- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#40
Sebuah Awal. Part 4
Enam hari berjalan sangat cepat seperti anak panah yang melesak dari busurnya dan mengenai tepat di jantungku, membuatku berdarah dan menahan sesak didada merasakan tekanan batin melihat kak aldi nampak bahagia menjelang hari pernikahannya besok. Tak seharusnya aku sesedih ini, membayangkan hari-hari kedepan akan terhimpit diantara privasi mereka. Ya... memang sudah semestinya aku tinggal diluar. Malam ini aku merasa jenuh sambil bermain game di laptop kak aldi.
"Ndi... udah cocok belum jas-nya?" kak aldi lantas menyapaku yang lagi getol bermain game di Laptop
"Ya kayaknya cocok lah" jawabku singkat
"Cocok gimana? kesini lah!"
"Hm... bentar lagi selesai nih levelnya" ujarku males
"Udah kesini dulu!" dia lantas menghampiriku sambil memamerin jas pernikahannya yang berwarna hitam
"Coba ngaca aja! biasanya kaca lebih paham jas itu cocok atau nggak" ujarku seraya bangkit menghampirinya
"Lah... sama aja, aku kan minta pendapatmu ndi"
"Kayaknya cocok deh kak, apalagi bawahannya pake celana putih" aku lantas tertawa terkekeh
"apa??? iya cocok mirip satpam!"
"Nah... itu tau kan?"
"Yoweslah ndi... kayaknya nih cocok. Hm... bentar lagi bakal jadi bapak nih?" ujarnya pelan sambil melihat bayangannya memantul di kaca yang berada di dinding rumah.
Aku lihat dia bergaya, tersenyum dan mencukur bulu jengotnya yang agak menghitam di dagunya. Dia nampaknya sangat bahagia, tapi.... entahlah kenapa aku merasa galau begini. Galau tentang nasibku kelak.
"Aku keluar dulu ya kak?"
"Kemana ndi....?" tanya dia lantas berjalan menghampiriku
"Ke tanggul depan sana"
"Malam begini?"
"Sumpek aku dirumah terus... pengen cari angin aja!"
"Ya udah... jangan malem-malem tar pucet lagi kamu. Maumere lagi dingin cuacanya!"
"Ah... sudahlah. Kalau demam kan tinggal tiduran aja. Lagian nganggur, masih semingguan lagi ada ospek!"
"Kamu....?" kak aldi lantas menoleh ke arahku serius membiarkan kedua bola matanya menatap aku curiga
"…....." aku terdiam sambil berlalu darinya. Tak kuhiraukan tatapan mata itu dan aku langsung nyelonong begitu saja seperti anak yang diusir orang tuanya
"ndi.... kamu nyesel kesini?" kak aldi lantas bersuara dan langsung membuat langkahku terhenti. Angin malam ini sejenak membekukan kita yang nampak akan memulai sebuah perdebatan singkat.
"tidak ada yang perlu disesali kak..." jawabku lirih sambil membuka pintu yang belum sempat terkunci
"Ga seperti biasanya kamu ndi.... kamu nyesel kemari? atau gara-gara rahma?" cecar dia bertubi tubi seperti memberondong dan membuatku terkulai lemah.
"entahlah.... apakah pilihanku kesini tepat atau tidak? aku ga akan menyesali ini. Aku sayang kak aldi, aku menikmati perjalananku kesini. Tapi... aku pusing harus bagaimana menyikapi gejolak hatiku"
"Gejolak hati....?" tanya kak aldi singkat. Kulihat kini dia berjalan mengikuti jejak langkahku dan tak lama berdiri disampingku, mendekap erat pundakku seperti saat kita mengantar rahma di bandara.
"Mungkin seharusnya aku tidak bergantung ke kak aldi terus-terusan. Aku mau ngekos. Atau nggak pulang ke jawa" jawabku tegas
"Ndi.... Aku tau kamu akan merasa sungkan tinggal disini ketika kakak akan menikah dan tinggal sama Yani. Tapi...."
"Tapi apa kak?" tanyaku pelan sambil ku elus pintu ini yang sudah mulai terbuka
"Tapi aku sudah berjanji sama ibu untuk menjagamu ndi" jawab dia spontan
"emang aku anak kecil? emang aku cewek yang musti dijagain tiap hari!!!"
"…..." dia lantas terdiam dan menunduk
"Dua hari lagi... atau mungkin lebih cepat aku harus tinggal diluar, atau nggak aku pulang ke jawa aja cari kerja disana sambil kuliah"
"Kamu akan nunggu setahun lagi ndi"
"Memang pekerjaanku selama disini kan hanya menunggu kak? ah… sudahlah. Aku mau menenangkan diri ke tanggul dulu!" ujarku seraya menepis tanganya yang mendekap aku dari tadi dan berjalan keluar.
Maumere malam ini terasa sangat dingin, aku bahkan tidak sempat mengambil jaket yang tergantung dikamarku, karena kalau aku melangkah balik aku akan melihat kak aldi yang bersandar di mulut pintu rumah ini dan memulai perdebatan lagi. Aku malas berdebat terus dengannya, biarlah dinginnya malam ini mengerti akan perasaan hatiku yang gelisah. Kegelisahan yang sulit aku pahami dan datang dari mana, seolah rasa gelisah itu selalu muncul dan mengikutiku kemana saja aku pergi.
"Ndi....." kak aldi lantas cumiik memanggilku yang sudah berjarak lima meter dari dia
"…....." aku masih terdiam dan melihat bayangku sendiri yang nampak memanjang tersorot lampu trotoar yang menguning
"Ndi..... kamu boleh ngekos tapi jangan jauh dari rumah ini!" jawab dia sekali lagi dan kali ini membuat langkahku terhenti dan memaksa aku menoleh kebelakang
"pasti kak!! aku akan selalu kangen rumah ini, aku akan selalu mampir kesini, karena di beranda teras ini aku mulai akrab dengan kakak, dengan mas kiki dan tentu saja saat aku pertama kali melihat rahma"
"Iya ndi.... kakak mengerti perasaanmu"
"aku mau ke pantai dulu kak... sekedar menghalau rasa gelisah yang akhir-akhir ini mengerogoti sel tubuhku"
"Jangan kemaleman ndi pulangnya.... pintunya ga aku kunci!"
"Iya!" jawabku singkat dan melanjutkan langkahku yang sempat terhenti
Hm... Entahlah kenapa malam ini begitu sunyi dan dingin. Kulihat rumah rumah disekelilingku sudah tertutup pintunya, hanya menyisakan kerlipan lampu yang nampak samar kulihat. Kutengok jam di layar hapeku masih betengger di angka 9 malam, namun aku tak perdulikan rasa dingin ini, aku terus berjalan menapaki jalan berpaving yang mengiringku ke suatu tanggul yang pernah aku naiki saat pertama kali kesini.
Tidak sampai lama aku akhirnya duduk mengantung kaki dan menikmati ombak yang membentur pelan ke dinding tanggul ini. Kesunyian malam yang hanya berteman taburan bintang di langit lantas memaksa aku mengingat kejadian lucu yang pernah aku alami bersama rahma....
“eh.. ndi.. Di pulau Pamana sana pantainya bagus-bagus lo. Dulu saat masih sekolah aku sering main ke rumah teman orang Pamana. Naik perahu getek gitu. Asyik deh”
“Aku sempat baca juga sih kalau pulau Pamana itu dikelilingi pantai….”
“iya pantainya bagus. Eh… tunggu! Kamu barusan ngomong apa?”
‘Yang mana?”
“Tadi… mmmm…. Pulau Pamana dikelilingi pantai….?”
“Lah iya pulau pamana kan dikelilingi pantai!”
“Andiiiiiii namanya pulau dimana-mana ya dikelilingi pantai lah. Belum ada pulau itu dikelilingi Police Line, belum pernah ada!!”
“Oh… bener juga ya. Kadang aku mulai ga bisa mikir kalo deket cewek. Apalagi cewek cakep kayak kamu, hehe”
“Dasar!”
Aku lantas tertawa sendiri sambil menopang dagu mengamati pulau pamana yang terlihat kerlap kerlip di depan. Aku teringat saat bercanda dengan rahma tentang pulau itu. Hm... aku rindu tawa renyahnya. Sekian menit aku bengong mengamati pulau itu yang terlihat seperti bayangan hitam dipenuhi cahaya kuning seperti kunang-kunang yang berterbangan, menyimpan sejuta cerita yang tenggelam di dinginnya malam yang mencekam.
Semakin aku mengingat wajah rahma... lantas tiba-tiba semakin aku teringat sosok gadis berkerudung putih itu. Iya.... pikiranku melebar terlalu jauh membayangkan sosok misterius itu. Seperti sebuah counter attack dalam strategi sepak bola, aku malah teringat tentang gadis itu dibanding rahma. Apa karena mereka hampir mirip ya jadi ga ada bedanya ketika aku terlamun seperti ini? ah.. bodo! aku hanya ingin menikmati rasa dingin ini.
"Assalamualaikum ndi...." tiba-tiba ada sumber suara cowok dari belakang yang mengagetkan aku duduk sendirian di atas tanggul
"Eh... waalaikum salam. Mm... habib?" tanyaku keheranan melihat dia yang sudah duduk disampingku
"Iya ini aku habib, kita pernah ketemu di kampus dulu"
"Mau mancing? kok bawa alat mancing segala?" tanyaku yang nampak heran melihat dia memasang umpan di ujung senarnya yang agak tebal
"ya begitulah, menghilangkan kejenuhan aja." jawab dia spontan
"Tapi kenapa mancingnya di tempat tinggi begini? agak ombak lagi? mana dapat ikan?" cecarku ke dia
"kadang kita mancing bukan karena mencari ikan ndi... tapi menghilangkan suntuk aja"
"oh...." aku mengiyakan jawabannya sambil menatap kembali ke pulau pemana di depan
"Kamu kenapa kesini malam-malam? kayaknya galau aja" tanya dia memecah keheningan sesaat
"Entahlah... aku merasa damai kalau ke tanggul ini. Tempat pertama yang pernah aku datangi di Maumere"
"Ga kedinginan?" tanya dia curiga melihat aku yang nampak mengigil menahan rasa dingin
"Udah biasa bib, bahkan aku pernah loh hanya pakai kemeja tipis terapung di atas sampan sampai tengah malam"
"Serius!! bisa aik sampan emang?" tanya dia sekali lagi
"Ya begitulah! eh... bib gimana tempat kosmu? masih ada yang kosong?"
"Masih ada... emang kapan kamu jadi ngekos ditempatku?"
"Dua hari lagi mungkin, setelah nikahannya kakakku"
"Aldian itu ya?"
"emang kenal kamu?"
"Ya semua orang di komplek ini ya kenal lah. Mantunya pak haji imran yang tinggal di Kewa sana"
"Iya bib!'
"Aku denger kamu juga deket sama rahma?" tanya habib dan saat itu hatiku mencelos mendengarnya.
"Rahma..... eh...." aku langsung terdiam dan kembali mendekap tubuhku yang nampak mengigil kedinginan
"Rahma anak pak haji yusuf. Hebat kamu ndi.... cowok di komplek ini ga ada yang berani deketin dia!" ujar habib sambil melempar umpan ke laut yang agak tenang
"ya deket, cuma teman aja. Jadi inget saat di tabok pak haji" ujarku lirih sambil termenung
"Ditabok?" habib lantas menatapku serius, raut mukanya nampak menyimpan sejuta pertanyaan yang hendak terlontar ke arahku
"Dulu saat keluar sama rahma, bahkan aku ditabok pak haji, hahaha... pantesan ga ada yang berani deketin dia!"
"Bunga kota memang susah di raih ndi... tapi kalian berdua pantes kok!' ujarnya sekali lagi sambil menarik senar pancingnya. Tak lama kulihat dia memperoleh ikan agak besar seukuran sandal jepit
"Eh... Hebat kamu bib, di laut agak beriak begini bisa dapat ikan segitu gede"
"itu namanya feeling ndi! bersabar, tenang dan mainkan feelingmu!" ujarnya menjelaskan teknik memancingnya
"Pantesan dulu aku kalah sama rahma saat mancing cumi, aku ga menggunakan feelingku!" gerutuku kesal sampil ku lempar kerikil ke tengah laut
"Eits.... jangan main lempar lempar dong ndi! ikannya kabur ntar!"
"Oh..... sorry deh!"
"Wanita itu seperti alien ndi... ga bisa ditebak."
"Bahkan alien ga bisa diajak bicara!" jawabku singkat dan malam itu kemudian pecah dengan tawa kita berdua
"Tapi bisa menggunakan bahasa perasaan ndi, ingat "feeling"."
"Ya memang feeling itu penting. Seperti feelingku sama gadis berkerudung putih saat pertama ketemu di kampus dulu"
"Gadis berkerudung putih?" tanya habib keheranan sambil melempar umpan ke arah lain
"Iya.... aku ketemu sama dia saat test di kampus. Dia mirip 11-12 sama rahma. Hm... sejak kepergian rahma ke Makasar seolah dia sengaja datang mengusik hatiku"
"Jadi karena rahma sudah ke Makasar terus kamu jadikan cewek berkerudung itu pelarian?" tanya dia serius dan sejenak membuatku berpikir
"Pelarian???" aku lalu menoleh ke dia mencoba memahami pertanyaanya
"Kalo kamu ditinggal seseorang terus suka sama cewek lain bukannya itu disebut pelarian??"
"Bukan bib, aku memang ada rasa sama rahma tapi aku ga bisa mencintainya. Dia hanya seorang sahabat, tidak lebih!'
"Sahabat? pacar? kekasih? itu hanya status ndi! kecuali kalau kamu terikat janji sama penghulu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu ndi, saat kamu mencintai seseorang maka disitulah kamu punya tanggung jawab menjaga perasaan orang yang sudah terlanjur mencintaimu. Mungkin kalian bisa menganggap hanya "sahabat" tapi saat kalian bertemu, benih "cinta" itu muncul lagi. Ya mudah-mudahan kalian bisa mengontrolnya"
Habib lantas berbicara panjang lebar sambil menunggu umpannya ditarik ikan. Saat itu aku hanya menganguk dan membiarkan wajahku memutih diterpa angin malam yang semakin mendingin. Aku paham akan perasaanku ke rahma, memang aku mencintai dia tapi aku juga sadar ada hal penting diluar perasaan "cinta" itu, yakni membuat rahma berjalan lurus mengikuti alur ceritanya yang indah. Aku tidak ingin masa depannya hancur seperti mbaknya zelda yang harus berhenti kuliah karena rasa "cinta' yang berlebihan dan kemudian berujung hamil diluar nikah.
Tapi soal gadis berkerudung putih itu lain cerita. Ada suatu kegelapan disana, di dalam ngarai yang terjal dan sunyi seolah mengusik hatiku untuk membawanya keluar, menikmati setiap keindahan ciptaan Tuhan yang sudah seharusnya dia nikmati. Bukan tangisan itu, bukan gertakan memilukan itu.
Aku tau saat itu dia ketakutan seperti melihat sosok hantu didepannya. Hm... tak bisa kubayangkan kenapa sosok cantik dan angun seperti dia menerima takdir Tuhan yang begitu kelam. Aku sadar, mungkin itu salah satu alasan kenapa dia memandangi papan hitam polos itu terus menerus. Dia mungkin membayangkan dirinya adalah satu titik coretan kapur di tengah-tengah hitamnya papan tulis yang luas. Dia sadar, dia tidak akan mungkin lepas dari kegelapan itu sampai ada seseorang yang rela mencat papan itu menjadi putih dan menyamarkan kegelisahannya. Dan, detik itu... ketika aku melihat tubuhnya bergetar ketakutan, seolah ada suatu yang menganjal dalam diri ini untuk melepaskan rantai besar yang membelenggunya.
"Ndi.... mulai melamun?" ujar habib sambil menarik lagi senar pancingnya
"udah dapet lagi ternyata kamu!" jawabku singkat mengagumi teknik memancingnya
"Kalo kita sabar bakal berbuntut hoki ndi, seperti mancing ikan begini, hehe"
"Mau mancing sampai berapa kilo?" tanyaku singkat
"Dapet tiga aja cukup lah, besar-besar begini ikannya. Dibakar disini yuk!" pinta dia sambil merogoh korek api di sakunya
"Okelah... kayaknya bakalan enak nih"
"Tapi lebih enak di makan mentah ndi"
"Ah.... amis tau bib"
"di kasih jeruk nipis dong. Dulu saat aku mancing di tengah laut malem-malem sering makan ikan tuna mentah ndi sama teman-teman nelayan. Enak loh"
"Berasa makan sushi ya?"
"Ya begitulah, menu favorit dicampur moke mantep ndi!"
"aha..... udah pernah aku. Bahkan makan ular laut, haha" aku lantas tertawa terbahak bahak mengingat saat pertama kali aku minum moke
"Bukan ular laut itu ndi... belut kali"
"Ya gau tau juga, tapi rasanya agak beda sih"
"Kamu belum pernah makan bulu babi mentah?" tanya habib sambil melempar umpan lagi
"Bulu babi?" aku lantas bengong
"Iya bulu babi... atau biasa disebut landak laut. Rasanya gurih ndi..." jawab habib sambil lidahnya melet menggoda aku menjilat ikan yang tergeletak di tanggul
"Ih... jijik ah. Banyak lendirnya gitu!"
"Justru itu yang bikin gurih ndi!!. Ah... terlalu lama di jawa kamu ya"
"Ya namanya aja baru kali ini aku bisa bercengkerama langsung dengan pantai"
"Flores itu indah ndi.. kamu bakalan betah tinggal disini. Bahkan bule aja banyak yang kesini!"
"ya... memang indah bib"
Malam semakin larut, aku dan habib masih asyik menikmati malam berbintang dengan laut luas di hadapan kita. Entah berapa lama kita berbincang menghilangkan kejenuhan yang membabi buta. Tak lama setelah itu, kita membuat api unggun dan membakar ikan berdua. Suasana masih sepi, hanya terdengar gulungan halus ombak laut yang beriringan dengan suara gemeretek bunyi api di hadapan kami. Indahnya malam itu... seperti menemukan kembali surga yang sempat hilang.
"Ndi... habis ini kita pindah ke deket pelabuhan sana?" tanya habib tiba-tiba memecahkan kesunyian setelah asyik bersantap ikan
"mau ngapain?'
"Di deket pelabuhan sana banyak lampu menyorot ke laut. Mancing cumi ndi!!!"
"Cumi-cumi!!!" ujarku kaget dan langsung mendadak galau
"Kenapa dengan cumi-cumi???" tanya habib lagi heran
"Ah.... ga apa. Ya udah yuk jalan!"
"….........."
"Ndi... udah cocok belum jas-nya?" kak aldi lantas menyapaku yang lagi getol bermain game di Laptop
"Ya kayaknya cocok lah" jawabku singkat
"Cocok gimana? kesini lah!"
"Hm... bentar lagi selesai nih levelnya" ujarku males
"Udah kesini dulu!" dia lantas menghampiriku sambil memamerin jas pernikahannya yang berwarna hitam
"Coba ngaca aja! biasanya kaca lebih paham jas itu cocok atau nggak" ujarku seraya bangkit menghampirinya
"Lah... sama aja, aku kan minta pendapatmu ndi"
"Kayaknya cocok deh kak, apalagi bawahannya pake celana putih" aku lantas tertawa terkekeh
"apa??? iya cocok mirip satpam!"
"Nah... itu tau kan?"
"Yoweslah ndi... kayaknya nih cocok. Hm... bentar lagi bakal jadi bapak nih?" ujarnya pelan sambil melihat bayangannya memantul di kaca yang berada di dinding rumah.
Aku lihat dia bergaya, tersenyum dan mencukur bulu jengotnya yang agak menghitam di dagunya. Dia nampaknya sangat bahagia, tapi.... entahlah kenapa aku merasa galau begini. Galau tentang nasibku kelak.
"Aku keluar dulu ya kak?"
"Kemana ndi....?" tanya dia lantas berjalan menghampiriku
"Ke tanggul depan sana"
"Malam begini?"
"Sumpek aku dirumah terus... pengen cari angin aja!"
"Ya udah... jangan malem-malem tar pucet lagi kamu. Maumere lagi dingin cuacanya!"
"Ah... sudahlah. Kalau demam kan tinggal tiduran aja. Lagian nganggur, masih semingguan lagi ada ospek!"
"Kamu....?" kak aldi lantas menoleh ke arahku serius membiarkan kedua bola matanya menatap aku curiga
"…....." aku terdiam sambil berlalu darinya. Tak kuhiraukan tatapan mata itu dan aku langsung nyelonong begitu saja seperti anak yang diusir orang tuanya
"ndi.... kamu nyesel kesini?" kak aldi lantas bersuara dan langsung membuat langkahku terhenti. Angin malam ini sejenak membekukan kita yang nampak akan memulai sebuah perdebatan singkat.
"tidak ada yang perlu disesali kak..." jawabku lirih sambil membuka pintu yang belum sempat terkunci
"Ga seperti biasanya kamu ndi.... kamu nyesel kemari? atau gara-gara rahma?" cecar dia bertubi tubi seperti memberondong dan membuatku terkulai lemah.
"entahlah.... apakah pilihanku kesini tepat atau tidak? aku ga akan menyesali ini. Aku sayang kak aldi, aku menikmati perjalananku kesini. Tapi... aku pusing harus bagaimana menyikapi gejolak hatiku"
"Gejolak hati....?" tanya kak aldi singkat. Kulihat kini dia berjalan mengikuti jejak langkahku dan tak lama berdiri disampingku, mendekap erat pundakku seperti saat kita mengantar rahma di bandara.
"Mungkin seharusnya aku tidak bergantung ke kak aldi terus-terusan. Aku mau ngekos. Atau nggak pulang ke jawa" jawabku tegas
"Ndi.... Aku tau kamu akan merasa sungkan tinggal disini ketika kakak akan menikah dan tinggal sama Yani. Tapi...."
"Tapi apa kak?" tanyaku pelan sambil ku elus pintu ini yang sudah mulai terbuka
"Tapi aku sudah berjanji sama ibu untuk menjagamu ndi" jawab dia spontan
"emang aku anak kecil? emang aku cewek yang musti dijagain tiap hari!!!"
"…..." dia lantas terdiam dan menunduk
"Dua hari lagi... atau mungkin lebih cepat aku harus tinggal diluar, atau nggak aku pulang ke jawa aja cari kerja disana sambil kuliah"
"Kamu akan nunggu setahun lagi ndi"
"Memang pekerjaanku selama disini kan hanya menunggu kak? ah… sudahlah. Aku mau menenangkan diri ke tanggul dulu!" ujarku seraya menepis tanganya yang mendekap aku dari tadi dan berjalan keluar.
Maumere malam ini terasa sangat dingin, aku bahkan tidak sempat mengambil jaket yang tergantung dikamarku, karena kalau aku melangkah balik aku akan melihat kak aldi yang bersandar di mulut pintu rumah ini dan memulai perdebatan lagi. Aku malas berdebat terus dengannya, biarlah dinginnya malam ini mengerti akan perasaan hatiku yang gelisah. Kegelisahan yang sulit aku pahami dan datang dari mana, seolah rasa gelisah itu selalu muncul dan mengikutiku kemana saja aku pergi.
"Ndi....." kak aldi lantas cumiik memanggilku yang sudah berjarak lima meter dari dia
"…....." aku masih terdiam dan melihat bayangku sendiri yang nampak memanjang tersorot lampu trotoar yang menguning
"Ndi..... kamu boleh ngekos tapi jangan jauh dari rumah ini!" jawab dia sekali lagi dan kali ini membuat langkahku terhenti dan memaksa aku menoleh kebelakang
"pasti kak!! aku akan selalu kangen rumah ini, aku akan selalu mampir kesini, karena di beranda teras ini aku mulai akrab dengan kakak, dengan mas kiki dan tentu saja saat aku pertama kali melihat rahma"
"Iya ndi.... kakak mengerti perasaanmu"
"aku mau ke pantai dulu kak... sekedar menghalau rasa gelisah yang akhir-akhir ini mengerogoti sel tubuhku"
"Jangan kemaleman ndi pulangnya.... pintunya ga aku kunci!"
"Iya!" jawabku singkat dan melanjutkan langkahku yang sempat terhenti
Hm... Entahlah kenapa malam ini begitu sunyi dan dingin. Kulihat rumah rumah disekelilingku sudah tertutup pintunya, hanya menyisakan kerlipan lampu yang nampak samar kulihat. Kutengok jam di layar hapeku masih betengger di angka 9 malam, namun aku tak perdulikan rasa dingin ini, aku terus berjalan menapaki jalan berpaving yang mengiringku ke suatu tanggul yang pernah aku naiki saat pertama kali kesini.
Tidak sampai lama aku akhirnya duduk mengantung kaki dan menikmati ombak yang membentur pelan ke dinding tanggul ini. Kesunyian malam yang hanya berteman taburan bintang di langit lantas memaksa aku mengingat kejadian lucu yang pernah aku alami bersama rahma....
“eh.. ndi.. Di pulau Pamana sana pantainya bagus-bagus lo. Dulu saat masih sekolah aku sering main ke rumah teman orang Pamana. Naik perahu getek gitu. Asyik deh”
“Aku sempat baca juga sih kalau pulau Pamana itu dikelilingi pantai….”
“iya pantainya bagus. Eh… tunggu! Kamu barusan ngomong apa?”
‘Yang mana?”
“Tadi… mmmm…. Pulau Pamana dikelilingi pantai….?”
“Lah iya pulau pamana kan dikelilingi pantai!”
“Andiiiiiii namanya pulau dimana-mana ya dikelilingi pantai lah. Belum ada pulau itu dikelilingi Police Line, belum pernah ada!!”
“Oh… bener juga ya. Kadang aku mulai ga bisa mikir kalo deket cewek. Apalagi cewek cakep kayak kamu, hehe”
“Dasar!”
Aku lantas tertawa sendiri sambil menopang dagu mengamati pulau pamana yang terlihat kerlap kerlip di depan. Aku teringat saat bercanda dengan rahma tentang pulau itu. Hm... aku rindu tawa renyahnya. Sekian menit aku bengong mengamati pulau itu yang terlihat seperti bayangan hitam dipenuhi cahaya kuning seperti kunang-kunang yang berterbangan, menyimpan sejuta cerita yang tenggelam di dinginnya malam yang mencekam.
Semakin aku mengingat wajah rahma... lantas tiba-tiba semakin aku teringat sosok gadis berkerudung putih itu. Iya.... pikiranku melebar terlalu jauh membayangkan sosok misterius itu. Seperti sebuah counter attack dalam strategi sepak bola, aku malah teringat tentang gadis itu dibanding rahma. Apa karena mereka hampir mirip ya jadi ga ada bedanya ketika aku terlamun seperti ini? ah.. bodo! aku hanya ingin menikmati rasa dingin ini.
"Assalamualaikum ndi...." tiba-tiba ada sumber suara cowok dari belakang yang mengagetkan aku duduk sendirian di atas tanggul
"Eh... waalaikum salam. Mm... habib?" tanyaku keheranan melihat dia yang sudah duduk disampingku
"Iya ini aku habib, kita pernah ketemu di kampus dulu"
"Mau mancing? kok bawa alat mancing segala?" tanyaku yang nampak heran melihat dia memasang umpan di ujung senarnya yang agak tebal
"ya begitulah, menghilangkan kejenuhan aja." jawab dia spontan
"Tapi kenapa mancingnya di tempat tinggi begini? agak ombak lagi? mana dapat ikan?" cecarku ke dia
"kadang kita mancing bukan karena mencari ikan ndi... tapi menghilangkan suntuk aja"
"oh...." aku mengiyakan jawabannya sambil menatap kembali ke pulau pemana di depan
"Kamu kenapa kesini malam-malam? kayaknya galau aja" tanya dia memecah keheningan sesaat
"Entahlah... aku merasa damai kalau ke tanggul ini. Tempat pertama yang pernah aku datangi di Maumere"
"Ga kedinginan?" tanya dia curiga melihat aku yang nampak mengigil menahan rasa dingin
"Udah biasa bib, bahkan aku pernah loh hanya pakai kemeja tipis terapung di atas sampan sampai tengah malam"
"Serius!! bisa aik sampan emang?" tanya dia sekali lagi
"Ya begitulah! eh... bib gimana tempat kosmu? masih ada yang kosong?"
"Masih ada... emang kapan kamu jadi ngekos ditempatku?"
"Dua hari lagi mungkin, setelah nikahannya kakakku"
"Aldian itu ya?"
"emang kenal kamu?"
"Ya semua orang di komplek ini ya kenal lah. Mantunya pak haji imran yang tinggal di Kewa sana"
"Iya bib!'
"Aku denger kamu juga deket sama rahma?" tanya habib dan saat itu hatiku mencelos mendengarnya.
"Rahma..... eh...." aku langsung terdiam dan kembali mendekap tubuhku yang nampak mengigil kedinginan
"Rahma anak pak haji yusuf. Hebat kamu ndi.... cowok di komplek ini ga ada yang berani deketin dia!" ujar habib sambil melempar umpan ke laut yang agak tenang
"ya deket, cuma teman aja. Jadi inget saat di tabok pak haji" ujarku lirih sambil termenung
"Ditabok?" habib lantas menatapku serius, raut mukanya nampak menyimpan sejuta pertanyaan yang hendak terlontar ke arahku
"Dulu saat keluar sama rahma, bahkan aku ditabok pak haji, hahaha... pantesan ga ada yang berani deketin dia!"
"Bunga kota memang susah di raih ndi... tapi kalian berdua pantes kok!' ujarnya sekali lagi sambil menarik senar pancingnya. Tak lama kulihat dia memperoleh ikan agak besar seukuran sandal jepit
"Eh... Hebat kamu bib, di laut agak beriak begini bisa dapat ikan segitu gede"
"itu namanya feeling ndi! bersabar, tenang dan mainkan feelingmu!" ujarnya menjelaskan teknik memancingnya
"Pantesan dulu aku kalah sama rahma saat mancing cumi, aku ga menggunakan feelingku!" gerutuku kesal sampil ku lempar kerikil ke tengah laut
"Eits.... jangan main lempar lempar dong ndi! ikannya kabur ntar!"
"Oh..... sorry deh!"
"Wanita itu seperti alien ndi... ga bisa ditebak."
"Bahkan alien ga bisa diajak bicara!" jawabku singkat dan malam itu kemudian pecah dengan tawa kita berdua
"Tapi bisa menggunakan bahasa perasaan ndi, ingat "feeling"."
"Ya memang feeling itu penting. Seperti feelingku sama gadis berkerudung putih saat pertama ketemu di kampus dulu"
"Gadis berkerudung putih?" tanya habib keheranan sambil melempar umpan ke arah lain
"Iya.... aku ketemu sama dia saat test di kampus. Dia mirip 11-12 sama rahma. Hm... sejak kepergian rahma ke Makasar seolah dia sengaja datang mengusik hatiku"
"Jadi karena rahma sudah ke Makasar terus kamu jadikan cewek berkerudung itu pelarian?" tanya dia serius dan sejenak membuatku berpikir
"Pelarian???" aku lalu menoleh ke dia mencoba memahami pertanyaanya
"Kalo kamu ditinggal seseorang terus suka sama cewek lain bukannya itu disebut pelarian??"
"Bukan bib, aku memang ada rasa sama rahma tapi aku ga bisa mencintainya. Dia hanya seorang sahabat, tidak lebih!'
"Sahabat? pacar? kekasih? itu hanya status ndi! kecuali kalau kamu terikat janji sama penghulu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu ndi, saat kamu mencintai seseorang maka disitulah kamu punya tanggung jawab menjaga perasaan orang yang sudah terlanjur mencintaimu. Mungkin kalian bisa menganggap hanya "sahabat" tapi saat kalian bertemu, benih "cinta" itu muncul lagi. Ya mudah-mudahan kalian bisa mengontrolnya"
Habib lantas berbicara panjang lebar sambil menunggu umpannya ditarik ikan. Saat itu aku hanya menganguk dan membiarkan wajahku memutih diterpa angin malam yang semakin mendingin. Aku paham akan perasaanku ke rahma, memang aku mencintai dia tapi aku juga sadar ada hal penting diluar perasaan "cinta" itu, yakni membuat rahma berjalan lurus mengikuti alur ceritanya yang indah. Aku tidak ingin masa depannya hancur seperti mbaknya zelda yang harus berhenti kuliah karena rasa "cinta' yang berlebihan dan kemudian berujung hamil diluar nikah.
Tapi soal gadis berkerudung putih itu lain cerita. Ada suatu kegelapan disana, di dalam ngarai yang terjal dan sunyi seolah mengusik hatiku untuk membawanya keluar, menikmati setiap keindahan ciptaan Tuhan yang sudah seharusnya dia nikmati. Bukan tangisan itu, bukan gertakan memilukan itu.
Aku tau saat itu dia ketakutan seperti melihat sosok hantu didepannya. Hm... tak bisa kubayangkan kenapa sosok cantik dan angun seperti dia menerima takdir Tuhan yang begitu kelam. Aku sadar, mungkin itu salah satu alasan kenapa dia memandangi papan hitam polos itu terus menerus. Dia mungkin membayangkan dirinya adalah satu titik coretan kapur di tengah-tengah hitamnya papan tulis yang luas. Dia sadar, dia tidak akan mungkin lepas dari kegelapan itu sampai ada seseorang yang rela mencat papan itu menjadi putih dan menyamarkan kegelisahannya. Dan, detik itu... ketika aku melihat tubuhnya bergetar ketakutan, seolah ada suatu yang menganjal dalam diri ini untuk melepaskan rantai besar yang membelenggunya.
"Ndi.... mulai melamun?" ujar habib sambil menarik lagi senar pancingnya
"udah dapet lagi ternyata kamu!" jawabku singkat mengagumi teknik memancingnya
"Kalo kita sabar bakal berbuntut hoki ndi, seperti mancing ikan begini, hehe"
"Mau mancing sampai berapa kilo?" tanyaku singkat
"Dapet tiga aja cukup lah, besar-besar begini ikannya. Dibakar disini yuk!" pinta dia sambil merogoh korek api di sakunya
"Okelah... kayaknya bakalan enak nih"
"Tapi lebih enak di makan mentah ndi"
"Ah.... amis tau bib"
"di kasih jeruk nipis dong. Dulu saat aku mancing di tengah laut malem-malem sering makan ikan tuna mentah ndi sama teman-teman nelayan. Enak loh"
"Berasa makan sushi ya?"
"Ya begitulah, menu favorit dicampur moke mantep ndi!"
"aha..... udah pernah aku. Bahkan makan ular laut, haha" aku lantas tertawa terbahak bahak mengingat saat pertama kali aku minum moke
"Bukan ular laut itu ndi... belut kali"
"Ya gau tau juga, tapi rasanya agak beda sih"
"Kamu belum pernah makan bulu babi mentah?" tanya habib sambil melempar umpan lagi
"Bulu babi?" aku lantas bengong
"Iya bulu babi... atau biasa disebut landak laut. Rasanya gurih ndi..." jawab habib sambil lidahnya melet menggoda aku menjilat ikan yang tergeletak di tanggul
"Ih... jijik ah. Banyak lendirnya gitu!"
"Justru itu yang bikin gurih ndi!!. Ah... terlalu lama di jawa kamu ya"
"Ya namanya aja baru kali ini aku bisa bercengkerama langsung dengan pantai"
"Flores itu indah ndi.. kamu bakalan betah tinggal disini. Bahkan bule aja banyak yang kesini!"
"ya... memang indah bib"
Malam semakin larut, aku dan habib masih asyik menikmati malam berbintang dengan laut luas di hadapan kita. Entah berapa lama kita berbincang menghilangkan kejenuhan yang membabi buta. Tak lama setelah itu, kita membuat api unggun dan membakar ikan berdua. Suasana masih sepi, hanya terdengar gulungan halus ombak laut yang beriringan dengan suara gemeretek bunyi api di hadapan kami. Indahnya malam itu... seperti menemukan kembali surga yang sempat hilang.
"Ndi... habis ini kita pindah ke deket pelabuhan sana?" tanya habib tiba-tiba memecahkan kesunyian setelah asyik bersantap ikan
"mau ngapain?'
"Di deket pelabuhan sana banyak lampu menyorot ke laut. Mancing cumi ndi!!!"
"Cumi-cumi!!!" ujarku kaget dan langsung mendadak galau
"Kenapa dengan cumi-cumi???" tanya habib lagi heran
"Ah.... ga apa. Ya udah yuk jalan!"
"….........."
0