- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#41
Sebuah Awal. Part 5
Keesokan harinya....
Beru, 8.10 pagi
"Ndi.... kok melamun aja?"
Ujar mas kiki memperhatikan aku yang nampak bengong di teras rumah padahal disekitarku banyak kerumunan orang yang bersiap mengantar mempelai pria melangsungkan ijab qabul di Masjid Beru.
"Eh.... ga apa mas" jawabku singkat
"kamu keren juga ndi kalo pake setelan jas begini?" Tanya mas kiki lagi sambil menyisir rambutnya
"Ah... bisa aja mas, berasa caleg yak, hehe" jawabku nyengir
"Mirip MC orkes keliling!!" jawab mas kiki kecut
"Hadeh!!" ujarku menepok jidat
"Tapi keren kok, mirip aldi malah!"
"Beneran??"
"Iya ndi... jangan sampe nanti penghulunya ga bisa bedain mana aldi mana kamu, haha" goda dia sambil berlalu masuk kedalam rumah
"hm..... apa aku ganti baju batik aja ya?" gumamku pelan lantas berdiri menyambut rombongan keluarga mbak yani yang mulai berdatangan.
Pagi ini suasana dirumah sangat rame menjelang hari bersejarah yang akan dilangsungkan oleh kak aldi. Banyak keluarga besar mbak yani datang, bahkan yang dari makasar pun dibela-belain kesini. Mungkin karena mbak yani anak pertama jadi dibelain datang dari jauh. Keluarga dirumah pasti bangga melihat kak aldi bahagia seperti ini, namun sayang mereka tidak bisa datang.
"Adiknya aldian?" seorang ibu paruh baya lantas menyapaku seraya tersenyum manis
"Iya bu, dari makasar ya?"
"Iya dari Rappocini" sejenak beliau diam lalu meneruskan bicaranya "hm... sama gagahnya dengan aldian" candanya lantas menyodorkan keranjang kue kearahku
"eh.. iya bu saya bawa masuk dulu ya kuenya?" jawabku sopan
"iya... dek, udah siap pengantin cowoknya?" tanya beliau lagi
"Udah mau jalan ke masjid nyusul mbak yani yang udah siap disana"
"Oh... keluarga dari jawa tidak datang?" tanyanya penasaran
"Ga bisa datang bu, ada tetangga disebelah dari jawa yang jadi wakilnya, sama aku"
"…..." sedetik kemudian hening lalu...
"Tapi banyak temannya kak aldi sesama orang jawa datang kesini, dari DKP dan COREMAP" jawabku melanjutkan
"begitu ya, ya udah saya nyusul ke masjid dulu ya!" ujarnya berpamitan
"Ya bu, makasih ya"
Ibu yang memakai kebaya warna kecoklatan itu lantas berlalu bersama anak dan suaminya yang menunggu di pinggir trotoar hendak ke masjid. Sebagian dari rombongan mobil itu ada yang masuk kerumah sekedar bersalaman sama kak aldi dan ada juga yang nunggu disini mengantar mempelai pria mengucapkan ikrar di depan penghulu yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Tak sampai lama mas kiki keluar bersama kak aldi yang terlihat gagah dengan setelan jas-nya yang dipamerin kemarin malam. Sejurus kemudian terdengar tabuhan rebana di sekeliling kami yang mengema bak mortir melesat berkali-kali di area peperangan. Ya, sangat rame banget.
"Ndi... kok jadi gugup gini ya?" tanya kak aldi disampingku
"… ahahahhha" aku lantas tertawa sambil mengiring dia menuju ke Masjid bersamaan dengan rombongan kami.
"malah tertawa!"
"Udah minum moke belum?" tanyaku mengejek
"J****krik!! sempet bercanda kamu ndi!" umpat dia kasar
"Bener Al..., kamu harus minum moke dulu!" sahut mas kiki yang mendengar perbincangan singkat kami
Brakk dung dung brakkk!!!
Brakk dung dung brakkk!!!
Brakk dung dung brakkk!!!
.......
Kak aldi lantas diam berjalan menunduk sambil mengesek kedua telapak tanganya yang kelihatan basah. Suara tabuhan rebana ini semakin menderu dan membuat kak aldi tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan mas kiki barusan. Saat itu aku langsung menepuk bahunya mencoba menguatkan dia yang nampak bercucuran keringan dingin...
"Udah ingat kan mantra-nya???"
"Mantra apa?" tanya kak aldi pelan
"Kayak gini..." ujarku seraya berbisik ke telinganya
Lingsir wengi sliramu tucuming sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro…
Aku lagi bang wingo wingo…
"janc*k!!!!" teriak dia kearahku sangat keras
Kak aldi lantas menjitak kepalaku, kini bahasa Jawa Timuran itu terdengar cumiik membuat rombongan kami terperanjat. Sedetik kemudian tabuhan rebana juga ikut berehenti.
"ONO OPO???" mas kiki lantas ikut kaget melihat aku menunduk kesakitan memegang kepala
"Iku lo andi... ono-ono ae, mau ijab qabul malah disuruh panggil kuntilanak!" ujar kak aldi ngedumel
"doh.. bercanda di seriusin!" jawabku singkat
"WESSS... LANJUTNO TABUHANE DULUR!!"
Teman kak aldi dari Coremap lantas melerai perdebatan singkat kita dan langsung menyuruh rombongan menabuh rebana, tapi entah kenapa mereka malah diam membisu. Mungkin ga ngerti apa yang diomongin mas itu.
"janc*kK!!! nek kene ojo ngomong bahasa jowo!!! ora ono sing mudeng!" kak aldi lantas menyahut ke temannya sambil masih ngedumel maki-maki ga jelas.
"OALAH!! ya udah lanjut musiknya kawan!" mas jawa tadi langsung cumiik dan tabuhan rebana yang sempat terhenti sesaat lantas kembali menggema.
"LU KIRA ORKESAN NGOMONG GITU!!!" mas kiki lantas ikut-ikutan ngatain temennya kak aldi tadi yang nampak bingung.
"Lha pie to? ngomong kok serba salah, yo wes meneng ae aku!" dia lantas menunduk sambil membawa payung nikah disamping kak aldi.
Sekian menit agak terlambat datang ke masjid sejak kejadian misuh-misuhan tadi. Kini rombongan mempelai pria sudah memasuki masjid dan kulihat mbak yani disana terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin ala orang makasar berwarna kemerahan.
"kok tambah cantik ya mbak yani?" ujarku berbisik ke kak aldi yang mulai duduk disebelah mbak yani
"Diem kamu ndi.. jangan bikin gugup. Nih di depan ada penghulu!" ujarnya seraya menunduk
"Ada pak haji yusuf juga disana!" ujarku menimpali
"jadi wakil penghulu mungkin ndi?"
"Emang apaan ada wakilnya segala, hihi" tawaku meringis
BUKKKK!!!
Keris dipinggangnya lantas menyenggol aku sedikit
"Ndi... ini tau apaan?"
"KERISS!!"
"Jangan goda lagi kamu ah... biar keris ini ga mendarat di dadamu!!" ancam dia bercanda
"ehem.... udah siap??" penghulu di depan lantas berdehem sambil mengetes suara mic yang di gengammnya
"ah.... siapa pak?" kak aldi menjawab grogi
"YA KAMU!!!" ujar penghulu itu sambil melotot
"DIAN!!!!....." bisik mbak yani lantas melirik ke kak aldi sambil menyenggol bahunya manja
"nih kok jadi main lawak-lawakan sih!" gerutuku pelan lantas menyuruh mas kiki berganti posisi ke aku
"Eh.. ndi kamu disamping aldian sana aja! kamu kan adiknya!" ujar mas kiki
"Ah ga lah, nanti bercanda terus sama kak aldi. Ga enak diliatin pak haji yusuf aku"
"Kamu inget rahma?"
"Rahma lagi!!!' jawabku berdesis
"Ngakkk ndi. Yo wes aku temeni aldian"
Sejurus kemudian kini aku duduk agak jauhan dengan kedua mempelai. Memperhatikan mereka berikrar sehidup semati di depan penghulu. Pagi itu suasananya sangat rame, banyak keluarga mbak yani yang datang dan teman mas kiki dan kak aldi berdatangan, ditambah lagi anak sekolahan yang menonton di balik kaca masjid. Hm... sudah kayak pasar malam.
Disekitarku banyak orang berbisik riuh dengan bahasa daerah mereka, ditambah lagi bahasa makasar dari keluarga mbak yani. Wow.... bener-bener berasa duduk ditengah-tengah garis khaulistiwa yang membentang antara sabang sampai merauke. FYI, temannya kak aldi dan mas kiki kebanyakan pegawai dari pulau jawa, sebagian ada dari kalimantan, sumatra, bali, dan NTB, belum lagi di tambah warga lokal.
"Ki... ternyata susah juga ngerekam orang ijab qabul!"
Aku dengar lirih suara temennya mas kiki membawa handycam mencoba mengabadikan momen bersejarah ini. Nampaknya dia orang jawa tadi yang ngomongnya medok jawa banget.
"Kenapa tanganmu gemeteran gini?" tanya mas kiki yang mulai berdiri menghampirinya
"Ga tau kenapa aku juga ikutan gugup ki..! inget saat ditinggal mantanku nikah dulu" jawab dia menjelaskan
"Duh dasar kamu, kalau nyelem aja sok-sok ngerekam Hiu, disini pengecut kamu!"
"udah kamu aja yang ngerekam ki..!" jawab dia lantas mundur beberapa langkah dari kerumunan.
"ANDI!!!!"
Mas kiki yang memergokiku duduk nganggur lantas melambaikan tangan memintaku menghamirinya
"Eh... iya, ada apa?"
"Kamu bisa ngerekam kan?" tanya dia sambil menunjukkan handycam ke arahku
"Ah... bisa-bisa!" jawabku singkat
"Ya udah kamu kesini rekam proses ijab kabulnya aldi!"
"Oke!"
Sejurus kemudian aku beranjak menghampiri dia dan merekam momen bersejarah ini dari berbagai sudut. Lagi asyik ngerekam momen penting ini tiba-tiba hapeku bergetar dan ada notif sms masuk disana.
"Siapa nih, ganggu kameramen aja" gerutuku sok keren
BREP.... BREP!!!
Hapeku kembali bergetar dan tak kuhiraukan notif itu. Aku masih asyik meneruskan tingkah polahku berjalan dari sudut kesudut masjid mencoba mencari angle yang bagus untuk merekam proses nikahannya kak aldi dan mbak yani.
BREP!!!!!! ting.....
Handphoneku lantas berbunyi nyaring ringtone lawas khas nokia 2600 yang bisa dibilang keren pada jamannya. Ringtone klasik yang menjadi primadona kala itu. Aku terkejut saat itu, mungkin ibu dirumah yang nelpon! sekejap saja kuraih hapeku yang aku kantongin di celana dan ternyata memang ada panggilan dari nomor Pak De.
"Halo assalamualaikum bu" jawabku sopan
"Ndi... gimana kabarnya disana?" tanya ibu sambil sesungukan
"Kok kayaknya sedih bu?"
"Nggak ibu cuma terharu aja denger abangmu nikah sekarang"
"Iya bu... ini aku lagi menemani kak aldi ijab qabul"
"kamu sehat kan ndi?" tanya ibu masih terisak
"Alhamdulillah bu... sehat dan masih seger sampai sekarang"
"Oh... syukurlah. Salam sama yani ya, doaku selalu menyertai mereka"
"iya bu, nanti seminggu setelah nikah mereka akan berkunjung ke Mojokerto kok"
"Iya, ibuk kangen sama aldi, lama ga ketemu, ibuk kangen kamu juga" ujar ibuk terisak isak dan semakin kencang seolah aku bisa merasakan air mata itu menetes di ujung lubang speaker hpku ini.
"......"
Aku lantas terdiam mendengar tangisan ibu dari handphoneku ini. Ku pegang semakin erat hp mungilku ini kemudian bersandar di dinding masjid disebelah rak Al-Quran yang berjejer rapi. Entah berapa lama aku mendengar ibu terisak sesungukan diseberang sana, saat itu hatiku seperti terlumat seolah ada keinginan untuk mengepakkan kedua tanganku dan terbang kejawa membawa ibu kemari. Tapi itu konyol... dan tidak mungkin bisa terjadi.
"sudah dulu ya nak, salam sama yani dan aldi, serta keluarga besar mereka disana" ibu kemudian berujar setelah melepaskan semua keharuan yang ada direlung hatinya.
"Ya buk, aku dan kak aldian selalu sayang dan kangen sama ibu. Aku janji akan cepet pulang kejawa setelah kuliah nanti dan membuat ibu bahagia" ujarku lirih menahan tangis yang sempat menetes di pelupuk mataku
"iya nak, assalamualaikum"
"Walaikumsalam buk"
Ibu lantas menutup telponnya yang membuat hapeku agak panas setelah lama berbincang tadi. Saat itu aku berusaha menahan hape yang panas itu tidak cepat mendingin dan menaruhnya tepat didadaku. Hanya hangat yang kini aku rasakan,
di dadaku,
didalam hati ini,
seperti pertama ibu memelukku setelah aku meninggalkan dia berdiri mematung diteras rumah dahulu. Ketika asap knalpot motor Pak De perlahan mengaburkan pandanganku ke sosok ibuk yang telah memberiku kehangatan dengan kasih sayangnya selama ini.
"Aku selalu.... sayang engkau buk!" gumamku dalam hati
Sekian menit aku memeluk hape itu yang perlahan mendingin, kudengar orang orang didalam masjid ini mulai ada yang teriak "huuuuu" ketika kak aldi mencium kening mbak yani.
"Aduh.... kelewatan momen ini!!!" aku lantas salah tingkah melihat lensa handycam ini merekam lantai kotak-kotak polos dibawah.
"Ya tuhan jadi aku lupa mem-pause handycam ini ketika berbincang dengan ibu tadi, sampe yang kerekam hanya lantai putih polos dibawah" gerutuku kesal melihat handycam yang mengantung dilenganku
"Mas kiki!!!!" teriakku cumiik seraya berjalan menghampiri dia yang masih senyam senyum melihat mbak yani dan kak aldi lagi berbunga bunga
"Mas kiki... bisikin ke penghulunya coba reka ulang adegan ciuman tadi!" pintaku ke dia sambil menunjuk wajah penghulu yang memakai kopyah hitam.
"Gila kamu? emang ga direkam tadi?" tanya dia heran
"Ga sempet!!!"
"Kemana aja kamu tadi?"
"ada telpon dari ibu, ga sadar masih ngerekam handycamnya!"
"Haduh... sisa berapa menit lagi tuh filem!"
"15 menit!!!!"
"HADEH!!! ndi... ndi...." ujarnya kaget
"Ya udah suruh mereka ciuman lagi aja!" pintaku ke mas kiki
"ah... biarin lah.. itu yang 15 menit sisain buat ntar malem, hehe" mas kiki lantas mengangkat alisnya seperti memberiku kode
"buat apa ntar malem?" tanyaku serius
"Kamu taruh di atas lubang fentilasi kamarnya aldian, hahahaha" dia lantas tertawa terbahak-bahak dan kemudian membuat suasana hening beberapa saat
"...... sttttttt!!!" semua orang lantas seragam menaruh telunjuknya ke bibir menyuruh mas kiki diam.
"ups... sorry kelepasan!"
"DOH.... mas kiki" ujarku malu seraya duduk disampingnya
Beru, 8.10 pagi
"Ndi.... kok melamun aja?"
Ujar mas kiki memperhatikan aku yang nampak bengong di teras rumah padahal disekitarku banyak kerumunan orang yang bersiap mengantar mempelai pria melangsungkan ijab qabul di Masjid Beru.
"Eh.... ga apa mas" jawabku singkat
"kamu keren juga ndi kalo pake setelan jas begini?" Tanya mas kiki lagi sambil menyisir rambutnya
"Ah... bisa aja mas, berasa caleg yak, hehe" jawabku nyengir
"Mirip MC orkes keliling!!" jawab mas kiki kecut
"Hadeh!!" ujarku menepok jidat
"Tapi keren kok, mirip aldi malah!"
"Beneran??"
"Iya ndi... jangan sampe nanti penghulunya ga bisa bedain mana aldi mana kamu, haha" goda dia sambil berlalu masuk kedalam rumah
"hm..... apa aku ganti baju batik aja ya?" gumamku pelan lantas berdiri menyambut rombongan keluarga mbak yani yang mulai berdatangan.
Pagi ini suasana dirumah sangat rame menjelang hari bersejarah yang akan dilangsungkan oleh kak aldi. Banyak keluarga besar mbak yani datang, bahkan yang dari makasar pun dibela-belain kesini. Mungkin karena mbak yani anak pertama jadi dibelain datang dari jauh. Keluarga dirumah pasti bangga melihat kak aldi bahagia seperti ini, namun sayang mereka tidak bisa datang.
"Adiknya aldian?" seorang ibu paruh baya lantas menyapaku seraya tersenyum manis
"Iya bu, dari makasar ya?"
"Iya dari Rappocini" sejenak beliau diam lalu meneruskan bicaranya "hm... sama gagahnya dengan aldian" candanya lantas menyodorkan keranjang kue kearahku
"eh.. iya bu saya bawa masuk dulu ya kuenya?" jawabku sopan
"iya... dek, udah siap pengantin cowoknya?" tanya beliau lagi
"Udah mau jalan ke masjid nyusul mbak yani yang udah siap disana"
"Oh... keluarga dari jawa tidak datang?" tanyanya penasaran
"Ga bisa datang bu, ada tetangga disebelah dari jawa yang jadi wakilnya, sama aku"
"…..." sedetik kemudian hening lalu...
"Tapi banyak temannya kak aldi sesama orang jawa datang kesini, dari DKP dan COREMAP" jawabku melanjutkan
"begitu ya, ya udah saya nyusul ke masjid dulu ya!" ujarnya berpamitan
"Ya bu, makasih ya"
Ibu yang memakai kebaya warna kecoklatan itu lantas berlalu bersama anak dan suaminya yang menunggu di pinggir trotoar hendak ke masjid. Sebagian dari rombongan mobil itu ada yang masuk kerumah sekedar bersalaman sama kak aldi dan ada juga yang nunggu disini mengantar mempelai pria mengucapkan ikrar di depan penghulu yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Tak sampai lama mas kiki keluar bersama kak aldi yang terlihat gagah dengan setelan jas-nya yang dipamerin kemarin malam. Sejurus kemudian terdengar tabuhan rebana di sekeliling kami yang mengema bak mortir melesat berkali-kali di area peperangan. Ya, sangat rame banget.
"Ndi... kok jadi gugup gini ya?" tanya kak aldi disampingku
"… ahahahhha" aku lantas tertawa sambil mengiring dia menuju ke Masjid bersamaan dengan rombongan kami.
"malah tertawa!"
"Udah minum moke belum?" tanyaku mengejek
"J****krik!! sempet bercanda kamu ndi!" umpat dia kasar
"Bener Al..., kamu harus minum moke dulu!" sahut mas kiki yang mendengar perbincangan singkat kami
Brakk dung dung brakkk!!!
Brakk dung dung brakkk!!!
Brakk dung dung brakkk!!!
.......
Kak aldi lantas diam berjalan menunduk sambil mengesek kedua telapak tanganya yang kelihatan basah. Suara tabuhan rebana ini semakin menderu dan membuat kak aldi tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan mas kiki barusan. Saat itu aku langsung menepuk bahunya mencoba menguatkan dia yang nampak bercucuran keringan dingin...
"Udah ingat kan mantra-nya???"
"Mantra apa?" tanya kak aldi pelan
"Kayak gini..." ujarku seraya berbisik ke telinganya
Lingsir wengi sliramu tucuming sirno…
Ojo tangi nggonmu guling…
Awas jo ngetoro…
Aku lagi bang wingo wingo…
"janc*k!!!!" teriak dia kearahku sangat keras
Kak aldi lantas menjitak kepalaku, kini bahasa Jawa Timuran itu terdengar cumiik membuat rombongan kami terperanjat. Sedetik kemudian tabuhan rebana juga ikut berehenti.
"ONO OPO???" mas kiki lantas ikut kaget melihat aku menunduk kesakitan memegang kepala
"Iku lo andi... ono-ono ae, mau ijab qabul malah disuruh panggil kuntilanak!" ujar kak aldi ngedumel
"doh.. bercanda di seriusin!" jawabku singkat
"WESSS... LANJUTNO TABUHANE DULUR!!"
Teman kak aldi dari Coremap lantas melerai perdebatan singkat kita dan langsung menyuruh rombongan menabuh rebana, tapi entah kenapa mereka malah diam membisu. Mungkin ga ngerti apa yang diomongin mas itu.
"janc*kK!!! nek kene ojo ngomong bahasa jowo!!! ora ono sing mudeng!" kak aldi lantas menyahut ke temannya sambil masih ngedumel maki-maki ga jelas.
"OALAH!! ya udah lanjut musiknya kawan!" mas jawa tadi langsung cumiik dan tabuhan rebana yang sempat terhenti sesaat lantas kembali menggema.
"LU KIRA ORKESAN NGOMONG GITU!!!" mas kiki lantas ikut-ikutan ngatain temennya kak aldi tadi yang nampak bingung.
"Lha pie to? ngomong kok serba salah, yo wes meneng ae aku!" dia lantas menunduk sambil membawa payung nikah disamping kak aldi.
Sekian menit agak terlambat datang ke masjid sejak kejadian misuh-misuhan tadi. Kini rombongan mempelai pria sudah memasuki masjid dan kulihat mbak yani disana terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin ala orang makasar berwarna kemerahan.
"kok tambah cantik ya mbak yani?" ujarku berbisik ke kak aldi yang mulai duduk disebelah mbak yani
"Diem kamu ndi.. jangan bikin gugup. Nih di depan ada penghulu!" ujarnya seraya menunduk
"Ada pak haji yusuf juga disana!" ujarku menimpali
"jadi wakil penghulu mungkin ndi?"
"Emang apaan ada wakilnya segala, hihi" tawaku meringis
BUKKKK!!!
Keris dipinggangnya lantas menyenggol aku sedikit
"Ndi... ini tau apaan?"
"KERISS!!"
"Jangan goda lagi kamu ah... biar keris ini ga mendarat di dadamu!!" ancam dia bercanda
"ehem.... udah siap??" penghulu di depan lantas berdehem sambil mengetes suara mic yang di gengammnya
"ah.... siapa pak?" kak aldi menjawab grogi
"YA KAMU!!!" ujar penghulu itu sambil melotot
"DIAN!!!!....." bisik mbak yani lantas melirik ke kak aldi sambil menyenggol bahunya manja
"nih kok jadi main lawak-lawakan sih!" gerutuku pelan lantas menyuruh mas kiki berganti posisi ke aku
"Eh.. ndi kamu disamping aldian sana aja! kamu kan adiknya!" ujar mas kiki
"Ah ga lah, nanti bercanda terus sama kak aldi. Ga enak diliatin pak haji yusuf aku"
"Kamu inget rahma?"
"Rahma lagi!!!' jawabku berdesis
"Ngakkk ndi. Yo wes aku temeni aldian"
Sejurus kemudian kini aku duduk agak jauhan dengan kedua mempelai. Memperhatikan mereka berikrar sehidup semati di depan penghulu. Pagi itu suasananya sangat rame, banyak keluarga mbak yani yang datang dan teman mas kiki dan kak aldi berdatangan, ditambah lagi anak sekolahan yang menonton di balik kaca masjid. Hm... sudah kayak pasar malam.
Disekitarku banyak orang berbisik riuh dengan bahasa daerah mereka, ditambah lagi bahasa makasar dari keluarga mbak yani. Wow.... bener-bener berasa duduk ditengah-tengah garis khaulistiwa yang membentang antara sabang sampai merauke. FYI, temannya kak aldi dan mas kiki kebanyakan pegawai dari pulau jawa, sebagian ada dari kalimantan, sumatra, bali, dan NTB, belum lagi di tambah warga lokal.
"Ki... ternyata susah juga ngerekam orang ijab qabul!"
Aku dengar lirih suara temennya mas kiki membawa handycam mencoba mengabadikan momen bersejarah ini. Nampaknya dia orang jawa tadi yang ngomongnya medok jawa banget.
"Kenapa tanganmu gemeteran gini?" tanya mas kiki yang mulai berdiri menghampirinya
"Ga tau kenapa aku juga ikutan gugup ki..! inget saat ditinggal mantanku nikah dulu" jawab dia menjelaskan
"Duh dasar kamu, kalau nyelem aja sok-sok ngerekam Hiu, disini pengecut kamu!"
"udah kamu aja yang ngerekam ki..!" jawab dia lantas mundur beberapa langkah dari kerumunan.
"ANDI!!!!"
Mas kiki yang memergokiku duduk nganggur lantas melambaikan tangan memintaku menghamirinya
"Eh... iya, ada apa?"
"Kamu bisa ngerekam kan?" tanya dia sambil menunjukkan handycam ke arahku
"Ah... bisa-bisa!" jawabku singkat
"Ya udah kamu kesini rekam proses ijab kabulnya aldi!"
"Oke!"
Sejurus kemudian aku beranjak menghampiri dia dan merekam momen bersejarah ini dari berbagai sudut. Lagi asyik ngerekam momen penting ini tiba-tiba hapeku bergetar dan ada notif sms masuk disana.
"Siapa nih, ganggu kameramen aja" gerutuku sok keren
BREP.... BREP!!!
Hapeku kembali bergetar dan tak kuhiraukan notif itu. Aku masih asyik meneruskan tingkah polahku berjalan dari sudut kesudut masjid mencoba mencari angle yang bagus untuk merekam proses nikahannya kak aldi dan mbak yani.
BREP!!!!!! ting.....
Handphoneku lantas berbunyi nyaring ringtone lawas khas nokia 2600 yang bisa dibilang keren pada jamannya. Ringtone klasik yang menjadi primadona kala itu. Aku terkejut saat itu, mungkin ibu dirumah yang nelpon! sekejap saja kuraih hapeku yang aku kantongin di celana dan ternyata memang ada panggilan dari nomor Pak De.
"Halo assalamualaikum bu" jawabku sopan
"Ndi... gimana kabarnya disana?" tanya ibu sambil sesungukan
"Kok kayaknya sedih bu?"
"Nggak ibu cuma terharu aja denger abangmu nikah sekarang"
"Iya bu... ini aku lagi menemani kak aldi ijab qabul"
"kamu sehat kan ndi?" tanya ibu masih terisak
"Alhamdulillah bu... sehat dan masih seger sampai sekarang"
"Oh... syukurlah. Salam sama yani ya, doaku selalu menyertai mereka"
"iya bu, nanti seminggu setelah nikah mereka akan berkunjung ke Mojokerto kok"
"Iya, ibuk kangen sama aldi, lama ga ketemu, ibuk kangen kamu juga" ujar ibuk terisak isak dan semakin kencang seolah aku bisa merasakan air mata itu menetes di ujung lubang speaker hpku ini.
"......"
Aku lantas terdiam mendengar tangisan ibu dari handphoneku ini. Ku pegang semakin erat hp mungilku ini kemudian bersandar di dinding masjid disebelah rak Al-Quran yang berjejer rapi. Entah berapa lama aku mendengar ibu terisak sesungukan diseberang sana, saat itu hatiku seperti terlumat seolah ada keinginan untuk mengepakkan kedua tanganku dan terbang kejawa membawa ibu kemari. Tapi itu konyol... dan tidak mungkin bisa terjadi.
"sudah dulu ya nak, salam sama yani dan aldi, serta keluarga besar mereka disana" ibu kemudian berujar setelah melepaskan semua keharuan yang ada direlung hatinya.
"Ya buk, aku dan kak aldian selalu sayang dan kangen sama ibu. Aku janji akan cepet pulang kejawa setelah kuliah nanti dan membuat ibu bahagia" ujarku lirih menahan tangis yang sempat menetes di pelupuk mataku
"iya nak, assalamualaikum"
"Walaikumsalam buk"
Ibu lantas menutup telponnya yang membuat hapeku agak panas setelah lama berbincang tadi. Saat itu aku berusaha menahan hape yang panas itu tidak cepat mendingin dan menaruhnya tepat didadaku. Hanya hangat yang kini aku rasakan,
di dadaku,
didalam hati ini,
seperti pertama ibu memelukku setelah aku meninggalkan dia berdiri mematung diteras rumah dahulu. Ketika asap knalpot motor Pak De perlahan mengaburkan pandanganku ke sosok ibuk yang telah memberiku kehangatan dengan kasih sayangnya selama ini.
"Aku selalu.... sayang engkau buk!" gumamku dalam hati
Sekian menit aku memeluk hape itu yang perlahan mendingin, kudengar orang orang didalam masjid ini mulai ada yang teriak "huuuuu" ketika kak aldi mencium kening mbak yani.
"Aduh.... kelewatan momen ini!!!" aku lantas salah tingkah melihat lensa handycam ini merekam lantai kotak-kotak polos dibawah.
"Ya tuhan jadi aku lupa mem-pause handycam ini ketika berbincang dengan ibu tadi, sampe yang kerekam hanya lantai putih polos dibawah" gerutuku kesal melihat handycam yang mengantung dilenganku
"Mas kiki!!!!" teriakku cumiik seraya berjalan menghampiri dia yang masih senyam senyum melihat mbak yani dan kak aldi lagi berbunga bunga
"Mas kiki... bisikin ke penghulunya coba reka ulang adegan ciuman tadi!" pintaku ke dia sambil menunjuk wajah penghulu yang memakai kopyah hitam.
"Gila kamu? emang ga direkam tadi?" tanya dia heran
"Ga sempet!!!"
"Kemana aja kamu tadi?"
"ada telpon dari ibu, ga sadar masih ngerekam handycamnya!"
"Haduh... sisa berapa menit lagi tuh filem!"
"15 menit!!!!"
"HADEH!!! ndi... ndi...." ujarnya kaget
"Ya udah suruh mereka ciuman lagi aja!" pintaku ke mas kiki
"ah... biarin lah.. itu yang 15 menit sisain buat ntar malem, hehe" mas kiki lantas mengangkat alisnya seperti memberiku kode
"buat apa ntar malem?" tanyaku serius
"Kamu taruh di atas lubang fentilasi kamarnya aldian, hahahaha" dia lantas tertawa terbahak-bahak dan kemudian membuat suasana hening beberapa saat
"...... sttttttt!!!" semua orang lantas seragam menaruh telunjuknya ke bibir menyuruh mas kiki diam.
"ups... sorry kelepasan!"
"DOH.... mas kiki" ujarku malu seraya duduk disampingnya
Diubah oleh andihunt 04-05-2014 10:59
0