- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
191K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#40
SINETRON : AJARI AKU BERMIMPI
Spoiler for :
Mike langsung tertidur sesaat setelah merebahkan diri di atas kasur. Perjalanan panjang selama lebih dari 24 jam memang selalu melelahkan, walau ia sudah berusaha membiasakan diri sekalipun. Koper,ransel dan peralatan mendaki digeletakkan begitu saja di atas karpet.
Ketika membuka mata, ia terkejut ketika mendapati koper,ransel dan barang-barang bawaannya
“Mi barang-barangku kemana?”
“Sudah diberesin sama si intan.”
“Intan?”
Anggota keluarga Mike yang tidak ada yang bernama Intan.
“Intan, pembantu kita yang baru.”
Sesosok gadis muda memakai celemek tiba-tiba datang dan berdiri di samping Ibu Mike.
“Selamat datang Tuan Mike. Ada yang bisa saya kerjakan?”
“Tidak”
Kata Mike singkat. Pembantu itupun meneruskan pekerjaan rumah yang lain. Membersihkan selusur tangga dengan penyedot debu dan membersihkan lantai. Sementara itu Mike sarapan lalu masuk lagi ke kamar untuk berlatih panjat tebing bersama teman-temannya. Baru saja tangannya hendak meraih helm VR di atas meja, telinganya mendengar pintu diketuk dari luar, ternyata ibunya.
“Mike,besok masih mau makan apa tidak?”
“Tentu saja mau. Ada apa sih kok sepertinya aneh banget?”
“Kalau keadaannya tidak aneh, Mami tidak akan minta tolong sama kamu.”
“Memangnya ada apa Mi?”
“Jembatan di tenggara kota runtuh.”
“Lalu?”
“Ketika jembatan itu jatuh ke laut,truk yang ngantar suplai belanjaan kita selama 1 bulan kedepan,sedang berada di atasnya. Jadi kalau besok masih mau makan kamu harus bantuin Mami.”
“Oh Mami nyuruh Mike belanja ke kota sebelah? Mengapa tidak nyuruh Intan saja.”
“Intan kan pembantu bukan sopir.”
“Kita nggak butuh sopir Mi, kita butuh pilot.”
“Dan di rumah ini satu-satunya yang bisa menerbangkan helikopter cuma kamu.”
“Tapi kan Mike harus....baik deh Mam. Sini mana daftar belanjaannya.”
“Mami sudah berikan ke Intan.”
“Berarti Intan ikut juga?”
“Ya harus, memangnya kamu bisa milih sayur yang bagus, jeruk yang manis dan daging yang tidak berformalin?”
Singkat cerita Mike dan Intan pergi ke Market district 19 di kota sebelah. Pasar raksasa itu ramai, penuh sesak oleh lautan manusia, sedikit kotor dan dihuni oleh orang-orang menyeramkan dari daerah slump.
“Sudah 100% Tuan, apa kita bisa kembali.”
“Ayo masuk, kita berangkat.”
Mereka berdua berjalan menuju helipad. Tetapi baru separoh jalan seorang berpakaian lusuh memarkir motor lalu menodongkan senjata ke arah Mike.
“Nanti dulu.”
“Kalau mau uang aku tidak punya yang tunai.”
“Kalau begitu aku mau kalungmu.”
“Tidak boleh”
“** SENSOR **, Sampah satu ini, minta digorok rupanya.”
“A....ambil yang lain saja tapi jangan kalung ini.”
“Kalau aku mau kalung ini kau mau apa?”
“Tentu saja mau berkelahi denganmu.”
“Anjing, mati kau.”
Mike mati-matian bertarung melawan perampok di pasar. Ia tidak peduli pada orang-orang yang berkerumun menyaksikan. Ia hanya tidak ingin kalung itu jatuh ke tangan sang perampok. Bagian luar lengannya lebam-lebam karena berkali-kali menangkis pukulan dan tendangan. Baju Mike sobek-sobek dan luka-luka gores kecil hasil sabetan senjata tajam di tangan perampok itu tampak mengalirkan darah. Tiba-tiba tanpa disangka-sangka, sang rampok ambruk ke tanah karena pukulan benda keras dari belakang.
“Intan?”
“Tuan Mike, orang ini tidak sendiri cepat lari.”
Menggunakan helikopter jelas tidak mungkin, satu-satunya cara meloloskan diri adalah menggunakan motor sang perampok.
“Intan ayo naik!”
“Kejar!”
Komplotan perampok yang lain langsung mengejar, tetapi dalam hal kebut-kebutan tidak mudah mengalahkan Mike. Anak muda ini sudah mengendarai motor di lingkungan-lingkungan dengan tingkat gravitasi yang berbeda-beda.
“Kau boleh mahir naik motor tapi kami lebih mengenal jalanan di sini.”
Kata seorang perampok bertopi cowboy ketika Mike tersudut ke tepi lereng. Dibawah lereng jurang yang menganga itu terdapat laut dengan karang-karang nan tajam menyakitkan.
“Intan naik ke punggungku.”
“Mau apa Tuan Mike?”
“Kita memanjat turun .”
“Kalian sudah gila?”
Mike dan Intan turun ke bawah dan para perampok hanya dapat memandang sambil memaki. Sesampainya di bawah Mike duduk di atas pasir sednagkan Intan hanya berdiri didepannya.
“Kau takut?”
“Tidak Tuan.”
“Kalau begitu tadi cuma aku yang takut.”
“Tuan, boleh saya bertanya?”
“Silahkan.”
“Menurut saya tindakan Tuan tidak rasional, hanya untuk mempertahankan sebuah kalung kini kita kehilangan helikopter dan kargonya.”
“Helikopter ada pelacaknya, belanjaan bisa kita beli lagi, tetapi kalung ini tidak bisa digantikan.”
“Mengapa?”
“Karena di dalamnya ada mimpiku.”
“Mimpi itu apa Tuan?”
“Apa yang diinginkan. Apa yang dilihat ketika tertidur dan menutup mata. Kalung itu diberikan oleh James Arcoft, seniorku di kampus yang mampu menaklukkan puncak tertinggi.”
“Everest?”
“Bukan, Olympus. Aku bermimpi bisa menjadi seperti dirinya.”
Olympus adalah nama gunung tertinggi di permukaan Mars. Untuk mendakinya tidak mudah, butuh persiapan dan skill yang jauh lebih tinggi daripada mendaki puncak-puncak tertinggi di bumi seperti everest atau K2.
“Kau tidak pernah bermimpi, Intan?”
“Tidak pernah.”
“Coba pikirkan apa yang paling kau inginkan?”
“Melayani Nyonya dan Tuan Mike sebaik-baiknya.”
“Yang lebih dari itu.”
“Tidak tahu.”
“Take your time, suatu saat kamu akan tahu apa yang kauimpikan.”
Dengan bantuan suar yang dikirimkan Intan, tim penyelamat tiba dan membawa mereka berdua kembali dengan selamat.
“Heikopternya hilang? Lalu sebulan ini kita makan apa?”
“Tenang Mi, di sekeliling rumah ini banyak buah-buahan dan sayuran yang bisa diolah. Mike kan sering mendaki gunung jadi tahu tanaman mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara mengolahnya.”
“Ya udah, kalau begitu. Kamu ajarin ke Intan.”
Intan dan Mike semakin sering pergi berdua ke hutan kecil yang ada di belakang rumah.
“Nah begitu dong, jangan pakai celemek kalau ke hutan.”
“Terima kasih Tuan sudah meminjamkan pakaian ini.”
“Tidak usah sungkan.”
Ketika hendak memeriksa jamur di seonggok kayu tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang tetangga yang juga kehabisan kayu bakar dan makanan.
“Mike, sudah pulang dari Mars rupanya?”
“Iya, minggu lalu.”
“Ini siapa? Cantik banget?”
“Oh, ini Intan”
“Apa kabar.”
“Pertahankan Mike, kalian serasi, kalau bisa sampai ke pelaminan.”
“Hus ngaco kamu.”
Orang itupun pergi meninggalkan Mike dan Intan.
“Waktu itu Tuan Mike pernah bertanya, apa mimpi saya?”
“Lalu.”
“Ini aneh, tetapi ketika saya memejamkan mata, saya melihat Tuan Mike.”
“Sama, setiap kali aku bermimpi melihat puncak Olympus, aku juga melihat kamu berdiri di atasnya.”
“Apa ini berarti kita?”
“Ya, kita. Memang aneh tetapi aku cinta kamu....Tan.”
“Aku juga.”
Satu bulan berlalu. Jembatan selesai diperbaiki dan truk pengangkut kargo datang bersama manajer toko swalayan online yang mengirimkannya.
“Ibu Astuti?”
“Eh Nak Putri silahkan masuk. Kebetulan Mike sedang ada di rumah.”
Putri adalah teman Mike sejak kecil sekaligus anak dari partner almarhum ayah Mike di perusahaan mereka.
“Hai Put.”
“Hai juga.”
“Ada perlu apa ya?”
“Saya mau minta maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami akibat ketidaktepatan kami dalam memilih rute perjalanan.”
“Ah sudahlah, namanya juga musibah Nak Putri.”
Setelah setengah jam, Putri pergi meninggalkan Mike dan ibunya.
“Menurutmu Nak Putri itu bagaimana?”
“Cantik,pintar dan baik.”
“Dan cocok sama kamu.”
“Sebagai teman.”
“Salah, sebagai calon istri. Kamu sudah dewasa Mike jangan jadi bujangan terus.”
“Maaf Mi, tapi Mike mencintai gadis lain.”
“Cepetan abwa ke rumah dan kenalin ke Mami.”
“Mami juga sudah kenal?”
“Siapa ?”
“Intan.”
“I...Intan, kamu sudah gila, Mike.”
“Aku tahu Mi, ini aneh.”
“Kenapa Mi?”
“Nyebut Mike, tentu saja karena kamu itu manusia, sedangkan Intan itu kan robot. Dia bahkan tidak dilengkapi kemampuan untuk ber-reproduksi,”
Nyonya Astuti pun pingsan seketika.
Ketika membuka mata, ia terkejut ketika mendapati koper,ransel dan barang-barang bawaannya
“Mi barang-barangku kemana?”
“Sudah diberesin sama si intan.”
“Intan?”
Anggota keluarga Mike yang tidak ada yang bernama Intan.
“Intan, pembantu kita yang baru.”
Sesosok gadis muda memakai celemek tiba-tiba datang dan berdiri di samping Ibu Mike.
“Selamat datang Tuan Mike. Ada yang bisa saya kerjakan?”
“Tidak”
Kata Mike singkat. Pembantu itupun meneruskan pekerjaan rumah yang lain. Membersihkan selusur tangga dengan penyedot debu dan membersihkan lantai. Sementara itu Mike sarapan lalu masuk lagi ke kamar untuk berlatih panjat tebing bersama teman-temannya. Baru saja tangannya hendak meraih helm VR di atas meja, telinganya mendengar pintu diketuk dari luar, ternyata ibunya.
“Mike,besok masih mau makan apa tidak?”
“Tentu saja mau. Ada apa sih kok sepertinya aneh banget?”
“Kalau keadaannya tidak aneh, Mami tidak akan minta tolong sama kamu.”
“Memangnya ada apa Mi?”
“Jembatan di tenggara kota runtuh.”
“Lalu?”
“Ketika jembatan itu jatuh ke laut,truk yang ngantar suplai belanjaan kita selama 1 bulan kedepan,sedang berada di atasnya. Jadi kalau besok masih mau makan kamu harus bantuin Mami.”
“Oh Mami nyuruh Mike belanja ke kota sebelah? Mengapa tidak nyuruh Intan saja.”
“Intan kan pembantu bukan sopir.”
“Kita nggak butuh sopir Mi, kita butuh pilot.”
“Dan di rumah ini satu-satunya yang bisa menerbangkan helikopter cuma kamu.”
“Tapi kan Mike harus....baik deh Mam. Sini mana daftar belanjaannya.”
“Mami sudah berikan ke Intan.”
“Berarti Intan ikut juga?”
“Ya harus, memangnya kamu bisa milih sayur yang bagus, jeruk yang manis dan daging yang tidak berformalin?”
Singkat cerita Mike dan Intan pergi ke Market district 19 di kota sebelah. Pasar raksasa itu ramai, penuh sesak oleh lautan manusia, sedikit kotor dan dihuni oleh orang-orang menyeramkan dari daerah slump.
“Sudah 100% Tuan, apa kita bisa kembali.”
“Ayo masuk, kita berangkat.”
Mereka berdua berjalan menuju helipad. Tetapi baru separoh jalan seorang berpakaian lusuh memarkir motor lalu menodongkan senjata ke arah Mike.
“Nanti dulu.”
“Kalau mau uang aku tidak punya yang tunai.”
“Kalau begitu aku mau kalungmu.”
“Tidak boleh”
“** SENSOR **, Sampah satu ini, minta digorok rupanya.”
“A....ambil yang lain saja tapi jangan kalung ini.”
“Kalau aku mau kalung ini kau mau apa?”
“Tentu saja mau berkelahi denganmu.”
“Anjing, mati kau.”
Mike mati-matian bertarung melawan perampok di pasar. Ia tidak peduli pada orang-orang yang berkerumun menyaksikan. Ia hanya tidak ingin kalung itu jatuh ke tangan sang perampok. Bagian luar lengannya lebam-lebam karena berkali-kali menangkis pukulan dan tendangan. Baju Mike sobek-sobek dan luka-luka gores kecil hasil sabetan senjata tajam di tangan perampok itu tampak mengalirkan darah. Tiba-tiba tanpa disangka-sangka, sang rampok ambruk ke tanah karena pukulan benda keras dari belakang.
“Intan?”
“Tuan Mike, orang ini tidak sendiri cepat lari.”
Menggunakan helikopter jelas tidak mungkin, satu-satunya cara meloloskan diri adalah menggunakan motor sang perampok.
“Intan ayo naik!”
“Kejar!”
Komplotan perampok yang lain langsung mengejar, tetapi dalam hal kebut-kebutan tidak mudah mengalahkan Mike. Anak muda ini sudah mengendarai motor di lingkungan-lingkungan dengan tingkat gravitasi yang berbeda-beda.
“Kau boleh mahir naik motor tapi kami lebih mengenal jalanan di sini.”
Kata seorang perampok bertopi cowboy ketika Mike tersudut ke tepi lereng. Dibawah lereng jurang yang menganga itu terdapat laut dengan karang-karang nan tajam menyakitkan.
“Intan naik ke punggungku.”
“Mau apa Tuan Mike?”
“Kita memanjat turun .”
“Kalian sudah gila?”
Mike dan Intan turun ke bawah dan para perampok hanya dapat memandang sambil memaki. Sesampainya di bawah Mike duduk di atas pasir sednagkan Intan hanya berdiri didepannya.
“Kau takut?”
“Tidak Tuan.”
“Kalau begitu tadi cuma aku yang takut.”
“Tuan, boleh saya bertanya?”
“Silahkan.”
“Menurut saya tindakan Tuan tidak rasional, hanya untuk mempertahankan sebuah kalung kini kita kehilangan helikopter dan kargonya.”
“Helikopter ada pelacaknya, belanjaan bisa kita beli lagi, tetapi kalung ini tidak bisa digantikan.”
“Mengapa?”
“Karena di dalamnya ada mimpiku.”
“Mimpi itu apa Tuan?”
“Apa yang diinginkan. Apa yang dilihat ketika tertidur dan menutup mata. Kalung itu diberikan oleh James Arcoft, seniorku di kampus yang mampu menaklukkan puncak tertinggi.”
“Everest?”
“Bukan, Olympus. Aku bermimpi bisa menjadi seperti dirinya.”
Olympus adalah nama gunung tertinggi di permukaan Mars. Untuk mendakinya tidak mudah, butuh persiapan dan skill yang jauh lebih tinggi daripada mendaki puncak-puncak tertinggi di bumi seperti everest atau K2.
“Kau tidak pernah bermimpi, Intan?”
“Tidak pernah.”
“Coba pikirkan apa yang paling kau inginkan?”
“Melayani Nyonya dan Tuan Mike sebaik-baiknya.”
“Yang lebih dari itu.”
“Tidak tahu.”
“Take your time, suatu saat kamu akan tahu apa yang kauimpikan.”
Dengan bantuan suar yang dikirimkan Intan, tim penyelamat tiba dan membawa mereka berdua kembali dengan selamat.
“Heikopternya hilang? Lalu sebulan ini kita makan apa?”
“Tenang Mi, di sekeliling rumah ini banyak buah-buahan dan sayuran yang bisa diolah. Mike kan sering mendaki gunung jadi tahu tanaman mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara mengolahnya.”
“Ya udah, kalau begitu. Kamu ajarin ke Intan.”
Intan dan Mike semakin sering pergi berdua ke hutan kecil yang ada di belakang rumah.
“Nah begitu dong, jangan pakai celemek kalau ke hutan.”
“Terima kasih Tuan sudah meminjamkan pakaian ini.”
“Tidak usah sungkan.”
Ketika hendak memeriksa jamur di seonggok kayu tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang tetangga yang juga kehabisan kayu bakar dan makanan.
“Mike, sudah pulang dari Mars rupanya?”
“Iya, minggu lalu.”
“Ini siapa? Cantik banget?”
“Oh, ini Intan”
“Apa kabar.”
“Pertahankan Mike, kalian serasi, kalau bisa sampai ke pelaminan.”
“Hus ngaco kamu.”
Orang itupun pergi meninggalkan Mike dan Intan.
“Waktu itu Tuan Mike pernah bertanya, apa mimpi saya?”
“Lalu.”
“Ini aneh, tetapi ketika saya memejamkan mata, saya melihat Tuan Mike.”
“Sama, setiap kali aku bermimpi melihat puncak Olympus, aku juga melihat kamu berdiri di atasnya.”
“Apa ini berarti kita?”
“Ya, kita. Memang aneh tetapi aku cinta kamu....Tan.”
“Aku juga.”
Satu bulan berlalu. Jembatan selesai diperbaiki dan truk pengangkut kargo datang bersama manajer toko swalayan online yang mengirimkannya.
“Ibu Astuti?”
“Eh Nak Putri silahkan masuk. Kebetulan Mike sedang ada di rumah.”
Putri adalah teman Mike sejak kecil sekaligus anak dari partner almarhum ayah Mike di perusahaan mereka.
“Hai Put.”
“Hai juga.”
“Ada perlu apa ya?”
“Saya mau minta maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami akibat ketidaktepatan kami dalam memilih rute perjalanan.”
“Ah sudahlah, namanya juga musibah Nak Putri.”
Setelah setengah jam, Putri pergi meninggalkan Mike dan ibunya.
“Menurutmu Nak Putri itu bagaimana?”
“Cantik,pintar dan baik.”
“Dan cocok sama kamu.”
“Sebagai teman.”
“Salah, sebagai calon istri. Kamu sudah dewasa Mike jangan jadi bujangan terus.”
“Maaf Mi, tapi Mike mencintai gadis lain.”
“Cepetan abwa ke rumah dan kenalin ke Mami.”
“Mami juga sudah kenal?”
“Siapa ?”
“Intan.”
“I...Intan, kamu sudah gila, Mike.”
“Aku tahu Mi, ini aneh.”
“Kenapa Mi?”
“Nyebut Mike, tentu saja karena kamu itu manusia, sedangkan Intan itu kan robot. Dia bahkan tidak dilengkapi kemampuan untuk ber-reproduksi,”
Nyonya Astuti pun pingsan seketika.
THE END
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas