- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#27
Pada Suatu Ketika. Part 3
Sudah hampir dua bulan sejak kejadian kena gampar di rumah pak haji dulu kini aku jarang ketemu rahma. Dia mulai sibuk mengajar dan aku juga terkadang ikut kak aldi ke lokasi proyek atau sekedar molor dirumah jika kak aldi pergi snorkeling sama temannya orang COREMAP. Katanya sih ada proyek mantau terumbu karang di teluk maumere yang memang sedang getol diperhatikan oleh pemerintah saat itu.
Hampir tiap hari nganggur dan molor dirumah kadang membuat batin ini tersiksa, mending dijawa ada temen ngobrol, lha disini hanya ketemu orang-orang pada sore hari ketika mereka pulang kerja. Memang ada juga anak seumuran yang kuliah di Maumere dan ngekos di komplek ini tapi mereka seperti yang lainnya hanya ketemu sore hari, itu juga ketemu di masjid saat sedang shalat magrib.
Pernah membayangkan bagaimana rasanya jadi pengangguran? atau pernahkah terbesit sebuah pernyataan klise bahwa pekerjaan membosankan adalah menunggu? ya seperti itulah yang aku alamai dulu. Blunder jalan barengan rahma sampai kelewat malam itu benar-benar membuatku ga punya teman lagi, seolah ada tanggul besar yang membatasi rasa kangenku ke rahma. Betapa bodohnya diriku saat itu, ketika sudah mulai nyaman dengan rahma aku malah membangun tembok pembatas yang besar dan menghalangi kedua tangan kita untuk bertemu.
Hampa dan semuanya hanya kosong. Entah apakah rahma merasakan hal yang sama? dia bahkan sudah jarang telpon atau sms aku. Mungkin hapenya dibuang ayahnya, atau memang dia mencoba menjauh dariku? ah sudahlah. Banyak pertanyaan belum terjawab yang kembali mengerogoti sel otakku, aku bahkan sudah malas berpikir mau dibawa kemana nasib kuliahku ini.
Tersesat disini, ketika orang-orang mengejar kualitas pendidikan, aku malah mendamparkan diri pada sebuah kampus yang ketinggalan jaman. Bodoh ya pemikiranku? memang seperti itulah aku dulu, lugu, polos dan seperti kebanyakan lulusan anak SMA pada jamannya masih suka mencoba menemukan identitasnya. Namun satu hal yang membuatku sadar bahwa, belajar tak melulu harus diterangi lampu yang terang berbinar-binar tapi juga bisa diterangi petromax meski kadang membuat mata kita sakit. Kuliah disini atau dijawa yang bergelimang fasilitas sama saja. Yang penting niat belajar. Semua berawal dari niat, dan tekadku kesini adalah kuliah, bukan tujuan lain!.
Siang ini, di sebuah kursi kayu di teras aku lalu termenung menyusun daftar kehidupanku yang aku coret pada selembar kertas folio, mencoba memotivasi diri sendiri bahwa sebenarnya aku pasti bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat. Pertengahan bulan juni nanti adalah awal semua cerita di Maumere yang harus segera berakhir. Aku akan menyelesaikan program D3 Bahasa Inggris yang memang menjadi targetku disini. Semakin cepat aku menyelesaikan kuliah ini, maka semakin cepat aku kembali ke jawa dan mungkin melanjutkan program S1 disana.
"Hanya ibu disana yang membuatku kangen bukan rahma, ya bukan cewek berkacamata itu!" aku lantas membatin mencoba memantapkan hati akan tujuan awal aku kesini. Aku ga mau semuanya rusak hanya karena pergulatan perasaan yang bercampur aduk saling mengalahkan.
"Tin... tin...."
Tiba-tiba datang motor pak pos yang berhenti diterasku. Di nampaknya membawa suatu amplop yang agak besar dan semakin dekat menghampiriku. Bapak tua berambut putih dengan wajah yang terlihat kusut itupun lalu menyapa aku dan memulai obrolan.
"Andi Wicaksana. CV. Citra Perdana?" Bapak itu lalu menyodorkan amplop berukuran kertas HVS A4 ke pangkuanku yang duduk dikursi teras. Aku lantas mengangkuk dan berdiri.
"iya pak, dari mana ya?" aku membalik amplop coklat itu mencari tahu nama pengirimnya.
"Dari Kutabumi, Tangerang??? Robi!!" aku lantas bersorak kegirangan. Nampaknya pak tua tak perduli dengan tingkah polahku yang terlihat seperti menerima door prize mobil mewah.
"Tanda tangannya mas!" Pak tua itu lantas memberikan sebuah bolpoin dan menyenggol bahu kiriku.
"Iya pak, maaf ya gak kegubris. Kelewat seneng" Pak tua itu lantas tersenyum dan kemudian berlalu mengeber motornya dan menghilang sekejap saja setelah aku menandatangani resi pengirimannya.
Hari itu entah kenapa aku senang bukan kepalang memegang amplop agak tebel berwarna coklat itu. Padahal aku sendiri belum membuka apa isinya. Semoga saja uang, haha. Namun yang membuatku senang adalah pengirimnya ternyata Robi, sahabat sekosku dulu saat di Pare - Kediri kursus bahasa inggirs. Kita memang dikenal sahabat paling jail dulu. Bisa dikatakan jail karena emang hobi gangguan cewek yang ngekos tepat di depan kos-kosan kita. Ah... jadi ingat saat aku mencoba merayu cewek di lantai atas dengan memainkan gitar lalu tiba-tiba saja dilempar pot bunga, haha.
Aku sobek amplop coklat itu lalu penasaran kira-kira apa isinya ya? dulu dia pernah sms nanyain alamat baruku sekarang dan ternyata mau ngirim ginian toh. Sekejap saja aku lalu meraba sesuatu di amplop itu dan isinya ternyata coretan curhatan dia di satu lembar folio dan satu kaset DVD polos warna putih yang hanya ditulis dengan spidol hitam "Jangan di buka tengah malem tar anumu meleleh".
"Anjrit nih anak palingan kirim video bokep!" aku lantas membatin dan segera masuk ke dalam rumah mencari laptopnya kak aldi. Kebetulan dirumah ga ada orang dan laptopnya tergeletak di depan TV jadi aku penasaran membuka DVDnya. Kalo isinya bokep ya itung-itung menghilangkan kejenuhan yang sudah mulai meraja lela, haha.
"Klik"
Aku mulai menunggu jam pasir yang mulai membuat rasa penasaran ini tertunda sekian detik. Dan ternyata setelah aku membuka DVD nya isinya foto teman-teman sekosan dulu. Ada sebagian foto yang dibuat slideshow dan beberapa foto dia dengan ceweknya. Kalo ini pasti mau pamer dia.
Dari semua video slideshow yang aku buka entah kenapa aku lalu meneteskan airmata pada satu video berdurasi 6 menit yang berjudul "Persahabatan Kita". Foto-foto jadul dulu dengan teman-teman sekos di tambah backsound saint loco kedamaian. Uh.... bener bener tidak terbendung air mata ini mengingat momen indah kita dulu. Aku lalu memejamkan kedua mataku dan mengingat momen-momen lucu saat di Pare dulu, aku naikkan volume musiknya dan membiarkan semua angan terbang melayang sejauh-jauhnya.
"Ndi... coba kamu kenalan sama cewek sono, di deket pot bunga itu. Katanya dokter dia, denger-denger sih kursus TOEFL disebelah kursusan kita. Aku sudah kenalan kemarin, anaknya asyik kok!" Robi menghentikan genjrengan gitarku dan menunjuk seorang cewek yang lagi duduk ngelamun di balkon lantai atas.
"Eh.. kayaknya dia mau loncat deh men!" aku mencoba meyakinkan robi.
"Nggak lah men, emang dia keliatan setres gitu? dia lagi ngelamun aku kali? tuh liat dia coba lirik-lirik kebawah"
"Gini aja, kita coba nyayiin lagu buat dia, siapa tau tuh anak nengok kebawah dan ga jadi loncat!"
"Lagu apa ndi...?" tanya robi
"Sewu Kuto gimana??"
"Lu kira mau sunatan apa nyanyi campur sarian gitu? yang romantis dong ah!"
"hm.... eh.... lagunya Bryan Adams aja yang "I will be right here waiting for you", mantep tuh men!"
"Nah.... tarik men!" robi lantas menyanyi dengan iringan gitarku yang menggunakan kunci asal jadi.
Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever?
.........
"Prakkkkk"
"Berisik tau, kalian pergi sana ganggu orang menghafal aja!!" Cewek itu lantas melempar pot bunga kamboja di samping kami yang duduk di teras bawah. Untung aja ga kena kepala, bisa benjol tar.
"Yaelah gitu aja udah ngamuk!" Robi lantas menyahut sambil mencibir.
"Ah taulah kalian berdua nih emang bikin berisik aja, udah suara jelek main gitar juga cempreng. Awas nanti kalau ganggu lagi ta laporin ke Ibu Kos biar diusir kalian!" cewek itu lalu beranjak pergi kedalam kamarnya dan mengguman kesel.
"Tuh kan rob, dia dokter rumah sakit jiwa kali ya? sewot gitu orangnya, kebanyakan nanganin pasien gila kali ya?"
"Udahlah men, lanjut gitaran, kali ini kan ga ada jadwal kursus"
"Lanjut lah!!!"
Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
..............
Sekejap saja lalu lamunanku buyar dan kenangan masa lalu dengan Robi pun berangsur pudar seiring dengan musik di laptop ini yang mulai berhenti. Ah jadi kangen gini ya, mendadak dada rasanya semakin sempit seolah ingin segera kembali ke masa lalu.
"Thanks yak sob!" aku lantas sms dia, mau nelpon kayaknya bakal mahal mengingat beda operator.
Beberapa menit dia ga sempet bales, mungkin lagi sibuk siang ini. Dulu sempet ngabarin kalau dia meneruskan kuliahnya di ITI.
"Breppppp.... Breppppp"
Lima menit setelah aku sms dia ternyata dia telpon balik, sontak saja aku lantas mengangkat telponnya dan rasanya darah yang ada di tubuh ini berdesir naik ke ubun-ubun, betapa kangennya diriku bercanda dengan dia.
"Halo men...." aku menjawab telponya
"ealah sob, wes nerimo paketane to?"
"Ah lu ngomong bahasa jawa medok aja masih dipamerin, haha" aku lantas membalas dia sambil ketawa ketiwi.
"Gimana udah dibuka file-filenya?" dia melanjutkan
"Udah men... tapi kok ga ada cewek dokter dulu ya? kalau punya fotonya kirim lah"
"Dika itu ya??? kan udah ada disono, yang lagi peluk-pelukan sama aku itu, hehe"
"Kok mukanya beda?"
"Ya namanya dokter ya palingan dioperasi mukanya, haha"
"beneran itu dika yang dulu? kok beda banget sih?" aku lantas bertanya heran
"Nggak lah men, itu cewek baru ku teman sekampus. Cakep ga?"
"Kalo selera lu sama aku kan beda men"
"cakep ga, jawab ya atau nggak susah amat sih lu men"
"Ya cakep lah men"
"Ndi... gimana kabar lu sekarang disana? udah pakai koteka kan?, bhuahahaha" dia tertawa terbahak bahak sampai membuat telingaku sakit.
"Ah sialan lu, emang aku terdampar di papua apa?"
"Ya nggak gitu juga kali men, cuma memastikan aja kalau sekarang lu ga setres disana."
"Biasa men, aku kan suka survival gitu, jadi pengen coba hal baru aja."
"Oh, oke deh. Eh jangan lupa itu diobok-obok filenya. Kalo pengen yang seru coba show hidden files. Ada rahasia yang aku sembunyiin"
"Harta karun?" tanyaku
"Lebih dari harta karun men, pokoknya kalau bisa dibuka bakalan enggak bisa tidur semaleman deh lu"
"Ah.. beneran?"
"Iya mamen... udah dulu ya aku mau lanjut ngampus lagi. Good luck men, jangan lupa ntar kirim suvenir dari sana ke tangerang, oke!"
"Oke deh tar ta kirim Moke men"
"Moke????" dia mulai penasaran.
"Udah tenang aja bukan obat terlarang kok"
"Siplah, oke salam sama keluarga disana men"
"sip!"
Tut... tuut........
Perbincangan lewat telpon pun selesai. Hampir beberapa menit merasa seneng karena bisa ngobrol dengan sahabat lama meski hanya lewat udara. Kini, setelah aku menaruh kembali henpon di saku, aku kembali menerima kenyataan kalau aku sedang sendirian sekarang dan menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Terdengar suara adzan di masjid yang mulai menggema. Aku lalu mencoba membuka file yang disembunyiin robi tadi. Penasaran apa isinya.
"Ya.. habis buka file ini aku sholat!" aku lantas menggumam dalam hati mendengar panggilan adzan yang berkumandang.
Klik... Klik.... sret!
BOKEP!!!!!!
Sialan nih anak, sudah kuduga isinya memang video maju mundur. Duh... dasar mamen. Sebenarnya pengen lanjut nonton tapi karena lagi adzan ya aku tunda dulu aja. Pergulatan batin melanda antara rasa penasaran ngebokep sama sholat di masjid dan ketemu sama bapaknya rahma.
Bisa saja mungkin nanti berpapasan sama rahma yang mengajar di sekolah samping masjid sana. Eh... kenapa pikiranku lari ke dia lagi?
Aku lantas mengeluarkan DVD itu dan ganti pakaian ke masjid. Siang ini seperti biasanya terasa panas menyengat, nampaknya sudah menjadi ciri khas maumere untuk kepanasan tiap hari. Bahkan semenjak hampir tiga bulan disini aku belum pernah merasakan hujan pertama di kota ini. Suara adzan semakin menggema dan aku semakin mempercepat langkah menyambut panggilan itu. Panggilan yang mengetarkan dada setiap insan yang memaknai artinya.
"…............."
Di tempat wudhu Masjid At-Taqwa Kampung Beru Maumere. Pukul 12.10 Wita
Aku duduk menghadap pancuran air keran yang nampak agak berkarat. Siang itu terasa gaduh dan rame karena banyak anak sekolahan yang istirahat dan menunaikan sholat dhuhur. Memang murid di sekolahan ini sangat banyak mengingat semua sekolah dari TK sampai MA bangunan sekolahanya berdempetan. Maklum mayoritas penduduk yang memeluk islam paling banyak di kota Beru yang berada di pesisir pantai.
Ada jeda beberapa menit setelah adzan untuk menunggu jamaah kumpul di masjid. Setelah beberapa menit wudhu dan menikmati air segar yang perlahan menghilangkan penat dan rasa panas yang melanda, akhirnya aku duduk di shaf depan bersama beberapa dai yang datang dari jawa dan ayahnya rahma sebagai Imam.
Mungkin terlihat aneh ya, bukan pondok pesantren tapi kok banyak Dai? tapi memang bener, kebanyakan dai di masjid ini hampir tiap hari berganti ganti. Bahkan pernah ada yang datang dari Thailand dan Malaysia. Misi mereka hanya satu "jaulah" diluar masjid, yakni kegiatan mampir dari masjid ke masjid seluruh dunia untuk mengajak umat islam di sekitarnya meramaikan Masjid. Semacam dakwah mungkin, yang pasti setiap aku tiduran di masjid atau sekedar mendengar pengajian, mereka lantas memberiku sorban dan diajak pergi "jaulah".
"Sudah pernah kemana saja sejak di NTT?"
"mm..." aku menggeleng.
Itulah percakapan pertamaku dulu saat ketemu dai bernama Imam Habibi dari Temanggung yang katanya sudah sampai keliling Palestina. Padahal usianya tergolong muda lo, 27 tahun!
Pak haji seperti biasanya dia melirik kebelakang dan memastikan jamaah berkumpul merapatkan shaf dan menyuruh diantara kami iqomah. Beliau lantas melirik aku, entah saat itu aku merasa keringat dingin. Mungkin kalian berpikir bahwa ayahnya rahma orang yang over protek terhadap anaknya atau berwatak keras. Namun kenyataannya tidak, saya paham sebagai ayah yang baik dia seharusnya memagari rahma dari laki-laki yang baru dikenalnya seperti aku. Mungkin aku juga melakukan hal yang sama jika mempunyai anak perempuan yang cantik dan manis seperti rahma. Tak akan kubiarkan seekor kumbangpun menghisap madunya!
Pada awal aku ketemu sama beliau memang terlihat ganas trengginas seperti orang yang menyandang surban sambil teriak "allahuakbar" yang biasa aku lihat di TV. Namun itulah pak haji yusuf, adakalanya dia marah karena suatu prinsip yang dianggapnya benar, tapi ada kalanya bersikap bijak menyikapi keadaan. Tidak ada dendam di hati beliau, begitu juga aku.
Semenjak jadi pengangguran dan jarang keluar sama kak aldi yang lagi sibuk di COREMAP. Aku jadi sering menghabiskan waktu di masjid, sekedar mendengar pengajian beliau, berkumpul diantara dai yang mengaji Quran dan Hadits dan tiduran di Masjid. Tentu saja kadang berpapasan sama rahma yang mulai terlihat dingin. Hanya lewat saja seperti orang yang belum pernah kenal, bahkan tidak pernah melempar senyum manisnya seperti biasa aku ketemu dia.
Semuanya sudah berubah, apakah semenjak peristiwa memalukan dulu dia mulai berubah gini? ditekan orang tuanya atau mungkin apalah aku ga tahu. Aku hanya semakin gugup dan dadaku semakin terasa basah ketika pak haji kemudian menunjuk aku dengan telunjuk kanannya. Aku ingat telunjuk itu yang pernah membuat rahma menangis di pelukanku beberapa bulan lalu.
"Nak Andi iqomah" Pak haji lantas menyuruh aku berdiri di sampingnya untuk membaca iqomah.
Saat itu keringat semakin deras membasahi baju koko ku yang agak tipis. Pak haji mungkin sadar aku sudah mulai gugup tapi beliau kemudian langsung memberiku mic jepit yang menempel di kerah bajunya dari tadi.
"Baca yang lantang nak!" Pak haji meneruskan.
Aku kemudian memantapkan hati menghadap para jamaah yang sudah membentuk shaf. Di barisan depan banyak dai bersorban putih, di shaf berikutnya ada pegawai kantoran yang aku yakin mereka perantau dari seluruh pelosok negeri dan di shaf paling akhir ada kumpulan anak sekolah.
Namun yang membuat aku sedikit bergetar dan tidak bisa kosentrasi adalah kehadiran rahma yang mengenakan mukena putih di sudut paling kanan masjid ini. Aku bisa melihat jelas wajah nya dan kemudian kita saling curi pandang, lalu perlahan wajah ayu itu tertutup kain pembatas shaf antara jamaah laki-laki dan perempuan.
Dengan nada yang agak bergetar dan keringat dingin yang mulai membasahi dadaku, aku lantas memejamkan mata dan membaca iqomah.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Asyhadu alla illahaillallah.
Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.
Haiyaalas solah Haiyaalal falah.
Qadqamatis solah Qadqamatis solah.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
La ilahaillallah.
"….........."
Hampir tiap hari nganggur dan molor dirumah kadang membuat batin ini tersiksa, mending dijawa ada temen ngobrol, lha disini hanya ketemu orang-orang pada sore hari ketika mereka pulang kerja. Memang ada juga anak seumuran yang kuliah di Maumere dan ngekos di komplek ini tapi mereka seperti yang lainnya hanya ketemu sore hari, itu juga ketemu di masjid saat sedang shalat magrib.
Pernah membayangkan bagaimana rasanya jadi pengangguran? atau pernahkah terbesit sebuah pernyataan klise bahwa pekerjaan membosankan adalah menunggu? ya seperti itulah yang aku alamai dulu. Blunder jalan barengan rahma sampai kelewat malam itu benar-benar membuatku ga punya teman lagi, seolah ada tanggul besar yang membatasi rasa kangenku ke rahma. Betapa bodohnya diriku saat itu, ketika sudah mulai nyaman dengan rahma aku malah membangun tembok pembatas yang besar dan menghalangi kedua tangan kita untuk bertemu.
Hampa dan semuanya hanya kosong. Entah apakah rahma merasakan hal yang sama? dia bahkan sudah jarang telpon atau sms aku. Mungkin hapenya dibuang ayahnya, atau memang dia mencoba menjauh dariku? ah sudahlah. Banyak pertanyaan belum terjawab yang kembali mengerogoti sel otakku, aku bahkan sudah malas berpikir mau dibawa kemana nasib kuliahku ini.
Tersesat disini, ketika orang-orang mengejar kualitas pendidikan, aku malah mendamparkan diri pada sebuah kampus yang ketinggalan jaman. Bodoh ya pemikiranku? memang seperti itulah aku dulu, lugu, polos dan seperti kebanyakan lulusan anak SMA pada jamannya masih suka mencoba menemukan identitasnya. Namun satu hal yang membuatku sadar bahwa, belajar tak melulu harus diterangi lampu yang terang berbinar-binar tapi juga bisa diterangi petromax meski kadang membuat mata kita sakit. Kuliah disini atau dijawa yang bergelimang fasilitas sama saja. Yang penting niat belajar. Semua berawal dari niat, dan tekadku kesini adalah kuliah, bukan tujuan lain!.
Siang ini, di sebuah kursi kayu di teras aku lalu termenung menyusun daftar kehidupanku yang aku coret pada selembar kertas folio, mencoba memotivasi diri sendiri bahwa sebenarnya aku pasti bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat. Pertengahan bulan juni nanti adalah awal semua cerita di Maumere yang harus segera berakhir. Aku akan menyelesaikan program D3 Bahasa Inggris yang memang menjadi targetku disini. Semakin cepat aku menyelesaikan kuliah ini, maka semakin cepat aku kembali ke jawa dan mungkin melanjutkan program S1 disana.
"Hanya ibu disana yang membuatku kangen bukan rahma, ya bukan cewek berkacamata itu!" aku lantas membatin mencoba memantapkan hati akan tujuan awal aku kesini. Aku ga mau semuanya rusak hanya karena pergulatan perasaan yang bercampur aduk saling mengalahkan.
"Tin... tin...."
Tiba-tiba datang motor pak pos yang berhenti diterasku. Di nampaknya membawa suatu amplop yang agak besar dan semakin dekat menghampiriku. Bapak tua berambut putih dengan wajah yang terlihat kusut itupun lalu menyapa aku dan memulai obrolan.
"Andi Wicaksana. CV. Citra Perdana?" Bapak itu lalu menyodorkan amplop berukuran kertas HVS A4 ke pangkuanku yang duduk dikursi teras. Aku lantas mengangkuk dan berdiri.
"iya pak, dari mana ya?" aku membalik amplop coklat itu mencari tahu nama pengirimnya.
"Dari Kutabumi, Tangerang??? Robi!!" aku lantas bersorak kegirangan. Nampaknya pak tua tak perduli dengan tingkah polahku yang terlihat seperti menerima door prize mobil mewah.
"Tanda tangannya mas!" Pak tua itu lantas memberikan sebuah bolpoin dan menyenggol bahu kiriku.
"Iya pak, maaf ya gak kegubris. Kelewat seneng" Pak tua itu lantas tersenyum dan kemudian berlalu mengeber motornya dan menghilang sekejap saja setelah aku menandatangani resi pengirimannya.
Hari itu entah kenapa aku senang bukan kepalang memegang amplop agak tebel berwarna coklat itu. Padahal aku sendiri belum membuka apa isinya. Semoga saja uang, haha. Namun yang membuatku senang adalah pengirimnya ternyata Robi, sahabat sekosku dulu saat di Pare - Kediri kursus bahasa inggirs. Kita memang dikenal sahabat paling jail dulu. Bisa dikatakan jail karena emang hobi gangguan cewek yang ngekos tepat di depan kos-kosan kita. Ah... jadi ingat saat aku mencoba merayu cewek di lantai atas dengan memainkan gitar lalu tiba-tiba saja dilempar pot bunga, haha.
Aku sobek amplop coklat itu lalu penasaran kira-kira apa isinya ya? dulu dia pernah sms nanyain alamat baruku sekarang dan ternyata mau ngirim ginian toh. Sekejap saja aku lalu meraba sesuatu di amplop itu dan isinya ternyata coretan curhatan dia di satu lembar folio dan satu kaset DVD polos warna putih yang hanya ditulis dengan spidol hitam "Jangan di buka tengah malem tar anumu meleleh".
"Anjrit nih anak palingan kirim video bokep!" aku lantas membatin dan segera masuk ke dalam rumah mencari laptopnya kak aldi. Kebetulan dirumah ga ada orang dan laptopnya tergeletak di depan TV jadi aku penasaran membuka DVDnya. Kalo isinya bokep ya itung-itung menghilangkan kejenuhan yang sudah mulai meraja lela, haha.
"Klik"
Aku mulai menunggu jam pasir yang mulai membuat rasa penasaran ini tertunda sekian detik. Dan ternyata setelah aku membuka DVD nya isinya foto teman-teman sekosan dulu. Ada sebagian foto yang dibuat slideshow dan beberapa foto dia dengan ceweknya. Kalo ini pasti mau pamer dia.
Dari semua video slideshow yang aku buka entah kenapa aku lalu meneteskan airmata pada satu video berdurasi 6 menit yang berjudul "Persahabatan Kita". Foto-foto jadul dulu dengan teman-teman sekos di tambah backsound saint loco kedamaian. Uh.... bener bener tidak terbendung air mata ini mengingat momen indah kita dulu. Aku lalu memejamkan kedua mataku dan mengingat momen-momen lucu saat di Pare dulu, aku naikkan volume musiknya dan membiarkan semua angan terbang melayang sejauh-jauhnya.
"Ndi... coba kamu kenalan sama cewek sono, di deket pot bunga itu. Katanya dokter dia, denger-denger sih kursus TOEFL disebelah kursusan kita. Aku sudah kenalan kemarin, anaknya asyik kok!" Robi menghentikan genjrengan gitarku dan menunjuk seorang cewek yang lagi duduk ngelamun di balkon lantai atas.
"Eh.. kayaknya dia mau loncat deh men!" aku mencoba meyakinkan robi.
"Nggak lah men, emang dia keliatan setres gitu? dia lagi ngelamun aku kali? tuh liat dia coba lirik-lirik kebawah"
"Gini aja, kita coba nyayiin lagu buat dia, siapa tau tuh anak nengok kebawah dan ga jadi loncat!"
"Lagu apa ndi...?" tanya robi
"Sewu Kuto gimana??"
"Lu kira mau sunatan apa nyanyi campur sarian gitu? yang romantis dong ah!"
"hm.... eh.... lagunya Bryan Adams aja yang "I will be right here waiting for you", mantep tuh men!"
"Nah.... tarik men!" robi lantas menyanyi dengan iringan gitarku yang menggunakan kunci asal jadi.
Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever?
.........
"Prakkkkk"
"Berisik tau, kalian pergi sana ganggu orang menghafal aja!!" Cewek itu lantas melempar pot bunga kamboja di samping kami yang duduk di teras bawah. Untung aja ga kena kepala, bisa benjol tar.
"Yaelah gitu aja udah ngamuk!" Robi lantas menyahut sambil mencibir.
"Ah taulah kalian berdua nih emang bikin berisik aja, udah suara jelek main gitar juga cempreng. Awas nanti kalau ganggu lagi ta laporin ke Ibu Kos biar diusir kalian!" cewek itu lalu beranjak pergi kedalam kamarnya dan mengguman kesel.
"Tuh kan rob, dia dokter rumah sakit jiwa kali ya? sewot gitu orangnya, kebanyakan nanganin pasien gila kali ya?"
"Udahlah men, lanjut gitaran, kali ini kan ga ada jadwal kursus"
"Lanjut lah!!!"
Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
..............
Sekejap saja lalu lamunanku buyar dan kenangan masa lalu dengan Robi pun berangsur pudar seiring dengan musik di laptop ini yang mulai berhenti. Ah jadi kangen gini ya, mendadak dada rasanya semakin sempit seolah ingin segera kembali ke masa lalu.
"Thanks yak sob!" aku lantas sms dia, mau nelpon kayaknya bakal mahal mengingat beda operator.
Beberapa menit dia ga sempet bales, mungkin lagi sibuk siang ini. Dulu sempet ngabarin kalau dia meneruskan kuliahnya di ITI.
"Breppppp.... Breppppp"
Lima menit setelah aku sms dia ternyata dia telpon balik, sontak saja aku lantas mengangkat telponnya dan rasanya darah yang ada di tubuh ini berdesir naik ke ubun-ubun, betapa kangennya diriku bercanda dengan dia.
"Halo men...." aku menjawab telponya
"ealah sob, wes nerimo paketane to?"
"Ah lu ngomong bahasa jawa medok aja masih dipamerin, haha" aku lantas membalas dia sambil ketawa ketiwi.
"Gimana udah dibuka file-filenya?" dia melanjutkan
"Udah men... tapi kok ga ada cewek dokter dulu ya? kalau punya fotonya kirim lah"
"Dika itu ya??? kan udah ada disono, yang lagi peluk-pelukan sama aku itu, hehe"
"Kok mukanya beda?"
"Ya namanya dokter ya palingan dioperasi mukanya, haha"
"beneran itu dika yang dulu? kok beda banget sih?" aku lantas bertanya heran
"Nggak lah men, itu cewek baru ku teman sekampus. Cakep ga?"
"Kalo selera lu sama aku kan beda men"
"cakep ga, jawab ya atau nggak susah amat sih lu men"
"Ya cakep lah men"
"Ndi... gimana kabar lu sekarang disana? udah pakai koteka kan?, bhuahahaha" dia tertawa terbahak bahak sampai membuat telingaku sakit.
"Ah sialan lu, emang aku terdampar di papua apa?"
"Ya nggak gitu juga kali men, cuma memastikan aja kalau sekarang lu ga setres disana."
"Biasa men, aku kan suka survival gitu, jadi pengen coba hal baru aja."
"Oh, oke deh. Eh jangan lupa itu diobok-obok filenya. Kalo pengen yang seru coba show hidden files. Ada rahasia yang aku sembunyiin"
"Harta karun?" tanyaku
"Lebih dari harta karun men, pokoknya kalau bisa dibuka bakalan enggak bisa tidur semaleman deh lu"
"Ah.. beneran?"
"Iya mamen... udah dulu ya aku mau lanjut ngampus lagi. Good luck men, jangan lupa ntar kirim suvenir dari sana ke tangerang, oke!"
"Oke deh tar ta kirim Moke men"
"Moke????" dia mulai penasaran.
"Udah tenang aja bukan obat terlarang kok"
"Siplah, oke salam sama keluarga disana men"
"sip!"
Tut... tuut........
Perbincangan lewat telpon pun selesai. Hampir beberapa menit merasa seneng karena bisa ngobrol dengan sahabat lama meski hanya lewat udara. Kini, setelah aku menaruh kembali henpon di saku, aku kembali menerima kenyataan kalau aku sedang sendirian sekarang dan menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Terdengar suara adzan di masjid yang mulai menggema. Aku lalu mencoba membuka file yang disembunyiin robi tadi. Penasaran apa isinya.
"Ya.. habis buka file ini aku sholat!" aku lantas menggumam dalam hati mendengar panggilan adzan yang berkumandang.
Klik... Klik.... sret!
BOKEP!!!!!!
Sialan nih anak, sudah kuduga isinya memang video maju mundur. Duh... dasar mamen. Sebenarnya pengen lanjut nonton tapi karena lagi adzan ya aku tunda dulu aja. Pergulatan batin melanda antara rasa penasaran ngebokep sama sholat di masjid dan ketemu sama bapaknya rahma.
Bisa saja mungkin nanti berpapasan sama rahma yang mengajar di sekolah samping masjid sana. Eh... kenapa pikiranku lari ke dia lagi?
Aku lantas mengeluarkan DVD itu dan ganti pakaian ke masjid. Siang ini seperti biasanya terasa panas menyengat, nampaknya sudah menjadi ciri khas maumere untuk kepanasan tiap hari. Bahkan semenjak hampir tiga bulan disini aku belum pernah merasakan hujan pertama di kota ini. Suara adzan semakin menggema dan aku semakin mempercepat langkah menyambut panggilan itu. Panggilan yang mengetarkan dada setiap insan yang memaknai artinya.
"…............."
Di tempat wudhu Masjid At-Taqwa Kampung Beru Maumere. Pukul 12.10 Wita
Aku duduk menghadap pancuran air keran yang nampak agak berkarat. Siang itu terasa gaduh dan rame karena banyak anak sekolahan yang istirahat dan menunaikan sholat dhuhur. Memang murid di sekolahan ini sangat banyak mengingat semua sekolah dari TK sampai MA bangunan sekolahanya berdempetan. Maklum mayoritas penduduk yang memeluk islam paling banyak di kota Beru yang berada di pesisir pantai.
Ada jeda beberapa menit setelah adzan untuk menunggu jamaah kumpul di masjid. Setelah beberapa menit wudhu dan menikmati air segar yang perlahan menghilangkan penat dan rasa panas yang melanda, akhirnya aku duduk di shaf depan bersama beberapa dai yang datang dari jawa dan ayahnya rahma sebagai Imam.
Mungkin terlihat aneh ya, bukan pondok pesantren tapi kok banyak Dai? tapi memang bener, kebanyakan dai di masjid ini hampir tiap hari berganti ganti. Bahkan pernah ada yang datang dari Thailand dan Malaysia. Misi mereka hanya satu "jaulah" diluar masjid, yakni kegiatan mampir dari masjid ke masjid seluruh dunia untuk mengajak umat islam di sekitarnya meramaikan Masjid. Semacam dakwah mungkin, yang pasti setiap aku tiduran di masjid atau sekedar mendengar pengajian, mereka lantas memberiku sorban dan diajak pergi "jaulah".
"Sudah pernah kemana saja sejak di NTT?"
"mm..." aku menggeleng.
Itulah percakapan pertamaku dulu saat ketemu dai bernama Imam Habibi dari Temanggung yang katanya sudah sampai keliling Palestina. Padahal usianya tergolong muda lo, 27 tahun!
Pak haji seperti biasanya dia melirik kebelakang dan memastikan jamaah berkumpul merapatkan shaf dan menyuruh diantara kami iqomah. Beliau lantas melirik aku, entah saat itu aku merasa keringat dingin. Mungkin kalian berpikir bahwa ayahnya rahma orang yang over protek terhadap anaknya atau berwatak keras. Namun kenyataannya tidak, saya paham sebagai ayah yang baik dia seharusnya memagari rahma dari laki-laki yang baru dikenalnya seperti aku. Mungkin aku juga melakukan hal yang sama jika mempunyai anak perempuan yang cantik dan manis seperti rahma. Tak akan kubiarkan seekor kumbangpun menghisap madunya!
Pada awal aku ketemu sama beliau memang terlihat ganas trengginas seperti orang yang menyandang surban sambil teriak "allahuakbar" yang biasa aku lihat di TV. Namun itulah pak haji yusuf, adakalanya dia marah karena suatu prinsip yang dianggapnya benar, tapi ada kalanya bersikap bijak menyikapi keadaan. Tidak ada dendam di hati beliau, begitu juga aku.
Semenjak jadi pengangguran dan jarang keluar sama kak aldi yang lagi sibuk di COREMAP. Aku jadi sering menghabiskan waktu di masjid, sekedar mendengar pengajian beliau, berkumpul diantara dai yang mengaji Quran dan Hadits dan tiduran di Masjid. Tentu saja kadang berpapasan sama rahma yang mulai terlihat dingin. Hanya lewat saja seperti orang yang belum pernah kenal, bahkan tidak pernah melempar senyum manisnya seperti biasa aku ketemu dia.
Semuanya sudah berubah, apakah semenjak peristiwa memalukan dulu dia mulai berubah gini? ditekan orang tuanya atau mungkin apalah aku ga tahu. Aku hanya semakin gugup dan dadaku semakin terasa basah ketika pak haji kemudian menunjuk aku dengan telunjuk kanannya. Aku ingat telunjuk itu yang pernah membuat rahma menangis di pelukanku beberapa bulan lalu.
"Nak Andi iqomah" Pak haji lantas menyuruh aku berdiri di sampingnya untuk membaca iqomah.
Saat itu keringat semakin deras membasahi baju koko ku yang agak tipis. Pak haji mungkin sadar aku sudah mulai gugup tapi beliau kemudian langsung memberiku mic jepit yang menempel di kerah bajunya dari tadi.
"Baca yang lantang nak!" Pak haji meneruskan.
Aku kemudian memantapkan hati menghadap para jamaah yang sudah membentuk shaf. Di barisan depan banyak dai bersorban putih, di shaf berikutnya ada pegawai kantoran yang aku yakin mereka perantau dari seluruh pelosok negeri dan di shaf paling akhir ada kumpulan anak sekolah.
Namun yang membuat aku sedikit bergetar dan tidak bisa kosentrasi adalah kehadiran rahma yang mengenakan mukena putih di sudut paling kanan masjid ini. Aku bisa melihat jelas wajah nya dan kemudian kita saling curi pandang, lalu perlahan wajah ayu itu tertutup kain pembatas shaf antara jamaah laki-laki dan perempuan.
Dengan nada yang agak bergetar dan keringat dingin yang mulai membasahi dadaku, aku lantas memejamkan mata dan membaca iqomah.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Asyhadu alla illahaillallah.
Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.
Haiyaalas solah Haiyaalal falah.
Qadqamatis solah Qadqamatis solah.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
La ilahaillallah.
"….........."
0