya untuk bisa memiliki Sheila. Setelah insiden pemukulan itu Bapaknya juga pasti tidak setuju anaknya didekati Roy? Jangan khawatir Roy wanita masih banyak.
Ya wanita masih banyak, apalagi yang cantik-cantik. Salah satunya sedang berdiri di depan Mbak resepsionis. Seorang gadis berambut coklat yang berperawakan seperti model bikini. Bye bye Sheila.
“I want to see my Dad. He left his tablet on my front seat.”
“Sebentar Mbak Catherine, Pak Chandra masih meeting dengan Pak Widi. Silahkan tunggu saja di lobby.”
Catherine duduk di samping Roy. Sambil menunggu ia mengambil sebuah majalah mode di rak. Ini kesempatan pikir Roy.
“Could you pass me that tabloid.”
“Which one?”
“The sport one, please.”
“Ok here you go. Ini tabloidnya ”
“Oh jadi bisa bahasa Indonesia juga?”
“Sedikit, ”
“Do you like sport?” Tanya Roy lagi
“I love soccer”
“Yeah me too, I was a striker...back then at high school team.”
“Oh really?”
Tiba-tiba Pak Chandra keluar dari ruangan Pak Widi
“
“Cat....ngapain kamu ayo sini, dan kamu...kamu kan tadi yang ada di ruangan Pak Widi?”
“Dad, here's your tablet”
“Pak Chandra saya mau bicara empat mata.”
“Baik ada apa?”
Roy menunjukkan adegan pemukulan yang dilakukan oleh pak Chandra kepada Pak Widi yang direkamnya diam-diam lewat telepon seluler.
“Memukul orang, selain melanggar hukum juga bisa merusak citra Bapak. Bayangkan kalau sampai video ini tersebar, relasi Bapak akan menganggap Pak Chandra sebagai orang barbar dan kompetitor bapak pasti ngompori Pak Widi agar lapor polisi dan Bapak dipenjara. Jadi agar video ini tidak nyebar....Bapak tahu kan apa yang harus dilakukan?”
“Bedebah mau meras saya ya kamu? Ayo katakan berapa yang kamu minta?”
“Pikirkan baik-baik, posisi tawar bapak lebih lemah dari saya dan permintaan saya juga tidak sulit. Ijinkan saya mendekati Catherine dan video ini akan hilang untuk selamanya. Bagaimana?”
“Sial.”
“Bukan sial Pak, untung. Selain video ini akan saya hapus, Bapak juga mendapat staf baru tanpa digaji. Saya ini mahir mencari solusi lho Pak.”
Pak Chandra terdiam sejenak, ia mengamat-amati anak muda di hadapannya. Membiarkan instingnya yang terasah tajam menilai siapa Roy sebenarnya. Anak muda ini memang licik tetapi banyak akal. Mungkin bisa berguna juga untuk perusahaan.
“Baiklah saya setuju.”
“Saya jamin Pak Chandra tidak akan menyesal.”
THE END
Diubah oleh reloaded0101 09-05-2014 00:48
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas