- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#37
TANPA RESTU
Spoiler for :
Jack menghampiri tempat duduk pria setengah baya berpakaian serba hitam itu. Langkahnya sempoyongan dan mata anak muda ini tampak lebih merah dari mata-mata yang lain. Beberapa kali hidungnya menarik nafas pendek seperti orang sedang menghisap ingus virtual yang tak pernah keluar dari hidungnya. Ia teler berat seberat derita cinta yang ditanggungnya.
Kata-kata ayah pacarnya terngiang-ngiang di telinganya
“Pokoknya Ayah tidak setuju kamu pacaran sama begundal ini!”
Pandangan mata ibunya yang sinis menusuk ketika mengusirnya juga masih terekam jelas.
“Kalau tidak ada keperluan lain silahkan pergi saja dari rumah kami.”
Iapun masih ingat ketika gurauannya dengan Devi sang pacar membuahkan jalan pintas. Sambil bercanda gadis yang baru seminggu menjalin hubungan dengannya itu menyeletuk.
“Ke dukun saja bagaimana?”
“Kayakcaleg aja pakai dukun segala.”
“Bang jack, teman aku ada lho yang pakai. Berhasil sekarang bahkan sudah married dan punya anak. Kita coba saja ke dukunnya dia.”
Dalam keputusasaan dan pikiran yang buntu, Jack menyanggupi usul Devi.
“Mbah bantuin gua, alright?”
“Saya terawang Nak Jack sedang menghadapi masalah. Ada hubungannya dengan seorang gadis namanya Dena...bukan...Devi, ya Devi.”
“It's true Mbah, gua cinta dia dan dia cinta balik sama gua, tapi ortu-nya gak setuju. Bayangin Mbah, baru kali ini ada ortu yang gak suka anak konglomerat jadian sama anaknya.”
“Ya...ya Mbah mengerti. Sekarang Nak Jack tenang dulu. Urusan ini serahkan saja sama saya, tetapi tidak semudah itu Nak Jack, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.”
“Mbah minta berapapun gue sanggup Kebetulan ini gua bawa sedikit.”
Kata Jack sambil meletakkan koper di atas meja Setelah dibuka koper itu terisi penuh dengan uang tunai yang totalnya seratus ribu-bukan rupiah.
“Sebentar Nak Jack.”
Mbah masuk ke dalam dan keluar lagi sambil membawa sekendi air putih berbau harum. Air itu ia tuang ke dalam botol air mineral lalu botol itu diberikannya kepada Jack.
“Apaan nih Mbah?”
“Silahkan Nak Jack coba sendiri, ayo kita keluar dulu. Nak Jack bawa mobil kan?”
“Mau cabut ke mana ?”
“Ke jalan raya didepan sana.”
Sesampainya di jalan raya mobil menepi dan Mbah menyuruh Jack meminum seteguk isi botol. Rasanya aneh. Pahit asam asin. Setelah itu Mbah berkata
“Nak Jack lihat orang itu.”
Katanya sambil memandang seorang mahasiswi yang baru turun dari angkot dan berjalan melewati mereka.
“Tuh cewek kenapa Mbah.”
“Suruh push up.”
“Push-up?”
Mendengar kata push up gadis itu langsung menelungkup di atas rumput dan mulai push up sambil menghitung
“1,2,3,4”
“Hentikan.”
“Stop”
Iapun kembali berdiri dan berjalan lagi seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Jack terkagum-kagum atas khasiat air ajaib itu.
“Dengan minum ramuan ini, semua yang Nak Jack katakan akan dipercaya, semua perintah dan keinginan akan dituruti oleh siapapun yang Nak Jack inginkan. Tetapi ada syaratnya.”
“Syaratnya apa nih Mbah?”
“Hanya bisa digunakan satu kali dalam sehari semalam itu yang pertama, yang kedua dalam sekali penggunaan hanya dua lawan bicara saja yang bisa Nak Jack pengaruhi. Jadi hati-hati, karena jumlahnya hanya sedikit jangan digunakan pada sembarang orang selain orang tua Nak Devi.”
“Gue understand Mbah.”
Keesokan harinya Jack berdandan rapi lalu meluncur menuju rumah orangtua Devi. Ia membunyikan bel tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Jack pun bertanya ke warung sebelah.
“Orangnya sudah pergi Mas, tadi malam.”
“Ke mana Bu?”
“Ke luar kota mungkin, yang ibu lihat kemarin pakai taksi bandara.”
Jack berusaha menghubungi Devi dengan ponsel tetapi yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif. Iapun kembali ke gubug bambu tempat praktek Sang Dukun, tetapi Jack lagi-lagi menemukan tempat kosong. Jack merasa ada yang aneh. Perasaannya tidak enak,
Nun jauh dipinggir pantai, lima orang sedang bercengkerama sambil minum tequila.Tampak sedang merayakan sesuatu.
“100.000 dolar itu berapa ya?” Tanya Devi
“Kurs sekarang 11.500 kalau dikalikan jadi satu milyar seratus lima puluh juta.”
Kata Mbah Dukun yang kini sudah tidak berjenggot dan beruban. Di samping Mbah dukun duduk pria yang berperan sebagai ayah Devi sedang merangkul wanita yang menjadi mahasiswi yang baru turun dari angkot. Sementara pemeran ibu Devi tampak asyik dengan ponsel baru yang dibelinya dengan uang pemberian Jack. Ia membuka jejaring sosial dan berkata
“Dev sini Dev, ada mangsa empuk selanjutnya nih.”
Kata-kata ayah pacarnya terngiang-ngiang di telinganya
“Pokoknya Ayah tidak setuju kamu pacaran sama begundal ini!”
Pandangan mata ibunya yang sinis menusuk ketika mengusirnya juga masih terekam jelas.
“Kalau tidak ada keperluan lain silahkan pergi saja dari rumah kami.”
Iapun masih ingat ketika gurauannya dengan Devi sang pacar membuahkan jalan pintas. Sambil bercanda gadis yang baru seminggu menjalin hubungan dengannya itu menyeletuk.
“Ke dukun saja bagaimana?”
“Kayakcaleg aja pakai dukun segala.”
“Bang jack, teman aku ada lho yang pakai. Berhasil sekarang bahkan sudah married dan punya anak. Kita coba saja ke dukunnya dia.”
Dalam keputusasaan dan pikiran yang buntu, Jack menyanggupi usul Devi.
“Mbah bantuin gua, alright?”
“Saya terawang Nak Jack sedang menghadapi masalah. Ada hubungannya dengan seorang gadis namanya Dena...bukan...Devi, ya Devi.”
“It's true Mbah, gua cinta dia dan dia cinta balik sama gua, tapi ortu-nya gak setuju. Bayangin Mbah, baru kali ini ada ortu yang gak suka anak konglomerat jadian sama anaknya.”
“Ya...ya Mbah mengerti. Sekarang Nak Jack tenang dulu. Urusan ini serahkan saja sama saya, tetapi tidak semudah itu Nak Jack, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.”
“Mbah minta berapapun gue sanggup Kebetulan ini gua bawa sedikit.”
Kata Jack sambil meletakkan koper di atas meja Setelah dibuka koper itu terisi penuh dengan uang tunai yang totalnya seratus ribu-bukan rupiah.
“Sebentar Nak Jack.”
Mbah masuk ke dalam dan keluar lagi sambil membawa sekendi air putih berbau harum. Air itu ia tuang ke dalam botol air mineral lalu botol itu diberikannya kepada Jack.
“Apaan nih Mbah?”
“Silahkan Nak Jack coba sendiri, ayo kita keluar dulu. Nak Jack bawa mobil kan?”
“Mau cabut ke mana ?”
“Ke jalan raya didepan sana.”
Sesampainya di jalan raya mobil menepi dan Mbah menyuruh Jack meminum seteguk isi botol. Rasanya aneh. Pahit asam asin. Setelah itu Mbah berkata
“Nak Jack lihat orang itu.”
Katanya sambil memandang seorang mahasiswi yang baru turun dari angkot dan berjalan melewati mereka.
“Tuh cewek kenapa Mbah.”
“Suruh push up.”
“Push-up?”
Mendengar kata push up gadis itu langsung menelungkup di atas rumput dan mulai push up sambil menghitung
“1,2,3,4”
“Hentikan.”
“Stop”
Iapun kembali berdiri dan berjalan lagi seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Jack terkagum-kagum atas khasiat air ajaib itu.
“Dengan minum ramuan ini, semua yang Nak Jack katakan akan dipercaya, semua perintah dan keinginan akan dituruti oleh siapapun yang Nak Jack inginkan. Tetapi ada syaratnya.”
“Syaratnya apa nih Mbah?”
“Hanya bisa digunakan satu kali dalam sehari semalam itu yang pertama, yang kedua dalam sekali penggunaan hanya dua lawan bicara saja yang bisa Nak Jack pengaruhi. Jadi hati-hati, karena jumlahnya hanya sedikit jangan digunakan pada sembarang orang selain orang tua Nak Devi.”
“Gue understand Mbah.”
Keesokan harinya Jack berdandan rapi lalu meluncur menuju rumah orangtua Devi. Ia membunyikan bel tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Jack pun bertanya ke warung sebelah.
“Orangnya sudah pergi Mas, tadi malam.”
“Ke mana Bu?”
“Ke luar kota mungkin, yang ibu lihat kemarin pakai taksi bandara.”
Jack berusaha menghubungi Devi dengan ponsel tetapi yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif. Iapun kembali ke gubug bambu tempat praktek Sang Dukun, tetapi Jack lagi-lagi menemukan tempat kosong. Jack merasa ada yang aneh. Perasaannya tidak enak,
Nun jauh dipinggir pantai, lima orang sedang bercengkerama sambil minum tequila.Tampak sedang merayakan sesuatu.
“100.000 dolar itu berapa ya?” Tanya Devi
“Kurs sekarang 11.500 kalau dikalikan jadi satu milyar seratus lima puluh juta.”
Kata Mbah Dukun yang kini sudah tidak berjenggot dan beruban. Di samping Mbah dukun duduk pria yang berperan sebagai ayah Devi sedang merangkul wanita yang menjadi mahasiswi yang baru turun dari angkot. Sementara pemeran ibu Devi tampak asyik dengan ponsel baru yang dibelinya dengan uang pemberian Jack. Ia membuka jejaring sosial dan berkata
“Dev sini Dev, ada mangsa empuk selanjutnya nih.”
THE END
jwbali memberi reputasi
1
Kutip
Balas