- Beranda
- Stories from the Heart
2 CINTA DI NUSA BUNGA
...
TS
andihunt
2 CINTA DI NUSA BUNGA
2 CINTA DI NUSA BUNGA
Sepenggal Kisah Tentang Kacamata Berbingkai Hitam & Kerudung Putih yang Anggun












PROLOG
Dulu....
Sebelum aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya, aku mengambil kursus Bahasa Inggris di Kota Kediri untuk bekal kuliahku nanti. Namun pada kenyataanya aku terpaksa harus mengubur mimpi untuk kuliah di jawa dan pergi sekian mil jauhnya meninggalkan kampung halaman, sahabat bahkan Ibuku sendiri untuk memenuhi keinginanku melanjutkan kuliah.
Saat itu aku sadar kondisi ekonomi keluarga kami di kampung tidak cukup untuk memenuhi ambisiku meneruskan kuliah di kota besar seperti Surabaya. Jadi, aku akhirnya menerima tawaran kakakku untuk meneruskan kuliah di pulau antah berantah. Sebuah pulau yang tak pernah terbayangkan bahwa aku akan terdampar disana.
Dan sekarang aku akan bercerita tentang kisah perjalananku di pulau seberang, salah satu pulau di Nusa Tenggara yang dikenal sebagai Pulau Bunga, sebagian ada juga yang menyebutnya sebagai Nuca Nepa (Pulau Ular).
Dari sana awal petualanganku dimulai, ketika akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah terdampar terlalu jauh dan bertarung dengan kegelisahan yang muncul di setiap saat, kegelisahan tentang nasib kuliahku disana dan juga ketergantungan hidup pada orang lain.
Namun dari kegelisahan ini akhirnya mengajari aku satu hal bahwa dalam perantauan aku harus berani mengambil resiko keluar dari gejolak hati yang sengaja aku ciptakan sendiri dan mencari jati diriku sebenarnya.
Kehidupan memang seperti semangkuk buah ceri, selalu ada rasa asem dan manis. Seperti kisah perjalananku ini yang telah membawaku bertemu dengan dua sosok wanita yang selalu memberi kedamaian dan mengajari aku tentang arti dari sebuah cinta dan persahabatan. Meskipun pada akhirnya, kita tak pernah bertemu lagi dan pulau itu hanya sebagai pulau transit saja. Kita mempunyai tujuan akhir yang berbeda, namun rasa cinta itu selalu ada di masing-masing potongan hati kita, dan selalu ada....selamanya.
And... the story goes.....
"..................."
Surabaya, 22 Maret 2014
Di hari yang kuimpikan, langit biru yang menawan seakan ku terbang melayang.
Kusambut cerahnya mentari, kutinggalkan semua mimpi seakan ku masih berlari.
Malam yang terus membisu, kota yang tampak membeku seakan kau ada didekatku.
Ah, sudah tak terhitung berapa kali aku menyanyikan lagu ini di teras rumah ketika rintik hujan dan malam yang sepi menggoda pikiran untuk membayangkan sosok yang pernah ada mengisi lembaran hati kala itu. Sosok wanita yang memiliki hati seputih salju dan senyum indah seperti bunga sakura yang berguguran di musim semi.
Surabaya terlihat sepi, sunyi dan semua yang terlihat hanya gelap malam dan kerlipan lampu yang nampak samar. Suara rintikan hujan menari nari di genting teras berlari beriringan dengan petikan gitarku yang semakin terdengar lirih. Sebuah malam yang menuntunku kembali ke suatu kisah yang menyisakan senyum kecil direlung hati ketika aku mengingatnya.
Entah kenapa aku menciptakan lagu itu beberapa tahun silam. Sebuah lagu yang kutulis melawan hati nurani untuk memilikinya dengan utuh. Ya, sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang mengagumi keindahan bunga mawar tanpa bisa memilikinya.
Di malam yang sunyi ini, sebuah gitar kembali memaksa aku bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda di pulau seberang, tentang kacamata berbingkai hitam dan kerudung putih yang anggun.
Di suatu pulau di bagian tenggara Indonesia yang dikenal sebagai Pulau Ular awal cerita ini dimulai. Yah, Pulau Ular yang telah melilit aku dalam cintanya dan membius aku dengan bisanya yang melumpuhkan sendi-sendi tulangku hingga kini. Pulau itu.... adalah Nusa Bunga yang memiliki kota Maumere dengan segala hiruk pikuknya.
Hujan semakin deras menyisakan dingin menyelimuti kalbu. Senar gitarku masih begetar dengan nada yang sumbang. Kesendirian ini bertemankan gitar dan secangkir kopi yang siap mengantarkan aku pada suatu memori yang tersimpan rapi di relung hati terdalam. Dan, asap tipis dari secangkir kopi ini mulai memudar dan bercerita tentang kisah masa lalu. Tentang sebuah Kota yang mempertemukan aku dan mereka, dan dengan segala harapan yang pupus disana.
.........................
--Di suatu tempat di seberang samudera, ada sebuah pulau nan indah, pulau yang dikenal sebagai pulau bunga. Sebuah pulau di Nusa Tenggara yang menjadi dermaga cinta ini berlabuh pada dua hati. Namun, hanya ada satu cinta yang mengajari aku tentang arti dari sebuah perpisahan.--
Soundtrack
INDEX
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh andihunt 05-09-2014 18:50
nona212 dan anasabila memberi reputasi
3
28.4K
210
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andihunt
#16
Tranquilize. Part 7
"Berapaan bu?"
"15.000 nona"
"kalo sama lawarnya ini?"
"Jadinya 20.000 sa, ambil kah?"
"Iya deh bu"
Sedikit percakapan Mbak Yani, yang kudengar dengan seorang ibu-ibu penjual batok kelapa di sebelah pohon bidara agak rindang yang menjadi tempat mobil kakak terparkir disini. Terlihat dari jauh pantai berpasir kecoklatan terpampang dengan luas dari timur ke barat seperti garis khatulistiwa. Barisan pohon kelapa dipinggirnya menambah kesan sejuk dan damai. Ya, akhirnya aku sampai pada sebuah pantai beranama "PARIS".
"Ayo Ndi bawa keluar barang-barangnya, saatnya piknik nih" Mbak Yani menyahutku sambil dia berjalan duluan sama Rahma.
"Oke mbak , Siap!"
"Kak ini ikannya dibakar dimana?" aku bertanya ke Kak Aldi yang menenteng tas keranjang belanjaanya Rahma tadi pagi.
"Dibakar disana aja ndi, deket pepohonan sana biar ga panas"
"Oh beres"
Beberapa menit berjalan akhirnya kami berkumpul duduk di atas karpet yang tidak terlalu besar namun cukup muat untuk kita berempat duduk melingkar. Sedikitdemi sedikit aku dan kak aldi mengambil barang bawaan keperluan piknik yang agak banyak memang. Kebanyakan sih makanan kecil sama alat pemanggang ikan dan segala macem jenis piring dan mangkok. Hampir 7 menit berlalu akhirnya barang-barang itu terkumpul di tempat piknik kami.
"Loh, Rahma kemana?" tanyaku keheranan ke mbak yani sambil menenteng alat panggang yang mau kuletakkan di pinggiran batu.
"Aduh, baru aja ditinggal udah kangen" Mbak Yani menjawab genit. Keliatan banget dia suka mak comblangin orang nih.
"Tadi pamitan ke toilet sebelah sana mau ganti rok katanya. Aneh tuh anak ke pantai pake rok pendek gitu" mbak yani meneruskan sambil tangannya membelah ikan tuna yang kini terbagi dua.
"Oh, kirain Ilang kebawa ombak, hehe"
"Ndi sini alat panggangnya!" Kak aldi menyahutku. Dia nampaknya membakar arang tadi dengan sebotol minyak tanah yang dibawanya.
"Dibakar sekarang ikannya?"
"Ya tunggu bentar lah ndi, nunggu apinya padam dulu"
Beberapa detik kemudian hanya terdengar bunyi gemretek api yang membakar potongan kecil batok kelapa yang barusan dibeli. Aku yang merasa lelah dari tadi kemudian selonjoran menghadap api yang sedikit mulai padam menyisakan arang menyala-nyala merah tertiup angin laut.
"Hello ada yang kelewatan nih"
Tiba-tiba Rahma mendorong pundakku dari belakang sampai kakiku mau menyentuh bara api di depanku.
"Aih, masih balik lagi toh kamu? Aku kira udah ditelen laut?" balesku kecut kearahnya dan sejenak aku terdiam,
memandang heran dari kakinya,
ke atas,
dan menggeleng.
"Kenapa bengong gitu ndi? Pake geleng-geleng kepala segala"
"Ya aneh aja, kamu tadi keliatan kayak orang kantoran sekarang bisa berubah kayak putri pantai"
"Ya ini kan selendang pantai yang aku beli tadi, biar kamu ga liatin pahaku terus-terusan, hehe"
"Siapa juga yang mau liat paha kasar begitu"
"Buktinya kamu dari tadi lirik-lirik kayak matanya mau copot aja"
"Ah udah sini bantuan mbak yani beresin makananya" Aku menarik tangan Rahma sampai dia terduduk di sebelahku"
"Pelan-pelan dong, nanti lepas keinjek nih selendangnya"
"Biarin lepas biar diliatin banyak orang, wekk"
"Ah dasar kamu ndi, masih dendam sama aku ya gara-gara aku gamp.....r"
"Eh siapa yang kegampar?" mbak yani berbalik nanya setelah mendengar pengakuan Rahma.
"Eh nggak ada mbak" Rahma membales nyengir.
"Kamu sih ndi, mancing-mancing segala" gerutu dia pelan sambil mencubit lengan kiriku.
Hari itu semuanya terasa indah. Bukan karena keindahan pantai yang menyejukkan hati tapi kebersamaan diantara kami yang mulai harmonis. Kegelisahan akan kota Maumere terasa lenyap tak berbekas kala itu, setiap aku melihat pantai yang indah,
tawa mbak yani yang renyah,
dan juga senyum manis si Rahma, yang entah mengapa membuatku bingung akan sebuah rasa yang ambigu.
Tak sampai lima belas menit berlalu tiba-tiba ikan bakar di atas piring ini habis menyisakan tulang. "Enak juga" batinku lirih.
"Ah kenyangnya, Ndi masker snorkle tadi kamu taruh mana?" Kak aldi menyahutku yang kinisedang berbincang-bincang dengan rahma.
"Ada tuh di belakang mobil"
"Loh ga kamu bawa kesini ya?"
"Aduh kelupaan tadi"
"Ya udah aku mau nyelem dulu bentar"
Kak aldi berlalu ke mobil yang terparkir mengambil snorkle dan aku masih duduk bersebelahan dengan Rahma yang nampaknya sudah mulai "Jinak".
"Rahma, ngobrol kok disini ga malu kedengeran aku ya? Jalan-jalan sana ke pantai biar lebih deket" Mbak yani kembali lagi memulai jurus comblangnya.
"Ah disini aja mbak, panas disana" sahutku menyangkal.
"Udah ayo Ndi kesana, lagian Mbak Yani ga mau diganggu kayaknya mau nyelem sama Kak Aldi" Bales Rahma nyengir.
"Ya udah deh"
"…................"
Angin sepoi-sepoi menyisir indah poni rambut Rahma yang perlahan menutupi kaca matanya, sesekali kulihat dia menyelipkan rambut di belakang telinganya dan kemudian mengucirnya dengan ikat rambut berbunga. Dingin, itu yang aku rasakan di panasnya pantai yang menyengat ini.
"Kamu keliatan cantik deh Ma"
"Masa? kamu cowok kedua yang bilang gitu lo"
"Iya bener, terus cowok yang pertama siapa?"
"Hm... ada deh"
"Siapa?"
"Ada aja"
"Duh nih anak mulai jengkelin ya, siapa hayo??"Aku kemudian berhenti sambil kupegang sedikit selendang yang melingkar di pingganya.
"Apaan sih ini?"
"Ya siapa cowok yang pertama itu, jangan-jangan kamu janda ya?. Kalo ga jawab, aku tarik nih selendang biar orang-orang pada liatin kamu!"ancamku bercanda.
"Duh nih Jawa udah kayak polisi aja"
"ya kamu sih bikin penasaran" kita kemudian melanjutkan jalan-jalan. Nampaknya aku dan rahma hampir sama tingginya, mungkin tinggian aku lima senti meter.
"nanti aku kasih tau kalau kamu kuat gendong aku kesana!" Rahma tiba-tiba berkata sambil menunjuk pohon kelapa rindang disudut pantai.
"Duh kejauhan itu ma, mana pasirnya agak tebel lagi. Pasti berat deh"
"ya udah aku ga kasih tau kalo gitu biar kamu mati penasaran, haha"
"ya udah sini aku gendong!" Aku kemudian mengangkat tubuh Rahma yang memang agak langsing jadi ga terlalu berat pertama-tama sih.
"Eits..... Nekat nih Jawa, pelan-pelan dong"
"ya kalo pelan ga nyampe-nyampe bawel" aku kemudian berlari mengendong Rahma dipinggir pantai. Terlihat orang-orang dipantai memandangiku sambil teriak-teriak seperti mendukung tim sepak bola kesayangannya.
"Ndi turunin ndi, ga enak diliatin orang"
"Ah nanti kamu ga mau jawab pertanyaanku tadi?"
"Iya aku jawab Jawa oon!"
"Ah ga usah udah terlanjur malu, nanggung"
Beberapa saat akhirnya aku berhasil mengendong rahma sampai pohon kelapa yang ditunjuknya. Aku tersungkur lemas dengan keringet yang segede jagung. Aduh ada-ada aja nih anak.
"Jauh juga ya ndi? kuat juga kamu!" Rahma menepuk punggungku yang saat itu tersungkur di pantai.
"iya kuat sih, tapi pasirnya tebel juga. Jadi cepet capek dan haus!"
"Nih ada Es Degan mau?"
"mana?"
"itu diatas? rahma membalik tubuhku yang tersungkur sambil menunjuk kelapa hijau yang tergantung di atas pohon.
"Aduh dasar nenek sihir, udah sekarat gini masih aja disiksa suruh ambil kelapa"
"Ah ga ndi cuma bercanda, nih ada sebotol air yang aku bawa tadi"
"Nah gitu dong, keliatan cantik kan"
"Nah itu barusan kamu menjadi cowok ketiga yang bilang aku cantik, hehe"
"Duh, dasar ngeselin ya" aku kemudian bangkit dan duduk bersandar di bawah pohon kelapa.
"hahaha, andi, andi lucu kamu ya" rahma tertawa manja sambil menarik tanganku.
"Jadi sapa cowok yang pertama itu?" aku melanjutkan pertanyaan yang belum terjawab.
"Menurutmu siapa?"
"Pasti kalo ga pacarmu ya suamimu lah"
"Salah ndi!" dia kemudian duduk disebelahku sambil memainkan jari jemarinya yang lentik.
"lalu siapa?" tanyaku jengkel.
"Orang pertama yang bilang aku cantik tuh Ayahku ndi, bahkan hampir tiap hari malah. Cantik mau sekolah ya? Cantik udah makan?, dan lain-lain deh.
"Yaelah, jadi kamu ngerjain aku ya ceritanya?" hadeh bener-bener kamu ya!
"Udah dong jangan marah, aku tadi kan udah bilang suruh nurunin aku. Kamu aja yang ngeyel"
"Iya dah ga apa, anggap aja olahraga. Ngomong-ngomong seger juga ya anginya disini"
"iya sejuk, hm... Ndi...?"
"Apa?"
"Aku boleh pinjem bahunya ga?"
"Emang barang dipinjem?"
"Boleh ga nih?"
"Buat apa sih Ma?"
"Aku mau menyandarkan kepalaku di bahumu, sekedar menikmati kesejukan angin ini"
"….............."
Saat itu waktu terasa berhenti, hanya terdengar alunan musik dari kumpulan orang bermain gitar di sebelahku yang berjarak puluhan meter. Aku tidak bisa memahami arti lagunya yang menggunakan bahasa daerah. Namun alunan musiknya yang mendamaikan hati seolah menjadi pengantar momen indah bersama Rahma.
Ombak Pecah di bibir pante
Torang kewesa cumin mentadi
Tuli nama data pase oa yang suru
Biar tambah mesra oa sandar di kita pung bahu
Burung elang terbang melayang
Singgah datang cabang bidara
Walau banyak cinta yang datang
Singgah di hati
Me kita pung cinta
te mungkin becabang no e….
Kita cuma mo beri inga jo
Janji hati torang inga dike se
Kita pung mulo bukan mulo tali aga
Percaya se kita pung cinta sayang e….
Tuto telinga kalo orang omong
Jalan maju bua macam te tau
Torang pung cinta tuan deo beri
Janji ujung aro simpan di hati
Janji ujung aro bawa sampe mati
"............"
"15.000 nona"
"kalo sama lawarnya ini?"
"Jadinya 20.000 sa, ambil kah?"
"Iya deh bu"
Sedikit percakapan Mbak Yani, yang kudengar dengan seorang ibu-ibu penjual batok kelapa di sebelah pohon bidara agak rindang yang menjadi tempat mobil kakak terparkir disini. Terlihat dari jauh pantai berpasir kecoklatan terpampang dengan luas dari timur ke barat seperti garis khatulistiwa. Barisan pohon kelapa dipinggirnya menambah kesan sejuk dan damai. Ya, akhirnya aku sampai pada sebuah pantai beranama "PARIS".
"Ayo Ndi bawa keluar barang-barangnya, saatnya piknik nih" Mbak Yani menyahutku sambil dia berjalan duluan sama Rahma.
"Oke mbak , Siap!"
"Kak ini ikannya dibakar dimana?" aku bertanya ke Kak Aldi yang menenteng tas keranjang belanjaanya Rahma tadi pagi.
"Dibakar disana aja ndi, deket pepohonan sana biar ga panas"
"Oh beres"
Beberapa menit berjalan akhirnya kami berkumpul duduk di atas karpet yang tidak terlalu besar namun cukup muat untuk kita berempat duduk melingkar. Sedikitdemi sedikit aku dan kak aldi mengambil barang bawaan keperluan piknik yang agak banyak memang. Kebanyakan sih makanan kecil sama alat pemanggang ikan dan segala macem jenis piring dan mangkok. Hampir 7 menit berlalu akhirnya barang-barang itu terkumpul di tempat piknik kami.
"Loh, Rahma kemana?" tanyaku keheranan ke mbak yani sambil menenteng alat panggang yang mau kuletakkan di pinggiran batu.
"Aduh, baru aja ditinggal udah kangen" Mbak Yani menjawab genit. Keliatan banget dia suka mak comblangin orang nih.
"Tadi pamitan ke toilet sebelah sana mau ganti rok katanya. Aneh tuh anak ke pantai pake rok pendek gitu" mbak yani meneruskan sambil tangannya membelah ikan tuna yang kini terbagi dua.
"Oh, kirain Ilang kebawa ombak, hehe"
"Ndi sini alat panggangnya!" Kak aldi menyahutku. Dia nampaknya membakar arang tadi dengan sebotol minyak tanah yang dibawanya.
"Dibakar sekarang ikannya?"
"Ya tunggu bentar lah ndi, nunggu apinya padam dulu"
Beberapa detik kemudian hanya terdengar bunyi gemretek api yang membakar potongan kecil batok kelapa yang barusan dibeli. Aku yang merasa lelah dari tadi kemudian selonjoran menghadap api yang sedikit mulai padam menyisakan arang menyala-nyala merah tertiup angin laut.
"Hello ada yang kelewatan nih"
Tiba-tiba Rahma mendorong pundakku dari belakang sampai kakiku mau menyentuh bara api di depanku.
"Aih, masih balik lagi toh kamu? Aku kira udah ditelen laut?" balesku kecut kearahnya dan sejenak aku terdiam,
memandang heran dari kakinya,
ke atas,
dan menggeleng.
"Kenapa bengong gitu ndi? Pake geleng-geleng kepala segala"
"Ya aneh aja, kamu tadi keliatan kayak orang kantoran sekarang bisa berubah kayak putri pantai"
"Ya ini kan selendang pantai yang aku beli tadi, biar kamu ga liatin pahaku terus-terusan, hehe"
"Siapa juga yang mau liat paha kasar begitu"
"Buktinya kamu dari tadi lirik-lirik kayak matanya mau copot aja"
"Ah udah sini bantuan mbak yani beresin makananya" Aku menarik tangan Rahma sampai dia terduduk di sebelahku"
"Pelan-pelan dong, nanti lepas keinjek nih selendangnya"
"Biarin lepas biar diliatin banyak orang, wekk"
"Ah dasar kamu ndi, masih dendam sama aku ya gara-gara aku gamp.....r"
"Eh siapa yang kegampar?" mbak yani berbalik nanya setelah mendengar pengakuan Rahma.
"Eh nggak ada mbak" Rahma membales nyengir.
"Kamu sih ndi, mancing-mancing segala" gerutu dia pelan sambil mencubit lengan kiriku.
Hari itu semuanya terasa indah. Bukan karena keindahan pantai yang menyejukkan hati tapi kebersamaan diantara kami yang mulai harmonis. Kegelisahan akan kota Maumere terasa lenyap tak berbekas kala itu, setiap aku melihat pantai yang indah,
tawa mbak yani yang renyah,
dan juga senyum manis si Rahma, yang entah mengapa membuatku bingung akan sebuah rasa yang ambigu.
Tak sampai lima belas menit berlalu tiba-tiba ikan bakar di atas piring ini habis menyisakan tulang. "Enak juga" batinku lirih.
"Ah kenyangnya, Ndi masker snorkle tadi kamu taruh mana?" Kak aldi menyahutku yang kinisedang berbincang-bincang dengan rahma.
"Ada tuh di belakang mobil"
"Loh ga kamu bawa kesini ya?"
"Aduh kelupaan tadi"
"Ya udah aku mau nyelem dulu bentar"
Kak aldi berlalu ke mobil yang terparkir mengambil snorkle dan aku masih duduk bersebelahan dengan Rahma yang nampaknya sudah mulai "Jinak".
"Rahma, ngobrol kok disini ga malu kedengeran aku ya? Jalan-jalan sana ke pantai biar lebih deket" Mbak yani kembali lagi memulai jurus comblangnya.
"Ah disini aja mbak, panas disana" sahutku menyangkal.
"Udah ayo Ndi kesana, lagian Mbak Yani ga mau diganggu kayaknya mau nyelem sama Kak Aldi" Bales Rahma nyengir.
"Ya udah deh"
"…................"
Angin sepoi-sepoi menyisir indah poni rambut Rahma yang perlahan menutupi kaca matanya, sesekali kulihat dia menyelipkan rambut di belakang telinganya dan kemudian mengucirnya dengan ikat rambut berbunga. Dingin, itu yang aku rasakan di panasnya pantai yang menyengat ini.
"Kamu keliatan cantik deh Ma"
"Masa? kamu cowok kedua yang bilang gitu lo"
"Iya bener, terus cowok yang pertama siapa?"
"Hm... ada deh"
"Siapa?"
"Ada aja"
"Duh nih anak mulai jengkelin ya, siapa hayo??"Aku kemudian berhenti sambil kupegang sedikit selendang yang melingkar di pingganya.
"Apaan sih ini?"
"Ya siapa cowok yang pertama itu, jangan-jangan kamu janda ya?. Kalo ga jawab, aku tarik nih selendang biar orang-orang pada liatin kamu!"ancamku bercanda.
"Duh nih Jawa udah kayak polisi aja"
"ya kamu sih bikin penasaran" kita kemudian melanjutkan jalan-jalan. Nampaknya aku dan rahma hampir sama tingginya, mungkin tinggian aku lima senti meter.
"nanti aku kasih tau kalau kamu kuat gendong aku kesana!" Rahma tiba-tiba berkata sambil menunjuk pohon kelapa rindang disudut pantai.
"Duh kejauhan itu ma, mana pasirnya agak tebel lagi. Pasti berat deh"
"ya udah aku ga kasih tau kalo gitu biar kamu mati penasaran, haha"
"ya udah sini aku gendong!" Aku kemudian mengangkat tubuh Rahma yang memang agak langsing jadi ga terlalu berat pertama-tama sih.
"Eits..... Nekat nih Jawa, pelan-pelan dong"
"ya kalo pelan ga nyampe-nyampe bawel" aku kemudian berlari mengendong Rahma dipinggir pantai. Terlihat orang-orang dipantai memandangiku sambil teriak-teriak seperti mendukung tim sepak bola kesayangannya.
"Ndi turunin ndi, ga enak diliatin orang"
"Ah nanti kamu ga mau jawab pertanyaanku tadi?"
"Iya aku jawab Jawa oon!"
"Ah ga usah udah terlanjur malu, nanggung"
Beberapa saat akhirnya aku berhasil mengendong rahma sampai pohon kelapa yang ditunjuknya. Aku tersungkur lemas dengan keringet yang segede jagung. Aduh ada-ada aja nih anak.
"Jauh juga ya ndi? kuat juga kamu!" Rahma menepuk punggungku yang saat itu tersungkur di pantai.
"iya kuat sih, tapi pasirnya tebel juga. Jadi cepet capek dan haus!"
"Nih ada Es Degan mau?"
"mana?"
"itu diatas? rahma membalik tubuhku yang tersungkur sambil menunjuk kelapa hijau yang tergantung di atas pohon.
"Aduh dasar nenek sihir, udah sekarat gini masih aja disiksa suruh ambil kelapa"
"Ah ga ndi cuma bercanda, nih ada sebotol air yang aku bawa tadi"
"Nah gitu dong, keliatan cantik kan"
"Nah itu barusan kamu menjadi cowok ketiga yang bilang aku cantik, hehe"
"Duh, dasar ngeselin ya" aku kemudian bangkit dan duduk bersandar di bawah pohon kelapa.
"hahaha, andi, andi lucu kamu ya" rahma tertawa manja sambil menarik tanganku.
"Jadi sapa cowok yang pertama itu?" aku melanjutkan pertanyaan yang belum terjawab.
"Menurutmu siapa?"
"Pasti kalo ga pacarmu ya suamimu lah"
"Salah ndi!" dia kemudian duduk disebelahku sambil memainkan jari jemarinya yang lentik.
"lalu siapa?" tanyaku jengkel.
"Orang pertama yang bilang aku cantik tuh Ayahku ndi, bahkan hampir tiap hari malah. Cantik mau sekolah ya? Cantik udah makan?, dan lain-lain deh.
"Yaelah, jadi kamu ngerjain aku ya ceritanya?" hadeh bener-bener kamu ya!
"Udah dong jangan marah, aku tadi kan udah bilang suruh nurunin aku. Kamu aja yang ngeyel"
"Iya dah ga apa, anggap aja olahraga. Ngomong-ngomong seger juga ya anginya disini"
"iya sejuk, hm... Ndi...?"
"Apa?"
"Aku boleh pinjem bahunya ga?"
"Emang barang dipinjem?"
"Boleh ga nih?"
"Buat apa sih Ma?"
"Aku mau menyandarkan kepalaku di bahumu, sekedar menikmati kesejukan angin ini"
"….............."
Saat itu waktu terasa berhenti, hanya terdengar alunan musik dari kumpulan orang bermain gitar di sebelahku yang berjarak puluhan meter. Aku tidak bisa memahami arti lagunya yang menggunakan bahasa daerah. Namun alunan musiknya yang mendamaikan hati seolah menjadi pengantar momen indah bersama Rahma.
Ombak Pecah di bibir pante
Torang kewesa cumin mentadi
Tuli nama data pase oa yang suru
Biar tambah mesra oa sandar di kita pung bahu
Burung elang terbang melayang
Singgah datang cabang bidara
Walau banyak cinta yang datang
Singgah di hati
Me kita pung cinta
te mungkin becabang no e….
Kita cuma mo beri inga jo
Janji hati torang inga dike se
Kita pung mulo bukan mulo tali aga
Percaya se kita pung cinta sayang e….
Tuto telinga kalo orang omong
Jalan maju bua macam te tau
Torang pung cinta tuan deo beri
Janji ujung aro simpan di hati
Janji ujung aro bawa sampe mati
"............"
Diubah oleh andihunt 01-05-2014 16:41
0