- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#37
Sebuah Awal. Part 1
Lima hari setelah kepergian rahma memang ada suatu yang berbeda dalam diriku, aku sering nongkrong di tanggul sendirian menikmati angin laut sambil mengamati anak-anak kecil memancing ikan. Kadang ada keinginan untuk mengajak mereka lomba mancing, dan bagi siapa yang kalah akan diceburin ke laut. Ah, tapi itu konyol. Masa mau ceburin anak orang, hehe.
Pagi ini adalah awal pendaftaran aku masuk kuliah di kampus Maumere. Kampus swasta yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari rumahku di seberang pantai. Maumere memang kota yang sangat kecil, sampai engkau bisa mengeksplor seluruh kota ini hanya berjalan kaki. Itu kenapa aku ga heran banyak turis bersliweran di kota ini sambil menenteng tas besar mereka. Memang banyak turis backpacker disini. Jika engkau memiliki jiwa petualang, memang pulau flores adalah suatu destinasi yang tepat untuk menguji adrenalinmu, karena disini semua ada dalam satu paket yakni tentang budaya, laut, pantai, gunung dan semuanya. Seperti yang rahma bilang, pulau ini adalah surga kecil.
Tapi entah mengapa aku seperti tidak merasakan tinggal disurga beberapa akhir ini, mungkin Tuhan sengaja memisahkan sosok bidadari itu untuk menguji seberapa besar kesabaranku tinggal disurganya. Seperti cerita Adam yang terlihat kebosanan tinggal di surga sendirian sebelum penciptaan Hawa. Dan, dari kesendirian ini sebuah awal dimulai. Ketika Tuhan menjawab doa Adam, dan saat itulah Hawa muncul menemari kesendiriannya, membuatnya tertawa dan membuat hidupnya lebih berarti.
“angkot pak!”
Sekian menit menunggu angkot berisik itu berhenti akhirnya aku menaikinya. Dulu pertama kali lihat memang aku merasa risih mendengar angkot full musik seperti ini, tapi kali ini aku sangat menikmatinya. Aku langkahkan kaki masuk ke angkot ini, duduk diantara orang pribumi yang menenteng tas besar hendak kepasar.
“Bisa kasih naik volume musiknya kah?” pintaku ke pak sopir
“hei, kau orang mana? Bisa juga ya logat Maumere?” jawab pak sopir itu heran. Dan sejurus kemudian penumpang disampingku juga menggeleng keheranan
“Be su tinggal disini lama, jadi su bisa logat maumere kakak”
“Wah… hebat ya, orang jawa su bisa lancar logat maumere”
“te juga kakak, sapu kakak ajari saya”
“Baiklah, mau denger lagu obagete kah tidak?”
“Mana-mana sa, sa ikut kaka aja”
“Oke tarik, ngomong-ngomong masnya mau kemana???”
“Turun di kampus Nusa Nipa bang”
“siplah!!”
Tak lama setelah itu aku seperti masuk ke diskotik berjalan berjoget ria dengan penumpang lainnya. Ada satu nenek tua yang giginya terlihat merah mengunyah sesuatu lantas menyenggol bahu.
“Hey nong, mau sirih pinang ka tidak” nenek itu lantas menyuruh aku mengunyah sirih pinang yang membuat mulutnya merah
“ah.. nenek, tidak. Sata te biasa makan begituan”
“kalau begitu moke?” penumpang pria lainnya lantas menyahut seraya menyodorkan sebotol moke
“Ah te juga kakak”
“udah nong minum dikit sa sebagai pernghormatan ada orang jawa bisa ngomong logat maumere”
“Ok, glekkk!”
Aku lantas meminum air moke itu sedikit dan suasana kemudian kembali rame. Kita berjoget lagi, dan kulihat mereka bergembira bernyanyi mengikuti alunan musik dari salon di angkot ini yang berada tepat di bawah kursi dudukku. Sangat keras sekali suaranya.
Hampir lima belas menit menikmati kebersamaan dengan penduduk lokal akhirnya aku sampai di depan kampus Nusa Nipa. Aku sempat kesini dulu saat melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Sekarang suasananya sedikit berbeda, banyak orang beralalu lalang. Aku mengamati mereka kebanyakan orang pribumi. Ga ada orang berkulit kuning langsat atau berambut lurus seperti aku.
“Eh mas… mau kuliah disini?” tanya seorang yang berkulit hitam khas orang timur menyenggol bahuku
“Ah.. iya, kalau pendaftaran mahasiswa fakultas D3 Bahasa Inggris dimana ya? Tanyaku sambil menurunkan tas ransel yang aku gendong
“Ga tau juga mas, aku datang dari larantuka. Baru juga datang”
“Oh…. Kuliah apa disini mas?” tanyaku sopan
“Perikanan mas, saya kesana dulu ya mas” ujar dia seraya pamitan
“Oh.. iya mas”
Laki-laki tadi lantas masuk ke gerbang kampus ini dan menuju suatu kerumunan orang di salah satu sudut rumah makan. Mungkin salah satu dari gerombolan temannya dari larantuka. Aku lantas masuk ke gerbang dan mengamati setiap bangunan yang aku lewati. Seperti rumah sakit. Iya mirip rumah sakit bangunannya, bahkan aku melihat sekilas ada tulisan ruang ICU yang sudah memudar di makan usia.
Aku masih bingung dimana tempat pendaftaran untuk fakultas D3 Bahasa Inggris disini? Mau mencoba bertanya pada orang yang berduselan disini mereka sibuk ngobrol dengan bahasa daerah yang ga bisa aku pahami. Aku lantas berjalan lurus kedepan mengamati bangunan kampus ini yang terlihat angker.
“Kayaknya kebingungan mas?” tanya seseorang mengagetkanku yang terlihat bengong mengelus cat tembok di salah satu ruangan kampus ini
“Dari jawa?” dia kembali melanjutkan keheranannya
“Oh.. iya mas”
“Kayaknya aku pernah liat masnya ya?” selidik dia
“Dimana mas?”
“Dimasjid Beru. Yang biasa adzan di masjid kan?”
“jadi masnya tinggal diberu?”
“Iya aku tinggal di beru, di samping tanggul agak jauh dari masjid.”
“Oh…. Jadi masnya muslim?”
“Iya, kenalin habib” dia lantas menyodorkan tangannya
“Andi!” aku langsung membalas jabat tangannya kegirangan karena ada teman semuslim disini
“Masnya dosen disini?” selidik dia lagi
“Hah… masa aku dibilang dosen?” aku membatin heran
“……kok diem mas? Masnya dosen ya?” tanya dia melanjutkan
“Nggak mas, aku mau daftar kuliah disini” jawabku menegaskan
“Kuliah??? Dari jawa kesini hanya kuliah?”
“iya mas”
“aneh ya?” tanya dia sambil membuka map folio warna biru yang dipegangnya
“Ga ada yang aneh mas” jawabku memecah keheranannya
“ya aneh aja, biasanya yang dari sini kejawa, ini malah yang dari jawa kesini. Perasan kampus ini biasa aja” ujarnya sambil menggaruk kepala
“Ya begitulah, namanya takdir. Eh… masnya tau dimana tempat sekretariat D3 bahasa inggris?”
“ah… mau ngambil Bahasa Inggris. Kalo ga salah disana, deket fakultas S1 Keperawatan. Ruang kuliahnya juga deketan” jawab dia sambil menunjuk ruangan yang berada tidak jauh dari pohon bidara
“ah iya, makasih ya mas. Eh.. di Beru ngekos atau rumah sendiri?” tanyaku sambil mencari informasi tempat ngekos setelah kak aldi nikah nanti
“rumah sendiri mas, sekalian buka tempat kos disitu. Kebetulan bapakku ada bangun kos-kosan pegawai disana”
“ada yang masih kosong?” tanyaku memastikan
“mau ngekos masnya?”
“Ya mungkin nanti kalau udah mau kuliah disni. Aku simpan nomornya masnya aja ya. Nanti aku hubungin”
“ya udah, oke!”
Hari itu aku akhirnya punya kenalan sesama orang komplek di beru. Orangnya asyik juga diajak ngobrol, mungkin gara-gara sesama muslim jadi nyambung ngomongya. Pokoknya saat itu aku merasa bahagia ternyata aku bukan satu-satunya yang menjadi minoritas disini.
Di tempat sekretariat bahasa inggris aku latas mengantri giliranku masuk ke ruang pendaftaran menyodorkan ijasah SMA sebagai syarat pendaftaran mahasiswa baru disini. Tidak sampai lama akhirnya giliranku datang.
“Andi Wicaksana, kelahiran Mojokerto 1988” ibu berambut kriting itu lantas menatap serius kewajahku sekian detik
“iya bu kenapa? Ada yang salah” tanyaku heran melihat ekspresi mukanya
“ kenapa kesini?” tanya dia lagi sambil melotot
“eh… hhhrrr” aku bergeming sambil meraba-raba jengotku, mungkin aku dikira teroris
“Kok diam… jawab!. Mau apa kesini?” ibu tadi lantas menaikan intonasinya dan sontak terlihat beberapa orang membuka pintu sedikit mengintip ada apa gerangan didalam
“mau kuliah bu” jawabku sopan sambil mengamati sekeliling ruangan ini yang penuh dengan map folder berjejer rapi di lemari rak
“Kamu kuliah disini?” ibu tadi masih bertanya keheranan sambil megamati ijasahku berkali kali
“Iya bu” jawabku sekali lagi
“hm…. Heran. Nilai kelulusanmu ini kalau di NTT mungkin yang terbaik se provinsi” dia lantas menyodorkan ijasah itu ke depanku
“maksudnya bu?”
“Kamu itu aneh, nilai bagus begini gak seharusnya kuliah disini!”
“kamu tau nggak, kampus ini aja baru dibuka kurang dari dua tahun yang lalu. Semua ruangan fakultas ini bekas rumah sakit lama di Maumere.”
“Terus ada yang salah bu?” tanyaku sopan
“kamu ga sayang sama masa depanmu? Gimana nanti kamu dapat kerja enak kalo kamu nanti punya ijasah lulusan kampus ga terkenal yang proses akreditasinya aja masih diurus. Ga sebanding dengan nilai ebtanasmu!”
“…….”
Aku lantas terdiam menyikapi argumentasinya. Aku dulu memang pernah kepikiran seperti itu saat ditelpon kak aldi. Tapi inikan D3 toh aku bisa lanjut di Jawa nanti.
“Aku sudah memutuskan kuliah disini bu sambil membantu kerja kakakku”
“oh.. jadi itu alasannya?”
“iya….”
“hm.. baiklah. Nanti tanggal 4 Juni ada tes serempak di kampus ini. Kamu jangan telat datangnya ya”
“ada tesnya?”
“Ya ada, tapi formalitas aja. Pokoknya kamu hadir aja.”
“Iya makasih bu”
“sama-sama. Sukses selalu!” ibu tadi lantas meyalami aku dan menyilakan aku keluar.
“……………….”
Saat itu aku berjalan pulang dan duduk di halte depan kampus menunggu angkot berisik itu datang lagi. Tak lama yang dinanti datang juga dan aku bergegas pulang menuju rumah. Proses pendaftaran disini agak lama karena memang banyak yang ngantri ditambah perdebatan gak berguna dengan ibu tadi. Tapi kalo dipikir lagi ucapan ibu keriting tadi ada benarnya juga. Masa aku kuliah di kampus yang proses akreditasinya aja masih diurus. Ah.. sudahlah, siang ini aku sudah sangat capek untuk memikirkan suatu hal yang membingungkan.
Brep…brepp
Di perjalanan aku menerima telpon dan ternyata itu dari herman. Setelah sekian lama ga pernah komunikasi tumben nih anak telpon.
“halo man, piye kabare?”
“Apik bro. Ndi…. Kamu udah kuliah disana?”
“belum lah man, pertengahan bulan ini mungkin”
“oh… aku mau kasih kabar aja kalo sekarang aku diterima di dinas pendidikan di kota Kupang”
“wah bener? Selamat ya? Jangan lupa traktir! Dulu kamu bohongin aku mau traktir di kapal”
“yaelah, masih inget toh, hahaha. Okelah, nanti kalo kamu ke kupang aku ajak ngeluyur disini”
“Siplah man.”
“yo wes ati-ati. Salam sama cewek makasar itu ndi.”
Tut…tut…tut
Herman menutup telponnya dan sejenak hatiku mencelos mendengar “cewek makasar” yang dimaksud herman. Ya siapa lagi kalo bukan rahma yang ke makasar beberapa hari yang lalu. Duh… nih anak ngungkit kegalauan aja.
Setibanya dirumah aku mendapati tv menyala dengan siaran khas ala ibu-ibu PKK di siang bolong. Ga ada orang dirumah, kak aldi lagi pergi mungkin. Kebiasan buruk emang dia nonton TV tapi saat keluar gak dimatiin. Aku rebahkan diriku yang terkulai lemas karena panasnya terik matahari di maumere dan tertidur di kasur lipat depan TV ini. Udah Hampir setengah tahun aku disini tapi belum pernah merasakan tetesan hujan di kota ini. Fyuh!
Pagi ini adalah awal pendaftaran aku masuk kuliah di kampus Maumere. Kampus swasta yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari rumahku di seberang pantai. Maumere memang kota yang sangat kecil, sampai engkau bisa mengeksplor seluruh kota ini hanya berjalan kaki. Itu kenapa aku ga heran banyak turis bersliweran di kota ini sambil menenteng tas besar mereka. Memang banyak turis backpacker disini. Jika engkau memiliki jiwa petualang, memang pulau flores adalah suatu destinasi yang tepat untuk menguji adrenalinmu, karena disini semua ada dalam satu paket yakni tentang budaya, laut, pantai, gunung dan semuanya. Seperti yang rahma bilang, pulau ini adalah surga kecil.
Tapi entah mengapa aku seperti tidak merasakan tinggal disurga beberapa akhir ini, mungkin Tuhan sengaja memisahkan sosok bidadari itu untuk menguji seberapa besar kesabaranku tinggal disurganya. Seperti cerita Adam yang terlihat kebosanan tinggal di surga sendirian sebelum penciptaan Hawa. Dan, dari kesendirian ini sebuah awal dimulai. Ketika Tuhan menjawab doa Adam, dan saat itulah Hawa muncul menemari kesendiriannya, membuatnya tertawa dan membuat hidupnya lebih berarti.
“angkot pak!”
Sekian menit menunggu angkot berisik itu berhenti akhirnya aku menaikinya. Dulu pertama kali lihat memang aku merasa risih mendengar angkot full musik seperti ini, tapi kali ini aku sangat menikmatinya. Aku langkahkan kaki masuk ke angkot ini, duduk diantara orang pribumi yang menenteng tas besar hendak kepasar.
“Bisa kasih naik volume musiknya kah?” pintaku ke pak sopir
“hei, kau orang mana? Bisa juga ya logat Maumere?” jawab pak sopir itu heran. Dan sejurus kemudian penumpang disampingku juga menggeleng keheranan
“Be su tinggal disini lama, jadi su bisa logat maumere kakak”
“Wah… hebat ya, orang jawa su bisa lancar logat maumere”
“te juga kakak, sapu kakak ajari saya”
“Baiklah, mau denger lagu obagete kah tidak?”
“Mana-mana sa, sa ikut kaka aja”
“Oke tarik, ngomong-ngomong masnya mau kemana???”
“Turun di kampus Nusa Nipa bang”
“siplah!!”
Tak lama setelah itu aku seperti masuk ke diskotik berjalan berjoget ria dengan penumpang lainnya. Ada satu nenek tua yang giginya terlihat merah mengunyah sesuatu lantas menyenggol bahu.
“Hey nong, mau sirih pinang ka tidak” nenek itu lantas menyuruh aku mengunyah sirih pinang yang membuat mulutnya merah
“ah.. nenek, tidak. Sata te biasa makan begituan”
“kalau begitu moke?” penumpang pria lainnya lantas menyahut seraya menyodorkan sebotol moke
“Ah te juga kakak”
“udah nong minum dikit sa sebagai pernghormatan ada orang jawa bisa ngomong logat maumere”
“Ok, glekkk!”
Aku lantas meminum air moke itu sedikit dan suasana kemudian kembali rame. Kita berjoget lagi, dan kulihat mereka bergembira bernyanyi mengikuti alunan musik dari salon di angkot ini yang berada tepat di bawah kursi dudukku. Sangat keras sekali suaranya.
Hampir lima belas menit menikmati kebersamaan dengan penduduk lokal akhirnya aku sampai di depan kampus Nusa Nipa. Aku sempat kesini dulu saat melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Sekarang suasananya sedikit berbeda, banyak orang beralalu lalang. Aku mengamati mereka kebanyakan orang pribumi. Ga ada orang berkulit kuning langsat atau berambut lurus seperti aku.
“Eh mas… mau kuliah disini?” tanya seorang yang berkulit hitam khas orang timur menyenggol bahuku
“Ah.. iya, kalau pendaftaran mahasiswa fakultas D3 Bahasa Inggris dimana ya? Tanyaku sambil menurunkan tas ransel yang aku gendong
“Ga tau juga mas, aku datang dari larantuka. Baru juga datang”
“Oh…. Kuliah apa disini mas?” tanyaku sopan
“Perikanan mas, saya kesana dulu ya mas” ujar dia seraya pamitan
“Oh.. iya mas”
Laki-laki tadi lantas masuk ke gerbang kampus ini dan menuju suatu kerumunan orang di salah satu sudut rumah makan. Mungkin salah satu dari gerombolan temannya dari larantuka. Aku lantas masuk ke gerbang dan mengamati setiap bangunan yang aku lewati. Seperti rumah sakit. Iya mirip rumah sakit bangunannya, bahkan aku melihat sekilas ada tulisan ruang ICU yang sudah memudar di makan usia.
Aku masih bingung dimana tempat pendaftaran untuk fakultas D3 Bahasa Inggris disini? Mau mencoba bertanya pada orang yang berduselan disini mereka sibuk ngobrol dengan bahasa daerah yang ga bisa aku pahami. Aku lantas berjalan lurus kedepan mengamati bangunan kampus ini yang terlihat angker.
“Kayaknya kebingungan mas?” tanya seseorang mengagetkanku yang terlihat bengong mengelus cat tembok di salah satu ruangan kampus ini
“Dari jawa?” dia kembali melanjutkan keheranannya
“Oh.. iya mas”
“Kayaknya aku pernah liat masnya ya?” selidik dia
“Dimana mas?”
“Dimasjid Beru. Yang biasa adzan di masjid kan?”
“jadi masnya tinggal diberu?”
“Iya aku tinggal di beru, di samping tanggul agak jauh dari masjid.”
“Oh…. Jadi masnya muslim?”
“Iya, kenalin habib” dia lantas menyodorkan tangannya
“Andi!” aku langsung membalas jabat tangannya kegirangan karena ada teman semuslim disini
“Masnya dosen disini?” selidik dia lagi
“Hah… masa aku dibilang dosen?” aku membatin heran
“……kok diem mas? Masnya dosen ya?” tanya dia melanjutkan
“Nggak mas, aku mau daftar kuliah disini” jawabku menegaskan
“Kuliah??? Dari jawa kesini hanya kuliah?”
“iya mas”
“aneh ya?” tanya dia sambil membuka map folio warna biru yang dipegangnya
“Ga ada yang aneh mas” jawabku memecah keheranannya
“ya aneh aja, biasanya yang dari sini kejawa, ini malah yang dari jawa kesini. Perasan kampus ini biasa aja” ujarnya sambil menggaruk kepala
“Ya begitulah, namanya takdir. Eh… masnya tau dimana tempat sekretariat D3 bahasa inggris?”
“ah… mau ngambil Bahasa Inggris. Kalo ga salah disana, deket fakultas S1 Keperawatan. Ruang kuliahnya juga deketan” jawab dia sambil menunjuk ruangan yang berada tidak jauh dari pohon bidara
“ah iya, makasih ya mas. Eh.. di Beru ngekos atau rumah sendiri?” tanyaku sambil mencari informasi tempat ngekos setelah kak aldi nikah nanti
“rumah sendiri mas, sekalian buka tempat kos disitu. Kebetulan bapakku ada bangun kos-kosan pegawai disana”
“ada yang masih kosong?” tanyaku memastikan
“mau ngekos masnya?”
“Ya mungkin nanti kalau udah mau kuliah disni. Aku simpan nomornya masnya aja ya. Nanti aku hubungin”
“ya udah, oke!”
Hari itu aku akhirnya punya kenalan sesama orang komplek di beru. Orangnya asyik juga diajak ngobrol, mungkin gara-gara sesama muslim jadi nyambung ngomongya. Pokoknya saat itu aku merasa bahagia ternyata aku bukan satu-satunya yang menjadi minoritas disini.
Di tempat sekretariat bahasa inggris aku latas mengantri giliranku masuk ke ruang pendaftaran menyodorkan ijasah SMA sebagai syarat pendaftaran mahasiswa baru disini. Tidak sampai lama akhirnya giliranku datang.
“Andi Wicaksana, kelahiran Mojokerto 1988” ibu berambut kriting itu lantas menatap serius kewajahku sekian detik
“iya bu kenapa? Ada yang salah” tanyaku heran melihat ekspresi mukanya
“ kenapa kesini?” tanya dia lagi sambil melotot
“eh… hhhrrr” aku bergeming sambil meraba-raba jengotku, mungkin aku dikira teroris
“Kok diam… jawab!. Mau apa kesini?” ibu tadi lantas menaikan intonasinya dan sontak terlihat beberapa orang membuka pintu sedikit mengintip ada apa gerangan didalam
“mau kuliah bu” jawabku sopan sambil mengamati sekeliling ruangan ini yang penuh dengan map folder berjejer rapi di lemari rak
“Kamu kuliah disini?” ibu tadi masih bertanya keheranan sambil megamati ijasahku berkali kali
“Iya bu” jawabku sekali lagi
“hm…. Heran. Nilai kelulusanmu ini kalau di NTT mungkin yang terbaik se provinsi” dia lantas menyodorkan ijasah itu ke depanku
“maksudnya bu?”
“Kamu itu aneh, nilai bagus begini gak seharusnya kuliah disini!”
“kamu tau nggak, kampus ini aja baru dibuka kurang dari dua tahun yang lalu. Semua ruangan fakultas ini bekas rumah sakit lama di Maumere.”
“Terus ada yang salah bu?” tanyaku sopan
“kamu ga sayang sama masa depanmu? Gimana nanti kamu dapat kerja enak kalo kamu nanti punya ijasah lulusan kampus ga terkenal yang proses akreditasinya aja masih diurus. Ga sebanding dengan nilai ebtanasmu!”
“…….”
Aku lantas terdiam menyikapi argumentasinya. Aku dulu memang pernah kepikiran seperti itu saat ditelpon kak aldi. Tapi inikan D3 toh aku bisa lanjut di Jawa nanti.
“Aku sudah memutuskan kuliah disini bu sambil membantu kerja kakakku”
“oh.. jadi itu alasannya?”
“iya….”
“hm.. baiklah. Nanti tanggal 4 Juni ada tes serempak di kampus ini. Kamu jangan telat datangnya ya”
“ada tesnya?”
“Ya ada, tapi formalitas aja. Pokoknya kamu hadir aja.”
“Iya makasih bu”
“sama-sama. Sukses selalu!” ibu tadi lantas meyalami aku dan menyilakan aku keluar.
“……………….”
Saat itu aku berjalan pulang dan duduk di halte depan kampus menunggu angkot berisik itu datang lagi. Tak lama yang dinanti datang juga dan aku bergegas pulang menuju rumah. Proses pendaftaran disini agak lama karena memang banyak yang ngantri ditambah perdebatan gak berguna dengan ibu tadi. Tapi kalo dipikir lagi ucapan ibu keriting tadi ada benarnya juga. Masa aku kuliah di kampus yang proses akreditasinya aja masih diurus. Ah.. sudahlah, siang ini aku sudah sangat capek untuk memikirkan suatu hal yang membingungkan.
Brep…brepp
Di perjalanan aku menerima telpon dan ternyata itu dari herman. Setelah sekian lama ga pernah komunikasi tumben nih anak telpon.
“halo man, piye kabare?”
“Apik bro. Ndi…. Kamu udah kuliah disana?”
“belum lah man, pertengahan bulan ini mungkin”
“oh… aku mau kasih kabar aja kalo sekarang aku diterima di dinas pendidikan di kota Kupang”
“wah bener? Selamat ya? Jangan lupa traktir! Dulu kamu bohongin aku mau traktir di kapal”
“yaelah, masih inget toh, hahaha. Okelah, nanti kalo kamu ke kupang aku ajak ngeluyur disini”
“Siplah man.”
“yo wes ati-ati. Salam sama cewek makasar itu ndi.”
Tut…tut…tut
Herman menutup telponnya dan sejenak hatiku mencelos mendengar “cewek makasar” yang dimaksud herman. Ya siapa lagi kalo bukan rahma yang ke makasar beberapa hari yang lalu. Duh… nih anak ngungkit kegalauan aja.
Setibanya dirumah aku mendapati tv menyala dengan siaran khas ala ibu-ibu PKK di siang bolong. Ga ada orang dirumah, kak aldi lagi pergi mungkin. Kebiasan buruk emang dia nonton TV tapi saat keluar gak dimatiin. Aku rebahkan diriku yang terkulai lemas karena panasnya terik matahari di maumere dan tertidur di kasur lipat depan TV ini. Udah Hampir setengah tahun aku disini tapi belum pernah merasakan tetesan hujan di kota ini. Fyuh!
0